<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3142861121075504619</id><updated>2012-01-22T07:03:18.308-08:00</updated><title type='text'>WEAPONS TECHNOLOGY</title><subtitle type='html'>Berisi Teknologi Persenjataan yang patut dibaca semua kalangan.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>WEAPONS TECHNOLOGY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06988874767614887444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://3.bp.blogspot.com/_LpXMzejbcjI/S6DRcp3u0AI/AAAAAAAAAAM/lttrJgF_BMM/S220/PAK+FA+T+50+7.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>54</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3142861121075504619.post-8383318185578311136</id><published>2011-09-14T09:41:00.000-07:00</published><updated>2011-09-14T09:41:20.341-07:00</updated><title type='text'>KAPAL INDUK CHINA UJI COBA  PENDARATAN JET TEMPUR</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 class="UIIntentionalStory_Message" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;1&amp;quot;}" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-weight: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="UIStory_Message"&gt;&amp;nbsp;KAPAL INDUK CHINA UJI COBA&amp;nbsp; PENDARATAN JET TEMPUR&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3 class="UIIntentionalStory_Message" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;1&amp;quot;}" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-weight: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="UIStory_Message"&gt;Militer  China telah melakukan uji coba Kapal induk China pertama Shi Lang yang  sedang melakukan pelayaran perdana di lautan lepas hari Rabu tanggal 10  Agustus 2011 dan selama melakukan pelayaran perdana ini kapal induk  milik China tersebut melakukan simulasi pendaratan jet tempur. &lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;  Kapal induk pengangkut pesawat ini meninggalkan galangannya di provinsi  Liaoning menuju laut lepas. Pejabat China mengatakan uji coba hanya  dilakukan sebentar. Sesudah itu kapal dikembalikan ke galangan untuk  perbaikan selanjutnya. Uji coba ini termasuk dalam langkah perbaikan  kapal.&lt;br /&gt;Pendaratan jet tempur dilakukan bila kondisi cuaca  memungkinkan, tetapi jet tempur segera lepas landas sesaat mendekati  kapal induk menggantikan pendaratan nyata, menurut sumber terpecaya  dikutip Harian Global Times, Jumat (12/8).&lt;br /&gt;Sumber menambahkan jet tempur yang digunakan produksi lokal J-15 Flying Shark.&lt;br /&gt;Simulasi ini ditujukan menguji sistem radar dan optical landing kapal  induk, setelah meninggalkan galangan kapal Dalian untuk memulai  pelayaran uji coba.&lt;br /&gt;Uji coba kapal induk untuk yang pertama kalinya  ini sekaligus membuktikan kekhawatiran negara-negara tetangga akan  peningkatan kekuatan maritim China.&lt;br /&gt;Seorang staf Humas Kementrian  Pertahanan Nasional menolak memberikan komentar pemberitaan Global  Times, ia mengatakan tidak ada pemberitaan mengenai kapal induk.&lt;br /&gt;Kapal induk milik China ini memiliki panjang 300 meter dan kapal ini  sebelumnya merupakan kapal peran peninggalan Uni Soviet yang bernama  Varyag yang memiliki desain kuno dan tidak dirakit di China.&lt;br /&gt;Kapal  ini dirakit pertama kali pada tahun 1980an oleh Angkatan Laut Uni  Soviet. Namun kapal ini tidak sempat diselesaikan oleh Uni Soviet saat  terpecah pada tahun 1991. Varyag yang berkarat kemudian dipindahkan ke  galangan kapal di Ukraina.&lt;br /&gt;Setelah itu oleh sebuah perusahaan China  kapal Varyag ini dibeli dan kapal ini dipotong-potong untuk dijadikan  kasino apung di Macau. Setelah sempat jadi kasino apung kapal ini lalu  dikumpulkan lagi potongan-potongan dan dibawa ke Dalian untuk dirakit  ulang menjadi sesuai fungsinya sebagai kapal induk, dan proses  pengumpulan potongan-potongan dan perakitan kembali ini membutuhkan  waktu bertahun-tahun. Dan walaupun belum ada konfirmasi resmi akan  tetapi kapal ini akan diberi nama "Shi Lang" yaitu nama seorang  Laksamana terkenal di jaman Kekaisaran China semasa Dinasti Ming.&lt;br /&gt;Dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan pada minggu ini Laksamana Yin  Zhuo mengatakan bahwa negaranya bermaksud membangun sebuah kapal induk,  tapi tugas itu akan lama dan sulit.&lt;br /&gt;"Kapal induk itu akan membentuk  pertahanan yang sangat kuat. Namun konturksi dan tuntutan fungsional  sebuah kapal induk sangat kompleks" kata Yin kepada China Economic  Weekly. Ia menambahkan pelatihan awak dsan pilot merupakan sebuah  tantangan besar.&lt;br /&gt;Sedangkan berdasar komentar dari Ni Lexiong yang  merupakan seorang ahli kebijaksanaan maritim China dari Ilmu Politik dan  Hukum Universitas Shanghai mengatakan "Kita sudah menjadi kekuatan  maritim. Jadi kita perlu kekuatan yang tepat, apakah itu pesawat  operator atau kapal perang seperti Amerika atau Inggris"&lt;br /&gt;Administrasi Keamanan Maritim Liaoning mengeluarkan pengumuman Rabu  (10/8), melarang komunikasi navigasi dan radio pada radius 31,5 km pada  Sabtu (13/8) disekitar Timurlaut Laut Bohai. Hal ini merebakan spekulasi  jet tempur akan diuji coba di kapal induk.&lt;br /&gt;Uji coba kapal ini  membuktikan ketakutan beberapa negara tetangga terhadap perkembangan dan  perluasan kekuatan militer China di kawasan, terutama di Laut China  Selatan. Sebelumnya pekan lalu telah disampaikan oleh pemerintah Jepang  yang mengatakan ambisi China adalah menguasai Laut China Selatan.&lt;br /&gt;Wilayah perairan ini sejak lama diperebutkan oleh lima negara di kawasan  Asia. China dilaporkan kerap terlibat adu senjata dengan negara-negara  tersebut. Terakhir bulan Juni lalu saat liliter China terlibat konflik  dengan Vietnam terkait pelanggaran batas di wilayah sengketa Laut China  Selatan.&lt;br /&gt;"Salah satu tujuan utama dibalik ini adalah prstise" ujar  Ashley Townshend dari Lowy Institute for International Policy di Sydney.  Menurutnya perdebatan soal China yang ingin menguasai Laut China  Selatan semakin jelas karena setiap tahun semakin menunjukkan kekuatan  hebat. Kekuatan besar memiliki angkatan laut besar, dan angkatan laut  yang besar harus memiliki kapal induk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;br /&gt;Global Times&lt;br /&gt;Kedaulatan Rakyat Kamis Legi 11 Agustus 2011 halaman 14.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3142861121075504619-8383318185578311136?l=weaponstechnology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/feeds/8383318185578311136/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/09/kapal-induk-china-uji-coba-pendaratan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/8383318185578311136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/8383318185578311136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/09/kapal-induk-china-uji-coba-pendaratan.html' title='KAPAL INDUK CHINA UJI COBA  PENDARATAN JET TEMPUR'/><author><name>WEAPONS TECHNOLOGY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06988874767614887444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://3.bp.blogspot.com/_LpXMzejbcjI/S6DRcp3u0AI/AAAAAAAAAAM/lttrJgF_BMM/S220/PAK+FA+T+50+7.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3142861121075504619.post-4366957792890395434</id><published>2011-08-10T08:22:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T08:22:57.956-07:00</updated><title type='text'>RANTIS TNI GARDA 4X4</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;RANTIS TNI GARDA 4X4&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ClwUUQwcS3k/TkKhrfxnhzI/AAAAAAAACe8/tQ7kxTy1ELE/s1600/vggzgwjp.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://1.bp.blogspot.com/-ClwUUQwcS3k/TkKhrfxnhzI/AAAAAAAACe8/tQ7kxTy1ELE/s400/vggzgwjp.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-BajZyGynsCk/TkKhqOsdzsI/AAAAAAAACe4/KoYKsNqPpmc/s1600/41wcxynh1.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://3.bp.blogspot.com/-BajZyGynsCk/TkKhqOsdzsI/AAAAAAAACe4/KoYKsNqPpmc/s400/41wcxynh1.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-zZX06nVA_KA/TkKhtjfVyBI/AAAAAAAACfA/tHj9d6vPg3g/s1600/41wcxynh.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-fT-Q90VQj1Y/TkKhxAo8XpI/AAAAAAAACfE/KKfBqmoOcIo/s1600/mnz9ebhq.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://1.bp.blogspot.com/-fT-Q90VQj1Y/TkKhxAo8XpI/AAAAAAAACfE/KKfBqmoOcIo/s400/mnz9ebhq.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-StXz0ORpxbw/TkKhzvQjZ2I/AAAAAAAACfI/zsxxDMS-A3k/s1600/k1rluxzh.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://1.bp.blogspot.com/-StXz0ORpxbw/TkKhzvQjZ2I/AAAAAAAACfI/zsxxDMS-A3k/s400/k1rluxzh.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kendaraan Taktis (Rantis) 4 x 4 yang dikenal dengan 4-Wheels Drive (4WD atau 4 x 4) yaitu kendaraan taktis yang memiliki tenaga penggerak pada keempat rodanya, dengan tujuan untuk mendapatkan traksi yang memadai dalam segala kondisi jalan. Cara kerja dari kendaraan 4 x 4 adalah mesin dihubungkan dengan differensial tengah (transfer case) yang membagi tenaga ke roda belakang dan roda depan. Karena pada saat menggunakan penggerak 4 roda, penggunaan energi lebih tinggi. Biasanya penggerak 4 roda hanya digunakan pada saat dibutuhkan saja, dengan mengaktifkan melalui tombol atau tuas tertentu.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Berlatar belakang bahwa ada beberapa negara telah mengadopsi kendaraan taktis 4 x 4 untuk kepentingan militernya seperti AS (HUMVEE), Italia (IVECO), Cina (DongFeng Hummvee), Spanyol (EURO VAMTAC), Brazil (AV-VB4 RE 4 x 4 GUARA), Perancis (SHERPA) dan beberapa negara lainnya. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sedangkan kendaraan taktis yang dimiliki oleh TNI saat ini belum standar, yakni terdiri dari beberapa produk seperti CJ-7 (USA), BEIJING (China), ISUZU OZ (Jepang), KIA KM-420 (Korea), LANDROVER (Inggris), UAS (Rusia) dan OVERLAND (Inggris) buatan tahun 1979 -1981. Konsekuensi dari keanekaragaman tersebut berdampak terhadap rumitnya pengoperasionalan dan pemeliharaan termasuk tukar alih suku cadang sehingga berpengaruh juga terhadap biaya pemeliharaan satuan.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Untuk mengantisipasi hal tersebut maka dibentuklah Working Group TNI, selain dari personel TNI juga disertakan mitra industri untuk mendukung kegiatan pengerjaan teknis yaitu : PT. AUTOCAR, PT. Pindad, PT. Yudistira, PT. Petrodrill, PT. Gajah Tunggal, PT. Krakatau Steel, PT. Pilar Mas Kursindo, PT. Indo Pulley Perkasa dan PT. Alam Indomesin Utama. Adapun Kepala Pelaksana Kegiatan (Kalakgiat) dipimpin oleh Kepala Subdinas Materiil Utama (Kasubdismatut) Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AD (Dislitbangad) Kolonel Kav Rihananto guna mewujudkan suatu Prototipe Kendaraan Taktis 4 x 4 yang dapat mengakomodir operational requirement satuan-satuan manuver maupun untuk kepentingan pengamanan TNI.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Selain itu pula diharapkan ke depan terdapat keseragaman/standarisasi kendaraan taktis TNI. Mengacu kepada konsep Minimum Essential Forces (MEF) diharapkan TNI pada 2014 dapat memenuhi kebutuhan alut sista dengan prioritas produksi dalam negeri serta dalam rangka kemandirian alut sista.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dari hasil kerja Working Group TNI dihasilkan Rantis TNI GARDA 4x4. Rantis 4 x 4 TNI dapat digunakan di medan yang berat seperti tanjakan terjal, jalan licin ataupun jalan yang berlumpur. Tampilan Rantis 4 x 4 tetap mengacu pada filosofi Hummvee USA, karena terbukti cukup tangguh, stabil dan flexible,” jelas Kolonel Kav Rihananto dalam paparannya kepada Panglima TNI dan pejabat TNI saat acara penyerahan prototipe Rantis hasil Working Group TNI kepada Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, SE. dilakukan di Mabes TNI Cilangkap, Senin (8/8). &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dalam kesempatan tersebut, Panglima TNI menyampaikan apresiasi atas upaya yang telah dilakukan oleh Working Group TNI, sehingga dapat mewujudkan prototipe Rantis 4 x 4 yang direncanakan. Namun demikian, Panglima TNI mengharapkan prototipe ini terus disempurnakan sehingga dapat menghasilkan desain yang maksimal sesuai kebutuhan pengguna.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Rantis TNI GARDA 4x4 &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Model bentuknya mirip dengan Bhirawa tanpa bemper. Rantis 4x4 TNI ini sudah dikembangkan sejak lama. Desain 100 % karya anak bangsa (TNI) tetapi seperti biasa yang diimpor adalah Mesin+Transmisi+Power Train+Kaki kaki. Rantis ini sebenarnya akan dibuat oleh PT. PINDAD akan tetapi berhubung ada beberapa perkara sehinga menyebabkan pihak PT. PINDAD menolak membuat rantis ini sehingga pembuatan rantis 4x4 TNI ini kemudian dikerjakan oleh salah satu rekanan kerja TNI yg berada di sekitar daerah Cimanggis. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Mesin Mercedes Benz OM904, 170Hp 4200 cc&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Transmisi matic 5 percepatan&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Chasis buatan dalam negeri&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kaki-kaki original H1 military spec dari GM Motor &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Independent differential&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pembuatan GARDA 4x4 ini menjadi salah satu kandidat pengadaan 311 unit di Kemhan (2012-2014). Adapun keempat kandidat pengadaan 311 unit rantis di Kemhan (2012-2014) adalah sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;1. PINDAD, Basisnya Ford Ranger, 3/4T&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;2. Starion, Impor 100% CJ8, 3/4T&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;3. IPO (PT) GUDEL, Basisnya Hino, 1.25T&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;4. GARDA, dibangun dari Humvee H1 1.5T, 1.5T&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kendaraan rantis 4x4 tersebut merupakan sesuatu yan patut kita apresiasi bersama-sama. Dari segi operasional kendaraan rantis 4x4 ini sudah memenuhi berbagai kriteria. Hanya saja perlu dilakukan uji lanjut kelayakan untuk menentukan apakah memang layak sebagai sebuah kendaraan militer. Meskipun akhirnya semuanya nanti tergantung kepada unit cosh/price per quota.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dari keempat kandidat tersebut di atas unit cosh/price masing-masing adalah sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;1. PINDAD, Ford Ranger basis, 3/4T.... 400-500jt; TKDN : 10%&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;2. STARION, CJ8, 3/4T.... 700-1000jt; TKDN : 0%&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;3. GUDEL, HINO 1.25T.... 350-500jt; TKDN : 20%&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;4. GARDA, Humvee H1 1.5T.... 800-1200jt; TKDN : 40%&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tampak jelas bahwa pilihan-pilihan di atas memiliki kelas yang berbeda jauh. Jadi berbicara masalah harga sudah seperti kalau bicara beli mobil xenia, innova atau land cruiser.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dari sini harusnya Kemhan menentukan terlebih dahulu budget yang tersedia. Untuk rantis buatan PINDAD dan GUDEL sama-sama memakai rolling chassis full dari mobil Luar Negeri hanya main bodi saja, dan TKDN hanya sekitar 10%. Kemudian kalau hanya untuk keperluan off road saja jangan membeli GARDA karena kemahalan harganya. Sedankan kalau berbicara spesifikasi jangan disamain antara yang meman asalnya dari Humvee dengan kendaraan komersial yang diganti bajunya jauh sangat berbeda kualitasnya bagaikan langit dan bumi.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kemudian untuk kendaraan 3/4T berarti kendaraan tersebut hanya mampu mengangkut beban sampai dengan 3/4T (Payload = 3/4T).&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dengan kemampuan engangkut beban sampai dengan 3/4T ini maka perkiraan yang bisa diankut bisa kita beri gambaran sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;1. Jumlah pasukan : standar 1 regu yaitu sekitar 10 orang saja jika berat perorang rata-rata 80kg. Berarti kalau hanya 3/4T maka kendaraan tersebut tidak akan bisa membawa pasukan 1 regu. Maksimal yang bisa diankut hanya 6 orang.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;2. Senjata serbu : kalau ingin membawa senapan kaliber 12.7mm, beratnya senapan bersama amunisi sekitar 200kg-an. Jelas kalau ingin dibawa diatas kendaraan maka pasukan yang bisa&amp;nbsp; dibawa paling maksimal 4 orang saja.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;3. ARMORED: tidak akan mungkin diberi armor sehingga paling maksimal ditambah komposit saja, itu juga paling&amp;nbsp; hanya yang level NIJ 1 saja sehingga apabila ditembak menggunakan AK47 juga akan tembus.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;4. Ground Clearence: tidak akan mungkin diatas 30cm untuk semua tipe diatas. FYI, Unimog ground clearence sekitar 40cm-an. Kalau ingin asal off road standar saja masih bisa dipakai.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kemudian kenapa GARDA 4x4 menggunakan mesin Mercedes OM904, 170Hp 4200 cc alasannya adalah sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;1. Spare parts banyak sekali tersedia diseluruh dealer mercedes yan ada ada. Meskipun tidak sebanyak spare parts HINO, akan tetapi jelas lebih banyak daripada spare parts Ranger dan CJ8&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;2. Power/ volume ratio tinggi. Artinya untuk mesin sekecil itu, power yg dihasilkan bisa smpai dengan 210 hp sebenarnya, hanya dibatasi electronically sd 170Hp/ 2200rpm saja dulu. Sebagai perbandingan, Land Cruiser itu menggunakan mesin 1HD-T, output 170hp/ 3000rpm, HINO 130hp/ 2400rpm, FORD Ranger 130hp/ 3200rpm.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;3. Torque tinggi. Untuk mesin sekecil itu, Torque nya sd 800Nm/ 1400rpm. Kalau diperhatikan, mesin-mesin "pekerja keras" itu mengejar torque tinggi pada putaran rendah. Kenapa bisa begitu coba saja dibaca di internet kenapa kira2. Sebagai perbandingan, kalau dibandingkan dengan HINO 400Nm/ 1600rpm dan FORD Ranger 220Nm/ 2100rpm, jelas Torque Mercedes ini jauh banget.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;4. Penggunaan mesin untuk keperluan militer tidak dilarang oleh prinsipalnya. Beda dengan -misal- HINO. Coba dicek saja ada enggak keterangan pernyataan langsung dari Prinsipal HINO jepangnya.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;5. Mercedes sudah punya pabrik perakitan di Indonesia. Masih ada kemungkinan dalam jumlah tertentu mesin tersebut bisa di lokalkan&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;6. BRAND Image bagus sekali. Intinya begini saja bahwa orang-orang itu pasti tanya pertamanya adalah.. Pakai mesin apa? kalau pakai Mercedes, pasti sudah tidak ada pertanyaan lanjutan lagi.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Nah begitulah kira-kira alasan rantis GARDA 4x4 menggunakan mesin Mercedes OM904, 170Hp 4200 cc.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3142861121075504619-4366957792890395434?l=weaponstechnology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/feeds/4366957792890395434/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/08/rantis-tni-garda-4x4.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/4366957792890395434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/4366957792890395434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/08/rantis-tni-garda-4x4.html' title='RANTIS TNI GARDA 4X4'/><author><name>WEAPONS TECHNOLOGY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06988874767614887444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://3.bp.blogspot.com/_LpXMzejbcjI/S6DRcp3u0AI/AAAAAAAAAAM/lttrJgF_BMM/S220/PAK+FA+T+50+7.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-ClwUUQwcS3k/TkKhrfxnhzI/AAAAAAAACe8/tQ7kxTy1ELE/s72-c/vggzgwjp.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3142861121075504619.post-6017740160893578170</id><published>2011-08-08T17:56:00.000-07:00</published><updated>2011-08-09T04:53:14.305-07:00</updated><title type='text'>ATD-X SHIN-SHIN</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;b&gt;ATD-X SHIN-SHIN&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-6MKxD6lEoSw/TkCMtmVfY-I/AAAAAAAACd0/YtO4tHfO7S0/s1600/Atdx.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="160" src="http://4.bp.blogspot.com/-6MKxD6lEoSw/TkCMtmVfY-I/AAAAAAAACd0/YtO4tHfO7S0/s400/Atdx.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-kdqG9Gpl-a4/TkEawtYETZI/AAAAAAAACek/YPFCp_zI9Ak/s1600/Mitsubishi_ATD-X_Stealth_Fighter_Jet.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="162" src="http://4.bp.blogspot.com/-kdqG9Gpl-a4/TkEawtYETZI/AAAAAAAACek/YPFCp_zI9Ak/s400/Mitsubishi_ATD-X_Stealth_Fighter_Jet.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-inFBjEh_tn0/TkEapMiMj2I/AAAAAAAACeU/9MwbyfqpcIo/s1600/Ug52685.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="360" src="http://3.bp.blogspot.com/-inFBjEh_tn0/TkEapMiMj2I/AAAAAAAACeU/9MwbyfqpcIo/s400/Ug52685.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-VxCH-z8_4gg/TkEabdlN0kI/AAAAAAAACeE/MvjrFL1kw2c/s1600/8b5247d8-d428-4ae2-be83-7b83aa068b8f.Large.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-VxCH-z8_4gg/TkEabdlN0kI/AAAAAAAACeE/MvjrFL1kw2c/s400/8b5247d8-d428-4ae2-be83-7b83aa068b8f.Large.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Oaa0sh6E1lU/TkEaXCeIcHI/AAAAAAAACeA/WNyIQ3Arkuo/s1600/56ef3c1f-e83c-4d73-a392-0e05947e4ff6.Large.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-Oaa0sh6E1lU/TkEaXCeIcHI/AAAAAAAACeA/WNyIQ3Arkuo/s400/56ef3c1f-e83c-4d73-a392-0e05947e4ff6.Large.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-VxCH-z8_4gg/TkEabdlN0kI/AAAAAAAACeE/MvjrFL1kw2c/s1600/8b5247d8-d428-4ae2-be83-7b83aa068b8f.Large.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-inFBjEh_tn0/TkEapMiMj2I/AAAAAAAACeU/9MwbyfqpcIo/s1600/Ug52685.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-kdqG9Gpl-a4/TkEawtYETZI/AAAAAAAACek/YPFCp_zI9Ak/s1600/Mitsubishi_ATD-X_Stealth_Fighter_Jet.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-H235tpX4Qrk/TkCMuiHmy8I/AAAAAAAACd4/A3DMbjgotMs/s1600/20071206_02.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="241" src="http://4.bp.blogspot.com/-H235tpX4Qrk/TkCMuiHmy8I/AAAAAAAACd4/A3DMbjgotMs/s400/20071206_02.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-vuYSdYwTvJw/TkCMqCMCn2I/AAAAAAAACdo/NhJW_wfkn54/s1600/20071206_01.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="280" src="http://4.bp.blogspot.com/-vuYSdYwTvJw/TkCMqCMCn2I/AAAAAAAACdo/NhJW_wfkn54/s400/20071206_01.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-hmO_x8-hgBo/TkCMq6An8EI/AAAAAAAACds/T6Kfkp-BUCY/s1600/Shinshin.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="186" src="http://4.bp.blogspot.com/-hmO_x8-hgBo/TkCMq6An8EI/AAAAAAAACds/T6Kfkp-BUCY/s400/Shinshin.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-frIONgNH0pU/TkCMtOcKjTI/AAAAAAAACdw/hPQe9SiEvBQ/s1600/0605_img1.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="241" src="http://3.bp.blogspot.com/-frIONgNH0pU/TkCMtOcKjTI/AAAAAAAACdw/hPQe9SiEvBQ/s400/0605_img1.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-IgUbJirt-vQ/TkEaucYBFcI/AAAAAAAACeg/IdubcbK2E-c/s1600/27_130008_b0a69d548dff4c9.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="232" src="http://2.bp.blogspot.com/-IgUbJirt-vQ/TkEaucYBFcI/AAAAAAAACeg/IdubcbK2E-c/s400/27_130008_b0a69d548dff4c9.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-MX-u2PxbZ6A/TkEasyNfA4I/AAAAAAAACec/Yc9eZX-DOEY/s1600/3293972212_cff3ca595f.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="250" src="http://2.bp.blogspot.com/-MX-u2PxbZ6A/TkEasyNfA4I/AAAAAAAACec/Yc9eZX-DOEY/s400/3293972212_cff3ca595f.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Ix3WroKS8uE/TkEaqjv4XGI/AAAAAAAACeY/v-8XiGIcknk/s1600/184709ddf9b6bb4.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://2.bp.blogspot.com/-Ix3WroKS8uE/TkEaqjv4XGI/AAAAAAAACeY/v-8XiGIcknk/s640/184709ddf9b6bb4.jpg" width="376" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-zI6w0kd_hQE/TkEahULbxqI/AAAAAAAACeM/ZA8OuYt9OCU/s1600/mitsubishif3atdxshinshi.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://2.bp.blogspot.com/-zI6w0kd_hQE/TkEahULbxqI/AAAAAAAACeM/ZA8OuYt9OCU/s400/mitsubishif3atdxshinshi.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-7JqrFkJSevg/TkEakjO2GUI/AAAAAAAACeQ/QMRRu_FQ_bI/s1600/yourfile1.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://2.bp.blogspot.com/-7JqrFkJSevg/TkEakjO2GUI/AAAAAAAACeQ/QMRRu_FQ_bI/s400/yourfile1.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ICRRZaa-eQo/TkEaeYqWRkI/AAAAAAAACeI/b3H86h_FPzY/s1600/p110-large.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="242" src="http://2.bp.blogspot.com/-ICRRZaa-eQo/TkEaeYqWRkI/AAAAAAAACeI/b3H86h_FPzY/s400/p110-large.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-GRoFAn9DTJE/TkEevLOzlbI/AAAAAAAACew/m4asZ0YTQ-k/s1600/0e786a94-3469-4332-9151-6357451c4680.Large.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://2.bp.blogspot.com/-GRoFAn9DTJE/TkEevLOzlbI/AAAAAAAACew/m4asZ0YTQ-k/s400/0e786a94-3469-4332-9151-6357451c4680.Large.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-D1F0Sxu1tTA/TkEfXpdkqPI/AAAAAAAACe0/0Ea1SaS2dK8/s1600/72725795-c30f-4c8c-888d-230f701c917c.Large.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://2.bp.blogspot.com/-D1F0Sxu1tTA/TkEfXpdkqPI/AAAAAAAACe0/0Ea1SaS2dK8/s400/72725795-c30f-4c8c-888d-230f701c917c.Large.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="UIStory_Message"&gt;Pesawat  eksperimen berkemampuan silum&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;an buatan Mitsubishi Heavy Industries yan  nantinya akan digunakan oleh 	Japan Air Self-Defense Force.Mitsubishi  ATD-X Shinshin adalah pesawat tempur baru generasi ke 5 yan mengunakan  teknologi siluman yan sangat maju. Pesawat ini sedang dibangun oleh  Japanese Ministry of Defense Technical  Research and Development Institute (TRDI) untuk kepentingan penelitian.  Sedangkan nama ATD-X sendiri merupakan kepanjangan dari "Advanced  Technology Demonstrator - X". Banyak yang mempercayai bahwa pesawat  ATD-X ini merupakan pesawat tempur siluman pertama buatan Jepang.  Sedangkan nama pesawat ini dalam bahasa Jepang adalah 心神 (shin-shin) yan  berarti suatu pemikiran (one's mind). Pesawat ATD-X ini direncanakan  terbang untuk pertama kali pada tahun 2014 akan tetapi besar kemunkinan  penerbanan pertama akan mundur waktu pelaksanaannya dan palin lambat  penerbangan pertama akan dilakukan tanggal 14 Jun 2016.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 class="UIIntentionalStory_Message" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;1&amp;quot;}" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-weight: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="UIStory_Message"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;b&gt;Pengembangan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pesawat  ini dibuat oleh karena keinginan Jepang untuk mengganti pesawat  tempurnya yan sudah lama dipakai. Untuk usaha penggantian pesawat tempur  ini Jepang berusaha mendekati Washington untuk melakukan penjajakan  pembelian pesawat siluman buatan Amerika Serikat yaitu  F-22 Raptor.  Akan tetapi pihak Konggres Amerika Serikat telah berulang kali melarang  penjualan pesawat F-22 Raptor ke luar negara Amerika Serikat dalam usaha  pihak Amerika Serikat untuk melindungi teknologi rahasia yang sangat  maju yang mereka miliki. Adanya penolakan ini mendoron Jepan untuk  membanun pesawat tempur modern sendiri yang dilengkapi dengan kemampuan  siluman dan sistem-sistem lain yang sangat maju. Model pesawat ATD-X  ShinShin telah melampaui uji darat berupa uji radar cross section di  Perancis tahun 2005. Lalu dengan rasio kontrol 1/5 skala model telah  menjalani uji terbang pertama pada tahun 2006 untuk mendapatkan data  mengenai kemampuan dari sudut serang dan mencoba menguji peralatan  sensor baru serta self-repairing flight control systems.&lt;br /&gt;Setelah  lolos dari uji pertama ini keputusan diambil pada tahun 2007 untuk  mendorong proyek multi milyar yen yang dijangka dapat ditempuh dalam  waktu 10 tahun untuk sampai tahap produksi pesawat yaitu pada tahun  2017. Dan pada tahun 2007 pula proyek pembuatan pesawat ATD-X ShinShin  akan melibatkan perusahaan besar dari Amrika Serikat yaitu Lockheed  Martin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3 class="UIIntentionalStory_Message" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;1&amp;quot;}" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-weight: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Desain&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3 class="UIIntentionalStory_Message" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;1&amp;quot;}" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-weight: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Desain pesawat ATD-X ShinShin akan menggunakan  teknologi pesawat demontrator dan merupakan perpaduan pesawat tempur  enerasi ke 4 dan ke 5 dari Amerika Serikat, terutama sekali dari F 22  Raptor. Daya dorong pesawat pesawat ATD-X diatur dengan menggunakan 3  buah dayung pada setiap ujung mesin seperti yan terdapat pada pesawat  Rockwell X-31. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="UIStory_Message"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;Featur lain yang terdapat pada pesawat ATD-X ini  adalah memiliki teknologi fly-by-optics untuk sistem kontrol penerbangan  yang menggantikan optical fibers. Dengan teknologi ini transfer data  bisa lebih cepat dan kebal dari pengaruh electromagnetic disturbance.&lt;br /&gt;Untuk  radar mengunakan teknologi active electronically scanned array (AESA)  yang disebut dengan 'Multifunction RF Sensor', yang memiliki kemampuan  electronic countermeasures (ECM), electronic support measures (ESM),  fungsi komunikasi, dan juga mungkin untuk kemampuan senjata gelombang  mikro.&lt;br /&gt;Featur yan lebih maju memiliki kemampuan yan disebut dengan  'Self Repairing Flight Control Capability' yang memungkinkan pesawat  mendeteksi kegagalan sistem atau bahaya pada flight control surfaces.&lt;br /&gt;Japan  Air Self-Defense Force dilaporkan meminta informasi penggunaan mesin  dengan daya dorong antara 10 sd 20 ribu pound untuk digunakan pada  pesawat prototipe sampai menjadi pesawat tempur dan mesin dibuat oleh  Ishikawajima-Harima Heavy Industries.&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3 class="UIIntentionalStory_Message" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;1&amp;quot;}" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-weight: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="UIStory_Message"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;b&gt;Spesifikasi ATD-X&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Awak: 1 orang.&lt;br /&gt;Panjang: 14.174 meter (46.50 kaki)&lt;br /&gt;Lebar sayap: 9.099 meter (29.85 kaki)&lt;br /&gt;Tinggi: 4.514 meter (14.80 kaki)&lt;br /&gt;Bobot maksimum lepas landas: 8 ton (17.636 pound)&lt;br /&gt;Mesin: 2 × IHI XF5-1&lt;br /&gt;Dorongan kering: masing-masing 10 ton (22.046 pound)&lt;br /&gt;Dorongan dengan pembakar lanjut: masing-masing 15 ton (33.069 pound)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;/div&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/yYyhmc6cO3U" width="560"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/9I6_qetl5sA" width="425"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/g94C5CNIPOQ" width="425"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3142861121075504619-6017740160893578170?l=weaponstechnology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/feeds/6017740160893578170/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/08/atd-x-shin-shin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/6017740160893578170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/6017740160893578170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/08/atd-x-shin-shin.html' title='ATD-X SHIN-SHIN'/><author><name>WEAPONS TECHNOLOGY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06988874767614887444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://3.bp.blogspot.com/_LpXMzejbcjI/S6DRcp3u0AI/AAAAAAAAAAM/lttrJgF_BMM/S220/PAK+FA+T+50+7.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-6MKxD6lEoSw/TkCMtmVfY-I/AAAAAAAACd0/YtO4tHfO7S0/s72-c/Atdx.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3142861121075504619.post-4252783428740866445</id><published>2011-07-27T09:16:00.000-07:00</published><updated>2011-07-27T09:19:59.873-07:00</updated><title type='text'>TOS 1 BURATINO HEAVY FLAME THROWER SYSTEM</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;TOS 1 BURATINO HEAVY FLAME THROWER SYSTEM&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-vtTB4wT3220/TjAzw0AS9aI/AAAAAAAACc8/a6Tfz-7rjHo/s1600/165317102.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="296" src="http://1.bp.blogspot.com/-vtTB4wT3220/TjAzw0AS9aI/AAAAAAAACc8/a6Tfz-7rjHo/s400/165317102.