Selasa, 29 September 2015

Puspenerbad TNI AD

Puspenerbad TNI AD

 Cessna L-19

Wira Amur on Duty pesawat Cessna L-19 milik Penerbad dalam masa operasinya.Sepasang pesawat Cessna L-19 pernah dikerahkan untuk menumpas gerakan separatis pimpinan Kahar Muzakar di tahun 1964.Selain mengintai pesawat ringan ini juga ditugasi memberikan bantuan tembakan bagi pasukan darat.Misi ini bukan seperti BTU pada umumnya,misi ini cukup dilakukan dgn menembakkan senapan serbu AK-47 maupun Stengun dari dlm pesawat.....Lewat pesawat ini juga,seorang Taruna Akmil tingkat akhir yaitu Sintong Panjaitan yang kala itu sdg menjalani praktek lapangan dlm operasi Kilat pernah melakukan aksi lain daripada yang lain.Ia menjatuhkan peluru mortir kaliber 60 mm untuk memborbardir posisi lawan dari pesawat jenis ini....Sayangnya usahanya itu tidak membuahkan hasil lantaran peluru mortirnya gagal meledak....Ini sedikit cerita dari pesawat Cessna L-19 milik Penerbad

 De Havilland Canada DHC-2 Beaver Mk1

Mil Mi 35 TNI AD

Mil Mi 35 TNI AD

Mil Mi 35 P saat datang di Indonesia

Untuk kebutuhan pasar ekspor, pihak pabrikan, Mil Helicopter kemuduan merilis versi Mi-35P, versi inilah yang dioperasikan sejumlah 5 unit oleh Puspenerbad TNI AD. Dalam operasionalnya, Mi-35P dibutuhkan tiga orang kru, terdiri dari pilot, kopilot yang merangkap sebagai operator persenjataan, dan teknisi (flight engineer). Formasi tempat duduk pilot berada diatas posisi duduk kopilot, tak beda dengan konfigurasi tempat duduk di AH-64 Apache atau AH-1 Cobra. Posisi kopilot di depan membuat dirinya lebih leluasa melihat sasaran dan mengakurasi tembakannya. Kokpit helikopter dibuat kedap udara agar tahan dalam kondisi NBC. 

 Kokpit helikopter yang dibuat kedap udara agar tahan dalam kondisi NBC

Sementara untuk teknisi, duduk di dalam ruang kargo. Mi-35P merupakan helikopter bermesin ganda yang ditujukan untuk memberikan dukungan bagi tentara darat dari jarak dekat, menghancurkan kendaraan lapis baja serta sebagai alat transportasi pasukan atau barang; artinya helikopter ini merupakan alat tempur pasukan infantri yang terbang.
Mi-35P diberi lapisan proteksi layaknya ranpur lapis baja. Mi-35P dibekali pelindung lapisan baja untuk menahan terjangan proyektil. Keseluruhan bodi helikopter dirancang untuk mampu menahan tembakan proyektil kaliber 12,7 mm, termasuk pada lima bilah rotornya. oleh karena itu oleh pilot Soviet yang berbahasa Rusia, Mi-35P dijuluki letayushiy tank atau tank terbang. Konon tubuh dan kanopi kacanya mampu menahan tembakan dari jarak cukup dekat. Nama lainnya adalah buaya karena kemiripan bentuk.
Rotor utama Mi-35P terbuat dari bahan campuran titanium dan fiber glass sehingga mampu menghasilkan tenaga putaran dan balance yang lebih maksimal terhadap lima bilah rotornya. Jumlah bilah rotornya bagian atas helikopter itu berjumlah lima dengan panjang 17,3 meter. Kemudian rotor pada bagian ekor terbuat dari bahan alumunium pilihan dan mampu berperan sebagai stabilizer dengan sangat baik. Bilah rotor bagian  ekor berjumlah tiga dengan panjang 3,9 meter. Khusus untuk kompartemen pilot dan kopilot dirancang mampu menahan serbuan proyektil dari kaliber 37 mm dengan material kevlar. Panjang sayap adalah 6,5 meter. Dari sisi proteksi, heli ini menjadi wahana yang sangat pas untuk membawa VVIP melintasi wilayah yang rawan.
Untuk mengantisipasi serangan-serangan dari rudal panggul, ini dibuktikan dengan hadirnya perangkat Radar warning receiver, IR (infra red) jammer, flares, dan optional heat diffusers pada Mi-24/Mi-35 generasi terkini.

 Dudukan untuk perangkat flare
Mil Mi 35 mulai dimiliki TNI Angkatan Darat sejak Oktober 2010. Terdapat lima unit Mi-35P yang bermarkas di Skuadron 31/Serbu Pusat Penerbangan TNI-AD. Pembelian helikopter tersebut merupakan realisasi perjanjian pemerintah RI dan Rusia pada September 2007 menggunakan fasilitas kredit pembelian luar negeri dari pemerintahan Rusia sebesar 56,1 juta dolar AS atau setara dengan 64,5 miliar rupiah. Harga itu termasuk pencakupan persenjataan dan amunisi serta pelatihan bagi para calon awak pesawat.
Bagi para pemerhati alutsista Indonesia, hadirnya Mi-35P pada tahun 2010 juga menandai era baru kesenjataan helikopter militer. Pasalnya, lewat Mi-35P mulai diperkenalkan penggunaan rudal, dalam hal ini rudal anti tank AT-9 Spiral-2. Sebelum-sebelumnya, jenis heli kombatan TNI AD paling banter hanya dipersenjatai kombinasi kanon, SMB (senapan mesin berat), dan roket FFAR. Selain diperkenalkannya rudal untuk heli TNI AD. 

 Senjata mesin fleksibel berkaliber 12,7 mm dan nampak juga FN MAG dengan peluru kaliber 7,62 mm x 51 mm yang bisa ditembakkan dari jendela samping yang dapat dibuka.

Di Indonesia, helikopter tempur Mil Mi-35 P itu dimodifikasi dengan menambahkan senjata mesin fleksibel berkaliber 12,7 mm dan senjata laras ganda dengan kaliber 30mm. Mi-35P juga menjadi helikopter pertama di lingkungan TNI yang dibekali kanon internal (fixed weapon), yaitu jenis GSh-30K kaliber 30 mm. Kanon dua laras ini disematkan pada sisi kanan kokpit. Bekal amunisi untuk kanon ini adalah 750 peluru.

 Nampak di bagian depan terpasang kanon internal (fixed weapon), yaitu jenis GSh-30K kaliber 30 mm

 Sosok rudal AT 9 Spiral 2 dan roket S 8 kaliber 80 mm


Dalam beberapa kesempatan, Puspenerbad TNI AD selain memamerkan sosok rudal AT-9, juga ditampilkan roket S-8 kaliber 80mm, dan pelontar chaff/flare. Ada cukup banyak varian senjata yang dapat dibawa, pada intinya Mi-35P dibekali 4 hardpoints senjata dalam 2 sayap. Berikut adalah opsi-opsi paket senjata yang dapat dipasang di Mi-35P.


 
 Nampak sayap dengan panjang 6,5 meter  dengan 4 hardpoints senjata dalam 2 sayap
Kabin barang dan kokpit terhubung dengan ukuran panjang 2,83 meter, lebar 1,46 meter dan tinggi 1,2 meter sehingga mampu mengangkut delapan tentara yang dapat menembakkan senjata mereka dari jendela samping yang dapat dibuka.
Helikopter itu dapat terbang hingga kecepatan 335 kilometer per jam dengan jumlah kebutuhan bahan bakar 360 liter avtur per jam. Bobot di darat helikopter tersebut tanpa muatan adalah 8,5 ton dan mampu mebawa delapan tentara ditambah senjata eksternal berbobot 1,5 ton. 