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;ТОС-1&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;TOS-1 Buratino&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Type MRL&lt;br /&gt;Place of origin Soviet Union / Russia&lt;br /&gt;Service history&lt;br /&gt;Used by &lt;br /&gt;Soviet Union, Russian Federation&lt;br /&gt;Wars &lt;br /&gt;Soviet-Afghan War, Second Chechen War&lt;br /&gt;Production history&lt;br /&gt;Designer Omsk Transmash Design Bureau&lt;br /&gt;Specifications&lt;br /&gt;Weight &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;46 t (101,411 lbs)&lt;br /&gt;Length &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;9.5 m (31 ft 2 in)&lt;br /&gt;Width &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;3.6 m (11 ft 10 in)&lt;br /&gt;Height &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;2.22 m (7 ft 3 in)&lt;br /&gt;Crew &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;3&lt;br /&gt;Caliber 220 mm (8.66 in)&lt;br /&gt;Rate of fire 30 rounds/15 s&lt;br /&gt;Effective range 500–3,500 m (547–3,828 yds)&lt;br /&gt;Engine &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Diesel&lt;br /&gt;840 hp (626.39 kW)&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;TOS-1 (Russian: ТОС-1 тяжёлая огнемётная система, English: Heavy Flame Thrower System) is a Soviet 30-barrel multiple rocket launcher and thermobaric weapon mounted on a T-72 tank chassis. TOS-1 was designed for defeating enemy personnel in fortifications, in open country, and in lightly armoured vehicles and transport. First combat tests took place in Panjshir Valley during the Soviet war in Afghanistan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-tspLm6KegQ8/TjA0d-4WgFI/AAAAAAAACdE/DfW5pxCuD4Y/s1600/800px-%25D0%25A2%25D0%259E%25D0%25A1-1%25D0%2590_%25D0%2591%25D1%2583%25D1%2580%25D0%25B0%25D1%2582%25D0%25B8%25D0%25BD%25D0%25BE_%25D0%25BD%25D0%25B0_%25D1%2580%25D0%25B5%25D0%25BF%25D0%25B5%25D1%2582%25D0%25B8%25D1%2586%25D0%25B8%25D0%25B8_%25D0%25BF%25D0%25B0%25D1%2580%25D0%25B0%25D0%25B4%25D0%25B0_4.5.2010.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://1.bp.blogspot.com/-tspLm6KegQ8/TjA0d-4WgFI/AAAAAAAACdE/DfW5pxCuD4Y/s400/800px-%25D0%25A2%25D0%259E%25D0%25A1-1%25D0%2590_%25D0%2591%25D1%2583%25D1%2580%25D0%25B0%25D1%2582%25D0%25B8%25D0%25BD%25D0%25BE_%25D0%25BD%25D0%25B0_%25D1%2580%25D0%25B5%25D0%25BF%25D0%25B5%25D1%2582%25D0%25B8%25D1%2586%25D0%25B8%25D0%25B8_%25D0%25BF%25D0%25B0%25D1%2580%25D0%25B0%25D0%25B4%25D0%25B0_4.5.2010.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Development&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;The idea of a heavy short-range MLRS to launch rockets equipped with incendiary and thermobaric warheads arose in late 1970s. The combat system consisting of the combat vehicle, rockets, and loading vehicle was developed in early 1980s at KBTM in Omsk and was named TOS-1, remaining a secret development for a long time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The TOS-1 is intended to engage military personnel, equipment, and buildings, including fortified constructions. The combat vehicle acts within the combat order of infantry and tanks. The large mass of the launcher and the need for a high-level of protection (due to the relatively short range of 400/600 m to 5,000 m) helped determine the use of the chassis of the T-72 main battle tank. The reloading vehicle was built on the chassis of a cross-country truck and equipped with a crane for loading/unloading of the launcher.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-eHkgyvKElzU/TjA0PKZ0gHI/AAAAAAAACdA/z7XODmZE3CQ/s1600/Tos_5.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="306" src="http://1.bp.blogspot.com/-eHkgyvKElzU/TjA0PKZ0gHI/AAAAAAAACdA/z7XODmZE3CQ/s400/Tos_5.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;The nickname Buratino matches the name of the hero of a Russian version of a Pinocchio-style tale (by Alexey Tolstoy), because of the big "nose" of the launcher, but the name essentially meaning "heavy flame throwing merry wooden boy" is somewhat ironic and sometimes used for comedic purposes in Russia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-L48asZWiNl4/TjA6Ne3HKZI/AAAAAAAACdI/K0kgOaG814w/s1600/490px-TOS-1-2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="281" src="http://1.bp.blogspot.com/-L48asZWiNl4/TjA6Ne3HKZI/AAAAAAAACdI/K0kgOaG814w/s400/490px-TOS-1-2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/pVFJlWuHJ5Y" width="425"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/a_DxwZsjmf4" width="425"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/6ane4jB35Hs" width="425"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/6ane4jB35Hs" width="425"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/YgJOEtSMhdc" width="425"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/6YNo9TvlF-c" width="425"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/QrgBqgeyO84" width="425"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/TOS-1&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3142861121075504619-4252783428740866445?l=weaponstechnology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/feeds/4252783428740866445/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/07/tos-1-buratino-heavy-flame-thrower.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/4252783428740866445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/4252783428740866445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/07/tos-1-buratino-heavy-flame-thrower.html' title='TOS 1 BURATINO HEAVY FLAME THROWER SYSTEM'/><author><name>WEAPONS TECHNOLOGY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06988874767614887444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://3.bp.blogspot.com/_LpXMzejbcjI/S6DRcp3u0AI/AAAAAAAAAAM/lttrJgF_BMM/S220/PAK+FA+T+50+7.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-vtTB4wT3220/TjAzw0AS9aI/AAAAAAAACc8/a6Tfz-7rjHo/s72-c/165317102.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3142861121075504619.post-8989996229051997568</id><published>2011-07-27T06:31:00.000-07:00</published><updated>2011-07-27T10:15:53.874-07:00</updated><title type='text'>TIGER MEET 2011</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;NATO Tiger Meet 2011&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-eNVAeJco0uM/TjBDwAJShoI/AAAAAAAACdY/DwjmytNJ_Z8/s1600/NTF+2011+1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="353" src="http://4.bp.blogspot.com/-eNVAeJco0uM/TjBDwAJShoI/AAAAAAAACdY/DwjmytNJ_Z8/s400/NTF+2011+1.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-D_jSOLsj798/TjBDyZ6AjbI/AAAAAAAACdc/WO1mkfr-Cxs/s1600/NTF+20112.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-D_jSOLsj798/TjBDyZ6AjbI/AAAAAAAACdc/WO1mkfr-Cxs/s1600/NTF+20112.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="361" src="http://4.bp.blogspot.com/-D_jSOLsj798/TjBDyZ6AjbI/AAAAAAAACdc/WO1mkfr-Cxs/s400/NTF+20112.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: left;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-AncJTogWRVM/TjBG1hIndhI/AAAAAAAACdg/czoI37zWVZA/s1600/NTF+PESERTA.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="397" src="http://4.bp.blogspot.com/-AncJTogWRVM/TjBG1hIndhI/AAAAAAAACdg/czoI37zWVZA/s400/NTF+PESERTA.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Host Unit:  Escadron de Chasse 01.012&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Location: BA Cambrai&lt;br /&gt;Country: France&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;               &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Date: 09/05/2011 - 20/05/2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-8nb9xm0wSQU/TjAmDLPY6JI/AAAAAAAACc4/N0CAeQMO5hE/s1600/nato-tiger-meet-2011-041.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="66" src="http://4.bp.blogspot.com/-8nb9xm0wSQU/TjAmDLPY6JI/AAAAAAAACc4/N0CAeQMO5hE/s400/nato-tiger-meet-2011-041.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-zL-D3Qbs8Jg/TjA-vODl6-I/AAAAAAAACdM/0I-GsOZ1DIQ/s1600/20111.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="83" src="http://3.bp.blogspot.com/-zL-D3Qbs8Jg/TjA-vODl6-I/AAAAAAAACdM/0I-GsOZ1DIQ/s400/20111.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-qjdhWHsJxGA/TjAR0nv3DcI/AAAAAAAACZ0/VgmoJ7Xl6bA/s1600/nato-tiger-meet-2011-04.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="257" src="http://3.bp.blogspot.com/-qjdhWHsJxGA/TjAR0nv3DcI/AAAAAAAACZ0/VgmoJ7Xl6bA/s400/nato-tiger-meet-2011-04.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-lRImO2xdDhE/TjAaVSEK7mI/AAAAAAAACbk/i5iPsC-C8Gw/s1600/dsc08110j.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="267" src="http://3.bp.blogspot.com/-lRImO2xdDhE/TjAaVSEK7mI/AAAAAAAACbk/i5iPsC-C8Gw/s400/dsc08110j.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;The NATO Tiger Association (NTA) celebrated its 50th anniversary during the 2011 tiger meet at BA103 Cambai. Over 60 aircraft from 15 nations deployed to the base in the North of France, for what looks like to become the largest military exercise in Europe this year.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;For the 7th and last time in their long history, Escadron de Chasse 01.012 ‘Cambrésis’, the last of the actively participating founding Squadrons, 74Sqn disbanded in 2000 and 79FS redeployed to the US in 1993, had the honor to organize the exercise before they themselves will be disbanded, and the airbase closed at the beginning of 2012.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;However the French tiger tradition will be kept alive. SPA162 ‘TIGRE’ the 90 years old tiger flight within the squadron will be transferred to BA113 Saint-Dizier where it will join EC 1/7 ‘Provance’.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Even with NATO operations over Libya, and severe budget cuts throughout the Military Forces of NATO, the NTA was able to inaugurate a new member. 6ELT from the Polish Air Force, flying the F-16C/D (Block 52+), joined the Association as probationary member, and 335Mira from the Hellenic Air Force returned with aircraft after a 3 year transition period from A-7 Corsair II to F-16C/D (Block 52+). Another newcomer in the flying OPS was honorary member 1 Sqn from the Slovak Air Force, bringing 2 MiG-29’s for a long weekend visit, and some ACM training sorties during the shadow waves. We were also pleased to host observers from 59/1 Sqn Hungarian Air Force, and 37BS USAF. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tiger Meet Participants&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sqn&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Aircraft Type&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;EC01.012 &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mirage 2000C/B&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;ECE 05.330 &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mirage 2000RDI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;221 Sqn &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mi-24V Hind&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;AG 51 &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tornado IDS&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;211 Sqn &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; JAS-39C/D Grippen&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;21 Gruppo &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; AB-212ICO&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;1 JTS &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saab OE105&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;321 Sqn &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tornado ECR&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;192 Sqn &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; F-16C/D&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;335 Mira &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; F-16C/D Block 52+&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;6 Sqn &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; F-16C:D Block 52+&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;11 Staffel &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; F-18C Hornet&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;301 Sqn &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; F-16A/B MLU&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;59/1 Sqn &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Observer&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;31 Sqn &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ** F-16A/B MLU&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;142 Sqn &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Mirage F1&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;1 Sqn &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; ** Mig-29&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Ala 15 &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; ** F-18 Hornet&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;814 Sqn &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * EH-101&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Weekend Visitors&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;** 1 Week Only&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-m0im4TCTUws/TjAdUbkYCKI/AAAAAAAACcU/_LrDxHJoaP4/s1600/all11f.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="262" src="http://3.bp.blogspot.com/-m0im4TCTUws/TjAdUbkYCKI/AAAAAAAACcU/_LrDxHJoaP4/s400/all11f.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-DgtZYdAF3cI/TjARrleyXXI/AAAAAAAACZw/5qhCWwi73Cs/s1600/ntm20.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://2.bp.blogspot.com/-DgtZYdAF3cI/TjARrleyXXI/AAAAAAAACZw/5qhCWwi73Cs/s400/ntm20.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-qa22CByBpQ0/TjAalHyhO6I/AAAAAAAACb0/k6_HpBS-kBI/s1600/ntm2011051746.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://3.bp.blogspot.com/-qa22CByBpQ0/TjAalHyhO6I/AAAAAAAACb0/k6_HpBS-kBI/s400/ntm2011051746.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-nxFqse93RIE/TjAds7ZPoVI/AAAAAAAACcg/rbsDwPjzr30/s1600/dsc9190ewl.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://2.bp.blogspot.com/-nxFqse93RIE/TjAds7ZPoVI/AAAAAAAACcg/rbsDwPjzr30/s400/dsc9190ewl.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-xp7a7Wf3KV8/TjAXrknS1VI/AAAAAAAACbQ/XnK1BeRbew4/s1600/f16greeceairforce01byri.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://3.bp.blogspot.com/-xp7a7Wf3KV8/TjAXrknS1VI/AAAAAAAACbQ/XnK1BeRbew4/s400/f16greeceairforce01byri.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-7iejY_ykUKo/TjAdJd4nHHI/AAAAAAAACcI/PZMwFTF0m-M/s1600/1923923.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="268" src="http://4.bp.blogspot.com/-7iejY_ykUKo/TjAdJd4nHHI/AAAAAAAACcI/PZMwFTF0m-M/s400/1923923.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-1NkcPDNbNQI/TjAXyq0_KEI/AAAAAAAACbU/pptzvZWhzGQ/s1600/photo74040.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="303" src="http://4.bp.blogspot.com/-1NkcPDNbNQI/TjAXyq0_KEI/AAAAAAAACbU/pptzvZWhzGQ/s400/photo74040.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-o5512KXcdNE/TjAXoOp0OcI/AAAAAAAACbE/6VQeeDEJ3vI/s1600/ntm2011f16c010to.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://1.bp.blogspot.com/-o5512KXcdNE/TjAXoOp0OcI/AAAAAAAACbE/6VQeeDEJ3vI/s400/ntm2011f16c010to.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-NhGkk46VO2k/TjAXqBMtsUI/AAAAAAAACbM/cjeIf-y5m9w/s1600/img11211vc.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://4.bp.blogspot.com/-NhGkk46VO2k/TjAXqBMtsUI/AAAAAAAACbM/cjeIf-y5m9w/s400/img11211vc.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-JjcQxNCBbmg/TjATykiq88I/AAAAAAAACaI/TP8USrOABl0/s1600/img11251a.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="263" src="http://3.bp.blogspot.com/-JjcQxNCBbmg/TjATykiq88I/AAAAAAAACaI/TP8USrOABl0/s400/img11251a.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-MnZJGu_9uc4/TjAX5Wa9VWI/AAAAAAAACbY/aEFCKlzQsm0/s1600/photo73292.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="271" src="http://3.bp.blogspot.com/-MnZJGu_9uc4/TjAX5Wa9VWI/AAAAAAAACbY/aEFCKlzQsm0/s400/photo73292.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-HGeiYLFg2R0/TjAR_KOSNoI/AAAAAAAACZ8/NxXdiotsViI/s1600/F+16+Polish+Tiger+Meet+2011.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="223" src="http://4.bp.blogspot.com/-HGeiYLFg2R0/TjAR_KOSNoI/AAAAAAAACZ8/NxXdiotsViI/s400/F+16+Polish+Tiger+Meet+2011.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-u0l-xqwNTVw/TjAX_KwAhgI/AAAAAAAACbc/gGvznYyvUAg/s1600/photo73323.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="270" src="http://4.bp.blogspot.com/-u0l-xqwNTVw/TjAX_KwAhgI/AAAAAAAACbc/gGvznYyvUAg/s400/photo73323.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-8hfXjPzWyi8/TjATx1yz3mI/AAAAAAAACaE/obGNmS49Nnk/s1600/photo73807.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="271" src="http://4.bp.blogspot.com/-8hfXjPzWyi8/TjATx1yz3mI/AAAAAAAACaE/obGNmS49Nnk/s400/photo73807.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-JZefP6RVA48/TjAXmY5kL_I/AAAAAAAACbA/YWBbsglz2yM/s1600/ntm2011f16c021to.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://2.bp.blogspot.com/-JZefP6RVA48/TjAXmY5kL_I/AAAAAAAACbA/YWBbsglz2yM/s400/ntm2011f16c021to.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-6P1OKSZ_jvg/TjATsLpXRbI/AAAAAAAACaA/_z1vgSHFqik/s1600/1305200140256.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://2.bp.blogspot.com/-6P1OKSZ_jvg/TjATsLpXRbI/AAAAAAAACaA/_z1vgSHFqik/s400/1305200140256.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Hj0gXDVGnXo/TjAT1dc3VVI/AAAAAAAACaM/p9ovjYzvPno/s1600/1922138.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="271" src="http://2.bp.blogspot.com/-Hj0gXDVGnXo/TjAT1dc3VVI/AAAAAAAACaM/p9ovjYzvPno/s400/1922138.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-t8LBwHsB4GY/TjAXpMuUiNI/AAAAAAAACbI/gYBUgmp1Hrw/s1600/img11431.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="268" src="http://3.bp.blogspot.com/-t8LBwHsB4GY/TjAXpMuUiNI/AAAAAAAACbI/gYBUgmp1Hrw/s400/img11431.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-A5SFRTpE60w/TjAT8mMPGdI/AAAAAAAACaU/2Za_-SgVta0/s1600/fa18chcambrai2011.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-A5SFRTpE60w/TjAT8mMPGdI/AAAAAAAACaU/2Za_-SgVta0/s400/fa18chcambrai2011.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-O9IApz_DuqA/TjAarji_DcI/AAAAAAAACcA/wWfGvVqOIwM/s1600/dsc01266sm.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="250" src="http://2.bp.blogspot.com/-O9IApz_DuqA/TjAarji_DcI/AAAAAAAACcA/wWfGvVqOIwM/s400/dsc01266sm.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-0TelYAM2e14/TjAdRZi4TKI/AAAAAAAACcQ/kPgJTrRBspc/s1600/ntm2011051753.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://3.bp.blogspot.com/-0TelYAM2e14/TjAdRZi4TKI/AAAAAAAACcQ/kPgJTrRBspc/s400/ntm2011051753.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-3qyPYxUPA3s/TjAdNjk0qLI/AAAAAAAACcM/W7xKdMWq2fg/s1600/ntm2011051761.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://4.bp.blogspot.com/-3qyPYxUPA3s/TjAdNjk0qLI/AAAAAAAACcM/W7xKdMWq2fg/s400/ntm2011051761.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-gr29MijSxmE/TjAdvXVk2MI/AAAAAAAACck/QellS8ZCUY0/s1600/m2000tiger11.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="282" src="http://2.bp.blogspot.com/-gr29MijSxmE/TjAdvXVk2MI/AAAAAAAACck/QellS8ZCUY0/s400/m2000tiger11.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-BBu6yNwb28A/TjAdWEonbeI/AAAAAAAACcY/wMFYYGApxmg/s1600/dsc0610j.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="258" src="http://2.bp.blogspot.com/-BBu6yNwb28A/TjAdWEonbeI/AAAAAAAACcY/wMFYYGApxmg/s400/dsc0610j.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-tJQ2pxWoRkM/TjA-y_A6KOI/AAAAAAAACdU/5Ff9jhE3jZo/s1600/183_112221_0.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://1.bp.blogspot.com/-tJQ2pxWoRkM/TjA-y_A6KOI/AAAAAAAACdU/5Ff9jhE3jZo/s400/183_112221_0.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-_nvLUq7UGBs/TjAd5qA6S4I/AAAAAAAACcw/5Hmnx8mu8xo/s1600/tornadotiger12.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="272" src="http://3.bp.blogspot.com/-_nvLUq7UGBs/TjAd5qA6S4I/AAAAAAAACcw/5Hmnx8mu8xo/s400/tornadotiger12.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-MTdHsW_W2UQ/TjAdzgxOwpI/AAAAAAAACco/oh-3iilicww/s1600/tornadotiger11.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="277" src="http://3.bp.blogspot.com/-MTdHsW_W2UQ/TjAdzgxOwpI/AAAAAAAACco/oh-3iilicww/s400/tornadotiger11.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-iYEC_o1uAIQ/TjAdjOTTJWI/AAAAAAAACcc/qjuGZ6LuCQ4/s1600/dsc1106jp.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://2.bp.blogspot.com/-iYEC_o1uAIQ/TjAdjOTTJWI/AAAAAAAACcc/qjuGZ6LuCQ4/s400/dsc1106jp.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-6YSHO3FfDuA/TjAanBmpcVI/AAAAAAAACb4/Lg4xVmn3Smo/s1600/ntm2011051749ud.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="265" src="http://2.bp.blogspot.com/-6YSHO3FfDuA/TjAanBmpcVI/AAAAAAAACb4/Lg4xVmn3Smo/s400/ntm2011051749ud.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-OL17ec2lWto/TjA-wgy1t7I/AAAAAAAACdQ/DFZeJdhziiI/s1600/183_112221_1.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://1.bp.blogspot.com/-OL17ec2lWto/TjA-wgy1t7I/AAAAAAAACdQ/DFZeJdhziiI/s400/183_112221_1.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-41yaG82fRJg/TjAdFQW0FxI/AAAAAAAACcE/-ns9IPcANrs/s1600/mg3084.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="242" src="http://2.bp.blogspot.com/-41yaG82fRJg/TjAdFQW0FxI/AAAAAAAACcE/-ns9IPcANrs/s400/mg3084.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-pjyXgZVwgx0/TjAaeWr5EjI/AAAAAAAACbs/asgOWiIRe8M/s1600/ntm2011051764.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://3.bp.blogspot.com/-pjyXgZVwgx0/TjAaeWr5EjI/AAAAAAAACbs/asgOWiIRe8M/s400/ntm2011051764.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Mv4orGUHx00/TjAaZVH_7FI/AAAAAAAACbo/qrFMmU4mL5s/s1600/20110517ntm0619.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://1.bp.blogspot.com/-Mv4orGUHx00/TjAaZVH_7FI/AAAAAAAACbo/qrFMmU4mL5s/s400/20110517ntm0619.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-6aEbanr9bOc/TjAahUGkcHI/AAAAAAAACbw/Puw0wlnMolY/s1600/ntm2011051769.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://2.bp.blogspot.com/-6aEbanr9bOc/TjAahUGkcHI/AAAAAAAACbw/Puw0wlnMolY/s400/ntm2011051769.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-3BZKcpAKf-M/TjAT_Ryg-AI/AAAAAAAACaY/6ul_xQGm0MQ/s1600/timg5469.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://3.bp.blogspot.com/-3BZKcpAKf-M/TjAT_Ryg-AI/AAAAAAAACaY/6ul_xQGm0MQ/s400/timg5469.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-0bp8h_j7L_c/TjAUCtJeu1I/AAAAAAAACac/453a1GzNd6w/s1600/timg5482.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://3.bp.blogspot.com/-0bp8h_j7L_c/TjAUCtJeu1I/AAAAAAAACac/453a1GzNd6w/s640/timg5482.jpg" width="426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-IKtFfRDYoC4/TjAd2NLgvpI/AAAAAAAACcs/MWZr-s5LasE/s1600/mg2288.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="241" src="http://2.bp.blogspot.com/-IKtFfRDYoC4/TjAd2NLgvpI/AAAAAAAACcs/MWZr-s5LasE/s400/mg2288.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Ost4SZ_QWuA/TjAT55YfwMI/AAAAAAAACaQ/2M1PZzWvxPQ/s1600/hind679089.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ost4SZ_QWuA/TjAT55YfwMI/AAAAAAAACaQ/2M1PZzWvxPQ/s400/hind679089.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-hd9iOQIwIMk/TjAR8y3z55I/AAAAAAAACZ4/N66d3tlFoyg/s1600/FW6E2862-2.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="250" src="http://4.bp.blogspot.com/-hd9iOQIwIMk/TjAR8y3z55I/AAAAAAAACZ4/N66d3tlFoyg/s400/FW6E2862-2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-vc6Wnl5A3mI/TjARmYHykaI/AAAAAAAACZs/6cepKcp7XEc/s1600/camb22.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://2.bp.blogspot.com/-vc6Wnl5A3mI/TjARmYHykaI/AAAAAAAACZs/6cepKcp7XEc/s400/camb22.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ztXUFtdce-I/TjARihbPvoI/AAAAAAAACZo/FDY8zJjNxlg/s1600/camb16.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://3.bp.blogspot.com/-ztXUFtdce-I/TjARihbPvoI/AAAAAAAACZo/FDY8zJjNxlg/s400/camb16.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-6hL6ArrsF2o/TjARXg7xZhI/AAAAAAAACZg/qb9C2UNmlE4/s1600/timg5570.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://1.bp.blogspot.com/-6hL6ArrsF2o/TjARXg7xZhI/AAAAAAAACZg/qb9C2UNmlE4/s400/timg5570.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-GhAlbPAGr_c/TjARdRRGNnI/AAAAAAAACZk/ps_j2Y0K4Pc/s1600/camb13.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://1.bp.blogspot.com/-GhAlbPAGr_c/TjARdRRGNnI/AAAAAAAACZk/ps_j2Y0K4Pc/s400/camb13.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-dMotuy82hsE/TjAaRkeHoHI/AAAAAAAACbg/BJfEExfQvVc/s1600/img3492i.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="292" src="http://4.bp.blogspot.com/-dMotuy82hsE/TjAaRkeHoHI/AAAAAAAACbg/BJfEExfQvVc/s400/img3492i.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-XEulSxBx4rw/TjAapX5ZjoI/AAAAAAAACb8/AZbo2cS6rSw/s1600/silverTiger.png" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="296" src="http://3.bp.blogspot.com/-XEulSxBx4rw/TjAapX5ZjoI/AAAAAAAACb8/AZbo2cS6rSw/s400/silverTiger.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tiger Trophies:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Silver Tiger Trophy: Esquadra 301 Portugal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Best Flying Unit: Esquadra 301 Portugal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tiger Games winner: Fliegerstaffel 11 Switzerland&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Best Skit: Esquadra 301 Portugal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Best looking Uniform: Escadron de Chasse et d'Expérimentation 05.330 France&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Most fancy paintscheme: Aufklarungsgeschwader 51 Germany&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-OL17ec2lWto/TjA-wgy1t7I/AAAAAAAACdQ/DFZeJdhziiI/s1600/183_112221_1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/rmxx9X1ytcA" width="425"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/BGl7B6STc0s" width="560"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/2GtW8Bg-tQk" width="560"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/FVSHAbJDVRs" width="425"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/9BCLZYlPbhQ" width="425"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/wHRi9ramdyU" width="560"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Sumber :&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;http://www.natotigers.org/tigermeet/detail.php?ntmID=50&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3142861121075504619-8989996229051997568?l=weaponstechnology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/feeds/8989996229051997568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/07/tiger-meet-2011.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/8989996229051997568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/8989996229051997568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/07/tiger-meet-2011.html' title='TIGER MEET 2011'/><author><name>WEAPONS TECHNOLOGY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06988874767614887444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://3.bp.blogspot.com/_LpXMzejbcjI/S6DRcp3u0AI/AAAAAAAAAAM/lttrJgF_BMM/S220/PAK+FA+T+50+7.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-eNVAeJco0uM/TjBDwAJShoI/AAAAAAAACdY/DwjmytNJ_Z8/s72-c/NTF+2011+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3142861121075504619.post-8464499712848955494</id><published>2011-07-14T07:50:00.000-07:00</published><updated>2011-07-14T10:20:46.868-07:00</updated><title type='text'>KISAH-KISAH KAPAL SELAM TNI AL :  50 TAHUN HIU KENCANA</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;KISAH-KISAH KAPAL SELAM TNI AL :&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;50 TAHUN HIU KENCANA&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Semua kisah ini merupakan  kisah asli yang dituturkan para saksi sebagaimana ditulis dalam buku 50  tahun Pengabdian Hiu Kencana 1959-2009.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mungkin banyak diantara kita sebagai bangsa Indonesia yang tidak banyak mengetahui bahwa Angkatan Laut Indonesia mempunyai Kapal Selam, wajar karena sangat minim diberitakan.&lt;br /&gt;‘Tabah Sampai Akhir’ atau “ Wira Ananta Rudhiro “ adalah moto kapal selam (KS) kita, moto yang dikenal sejak ALRI mengoperasikannya tahun 1959. Pengoperasian KS ini adalah keputusan politik yang jitu, sebagai negara maritim KS adalah sesuatu yang mutlak diperlukan. Untuk itu sejak Agustus 1958 Indonesia mengirim 110 personelnya ke Eropa Timur, berangkat dari Surabaya dengan kapal laut Heinrich Jensen berbendera Denmark.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“ Sekali menyelam, maju terus – tiada jalan untuk timbul sebelum menang. Tabah Sampai Akhir “&lt;/div&gt;Bagian pidato Presiden Soekarno di atas kapal selam RI Tjandrasa pada 6 Oktober 1966 di dermaga Tanjung Priok, Jakarta.&lt;br /&gt;Sesampainya di Reijeka (Yugoslavia), tombongan meneruskan perjalanan dengan kereta api ke Polandia lewat Ceko dan Hongaria secara nonstop. Selama 9 bulan mereka dilatih oleh personel Rusia agar menjadi awak kapal selam yang andal di Gdanks, sedang praktik berlayar dilakukan di Laut Baltik.&lt;br /&gt;Selesai pendidikan mereka diangkut dengan kereta api Trans Siberia selama 9 hari menuju Vladivostok. Di sinilah dua KS kelas Whiskey menunggu untuk dilayarkan ke Indonesia lewat Samudera Pasifik. Dalam pengiriman ke Indonesia, kedua kapal selam tetap berbendera Rusia, sebagian besar ABK adalah orang Indonesia.&lt;br /&gt;Pada 7 September 1959 sore, dua KS Panjang 76 meter bersenjata 12 torpedo merapat di dermaga Surabaya. Setelah berlatih lagi selama satu minggu di bawah instruktur Rusia, kedua KS resmi masuk jajaran kekuatan ALRI pada 12 September 1959 dan diberi nama RI Tjakra/S-01 dan RI Nanggala/S-02. Sejak saat itu Indonesia mempunyai KS yang berarti genaplah kemampuan angkatan laut, yaitu mampu beroperasi di atas air, di bawah air, di darat, dan di udara sesuai dengan konsepsi angkatan laut masa depan.&lt;br /&gt;Bukan hanya dua KS yang dipesan Indonesia. Sebanyak 10 KS baru dari kelas yang sama juga didatangkan dari Rusia.&lt;br /&gt;Untuk gelombang berikutnya, para ABK berlatig di Vladivostok, tempat di mana terdapat pangkalan kapal selam terbesar milik Rusia di Pasifik. Gelombang kedua sebanyak 4 KS datang pada Desember 1961 dan diberi nama RI Nagabanda, RI Trisula, RI Nagarangsang, dan RI Tjandrasa.&lt;br /&gt;Sejalan dengan kampanye Trikora, satu tahun setelah itu tepatnya pada Desember 1962 datang lagi enam KS batu yang dipersenjatai torpedo jenis SEAT-50. Torpedo fire and forget ini merupakan torpedo terbaik pada zamannya dan hanya Rusia serta Indonesia yang memiliki torpedo jenis ini. Keenam KS tersebut diberi nama RI Widjajadanu, RI Hendradjala, RI Bramasta, RI Pasopati, RI Tjundamani, dan RI Alugoro. Semua nama itu mengambil nama senjata dari dunia pewayangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kapal selam dengan torpedo kendali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Intelejen  armada VII US mungkin telah mengetahui pergerakan kapal selam kita saat  perjalannan pulang dari wladiwostok, US memang perlu khawtair karena  kapal2 selam ini membawa hadiah dari USSR berupa torpedo SAET-50 yang  merupakan homing torpedo, kelas whiskey ini memiliki6 peluncur torpedo  atau petor, 4 di haluan 2 di buritan. 4 petor di depan diisi topedo  konvensional biasa sedangkan 2 petor buritan diisi SAET – 50. hal ini  dilakukan jika sasaran telah di salvo oleh torpedo konvensional biasa  maka kapal akan cikar penuh sambil “menyengatkan “ SAET-50 nya, dengan  demikian fire and forget dapat dilakukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Saya  adalah perwira ALRI yang mengetahui adanya hadiah SAET-50 di perut  kapal induk kapal selam kita yang baru datang dari USSR ,RI Thamrin ,  berderet-deret tersusun rapi di rak2, Saat komandan kontingen USSR  mengajak berkeliling di RI Thamrin, dia menjelaskan denagn senyum sambil  menunjukkan SAET-50 itu saya sedikit kagum bercampur bingung, baru  pertama kalinya saya melihatnya , tampak lebih langsing dari torpedo  konvensional.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“itu adalah torpedo kendali listrik berjenis SAET-50,dan ini pertama untuk kalian ”! katanya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“ sayang tidak jadi kita kirimkan kepada avionezt !&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Avioneszt  adalah sebutan mereka pada kapal induk belanda , karel doorman. samar2  saya lihat pada pelumas yang melumuri torpedo itu ada goresan tangan  usil dalam tulisan rusia yang menuliskan avionest pada torpedo itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Saya segera melaporkan itu pada komandan saya dan diteruskan pada panglima langsung. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-tej0hGZsiDU/Th8G42lvnoI/AAAAAAAACXI/CAQfuKSiaGg/s1600/slide3n.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-tej0hGZsiDU/Th8G42lvnoI/AAAAAAAACXI/CAQfuKSiaGg/s400/slide3n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ny50gD-8sQ8/Th8GyuHsnbI/AAAAAAAACXA/xFbTgUKwX_Y/s1600/slide7f.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-ny50gD-8sQ8/Th8GyuHsnbI/AAAAAAAACXA/xFbTgUKwX_Y/s400/slide7f.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;KRI Ratulangi, merupakan kapal tender kapal selam, yang bertugas memasok segala kebutuhan kapal selam dan awaknya saat beroperasi (1962)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-lYQdDA179PU/Th8HBqVCqfI/AAAAAAAACXc/Ua53_X6Yz6k/s1600/29012010632.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="192" src="http://2.bp.blogspot.com/-lYQdDA179PU/Th8HBqVCqfI/AAAAAAAACXc/Ua53_X6Yz6k/s400/29012010632.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;RI Tjakra S-01&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-S1oTX4opMUo/Th8G_AiOXlI/AAAAAAAACXY/1X6mQZ_OTWA/s1600/29012010631.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="131" src="http://1.bp.blogspot.com/-S1oTX4opMUo/Th8G_AiOXlI/AAAAAAAACXY/1X6mQZ_OTWA/s400/29012010631.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;RI Nanggala S-02&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;DIKIRA KAPAL SELAM NEGARA ATJEH&lt;br /&gt;Ngok...ngok...ngok bunyi alarm menggema di seluruh ruangan KS Nanggala S-02 (402). "Alarm tempur...alarm tempur...alarm tempur", terdengar perintah dari komando sentral. ABK segera berlari dengan sigap menuju pos tempur masing-masing.&lt;br /&gt;Komandan yang sedari tadi berada diperiskop melihat sekeliling permukaan lalu berkata "Kita sekarang menuju ke Pelabuhan...".&lt;br /&gt;"Radar berapa jarak dengan pantai?", juru radar menjawab "Jarak terdekat 25 kabel". Lalu komandan berkata "Motor kiri dan kanan maju pelan". Sedetik kemudian Juru Sonar berkata "Keadaan sekeliling kapal dan cakrawala aman". Dan perwira Navigasi melaporkan "Dalam air 20 m di bawah lunas".&lt;br /&gt;Dan KRI Nanggala berlayar dengan megahnya di bawah air siap menghadapi segala kemungkinan.&lt;br /&gt;"Jarak pantai 12 kabel, cakrawala dan udara aman" lapor Juru Radar. " SIAP UNTUK TIMBUL !" tiba-tiba terdengar perintah . "Hembus grup tengah", maka terbukalah katup Main Ballast tank grup tengah dengan mengeluarkan suara yang memekakkan telinga.&lt;br /&gt;Setelah timbul, Perwira I dengan tangkas membuka pintu kedap atas di Conning Tower dan segera masuklah udara segar memenuhi seluruh ruangan kapal. KRI Nanggala menuju ketempat berlabuh dan membuang sauh sejauh 400m dari pantai. Melihat ada KS yang timbul tiba-tiba dari tengah laut membuat penduduk yang tadinya ramai di tepi pantai berhamburan lari dan pantai kosong melompong.&lt;br /&gt;Melihat hal tersebut komandan KS memerintahkan menurunkan perahu karet dan mengirim beberapa anggota ke pantai tanpa senjata. Sementara di KS meriam dan senjata lain disiapkan untuk menghadapi segala kemungkinan.&lt;br /&gt;Setelah tim mendarat di pantai, dan melihat para ABK tidak membawa senjata maka penduduk satu persatu mulai memberanikan diri mendekat....dan ALANGKAH BAHAGIANYA MEREKA MENGETAHUI BAHWA YANG DATANG ADALAH PUTRA-PUTRA INDONESIA ANGGOTA ALRI. Bukan seperti sangkaan mereka semula: musuh yang akan melakukan agresi.&lt;br /&gt;Kecemasan Komandan KS sirna melihat sambutan penduduk dan para pemukanya menyambut dengan buah-buahan dan makanan. Dari para tetua di daerah itu mendapat cerita bahwa seorang tokoh proklamator negara Atjeh telah pergi ke luar negri dan berjanji akan pulang dengan membawa kapal selam dan senjata.&lt;br /&gt;Komandan KS memperkenankan masyarakat melihat dari dekat KRI Nanggala keesokan harinya.&lt;br /&gt;Dalam perpisahannya masyarakat berkata "kapan lagi bapak akan datang?, kalau pergi jangan lama-lama", komandan KS menjawab sambil tersenyum "Saudara-saudara jangan takut dan gentar terhadap musuh, kami selalu berada di perairan ini menjaga saudara-saudara. Mungkin saudara-saudara tidak melihat kami tapi kami bisa mengawasi saudara-saudara semua".&lt;br /&gt;Sepuluh menit kemudian KS KRI NANGGALA menghilang dibawah laut..akibat aktivitas KS ALRI diperairan Sumatra maka aktivitas para penyeludup senjata untuk PRRI dan pemberontak Daud Beureuh terhenti.&lt;br /&gt;Catatan Mayor(P) LM Abdul Kadir NRP 480/P dalam Jurnal KS RI NANGGALA 1960 &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-HOfSY0-OMAo/Th8G1lWkv5I/AAAAAAAACXE/sIg1Xqeub9w/s1600/slide4jy.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-HOfSY0-OMAo/Th8G1lWkv5I/AAAAAAAACXE/sIg1Xqeub9w/s400/slide4jy.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Jendral AH Nasution meninjau kesiapan kapal selam buatan Rusia RI Nanggala S-02 yang akan diterjunkan dalam Operasi Trikora merebut Irian Barat (1962)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Langsung bertugas&lt;br /&gt;Kedatangan 12 KS ini langsung diterjunkan dalam recana operasi Jayawijaya, bagian dari gema Trikora. Dalam operasi yang dramatik tiga KS melakukan infiltrasi di pantai utara Irian Barat, tetapi ketahuan kekuatan laut Belanda. Hanya RI Tjandrasa yang dinakhodai Mayor Laut Mas Mardiono berhasil mendaratkan 15 anggota RPKAD di Tanah Merah, 30 kilometer utara pelabuhan udara Sentani pada 21 Agustus 1962.&lt;br /&gt;Atas keberhasilan ini semua ABK RI Tjandrasa mendapat Bintang Sakti berdasarkan Keppres No.14/1963. Baru kali ini Indonesia menganugerahkan Bintang Sakti bagi seluruh anggota, biasanya bintang tertinggi ini dianugerahkan kepada perorangan atas jasa luar biasa di luar tuntutan tugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-7Oq7SzHIcOY/Th8bkOGwNsI/AAAAAAAACXg/CHahyWFQROA/s1600/slide5e.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-7Oq7SzHIcOY/Th8bkOGwNsI/AAAAAAAACXg/CHahyWFQROA/s400/slide5e.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-EiMzHckMzXI/Th8bzCA8BMI/AAAAAAAACXk/B8UpKpaCmAM/s1600/armadakapalselamindonesia.png" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://1.bp.blogspot.com/-EiMzHckMzXI/Th8bzCA8BMI/AAAAAAAACXk/B8UpKpaCmAM/s640/armadakapalselamindonesia.png" width="488" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-7Oq7SzHIcOY/Th8bkOGwNsI/AAAAAAAACXg/CHahyWFQROA/s1600/slide5e.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kapal Selam RI menuju Operasi Trikora Pembebasan Irian Barat 1962&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Awal tahun 1962 kapal selam RI Nagabanda dan beberapa kapal selam lainnya diberangkatkan dari Surabaya menuju titik rendezvous di teluk Halmahera. Komandan Satuan Kapal Selam Letkol R.P. Poernomo menyebutkan dalam briefing, tujuan operasi adalah Tanah Merah,Hollandia(Jayapura).&lt;br /&gt;Berangkat dari Halmahera,kapal menyusuri laut jauh di bagian utara Irian. Setelah berada di Tanjung Tanah Merah mereka berlayar malam hari saja sambil mengisi baterai.Pukul lima pagi mereka menyelam lagi sampai matahari terbenam.&lt;br /&gt;Pada malam keempat,di sekitar Biak,pengisian baterai kembali dilakukan namun ada sedikit masalah teknis sehingga terlambat.Pukul 00.15 tiba-tiba datang perintah segera menyelam cepat sampai kedalaman 15 m. Sambil terengah-engah Mayor Tjipto Wignjoprajitno,Komandan RI Nagabanda,berteriak, "GODVERT!(kurang ajar), mereka terbang diatas kita. Kalau mereka menjatuhkan bomnya, Habislah kita!" Rupanya malam itu sebuah pesawat Neptune Belanda mendekati RI Nagabanda dari arah belakang dan baru diketahui awak kapal saat pesawat ada diatas mereka.&lt;br /&gt;RI Nagabanda terus meyelam sampai kedalaman 50m. Saat itulah terdengar bunyi ping....ping....ping.... Rupanya Belanda telah menjatuhkan sonar Sonobouy. RI Nagabanda kembali menyelam hingga 70m.tak berapa lama bom laut dijatuhkan oleh Belanda. Bum...bum.... terdengar ledakan. Selama tiga jam awak RI Nagabanda bertahan di bawah sambil terus menyelam zig-zag.&lt;br /&gt;Bom laut terus dimuntahkan. RI Nagabanda menjadi kritis. Keadaan lebih parah setelah terjadi kerusakan pada kemudi horizontal.kapal tidak dapat diarahkan dan cenderung terus menyelam.&lt;br /&gt;Komandan akhirnya mengambil keputusan untuk mematikan mesin listrik penggerak kapal agar kapal tidak meyelam terlalu dalam. Setelah itu mereka mencari "landasan cair". "Landasan Cair" adalah lapisan air laut dengan berat jenis lebih tinggi dari lapisan disekelilingnya. Disanalah mereka berdiam diri sambil mematikan seluruh peralatan yang menimbulkan bunyi,bahkan gerak-gerik awak pun diatur.&lt;br /&gt;Mereka bertahan dalam udara pengap,panas dan kurang oksigen selama 36 jam sebelum akhirnya yakin kawanan Belanda sudah menjauh. Pukul 24.00 mereka naik ke permukaan laut dengan cara memompa air laut keluar. Dari situ mereka berlayar menuju Halmahera. Di Halmahera baru diketahui, kerusakan pada kemudi horizontal diakibatkan daun kemudi kanan dan kiri lepas akibat ledakan bom laut. RI Nagabanda kemudian melanjutkan perjalanan ke Surabaya untuk melaksanakan perbaikan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/--ObZVStV3wM/Th8GqCTm99I/AAAAAAAACW4/jrvmugZQq-E/s1600/axenth.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="198" src="http://2.bp.blogspot.com/--ObZVStV3wM/Th8GqCTm99I/AAAAAAAACW4/jrvmugZQq-E/s400/axenth.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;409 KRI Wijajadany&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-YNP6mDkq_nc/Th8G8sJfNeI/AAAAAAAACXQ/8KH_hIMcc8A/s1600/29012010636.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="243" src="http://2.bp.blogspot.com/-YNP6mDkq_nc/Th8G8sJfNeI/AAAAAAAACXQ/8KH_hIMcc8A/s400/29012010636.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;KRI Pasopati 410&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-qE52_dkrHoE/Th8G7E5aJ8I/AAAAAAAACXM/wMPPyXW0B7Q/s1600/29012010637.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="251" src="http://4.bp.blogspot.com/-qE52_dkrHoE/Th8G7E5aJ8I/AAAAAAAACXM/wMPPyXW0B7Q/s400/29012010637.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;KS TNI AL di suatu lokasi terpencil &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-LjhG2S0VkU8/Th8G-Y4tXuI/AAAAAAAACXU/LuW_rqsycBY/s1600/29012010635.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="332" src="http://4.bp.blogspot.com/-LjhG2S0VkU8/Th8G-Y4tXuI/AAAAAAAACXU/LuW_rqsycBY/s400/29012010635.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;Membelah lautan &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;DARI AUSTRALIA, MALAYSIA SAMPAI PAKISTAN.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;BUANG SAMPAH DI AUSTRALIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kisah ini terjadi pada tahun 1963-1964, saat saya telah lulus sekolah komandan kapal selam dan menunggu penempatan. waktu itu masih gencar-gencarnya konfrontasi dengan malaysia, akhirnya saya diangkat menjadi komandan KRI Nagabanda, . beberapa kapal selam waktu itu ditugaskan melakukan pengintaian di laut cina selatan, sedangkan RI Nagabanda ditugaskan ke indonesia bagian timur. Semua kapal yang berlayar dibawah kendali Panglima Komando Armada Siaga, Panglimanya waktu itu Komodor R.P Poernomo.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Diwaktu itu sdah mulai ada ketegangan dengan malaysia yang akan demerdekakan inggris. Malaysia dan Singapura termasuk serumpun dalam persemakmuran inggris begitu juga dengan australia, bukan tidak mungkin apabila ter jadi konfrontasi hampir dipastikan australia akan ikut campur, oleh karena itu diputuskanlah melakukan pengintaian di perairan australia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kapal meninggalkan surabaya menuju kupang. Sampai di Timor kapal lego jangkar di muka pelabuhan satu hari, menambah logistik makanan segar, lalu angkat jangkar dan berlayar ke arah selatan. Berlayar pada siang hari menggunakan snorkelling sambil isi baterei, sedang malam hari berlayar diatas air. garis haluan dibuat sedemikian rupa sehingga jarak ke pantai australia tidak kurang 50 mil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Setelah kira-kira berada di sebelah barat kota perth, udara di dalam kapal terasa dingin tidak seperti biasanya yang panas. Karena dari surabaya tidak dilengkapi dengan pakaian dingin maka saya putuskan untuk putar haluan ke utara, kembali ke kupang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pada saat kapal akan menuju ke kupang , ada usulan dari perwira administrasi , letnan ali kamal, : " komandan untuk menandai bahwa RI Nagabanda sudah berada di perairan barat australia , sebaiknya kita buang sampah di sini"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;sya setujui usul tersebut, maka saya perintahkan untuk mengmpulkan kaleng2 bekas makanan khususnya yang made in indonesia serta sampah yang lain dan kami buang ke laut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dalam melaksanakan tugas ini, RI Nagabanda berhasil masuk perairan barat australia tanpa diketahui oleh kapal-kapal australia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;403 dalam 2 jam menjadi 410.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tahun 1964 dalam rangka tugas pada masa Konfrontasi dengan Malaysia, RI  Nagabanda 403 mendapat tugas untuk mengambil foto-foto pantai Trengganu  untuk persiapan pendaratan pasukan di semenanjung Malaysia.&lt;br /&gt;Untuk operasi ini ikut seorang agen dari BPI (badan pusat Intelejen)  untuk turut menganalisa keadaan..singkat cerita KS dapat mencapai pantai  Trengganu hingga jarak 2 mil dari pantai dan mulai mengambil gambar  pantai Trengganu. Pada jarak itu KS sudah dapat dilihat dengan jelas  oleh nelayan di sana. &lt;br /&gt;Pada saat pemotretan juru sonar mendengar suara baling-baling yang  kemungkinan adalah fregat Inggris, untuk itu maka KS segera bergerak  meninggakan perairan Malaysia dan karena kemungkinan besar KS sudah  terlihat oleh nelayan Malaysia maka KS berlayar ke kepulauan Riau dan di  antara pulau-pulau itu KS RI Nagabanda 403 lego jangkar dan anak buah  kapal diperintahkan menghapus no lambung 403 dan mengubahnya menjadi  410. Dalam waktu kurang dari 2 jam RI Nagabanda dengan no palsu 410  sudah berlayar kembali dan benar ada pesawat RAF jenis Skeleton terbang  di atas kapal sambil memberikan lampu isyarat menanyakan identitas kapal  tapi tidak dijawab malah awak kapal menyiapkan 12,7mm untuk menembak  tapi dilarang oleh pusat karena belum ada deklarasi perang dengan  Inggris.&lt;br /&gt;Dari itu sebenarnya berita KS Nagabanda 403 sudah masuk Malaysia sudah  diketahui Inggris dari laporan nelayan tapi setelah dicari malah mereka  mendapati KS 410, mereka nggak bisa menindak karena yang mereka cari  403..&lt;br /&gt;Akhirnya kapal tiba dengan selamat di Tanjung Uban Riau...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tugas Rahasia ke Pakistan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Menjelang HUT Angkatan Perang RI Tanggal 5 oktober1965, sebagian kapal besar kapal-kapal perang RI berkumpul di tanjung priok, termasuk beberapa kapal selam, saya mendapat tugas sebagai komandan divisi kapal selam. Semula HUT akan dilaksanakan dengan meriah namun karena ada peristiwa G 30 S maka acara pun dibatalkan.Hampir semua kapal perang kembali ke pangkalan surabaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Begitu kapal merapat di dermaga kapal selam ujung, saya bersama kapten RM Handogo mendapat perintah segera ke jakarta untuk menghadap Komodor L.M Abdulkadir, sesampai dijakarta dijemput langsung oleh Komodor L.M Abdulkadir beliaua membawa sendiri toyota hardtop dan membawa kami ke gedung gita bahari, Kami dipertemukan dengan dua orang yang belum kami kenal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pada pertemuan di gedung gita bahari itu saya dan kapten Handogo mendapat tugas sbagai pimpinan RI Nagarangsang dan RI Bramasta untuk membawa kapal tersebut ke karachi yang waktu itu masih ibukota pakistan. Perintah Pak Kadir waktu itu :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;-Tugas ini Rahasia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;-Tarik haluan ke karachi, hindari jalur pelayaran kapal-kapal niaga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;-Anak buah tidak boleh tau tujuan kapalslanjutnya dalam surat menyurat dai rumah menggunakan alamat konjenkasel sedangkan dari kapal harus dikumpulkan pada komandan kapal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sementara kami di jakarta di surabaya kedua kapal sudah di siaptempurkan legkap dengan personilnya, Sesampai di surabaya ternyata saya diunjuk sebagai komandan RI Nagarangsang sedangkan RI bramastha di komandani Kapten Pelaut Yasin Sudirjo, Kapten pelaur Handogo ternyata ditunjuk sebagai ka staf gugus tugas X.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Ternyata gugs tugas X yang dibentuk sebagai tugas latihan tersebut, tugas utamnya adalah untuk membant negra pakistan yang sedang di serang india serta meredam perang yang waktu itu sedang berlangsung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pelayaran Jakarta Karachi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Setelah RI Nagarangsang dan RI bramastha siap tempur diberangkatkanlah dari surabaya menuju jakarta. Sebelum bertolak ke karachi ada dua perwira angkatan laut pakistan yang ikut, mayor yastur malik untuk RI Nagarangsang sedangkan kapten M.Sultan untuk RI Bramasta (kelak mayor yastur malik diangkat sebagai KSAL Pakistan dan Kapten M.Sultan menjadi KSAL Bangladesh navy).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tanggal 17 oktober 1965 kapal bertolak menuju karachi . Lepas selat sunda kapal dikemudikan ke arah 270 derajat menyusur barat sumatera. Garis haluan menerobos kepulauan maldiv Lepas dari kepulauan maldiv garis haluan ditarik ke pantai persia untuk menjauhi india kurang lebih 300 mil, kemudian setelah jerak dari pantai iran 50 mil haluan kapal ditarikmenuju karachi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pertengahan bulan november 1965 kapal merapat di pakistan navy naval base, suasana perang tiidak terlalu terasa karena sedang terjadi gencatan senjata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Latihan perang2an dengan AL Pakistan dilaksanakan beberapa kali setelah kapal roket ALRI datang, kami menggunakan prosedur royal navy sebagaimana AL india dan AL Pakistan gunakan. Lokasi latihan di lepas patai pakistan yang berbatasan dengan india, latihan melibatkan 2 kapal selam dan dua kapal roket cepat ALRI dari ALRI sedangkan AL pakistan menggunakan satu kapal selam serta dua destroyer.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;laremaospati tidak memiliki reputasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Setelah RI Nagarangsang dan RI bramastha siap tempur diberangkatkanlah dari surabaya menuju jakarta. Sebelum bertolak ke karachi ada dua perwira angkatan laut pakistan yang ikut, mayor yastur malik untuk RI Nagarangsang sedangkan kapten M.Sultan untuk RI Bramasta (kelak mayor yastur malik diangkat sebagai KSAL Pakistan dan Kapten M.Sultan menjadi KSAL Bangladesh navy).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tanggal 17 oktober 1965 kapal bertolak menuju karachi . Lepas selat sunda kapal dikemudikan ke arah 270 derajat menyusur barat sumatera. Garis haluan menerobos kepulauan maldiv Lepas dari kepulauan maldiv garis haluan ditarik ke pantai persia untuk menjauhi india kurang lebih 300 mil, kemudian setelah jerak dari pantai iran 50 mil haluan kapal ditarikmenuju karachi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pertengahan bulan november 1965 kapal merapat di pakistan navy naval base, suasana perang tiidak terlalu terasa karena sedang terjadi gencatan senjata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Latihan perang2an dengan AL Pakistan dilaksanakan beberapa kali setelah kapal roket ALRI datang, kami menggunakan prosedur royal navy sebagaimana AL india dan AL Pakistan gunakan. Lokasi latihan di lepas patai pakistan yang berbatasan dengan india, latihan melibatkan 2 kapal selam dan dua kapal roket cepat ALRI dari ALRI sedangkan AL pakistan menggunakan satu kapal selam serta dua destroyer.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kegiatan yang lain-lain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;sebelum kapal latihan dengan AL pakistan kapal mengalami beberapa kerusakan antara lain radio DK maka diputuskan kapal melakukan perbaikan besar dulu dan menunggu kiriman dari indonesia, sambil menunggu kapal selesai diperbaiki kami memanfaatkan waktu untuk melakukan kunjungan2 kehormatan , tak dapat dipungkiri sepanjang jalan banyak poster2 presiden soekarno yang dijual danbanyak yang menyanjng bantuan kami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Saat latihan dengan AL pakistan mereka sama sekali tidak bisa mendeteksi keberadaan kami, pengalaman yang sama dikemudian hari saya dapatkan ketika berlatih dengan AL australia saat say mengomandani RI Pasopati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;sebagian kelasi kami bahkan berkelakar kalo kapal rusia tahan sonar, tapi masa iya?mungin ada lapisan air laut yang dinamakan layer yang membuat pantulan sonar memantul kembali. Tapi bagaimana pun itu embuat kami bangga, di samping itu dalam tugas ini juru sonar kami mendapat pengalaman baru yaitu mengenali suara baling2 kapal inggris.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tahun 1974 GUSPURLA (Gugus tempur laut) TNI AL mendapat perintah dari Mabes ABRI untuk operasi pengamanan Selat Malaka bekerja sama dengan TLDM (Tentera Laut Diraja Malaysia), dalam Gugus Tempur tersebut terdapat KS KRI Pasopati dengan komandan Kapten (P) Soentoro dengan Komandan Guspurla Laksamana Pertama Mardiono.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pada saat pembicaraan Rencana Operasi dengan perwira TLDM di Belawan Medan mereka sudah tidak suka ada unsur Kapal Selam yang ikut dalam operasi itu "untuk apa...!?"kata mereka. Mungkin mereka khawatir KS kita bisa dengan mudah menyelinap kedaerah mereka karena dalam rencana operasi tsb setiap armada tempur masing-masing negara berpatroli di wilayahnya masing masing setelah itu baru berkumpul disuatu titik kumpul dan berkonvoi masuk ke Penang, Malaysia pada etape I dan Sabang, Indonesia pada etape II.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dengan penolakan secara tidak etis tsb komandan KS KRI Pasopati merasa panas, tetapi diredakan oleh Dan Guspurla demi persahabatan kedua negara, tapi diam-diam Komandan KS ingin memberi pelajaran kepada TLDM.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pada etape I setelah selesai berpatroli maka semua kapal perang berkumpul di titik kumpul dan berkonvoi menuju Penang...dan menjelang pintu masuk pelabuhan Penang tiba-tiba KS KRI Pasopati sudah muncul dulu disana dan membuat panik rombongan konvoi yang dipimpin oleh TLDM. Hal tersebut membuat kesal Panglima TLDM Kolonel Laut Sidiq dan berkata KS tidak usah ikut campur urusan patroli dan agar keluar dari formasi dan area patroli.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-6vX_kU1TM60/Th8lNDoTGHI/AAAAAAAACYU/VWe4hRIEwpM/s1600/010320109131.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="253" src="http://1.bp.blogspot.com/-6vX_kU1TM60/Th8lNDoTGHI/AAAAAAAACYU/VWe4hRIEwpM/s400/010320109131.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;KS KRI Pasopati mendekati kapal TLDM&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pada etape II KS KRI Pasopati kelakukan free hunting (tidak mengikuti) pola patroli tetapi bebas menentukan sasaran sendiri dan setelah selesai seluruh kapal berpatroli masuk ke pelabuhan Sabang. Di sini awak KS KRI Pasopati ingin memberikan kejutan dan sekedar pamer kepada TLDM. Dengan ketelitian yang tinggi KS masuk alur pelabuhan dengan cara menyelam padahal kedalam alur pelabuhan hanya 20m, dari periskop terlihat awak Kapal TLDM jenis LST yang menjadi kapal komando tidak menyadari disekati oleh KS secara diam diam dan...setelah tinggal jarak beberapa meter dari lambung kapal mereka...Muncullah dengan tiba-tiba KRI Pasopati dan membunyikan gauk (sirine) tanda kedatangan mereka..maka gemparlah pelabuhan Sabang terutama awak kapal TLDM yang kapalnya sudah ditempel sama KS Pasopati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Malamnya Dan Guspurla datang kepada Dan KRI Pasopati dan menyalaminya sambil tersenyum dan berkata "Jangan Sembrono lagi ya...", dijawab "Siap Laksamana".... &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Bikin marah komandan fregat RAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tahun 1975 diadakan latihan anti kapal selam antara TNI AL dengan RAN (Royal Australian Navy) sehubungan dengan muhibah fregat RAN ke Surabaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Area latihan dilakukan di selat Madura sebelah utara P. Bali dengan area latihan sebesar 10 Mil persegi, sebagai sasaran adalah KRI Pasopati dan yang mengejar adalah fregat TNI AL dan RAN.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dalam latihan kedua fregat tidak dapat mendeteksi KS kita, jadi mereka membom laut (dengan bom latihan) secara membabi buta, padahal di bawah laut awak KS kita tertawa-tawa karena mereka tepat berada dibawah lunas fregat RAN. LO dari TNI AL yang ditempatkan di fregat RAN Letkol Laut (P) Saeran melihat komandan fregat RAN marah dan complain bahwa KS kita sebenarnya tidak ada disitu tapi sudah pulang ke pangkalan karena alat deteksi kapal RAN yang sudah canggih pada jaman itu tidak bisa menemukan KS kita di area yang cukup sempit itu. Tapi kemudian dijawab dengan perintah KS agar timbul kepermukaan dan dengan sekejap KRI Pasopati sudah muncul dekat fregat RAN... Ketika balik kepangkalan dan berlayar dipermukaan masih terdengar "ping" dari sonar fregat RAN rupanya masih penasaran mereka...kenapa KRI Pasopati bisa menghindari Sonar mereka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Ini cerita waktu Operasi Seroja, integrasi Timtim antara 26 Feb 1976 s/d 26 Mar 1976.&lt;br /&gt;Pada saat itu KS KRI Pasopati sedang menyelam di pantai utara dekat kota Baucau, tiba-tiba ada laporan dari Juru Sonar ada suara baling-baling mendekat ke KS kita, untuk itu komandan kapal memerintahkan KS naik ke kedalaman periskop dan mengintip cakrawala, ternyata cakrawala bersih tanpa ada satu kapalpun disana.&lt;br /&gt;"Juru sonar, berapa baringan dan kecepatan?" tanya komandan. "Baringan 040 kecepatan 10 knots ndan" jawab juru sonar. Komandan mengecek lagi arah itu tidak terdapat kapal disitu. Komandan mengambil kesimpulan itu adalah KS asing yang mendekat. Untuk itu secara diam-diam peran tempur disiapkan di KS kita dan haluan kapal diubah menyongsong arah KS asing itu.&lt;br /&gt;"Siapkan torpedo untuk ditembakkan" perintah komandan, tetapi tiba-tiba Juru sonar berkata "Baringan 000, suara menjauh, kecepatan 30 knots!"&lt;br /&gt;Ternyata KS itu menjauh tidak mau berkonfrontasi dengan KS kita diperairan Timtim...dari hasil analisa kemungkinan KS itu adalah KS USN milik Armada VII karena kecepatannya cukup tinggi 30 knots dan diketahui hanya mereka yang KSnya bisa secepat itu pada masa itu...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-kKFAzmzyINQ/Th8GvceaK9I/AAAAAAAACW8/hwQ3JH3z_sc/s1600/slide8jh.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-kKFAzmzyINQ/Th8GvceaK9I/AAAAAAAACW8/hwQ3JH3z_sc/s400/slide8jh.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pernah bertemu di pasifik?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pada tahun 1978 saya diangkat menjadi Athan RI untuk Iran yang berkedudukan di Teheran, alkisah pada suatu resepsi kemiliteran saya dan isteri hadir sebaai undangan , dan begitu pula dengan athan dari Negara lainnya, saya mengenakan dinner jacket lengkap beserta tanda jasa dan tak lupa brevet hiu kencana yang saya banggakan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tampak asyik berkumpul para athan dari USSR, USA, Jepang, dan belanda. Sayapun bergabung dengan mereka. rupanya mathan USA matanya jeli menangkap kilatan brevet hiu kencana yang saya pakai, tampak dia mencolek athan belanda yang aku lupa namanya sebut saja si jan(yan),&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“yan, kau pernah bertemu santo di pasifik kan?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;sudah menjadi kebiasaan orang barat bila sudah merasa dekat akan menyapa dengan nama panggilannya saja tanpa embel2 apapun, spontan saya menjawab&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“ya , si yan pernah mengirim roti saat itu tapi rotinya gak sampai”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Saya mengetahui itu karena saya mengetahui bahwa si yan adalah komandan kapal fregat belanda yang menjatuhkan bom laut pada kami(RI Nagabanda) tapi tidak tepat sasaran, sedangkan kami harus terus menerus menyelam selama 36 jam, bahkan salah satu kelasi kami berkelakar pada saya,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“tenang saja pak , komandan kapal diatas(fregat belanda) itu teman komandan kita saat di belanda”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ya, memang komandan kpal kami adalah alumnus AAL nya belanda, tapi beda angkatan dengan komandan kapal fregat itu. Tidak dapat dipungkiri kehadiran kapal selam RI waktu itu terasa sebagai efek deterrence yang sanagat hebat, apalagi 6 kapal selam yang baru dilengkapi torpedo SUT (homing torpedo) yang tercanggih di jamannya sudah di siagakan di lapis kedua atau lingkar dalam yang sewkatu2 dapat di perintahkan bergerak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dulu ada armada vii as yg mau lwt selat sunda tp tanpa permisi, pas kehadirannya sdh diketahui oleh gugus tempur selam di wilayah itu sekitar selat sunda...lalu diberi peringatan radio...tetap sombong acuh saja...lalu stlh ada perintah dri pejabat berwenang yg tertinggi dlm hal ini..dg perintah...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;"lakukanlah segala sesuatu yg menurut kalian adlh benar demi menjaga kehormatan nkri, semuanya terserah kalian!"...lalu stlh beberapa saat kontak tdk ditanggapi...ks ri melakukan jibaku (dg maksud utk medekati mau mengawal biar tdk macam2 tetapi ternyata terjadi kepanikan di kapal induk armada vii as)..pergerakan ks yg semakin medekat kapal induk dan mematikan sinyal radio...sangat menggentarkan mereka..krn pikirnya kapal induk akan ditubrukan secara frontal oleh ks ri tsb...pd detik2 kritis kapal induk armada vii &amp;amp; rombongan pengawalan berbalik arah putar haluan tdk jd lwt selat sunda tp ambil arah ke australia...akhirnya semua crew ks ri berteriak hore kita menang..jalesveveva jaya mahe...jayalah negeriku indonesia dilaut!!!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Memang benar ini adalah sekelumit pengalaman mendebarkan manuver nekad abiez crew hiu kencana ks ri dg berbaliknya armada vii maka kemenangan politis ada pd negara kita ri tercinta, stlh itu klo tdk salah komandan crew mendapat anugrah bintang sakti!!!&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3142861121075504619-8464499712848955494?l=weaponstechnology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/feeds/8464499712848955494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/07/kisah-kisah-kapal-selam-tni-al-50-tahun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/8464499712848955494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/8464499712848955494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/07/kisah-kisah-kapal-selam-tni-al-50-tahun.html' title='KISAH-KISAH KAPAL SELAM TNI AL :  50 TAHUN HIU KENCANA'/><author><name>WEAPONS TECHNOLOGY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06988874767614887444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://3.bp.blogspot.com/_LpXMzejbcjI/S6DRcp3u0AI/AAAAAAAAAAM/lttrJgF_BMM/S220/PAK+FA+T+50+7.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-tej0hGZsiDU/Th8G42lvnoI/AAAAAAAACXI/CAQfuKSiaGg/s72-c/slide3n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3142861121075504619.post-3196213487147226974</id><published>2011-07-13T16:47:00.000-07:00</published><updated>2011-07-13T16:47:01.668-07:00</updated><title type='text'>KISAH RPKAD GARUDA III DI KONGO TAHUN 1962 : LES SPIRITESSES</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small; font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;KISAH RPKAD GARUDA III DI KONGO TAHUN 1962 :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small; font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;LES SPIRITESSES&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-XxOHVY6cKtc/Th4uEUI6hdI/AAAAAAAACW0/LWJ-aH2MZF4/s1600/41748187925888971535888.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="342" src="http://4.bp.blogspot.com/-XxOHVY6cKtc/Th4uEUI6hdI/AAAAAAAACW0/LWJ-aH2MZF4/s400/41748187925888971535888.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Di  belahan Bumi Afrika yang bergolak, kembali mengudang Misi Perdamaian  TNI dengan nama Garuda III Kongo di bawah pimpinan Alm. Letjen TNI  (Purn) Kemal Idris. Pasukan ini berangkat dengan pesawat pada bulan  Desember 1962, dan berada di medan tugas selama delapan bulan. Mereka di  tempatkan di Albertville.Di tempat ini telah disiapkan satu kekuatan  pasukan besar, yang terdiri dari 2 batalyon kavaleri. Sedangkan Batalyon  Arhanud di tempatkan di Elizabethville, yang menjadi wilayah kekuasaan  tiga kelompok militia yang ingin memisahkan diri, di bawah pimpinan  Moises Tsommbe dari pemerintah Republic Democratic of Congo pimpinan  Presiden Kasavubu.Daerah ini terkenal dengan kekayaan mineralnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sempat  terjadi beberapa pertempuran sengit antara pasukan PBB dari India  melawan kelompok-kelompok pemberontak tersebut. Disini interaksi antara  pasukan Garuda III dengan pasukan PBB lainnya sangat erat. Mereka  terdiri dari pasukan Filipina, India, bahkan Malaysia. Walaupun ditanah  air konfrontasi Ganyang malaysia dikumandangkan, interaksi persahabatan  antara Garuda III dengan Malaysia tetap terjalin rapat. Tanpa sedikit  pun permusuhan.Pasukan PBB asal India merupakan yang terbesar dan  terbanyak jumlahnya.Mereka terorganisir dengan sangat baik. Mereka  ditempatkan di kawasan-kawasan vital yang penting dan strategis. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h6 class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small; font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Personil  Garuda III sangat luwes, pandai bergaul dengan masyarakat setempat  sehingga mereka menaruh kepercayaan besar kepada pasukan. Mereka  diajarkan bagaimana cara mengolah masakan Indonesia, membuat kue, serta  menyayur daun singkong sehingga enak dimakan. Padahal mereka mengetahui  memasak singkong hanyalah untuk makanan inti dengan cara dibusukkan,  dikeringkan, ditumbuk jadi tepung baru dapat dimasak.Dengan adanya  interaksi dan hubungan dengan masyarakat setempat, maka semua program  yang direncanakan berjalan dengan baik. Masyarakat menaruh simpati pada  program yang di canangkan, misalkan melakukan tindakan pengamanan daerah  setempat dari pengacau. Dengan spontan, tanpa di perintah masyarakat  memberitahukan kepada personil Garuda III, bila akan ada serangan yang  di lancarkan oleh gerombolan pengacau. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Suatu hari terjadi serangan  mendadak ke markas Garuda III. Pertempuran dan tembak menembak terjadi  dari jam 12.00 malam hingga dinihari. Markas Garuda III terkepung dengan  rapat. Semua personil merapatkan barisan,berusaha menangkis serangan  tersebut. Menurut Informasi Intelijen, serangan dilakukan oleh sekitar  2000 pengacau, hasil gabungan 3 kelompok pemberontak. Sedangkan markas  komando Garuda III dipertahankan sekitar 300an personil.40 persen dari  seluruh kekuatan Garuda III di Kongo.Untung saja tidak ada korban jiwa  dari Garuda III, hanya beberapa yg cedera ringan dan langsung ditangani  tim medis lapangan. Menjelang subuh gerombolan pengacau mengendorkan  serangan..mungundurkan diri ke basis mereka di wilayah gurun pasir yang  membentang gersang.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Hasil konsolidasi pasukan, maka di bentuk tim  berkekuatan 30 org personil RPKAD sebagai tim bayangan sekaligus tim  terdepan untuk pengejaran hingga ke markas pemberontak. Mereka bergerak  seawal jam 06.00 waktu setempat, dengan perlengkapan garis 1 untuk  pengejaran. Semangat tinggi dan berkobar kelihatan jelas di wajah2  mereka yang terpilih.Iringingan doa rekan2 di markas, juga dari pasukan  PBB lain, mengiring  langkah kaki mereka menuju kawasan no man’s  land..wilayah tidak bertuan, yang menjadi daerah kekuasaan pemberontak  juga merupakan daerah TERLARANG untuk pasukan PBB. Di kawasan itu, 2  kompi plus Pasukan India pernah di bantai tanpa tersisa.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pasukan ini  di pimpin seorang Kapten dengan dibantu 5 orang Letnan..Dengan  penyamaran layaknya kumpulan suku pengembara..mereka bergerak dalam 3  kelompok yg saling berkomunikasi, tidak lupa kambing, sapi,bakul sayuran  di bawa bersama untuk penyamaran. Badan dan wajah di gosok arang  sehingga hitam dan menyerupai penduduk asli setempat, ada juga yg  berpakaian ibu2 dan menjunjung bakul sayuran daun singkong. Mereka  bergerak melalui pinggiran danau dengan no man’s land tujuan akhir.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Data  intelijen yang didapat mengatakan kekuatan musuh diperkirakan 300an  bersenjatakan campuran termasuk RPG/Bazooka dan beberapa Tank,panzer,  dan bisa dimaklumi sebab ini markas mereka, tentara setempat saja belum  mampu memasuki wilayah yang dijaga ketat tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Memasuki senja,  personil bermalam dipinggiran danau sambil mengatur strategi  penyerangan. Dikejauhan terlihat kelip2 lampu2 dari markas pemberontak.  Menurut data intelijen lagi, suku-suku di kongo, termasuk pemberontak  sangat takut akan Hantu Putih (sosok berpakaian putih yang berbau bawang  putih). Nah, disini strategi penyamaran diubah. Dibalik pakaian loreng  mereka, terbungkus jubah putih yang mengembang ditiup angin danau sambil  tidak lupa dengan rantai bawang putih yang baunya harum semerbak.  Persiapan penyerangan dari danau dengan menggunakan kapal yg dicat  hitam-hitam dipersiapkan. Menunggu jam 12.00 Tengah malam waktu  setempat. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Attack!!! &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Isyarat serangan pun diberikan oleh sang  komandan. Dengan gesit, ke 30 orang personil RPKAD mengambil posisi  masing-masing. Penyerangan tepat di mulai jam12.00 tengah malam, dengan  kapal yg di digelapkan warnanya di atas Danau Tanganyika, tidak berapa  jauh dari daerah no mand land. Ke 30 personil yg menyamar menjadi “Hantu  Putih” ini (atau lebih dikenal masyarakat dengan sprititesses),  berhamburan keluar dari dalam kapal,mendobrak pos penjagaan terdepan  pemberontak. Para pemberontak yang sangat percaya akan keberadaan Hantu  putih ini, kaget..terpana..melihat kelebatan bayangan putih  melayang-layang disekitar mereka (jubah putih yg diiket kayu..gombrang  tertiup angin) sambil melepaskan rentetan tembakan yang riuh rendah.  Ternyata semangat melawan pemberontak hilang sama sekali,mereka percaya  bahwa mereka berhadapan dengan hantu..bukan manusia biasa. Ketika akan  didekati, para pemberontak yg disergap itu terkejut,secara reflek  melemparkan ayam yang sedang dibakarnya tepat mengenai anggota pasukan  kita. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Hanya sekitar setengah jam,markas pemberontak dapat di kuasai.  Ribuan pemberontak beserta keluarganya menyerah, puluhan yg lain tewas  dan luka-luka, sedangkan dipihak RPKAD cedera 1 orang, kena pecahan&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;proyektil  RPG. Dengan sigap, tawanan dikumpulkan. Tidak lama kemudian, bantuan  dari pasukan di markas pun tiba, beserta pasukan PBB yang lain dari  India,Malaysia,Filipina. Sejak itu, anggota GARUDA III di kenal oleh  orang-orang Kongo dengan julukan Les Spiritesses, pasukan yang berperang  dengan cara yang tidak biasa dilakukan orang..!!.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Bisa dibayangkan..hanya berkekuatan 30 orang bisa menawan sekitar 3000an pemberontak bersenjata lengkap!!!&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Keesokan  harinya, pimpinan operasi dan Komandan Garuda III di panggil menghadap  oleh Panglima Pasukan PBB di Kongo, Letnan Jenderal Kadebe Ngeso dari  Ethopia. Ia mengatakan bangga dan takjub atas keberhasilan RPKAD GARUDA  III menawan basis terbesar pemberontak dan 3000an lainnya tanpa jatuh  korban. Tapi ia kecewa. Tentara Indonesia katanya tidak bertanggngjawab,  irresponsible terhadap pemberontak yang ditawan itu.Kenapa sampai  dikatakan irresponsible??..Biasanya, standard operasi tentara,jika musuh  berkekuatan 3000 orang, harus disergap dengan kekuatan 3 kali lipat,  yaitu 9000 personil. Nah, jika 3000 orang musuh dihadapi hanya dengan  kekuatan 30 sampai 50 orang, itu namanya irresponsible..nggak masuk di  akal sehat…ngga kepikiran…mustahil…nekad!! Bagaimana seandainya para  pemberontak tersebut melawan?? dan ada yang membocorkan taktik Hantu  Putih tersebut?? tanya panglima PBB di Kongo.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Apapun, sanjungan dan  pujian, serta decak kagum tetap di lontarkan, dan strategi penyerangan  ini sampai sekarang masih menjadi legenda Misi Pasukan Perdamaian PBB.  Mungkin kisah ini banyak yang tidak tahu,&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;terutama masyarakat tanah  air sendiri. Yang jelas, ini sudah bukti nyata keberhasilan anak-anak  bangsa kita mengharumkan nama Indonesia di seantero dunia. Jelas cara  taktik,muslihat, strategi serangan ini menjadi bahan penyelidikan  Pasukan PBB lainnya, dan tentu saja menjadi legenda hingga sekarang!!&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;h6 class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small; font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sumber : &lt;br /&gt;Biografi Alm.Letjen TNI (Purn) Kemal Idris/arsip jadoel dimakan kecoa&lt;br /&gt;http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2343340&amp;amp;page=25 &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3142861121075504619-3196213487147226974?l=weaponstechnology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/feeds/3196213487147226974/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/07/kisah-rpkad-garuda-iii-di-kongo-tahun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/3196213487147226974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/3196213487147226974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/07/kisah-rpkad-garuda-iii-di-kongo-tahun.html' title='KISAH RPKAD GARUDA III DI KONGO TAHUN 1962 : LES SPIRITESSES'/><author><name>WEAPONS TECHNOLOGY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06988874767614887444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://3.bp.blogspot.com/_LpXMzejbcjI/S6DRcp3u0AI/AAAAAAAAAAM/lttrJgF_BMM/S220/PAK+FA+T+50+7.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-XxOHVY6cKtc/Th4uEUI6hdI/AAAAAAAACW0/LWJ-aH2MZF4/s72-c/41748187925888971535888.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3142861121075504619.post-622455852168085687</id><published>2011-07-12T17:07:00.000-07:00</published><updated>2011-07-12T17:07:22.605-07:00</updated><title type='text'>HEBATNYA SIMULATOR F 16 DI LANUD ISWAHYUDI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;HEBATNYA SIMULATOR F 16 DI LANUD ISWAHYUDI&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-nkbvkREZm7E/ThzhpQFM_bI/AAAAAAAACWw/MuS_W2-xDKM/s1600/1555.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-nkbvkREZm7E/ThzhpQFM_bI/AAAAAAAACWw/MuS_W2-xDKM/s400/1555.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Keberhasilan para teknisi simulator F-16A melampaui 2.000 jam operasi bulan lalu merupakan kebanggaan TNI AU dan Wing 3 Lanud Iswahjudi. Melam-bungnya harga suku cadang dari luar negeri, menuntut para teknisi berpikir keras dan bertindak kreatif. Hasilnya, para penerbang F-16 tetap canggih dalam melakukan manuver tempur. Berikut lawatan Angkasa ke Lanud tempur terbesar yang dahulu didirikan Departemen Van Oorlog, Hindia Belanda.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pembelian satu skadron (12 unit) pesawat tempur canggih fly-by-wire F-16A/B Fighting Falcon dari Lockheed Martin Aircraft System (LMTAS), AS (ketika itu General Dynamics-Forth Worth Division) tahun 1989 mendorong TNI AU, saat itu, untuk juga mengevaluasi rencana pembelian simulatornya. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Meskipun harganya mahal (sebanding dengan harga dua unit pesawatnya), namun disadari fasilititas simulator bisa membantu proses familiarisasi (pengenalan) maupun profisiensi keahlian bermanuver dan bertempur bagi para penerbang F-16 tanpa menyebabkan pemborosan bahan bakar dan terhindar dari risiko crash. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pada 25 November 1995 ditandatanganilah kontrak pembuatan Simulator F-16A kursi tunggal antara TNI AU dengan Thomson Training &amp;amp; Simulation Ltd (TTSL) Inggris, yang sesungguhnya adalah divisi simulator Thomson-CSF Perancis. LMTAS menyokong pembuatan perangkat keras maupun perangkat lunak bagi elemen-elemen pendukung kokpit (cockpit assembly) F-16A yang kalau didata berjumlah ribuan komponen besar dan kecil. Sementara elemen visual seperti image generator, proyektor, sistem head-tracked dibuat oleh Evans &amp;amp; Suherland (E&amp;amp;S), AS, untuk kemudian diintegrasikan di West Sussex, Inggris. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Simulator F-16A ini akhirnya tiba di Tanah Air pada November 1997, kira-kira dua tahun sejak pembuatan, pengintegrasian dan pengujiannya dilakukan. Di Lanud Iswahjudi, proses instalasi selesai pada Februari 1998. Sebulan kemudian, 17 Maret 1998 Simulator F-16A Block 15 OCU (Operational Capabilities Upgrade) milik TNI AU itu resmi digunakan. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Simulasi bertempur&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Mengunjungi Simulator F-16A TNI AU yang bernaung dibawah Wing 3 Lanud Iswahjudi mengingatkan kepada bentuk rupa Planetarium di Jakarta. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Bedanya fasilitas ini berukuran mini. Dome Assembly, atau 'rumah' dari simulator berbentuk kubah seperti bola dunia. Dinding bagian dalamnya yang licin sekaligus berfungsi sebagai layar besar untuk menampilkan berbagai gambar panorama yang dipancarkan proyektor. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Seperti kegunaan lainnya, dijelaskan Kepala Urusan Pemeliharaan Faslat Wing 3 Kapten Lek Ir Arwin Daemon DW Sumari, bentuk bulat disadari mampu memberikan daerah sapuan (scanning area) lebih luas. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Untuk mempekerjakan simulator tentu saja diperlukan sebuah 'otak'. Di sinilah kinerja dari host computer atau simulator control computer (SCC) bersistem operasi IRIX versi 5.3 yang berbasis UNIX release 4 keluaran Silicon Graphics Inc, AS digunakan. Semua fasilitas ini, kubah serta perangkat besar komputernya, ditempatkan di sudut area Wing 3 Lanud Iswahjudi.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Untuk melakukan simulasi teknik penembakan baik air to ground, air to air maupun maverick digunakan tactical control computer yang merupakan bagian dari sistem pengoperasian komputer instruktur terletak di lantai dua secara terpisah. Dari tempat ini instruktur melakukan komunikasi dan pemanduan terhadap pilot yang ada di dalam kokpit. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Instruktur melihat tampilan pesawat yang dikendalikan pilot melalui komputer di hadapannya. Bagi penerbang yunior, biasanya, yang diberikan adalah pengenalan terbang menggunakan pesawat generasi keempat ini. Diantaranya general flight I, II, dan instrument flight ke beberapa lanud di Pulau Jawa. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Untuk penerbang senior, penggunaan simulator F-16 lebih kepada kesempatan untuk mengasah keterampilan aerobatik maupun penguasaan teknik pertempuran udara. Untuk keperluan ini berbagai program simulasi tempur di-install dalam komputer simulator. Termasuk di dalamnya adalah pertempuran dengan beberapa jenis pesawat tempur canggih lainnya baik yang dibuat AS sendiri maupun buatan Blok Timur. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Melawan Flanker&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Ketika ditampilkan di layar komputer, diantaranya muncul pilihan F-16 vs MiG-21 Fishbed, MiG-23 Flogger, MiG-29 Fulcrum, dan Su-27 Flanker. Sedang dengan pesawat AS, antara lain F-16 vs F-16, F/A-18 Hornet, dan F-15 Eagle. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sementara wakil Eropa Barat antara lain adalah pembom tempur Mirage-2005. Pilihan bertempur pun tidak hanya sebatas dengan satu pesawat musuh melainkan bisa dengan beberapa pesawat. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Misi penghancuran target-target darat juga disediakan. Yakni pemboman areal fixed target maupun sasaran bergerak seperti tank, frigate, dan patrol boat. Untuk melengkapi kegunaan simulator, juga disediakan simulasi air refuelling baik pada kondisi siang maupun malam hari. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Penggunaan setting dari medan pertempuran juga dimasukkan dalam komputer. Dalam sebuah video militer yang dibuat Aviation Week &amp;amp; Space Technology bahkan bisa disaksikan bagaimana para penerbang AS, sebelum turun dalam Perang Teluk 1991, digembleng melakukan simulasi pertempuran melawan kekuatan Irak dengan lanskap padang pasir dan basis-basis penting pertahanan Irak. Tidak heran bila kemudian AS dan sekutunya berhasil menaklukan Irak. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sebagaimana diketahui, terbang dengan pesawat tempur modern beda halnya dengan mengendalikan pesawat berteknologi manual. Semua data sudah tersaji dalam layar komputer. Maka penerbang tempur di sini lebih berperan sebagai manajer untuk dirinya. Bagaimana ia harus memilih dan mengambil keputusan yang jitu dari data-data yang sudah ditampilkan komputer. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Memperhatikan perangkat kerasnya, cockpit assembly simulator F-16 dibuat sangat mirip dengan aslinya. Namun, beda dengan simulator pesawat transpor sipil, jenis simulator F-16A ini memang jenis fixed-based atau tidak dilengkapi dengan sistem gerak (motion system). &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pertimbangan utama tentu karena pesawat tempur mempunyai manuverabilitas sangat tinggi. Sehingga sistem gerak dinilai tidak ekonomis. Meski demikian tidak berarti pilot tidak bisa merasakan gerakan pesawat. Sistem G-seat mechanism digunakan sebagai pengganti untuk memberi efek gerak pesawat terhadap pilot dibantu dengan efek visual dalam layar kubahnya. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Ketika Angkasa turut mencoba terbang dalam simulator ini, sangat terasa sekali kursi gravitasi simulator penempur F-16 menekan-nekan saat mencoba melakukan manuver. Kesan terbang sesungguhnya makin terasa dengan tambahan gemuruh mendengik mirip suara semburan jet buang F-16. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;2.000 Jam Serviceable&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Memelihara sebuah simulator canggih berharga mahal, agar tetap on service, dengan sumber daya manusia terbatas di lain pihak adalah suatu perjuangan tersendiri. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Arwin mengaku, kendala umum jelas menyangkut suku cadang yang berharga mahal. "Sehingga kami harus berpikir kreatif agar simulator tetap berfungsi dan bisa digunakan untuk menyokong program utama &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Skadron Udara 3 dalam membina keahlian para penerbang tempurnya," jelas Arwin yang menjadi Ketua In Plant Team Full Mission Simulator F-16 di West Sussex. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Di luar soal suku cadang, para teknisi simulator juga dituntut bisa menyelesaikan sendiri permasalahan menyangkut kerusakan perangkat keras maupun perangkat lunaknya. "Kerusakan perangkat lunak tidak kalah peliknya. Bahkan bisa lebih rumit. Menghadapi perangkat lunak itu 'kan ibarat berhadapan dengan sesuatu yang misterius, karena tidak terlihat," tambahnya. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Suatu ketika, sebuah sub program dalam komputer simulator berubah ownership-nya sehingga proses eksekusi menjadi kacau. Respon yang diberikan pesawat tidak sesuai dengan maksud penerbang maupun instruktur. Untuk menyelesaikannya, teknisi kemudian memutar semua ilmu yang pernah didapatnya. Membuka-buka buku pemograman khusus. "Syukurlah dalam dua jam selesai." &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sedang kerusakan perangkat keras, misalnya, terjadi jika motor pemutar proyektor rusak. Simulator tidak berfungsi utuh. "Bila membeli pengganti harganya 22.000 dollar AS. Kami akali saja dengan proyektor komputer display, harganya jadi lebih murah, cuma 5.750 dollar AS," ungkap Arwin.yang memimpin 17 orang teknisi di lingkungannya. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Memasuki tahun ketiga pengoperasian, pada Kamis (26/7/2001) simulator F-16A mencapai 2.000 jam serviceable. Komandan Lanud Iswahjudi Marsma TNI F. Djoko Poerwoko di depan para jajarannya mengatakan," Ini suatu prestasi. Lebih-lebih setelah ditinggalkan teknisi dari Inggris yang hanya satu tahun di sini. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Selain itu simulator F-16A juga digunakan oleh AU Singapura, RSAF. Ini menunjukkan bahwa RSAF puas dan percaya dengan simulator kita. Sampai bulan kemarin sudah 21 session dengan jumlah pilot sekitar 80-an orang sejak kesepakatan dicetuskan melalui Good Will Visit RSAF tahun 1999. Pelatihan terakhir dari Skadron 140 pada 22-26 Juli. Penggunaan oleh RSAF pula yang tak dapat dipungkiri 'memperpanjang' umur simulator. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Merunut ke sejarah kesiapan sumber daya manusia yang akan menangani simulator pada awal pembeliannya memang terasa sangat minim sekali. Bahkan hingga sekarang praktis hanya Arwin yang bergelar sarjana elektronika dari ITB yang ada di Faslat Wing 3. Seperti lazimnya para penerbang tempur, para teknisi simulator F-16 di Faslat Wing 3 juga punya callsign. Nama-nama itu mereka ambil dari istilah komputer, seperti Daemon, Cursor, Pixel dan lain-lain. Alih-alih untuk menumbuhkan kecintaan dan semangat kerja. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;http://indo-defense.blogspot.com/2011/05/hebatnya-simulator-f-16-di-iswahjudi.html&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3142861121075504619-622455852168085687?l=weaponstechnology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/feeds/622455852168085687/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/07/hebatnya-simulator-f-16-di-lanud.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/622455852168085687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/622455852168085687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/07/hebatnya-simulator-f-16-di-lanud.html' title='HEBATNYA SIMULATOR F 16 DI LANUD ISWAHYUDI'/><author><name>WEAPONS TECHNOLOGY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06988874767614887444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://3.bp.blogspot.com/_LpXMzejbcjI/S6DRcp3u0AI/AAAAAAAAAAM/lttrJgF_BMM/S220/PAK+FA+T+50+7.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-nkbvkREZm7E/ThzhpQFM_bI/AAAAAAAACWw/MuS_W2-xDKM/s72-c/1555.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3142861121075504619.post-8889079777191856485</id><published>2011-07-07T16:22:00.000-07:00</published><updated>2011-07-12T07:42:10.136-07:00</updated><title type='text'>MUSKO NAVAL BASE</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;MUSKO NAVAL BASE&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Ketika dunia sedang berperang hanya ada satu tempat yang benar-benar aman dan itu bawah tanah. Itu sebabnya dunia saat ini dipenuhi dengan pangkalan militer di bawah tanah banyak yang masih rahasia saat ini. Banyak meskipun telah dibuka untuk publik dan beberapa bahkan terbuka untuk umum. Swedia Muskö (Musköanläggningen) Naval Base adalah salah satu yang terlihat langsung dari sebuah film Hollywood.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Musko adalah sebuah pulau yang dhubungkan dengan sebuah terowongan bawah tanah melewati bawah laut. Dan di waktu damai ada sekitar 800 pekerja bekerja di sana. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-5xdnbkMb9XI/ThZCAiIuadI/AAAAAAAACT8/1lomTvgXY8U/s1600/dbjmebka.png" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://2.bp.blogspot.com/-5xdnbkMb9XI/ThZCAiIuadI/AAAAAAAACT8/1lomTvgXY8U/s640/dbjmebka.png" width="332" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-AFzchP__afk/ThbkZ8USlqI/AAAAAAAACUM/7jwW_PSmqMk/s1600/musko0or.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="340" src="http://1.bp.blogspot.com/-AFzchP__afk/ThbkZ8USlqI/AAAAAAAACUM/7jwW_PSmqMk/s400/musko0or.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Foto keseluruhan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-SJ64H_1aO84/ThY-8y5lqsI/AAAAAAAACSk/bpVPunK9P10/s1600/musko_hitta_map.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="328" src="http://3.bp.blogspot.com/-SJ64H_1aO84/ThY-8y5lqsI/AAAAAAAACSk/bpVPunK9P10/s400/musko_hitta_map.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-FQbhizxcEFA/ThsF5JWqjRI/AAAAAAAACWE/LGF99iZLeVw/s1600/musk49gn.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="336" src="http://1.bp.blogspot.com/-FQbhizxcEFA/ThsF5JWqjRI/AAAAAAAACWE/LGF99iZLeVw/s400/musk49gn.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ZdKaKjfNYLI/ThY_B86ukGI/AAAAAAAACSo/r2O9oiQNy_o/s1600/MUSKO.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="270" src="http://3.bp.blogspot.com/-ZdKaKjfNYLI/ThY_B86ukGI/AAAAAAAACSo/r2O9oiQNy_o/s400/MUSKO.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-SJ64H_1aO84/ThY-8y5lqsI/AAAAAAAACSk/bpVPunK9P10/s1600/musko_hitta_map.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pelabuhan Musko&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-FQbhizxcEFA/ThsF5JWqjRI/AAAAAAAACWE/LGF99iZLeVw/s1600/musk49gn.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-lB6Ahq6YnxE/ThbsomMAErI/AAAAAAAACV4/w6S8iQw7vFk/s1600/musko-thumb.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="325" src="http://2.bp.blogspot.com/-lB6Ahq6YnxE/ThbsomMAErI/AAAAAAAACV4/w6S8iQw7vFk/s400/musko-thumb.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Di foto ini saya yakin anda isa melihat dua terowongan dan di baian kanan atas adalah pelabuhan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-hiEplfdkZJ8/ThsF7stMffI/AAAAAAAACWI/AdDSl_OKC08/s1600/musk24wa.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="350" src="http://3.bp.blogspot.com/-hiEplfdkZJ8/ThsF7stMffI/AAAAAAAACWI/AdDSl_OKC08/s400/musk24wa.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-8sKI_wP2eeI/ThsF3Mh4KhI/AAAAAAAACWA/YG1wm3Miymg/s1600/musko21fd.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="341" src="http://3.bp.blogspot.com/-8sKI_wP2eeI/ThsF3Mh4KhI/AAAAAAAACWA/YG1wm3Miymg/s400/musko21fd.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-MqaybcPOpqc/ThbkXwQDEhI/AAAAAAAACUI/8csXSRvIMGg/s1600/musko33bg.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="336" src="http://2.bp.blogspot.com/-MqaybcPOpqc/ThbkXwQDEhI/AAAAAAAACUI/8csXSRvIMGg/s400/musko33bg.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-8sKI_wP2eeI/ThsF3Mh4KhI/AAAAAAAACWA/YG1wm3Miymg/s1600/musko21fd.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pintu masuk barat daya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-tdpwIdNYFpM/ThsF85pgNgI/AAAAAAAACWM/D6zXckYea7c/s1600/musk32pc.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="351" src="http://4.bp.blogspot.com/-tdpwIdNYFpM/ThsF85pgNgI/AAAAAAAACWM/D6zXckYea7c/s400/musk32pc.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-MqaybcPOpqc/ThbkXwQDEhI/AAAAAAAACUI/8csXSRvIMGg/s1600/musko33bg.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-8sKI_wP2eeI/ThsF3Mh4KhI/AAAAAAAACWA/YG1wm3Miymg/s1600/musko21fd.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-RVtFVZrJU9c/ThY_FdyUHwI/AAAAAAAACSs/k2hETqVvoxo/s1600/musko_hitta_map2.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="328" src="http://2.bp.blogspot.com/-RVtFVZrJU9c/ThY_FdyUHwI/AAAAAAAACSs/k2hETqVvoxo/s400/musko_hitta_map2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pintu masuk sebelah utara&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pangkalan angkatan laut Muskö merupakan fasilitas angkatan laut Swedia bawah tanah di pulau Muskö tepat di sebelah selatan Stockholm di Haninge Kota (Haninge Komun).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Terletak di Swedia, Musko merupakan fasilitas militer bawah tanah terbesar di dunia. Dipergunakan untuk Pangkalan Angkatan Laut. Dibangun di bawah gunung batu granit, jadi kemungkinan kecil untuk dihancurkan oleh meriam, bom penghancur bunker, rudal, dan sebagainya, bahkan oleh senjata nuklir sekalipun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pembangunan dasar dimulai pada tahun 1950 dan selesai 19 tahun kemudian pada tahun 1969. Selama konstruksi sekitar 1,5 juta ton batu telah dihapus. Ini memiliki 3 dok, awalnya dirancang untuk kapal perusak dan kapal selam . Basis bawah tanah itu sendiri memiliki luas beberapa km ² dan terhubung dengan 20 km (12 mil) dari jalan bawah tanah. Sebuah km 3 (1.9 mi) panjang, jalan lorong sempit berbahaya menjalankan beberapa 70 meter (230 kaki) di bawah permukaan laut dan Muskö menghubungkan daratan pulau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-BCPivsEzNnk/ThbmA-FtdKI/AAAAAAAACUc/DZjja-YCv6E/s1600/tunnel10la.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="301" src="http://1.bp.blogspot.com/-BCPivsEzNnk/ThbmA-FtdKI/AAAAAAAACUc/DZjja-YCv6E/s400/tunnel10la.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-bjKEIOC-gog/ThbmAT8PawI/AAAAAAAACUY/pIrz_bDP0jU/s1600/tunnel21pm.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="230" src="http://3.bp.blogspot.com/-bjKEIOC-gog/ThbmAT8PawI/AAAAAAAACUY/pIrz_bDP0jU/s400/tunnel21pm.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-BCPivsEzNnk/ThbmA-FtdKI/AAAAAAAACUc/DZjja-YCv6E/s1600/tunnel10la.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;Foto dari terowongan yang menghubungkan Muskö dengan daratan utama. Terowongan ini panjangnya 3 km dan dibangun pada tahun 1964 (ini sedang dalam perbaikan).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-SnaRN4O28Fg/ThZAS98DuYI/AAAAAAAACSw/wykr8MsiB-g/s1600/musko_transport.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="187" src="http://3.bp.blogspot.com/-SnaRN4O28Fg/ThZAS98DuYI/AAAAAAAACSw/wykr8MsiB-g/s400/musko_transport.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Foto beberapa orang dari hostel af Chapman di Muskö untuk perbaikan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/--iVs8o2a1io/ThZAWgwBw4I/AAAAAAAACS0/Jnssx1XLWLU/s1600/musko_4.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://3.bp.blogspot.com/--iVs8o2a1io/ThZAWgwBw4I/AAAAAAAACS0/Jnssx1XLWLU/s400/musko_4.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-p0OjXgqEMeQ/ThZAadaR9OI/AAAAAAAACS4/Znycvlf698M/s1600/musko_doors.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-p0OjXgqEMeQ/ThZAadaR9OI/AAAAAAAACS4/Znycvlf698M/s400/musko_doors.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Musko digunakan untuk pembuatan kapal Fregat, Kapal Perusak dan kapal selam mempunyai dermaga terpanjang mencapai 350 meter. Ada tempat perbaikan kapal, rumah sakit, diningrooms, barak, mall, meeting room dan lain-lain, semua di bawah gunung. Ada rumah sakitnya juga. Jika terjadi perang ribuan tentara terluka/cedera bisa dirawat di dalamnya dengan kapasitas rumah sakit mencapai 1000 tempat tidur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dok 1 dan dok 2 mempunyai panjang 145 meter dan sekitar 14 meter tingginya.&lt;br /&gt;Kedua dok tersebut dihubungkan terowongan panjang sepanjang 250 meter.&lt;br /&gt;Dok 3 panjangnya 150 meter dan diunakan untuk kapal selam.&lt;br /&gt;Dok dapat dibagi untuk menampung beberapa kapal. Ada juga pintu gerbang yang dapat menutup pangkalan dari elemen luar.&lt;br /&gt;Yang keempat adalah 'Risdalsslipen' terowongan sepanjang 350 meter untuk area kerja dimana kita dapat mendorong masuk, mengangkat kapal dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-LvTWhjkMMT0/ThZFX0C7YQI/AAAAAAAACUE/ZpuMsW6YGFk/s1600/671px-HMS_Sm%25C3%25A5land_in_Tunnel.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="356" src="http://4.bp.blogspot.com/-LvTWhjkMMT0/ThZFX0C7YQI/AAAAAAAACUE/ZpuMsW6YGFk/s400/671px-HMS_Sm%25C3%25A5land_in_Tunnel.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kapal perusak Angkatan Laut Swedia HMS Småland di salah satu dok bawah tanah di Pankalan Angkatan Laut Muskö.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-d93oJK1WWno/ThZFUx5G7QI/AAAAAAAACUA/3pd8250mOFs/s1600/594px-HMS_Sundsvall_in_Tunnel.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-d93oJK1WWno/ThZFUx5G7QI/AAAAAAAACUA/3pd8250mOFs/s400/594px-HMS_Sundsvall_in_Tunnel.jpg" width="395" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Fregat Angkatan Laut Swedia (HMS Sundsvall) memasuki salah satu terowongan Pangkalan Angkatan Laut yang sedang terbuka.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-0J1gxvef3Go/ThZAcvq3ZlI/AAAAAAAACS8/OphZnBdowAw/s1600/musko_5.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="373" src="http://3.bp.blogspot.com/-0J1gxvef3Go/ThZAcvq3ZlI/AAAAAAAACS8/OphZnBdowAw/s400/musko_5.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-s7Xta3-L8F8/ThZB5S-BR1I/AAAAAAAACTw/Vy2EP-3H404/s1600/or2calrv.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-s7Xta3-L8F8/ThZB5S-BR1I/AAAAAAAACTw/Vy2EP-3H404/s400/or2calrv.jpg" width="383" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-pwHy6Ruf4Sk/Thbkdb5KLHI/AAAAAAAACUU/-LPuVVb0oYE/s1600/clipboard021hy.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="371" src="http://1.bp.blogspot.com/-pwHy6Ruf4Sk/Thbkdb5KLHI/AAAAAAAACUU/-LPuVVb0oYE/s400/clipboard021hy.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-BUWq_f4RLME/ThbrKigvqGI/AAAAAAAACVo/MI9o3RZg_QU/s1600/060828svldocka21200kh3.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://3.bp.blogspot.com/-BUWq_f4RLME/ThbrKigvqGI/AAAAAAAACVo/MI9o3RZg_QU/s640/060828svldocka21200kh3.jpg" width="410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;Foto baru dari Muskö&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-KHbWt7G_60I/ThbrO-b4nsI/AAAAAAAACV0/RNnJ3Oispu0/s1600/60610kullenidocka80016ws.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-KHbWt7G_60I/ThbrO-b4nsI/AAAAAAAACV0/RNnJ3Oispu0/s400/60610kullenidocka80016ws.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-crGvsE4dRF8/ThbrNN820tI/AAAAAAAACVw/Yas6h5tm-5s/s1600/60610kullenidocka280014ck.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-crGvsE4dRF8/ThbrNN820tI/AAAAAAAACVw/Yas6h5tm-5s/s400/60610kullenidocka280014ck.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;HMS Kullen&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-NACwHpoxVms/ThZAsnSMDmI/AAAAAAAACTY/0dCQjDfKl_0/s1600/p1idwavu.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="265" src="http://2.bp.blogspot.com/-NACwHpoxVms/ThZAsnSMDmI/AAAAAAAACTY/0dCQjDfKl_0/s400/p1idwavu.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Iv1M1RYMmoE/ThZB7FgqyEI/AAAAAAAACT0/Nb8iYie-2Mo/s1600/srqhpwae.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-Iv1M1RYMmoE/ThZB7FgqyEI/AAAAAAAACT0/Nb8iYie-2Mo/s400/srqhpwae.jpg" width="396" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-DsRe7osdrWA/ThZAk94XBUI/AAAAAAAACTM/C-4VtDcylQc/s1600/musko_exit_1.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-DsRe7osdrWA/ThZAk94XBUI/AAAAAAAACTM/C-4VtDcylQc/s400/musko_exit_1.jpg" width="396" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-WVFkJzbqEGE/ThZAeogjZ-I/AAAAAAAACTA/lu8mgsZH7vs/s1600/musko_exit_4.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="233" src="http://1.bp.blogspot.com/-WVFkJzbqEGE/ThZAeogjZ-I/AAAAAAAACTA/lu8mgsZH7vs/s400/musko_exit_4.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-zVy4UHpp5wI/ThbkbYfdNYI/AAAAAAAACUQ/k1QmkjK_V6c/s1600/clipboard014xf.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="http://2.bp.blogspot.com/-zVy4UHpp5wI/ThbkbYfdNYI/AAAAAAAACUQ/k1QmkjK_V6c/s400/clipboard014xf.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-bDdFavHHiyA/ThboXJY8uJI/AAAAAAAACVE/zG7y99IaoIA/s1600/muskod2wu1.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="286" src="http://1.bp.blogspot.com/-bDdFavHHiyA/ThboXJY8uJI/AAAAAAAACVE/zG7y99IaoIA/s400/muskod2wu1.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-VIEq3-HGE0s/ThbocbiQhxI/AAAAAAAACVQ/2NpRObMk6b4/s1600/750081uv.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://4.bp.blogspot.com/-VIEq3-HGE0s/ThbocbiQhxI/AAAAAAAACVQ/2NpRObMk6b4/s400/750081uv.