Rudal AT 9 Spiral 2 dan roket S 8 kaliber 80 mm 
 
Mil Mi 35 P TNI AD sedang melakukan manuver tempur

Spesifikasi Mil Mi-35P
Produksi : Mil Helicopter
Awak : 3 (pilot, perwira persenjataan, teknisi)
Kapasitas : 8 prajurit atau 4 tandu
Panjang : 17,5 meter
Diameter baling-baling : 17,3 meter
Rentang Sayap : 6,5 meter
Rotor : lima blade main rotor dan tiga blade tail rotor
Tinggi : 6,5 meter
Berat kosong : 8.500 kg
Berat maksimum lepas landas : 12.000 kg
Mesin : 2× Isotov TV3-117 turbin, 1.600 kW (2.200 hp) masing-masing

Performa
Kecepatan maksimum : 335 km per jam
Kecepatan menanjak : 12,5 meter per detik
Ketinggian terbang maksimum : 4.500 meter
Lama terbang (endurance) : 4 jam
Jarak jangkau : 500 km
Jarak jangkau tempur : 160 km
Kapasitas bahan bakar internal : 1.840 liter avtur
Kapasitas bahan bakar tambahan : 500 liter per hardpoints
Jarak jangkau dengan bahan bakar tambahan : 1.000 km

Persenjataan
– 30 mm Yakushev-Borzov multi-barrel machine gun
– 1500 kg bom
– 4× Peluru kendali anti tank
– 4× 57 mm S-5 rocket pod atau 4× 80 mm S-8 rocket pod
– 2× 23 mm meriam dua laras (machinegun-pod)
– 4× tangki bahan bakar eksternal

Senin, 14 September 2015

Koleksi Senjata IJAAF dan IJNAF di Museum TNI Satria Mandala Jakarta

Koleksi Senjata IJAAF dan IJNAF di Museum TNI Satria Mandala Jakarta

Admin saat di Museum Pusat TNI Satria Mandala setelah mendokumentasi senjata-senjata yang pernah dipakai oleh IJAAF dan IJANAF di masa Perang Dunia ke 2

Saat tanggal 11 Agustus 2015 berkunjung ke Museum Pusat TNI Satria Mandala di Jakarta. Dan karena ini merupakan kesempatan yang sangat berharga bisa mengunjungi langsung museum yang menyimpan senjata-senjata buatan Jepang di masa Perang Dunia ke 2 yang pernah terpasang di pesawat-pesawat yang digunakan oleh IJAAF dan IJANAF dan oleh karena koleksinya tersebut sehingga dikunjungi oleh Team Arawasi-Wildeagles dari Jepang yang mereka mempelajari tentang sejarah penerbangan Jepang yang waktu itu mereka didampingi oleh Mas Sinang Ariwibowo dari toko model "Peter & Partner", Pak Alex Sidharta dan Pak Iwan Winarta. 
Paa kesempatan ini admin berusaha mendokumentasikan sendiri koleksi senjata yang pernah terpasang di pesawat-pesawat yang digunakan oleh IJAAF dan IJANAF yang mana di era tahun 1942 - 1945 pernah ada di Indonesia dan senjata-senjata tersebut akhirnya digunakan oleh pejuang-pejuang kita untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari usaha Belanda untuk menjajah kembali Indonesia. 
Dan kini semua senjata tersebut tersimpan di Museum Pusat TNI Satria Mandala. 
Dan inilah hasil perburuan saya mendokumentasi senjata-senjata tersebut.  

Army Type 89 twin flexible yang terpasang di semua pesawat pembom model lama milik IJAAF seperti pembom "Lily" dan "Sally"

Type 89 7.7mm dual flexible machine gun
Berat : 11.8
Muzzle velocity : 746m/s
Rare of fire : 750-900 rounds/min
Feeding : drum magazines
Installed
Type 89 hevy bomber,
Type 93 hevy bomber,
Type 93 right bomber,
Type 97 hevy bomber,
Type 88 right bomber,
Type 98 right bomber,
Type 99 right bomber model 1 (Early),
Type 88 com Recon,Type 92 com Recon.
Base model : Army Type 3 heavy machine gun
Ammunition : 7.7 x 58SR (10.5 g) 


 7.7mm Type 89 dual flexible machine gun

 Army Type 89 twin flexible yang terpasang di pesawat Kawasaki Type 88 Reconnaissance/Bomber KDA-2
Type 89 7.7mm dual flexible machine gun
Army Type 100  /Type 1 twin flexible 7.7 mm
Type 1 7.7mm dual flexible machine gun
Installed: 

Type 99 right bomber: (middle)

 Di bagian paling kiri adalah senjata dari jenis Army Type 98 flexible (copy dari senjata buatan Jerman dari  jenis MG 15) dan yang paling kanan adalah senjata dari jenis Navy Type 92 flexible (Copy dari senjata dari jenis  Lewis).


Army Type 98 flexible (copy dari senjata buatan Jerman dari  jenis MG 15) yang terpasang pada pesawat bomber Jepang "Lily" (untuk gunner di bagian depan), "Nick", "Peggy" dan lain-lain.

Type 98 7.92mm flexible machine gun
Muzzle velocity : 790m/s
fire speed 1000 to 1500
Installed:
Type 2 twin engined fighter,
Type 99 tactical Recon (latter),
Type 99 right bomber Model 1(latter)

 Navy Type 92 flexible (Copy dari senjata dari jenis  Lewis)

 
Bagian yang bagian tengah adalah Model 97 (1937) 7.7-mm tank machine gun dan paling kanan adalah senjata dari jenis Army Te-4

 Model 97 (1937) 7.7-mm tank machine gun

 Army Te-4 sebagai salah satu senjata utama untuk pesawat yang digunakan oleh IJAAF dan terpasang di pesawat-pesawat dari jenis "Sonia", Ki-36 "Ida", "Lily", "Sally", "Helen" dan lain-lain.

Te-4 Single flexible machine gun
Caliber : 7.7mm
Weight : 9.27kg
Length : 105.9cm
Muzzle velocity : 810m/s
Rare of fire : 670 rounds/min
Feeding : drum magazines
Installed :
Type 97 com Recon,
Type 97 hevy bomber
ype 99 right bomber model 1 (Early),
Type 99 tactical Recon(Early)
Type 100 com Recon model 1& 2,
Type 100 hevy bomber 


 Army Te 4 yang terpasang di pesawat Tachikawa Ki-54 "Hickory"

Foto koleksi                    : Agung Surono 
Lokasi pengambilan foto   : Museum Pusat TNI Satria Mandala Jakarta Indonesia
Tanggal pengambilan foto : 11 Agustus 2015
Sumber data                   : 
Arawasi-Wildeagles 
Aircraft-Weapons-Army                  http://www.dragonsoffire.com
Japanese Army Aircraft Weapons   http://gunsight.jp/b/english/data/ja-gun-e-02.htm

Sukhoi Su 30 KI Impian TNI AU Yang Gagal Karena Krisis Moneter

Sukhoi Su 30 KI Impian TNI AU Yang Gagal 
Karena Krisis Moneter

Bermula pada tahun 1997, AU Pakistan yang membeli F-16 dari Amerika sebanyak beberapa pesawat yang jumlahnya kurang tahu pasti. Namun, ketika 9 F-16 dari total pemesanan Pakistan ini sudah selesai dan tinggal pengiriman, Amerika memberlakukan embargo terhadap Pakistan terkait dengan isu Nuklir Pakistan . Hal ini membuat pembelian F-16 Pakistan tersebut dibatalkan dan pesawat yang terlanjur sudah selesai tersebut rencananya akan di jual ke negara lain.
Indonesia yang ketika itu ingin meningkatkan kemampuan Angkatan Udaranya, menaruh minat besar akan pesawat baru yang tidak jadi dijual ke Pakistan tersebut. Pesawat ini di
maksudkan untuk melengkapi 12 F-16 yang dimiliki Indonesia ketika itu.
Amerika dan Indonesia telah setuju untuk mengalihkannya ke Indonesia dan kontraknya sudah di tanda tangani pada Maret 1996. Namun setahun kemudian, kontrak ini dibatalkan oleh Presiden Indonesia kala itu yaitu Soeharto karena beliau merasa gerah dengan tudingan Amerika terhadap Indonesia mengenai permasalahan HAM di Indonesia. 
Akhirnya Indonesia pun melakukan langkah ‘membelot’ ke Rusia dengan melakukan pemesanan 12 Sukhoi KI (SU-30KI). Sukhoi KI ini merupakan satu-satunya Su-30 yang berkursi tunggal. Ketertarikan Indonesia terhadap pesawat Sukhoi ini dikarenakan Indonesia sudah melihat kehebatan pesawat ini ketika Sukhoi tampil di ajang Indonesia Air Show pada Juni 1996. Langkah membeli Sukhoi ini bisa dikatakan sebuah perlawanan Indonesia terhadap hegemoni Amerika yang terus menekan Indonesia melalui isu-isu HAM dan sejenisnya. Indonesia sangat berharap pembelian Sukhoi ini akan menaikkan martabat Indonesia di mata dunia. Namun, pembelian Sukhoi ini tidak bisa lepas dari tekanan Amerika dan sekutunya yang tidak ingin Indonesia berhasil memiliki Sukhoi. Hal ini bisa dipahami, karena pembelian Sukhoi akan mendekatkan Indonesia ke Rusia seperti ketika jaman pemerintahan Presiden Soekarno yang membuat Indonesia begitu di takuti oleh Amerika dan sekutunya.