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-158yB004VLc/Thboa0S-JBI/AAAAAAAACVM/oD4DgjlIkjc/s1600/750093gb.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://1.bp.blogspot.com/-158yB004VLc/Thboa0S-JBI/AAAAAAAACVM/oD4DgjlIkjc/s400/750093gb.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-nV-TkH8E3Sc/ThboZn9EqeI/AAAAAAAACVI/4M4xpfFrOz4/s1600/750109xk.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://2.bp.blogspot.com/-nV-TkH8E3Sc/ThboZn9EqeI/AAAAAAAACVI/4M4xpfFrOz4/s400/750109xk.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;Beberapa orang yang sedang mencoba kapal torpedo tua T 121 Spica.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Hajen class (Shark class) adalah kapal selam yang dibuat oleh Kockums dan digunakan oleh Angkatan Laut Swedia. Rancangan terpengaruh oleh kapal selam Jerman Type XXI. Ada 6 buah kapal selam Hajen class yang dibuat antara tahun 1954 - 1958. Dan tetap dipertahankan sampai tahun 1980.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kapal selam Hajen class yang pertama dibangun adalah HMS Hajen pada tahun 1954, kemudian diikuti oleh HMS Sälen, HMS Valen (1955), HMS Bävern (1958), HMS Illern (1957) dan HMS Uttern (1958).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-qwORyZpBnco/ThbrCaXpMiI/AAAAAAAACVk/btozu3BPQuI/s1600/muskovarvet19dl.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-qwORyZpBnco/ThbrCaXpMiI/AAAAAAAACVk/btozu3BPQuI/s400/muskovarvet19dl.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-qwORyZpBnco/ThbrCaXpMiI/AAAAAAAACVk/btozu3BPQuI/s1600/muskovarvet19dl.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dalam film James Bond ada yang secara langsung terinspirasi oleh pangkalan angkatan laut Musko ini. Di foto tersebut yang diambil tahun 1950an tampak ada 3 kapal selam di dalam satu dok.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-rC_-d1CjcMc/ThZB-9UN5tI/AAAAAAAACT4/2RLubuYdXHU/s1600/k34sgexe.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="276" src="http://1.bp.blogspot.com/-rC_-d1CjcMc/ThZB-9UN5tI/AAAAAAAACT4/2RLubuYdXHU/s400/k34sgexe.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;HMS Uttern (1960-80) meninggalkan dok kapal selam.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kapal selam Nacken class yang juga dikenal sebagai type A14 dibangun untuk Angkatan laut Swedia pada akhir tahun 1970. Kapal selam ini mulai dibangun tahun 1972 dan program selesai tahun 1981. Semua kapal selam dibangun oleh Kockums di Karlskrona. Kapal selam type ini memiliki teardrop hull dan sanggup menyelam di kedalaman 150 meter. Antara tahun 1987 dan 1988 kapal selam Nacken class diubah dengan penambahan Air Independent Propulsion (AIP) menggunakan mesin Stirling system tertutup. Teknologi ini menyebabkan kemampuan menyelam di bawah air menjadi 14 hari dan diadopsi oleh kapal selam Swedia. Pada awal tahun 2000 kapal selam Nacken class dipensiunkan dari Ankatan laut Swedia. HMS Nacken pernah disewa oleh Angkatan Laut Denmark pada tahun 2001 dan diberi nama Kronborg, akan tapi kemudian dikembalikan pada tahun 2005. Pada tahun 2011 tiga kapal selam Nacken class yaitu Nacken, Neptun dan Najad bersandar di Pangkalan Angkatan Laut Karlskrona Swedia. Dan kapal selam HMS Neptun akan dipajang sebagai museum.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-V4pKw1ccbK8/ThbrLqZckJI/AAAAAAAACVs/YZZtUuwMWO0/s1600/image001.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-V4pKw1ccbK8/ThbrLqZckJI/AAAAAAAACVs/YZZtUuwMWO0/s400/image001.jpg" width="391" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-l_Rzxhx1nSM/ThZAquFEqUI/AAAAAAAACTU/DllDCq-kjv0/s1600/musko_sub1.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="375" src="http://3.bp.blogspot.com/-l_Rzxhx1nSM/ThZAquFEqUI/AAAAAAAACTU/DllDCq-kjv0/s400/musko_sub1.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-7fYPObR2ocg/ThZAoQAuywI/AAAAAAAACTQ/x6xwoJMA4EY/s1600/musko_sub2.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="332" src="http://4.bp.blogspot.com/-7fYPObR2ocg/ThZAoQAuywI/AAAAAAAACTQ/x6xwoJMA4EY/s400/musko_sub2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Foto yang lain yang memperlihatkan sebuah kapal selam sedang menjalani perbaikan di salah satu terowongan bawah tanah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Xn8v5AVDpU4/ThsF04Is1dI/AAAAAAAACV8/JnU9Eq7ZHpA/s1600/swscan000571lu.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="192" src="http://3.bp.blogspot.com/-Xn8v5AVDpU4/ThsF04Is1dI/AAAAAAAACV8/JnU9Eq7ZHpA/s400/swscan000571lu.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Foto lama, kapal selam Angkatan Laut Swedia "Nacken".......&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-OaIQPWynSc8/ThZAgRQ0p9I/AAAAAAAACTE/vaME_wYzGq8/s1600/musko_exit_3.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="252" src="http://3.bp.blogspot.com/-OaIQPWynSc8/ThZAgRQ0p9I/AAAAAAAACTE/vaME_wYzGq8/s400/musko_exit_3.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-asbn9pILaRs/ThZAijUUeoI/AAAAAAAACTI/N0V0SuWth9c/s1600/musko_exit_2.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="310" src="http://2.bp.blogspot.com/-asbn9pILaRs/ThZAijUUeoI/AAAAAAAACTI/N0V0SuWth9c/s400/musko_exit_2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Berikut gambar dari daerah pasokan fasilitas. Ini tampak seperti pusat perbelanjaan. :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-eWOstlmfOEs/ThZA99Ts7BI/AAAAAAAACTs/LAsJ_OWk4es/s1600/musko_shopping.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-eWOstlmfOEs/ThZA99Ts7BI/AAAAAAAACTs/LAsJ_OWk4es/s400/musko_shopping.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Selama Perang Dingin fasilitas bawah tanah itu disimpan sangat rahasia dan tidak banyak informasi mengenai hal itu adalah dikenal masyarakat.Pada tahun 2004 pemerintah Swedia memutuskan bahwa angkatan laut harus terkonsentrasi pada satu dasar saja, basis angkatan laut Karlskrona , dan banyak dari basis Muskö ditutup. Hari ini beberapa bagian fasilitas tersebut masih digunakan oleh militer. Galangan kapal bawah tanah dioperasikan oleh Kockums AB dan Muskövarvet AB.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Salah satu insiden kapal selam Swedia pada bulan Oktober 1982, berlangsung di pangkalan angkatan laut Muskö.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sebuah survei yang dilakukan pada tahun 2000, menyimpulkan bahwa sedimentasi di terowongan menuju ke dermaga berisi PCB, organotin senyawa dan logam berat, terutama merkuri dan tembaga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/etCRgeAVnRY" width="425"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/TK1I8XMX0rE" width="425"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3142861121075504619-8889079777191856485?l=weaponstechnology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/feeds/8889079777191856485/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/07/musko-naval-base.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/8889079777191856485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/8889079777191856485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/07/musko-naval-base.html' title='MUSKO NAVAL BASE'/><author><name>WEAPONS TECHNOLOGY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06988874767614887444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://3.bp.blogspot.com/_LpXMzejbcjI/S6DRcp3u0AI/AAAAAAAAAAM/lttrJgF_BMM/S220/PAK+FA+T+50+7.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-5xdnbkMb9XI/ThZCAiIuadI/AAAAAAAACT8/1lomTvgXY8U/s72-c/dbjmebka.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3142861121075504619.post-812340500608680326</id><published>2011-07-05T05:55:00.000-07:00</published><updated>2011-07-05T17:13:37.705-07:00</updated><title type='text'>SERBUAN PASUKAN LINTAS UDARA DI DILLI 1975</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;SERBUAN PASUKAN LINTAS UDARA DI DILLI 1975&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Ketika Presiden Amerika Serikat Gerald Ford yang didampingi oleh Menteri Luar&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Negeri Henry Kissinger mengadakan pertemuan dengan Presiden Suharto di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Istana Merdeka, Jakarta, pada tanggal 6 Desember 1975 pukul 08.00, hari itu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; merupakan hari H-1 bagi operasi serbuan pasukan linud dan pendaratan amfibi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; di Dili. Bahkan Hari-H bukan lagi dalam hitungan hari, tetapi dalam hitungan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; jam. Jam-J tinggal menunggu waktu kurang dari 24 jam. Menyingung masalah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Timor Timur dalam pertemuan itu, maka tidak sulit bagi Presiden Suharto&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; bahwa Indonesia yang telah menggagalkan perebutan kekuasaan partai&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; komunis dalam tahun 1965, menyalahkan komunis atau golongan kiri yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; akan menguasai Timor Portugis. Hal ini disebabkan Amerika Serikat sedang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; mengalami trauma tentang jatuhnya Pemerintah non-komunis di Vietnam dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Kamboja pada bulan April 1975. Pemerintah non-komunis Laos juga jatuh ke&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; tangan komunis pada tahun yang sama. Peristiwa ini menguatkan teori&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; domino yang mengatakan jika salah satu negara non-komunis jatuh, maka&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; negara non-komunis lainnya akan jatuh juga.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Presiden Ford tahu bahwa peralatan militer buatan Amerika Serikat dipakai&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dalam operasi militer Indonesia di Timor Portugis. Pada waktu itu Menteri Luar&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Negeri Kissinger sempat bertanya, "Itu alat-alat militer buatan Amerika&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Serikat dipakai (di Timor Portugis) atau tidak?" Menteri Luar Negeri Adam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Malik menjawab, "Kalau tidak ada Hercules kita pakai apa?" Mendengar&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;jawaban itu Menteri Luar Negeri Kissinger hanya diam saja. Pertanyaan yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; sama juga dilontarkan oleh Brent Scowcroft Ketua US National Security&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Council kepada Mayjen TNI Benny Moerdani yang berada di ruang lain.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Jenderal berbintang dua itu menjawab, "Kami tidak mempunyai pilihan lain".&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Menutup pembicaraan tentang masalah Timor Portugis, maka Presiden Ford&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; berkata, "Timor is your problem". Perkataan Presiden Ford itu dapat&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;difatsirkan jika Indonesia masuk ke Timor Timur, Amerika Serikat tidak akan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; campur tangan. Ketika Menlu Kissinger bertemu dengan Mayjen Benny&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Moerdani yang sedang bersama Brent Scowcroft, ia meminta agar Indonesia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; jangan memulai penyerbuannya ke Timor Portugis, sebelum Air Force One ke&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; luar dari wilayah udara Indonesia. Mayjen Benny Moerdani menyanggupkan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; hal itu. Presiden Ford dan rombongan meninggalkan Lanud Halim&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Perdanakusumah, Jakarta, menuju ke Tokyo pada pukul 11.30 WIB.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Secara geografis Timor Portugis cocok digunakan sebagai pangkalan militer di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; kawasan Asia Tenggara bagi negara Adi Kuasa. Perairan di lepas pantai Utara&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Timor Portugis memiliki kedalaman sekitar 2000 meter, memungkinkan kapal&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; selam nuklir bergerak di bawah laut melintas dari Samudra Hindia ke Samudra&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Pasifik atau sebaliknya lewat Selat Ombai dan perairan Maluku. Lapangan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; terbang Baucau sepanjang 2400 meter dapat digunakan untuk mendarat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pesawat berbadan lebar sekelas dengan pesawat DC-10. Pesawat intai&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; maupun pesawat pembom jarak jauh dapat mendarat di Baucau. Demikian&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pula pesawat angkut strategis, Antonov An-124 Condor yang mampu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; membawa peluru kendali nuklir SS-20 lengkap dengan kendaran peluncur,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; segala peralatan pendukung serta seluruh personil yang mengoperasikannya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Seandainya Timor Portugis digunakan sebagai pangkalan militer Sovyet, maka&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; jangkaun pesawat pembom jarak jauh maupun peluru kendali berkepala nuklir,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dapat menjangkau ke seluruh benua Australia dan Selandia Baru.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Uni Sovyet yang tidak memiliki pangkalan Angkatan Laut di air hangat di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Samodra Pasifik, sangat berkepentingan untuk memiliki pangkalan militer di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; kawasan Asia Tenggara. Wladivostok adalah satu-satunya pangkalan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Angkatan Laut Uni Sovyet di pantai Timur benua Asia, tertutup salju selama&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; enam bulan pada musim dingin. Oleh sebab itu dalam Perang Vietnam Uni&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Sovyet tidak segan-segan mengucurkan dana sebesar US$ 3 milyar dalam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; bentuk senjata, mengerahkan 3000 orang anggota militer non-tempur, 13&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; orang diantaranya tewas, untuk memperoleh konsesi Teluk Cam Ranh sebagai&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pangkalan militernya di Asia Tenggara. Jika Timor Portugis dikuasai oleh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; golongan komunis, maka peta pertahanan Amerika Serikat di kawasan Asia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Pasifik akan mengalami ancaman besar. Kekhawatiran Amerika Serikat itu,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; menyebabkan Presiden Ford memberikan lampu hijau bagi Indonesia masuk ke&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Timor Portugis. Demikian pula bagi Indonesia, ancaman komunis dari Timor&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Portugis akan mengganggu keutuhan wawasan Nusantara. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Persiapan Operasi Seroja&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Ketika Presiden Suharto mengadakan pertemuan dengan Presiden Ford di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Istana Merdeka, hari itu menjadi puncak pre-positioning pasukan dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pre-stocking logistik maupun peralatan militer untuk serbuan pasukan linud&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dan pendaratan amfibi di Dili. Sejak 12 Agustus 1975 TNI-AU secara&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; berangsur-angsur telah melakukan pre-positioning pasukan dan pre-stocking&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; logistik dari Lanud Iswahyudi Madiun, ke Lanud Penfui, Kupang, sebagai&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pangkalan persiapan. Pergeseran pasukan terdiri dari dua satgas, yaitu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Satgas-A untuk perebutan kota Dili pada Hari-H atau tanggal 7 Desember&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; 1975 dan Satgas-B untuk perebutan kota Baucau sebagai kota terbesar&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; kedua di Timor Timur pada hari H+3 atau tanggal 10 Desember 1975.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Satgas-A dibawah pimpinan Letnan Kolonel Inf Matrodji, seorang pejuang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; 1945 yang menjabat sebagai Komandan Brigif-18/Linud Kostrad.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Hanya sekitar tujuh jam, Minggu 7 Desember 1975, Kota Dili dikuasai lewat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; operasi lintas udara (Linud) terbesar dalam sejarah ABRI.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Grup-1 Kopassandha dan Brigade-18/Linud Kostrad yang sebagian besar dari&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Batalion-502/Raiders Jawa Timur itu, diterjunkan dari sembilan pesawat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; angkut C-130B Hercules TNI AU.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Menjelang jam 05.00 WITA, BTP-5 (Batalion Tim Pendarat)/Infanteri Marinir,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; mengendap-endap di pantai Kampung Alor. Dengan dukungan tembakan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; kanon kapal perang TNI AL, BTP-5 mengawali rencana besar operasi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; perebutan Kota Dili, 7 Desember 1975. Operasi ini merupakan kelanjutan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; "Operasi Komodo" yang digelar Bakin awal 1975, untuk mengantisipasi makin&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; keruhnya peta politik di Timor Loro Sae (Timor Negeri Matahari Terbit).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Euphoria politik yang berkepanjangan ini, memaksa Indonesia meningkatkan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; operasi menjadi operasi Sandhi Yudha (combat inteligence) terbatas dengan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; sandi "Operasi Flamboyan".&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Operasi yang dipimpin Kolonel Dading Kalbuadi dengan inti pasukan pemukul&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; operasi Grup-1 Para Komando/Kopassandha yang menempatkan Detasemen&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Tempur-2 (Denpur) di perbatasan sejak Oktober 1975 inilah, yang kemudian&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; berubah ujud menjadi "Operasi Seroja".&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Perebutan Dili yang didahului operasi ampibi ini, diputuskan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Menhankam/Pangab Jenderal TNI M Panggabean, 4 Desember di Kupang.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Operasinya sendiri dilakukan melalui pertimbangan dan analisa lapangan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; setelah melihat pergerakan pasukan Fretilin. Bukan sepihak, ketegasan sikap&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Indonesia juga didasari keinginan rakyat Timor Portugal berintegrasi dengan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Indonesia. Sikap yang diwakili empat partai Apodeti (Associacao Popular&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Democratica de Timor), UDT (Uniao Democratica de Timorense), KOTA (Klibur&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Oan Timor Aswain), dan Trabalista itu dikenal dengan Deklarasi Balibo, 30&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Nopember 1975. Sikap yang sekaligus menandingi deklarasi berdirinya Republik&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Demokrasi Timor Timur secara sepihak oleh partai Fretilin (Fronte&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Revolucionaria de Timor Leste Independente), dua hari sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Sebelum perebutan Dili, Fretilin sudah terlibat baku tembak dengan pasukan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; ABRI dalam perebutan Benteng Batugade (7 Oktober). Alasan berikutnya,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; meningkatnya pelanggaran perbatasan diselingi perampokkan ternak oleh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Fretilin di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Pelanggaran yang meningkat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; sejak Juni 1975 itu, sering tertangkap basah oleh ABRI hingga menimbulkan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; tembak-menembak. Korban mulai berjatuhan.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Lebih seru lagi, sejak 1 Oktober, Komando Tugas Gabungan (Kogasgab)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Operasi Seroja mendeteksi keberadaan dua kapal perang kelas frigat AL&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Portugal di sekitar Timor. Celakanya, 7 Desember pagi, kedua kapal tersebut&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; justru merapat di lepas pantai Dili.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; "Mereka buang jangkar lebih dekat ke pulau Atauro, karena di sana bercokol&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pemerintahan pelarian Portugal dari Timor," kata Hendro Subroto, wartawan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; TVRI yang meliput saat itu. Entah kebetulan, di selat yang memisahkan pulau&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Atauro dan pulau Alor ini, tiga formasi arrow Hercules satu formasi tiga&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pesawat akan membuat manuver abeam (posisi pesawat 90 derajat terhadap&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; suatu check point di sisi kiri atau kanan pesawat).&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Gunship&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Menjelang berakhirnya tanggal 6 Desember 1975, di Lanud Iswahyudi,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Madiun, Jawa Timur, di luar kebiasaan, ratusan pasukan berperalatan lengkap&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; berseliweran. Sebagian menyandang parasut T-10 buatan Amerika, separuh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; lagi senapan serbu AK-47 buatan Soviet. Di apron, sembilan pesawat angkut&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; berat C-130B Hercules Skadron 31, siap terbang. Beberapa air crew&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; menyempatkan melakukan pemeriksaan akhir sebelum mengudara.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Kesembilan pesawat ini tiba di Iswahyudi siang itu. Letkol Pnb. Suakadirul&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; menuturkan, perintah berangkat ke Iswahyudi diterimanya Jumat, 5&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Desember, dari Kol. Pnb. Susetyo, Komandan Satuan Tugas Udara Operasi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Seroja. Isi perintah: usai shalat Jumat, seluruh anggota Skadron 31 kembali&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; ke tempat masing-masing. Tidak seorangpun dibenarkan pulang. "Saya belum&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; tahu kemana arah perintah itu. Tapi saya bisa menduga dengan melihat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; perkembangan situasi di lapangan," ingat Marsda (Pur) Suakadirul.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Dalam perintah rahasianya, Komandan Skadron 31 diminta menyiapkan 12&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pesawat untuk mengangkut satu batalion paratroops. "Jadi saya harus&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; menyiapkan 12 set crew. Pilot, co-pilot, navigator, engineer, radio telegrafis,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; load master dan pembantunya. Jumlahnya sekitar 120 orang," katanya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Kebetulan dua pesawatnya dalam perawatan, hanya 10 pesawat bisa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; disiapkan. Dalam jajaran penerbangnya, Suakadirul sengaja menempatkan dua&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; penerbang senior Letkol Pnb. Siboen dan Kol.Pnb. Suhardjo. "Sebagai&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; panutan, lah."&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Maka, esok harinya, sembilan Hercules bertolak dari Halim Perdanakusuma&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; menuju Iswahyudi. Tiga diantaranya mengangkut Kopassandha. Baru di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Madiun lah, sorenya, Suakadirul mendapat kejelasan bahwa akan dilakukan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; operasi pen-drop-an pasukan di Dili. Untuk itu, armadanya akan mengangkut&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; satu batalion pasukan payung.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; "Satu pesawat memuat 100 orang," jelas Hendro, wartawan yang meliput.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Pada hari yang sama di Timor, Batalion-403/Raiders Kostrad tiba di lepas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pantai Tailaco dengan LST KRI Teluk Bone. Sorenya, disusul BTP-5/Infantri&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Brigade-1/Pasrat Marinir masuk LST untuk persiapan pendaratan ampibi di Dili&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; jam 05.00 esok harinya.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tanggal 6 Desember, jam 23.50, flight leader Letkol Pnb. Suakadirul, memulai&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; operasi dengan menerbangkan Hercules T-1308. Berturut-turut, dipekatnya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; malam, kedelapan pesawat meninggalkan landasan pacu Lanud Iswahyudi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Pesawat bergerak ke arah Ponorogo, terus heading ke timur sambil menyusun&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; formasi. Dalam penerbangan antara Ponorogo dan Denpasar, sembilan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pesawat mulai membentuk formasi arrow dengan panduan exhaust dan lampu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; take off pesawat.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Sifat operasi pendadakan. Formasi sembilan Hercules ini diberi sandi Rajawali&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Flight. Untuk menjaga kerahasiaan, selama penerbangan diterapkan radio&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; silence. Komunikasi antar penerbang dilakukan menggunakan morse. Pesawat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; terus naik hingga mencapai ketinggian 22.000 kaki dengan kecepatan 280&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; knot.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Di utara Denpasar, leader mengirim morse ke Air Traffic Control (ATC)&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Bandara Ngurah Rai: Rajawali abeam Denpasar.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Lewat Denpasar, Suakadirul kontak Lanud Penfui, Kupang, untuk&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; menginformasikan posisi Rajawali flight pada beberapa check point ke Markas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Komando Operasi Seroja di kapal tender kapal selam KRI Ratulangi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; T-1308 yang paling lambat terbangnya, dipilih sebagai flight leader agar&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pesawat lain sebagai wingman mudah menyesuaikan dalam terbang formasi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Bertindak sebagai wingman, Letkol Pnb. Sudjiharsono (kiri) dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Kol.Pnb.Suhardjo (kanan). Formasi arrow kedua, dua mil dibelakangnya,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; diterbangkan Letkol Pnb.Siboen (leader), Letkol Pnb.O H Wello (kiri), dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Letkol Pnb.Sukandar (kanan). Arrow ketiga dipimpin Letkol Pnb.Masulili dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Mayor Pnb.Achlid Muchlas/Mayor Pnb.Sudiyarso serta Mayor Pnb.Murdowo.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Suakadirul menggambarkan, suasana begitu senyap di pesawat. Desah nafas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; mereka mengeras, maklum, operasi Linud pertama di Dili dan terbesar bagi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Hercules sepanjang sejarah ABRI. Menunggu tentu membosankan. Apalagi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; tujuan medan perang. Perhitungannya, penerbangan ke Dili memakan waktu 4&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; jam 50 menit. Sementara tiap pesawat membawa 42.000 pound avtur JP-4,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; yang cukup untuk penerbangan 10 jam 30 menit.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Garis besarnya, operasi penerjunan untuk merebut Kota Dili dari Fretilin&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dilakukan dalam tiga sortie. Sortie pertama dengan sasaran Dili, akan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; diterjunkan Grup-1 Kopassandha dipimpin Letkol (Inf) Soegito dan Batalion&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Infantri Linud 501 di bawah komando Letkol (Inf) Matrodji. Sortie kedua, dari&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Lanud Penfui, Kupang, menyusul Batalion 502 di bawah Mayor (Inf) Warsito&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dengan target Komoro. Khusus Baret Merah, dalam operasi ini dipelopori&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Denpur-1, disebut juga Nanggala-5, di bawah komandan Mayor (Inf) Atang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Sutisna. Sortie ketiga, direncanakan juga dari Kupang.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Letkol Soegito membagi Nanggala-5 ke dalam tiga tim. Tim-A dipimpin Mayor&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Atang Sutisna, melaksanakan perebutan kantor gubernur. Tim-B dipimpin&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Lettu Atang Sanjaya, merebut pelabuhan Dili. Sedang Tim-C dipimpin Lettu&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Luhut Panjaitan, merebut lapangan terbang Dili. Ketiga tim disebar ke dalam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; empat Hercules terdepan, dengan perhitungan jika salah satu pesawat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; mengalami gangguan atau tertembak, tim bisa berharap pada pesawat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; berikutnya. Artinya, operasi harus tetap jalan.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pasukan sortie kedua dan ketiga yang akan diberangkatkan dari Kupang,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; berasal dari Jakarta dan Jawa Timur. Karena terbatasnya kemampuan TNI AU&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dalam mendukung angkutan udara, pengiriman pasukan ke Kupang diputuskan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; menggunakan pesawat Garuda Indonesian Airways.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Garuda menjembatani pengiriman pasukan dari Halim Perdanakusuma dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Iswahyudi menggunakan 17 F-28 dan empat F-27 Friendship. Operasi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; jembatan udara ini dipimpin langsung direktur utamanya Wiweko Supono.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Untuk mempertahankan pendadakan, tentu tidak sekadar mengandalkan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pemahaman topografi. Serangan udara juga berperan. Perebutan Irian Barat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; memperoleh keunggulan di udara, karena didukung pesawat tempur. Pesawat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pembom dan angkutnya, juga mendapat close air support. Sebaliknya, untuk&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Dili, bantuan tembakan udara (BTU) justru masalah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Ini disebabkan seluruh pesawat P-51 Mustang Skadron 3/Tempur Taktis&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dinyatakan grounded, setelah kecelakaan beruntun menewaskan,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; diantaranya, Mayor Pnb Sriyono. Sedangkan pesawat latih lanjut T-33 T-Bird&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; (versi militernya Shooting Star) dan F-86 Sabre bantuan Australia, belum&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dipersenjatai.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Dari tujuh bomber B-26 Invader Skadron 2/Pembom Taktis, hanya dua yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; serviceable. Penerbang pesawat peninggalan PD II inipun, hanya dua orang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; yang masih berkualifikasi. Yaitu Letkol Pnb Danendra (Danlanud Penfui) dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Mayor Pnb Soemarsono, yang ditarik kembali dari Pelita Air Service.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Pentingnya BTU sangat disadari Amerika ketika di palagan Vietnam. Tidak&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; heran kemudian, Jenderal USAF John P McConnel mengusulkan modifikasi C-4&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;7 menjadi gunship untuk mendukung bantuan tembakan udara.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Dakota itu kemudian populer dengan sebutan Gooney Bird. Sebutannya pun&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; diganti menjadi AC-47 mulanya FC-47. Pesawat yang dilengkapi tiga senapan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; mesin kaliber 7,62 mm di sisi, selama perang Vietnam digunakan USAF&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; sebanyak 20 pesawat di samping AC-130 Spectre Gunship.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Terinspirasi oleh kepopuleran gunship ini, dua pesawat C-47 Dakota Skadron&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; 2/Angkut Ringan TNI AU, dibedah menjadi AC-47 gunship. Mekanik dan teknisi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Depopesbang 10 Bandung, menjejali dengan tiga senapan mesin kaliber 0,50&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; mm. Untuk mengenal medan, ujicoba penembakan dilakukan di sepanjang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; perbatasan Timor Portugal bulan September 1975. Jadilah dua B-26 dan dua&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; AC-47, direncanakan memberikan BTU dalam mendukung operasi Linud 7&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Desember.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-f3Hk7reW9Vk/ThOmUaercnI/AAAAAAAACRM/G0D9G66-cl4/s1600/B26AURI-480x245.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="203" src="http://4.bp.blogspot.com/-f3Hk7reW9Vk/ThOmUaercnI/AAAAAAAACRM/G0D9G66-cl4/s400/B26AURI-480x245.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-f3Hk7reW9Vk/ThOmUaercnI/AAAAAAAACRM/G0D9G66-cl4/s1600/B26AURI-480x245.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;B-26&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Invader Skadron 2/Pembom Taktis &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;direncanakan memberikan BTU di &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; "Operasi Seroja"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-OA99uGXoxNA/ThOmXcAYEuI/AAAAAAAACRU/hnjamRZ6-24/s1600/261908_10150243805319222_763314221_7023881_4349962_n.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-OA99uGXoxNA/ThOmXcAYEuI/AAAAAAAACRU/hnjamRZ6-24/s400/261908_10150243805319222_763314221_7023881_4349962_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dua&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; AC-47&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;direncanakan memberikan BTU di &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; "Operasi Seroja" &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Satgas-A membawahi Brigif-18, terdiri dari 285 orang anggota Yonif&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; 501/Raiders dari Jiwan, Madiun (Komandan : Mayor Inf Ismail), 443 orang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; anggota Yonif 502/Raiders dari Singosari, Malang (Dan : Mayor Inf Warsito),&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; 170 orang anggota Grup-1 Parako/Kopasandha (Dan : Letkol Inf Sugito), 400&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; orang anggota BTP-5/Infrantri Brigade-1/Pendarat Marinir dari Karangpilang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Surabaya (Dan : Letkol Mar Achmad Sediono), dan 158 orang anggota&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Detasemen A Kopasgat TNI-AU dari Lanus Husein Sastranegara, Bandung&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; (Dan : Kapten Psk Silaen). Keseluruhan pasukan pemukul ini berjumlah 8.471&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;orang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-R9q5y_lVBDw/ThOgHwL6cFI/AAAAAAAACQk/TK6QuRjFPwA/s1600/05735002010.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="250" src="http://3.bp.blogspot.com/-R9q5y_lVBDw/ThOgHwL6cFI/AAAAAAAACQk/TK6QuRjFPwA/s400/05735002010.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-qDttzxOo3YY/ThOgTkHwlVI/AAAAAAAACRI/ahr3xm-R0eY/s1600/05735002012.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="238" src="http://4.bp.blogspot.com/-qDttzxOo3YY/ThOgTkHwlVI/AAAAAAAACRI/ahr3xm-R0eY/s400/05735002012.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Operasi Lintas Udara mengggunakan 9 pesawat Hercules C-130B dari Skudron&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; 31/Angkut Berat dengan flight leader Letkol Pnb Suakadirul. Penerjunan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dilakukan dalam 3 sortie. Jika sortie-1 menggunakan 9 pesawat, sortie-2&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; hanya menggunakan 5 pesawat akibat adanya pesawat yang mengalami&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; kerusakan akibat tembakan Fretilin. Sementara penerjunan sortie-3&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dibatalkan sesaat sebelum pesawat taxi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-p9YSmweDP6c/ThOgRZte9RI/AAAAAAAACRA/jEatTUDHSFI/s1600/05358002170.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="276" src="http://3.bp.blogspot.com/-p9YSmweDP6c/ThOgRZte9RI/AAAAAAAACRA/jEatTUDHSFI/s400/05358002170.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Fbxtlhp9kKs/ThOgQaeGEMI/AAAAAAAACQ8/qMlGf4YMdvg/s1600/05735002006.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="252" src="http://4.bp.blogspot.com/-Fbxtlhp9kKs/ThOgQaeGEMI/AAAAAAAACQ8/qMlGf4YMdvg/s400/05735002006.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pesawat terus bergerak dalam kesunyian. Sesekali, bunyi morse memecah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; keheningan. Di timur Flores, Rajawali flight perlahan-lahan turun ke 5.000 kaki&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; sambil menyusun formasi penerjunan. Persis di atas pulau Alor pada&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; ketinggian 7.000 kaki, lampu merah dekat pintu menyala dan bel berdering&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pendek tiga kali sebagai tanda pasukan mulai berdiri untuk persiapan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Waktu penerjunan menjelang lampu hijau tinggal 10 menit lagi. Anggota&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Kopassandha dan Brigade-18/Linud Kostrad, mencantolkan pengait pada&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; ujung strop di kabel baja yang merentang di kabin. Dengan sigap, posisi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; ransel, senjata, dan perlengkapan perorangan lainnya dibenahi. Hampir tidak&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; ada suara. Semua membisu dalam kesibukkan masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Abeam Atauro, pesawat sudah di 5.000 kaki. Karena radar pesawat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; digunakan untuk cuaca, Suakadirul dibuat kaget ketika melongokkan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; kepalanya melihat dua kapal frigat Portugis Joao Roby dan Alfonso de&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Albuquerque lego jangkar di lepas pantai Atauro. "Tidak ada informasi dua&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; kapal frigat dilengkapi radar dan sonar, buang sauh di Atauro," protes&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Suakadirul. Aneh. Padahal, KRI Ratulangi sudah berpapasan dengan Joao&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Roby di perairan Timor, 23 Oktober. Hebat lagi, sejak 1 Oktober keberadaan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; kapal yang memiliki 3 kanon 100 mm ini sebenarnya sudah diketahui. "Saya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; tidak mengerti soal itu," jawab Suakadirul.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Pintu kiri-kanan pesawat mulai dibuka. Kecepatan dikurangi hingga 110 knot.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; "Saya bilang kita 5.000 kaki. Lampu kuning menyala, terus depressurized,"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; cerita Suakadirul. Waktu tersisa menuju dropping zone (DZ) tinggal empat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; menit. Perlahan, jarak horizontal antar pesawat di perpendek hingga 300 kaki&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; (sekitar 100 meter). Demikian pula jarak vertikal antar pesawat, hanya selisih&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; 50 kaki. "Saya berada pada ketinggian 900 kaki," ucap Suakadirul. Jadi kalau&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dihitung hingga pesawat terakhir, ketinggiannya 1.250 kaki.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Mendekati pantai Dili, dengan referensi Tanjung Fatukama, Rajawali flight&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; belok kanan langsung menuju jantung kota Dili. Agar pesawat mampu terbang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pada kecepatan 110 knot, menurut Suakadirul, flap diturunkan sebesar 50&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; persen. Bagi Suakadirul, Dili bukan hal baru. Tahun 1970, lulusan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Chekoslowakia ini telah mondar-mandir dengan Dakota milik Zamrud rute&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Denpasar, Rembiga, Sumbawa, Kupang dan Dili untuk RON (remain over&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; night). Sementara, navigator buka suara, "2 menit ahead."&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Sembilan pesawat muncul dari balik perbukitan tanpa lindungan (escort) B-26&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dan AC-47. Bel berdering panjang sekitar lima detik setelah Hercules T-1308&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; terbang melintas di atas sisi barat perkampungan nelayan. Jam di tangan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Suakadirul menunjukkan pukul 05.45, bertepatan perubahan lampu kuning&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; menjadi lampu hijau. "Kerongkongan saya mendadak kering," ujar Suakadirul.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Hanya dalam hitungan detik menjelang jam 05.45, jumping master berteriak.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; "Penerjun siap?" Dilanjutkannya dengan perintah, "Sedia di pintu!" Sekian&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; detik kemudian, jumping master berteriak lebih keras. "Go!"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Mengambil arah 260 derajat atau hampir ke barat pada garis sejajar dengan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; jalan Dr. Antonio de Carvalho di tengah Kota Dili, anggota pertama melompat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dari Hercules T-1308. Ratusan kemudian, berbaur dari Kopassandha dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Kostrad, melompat dari tiap pesawat.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Dalam empat hitungan, parasut T-10 berwarna hijau zaitun terkembang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dikeremangan pagi di atas Dili. Karena komunikasi segitiga Fretilin,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Dili-Atauro-kapal frigat sudah terjalin rapi, penerjunan sortie pertama&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; kehilangan faktor pendadakan. Pasukan diberondong secara sporadis dari&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; bawah. Peluru api (tracer) yang dilepas Fretilin, bagai kunang-kunang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; memenuhi langit.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pasukan Linud yang masih mengambang, balik menembak. Maka, pagi itu,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; terjadilah pertempuran sengit antara pasukan Linud dan gerombolan Fretilin.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Entah digunakan pada saat D-day, beberapa bulan sebelumnya menurut&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Hendro, 15.000 pucuk senjata peninggalan Portugal dibagi-bagikan Fretilin&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; untuk mempersenjatai rakyat. Sesungguhnya juga, Fretilin telah siaga begitu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; listrik dipadamkan jam 03.00 bertepatan pendaratan marinir disertai tembakan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; kanon dari kapal TNI AL. Dan radar Plessey dua kapal frigat Portugal pun,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; tentu tidak tidur.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Dapat dibayangkan perjuangan hidup-mati pasukan Linud. Tidak semua&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; mendarat dengan selamat. Ada yang kandas di atap rumah, tersangkut di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pohon atau di pagar. Yang mendarat di lapangan terbuka di tengah kota,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; "terpaksa" menjadi sasaran empuk. Belum sempat berbenah, mereka langsung&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; terlibat baku tembak dengan Baret Coklat mantan Tropaz, serdadu Portugal.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Sama sekali tidak ada waktu untuk konsolidasi. Tiga tim yang ditunjuk,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; berusaha keras menyebar memulai operasi pembebasan kantor gubernur,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pelabuhan, dan lapangan terbang.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Tembak-menembak bergemuruh di mana-mana. Walaupun sudah mengetahui&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; kedatangan pasukan Indonesia, Fretilin tetap kocar-kacir. Jika mau bersabar,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; tentu Indonesia bisa mengambil keuntungan dengan perencanaan matang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; karena Fretilin tidak pernah memprediksi Indonesia akan menyerbu dari udara.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Perkiraannya serbuan dari perbatasan.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Karena saat penerjunan pesawat dihujani tembakkan ditambah obstacle bukit&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; setinggi 1.500 kaki di ujung runway Dili, Rajawali flight harus belok ke kanan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; arah pantai untuk terbang ke Kupang. Karena juga DZ cukup pendek dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; interval penerjunan terlalu lama waktunya cuma satu menit 79 orang dari 720&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pasukan para batal terjun, termasuk komandan Tim-C Lettu Luhut Panjaitan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Tidak hanya mengenai pasukan, tembakkan dari bawah juga menghantam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; empat Hercules. Bahkan, load master T-1312 yang diterbangkan Letkol Wello,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Pelda Wardjijo, tewas diterjang peluru yang menembus badan pesawat.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Pesawat Suakadirul juga tak luput. Peluru merusak navigation compass dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; auxiliary hydraulic pump. Peluru juga menembus kaca kokpit di sisi kiri&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Suakadirul. Secangkir kopi yang ditaruhnya, terlontar ke depan kokpit dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; membasahi dahi sang captain. Crew sempat menduga captain-nya tertembak.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Apalagi setelah melihat cairan kental meleleh di kepalanya. "Ternyata cuma&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; kopi."&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Dua pesawat Hercules lainnya yang diterbangi Letkol Pnb. Sudji Harsono dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Kol.Pnb. Sukandar, turut tertembak. Kesembilan pesawat plus 79 anggota&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; yang batal terjun, meneruskan penerbangan ke Kupang selama 48 menit. Dari&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Kupang, setelah memeriksa kondisi pesawat yang tertembak, sortie kedua&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dilanjutkan menggunakan lima Hercules. Komoro ditentukan sebagai DZ.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Karena empat pesawat tidak laik terbang, setengah kekuatan Batalion 502,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; tidak terangkut. Jam 07.45, sortie kedua diterjunkan di Komoro dengan aman&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; karena Fretilin telah dipukul mundur ke perbukitan di selatan Dili. Suakadirul&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; mengganti pesawatnya dengan T-1305.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Salah tembak&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sortie kedua berhamburan ke luar pesawat. Entah siapa yang memerintahkan,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; saat melayang di udara, 400 lebih Baret Hijau menghujani dengan tembakan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dan granat iring-iringan pasukan yang sedang bergerak menuju lapangan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; terbang Dili. Seperti sortie pertama, tembak-menembak kembali terulang.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Saling membidik terus berlangsung tanpa kedua pihak menyadari, mereka&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; adalah teman. Di bawah Marinir yang habis memukul mundur Fretilin di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; sepanjang garis pantai, yang melayang, Kostrad. Untunglah Marinir cepat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; berinisiatif mengakhiri tembak-menembak (friendly fire), dengan mengibarkan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; "Merah Putih". Untung lagi, tidak ada korban.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Suakadirul mengetahui kesalahpahaman itu beberapa saat kemudian.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Setibanya di Penfui, Rajawali flight mempersiapkan sortie ketiga penerjunan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pasukan Kostrad yang masih tersisa ke pinggiran barat Kota Dili. Takut&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; kejadian tragis sortie kedua terulang kembali, Mako Operasi Seroja&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; memutuskan membatalkan sortie ketiga.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-wJVlDkaNRTE/ThOgPUo0OnI/AAAAAAAACQ4/YtRiZLXuiQY/s1600/05735002007.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="250" src="http://4.bp.blogspot.com/-wJVlDkaNRTE/ThOgPUo0OnI/AAAAAAAACQ4/YtRiZLXuiQY/s400/05735002007.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-szdl5tSDZSE/ThOgSJqHLII/AAAAAAAACRE/UY-45shI2i8/s1600/05735002005.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="257" src="http://4.bp.blogspot.com/-szdl5tSDZSE/ThOgSJqHLII/AAAAAAAACRE/UY-45shI2i8/s400/05735002005.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-OCD1d9vLrHc/ThOgLyguvQI/AAAAAAAACQs/gGMNSLKxY7E/s1600/05735002008.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="255" src="http://2.bp.blogspot.com/-OCD1d9vLrHc/ThOgLyguvQI/AAAAAAAACQs/gGMNSLKxY7E/s400/05735002008.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-sKexSkT_SMg/ThOgJ2wVzII/AAAAAAAACQo/mJVgdsVw4W0/s1600/05735002011.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="253" src="http://4.bp.blogspot.com/-sKexSkT_SMg/ThOgJ2wVzII/AAAAAAAACQo/mJVgdsVw4W0/s400/05735002011.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-bn-Y0RJSqgc/ThOgOfA5o2I/AAAAAAAACQ0/2JfM_2xktdI/s1600/05358002141.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="281" src="http://2.bp.blogspot.com/-bn-Y0RJSqgc/ThOgOfA5o2I/AAAAAAAACQ0/2JfM_2xktdI/s400/05358002141.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Setelah berjuang dari jam 06.00 hingga tengah hari, Dili akhirnya dibebaskan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Fretilin mundur ke perbukitan selatan kota Dili. Pemimpinnya melarikan diri ke&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Aileu. Lobato dan Ramos Horta hengkang ke Australia. Hanya mantan Tropaz&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; yang berani bertahan. Petangnya, 7 Desember, pemerintah mengeluarkan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pernyataan bahwa hari itu, pukul 12.30, Dili telah dibebaskan oleh perlawanan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; rakyat yang dipelopori Apodeti, UDT, KOTA dan Trabalista dibantu para&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; sukarelawan Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Besoknya dalam evaluasi, korban dihitung. 35 orang Baret Hijau yang hampir&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; seluruhnya dari Batalion-502/Raiders, termasuk dua mayor dan dua kapten,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; tewas.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dari Baret Merah, 16 orang tewas tertembak. Tiga lagi tenggelam di laut.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Tiga orang yang semula hilang, mayatnya ditemukan beberapa bulan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; kemudian. Komandan Tim-B, Lettu Atang Sanjaya, terkena pecahan munisi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; AK-47-nya yang tertembak. Malang bagi rekannya, Mayor Atang Sutisna,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; tewas tertembak. "Ditembak sniper," ungkap Hendro.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ahp0uNzRYoU/ThOgNWqZV_I/AAAAAAAACQw/-hk6sNBTNiU/s1600/05733023045.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="270" src="http://1.bp.blogspot.com/-ahp0uNzRYoU/ThOgNWqZV_I/AAAAAAAACQw/-hk6sNBTNiU/s400/05733023045.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Di pihak Fretilin, korban lebih banyak lagi. Hendro Subroto mencatat dalam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; tulisannya yang dimuat majalah Airforces, edisi Januari 1999 di bawah judul&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; "Drop Zone Dili", 122 tewas dan 365 orang tertawan. Operasi terus bergulir.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Tiga hari kemudian, giliran Baucau dibebaskan.(ben)&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Suatu malam, pada tanggal 9 Desember 1975, di bawah sinar lapu petromak&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; di Pangkalan udara Penfui, Letkol Sugiarto sebagai Komandan Satgas Linud&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; mengelar peta hitam putih buatan Portugis. Briefing penyampaian Perintah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Operasi dimulai, diikuti oleh para Komandan satuan dan perwira Operasi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Masing-masing dari Brigade 17 Linud Kostrad, Kopassus dan Kopasgat (saat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; ini disebut Paskhas). Lembar peta itu berjudul “Vila Salazar” nama Portugis&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; sebutan lain dari kota baucau. Cila Salazar terletak di pantai utara di sebuah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dataran tinggi pulau Timor bagian Timur. Selintas terbayang cantiknya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; bangunan klasik, tebing karang, buih putih dan laut biru.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Bayangan indah itu pun lenyapseketika dan jantung pun berdebar ketika&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Letkol Sugiarto mengakhiri Perintah Operasinya dengan “Ada pertanyaan?”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; beberapa saat hening mencekam, tidak ada satupun pertanyaan. Yang pasti,&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;besok pagi buta, tangal 10 Desember 1975, serbuan vertical dari udara akan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dilaksanakan oleh prajurit-prajurit pasukan paying untuk memerbut sebuah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; lapangan terbang di Vila Salazar. Semua sudah jelas, sebuah lingkaran hitam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dan garis-garis pembagi berikut lingkaran-lingkaran kecil diatas peta, itu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; adalah lukisan apa yang disebut ground tactical planning atau rencana taktis&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; darat dari suatu operasi serbuan Linud yang menggambarkan air head atau&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; tumpuan udara, berisi pembagian sector, dropping zone (DZ), sasaran-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; sasaran yang akan direbut dan titik-titik kumpul bagi pasukan paying.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Rencana taktis darat merupakan bagian penting dari Perintah operasi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; penerjunan.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pada tanggal 10 Desember 1975, 8 pesawat C-130 Hercules mengangkut&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pasukan Brigade 17/Linud Kostrad, Kopassus, dan Kopasgat dari Pangkalan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Udara Penfui Kupang. Pesawat-pesawat angkut C-130 Hercules mendapat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; perlindungan dari pesawat B-26 Infader yang diterbangkan oleh Mayor Pnb&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Sumarsono. Pilot leader adalah Letkol Pnb Suaka Diro dengan sandi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; penerbangan “Rajawali Flight”. Pesawat pertama terbang dengan ketinggian&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; 1200 kaki, perbedaan ketinggian 50 kaki dengan pesawat beriutnya. Untuk&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; menuju titik penerjunan, pesawat mendekati sasaran dari laut dengan arah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; penerbangan 170 derajat sebelum melintas tepat diatas daerah penerjunan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Untuk melakukan koordinasi antara pesawat angkut dan pesawat yang akan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; melakukan serangan udara, “Rajaawli Flight” selalu mengadakan kontak radio&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dengan pesawat B-26 Infader.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Penerjunan sorti pertama yang dimulai pukul 07.20 waktu setempat, sangat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; mengagetkan Antonio Reisda Silva Nunes, Komandan asrama Baucau. Ia tidak&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; sempat melakukan konsolidasi dengn pasukannya, sehingga segera&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; meninggalkan Baucau. Setelah mednarat, tim pengendali tempur (Dalpur)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Detasemen B Kopasgat segera berkomunikasi lewat radio dengn pesawat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Pembom B-26 Infasder. Komunikasi ini bertujuan agar pesawat B-26, apabila&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; diperlukan,. Apabila diperlukan, dapat memberikan bantuan tembakan udara&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; yang tepat sasaran. Karena pasukan telah berhasil menguasiai keadaan,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; maka Mayr Pnb Sumarsono melaporkan bahwa saat ini pasukan darat belum&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; memerlukan bantuan tembakan.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Gugus tugas Kopasgat saat itu tersusun dalam Detasemen B berkekuatan 156&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; orang yang dipimpin oleh Kapten Psk Afendi. Kapten Psk Jack Hidayat sebagai&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; wakil, kapten Psk Budhy Santoso (Dankorpaskhas 1996 – 1998, dan sesmil&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Presiden RI 1998) sebagai Kasi Intelijen dan Operasi, apten Psk Edison siagian&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; sebagai Kasi Personel dan Logistik, Kapten Lek Rudolf Malo sebagai Komandan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Tim Pengendali Pangkalan (Dallan) dan Perwira Kopasgat yang lain dalam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Detasemen tersebut adalah Kapten Psk Wahyu Wijoyo (Wadan Korpaskhas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; 1996-1998_ serta Letda Psk Daromi (Dandepodiklat 1998-20..).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Setelah mendarat, segera diketahui bahwa lapangan Terbang baucau tidaj&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; memiliki fasilitas dukungan operasi penerbagnan yang cukup lengkap. Selain&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; itu, di pangkalan yang berlanda pacu 2.600 meter dan mampu didaratai&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Pesawat berbadan lebar sejenis DC-10 itu, ternyata tidak terdapat pesawat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; peninggalan Portugis, kecuali dua buah ciontainer berisi mesin helicopter jenis&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Aluete. Tim Dalpur dan Tim Dallan Kopasgat segera melakukan penelitian&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; terhadap fasilitas pangkalan agar segera dapat dipergunakan sebagai&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Pangkalan Udara Operasi. Kekurangan peralatan dilaporkan ke Home base,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; untuk mendapat dukungan susulan.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Setelah pendaratan, pasukan Brigade 17/ Linud Kostrad segera bergerak&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; menuju Manatuto dan Ossu. Ketika pasukan bergerak ke Pusat Latihan Militer&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Bukole, ternyata Fretelin sudah melarikann diri. Sementara itu, Lapangan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Terbang Baucau telah dapat difungsikan sebagai Pangkalan Udara Depan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Operasi dengan menggunakan peralatan Dallan Portable yang dibawa terjun,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; sehingga pada hari H+1 dengan dipandu tim Dallan, mendaratlah pesawar&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;C-130 Hercules yang diterbangkan Letkol Pnb Suakadirul sebagai Komandan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; gugus Linud. Dengan pesawat itu, didaratkan kendaraan ringan TNI AD dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; peralatan lain untuk merehabilitasi fasilitas dukungan operasi penerbangan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; termasuk senjata Triple Gun jenis Canon Orlikon kaliber 20 mm untuk&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; memperkuat pertahanan Pangkalan Udara Baucau. Triple Gun tersebut&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; ditempatkan di ujung landasan 17 dengan kekuatan 1 peleton Kopasgat.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Dengan demikian, Kopasgat di Lapangan Terbang Baucau menjadi 186 orang.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Tugas Kopasgat di sini terutama untuk merebut sasaran sasaran teknis,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; berupa fasilitas dukungan operasi penerbangan di lapangan terbang yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; diduduki musuh agar dapat dioperasikan kembali sebagai pangkalan udara&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; depan di mandala operasi. Tugas yang lain adalah mempertahankan dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; mengamankan pangkalan udara depan tersebut, berikut fasilitas dukungan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; operasi penerbangan yang ada didalamnya demikian pula tugas-tugas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pencarian dan pertolongan atau SAR Tempur.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pangkalan udara baucau di Vila Salazar telah berhasil diduduki. Dua hari&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; berturut-turut setelah itu, satu sorti C-130 Hercules dan dua sorti C-47&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Dakota mendarat. Perkuatan pasukan, senjata bantuan dan bekal ulang telah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; diturunkan. Letkol Pnb Suakadirul dengan Hercules dan dua Dakota kembali ke&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Jakarta, masing-masing dipenuhi prajurit-prajurit yang terluka untuk&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dievakuasi ke garis belakang. Beberapa hari berlalu, suasana tegang masih&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; terus mencekam, mengantisipasi kemunginan-kemungkinan datangya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; serangan balas dari pihak lawan. Musuh tercerai berai belum jelas di mana&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; titik-titik persembunyian mereka. Sementara kegiatan penerbangan semakin&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; banyak antara lain mendaratkan Brigjen TNI Suweno, Brigjen TNI Sanif, dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Kolonel Pnb Susetyo (Komandan Satgas Udara).