Sukhoi Su 30 KI yang pernah akan diakuisisi oleh TNI AU

Su-30 KI Komyercheskyi Indonyesiyskiy yang artinya komerisal untuk Indonesia. Pesawat tempur canggih yang dirancang oleh biro desain Sukhoi khusus dipersembahkan bagi Indonesia. Bahkan pesawat ini menjadi basis bagi pengembangan pesawat Su-35, namun sayang nasib pesawat ini begitu tragis. Krisis moneter yang menghantam Indonesia pada tahun 1998, membuat pesawat Su-30 KI terkatung-katung tidak jelas.
Biro desain KnAAPO mengadakan program upgrade pesawat tempur single seater Su-27SK, pada tahun 1995. Upgrade meliputi jarak dan kefektifan tempur yang ditingkatkan, dan menjadikanya sebagai penempur multi role. Fase pertama ini menghasilkan satu spesies baru yaitu Su-30 KI
Su-30 KI merupakan penempur dengan awak tunggal, beragam kesaktian ada dalam tubuh pesawat ini. Salah satunya adalah IFR probe, satnav receiver, ILS/VOR navigasi dan sistem pendaratan yang ditingkatkan, RVV-AE missile. Tidak cukup sampai disitu, pada tahap kedua peningkatan ditambahkan kembali sistem avionik yang ditingkatkan, komputer, radar phased array dan senjata.
Pada tanggal 28 Juni 1998 menjadi debut pertama Su-30 KI, dalam atraksi udara MAKS '99 international aerospace show. Dalam penampilanya Su-30 KI dicat dengan warna abu-abu-hitam dan biru. Penampilan Su-30 KI dalam ajang airshow tersebut sangat mengagumkan, bahkan diakui oleh sejumlah negara.
Su-30 KI memiliki performa luar biasa, lantaran ditenagai mesin Saturn Lyul'ka AL-31F afterburning turbofans membuat pesawat ini sanggup melaju hingga kecepatan mach 2. Su-30 KI sanggup terbang dengan ketinggian mencapai 17 Km, dengan jarak tempuh mencapai 3.000 Km. Su-30 KI dilengkapi dengan senjata meriam GSh-301 30mm, rudal R-60, R-73, R-27, RVV-AE (R-77) AAMs, dan tabung ECM Pods. 
Entah ada kaitan langsung atau tidak, krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada 1998 memaksa Indonesia membatalkan pembelian Sukhoi dari Rusia ini. Gagalnya pembelian ini membuat kekuatan Angakatan Udara Indonesia mengalami stagnasi dan semakin parah ketika tahun 1999 sampai dengan 2005, Amerika dan sekutunya memberlakukan Embargo Militer terhadap Indonesia.

Mirage 2000 Pesawat Impian TNI AU Yang Gagal Terwujud

Mirage 2000 Pesawat Impian TNI AU Yang Gagal Terwujud

Di sekitar tahun 1984 TNI AU ketika saat itu Mirage 2000 belum diproduksi secara massal,baru ada dua unit lansiran Avions Marcel Dassault tipe tempat duduk ganda dengan kode B-01 dan tempat duduk single dgn kode A-01, TNI AU berminat untuk mengakuisisi pesawat Mirage 2000. Selain Perancis baru Indonesia dan Taiwan yang berminat untuk mengakuisisi pesawat Mirage 2000 ini.

Para perwira Armee de`l Air / Angkatan Udara Prancis bertemu dengan Bpk.F.Djoko " Beaver" Poerwoko ( Alm ) langsung di Lanud Iswahjudi,Madiun saat masih diperkuat armada F-86 Sabre.

Dua tahun sebelum demo di Kemayoran, TNI AU mengirim lima perwira menengah terbaiknya ke Prancis.Dua di antaranya penerbang uji mereka adalah Letkol Pnb Holki BK ( F-5 ), Mayor Pnb F.Djoko Poerwoko ( A-4 ), Letkol Tek Nyoman Djawi, Letkol Tek Purnomo dan Letkol Lek Sridiarto. Selama dua minggu pada bulan Juni 1984,tim melaksanakan uji terbang di salah satu pangkalan di Prancis selatan ( dekat St.Tropies ).

 Nampak salah satu pilot TNI AU bersiap-siap menerbangkan pesawat Mirage 2000 B-01

Mayor Pnb F.Djoko Poerwoko berfoto bersama dengan kru Mirage 2000 B-01 yang tengah diuji untuk dipilih TNI AU


Dua tahun setelah pengiriman pilot uji TNI AU ke Perancis dilanjutkan dengan penampilan pesawat Mirage 2000 di acara Indonesia Air Show pada tahun 1986 di Kemayoran Jakarta.

Dasault-Mirage-2000 di acara Indonesia Air Show 1986 ex- Bandara Kemayoran seusai selesai demo di hari pertama pameran


Dalam pameran IAS'86 ini Presiden Soeharto berkesempatan duduk dalam kokpit sambil mengacungkan jempol nya.
Saat itu sebetulnya TNI AU sudah akan order 12 unit Mirage 2000. Hanya saja dengan adanya faktor politis ikut mempengaruhi keputusan saat itu maka proses akuisisi pesawat Mirage 2000 ini tidak berjalan mulus. 
Akhirnnya TNI AU lebih memilih 12 buah pesawat F 16 Fighting Falcon A/B block 15 OCU. Dengan sebelumnya ada kehadiran team aerobatik Thunderbirds ke Halim Perdanakusuma pada tahun 87 serta adanya ToT offset untuk pengaaan ke 12 pesawat
F 16 Fighting Falcon A/B block 15 OCU ini. 
Selain Indonesia peminat yang lain yaitu Taiwan  juga tidak jadi mengakuisisi,namun produk Mirage meraih pembeli di negara Timur Tengah.

Uji Coba Pertama CIWS type 730 di Kapal TNI AL

Uji Coba Pertama CIWS type 730 di Kapal TNI AL
ngkatan Laut Indonesia (TNI-AL) sedang menjajaki kemungkinan melengkapi kapal perang korvet Parchim Class bersama dengan LPD Makasar Class dengan CIWS type 730 produksi China sebagai sistem senjata pertahanannya, ungkap sumber TNI-AL kepada IHS Janes pada tanggal 18 Februari. Ini mengikuti setelah rampungnya instalasi Tipe 730 CIWS di kapal Kapitan Pattimura Class, KRI Sultan Thaha Syaifuddin. IHS Jane memahami bahwa galangan kapal PT PAL milik negara baru-baru ini telah menyelesaikan instalasi sistem senjata dan akan segera mulai mengintegrasikan sensor radar ke dalam sistem sebelum memulai uji coba live-menembak. "Sultan Thaha Syaifuddin adalah kapal pertama yang akan digunakan sebagai percobaan untuk sistem senjata produksi Cina," kata sumber itu, juga menambahkan bahwa 14 kapal di kelas lain juga akan cenderung menerima sistem senjata CIWS jika dipandang sesuai. Copy the BEST Traders and Make Money (One Click) : http://ow.ly/KNICZ

Copy the BEST Traders and Make Money (One Click) : http://ow.ly/KNICZ
Dengan jumlah 16 unit, korvet kelas Parchim hingga kini menjadi tulang punggung Satuan Kapal Eskorta (Satkor) TNI AL. Pasalnya dari segi unit, Parchim lah yang mendominasi kuantitas armada Satkor, yang terdiri dari kelompok kapal jenis frigat dan korvet. Mengingat perannya yang strategis, sudah barang tentu korvet eks AL Jerman Timur ini mendapat perhatian yang serius untuk di retrofit dan upgrade pada sisi persenjataan. Selain mengadopsi mesin baru, urusan senjata mulai dipoles dengan sentuhan baru yang lebih modern dan gahar. Meski di awal pengadaannya mengundang kontroversi, harus diakui korvet dengan asupan teknologi Uni Soviet ini punya keunggulan tersendiri. Diantaranya yang menonjol adalah bekal kanon reaksi cepat AK-230, kanon dua laras dengan kaliber 30 mm. Bila dicermati, inilah kanon berkategori CIWS (close in weapon system) yang pertama kali digunakan armada TNI AL. Dengan mengandalkan Muff Cobb radar systems sebagai penuntuk tembakkan ke sasaran. AK-230 secara teori dapat memuntahkan 1.000 proyektil dalam satu menit, untuk kecepatan luncur proyektil 1.050 meter per detik, cukup ideal untuk menggasak rudal berkecepatan subsonic maupun kapal boat. Kemampuan AK-230 juga masih lebih unggul ketimbang kanon Rheinmetall 20mm yang banyak terdapat di KRI, secara teori kecepatan luncur proyektil Rheinmetall 20mm mencapai 1.044 meter per detik. Tapi semua tentu ada waktunya, AK-230 kian lama dianggap sudah ketinggalan jaman. Maklum AK-230 merupakan hasil rancang bangun Uni Soviet dalam era Perang Dingin di tahun 1950-an. Dan baru pada tahun 1969, Uni Soviet resmi menggunakan AK-230 untuk kelengkapan armada kapal perangnya. Mungkin dikarenakan teknologi yang sudah usang dan spare part yang kian terbatas, TNI AL pun sudah mencanangkan pengganti AK-230. 