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Kini menjadi kenyataan bahwa tumpuan udara berupa sebuah lapangan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; terbang telah berhasil dibentuk serta dikembangkan menjadi pangkalan udara&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; depan yang siap digunakan untuk mendukung rangkaian kampanye lebih&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; lanjut. Terbersit rasa syukur kala itu, ketika teringat pula kisah Pasukan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Payung yang mengagumkan yaitu Penyerbuan Normandia sekitar tahun 1944&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dalam PD II. Serbuan Normandia menggunakan ratusan pesawat Dakota C-47,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; merupakan operasi penerjunan terbesar dalam sejarah manusia. Bangga,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; memang membanggakan. Betapa tidak, pelajaran doktrin “Airborne Assault”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; yang selama ini hanya cukup terbaca dalam sejarah dan teori, telah dapat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dilaksanakan dengan sempurna. Rasa beruntung menyusupi para pelaku&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; operasi kala itu, suatu kesempatan yang teramat langka dan merupakan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; bagian dari fakta sejarah. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Bukan saja pelajaran operasi Linud yang telah dapat dipraktekkan oleh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; unsur-unsur pasukan gabungan TNI pada waktu itu. Tetapi doktrin operasi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; udara tentang “Air Head Operation” atau Operasi Pembentukan dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Pengoperasian Pangkalan Udara Depan (OP3UD) dalam strategi Bare Base&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Concept pun telah terimplementasikan dengan baik oleh unsure-unsur Satuan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Tugas Udara, justru di suatu mandala operasi yang sebenarnya, suatu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; scenario operasi gabungan linud yang nyaris sempurna.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Beberapa hari telah berlalu, ketika Kolonel Dading Kalbuadi disaksikan Mayor&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Yusman saling berpelukan dengan Letkol Sugiarto di ruang Operasi Satgas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; (kini ruang ini di base Operation Pangkalan Udara Baucau): “Tok’Panggil&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Dading kepada Sugiarto, “Kita baru saja melaksanakan satu tahapan yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; sangat sulit dari pelajaran operasi gabungan linud, yaitu Link-up Operation&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; (penggabungan)”, di pipi kedua Kolonel tersebut menetes butir-butir ari mata,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; “.. dan kita berhasil, Tok !” Kapten Psk Budhy Santoso yang menyaksikan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; waktu itu dengan serta merta meninggalkan ruangan, ia tak ingin ikut&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; meneteskan air mata walaupun merasakan getaran-getaran yang sama.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Dading Kalbuadi adalah Komandan Pendaratan Amfibi di pantai Laga 20 km&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; timur kota Baucau, bersama Tim Kopassus dan Marinir. Sebuah episode&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; penggabungan Pasukan Linud dan Pasukan Amfibi segera berakhir, kesibukan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; di pangkalan udara depan yang baru saja dibentuk di Vila Salajar terus&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; berlanjut.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Unsur Kopasgat yan tergabung dalam Satgas udara dalam kisah Vila Salazar,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; saat itu terdiri dari 186 prajurit dan diorganisasikan dalam satu Detasemen&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; yang terdiri dari Tim Pengendali Tempur, Tim Pengendali Pangkalan, Tim Sar&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Tempur, dan Tim Pertahanan Pangkalan, baik pertahanan terhadap serangan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dari darat maupun dari udara.dalam ukuran Detasemen, saat itu unsure-unsur&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Kopasgat telah terwakili dengan kekuatan yang relatif kecil, Detasemen&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; tersebut berhasil mewujudkan doktrin tertinggi pada tataran Kopasgat yaitu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; OP3UD atau “Air head Operation” menurut istilah RAF Regiment Tentara&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Inggris.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; OP3UD akan menjamin keberlanjutan operasional pesawat terbang dalam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; rangka kelangsungan kampanye secara keseluruhan. Sepanjang sejarah, Airfil&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; (lapangan terbang) selalu menjadi ajang perebutan. Vila Salazar adalh sebuah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pusat gravitasi strategis atau Strategic Center Of Graviti (SCOG) dikawasan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pulau timor bagian timur.SCOG adalah bagian yang menjadi tumpuan pusat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; gerak dan kekuatan, sehingga menentukan dominasi kawasan. Oleh karena&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; itu, dilakukannya OP3UD seperti apa yang telah terjadi adalah merupakan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; implementasi strategi yang sangat tepat, dimana didalamnya bersama satuan-&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;satuan lain, telah berperan prajurit-prajurit Kopasgat dari bumi cimariuk,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Margahayu, bandung selatan. Mereka jualah yang turut serta memberikan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; andil di Palagan dwikora tahun 1964, Trikora tahun 1962, dan “Blitzkrig” Linud&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; untuk menumpas pemberontakan PRRI/Permesta di Pekanbaru, Riau, Medan,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Sumatera Utara, Tabing di Padang sumatera Barat, serta di Morotai dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Mapanget, sulawesi Utara tahun 1958.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Selain di Vila Salazar, sebagai kelanjutan proses integrasi di Timor-Timur&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; kedalam wilayah RI, Kopasgat yang tergabung dalam operasi-operasi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; gabungan ABRI juga melaksanakan operasinya didaerah-daerah lain termasuk&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; didaerah Dili dan Atauro. Dili juga mendapat perhatian khusus dalam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pelaksanaan operasi di Timor-Timur karena disini terdapat pangkalan udara&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; yang cukup besar dan mempunyai nilai strategis sebagai Center Of Graviti di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; propinsi tersebut. Detasemen A Kopasgat yang mengoperasikan lapangan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; terbang Dili waktu itu di pimpin oleh Kapten Psk P.Silaen dengan beberapa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; perwira antara lain Kapten Psk Djoko Budiman dan Kapten Psk Nanok Suratno&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; ( dankorpaskhas 1998-).&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sementara itu, dalam peristiwa penyerahan atauro,beberapa anggota&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Kopasgat Dili yang tergabung dalam Tim Dallan dan Tim Dalpur, yaitu Serka&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Suherman (meteo) dan Sertu Jarwanto (PLLU), serta beberapa anggota lain&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; berangkat ke Atauro untuk memandu pendaratan dan pengamanan pesawat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; yang membawa Benny Moerdani, Kol Inf Subiyakto, dan Letkol Kav Alex&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Dinuth.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Operasi yang dilaksanakan dalam rangka intregasi Timor Timur ke wilayah RI&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; terus berlanjut, antara lain dengan pelaksanaan Operasi Parikesit I, Operasi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Parikesit II dan Operasi Saber Kikis Baratayudha.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Operasi Parikesit I Dilaksanakan oleh gabunagn pasukan Komando ABRI terdiri&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dari Kopasandha, Marinir dan Kopasgat yang diberangkatkan dari Pangkalan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Udara Husein Sastranegara menuju Pangkalan Udara Komoro Dili tanggal 2&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Desember 1978 dengan pesawat C-130 Hercules. Satuan tugas (satgas)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dalam operasi ini dipimpin oleh Maayor Inf Sitorus (Kopassus) sebagai&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Komandan dan mayor Mar Tatang S. (Marinir) sebagai Wakil. Kasi-kasi masing-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; masing dijabat oleh Kapten Psk Chairuddin M. (Kopasgat), Kapten Inf Yudomo&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; S (Kopassus) dan Kapten Inf Adeng (Kopassus).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Satgas dibagi dalam 3 kompi, yaitu Kompi Banteng (Kopassus), Kompi Baruna&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; (Marinir) dan Kompi Bronco (Kopasgat). Anggota kopasgat yang tergabung&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;dalam kompi bronco dipimpin oleh lettu psk suyitno dan komandan komandan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pletonnya masing masing ialah letda psk john ferry Rumawantin,Capa man&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Erawan dan Capa Budi Waloya.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Mereka semula mendapat tugas untuk menghancurkan GPK di daerah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; peguungan Matabean. Namun,karena daerah tersebut sudah dapat dikuasai&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; terlebih dahulu oleh satuan TNI yang lain,maka tugas dialihkan untuk&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; mengejar para tokoh GPK yaitu Nicolau lobato,Antonio Korvarino dan lain&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; lain.Akhirnya, bersama sama satuan lain,para tokoh GPK tersebut dapat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dihancurkan.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Operasi ini dilaksanakan sampai tanggal 26 Maret 1979.Anggota yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; trgabung dalam stgas ini kemudaian dikembalikan ke satuan masing masing.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Kopasgat kembali dari pangkalan Baucau ke husein sastranegara bandung.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Operasi selanjutnya adalah operasi Parikesit II yang merupakan kelanjutan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dari operasi Parikesit I dan diberangkatkan dari pangalan Udara Husein&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Sastranegara ke Baucau.operasi ini juga dilaksanakan oleh Satgas gabungan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pasuan komando yag terdiri dari Kopasandha, marinir, dan Kopasgat.Satgas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dipimpin oleh Mayor Inf Sunarto (Kopassus) sebagai komadan dan Mayor inf&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; mar boy Malonda (marinir) sebagai Wakil Komandan.Saat itu, Kpten Psk&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Siagian (Kopasgat) menjabat sebagai kasi Personel danLettu Psk Hasibuan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; (Kopasgat) menjabat sebagai Komandan kompi Bronco.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Seperti pada operasi operasi parikesut I, Satgas dalam operasi ini juga dibagi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dalam tiga kompi, yitu kompi Banteng (Kopasandha), kompi Baruna (marinir),&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dan kompi Bronco (Kopasgat).Kompi Banteng bertugas di sektor Barat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; sedangkan Kompi Baruna dan Kompi Bronco bertugas di sektor Timur. Anggota&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Kopasgat yang tergabung dalam Kompi Bronco berasal dari Batalyon 461 dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; 465 Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Modus operasi ini sama dengan operasi Parikesit I, yaitu mengadakan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pengejaran dan penghancuran terhadap GPK yang masih bersembunyi di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; gunung dan di hutan. Setelah melaksanakan manuver selama dua bulan,Kompi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Banteng yang berada di Sektor Barat ditarik untuk bergabung kembali dengan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; kompi Baruna dan Kompi Bronco yang berada disektor Timur,sebab di Sektor&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Barat sudah dianggap aman. Selanjutnya, mereka terus bergerak sehingga&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; banyak GPK yang berhasil ditangkap dan ditembak mati,Prajuri prajurit&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;berusaha semaksimal mungkin dan tabah dalam menghadapi keadaan cuaca,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; medan yang berat, GPK yang sulit diketahui tempat persembunyiaannya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Melihat usaha tersebut, Kapten Psk siagan selaku Kasi Personel melalui&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Komandan Satgas mengajukan permohonan Kenaikan Pangkat Luar Biasa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; (KPLB) terutama bagi prajurit-prajurit yang berpangkat Kopral agar dapat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; menjadi sersan kepada Menhankam/Pangab Jendral TNI M.Yusuf. Ternyata&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; permohonan disetujui dan dikabulkan, sehingga para prajurit yang berpangkat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Kopral menjadi Sersan.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Operasi dilaksanakan selama empat setengah bulan, yaitu sejak bulan Maret&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; 1979 sampai dengan pertengahan bulan juli 1979. setelah selesai&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; melaksanakan tugas, anggota kopasgat yang tergabung dalam operasi ini&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dikembalikan ke Jakarta dan sebagian ke Bogor serta ke Husein Sastra Negara.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Opersi operasi dalam rangka integrasi Timor Timur kedalam wilayah RI terus&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; berlanjut. Bahkan dilaksanakan juga latihan gabungan (latgab) TNI di daerah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Kupang, Viqueque, Los Palos, dan sekitarnya. Latihan terebut dilaksanakan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dalam rangkaian persiapan operasi operasi selanjutnya, Seteah Latgab TNI,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Selanjutnya diadakan operasi Saber Kikis Baratayudha yang dilaksanakan oleh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; gabungan 12 batalyon TNI. Melalui permohonan Mayor Psk Pakki Malik&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; (sekarang, Marsda TNI) selaku Komandan dan dikabulkan oleh Menhankam/&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Pangab jendral TNI M. Yusuf, akhirnya Kopasgat terlibat penuh dalam operasi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; tersebut bersama satuan lain.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Personel Kopasgat yang tergabung dalam operasi ini berjumlah 590 orang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dibagi dalam 1 Markas Batalyon, 1 kompi markas, dan 4 Kompi tempur. Wakil&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Komandan saat itu dijabat oleh Mayor Psk Herman Tjokro, Kasi Opersi dijabat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; oleh Kapten Psk Muyanto, Komandan Kompi markas dijabat oleh Kapten Psk&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Yassin Mamora. Sedangkan empat Kompi Tempur yaitu Kompi Alpa dipimpin&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; oleh Lettu Psk Hendarto, Kompi Beta dipimpin Lettu Psk Torar, Kompi Charli&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dipimpin Lettu Psk Jumiran, dan Kompi Delta dipimpin oleh Lettu Psk Harry&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Budiono.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pada bulan bulan pertama, Mereka bergerak dengan Perbekalan yang ada&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; karena belum mendapat dukungan dari Mabes TNI. Walau dalam kondisi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; demikian. Mereka terus bergarak dibawah pimpinan Mayor Psk Pakki&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Malik.tetapi pada bulan bulan berikutnya, pimpinam digantikan oleh Mayor Psk&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Herman Tjokro karena kondisi kesehatan Mayor Psk Pakki Malik tidak&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; memungkinkan. Mayor Psk Herman Tjokro menggantikan jabatan komandan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Batalyon sedangkan jabatan Wakil Ko\Mandan dijabat oleh Kapten Psk John&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; F. Pangau yang menyusul dari Batalyon 464 Malang beserta 21 anggotanya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Untuk meningkatkan efektifitas dari efisiensi, selanjutnya pasukan bergerak&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; bukan dalam hubungan Kompi, Melainkan dalam hubungan Tim. Para perwira&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; yang ikut manuver dalam tugas ini yaitu Letda Psk Makruf, Letda Psk Tedy&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; SP,l Letda Psk Sunaryo, Letda Psk Kateno, Letda Psk Edi, dan lain lain.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Disamping operasi Tempur, Operasi Teritorial dinilai berhasil. Hal ini terbukti,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Rakyat Timor Timur yang berjumlah kurang lebih 33.000 orang mau bergabung&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dan membantu TNI saat itu. Rakyat bersama sama TNI menumpas GPK&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dengan cara membentuk formasi berjajar seperti pagar betis untuk menggiring&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; GPK dari 2 arah yang berlawanan agar GPK masuk killing Ground (daerah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; penghancuran). Saat itu, Kopasgat yangf semula bergerak dala hubungan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; kecil diubah lagi menjadi hubungan besar bersama sama 5 batalyon satuan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; lain dan sekitarnya 5.000 rakyat bergerak mengguring GPK dari daerah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Dirimurni ke Killing ground. Sementara itu,6 Batalyon dari satuan lainnya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; bersama sama rakyat, bergerak dari daerah Dili ke Killing Ground. Bagaika&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; gelombang lautan, mereka bergerk menghancurkan setiap GPK yang ditemui.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Akhinya, sebagian besar GPK dapat digiring ke daerah penghancuran yaitu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; didaerah Aitana Kompleks.daerah ini berupa lembah temoat persembunyian&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; para GPK. Karena strategi yang digunakan dengan cara berjajar seperti pagar&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; betis dan bergerak maju serentak, maka cara dikenal juga dengan operasi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Pagar Betis.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Setelah itu, operasi masih dilanjutkan karenaternyata masih ada GPK yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; sempat lolos dan diduga masuk ke daerah Outo Karboa dan pegunungan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Matabean. Maka, Kopasgat yang tergabung dalm Kompi bentukan baru yaitu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Kompi belang pimpinan Lettu Psk Harry budiono bergerak lagi ke daerah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; daerah tersebut dengan cara Airlift.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Operasi dilaksanakan 11 bulan, yaitu sejak akhir Maret 1981 sampai dengan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; akhir Pebruari 1982. Setelah operasi selesai, anggota Kopagat dari Batalyon&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; 464 dikembalikan ke Malang dan 1 Peton dari Batalyon 463 dikembalikan ke&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Madiun. Mereka bertolak dari laga enuju Surabaya dengan kapal Laut,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; selanjutnya ditampung di Ksatrian AL selama 4 hari. Setelah itu, baru mereka&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; dikembalikan ke Satuan masing masing.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pada tahun 1998 Korp Paskhas mengirim kompi Pemburu ke Timor Timur&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; bersama satuan satuan lain yaitu Kopassus, Marinir, Kostrad, Brimob, kodam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; kodam yang tergabung dalam Rajawali !V/Garuda I. Kompi dari Paskhas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; berjumlah 127 personel dan dipimpin olh Kapten Psk Roland Waha.Pra Tugas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; selama 3 bulan di group 3 Kopassus (Mei – Juli 1998), Selnjutnya mmereka&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; melanjutkan tugas Operasi selama 11 bulan (Agustus 1998 – Juni 1999).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Selama bertugas di Timor Timur, Kopasgat juga melksanakan kegiatan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Teritorial yang sangat menunjang keberhasilan Operasi. Kehadiran Kopasgat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; selama berlangasungnya Operasi di Timor Timur telah dapat menjalin tali batin&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; sehingga mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat setempat.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dari buku Baret Jingga Edisi Pertama&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sumber :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;www.angkasa-online.com&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2991544&amp;amp;page=3&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3142861121075504619-812340500608680326?l=weaponstechnology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/feeds/812340500608680326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/07/serbuan-pasukan-lintas-udara-di-dilli.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/812340500608680326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/812340500608680326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/07/serbuan-pasukan-lintas-udara-di-dilli.html' title='SERBUAN PASUKAN LINTAS UDARA DI DILLI 1975'/><author><name>WEAPONS TECHNOLOGY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06988874767614887444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://3.bp.blogspot.com/_LpXMzejbcjI/S6DRcp3u0AI/AAAAAAAAAAM/lttrJgF_BMM/S220/PAK+FA+T+50+7.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-f3Hk7reW9Vk/ThOmUaercnI/AAAAAAAACRM/G0D9G66-cl4/s72-c/B26AURI-480x245.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3142861121075504619.post-9209724676550313597</id><published>2011-06-29T00:55:00.000-07:00</published><updated>2011-07-18T06:27:08.982-07:00</updated><title type='text'>HISTORY OF INDONESIAN AIR FORCE PART III : KOPASKHAS TNI AU</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-V1ROcU08e7o/Tg8oS1qRrCI/AAAAAAAACN0/omhbpzBMb4U/s1600/251149_10150217429714222_763314221_6905740_4089385_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Markas Mako Korpaskhasau, Margahayu, Bandung&lt;br /&gt;Kekuatan 5.732 orang&lt;br /&gt;Persenjataan QW-3, DSHK 12,7 mm, SS-1/SS-2, MP5, M16 A3 Commando, SAR-21,Sniper SIG SHR 970 Tactical Rifle,Sniper SIG Sauer SSG 3000, Countersniper FN Hecate II, Pistol Glock 17C dan 19C&lt;br /&gt;Spesialis Operasi pembentukan dan pengoperasian pangkalan udara depan&lt;br /&gt;Dibentuk 17 Oktober 1947&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (disingkat Korpaskhasau, Paskhas atau sebutan lainnya Baret Jingga), merupakan pasukan (khusus) yang dimiliki TNI-AU. Paskhas merupakan satuan tempur darat berkemampuan tiga matra, yaitu laut, darat, udara. Dalam operasinya, tugas dan tanggungjawab Paskhas lebih ditujukan untuk merebut dan mempertahankan pangkalan udara dari serangan musuh, untuk selanjutnya menyiapkan bagi pendaratan pesawat kawan. Kemampuan ini disebut dengan Operasi Pembentukan dan Pengoperasian Pangkalan Udara Depan (OP3UD).[1] Setiap prajurit Paskhas diharuskan minimal memiliki kualifikasi para-komando (parako) untuk dapat melaksanakan tugas secara profesional, kemudian ditambahkan kemampuan khusus kematraudaraan sesuai dengan spesialisasinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-RlPQgZLynCQ/Tg8NsHCuWmI/AAAAAAAACNg/Z-eETR5UKJU/s1600/155587_476522849221_763314221_5407408_528916_n.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://4.bp.blogspot.com/-RlPQgZLynCQ/Tg8NsHCuWmI/AAAAAAAACNg/Z-eETR5UKJU/s640/155587_476522849221_763314221_5407408_528916_n.jpg" width="488" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Baju seragan pasukan PGT, Kopasgat, dan Paskhas&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Warna baret jingga Paskhas terinspirasi dari cahaya jingga saat fajar di daerah Margahayu, Bandung, yaitu tempat pasukan komando ini dilatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motto&lt;br /&gt;Motto Paskhas ialah "Karmaye Vadikarate Mafalesu Kadatjana", yang artinya bekerja tanpa menghitung untung dan rugi.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden RI pertama Ir. Sukarno, pada malam ”tirakatan” hari Bhakti AURI di Istana Negara tanggal 30 Juli 1964, memberikan ungkapan ini secara langsung untuk memotivasi personil AURI. Sukarno menyitirnya dari kalimat termasyhur pada Sangkahya-yoga kitab Bhagawadgita, sloka 2.47, yang lengkapnya berbunyi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; "karmaṇy evādhikāras te&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mā phaleṣu kadācana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mā karma-phala-hetur bhūr&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mā te sańgo 'stv akarmaṇi." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arti setiap kata Sangkahya-yoga tersebut adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; karmaṇi = "dalam tugas yang ditentukan"&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; eva = "pasti"&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; adhikāraḥ = "benar"&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; te = "dari kamu"&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mā = "tidak akan pernah"&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; phaleṣu = "dalam buah" (hasil)&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kadācana = "pada saat mana pun"&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; karma-phala = "dalam hasil pekerjaanmu"&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; hetuḥ = "sebab"&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bhūḥ = "menjadi"&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sańgaḥ = "keterikatan"&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; astu = " seharusnya ada"&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; akarmaṇi = "dalam tidak melakukan tugas yang ditentukan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, motto Korps khas bisa dipahami sebagai berarti :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu berhak melakukan tugas yang ditentukan, tetapi tidak berhak atas hasil kelakuanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah&lt;br /&gt;Penerjunan pasukan pertama kali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubernur Kalimantan Ir. Pangeran Muhammad Noor mengajukan permintaan kepada AURI agar mengirimkan pasukan payung ke Kalimantan untuk tugas membentuk dan menyusun gerilyawan, membantu perjuangan rakyat di Kalimantan, membuka stasiun radio induk untuk memungkinkan hubungan antara Yogyakarta dan Kalimantan, dan mengusahakan serta menyempurnakan daerah penerjunan (dropping zone) untuk penerjunan selanjutnya. Atas inisiatif Komodor (U) Suryadi Suryadarma kemudian dipilih 12 orang putra asli Kalimantan dan 2 orang PHB AURI untuk melakukan penerjunan.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 17 Oktober 1947, tiga belas orang anggota berhasil diterjunkan di Sambi, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Mereka adalah Heri Hadi Sumantri (montir radio AURI asal Semarang), FM Suyoto (juru radio AURI asal Ponorogo), Iskandar (pimpinan pasukan), Ahmad Kosasih, Bachri, J. Bitak, C. Williem, Imanuel, Amirudin, Ali Akbar, M. Dahlan, JH. Darius, dan Marawi. Semuanya belum pernah mendapat pendidikan secara sempurna kecuali mendapatkan pelajaran teori dan latihan di darat (ground training). Seorang lagi yaitu Jamhani batal terjun karena takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka diterjunkan dari pesawat C-47 Dakota RI-002 yang diterbangkan oleh Bob Freeberg yang berkebangsaan Inggris sekaligus sebagai pemilik pesawat, ko-pilot Opsir (U) III Suhodo, dan jump master Opsir Muda (U) III Amir Hamzah. Bertindak sebagai penunjuk daerah penerjunan adalah Mayor (U) Cilik Riwut yang putra asli Kalimantan. Ini adalah operasi lintas udara pertama dalam sejarah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan ini awalnya akan diterjunkan di Sepanbiha, Kalimantan Selatan namun akibat cuaca yang buruk dan kontur daerah Kalimantan yang berhutan lebat mengakibatkan Mayor (U) Cilik Riwut kebingungan saat memprediksi tempat penerjunan. Setelah bergerilya di dalam hutan pada tanggal 23 November 1947, pasukan ini disergap tentara Belanda akibat pengkhianatan seorang kepala desa setempat, yang mengakibatkan gugurnya Heri Hadi Sumantri, Iskandar, dan Ahmad Kosasih. Sedangkan yang lainnya berhasil lolos namun akhirnya setelah beberapa bulan mereka berhasil juga ditangkap Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengadilan, Belanda tidak dapat membuktikan bahwa mereka adalah pasukan payung dan akhirnya mereka dihukum sebagai seorang kriminal biasa. Mereka dibebaskan setelah menjalani hukuman 1 tahun dan langsung diangkat menjadi anggota AURI oleh Komodor (U) Suryadi Suryadarma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa Penerjunan yang dilakukan oleh ke tiga belas prajurit AURI tersebut merupakan peristiwa yang menandai lahirnya satuan tempur pasukan khas TNI Angkatan Udara. Tanggal 17 Oktober 1947 kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) yang sekarang dikenal dengan Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (Korpaskhas).