CIWS AK 230 yang ada di kapal Parchim class

Yang dipilih masih dari senjata jenis CIWS, tapi bukan Phalanx atau Goalkeeper yang kondang dipakai armada NATO. Yang dipilih adalah Type 730, kanon tujuh laras putar model Gatling dengan kaliber 30 mm. 
erdasarkan informasi dari Koarmabar, Type 730 resmi diadopsi TNI AL untuk korvet kelas Parchim. Sebagai project instalasi pertama dipilih KRI Sultan Thaha Syaifuddin 376, dan kemudian secara bertahap seluruh korvet Parchim TNI AL akan dipasangi Type 730. Selain karena urusan harga, adopsi Type 730 dipandang ideal bagi Parchim, sebab Type 730 adalah buatan Tiongkok, dan rancang bangunnya CIWS ini pun memang mencomot aroma teknologi khas Rusia, sehingga ada kecocokan untuk korvet Parchim. Sebagai kanon CIWS modern, Type 730 menggunakan modul terpadu untuk penempatan laras putar, perangkat sensor optik penjejak dan radar. Pihak AL Tiongkok memberi kode Type 730 dengan identitas H/PJ12 . Di lingkungan AL Cina, Type 730 sudah diadopsi di banyak kapal perang, mulai dari kelas korvet, frigat, perusak, hingga kapal patroli cepat. Bila diperhatikan dari segi desain, nampak paduan elemen Type 730 agak menyerupai Goalkeeper, CIWS buatan Belanda. Sementara, untuk teknologi laras putar Gatling-nya, banyak disebut-sebut mencontek GAU-8/A Avenger buatan General Electric yang terpasang pada pesawat A-10Thunderbolt II. 


Laras Type 730 mencomot model GAU-8_Avenger

Lalu bagaimana dengan daya hancur Type 730? Bila AK-230 hanya mampu memuntakan 1.000 proyektil per menit, maka Type 730 jauh lebih sadis, kanon dengan kendali elektrik dan hydraulic driven ini maksimum bisa mengumbar 5.800 proyektil dalam satu menit. Jelas urusan daya hancur dan kemampuan mengentikan laju rudal anti kapal pun meningkat drastis. Jarak tembak efektif kanon ini mencapai 3.500 meter. Jenis amunisi yang digunakan mulai dari armour-piercing discarding sabot (APDS), high explosive incendiary (HEI) dan target practice (TP) untuk latihan. Menurut rilis, sasaran yang melesat hingga kecepatan Mach 2 masih dapat ditangkal Type 730. Jumlah stok amunisi yang siap digunakan adalah 1.000 peluru.  
Laras Type 730 mencomot model GAU-8_Avenger. Bekal radar menjadi elemen vital dari sistem CIWS, Type 730 menggunakan jenis radar TR-47C. Pihak Xi’an Research Institute of Navigation Technology menyebutkan radar tracking ini berjalan di J-band dengan frekuensi 15.7 Ghz dan 17.3 Ghz. Jangkauan deteksi radar TR-47C mencapai 9.000 meter. Dalam teorinya, 48 sasaran dapat dipindai secara bersamaan. Dalam konsol senjata, tempatnya berada di samping radar ditempatkan perangkat optronics (electro optics) dari jenis OFC-3. Dalam bentuk modular, OFC-3 merangkum beberapa sensor, seperti laser range finder, color TV camera, dan infra red camera. Dalam versi yang lebih maju, laser range finder dapat diganti laser designator untuk membaca manuver SAM (suface to air missile). Juga TV camera dapat diganti dengan night vision camera. Kemudian infra red camera bisa diganti dengan ImIR, tentunya semuanya berdampak pada harga jual CIWS. 

Radar TR-47C
 Electro Optics OFC-3
 Display dan kendali OFC

Dalam simulasi tempur, radar dapat melacak sasaran di permukaan laut seukuran 0,1 meter persegi pada jarak 8 km, bisa diperpanjang hingga 15 km untuk deteksi sasaran 2 berukuran dua meter persegi. Kemudian ukuran sasaran 10 meter persegi dari jarak 20 km. Kemampuan deteksi radar mencakup sasaran yang melaju sea skimming, terbang rendah diatas permukaan laut untuk menhindari deteksi radar. Namun tentunya, sistem penembakkan kanon baru dapat merespon saat sasaran berada di jarak jangkau tembakan (3 ribuan meter). Untuk sistem kendali penembakkan (fire control system) mengusung teknologi autonomous closed-loop system, teknologi ini digadang bakal memberi reaksi lebih cepat ketimbang CIWS jenis AK-630 buatan Rusia. Untuk misi pemasaran di Luar Negeri, Type 730 dirancang full kompatibel dengan combat data system dari buatan Tiongkok dan Eropa. Dari Tiongkok dikenal model ZKJ-1, ZKJ-4, ZKJ-4A-3, ZKJ-5, ZKJ-6, ZKJ-7, H/ZBJ-1, dan dari Eropa/NATO seperti Thomson-CSF TAVITAC. Agar lebih memikat calon pembeli, sistem Type 730 dapat diintegrasikan secara langsung dengan combat data system tadi tanpa perlu dilakukan modifikasi.
Dengan jumlah 16 unit, korvet kelas Parchim hingga kini menjadi tulang punggung Satuan Kapal Eskorta (Satkor) TNI AL. Pasalnya dari segi unit, Parchim lah yang mendominasi kuantitas armada Satkor, yang terdiri dari kelompok kapal jenis frigat dan korvet. Mengingat perannya yang strategis, sudah barang tentu korvet eks AL Jerman Timur ini mendapat perhatian yang serius untuk di retrofit dan upgrade pada sisi persenjataan. Selain mengadopsi mesin baru, urusan senjata mulai dipoles dengan sentuhan baru yang lebih modern dan gahar. Meski di awal pengadaannya mengundang kontroversi, harus diakui korvet dengan asupan teknologi Uni Soviet ini punya keunggulan tersendiri. Diantaranya yang menonjol adalah bekal kanon reaksi cepat AK-230, kanon dua laras dengan kaliber 30 mm. Bila dicermati, inilah kanon berkategori CIWS (close in weapon system) yang pertama kali digunakan armada TNI AL. Dengan mengandalkan Muff Cobb radar systems sebagai penuntuk tembakkan ke sasaran. AK-230 secara teori dapat memuntahkan 1.000 proyektil dalam satu menit, untuk kecepatan luncur proyektil 1.050 meter per detik, cukup ideal untuk menggasak rudal berkecepatan subsonic maupun kapal boat. Kemampuan AK-230 juga masih lebih unggul ketimbang kanon Rheinmetall 20mm yang banyak terdapat di KRI, secara teori kecepatan luncur proyektil Rheinmetall 20mm mencapai 1.044 meter per detik. Tapi semua tentu ada waktunya, AK-230 kian lama dianggap sudah ketinggalan jaman. Maklum AK-230 merupakan hasil rancang bangun Uni Soviet dalam era Perang Dingin di tahun 1950-an. Dan baru pada tahun 1969, Uni Soviet resmi menggunakan AK-230 untuk kelengkapan armada kapal perangnya. Mungkin dikarenakan teknologi yang sudah usang dan spare part yang kian terbatas, TNI AL pun sudah mencanangkan pengganti AK-230. Yang dipilih masih dari senjata jenis CIWS, tapi bukan Phalanx atau Goalkeeper yang kondang dipakai armada NATO. Yang dipilih adalah Type 730, kanon tujuh laras putar model Gatling dengan kaliber 30 mm. Copy the BEST Traders and Make Money (One Click) : http://ow.ly/KNICZ

Copy the BEST Traders and Make Money (One Click) : http://ow.ly/KNICZ
Angkatan Laut Indonesia (TNI-AL) sedang menjajaki kemungkinan melengkapi kapal perang korvet Parchim Class bersama dengan LPD Makasar Class dengan CIWS type 730 produksi China sebagai sistem senjata pertahanannya, ungkap sumber TNI-AL kepada IHS Janes pada tanggal 18 Februari 2015. Ini mengikuti setelah rampungnya instalasi Tipe 730 CIWS di kapal Kapitan Pattimura Class, KRI Sultan Thaha Syaifuddin. 
 Penampakan CIWS type 73 di kapal KRI Sultan Thaha Syaifuddin

IHS Jane memahami bahwa galangan kapal PT PAL milik negara baru-baru ini telah menyelesaikan instalasi sistem senjata dan akan segera mulai mengintegrasikan sensor radar ke dalam sistem sebelum memulai uji coba live-menembak. "Sultan Thaha Syaifuddin adalah kapal pertama yang akan digunakan sebagai percobaan untuk sistem senjata produksi Cina," kata sumber itu, juga menambahkan bahwa 14 kapal di kelas lain juga akan cenderung menerima sistem senjata CIWS jika dipandang sesuai.
Menurut Aslog Pangarmabar Kolonel Laut (T) Puguh Santoso, salah satu KRI Koarmabar yang tergabung dalam jajaran Satuan Kapal Eskorta Komando Armada RI Kawasan Barat (Satkor Koarmabar) itu merupakan KRI pertama sebagai project percontohan bekerjasama dengan perusahaan Tiongkok memasang meriam berkaliber 30 mm dengan 7 laras buatan Tiongkok yang mampu melontarkan peluru hingga 4000 butir per menit. Senjata ini dipasang untuk menggantikan meriam 30 mm lama AK 230 buatan Rusia.
Pada kesempatan itu, Kolonel Laut (T) Puguh Santoso mengatakan, selama pemasangan senjata ini pihak kapal melakukan pengawasan penuh agar mendapatkan hasil yang maksimal serta tetap melaksanakan pemeliharaan kapal sesuai dengan Sistem Pemeliharaan Terencana (SPT).
Pada kunjungan itu, Aslog Pangarmabar disambut Komandan KRI Sultan Thaha Syaifuddin-376 Letkol Laut (P) Ario Sasongko, S.E., M.P.M., M.M. (GSC) didampingi Kadepsin Mayor Laut (T) M. Irwan Ridwan, S.E., Kadepekaban Lettu Laut (E) Andri Irawan, dan Perwirastaf KRI yang lain. Aslog Pangarmabar melanjutkan peninjauan di antaranya ruangan di mana peralatan pendukung meriam 30 mm 7 Barrel tersebut dipasang.
  
Saat Asisten Logistik Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Aslog Pangarmabar) Kolonel Laut (T) Puguh Santoso mengunjungi Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Sultan Thaha Syaifuddin-376 di PT. PAL, Ujung Surabaya.

 CIWS Type 730 di KRI Sultan Thaha Syaifuddin 376 saat uji coba live menembak
Sebagai informasi, AK-630M telah digunakan oleh TNI AL di Kapal Cepat Rudal (KCR) KRI Clurit 641 dan KRI Kujang 642.

 AK-630 tampak jelas terpasang di haluan KRI Kujang, disisinya ada KRI Clurit

 
KRI Kujang 642 dan KRI Clurit, nampak dengan AK-630 pada haluan.
Selain dipercaya handal untuk memberi perlindungan pada kapal markas dan konvoi tempur, kanon model CIWS juga dipandang punya efek getar yang signifikan pada lawan.
ngkatan Laut Indonesia (TNI-AL) sedang menjajaki kemungkinan melengkapi kapal perang korvet Parchim Class bersama dengan LPD Makasar Class dengan CIWS type 730 produksi China sebagai sistem senjata pertahanannya, ungkap sumber TNI-AL kepada IHS Janes pada tanggal 18 Februari. Ini mengikuti setelah rampungnya instalasi Tipe 730 CIWS di kapal Kapitan Pattimura Class, KRI Sultan Thaha Syaifuddin. IHS Jane memahami bahwa galangan kapal PT PAL milik negara baru-baru ini telah menyelesaikan instalasi sistem senjata dan akan segera mulai mengintegrasikan sensor radar ke dalam sistem sebelum memulai uji coba live-menembak. "Sultan Thaha Syaifuddin adalah kapal pertama yang akan digunakan sebagai percobaan untuk sistem senjata produksi Cina," kata sumber itu, juga menambahkan bahwa 14 kapal di kelas lain juga akan cenderung menerima sistem senjata CIWS jika dipandang sesuai. Copy the BEST Traders and Make Money (One Click) : http://ow.ly/KNICZ

Copy the BEST Traders and Make Money (One Click) : http://ow.ly/KNICZ

Sabtu, 12 September 2015

Helikopter Mil Mi 17 TNI AD dalam Operasi Militer

Helikopter Mil Mi 17 TNI AD dalam Operasi Militer

 Admin di depan Mil Mi 17 milik TNI AD

Mil Mi-17 (juga dikenal sebagai seri Mi-8M di kedinasan Rusia) adalah sebuah helikopter angkut kelas menengah rancangan Rusia.
Mi-17 melakukan dropping pasukan dari Batalyon Infantri 501 dalam sebuah latihan heliborne operation.  

 
 Mi-17 melakukan dropping pasukan yang mengendarai motor trail dalam sebuah latihan heliborne operation.

 Mil Mi 17 dari Skuadron 31 Penerbad di Lanud A Yani Semarang
yang siap ditugaskan dalam misi PBB







Dokumentasi Pesawat-Pesawat AURI

Dokumentasi Pesawat-Pesawat AURI

Admin di pesawat Cavalier F 51 Mustang II

Pada perang kemerdekaan, AURI ternyata sudah mempunyai pesawat pembom. 

Nampak di foto yang pertama Panglima Besar Soedirman pada awal tahun 1946 di lapangan udara Boegis Malang yang sedang menginspeksi pesawat Bomber tinggalan Jepang yang diberi nama Pangeran Diponegoro I. 


Pesawat pembom Pangeran Diponegoro I adalah Ki-49 Donryu Army Type 100. 

Pembom Diponegoro I dikatakannya pernah diterbangkan oleh Komodor Udara Abdulrahman Saleh. Ki-49 yang dibuat oleh pabrik Nakajima, karena sangat berbahayanya dan mempunyai daya rusak yang hebat dijuluki sekutu sebagai Storm Dragon, diberi sandi nama "Helen". Orang Jepang menamai Ki-49 "Hyakushiki Juubaku".

 
Foto ke tiga saat pesawat Diponegoro I dipasangkan sebagai jebakan agar pesawat tempur Belanda yang menyerang Maguwo menembaki pesawat Diponegoro I yang telah rusak untuk menyelamatkan pesawat lain yang disembunyikan oleh para pejuang kita.
Dan foto keempat adalah pesawat Diponegoro I yang nampak hancur terkena serangan pesawat tempur Belanda yang menyerang Maguwo.

Tampak heli Hiller 360 asal AS yang di terbangkan Yum Soemarsono sedang membawa Ibu Fatmawati dari halaman Istana Merdeka, Jakarta.

Hiller-360 UH (Utility Helicopter),heli pertama yg di beli Pemerintah RI dari AS dan tiba pada Desember 1950 dalam peti kemas dan ditaruh di Pangkalan Udara Andir, Bandung.Jumlah seluruh heli ini ada enam, dan dimulailah Skadron Percobaan Helicopter.Komodor Udara Wiweko Soepono, penerbang heli AURI pertama dipersiapkan dan dididik di Palo Alto, California.
Bersama Juru Teknik LMU I Tosin,Pak Wiweko pada tgl 15 Januari 1951 menerbangkan Hiller dari Andir ke Istana Negara, Jakarta.Itulah hari pertama atau kesempatan pertama bagi Presiden Soekarno mencicipi terbang dgn heli pertama RI bernomor registrasi H-101 itu.
Awal sejarah Skadron Helikopter AURI inilah Wiweko Soepono diperkenalkan dgn LU II Joem (Yum) Soemarsono.Sekembalinya belajar terbang dari AS, kedua tokoh kemudian mendidik dan melatih penerbang heli berikutnya: Soewoto Soekendar, Soeti Harsono, dan Koesnidar.  

 Pesawat L-4J Piper Cub.

 Nampak sebuah asap mengepul hasil serangan Allan Pope dengan pesawat B 26 Invader yang tergabung dalam AUREV dan nampak sebuah P 51 D Mustang bersiap-siap melakukan pengejaran terhadap pesawat B 26 Invader AUREV.

Nampak sebuah P 51 D Mustang dengan seorang penerbangnya
dari Skuadron Udara 3 tanpa gambar "shark teeth"

Pesawat P 51 D Mustang dari Skuadron 3 melakukan penerbangan

Nampak sebuah P 51 D Mustang dengan seorang penerbangnya
dari Skuadron Udara 3 dengan gambar "shark teeth"
Foto ini diabadikan tahun 1972 oleh Letkol (Purn) Abdul Mukti yang juga salah satu penempur P-51 Mustang yang tersisa. Daklam foto yang berdiri merupakan alumni AAU Angkatan 69 sedangkan yang duduk merupakan alumni AAU Angkatan 70.
Berdiri dari kiri ke kanan
(alm) Lettu Sunarko, Marsda TNI (Purn) I Nyoman Tamu Aryasa, (alm) Marsda TNI Rukandi (Pangkoopsau I 1988-1999), (alm) Lettu M Effendi, Marsda TNI (Purn) M Koesbeni (Pangkohanudnas 1997-1999) dan (alm) Kapten Sismono Yonatan.
Duduk dari kiri ke kanan
Marsma TNI (Purn) Ronggo Sunarso (mantan Kas Kohanudnas), Marsma TNI (Purn) Sonny Rizani, (alm) Kolonel Pnb (Purn) Sumihar S Sihotang, (alm) Marsma TNI (Purn) Agus Suwarno, (alm) Lettu M Halik dan Marsma TNI (Purn) Suparno Muanam (Mantan Pangkokops II).
Sumber gambar: Dok. Marsda TNI (Purn) M Koesbeni.

P 51 D Mustang AURI dari Skuadron 3 dalam suatu Operasi Militer bersama B 26.

 
 B-25 Mitchel untuk tugas pembom. 
 B-25 Mitchel untuk tugas Foto udara atau Recce

Bpk.Sri Muljono,kanan berdiri,bersama Soetopo dan Suyitno Sukirno ketika menjadi siswa penerbang B-25.Ketiga dari kanan ( berdiri ),namanya Capt.Nino,bekas penerbang B-25 Belanda yang kemudian menjadi instruktur B-25.

 
 Bpk.Sri Muljono,paling kiri berdiri,ketika membawa juru foto udara dalam sebuah latihan menggunakan B-25 Recce.

 
 Versi latih B-25 Mitchel yang diterbangkan Sri Muljono membawa siswa penerbang ke Kendari/AURI Kendari pada tahun 1954.

 B-25 Mitchel saat akan bersiap-siap lepas landas dalam sebuah latihan rutin.

 Bapak.Sri Mulyono Herlambang berpose didepan B-25 Mitchel andalannya sebelum melaksanakan Operasi Mapanget,operasi ini merupakan satu-satunya operasi tempur terbesar yang pernah di gelar oleh TNI AU pada tahun 1958.

 
 B-25 Mitchel saat Operasi Seroja nampak dengan persenjataan yang bisa dibawa oleh pesawat B-25 Mitchel ini

 Kondisi sekarang di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala Yogyakarta

Letkol.Pnb."Pedet"Sudarman bersiap-siap di pesawat B-26 Invader ( M-262 ) " onward" saat akan bertugas dalam Operasi Dwikora.

Foto Komandan pertama Skadron 2 "Kuda Sembrani"Kapten Udara Soedarjono bersama Letnan Udara II Slamet Tjokrodirjo dalam suatu operasi militer.

Menurut catatan Kapten Udara Soedarjono, saat awal pembentukan Skadron Udara 2 diperkuat banyak pesawat jenis Dakota.Catatannya, yaitu 16 unit C-47 merupakan pesawat bekas pakai Angkatan Udara Belanda, 22 unit bekas pakai Angkatan Laut Belanda, serta sebuah DC-3 Dakota bernomor regestrasi T-482 yang merupakan pesawat pengganti VT-CLA yang ditembak jatuh Belanda pada 29 Juli 1947.
Penumpasan DI/TII di Jawa Barat, PRRI Permesta di Sumatra juga Sulawesi, Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan, RMS di Maluku, TRIKORA dan DWIKORA semuanya melibatkan pesawat angkut C-47 Skadron Udara 2.

Wing 011 Garuda. Linud angkutan bantuan ke Palembang.Ini salah satu tugas yang pernah diemban oleh C-47 Dakota dan para Awak maskapai Garuda dalam membantu Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dalam berbagai operasinya seperti dalam peristiwa PRRI/Permesta, Operasi Trikora, Operasi Dwikora, dan terakhir operasi Seroja di Timor-timur.

Era 50 hingga 60-an pasukan Linud kita akrab dengan pesawat angkut C-47 Dakota.Pesawat ini merupakan bagian dari kekuatan Skadron Udara 2.Selain awak dari TNI AU pesawat tadi juga diterbangkan oleh Wing Garuda.Mereka merupakan pilot-pilot Garuda yang direkrut untuk menerbangkan pesawat angkut militer.Selain mengangkut barang, tugas lainnya adalah menerjunkan pasukan.Salah satu diantara mereka, adalah Alm Bpk Captain Pilot.Cartono Soedjatman yang juga Redaktur Senior majalah Angkasa.
Salah satunya saat beliau dan lima penerbang sipil lainnya yang direkrut AURI untuk sebuah misi ke Lanud Palembang yang menurut kabar sudah dikepung tentara separatis PRRI.
Ada cerita menarik saat operasi ini, dimana saat akan mendarat di Lanud Palembang diperkirakan pukul 04.00 dinihari, mereka disambut oleh cuaca yang kurang ramah.Cuaca di Lanud berkabut tebal dengan jarak pandang hanya 200-300 m.Dan pesawat hanya dilengkapi dgn NDB (Radio Beacon), jadi merupakan masalah bagi pesawat yg akan mendarat.Rata-rata pesawat sudah melakukan dua kali Instrument approach namun selalu gagal. Akhirnya dengan mengunakan teknik Steep-Approach yg diusulkan Capt.Rohim, seluruh pesawat akhirnya bisa mendarat dengan selamat.Nah..disinilah kisah tersebut, ternyata deru pesawat yg berputar-putar di salah artikan pemberontak dengan banyaknya pasukan pusat yang mendarat di Lanud Palembang,Sepertinya terjadi Over Estimate sehingga pasukan separatis mengundurkan diri tanpa terjadi suatu Vuur-Contact.........padahal yang sebenarnya merupakan Missed Approach dan Overshoot.

Dakota T-442 yang juga diikutsertakan dalam Operasi Trikora,

Foto kenangan pesawat DC-3 Dakota yang merupakan bagian dari kekuatan Skadron Udara 2 Angkut Sedang AURI di Lanud Halim Perdanakusuma.Kalau melihat situasi di foto ini, sepertinya di ambil Lanud Astra Ksetra Lampung, karena memang rute yang harus di singgahi pesawat-pesawat AU sebagai DAUM Dinas Angkutan Udara Militer ke wilayah Sumatra. Rutenya adalah Lanud Halim, Bandara Branti/Raden Inten II, Lanud ATK, Lanud Palembang dst

Pengiriman siswa ke India berlangung antara tahun 1960- 1965 terdiri dari enam angkatan (batch),dibagi dua tempat.Pertama,di Number 1 Ground Training School,Airforce Station Jalahalli East,Bangalore,Sekolahnya di Number 3 Ground Training School,berjarak tiga kilometer.Kedua,di Number 2 Ground Training School,Airforce Station Tambaram,Madras.
Untuk angkatan Nanggala 3 dan 4 tidak ada jurusan Photo Mechanicnya. Jurusan lengkapnya : Sekolah yang ada di Jalahalli: Radar Mechanic,Radar Operator,Radio Mechanic ( Wireless Operator Mechanic I ),Radio Operator ( Wirelles Operator Mechanic II,Equipment Assistan ( Perbakalan)....Sekolah yang ada di Tambaram terdiri: Flight Mechanic Engine ( motor ),Flight Mechanic Airframe ( rangka pesawat ),Armourer ( senjata ),Motor Transport Mechanic ( Montir Kendaraan ),Electrician ( Listrik ),Instrument,Photo Mechanic ( Pemotretan ).
Di India para siswa hanya satu tahun,sesampainya di Tanah Air siswa jurusan perbakalan mengikuti pendidikan lagi enam bulan.Lulus dari Stuba,pangkatnya Sersan Udara II ( SU II ) atau Serda. 

Gruman Albatros PB-510 yang sama, yang sedang di kerumuni para anggota AURI di pelataran parkir Lanud Halim Perdanakusuma, pada tahun 1961. Di foto dari arah depan.

Gruman Albatros ini bisa dipasangi Bom dan Roket, tidak ketinggalan senapan mesin berat. Pesawat Gruman Albatros ini disiapkan sebagai pesawat SAR dan menjadi salah satu kekuatan Skadron Udara 5 Intai Taktis Wing Operasi 002, yang berpangkalan di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang.

Sebagian siswa Stuba ( Sekolah Teknik Udara Bintara ) jurusan airframe (Flight Mechanic Airframe) foto sejenak berlatar belakang pesawat Vampire di hanggar no.5 Trainning Squadron,No.2 Ground Training School Airforce Station Tambaran,Madras,India tahun 1961.Rombongan siswa ini juga lebih dikenal dengan "Nanggala India".  

 MiG 15



Foto Daniel Alexander Maukar (kiri),instruktur Mesir dan salah satu rekan penerbang saat belajar menerbangkan MiG di Mesir.


AURI mulai memperkuat diri dengan membeli MiG-17 yang datang sejak 1959 dengan jumlah total mencapai 65 unit. Bersama jajaran MiG-15, MiG-19 dan MiG-21, MiG-17 menjadi pencegat menakutkan bagi Belanda selama kampanye Trikora.
Di Mesir inilah, secara resmi Dani dan rombongan calon penerbang MiG 17 AURI baru belajar menembakkan kanon dan roket.
Ketika Perdana Menteri Nikita Kruschev berkunjung ke Indonesia, 27 November 1960, pesawatnya akan dikawal flight MiG-17 begitu memasuki ruang udara Indonesia.Nama Dani masuk daftar penerbangnya.Last Minute usai berkoordinasi dgn badan intelijen Rusia (KGB), nama Dani dihapus oleh KGB." Berarti intel Rusia itu punya penciuman yang kuat",ujar Nancy Maukar (adik Dani Maukar).Kunjungan ini tak sampai sebulan sebelum kejadian.


Dari kiri ke kanan Ilyusin Il-28, MiG-17PF, MiG-17F

MiG-17PF ditinjau sama petinggi AURI

Para teknisi AURI mendorong MiG-17 Fresco agar bisa masuk ke badan Hercules AURI T1301 untuk digeser ke Pangkalan Udara AURI dalam rangka Operasi Trikora.MiG-17 Fresco disiagakan di Pangkalan Udara Letfuan dan juga Pangkalan Udara Morotai.

MiG-17 Fresco AURI sudah masuk ke dalam badan Hercules AURI T1301 dan siap mendukung Operasi Trikora.


MiG-21 Fishbed AURI saat disedang disiapkan di Kemayoran terlihat AURI dalam menjalankan perawatannya masih di backup teknisi dari Uni Sovyet.  Project Alutsista yang memang buru-buru menjadikan sarana dan prasarana AURI belum optimal, termasuk teknisi dan ground crew.

Ilyusin Il 28 Beagle

Para penerbang Helikopter Mi-4 sedang menerima arahan dari Pimpinan AURI( Bpk Srimuljono Herlambang ) dalam suatu kunjungan kerja, di depan Heli Mil Mi-4 di Lanud Semplak, Bogor.

Helikopter ini menjadi kekuatan udara AURI dan berada dalam naungan Skadron Udara 6 Lanud Semplak, Bogor.AURI diperkuat 41 heli Mil Mi-4 dalam tugas-tugas militer yang diembannya.Khusus Skadron Udara 6 diisi heli-heli Blok Timur.
Helikopter Mil Mi 4 ini kurang nyaman ruang cockpitnya dan olinya menetes dimana mana.

Salah satu helikopter Mi-4 yang dimiliki AURI terlihat sedang akan melakukan pendaratan.

Mil Mi 4 dengan para crewnya saat dinas di Kalimantan. Foto ini diambil saat mereka bertugas untuk pembuatan patok-patok perbatasan di Kalimantan, selain juga setelah itu pergi ke Irian jaya membuat patok-patok perbatasan disana

Nampak di foto M Jusuf, sebelahnya Solichin GP

Helikopter Mi-4 milik AURI yang akan menerbangkan jenasah Kahar Muzakar saat Operasi penumpasan Pemberontakan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan dan sekitarnya.

Heli Angkut Berat AURI dari Skadron 8, Pangkalan Udara Semplak, Bogor Mi-6 Hook

Saat tiba untuk membawa jenasah Kahar Muzakar ini, heli Mi-4 AURI juga membawa Komandan Batalyon 330 Yogie S Memet, Bpk.Solihin GP dan Pangdam Hasanudin, Jenderal M.Yusuf yangselanjutnya sebelum dibawa ke sebuah rumah sakit di Makassar, jasad Kahar Muzakar sempat diperlihatkan kepada Masyarakat Sulawesi Selatan di Lapangan Karebossi, Makassar.
Sebuah pesawat ringan jenis Austermark peninggalan ML/Angkatan Udara Belanda yang di serahkan kepada Angkatan Udara Republik Indonesia,dengan regestrasi R-70 ( R:Recce/Intai ) menyandang lambang Kwartir Nasional Gerakan Pramuka di fuselage/badannya juga lambang tunas kelapa di vertical wing nya.Pesawat ini di bawah kendali operasi Lanud Kalidjati ( Lanud Suryadarma ) di Subang,Jawa Barat.Untuk mendukung kegiatan Pramuka Satuan Karya/SAKA Dirgantara

F-86 Avon Sabre yang dipakai Skadron Udara 14 bukanlah buatan atau produksi  oleh pabrik North American Aviation divisi Los Angeles dan Columbus,Ohio. Sabre milik kita adalah versi yang dibuat dibawah lisensi oleh Commonwealth Aircraft Corporation ( CAC ) awal tahun 1950.Oleh karena nya memiliki kode sendiri yaitu CAC Mk-32 F-86 Avon Sabre. Selain Indonesia (TNI AU) yang mendapat bantuan sebanyak 18 unit pesawat eks RAAF dan 16 yang bisa diterbangkan,Negara Malaysia juga (TUDM) mendapat hibah sebanyak 18 unit juga. Dan pada bulan Juli 1976,Iima pesawat Sabre TUDM dihibahkan kpd TNI AU,karena kekuatan Skadron Udara 11 TUDM yang menaunggi Sabrenya dipakai dan digantikan pesawat F-5 A/B.

Saat masih memakai marking RAAF
Persiapan sebelum dihibahkan ke TNI AU
 Persiapan sebelum dihibahkan ke TNI AU dalam Operasi Garuda Bangkit
Air Patrol yang sedang dilaksanakan oleh pesawat Avon Sabre F-86 dari Skadron 14 Buser, Fighter Wing 300 diatas langit Indonesia.

 Latma kedua Skadron Udara 14 Sabre dengan sandi Elang Sebrang I bersama Royal New Zealand Air Force,tahun 1976.
 Pesawat F-86 TNI AU melintas di atas Bandara Polonia Medan, 
Minggu, 21 November 1976.
 F-86 Avon Sabre TNI AU

 Bronco TNI AU pertama kali di operasikan oleh Skadron Udara 3 berkedudukan di Lanud Abdulrahman Saleh,Malang mengantikan peran si "Cocor Merah" P-51D Mustang.

Mantan KSAU, Marsekal TNI Purn Herman Prayitno saat berpangkat Lettu Pnb saat berpose disamping OV-10F Bronco pada tahun 1979 di Lanud Abdulrahman Saleh, Malang.
 Kelebihan Bronco selain sebagai pesawat COIN adalah mampu dan bisa menerjunkan pasukan Komando dari ruang belakang ekornya.Kemampuan ini di Asia baru TNI AU yang mengujinya dan berhasil.Pertama kali di uji coba saat Latma Elang Thainesia di Lanud Surattani,Thailand akhir tahun 80-an.

 Jajaran armada kuda liar OV-10F Bronco TNI AU saat masih menjadi kekuatan Skadron Udara 3 dan melanjutkan tugas serta fungsi Pesawat Pemburu P-51 Mustang. OV-10F Bronco ber Homebase di Lanud Abdulrahman Saleh, Malang, hingga selesai masa baktinya di tahun 2010.
OV 10 Bronco

Bronco datang ke Indonesia pada tanggal 28 September 1976, dan langsung diikutsertakan dalam Operasi Seroja di Timor- timur.Dari pengalaman tempur ini, Bronco kita akhirnya dimodifikasi sesuai keperluan operasi tempur di Timor-timur tersebut.Sebut saja dengan menganti senjata mesinnya menjadi berkaliber 12.7 mm dan mampu membawa bom keluaran Rusia yang memakai standar metrik.Total kita memiliki 16 unit melengkapi Skadron Udara 3 Lanud ABD Saleh, Malang.
Data Teknis OV-10F Bronco.
Mesin: T-76/G10 ( kiri ), T-76/G12 ( kanan).Panjang/ Lebar: 39,7/1,4 kaki.Berat Dasar: 7,902 Lbs.Berat Max: 14.000 Lbs.Kecepatan normal: 180 Kts.Kecepatan maks: 350 Kts.Lama terbang: 2.30 jam tanpa tangki cadangan, 4.30 jam dengan tanki cadangan Jenis BBM: Avigas, JP-4/ Jet-B, JP-5, JP-8, Jet-A, dan Jet- A1. 
Kata pak Herman Prayitno juga, ada dua mazhab diranah ini.Pertama, anggapan yg mengatakan AU perlu pesawat COIN utk menghadapi insurjensi, dan kedua, AU disiapakan utk menghadapi musuh dari luar. Tapi memang dilapangan yg kita ketahui bersama, bahwa selama ini TNI AU hanya dihadapkan kpd konflik-konflik di dlm negeri yg memang membutuhkan pesawat COIN. 
Disebutkan pula, kekuatan udara Bronco saat melepaskan Roket FFAR Folding Fin Air Rocket bukan diarahkan langsung kekonsentrasi musuh tapi ditembakkan keperkubuan mereka yang berada di Goa-goa didaerah pegunungan.....begitupula saat Pak Pedet Soedarman membantu PGT dalam Operasi di Irian Barat yang dikejar OPM, tidak menembaki mereka secara sporadis namun arah tembakan diarahkan kesekitar OPM yang langsung bubar ketakutan. 
Air Refueling dua pesawat tempur A-4 Skyhawk asal Skadron 11 Lanud Iswahjudi, Madiun melalui pesawat tanker Hercules TNI-AU A-1309.

Pesanan TNI AU terdiri dari 31 A-4E ( single seat ) dan 2 TA-4H (dual seat). Setibanya di Indonesia, modifikasi kecil dilakukan terhadap alat komunikasi dan navigasi supaya sesuai dengan keadaan geografis dan standart komunikasi pasukan ABRI kala itu. Setelah sembilan kali pengapalan pesawat A-4 Skyhawk pada priode Mei 1980 hingga Agustus 1982 selesai, maka selanjutnya armada tempur A-4 Skyhawk TNI AU mulai melakukan serangkaian kegiatan latihan di langit Indonesia, termasuk kegiatan air-refueling ini.
TNI AU juga butuh waktu utk menyiapkan dua pesawat tanker Hercules, yaitu: Tanker A-1309 walau tanker asli namun perlu di refungsi-ulang sistem air refuelingnya sementara A-1310 yg aslinya tak lain Kargo, perlu modifikasi agar bisa jadi pesawat tanker.
Pada bulan Februari 1984,A-4E melaksanakan pengisian bahan bakar malam hari (Lanud Iswahjudi dlm-special training).Selanjutnya di bulan November 1987,lima pesawat single seat A-4E melakukan misi Long Range Mission, dengan sasaran terletak di wilayah Timor-Timur.
Pesawat A-4E TT-0409 adalah pesawat A-4E Skyhawk pertama milik TNI AU yang jatuh di Baucau, usai melakukan strafing di Ambon saat pelaksanaan Latihan Gabungan ABRI tahun 1981.Skyhawk ini datang ke Indonesia pada tanggal 21 Desember 1980.  

Skadron Udara 12 resmi menjadi warga Riau tepatnya pada tanggal 28 Maret 1985 dengan ditandai Tepung Tawar oleh Gubernur Riau dan Pemuka Adat.

Dengan datangnya Elang Angkasa A-4 Skyhawk masuk jajaran TNI Angkatan Udara yang ber “HOME BASE” di Pangkalan TNI Angkatan Udara Iswahyudi Madiun yang merupakan Pangkalan Utama jenis pesawat tempur. Untuk efesiensi dalam pelaksanaan tugas, maka Elang Angkasa A-4 Skyhawk yang saat ini sebagai kekuatan Skadron Udara 11. Lalu dipecah menjadi 2 (dua) yaitu sebagian tetap di Skadron Udara 11 dan sebagian di Skadron Udara 12. 

A-4E/F Skyhawk,Skadron 11 dan Skadron 12.

Dengan terbaginya dua Skadron Udara, Skadron Udara 12 yang selama 14 tahun di non aktifkan, maka pada tanggal 2 Mei 1983 Skadron Udara 12 diaktifkan kembali sebagai salah satu kekuatan tempur TNI Angkatan Udara, dengan Komandan Skadron Letkol Pnb Irawan Saleh.
Pada awalnya Skadron 12 berkedudukan di Kemayoran dengan pesawat MIG 19. Lalu pada tahun 1974 Skadron 12 dibekukan karena semua pesawat buatan Rusia di grounded, dan diaktifkan kembali pada 1983 berdasarkan Skep Kasau Nomor Skep/12/V/1983 tanggal 2 Mei 1983 dengan pesawat A-4 Skyhawk dan berkedudukan di Madiun. Pada tahun yang sama, berdasarkan Surat Keputusan Kasau Nomor Kep/12/VII/1983 tanggal 5 Juli 1983, Skadron 12 dipindahkan ke Lanud Pekanbaru (sekarang Roesmin Nuryadin). 
Pelaksanaan pemindahan dimulai tanggal 7 September 1983, didahului dengan pemindahan 27 kepala keluarga dibawah komando Skadron Udara 12 Wing 300 saat itu, Letkol. Pnb Irawan Saleh, dibantu oleh Kadisops, Mayor Pnb Hasnafie Asnan. | penempatan pun ditandai dengan ops boyong pada tgl 7 september 1983.
Dan pada saat itulah Skadron Udara 12 siap mengemban tugas melaksanakan operasi udara taktis, strategis, pertahanan udara terbatas dan visual foto recce"

HS Hawk Mk 53 Skadik 103

Pesawat Hawk Mk-53 yang menjadi sarana andal untuk melatih calon-calon penerbang TNI AU sejak pesawat awal dasawarsa 1980-an dan menjadi kekuatan Skadron Pendidikan 103 di Lanud Iswahyudi, Madiun.

Menguji pesawat baru berikut senjatanya yang juga baru 
dilakukan menggunakan pesawat F-5. 

Dalam hal ini, penembakan pertama rudal AIM-9 Sidewinder pertama di TNI AU dilakukan oleh Letkol Pnb Suprihadi pada tanggal 3 November 1989 atau sembilan tahun setelah F-5 dioperasikan di TNI AU. Kala itu, Suprihadi yang menjabat sebagai Komandan Skadron Udara 14 terbang menggunakan F-5 kursi tunggal yang dilengkapi target simulasi TDU-11 di sayap sebelah kiri dan rudal AIM-9 P-2 di sayap kanan. Penembakan sasaran dilaksanakan di area latihan lepas Pantai Pacitan, Jawa Timur. Direct hit! Sasaran tembak yang dilepas berhasil dihancurkan oleh rudal Sidewinder.

 Ini sewaktu pertama kali mendarat di Indonesia. Coba lihat ada lambang USAF di bagian belakang badannya.Pemerintah AS tidak menjamin keselamatan dan Asuransi pesawat ini apabila dalam pengirimannya tidak terdapat lambang USAF

Team awal Elang Biru dan tiga pelatih yang didatangkan dari US Air Force mereka adalah; Peter Abner McCaffry, Matthew " Birdman " Byrd, dan Steve " Boss" Trent.

Guru yang sengaja diundang dari ' Padepokan' Luke Arizona, sebenarnya hanya dua.Tapi yang turun gunung tiga.Yang satunya? Datang atas biaya PACAF, AU AS di Pasifik yang berkantor di Hawaii.Dia suhunya, Kolonel Steve Trent, Inspektur Jenderal PACAF, mantan Komandan Team Thunderbird tahun 1988-1990, mantan penerbang F-4 Phantom yang belasan tahun berpengalaman di medan perang Vietnam.Ia juga mantan komandan "Wolfoack", Wing tempur di Lanud Kunsan, Korea Selatan.
Dua guru lainnya, Mayor Peter McCaffrey asal Fort Collins, Colorado, AS, dan Kapten Matthew E.Byrd asal San Fransisco, California, AS.Keduanya aktif sbg instruktrur Thunderbird di Luke Arizona, sejak 1992-1995.Mereka mantan penerbang A-10 Thunderbolt dan F-117 Nighthawk.
Kolonel Steve' Boss 'Trent langsung menurunkan ilmu Leader nya kepada Letkol Pnb Rodi ' Cobra ' Suprasodjo selanjutnya Elang Biru ditinggalkan Sharky yang mendapat tugas belajar ke Australia. 

 F-16 B Fighting Falcon block-15 TNI AU dengan Camuflase pertama dan di akui oleh Majalah Code One sebagai "the most attractive camouflage" F-16 di dunia.
(artikel Angkasa ditahun 92 dan diulang setiap memuat artikel tentang kamuflase F-16, kamuflase F-16 TNI AU dikatakan yang terbaik)

 F-16A Fighting Falcon,Skadron 3 sedang tinggal landas

Camonya diambil dari camo F-5E Tiger II skadron aggressor USAF yg dikenal sbg "new blue" scheme... disini disebut "blue spot" scheme. Pattern schemenyapun sama dengan F-5E/F Tiger II milik TNI AU. 
Di tahun 1992 seluruh jajaran F-16 diseluruh dunia menarik sementara F-16 utk tidak terbang, karena ada laporan mengenai 'crak'atau retakan di bagian belakang pesawat yang akhirnya nyatanya tidak diketemukan.
F-16 adalah pesawat tempur kita yang melakukan uji penembakan Air to Groud Missile AGM-65 Maverick dengan penerbang Letkol Pnb.M.Syaugi sebagai eksekutor dan Pilot in Comand.

 F-16 TNI AU dalam balutan livery Elang Biru saat melakukan patroli udara bersama dengan kekuatan fighter yang dimiliki oleh Lanud Iswahyudi,Madiun. 
F-16 terlihat full armament.

 AT-6G Harvard TNI AU yang akan diterbangkan mantan ketua umum PSSI,Marsdya ( Pur ) Kardono yang juga mantan penerbang P-51D Mustang AURI bersama Marsdya TNI Tamtama Adi 21 Mei 1999
 Marsdya (Pur) Kardono yang juga mantan penerbang P-51D Mustang AURI bersama Marsdya TNI Tamtama Adi sedang memeriksa pesawat AT-6G Harvard

Pesawat AT-6G Harvard nampak sedang terbang

Di majalah Angkasa ditulis kalau para teknisi AU yang merawat pesawat tua ini tidak terlalu kwatir masalah suku cadang....beliau-beliau ini terbiasa membeli beberapa jenis suku cadang bukan lewat distributor asli,melainkan membeli di Pusat jual beli onderdil,Asem Reges di Jakarta.

Saat masih bisa terbang dan terbang bersama-sama.tiga vintage aircraft terdiri dari dua AT-6 Harvard dan DC- Dakota flypass saat pembukaan Jambore Aerosport,Jakarta pada tanggal 31 Agustus 2001.

 
 Joyflight bersama DC-3 Dakota di acara Jambore Aero Sport 31 Agustus- 2 September 2001

 Replika RI 001 Seulawah nampak terparkir di Skatek 021 Halim Perdanakusuma Jakarta