[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP)&lt;br /&gt;Pada masa awal kemerdekaan, dalam konsolidasi organisasi Badan Keamanan Rakyat Oedara (BKRO) membentuk Organisasi Darat yaitu Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP). PPP dibutuhkan untuk melindungi pangkalan-pangkalan udara yang telah direbut dari tentara Jepang terhadap serangan Belanda yang pada waktu itu ingin kembali menduduki wilayah Republik Indonesia. Pimpinan BKR saat itu baik Letjen Soedirman maupun Komodor (U) Suryadi Suryadarma berpendapat bahwa Belanda pasti akan menyerang ibukota RI di Yogyakarta lewat udara. PPP saat itu masih bersifat lokal, yang dibentuk di pangkalan-pangkalan udara seperti di Pangkalan Udara Bugis (Malang), Maospati (Madiun), Mojoagung (Surabaya), Panasan (Solo), Maguwo (Yogyakarta), Cibeureum (Tasikmalaya), Kalijati (Subang), Pamengpeuk (Garut), Andir dan Margahayu (Bandung), Cililitan dan Kemayoran (Jakarta) dan pangkalan-pangkalan udara diluar pulau Jawa seperti Talang Batutu (Palembang), Tabing (Padang) dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agresi Militer I dan II Belanda&lt;br /&gt;PPP sangat berperan saat terjadi Agresi Militer I dan Agresi Militer II, ketika hampir seluruh pangkalan udara mendapat serangan dari tentara Belanda, baik dari darat maupun dari udara. Serangan besar-besaran dilancarkan oleh Belanda pada tanggal 19 Desember 1948 terhadap Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta. Belanda mengerahkan pesawat P-51 Mustang, P-40 Kitty Hawk dan pembom B-25/B-26. Selain itu diterjunkan dari pesawat C-47 Dakota sekitar 600 pasukan payung gabungan dari trup tempur Para-1 pimpinan Kapten Eekhout. Pasukan payung ini merupakan bagian dari Tijger Brigade/Divisi B (termasuk di dalamnya satuan Anjing NICA yang terkenal ganas serta brutal) pimpinan Kolonel Van Langen yang diperintahkan untuk menguasai Yogyakarta. Brigade ini masih ditambah satuan elit gabungan pasukan darat dan udara grup tempur M. Di Maguwo grup tempur M menerjunkan 2 kompi pasukan para komando Korps Spesiale Troepen (KST) yang merupakan penggabungan dari baret merah dan hijau Belanda pada November 1948.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu PPP bersama kekuatan udara lainnya berusaha mempertahankan pangkalan. Maguwo dipertahankan oleh 150 pasukan PPP dan 34 teknisi AURI pimpinan Kadet Kasmiran. Dalam pertempuran tidak seimbang ini, gugur 71 personil AURI termasuk Kadet Kasmiran dan 25 orang lainnya yang tidak dikenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerjunan pertama di Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPP inilah yang merupakan cikal bakal dari Pasukan Payung (pasukan berparasut) setelah pada tanggal 12 Februari 1946 melakukan percobaan latihan penerjunan yang pertama kali di Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta dengan menggunakan payung (parasut) dan pesawat terbang peninggalan Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerjunan pertama yang semuanya dilaksanakan oleh 3 orang Indonesia baik penerbangnya maupun penerjunnya, berlangsung menggunakan tiga buah pesawat Churen. Penerbang Adisucipto menerjunkan Amir Hamzah, penerbang Iswahyudi menerjunkan Legino dan penerbang M. Suhodo menerjunkan Pungut. Penerjunan pertama di alam Indonesia merdeka yang berlangsung di Pangkalan Udara Maguwo tersebut disaksikan oleh Kepala Staf BKRO Komodor (U) Suryadi Suryadarma dan Panglima Besar Letjen Sudirman serta petinggi BKR lainnya. Penerjunan yang dilaksanakan pada ketinggian 700 meter, sebagai pengawas kesehatannya adalah Dr. Esnawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerjunan kedua diadakan di Pangkalan Udara Maguwo tanggal 8 Maret 1947 pada saat wing day yang merupakan terjun bebas (free fall) pertama di Indonesia dilakukan oleh Opsir Udara I Soedjono dan Opsir Muda Udara I Soekotjo dengan penerbang Gunadi dan Adisucipto. Penerjunan ini disaksikan oleh Presiden Sukarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, para petinggi BKR serta masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 24 Maret 1947, kembali dilaksanakan penerjunan oleh Soedjono dan Soekotjo dalam rangka peresmian Pangkalan Udara Gadut di Bukittinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air Base Defence Troop (ABDT)&lt;br /&gt;Selanjutnya sejak tahun 1950, Pasukan Payung yang saat itu masih bernama PPP berpusat di Jakarta dan mendapat sebutan Air Base Defence Troop (ABDT). Pasukan membawahi 8 kompi dan dipimpin oleh Kapten (U) RHA Wiriadinata dengan wakilnya Letnan I (U) R Soeprantijo. Kemudian pada pertengahan tahun 1950, dibentuk Inspektorat Pasukan Pertahanan Pangkalan (IPP) yang bermarkas di jalan Sabang, Jakarta, yang pada bulan April 1952 dipindahkan ke Pangkalan Udara Cililitan, Jakarta Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1950 juga diadakan Sekolah Terjun Payung (Sekolah Para) yang diikuti oleh para prajurit, dalam rangka pembentukan Pasukan Para AURI. Sekolah Para ini dibuka di Pangkalan Udara Andir Bandung, sebagai kelanjutan dari embrio Sekolah Para di Maguwo. Hasil didik dari Sekolah Para inilah yang kemudian disusun dalam Kompi-Kompi Pasukan Gerak Tjepat (PGT) yang dibentuk pada bulan Februari 1952, dengan Kapten (U) RHA Wiriadinata sebagai komandannya yang saat itu juga merangkap sebagai Komandan Pangkalan Udara Andir di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1950-an, Pasukan AURI terdiri dari PPP, PGT dan PSU (Penangkis Serangan Udara) yang kekuatannya terdiri dari 11 Kompi Berdiri Sendiri (BS), 8 Pleton BS dan 1 Battery PSU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resimen Tim Pertempuran PGT (RTP-PGT)&lt;br /&gt;Selanjutnya pada Tahun 1960-an PGT juga ditugaskan dalam rangka operasi pembebasan Irian Barat (Papua) yang berdasarkan perintah Men/Pangau, maka dibentuklah Resimen Tim Pertempuran PGT (RTP PGT) yang bermarkas di Bandung dan Kapten (U) Sugiri Sukani sebagai komandannya. RTP PGT membawahi 2 Batalyon PGT yaitu Batalyon A PGT yang dipimpin oleh Kapten (U) Z. Rachiman dan Batalyon B PGT yang dipimpin oleh Kapten (U) JO. Palendeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komodor (U) RHA Wiriadinata adalah komandan PGT pertama (1952) yang banyak membawa perkembangan terhadap pasukan payung di Indonesia, terutama dalam tubuh AURI. Konsep PGT sejak awal mulanya memang tertuju pada kemampuan para dan komando. Ia juga pernah menjadi Panglima Gabungan Pendidikan Paratroops (KOGABDIK PARA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa pemerintahan Orde Lama, PGT AURI bersama KKO (Marinir) dikenal loyal dan setia terhadap Presiden Sukarno. Kedua pasukan elit ini bahkan dianggap menjadi anak emasnya Presiden Soekarno. Hingga saat detik-detik kejatuhan Presiden Sukarno, kedua pasukan ini tetap menunjukkan kesetiaannya pada Sang Proklamator tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komando Pertahanan Pangkalan Angkatan Udara (KOPPAU)&lt;br /&gt;Pada tanggal 15 Oktober 1962, berdasarkan Keputusan Men/Pangau Nomor : 195 dibentuklah Komando Pertahanan Pangkalan Angkatan Udara (KOPPAU). Panglima KOPPAU dirangkap oleh Men/Pangau dan sebagai wakilnya ditetapkan Komodor (U) RHA Wiriadinata. KOPPAU terdiri dari Markas Komando (Mako) berkedudukan di Bandung, Resimen PPP di Jakarta dan Resimen PGT di Bandung. Resimen PPP membawahi 5 Batalyon yang berkedudukan di Jakarta, Banjarmasin, Makassar, Biak dan Palembang (kemudian pindah ke Medan). Resimen PGT terdiri dari 3 Batalyon, yaitu Batalyon I PGT (merupakan Batalyon III Kawal Kehormatan Resimen Cakra Bhirawa) berkedudukan di Bogor, Batalyon II PGT di Jakarta dan Batalyon III PGT di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Surat keputusan Men/Pangau Nomor : III/PERS/MKS/1963 tanggal 22 Mei 1963, maka pada tanggal 9 April 1963 Komodor (U) RHA Wiriadinata dikukuhkan menjadi Panglima KOPPAU dan menjabat selama 1 tahun. Kemudian pada tahun 1964 digantikan oleh Komodor (U) Ramli Sumardi sampai dengan tahun 1966.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOPASGAT&lt;br /&gt;Bedasarkan hasil seminar pasukan di Bandung pada tanggal 11 s.d. 16 April 1966, sesuai dengan Keputusan MEN/PANGAU No. 45 Tahun 1966, tanggal 17 Mei 1966, KOPPAU disahkan menjadi Komando Pasukan Gerak Tjepat (Kopasgat) yang terdiri dari 3 Resimen :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Resimen I Pasgat di Bandung, membawahi :&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Batalyon A Pasgat di Bogor&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Batalyon B Pasgat di Bandung&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Resimen II Pasgat di Jakarta, membawahi :&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Batalyon A Pasgat di Jakarta&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Batalyon B Pasgat di Jakarta&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Batalyon C Pasgat di Medan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Batalyon D Pasgat di Banjarmasin&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Resimen III Pasgat di Surabaya, membawahi :&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Batalyon A Pasgat di Makassar&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Batalyon B Pasgat di Madiun&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Batalyon C Pasgat di Surabaya&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Batalyon D Pasgat di Biak&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Batalyon E Pasgat di Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya bedasarkan Keputusan KASAU No. 57 Tanggal 1 Juli 1970, "Resimen" diganti menjadi "Wing"'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era nama Kopasgat lah, korps baret jingga ini sangat terkenal. Bahkan PDL Sus Kopasgat bermotif macan tutul menjadi acuan pemakaian PDL TNI saat operasi Seroja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat operasi pembebasan sandera pesawat DC-9 Woyla milik Garuda Indonesia di Bandara Don Muang Thailand tahun 1981 sesungguhnya Kopasgat-lah yang dipersiapkan untuk beraksi namun akibat berbagai tekanan politik Orde Baru saat itu akhirnya Kopassus yang diberangkatkan ke Bangkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUSPASKHASAU&lt;br /&gt;Sejalan dengan dinamika penyempurnaan organisasi dan pemantapan satuan-satuan TNI, maka berdasarkan Keputusan KASAU No. Kep/22/III/ 1985 tanggal 11 Maret 1985, Kopasgat berubah menjadi Pusat Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (PUSPASKHASAU)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KORPASKHASAU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan penyempurnaan organisasi TNI dan TNI Angkatan Udara, maka tanggal 17 Juli 1997 sesuai Skep PANGAB No. SKEP/09/VII/1997, status Puspaskhas ditingkatkan dari Badan Pelaksana Pusat menjadi Komando Utama Pembinaan (Kotamabin) sehingga sebutan PUSPASKHAS berubah menjadi Korps Pasukan Khas TNI AU (KORPASKHASAU).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualifikasi&lt;br /&gt;Paskhas TNI-AU sebagai pasukan khusus Angkatan Udara satu-satunya dan berkualifikasi terlengkap didunia ini memiliki berbagai kemampuan tempur khas matra udara seperti Pengendali Tempur (Dalpur), Pengendali Pangkalan (Dallan), SAR Tempur, Jumping Master, Pertahanan Pangkalan yang meliputi pertahanan horizontal (Hanhor) dan pertahanan vertikal (Hanver), Penangkis Serangan Udara, jungle warfare, Air Assault (Mobud), Raid operation hingga kemampuan anti teror aspek udara atau yang dikenal sebagai ATBARA (Anti Pembajakan Udara). Selain itu Paskhas TNI-AU juga mahir untuk bertempur di hutan, perkotaan,laut maupun pantai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-V1ROcU08e7o/Tg8oS1qRrCI/AAAAAAAACN0/omhbpzBMb4U/s1600/251149_10150217429714222_763314221_6905740_4089385_n.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-V1ROcU08e7o/Tg8oS1qRrCI/AAAAAAAACN0/omhbpzBMb4U/s400/251149_10150217429714222_763314221_6905740_4089385_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-V1ROcU08e7o/Tg8oS1qRrCI/AAAAAAAACN0/omhbpzBMb4U/s1600/251149_10150217429714222_763314221_6905740_4089385_n.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-kk0mhSrxos4/Tg8oQYp3EsI/AAAAAAAACNw/BwdgB4bE32I/s1600/251149_10150217429719222_763314221_6905741_307896_n.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-kk0mhSrxos4/Tg8oQYp3EsI/AAAAAAAACNw/BwdgB4bE32I/s400/251149_10150217429719222_763314221_6905741_307896_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pasukan Khas TNI AU sedang melaksanakan latihan SAR &lt;/span&gt;tempur&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Paskhas TNI-AU juga memiliki kemampuan spesialisasi kematraudaraan untuk melaksanakan doktrin OP3UD seperti Pengaturan Lalu-Lintas Udara (PLLU), Meteo, Komunikasi-Elektronika (Komlek), Perminyakan (Permi), Zeni lapangan (termasuk pionir, tali-temali, dll), Intelijen Tempur, Kesehatan, ground handling, Pemadam Kebakaran (PK), Angkutan, Perhubungan (PHB) hingga kemampuan khusus untuk menginformasikan tentang fasilitas penerbangan sebelum pesawat datang, jarak pandang (visibility), kecepatan dan arah angin, suhu dan kelembaban udara, serta ketinggian dan jenis awan. Hal ini sangat berkaitan dalam menentukan penembakan sasaran maupun penerjunan pasukan, dan membantu mengendalikan pesawat tempur untuk penembakan/pengeboman sasaran (Ground Forward Air Control/GFAC)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak main-main, para personil Paskhas juga memiliki kemampuan khusus sebagai Air Traffic Controller (ATC) di sebuah bandara. Memang tidak ada satupun pasukan komando seperti Paskhas didunia saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Paskhas merupakan pasukan komando, maka dalam melaksanakan operasi tempur, jumlah personel yang terlibat relatif sedikit, tidak sebanyak jumlah personel infanteri/pasukan reguler dengan kata lain jarang menggunakan ukuran konvensional mulai dari peleton hingga batalyon. Paskhas jarang sekali (mungkin tidak pernah) melakukan operasi dengan melibatkan kekuatan satu batalyon sekaligus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-dtUHA8KAVRw/Tg8oOIesYwI/AAAAAAAACNs/UDh3HFCspng/s1600/251149_10150217429729222_763314221_6905743_435917_n.jpg"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://4.bp.blogspot.com/-dtUHA8KAVRw/Tg8oOIesYwI/AAAAAAAACNs/UDh3HFCspng/s400/251149_10150217429729222_763314221_6905743_435917_n.jpg" width="480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-mIrGaOsy0kw/Tg8oVHR9SzI/AAAAAAAACN4/qx9BRBU2IOI/s1600/251149_10150217429709222_763314221_6905739_260113_n.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-mIrGaOsy0kw/Tg8oVHR9SzI/AAAAAAAACN4/qx9BRBU2IOI/s400/251149_10150217429709222_763314221_6905739_260113_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-vxRaAPO56DA/Tg8oMeZB45I/AAAAAAAACNo/fRuwEBtSwQg/s1600/247090_10150217431054222_763314221_6905750_6907644_n.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-vxRaAPO56DA/Tg8oMeZB45I/AAAAAAAACNo/fRuwEBtSwQg/s400/247090_10150217431054222_763314221_6905750_6907644_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pasukan Khas TNI AU saat menggelar operasi di medan pertempuran&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-HD8i6s5MOJY/TiQw152dyoI/AAAAAAAACZQ/N4LrNMJFxVI/s1600/ov10jumpers.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="309" src="http://1.bp.blogspot.com/-HD8i6s5MOJY/TiQw152dyoI/AAAAAAAACZQ/N4LrNMJFxVI/s400/ov10jumpers.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Organisasi pasukan&lt;br /&gt;Setelah berubah status menjadi Kotamabin berdasarkan Surat Keputusan Kepala Staf TNI Angkatan Udara No. SKEP/73/III/1999 tanggal 24 Maret 1999, Korpaskhas membawahi WING Paskhas (WING I, WING II, WING III), Detasemen Bravo Paskhas (Den Bravo Paskhas) dan Detasemen Kawal Protokol Paskhas (Den Walkol Paskhas). Saat ini Denwalkol berdasarkan Instruksi Kepala Staf Angkatan Udara nomor : Ins/2/III/2008 tanggal 31 Maret 2008 telah beralih pembinaannya dari Korpaskhas kepada Denma Mabes-AU, sehingga efektif mulai tanggal dikeluarkan Instruksi tersebut pembinaan Kawal Protokol dibawah Denma Mabesau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hirarki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korps Pasukan Khas TNI-AU adalah satu satunya wadah berbentuk korps bagi pasukan berkualifikasi khusus di TNI-AU bahkan dalam TNI. Korpaskhasau bersanding dengan Kopassus TNI AD adalah Pasukan khusus berstatus KOMANDO resmi yang dimiliki oleh TNI. Hal ini karena 2 organisasi pasukan khusus ini bersifat (KOTAMA) BERDIRI SENDIRI dengan pelatihan dan kemampuan serang yang sangat lethal secara individual. Paskhas lahir sebagai pasukan komando sejak masa kelahirannya. Mereka diterjunkan dengan unit kecil di belakang garis pertahanan lawan dan langsung menusuk jantung pertahanan musuh. Maka itulah para personel pasukan payung ini dididik dengan metode komando yang diadopsi dari SAS Inggris (melalui pendidikan di Pusdik RPKAD). Metode pendidikan komando “ala baret merah” mulai dilakukan di Wing III Diklat sejak Paskhas masih bernama KOPPAU. Personil Paskhas juga diperkenankan tetap memakai baret jingga kebanggaannya dan PDH Komando saat mengikuti berbagai upacara resmi kenegaraan.Korpaskhasau memakai sebutan “Pasukan” untuk jargon korps nya disingkat (Psk).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur pasukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Wing I/Harda Marutha (Para Komando) di Jakarta, membawahi :&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Batalyon 461/Cakra Bhaskara Jakarta&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Batalyon 462/Pulanggeni Riau&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Batalyon 465/Brajamusti Pontianak&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Batalyon 467 Harda Dedali Jakarta&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kompi A Berdiri Sendiri di Medan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kompi B Berdiri Sendiri di Subang&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kompi G Berdiri Sendiri di Lhokseumawe&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kompi H Berdiri Sendiri di Banda Aceh&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Wing II/Harda Marutha [Para Komando] di Malang, membawahi :&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Batalyon 463 Trisula di Madiun&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Batalyon 464 Nanggala di Malang&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Batalyon 466 Pasopati di Makasar&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Batalyon 468 Sarotama di Biak&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kompi D Berdiri Sendiri di Kupang&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kompi E Berdiri Sendiri di Yogyakarta&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Wing III Diklat Paskhas Pusdik Pasukan Khas di Margahayu Bandung, membawahi :&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Satdik Tempur Darat&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Satdik Matra/PSU&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Satdik Khusus&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Detasemen Bravo 90 di Rumpin, Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai Peraturan Kasau /53/VIII/2008 tertanggal 13 Agustus 2008 tentang Penyempurnaan Pokok-Pokok Organisasi dan Prosedur Korps Paskhas TNI AU, maka penyebutan "skadron" diubah menjadi "batalyon", "flight" menjadi "kompi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengabdian Paskhas terus berlanjut seiring dengan tuntutan tugas yang dibebankan kepada TNI Angkatan Udara pada umumnya dan Korpaskhas pada khususnya. Pengabdian Paskhas tersebut, dapat dilihat dari andil Paskhas yang tidak pernah absen di berbagai bentuk operasi, baik operasi militer perang (OMP) maupun operasi militer selain perang (OMSP). Sekarang ini, Korpaskhas telah tumbuh dan berkembang menjadi salah satu andalan sekaligus kebanggaan, yang dipercaya menjadi kekuatan pasukan pemukul di darat khas TNI Angkatan Udara. Organisasi Korpaskhas disusun menjadi dua tingkat yaitu Tingkat Markas Komando Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara disingkat Mako Korpaskhas dan Tingkat Pelaksana. Di Tingkat Mako Korpaskhas terdiri dari eselon pemimpin, eselon pembantu pimpinan/staf, eselon pelayanan, dan eselon pelaksana pusat, yang membawahi satuan-satuan di bawahnya. Sedangkan di Tingkat Pelaksana membawahi Wing I dan Wing II Paskhas dan Wing III Diklat Paskhas, Detasemen Bravo Pasukan Khas AU, dan Detasemen Kawal Protokol Paskhas AU, sejalan dengan perkembangan dan penyempurnaan organisasi maka berdasarkan Instruksi Kepala Staf Angkatan Udara nomor : Ins / 2 / III/ 2008 tanggal 31 Maret 2008 tentang pelaksanaan pengalihan pembinaan Detasemen Pengawalan dan Protokoler Paskhas (Denwalkol Paskhas) dari Korpaskhas ke Denma Mabesau, sehingga sejak diterbitkannya Instruksi Kasau ini maka Denwalkol Paskhas yang semula berada di bawah Korpaskhas ke Denma Mabesau dengan nama Satuan Pengawalan dan Protokoler (Satwalkol) Denma Mabesau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pengembangan organisasi kedepan saat ini tengah diusulkan ke Mabes TNI-AU untuk pembentukan Wing III Paskhas di Makassar Sulawesi Selatanuntuk meng-cover wilayah timur Indonesia meliputi : Wilayah sekitar NTT, Sulawesi,Kep.Maluku dan Papua , sedangkan Wing I paskhas di Kota Jakarta untuk meng-cover wilayah barat Indonesia meliputi : Wilayah sekitar DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten ke barat sampai pulau Sabang dan Wing II Paskhas di Malang Jawa Timur untuk men-cover wilayah tengah Indonesia meliputi : Wilayah sekitar Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB dan Kalimantan. Sedangkan yang sebelumnya Wing III Pusdik Paskhas menjadi Kodiklat Paskhas. Selain itu direncanakan pula penambahan 3 batalyon baru Paskhas yaitu Batalyon 468 di Biak, Batalyon 469 di Medan, dan satu Batalyon lagi di Yogyakarta atau Kupang sehingga nantinya Paskhas akan memiliki 10 sampai dengan 14 Batalyon pasukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan pasukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paskhas saat ini berkekuatan 7.300-an personel. Dalam beberapa waktu kedepan direncanakan Paskhas TNI-AU akan mendapatkan 40 buah panser buatan Pindad sebagai cikal bakal Batalyon Kavaleri Paskhas. Rencana ini tengah mengalami negoisasi ulang untuk diadakan penambahan jumlahnya dikarenakan ranpur sejenis Panser dinilai sangat cocok untuk mendukung tugas sebagai bantuan tempur dari Batalyon-batalyon tempur Para Komando dengan karakteristiknya sebagai pasukan pemukul reaksi cepat paskhas TNI AU selain juga panser sangat diperlukan untuk pasukan pertahanan pangkalan. Dalam konsep penggelaran pasukan berintensitas tinggi, TNI mengenal istilah PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi cepat) yang mana paskhas sebagai satuan TNI berkualifikasi Para Komando merupakan nyawa atau inti dari pasukan PPRC TNI dan sebagai pendukungnya adalah batalyon-batalyon linud kostrad. PPRC adalah pasukan pemukul TNI untuk menghadapi kondisi kondisi darurat di wilayah NKRI. Dalam Pelaksanaan tugasnya Paskhas mengemban tugas sebagai:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pasukan Pemukul Reaksi Cepat TNI (Yon Parako 461 s/d 468)(Rencana Yon Parako 469 di Medan)&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pasukan Penagkis serangan Udara (akan dibentuk Yon Arhanud dan Den Rudal Hanud)&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pasukan Pertahanan Pangkalan (Kompi-kompi BS di setiap Lanud Induk dan Lanud Type B))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paskhas juga berniat mendatangkan lagi kendaraan taktis serbu sejenis Dirgantara Military Vehicle (DMV) buatan PT DI yang terbukti handal dan kini telah dipakai oleh pasukan elit Paskhas Detasemen Bravo-90.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-_XsumD0LSOI/TiQiL5PDGtI/AAAAAAAACYY/wWIWKzRpW7I/s1600/urvb3lgg.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://3.bp.blogspot.com/-_XsumD0LSOI/TiQiL5PDGtI/AAAAAAAACYY/wWIWKzRpW7I/s640/urvb3lgg.jpg" width="366" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Rudal panggul permukaan ke udara QW (QianWei)-3.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Korps baret jingga ini telah diperkuat dengan kedatangan 200 rudal panggul permukaan ke udara QW (QianWei)-3. Rudal Manpad QW-3 perorangan (diharapkan penambahan sekitar 300 unit lagi untuk Pam Sat Radar) Rudal QW-3 dilengkapi penjejak semi-active laser guidance, cocok untuk menggasak pesawat tempur maupun rudal lain dalam ketinggian rendah sampai dengan jarak 8 km. Memiliki bobot 13 kg dan kecepatan maksimum 750 km/jam. Senjata ini dipergunakan untuk menggantikan Triple gun buatan Hispano Suiza (Switzerland) tahun 1950-an dan DSHK 12,7 mm. Juga beberapa saat yang lalu diujicobakan PT Pindad senjata meriam pesawat direhab untuk dijadikan senjata berat darat untuk Korpaskhas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-G7dDkr-5u6E/TiQkVsVeEaI/AAAAAAAACYo/FVyU88PixlU/s1600/PICT0738.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-G7dDkr-5u6E/TiQkVsVeEaI/AAAAAAAACYo/FVyU88PixlU/s400/PICT0738.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Paskhas juga tengah berupaya mendatangkan 4 baterai PSU jarak pendek berupa Oerlikon kaliber 35 mm untuk hanud titik model komposit yang sudah terintegrasi antara rudal, meriam, radar dan pos komando taktis. Senjata ini sudah menggunakan teknologi tercanggih dan telah digunakan oleh banyak negara Eropa. Menurut rencana, senjata PSU ini akan ditempatkan di 3 Lanud Utama TNI-AU. Salah satu kelebihan utama lainnya untuk PSU Oerlikon kaliber 35 mm ini adalah kemampuannya untuk dapat dimobilisasi dengan pesawat Hercules. TNI AU juga berencana untuk pembelian Rudal Jarak Sedang/JSe pengganti Rudal S-75/SA-2 guidelines. Kedepan dengan rencana kedatangan bateray-bateray meriam oerlicon contraves 35 mm, penambahan jumlah rudal manpad QW-3 dan beberapa unit meriam triple gun yang masih bagus serta rencana Kohanudnas untuk menghidupkan kembali Satuan Rudal Jarak Menengah maka diharapkan dapat dibentuk beberapa batalyon artileri meriam hanud dan beberapa detasemen bateray rudal baru untuk di tempatkan di tiap-tiap wing paskhas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedepan untuk pengembangan Korpaskhas dengan Alut Sista PSU saat ini yang telah dipunyai, yaitu :&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Artileri Hanud Meriam tripple Gun thn 1950 (dari 55 unit tinggal 16 unit yang layak pakai)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-a94ZFO_5mwQ/TgrbpYT4fNI/AAAAAAAACLQ/kfjrYcI2h_c/s1600/247090_10150217431044222_763314221_6905748_2598571_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-a94ZFO_5mwQ/TgrbpYT4fNI/AAAAAAAACLQ/kfjrYcI2h_c/s400/247090_10150217431044222_763314221_6905748_2598571_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span data-jsid="text"&gt;Resimen &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP)&lt;/span&gt;&lt;span data-jsid="text"&gt; dengan PSU (Penangkis Serangan Udara) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tripple Gun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-k-6lB8pJcmw/TiQkRSow8bI/AAAAAAAACYk/BMzO7tTt33k/s1600/PICT0701.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-k-6lB8pJcmw/TiQkRSow8bI/AAAAAAAACYk/BMzO7tTt33k/s400/PICT0701.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-XhTLo0mO-68/TiQknYlwaBI/AAAAAAAACY8/vucRzL2OYe0/s1600/PICT0694.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-XhTLo0mO-68/TiQknYlwaBI/AAAAAAAACY8/vucRzL2OYe0/s400/PICT0694.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-L8tUDdLz5Nk/TiQklGBLnTI/AAAAAAAACY4/3drgM_74-oI/s1600/PICT0695.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://2.bp.blogspot.com/-L8tUDdLz5Nk/TiQklGBLnTI/AAAAAAAACY4/3drgM_74-oI/s400/PICT0695.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-XhTLo0mO-68/TiQknYlwaBI/AAAAAAAACY8/vucRzL2OYe0/s1600/PICT0694.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-k-6lB8pJcmw/TiQkRSow8bI/AAAAAAAACYk/BMzO7tTt33k/s1600/PICT0701.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-11C6clt7WVE/TiQiP6SSaXI/AAAAAAAACYg/mkuT0W37lkg/s1600/zzzztriplegundefile.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="195" src="http://4.bp.blogspot.com/-11C6clt7WVE/TiQiP6SSaXI/AAAAAAAACYg/mkuT0W37lkg/s400/zzzztriplegundefile.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-oBC3sy8390Y/TiQiNXzburI/AAAAAAAACYc/AlLBay5quss/s1600/zzzztriplegun.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="176" src="http://1.bp.blogspot.com/-oBC3sy8390Y/TiQiNXzburI/AAAAAAAACYc/AlLBay5quss/s400/zzzztriplegun.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Barisan Tripple Gun&lt;/span&gt; yang diangkut truk saat ini&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-QpysyvKde0A/TiQkc-_j8EI/AAAAAAAACYw/bxm5h1KRpf0/s1600/PICT0685.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-QpysyvKde0A/TiQkc-_j8EI/AAAAAAAACYw/bxm5h1KRpf0/s400/PICT0685.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-i0XVRBO3HP4/TiQkY2HJeNI/AAAAAAAACYs/gtHLk7guYS4/s1600/PICT0688.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-i0XVRBO3HP4/TiQkY2HJeNI/AAAAAAAACYs/gtHLk7guYS4/s400/PICT0688.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Rudal Manpad QW-3 perorangan (sekitar 200 unit)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; Rencana Pengadaan Alut Sista PSU baru berupa:&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Artileri Hanud Meriam Oerlicon Contraves 35 mm (diharapkan 55 unit pengganti Tripple Gun 1950)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Rudal Manpad QW-3 perorangan (diharapkan penambahan sekitar 300 unit lagi untuk Pam Sat Radar)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Rudal Jarak Sedang/JSe pengganti Rudal S-75/SA-2 guidelines (diharapkan 7 bateray)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-CqoAcre_-aE/TiQw8L-cMsI/AAAAAAAACZc/AMCSq9_B5zo/s1600/268018_10150243756349222_763314221_7023360_327977_n.jpg"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-CqoAcre_-aE/TiQw8L-cMsI/AAAAAAAACZc/AMCSq9_B5zo/s400/268018_10150243756349222_763314221_7023360_327977_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-mmLmCfEzfRs/TiQw00OKBPI/AAAAAAAACZM/q7Q51AVgivw/s1600/268018_10150243756369222_763314221_7023363_4451797_n.jpg"&gt;&lt;img border="0" height="297" src="http://3.bp.blogspot.com/-mmLmCfEzfRs/TiQw00OKBPI/AAAAAAAACZM/q7Q51AVgivw/s320/268018_10150243756369222_763314221_7023363_4451797_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-0ndWiNVsh5M/TiQw3265eeI/AAAAAAAACZU/2wE8DPASSco/s1600/268018_10150243756364222_763314221_7023362_5353927_n.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://2.bp.blogspot.com/-0ndWiNVsh5M/TiQw3265eeI/AAAAAAAACZU/2wE8DPASSco/s400/268018_10150243756364222_763314221_7023362_5353927_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-YS-6JtRwwgU/TiQw56faNiI/AAAAAAAACZY/GkurxaeUkRk/s1600/268018_10150243756354222_763314221_7023361_5535822_n.jpg"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-YS-6JtRwwgU/TiQw56faNiI/AAAAAAAACZY/GkurxaeUkRk/s320/268018_10150243756354222_763314221_7023361_5535822_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-0ndWiNVsh5M/TiQw3265eeI/AAAAAAAACZU/2wE8DPASSco/s1600/268018_10150243756364222_763314221_7023362_5353927_n.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-W8U4qRYjAM4/TiQwxz9DX2I/AAAAAAAACZE/ivLqWOiDZ-U/s1600/270458_10150243758274222_763314221_7023373_1973409_n.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-W8U4qRYjAM4/TiQwxz9DX2I/AAAAAAAACZE/ivLqWOiDZ-U/s400/270458_10150243758274222_763314221_7023373_1973409_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-sPH-X5ChoD0/TiQwzYzrGHI/AAAAAAAACZI/yvdh4dujoMs/s1600/270458_10150243758269222_763314221_7023372_1627572_n.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="263" src="http://2.bp.blogspot.com/-sPH-X5ChoD0/TiQwzYzrGHI/AAAAAAAACZI/yvdh4dujoMs/s400/270458_10150243758269222_763314221_7023372_1627572_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kompi BS (Berdiri Sendiri) Paskhas TNI-AU adalah satuan setingkat kompi Paskhas. Biasanya mereka ditugaskan melakukan pertahanan dan mengamankan pangkalan TNI-AU berikut fasilitasnya seperti radar, hanggar pesawat dan sebagainya. Diharapkan kedepan tiap-tiap kompi BS dapat di kembangkan menjadi Batalyon, Seperti :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kompi C BS Bogor menjadi Batalyon 467 Harda Dedali di Jakarta.&lt;br /&gt;2. Kompi F BS Biak menjadi Batalyon 468 Sarotama di Biak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Adapun Kompi Paskhas BS Paskhas TNI-AU terdiri dari:&lt;br /&gt;1. Wing 1 wilayah barat&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1) Kompi A Paskhas TNI-AU (Medan)&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2) Kompi B Paskhas TNI-AU (Kalijati)&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 3) Kompi G Paskhas TNI-AU (Lhokseumawe)&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 4) Kompi H Paskhas TNI-AU (Banda Aceh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Wing 2 wilayah timur&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1) Kompi D Paskhas TNI-AU (Kupang)&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2) Kompi E Paskhas TNI-AU (Yogyakarta)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Diharapkan Kompi-kompi BS Pertahanan Pangkalan (Hanlan) sebagian dapat dikembangkan menjadi Batalyon-batalyon PSU (Arhanud dan Detasemen-detasemen Rudal Jarak Sedang/JSe). Untuk meningkatkan kinerja Korpaskhas yang salah satunya adalah bertugas menangkal segala ancaman dari udara wilayah Udara NKRI maka sebaiknya di bentuk Resimen Penangkis Serangan Udara (PSU)yang khusus bertugas melindungi kedaulatan NKRI dari segala bentuk ancaman yang berasal dari udara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Diharapkan kedepan Kompi-kompi BS dapat dikembangkan antara lain sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Kompi B BS Kalijati menjadi Batalyon 1 Arhanud Wing I wilayah barat.&lt;br /&gt;2. Kompi E BS Yogyakarta menjadi Batalyon 2 Arhanud Wing II wilayah timur.&lt;br /&gt;3. Kompi G BS Lhokseumawe menjadi Den Rudal 1/JSe Lhokseumawe.&lt;br /&gt;4. Pembentukan baru Den Rudal 2/JSe Asahan.&lt;br /&gt;5. Pembentukan baru Den Rudal 3/JSe Pekanbaru.&lt;br /&gt;6. Pembentukan baru Den Rudal 4/JSe Jakarta.&lt;br /&gt;7. Pembentukan baru Den Rudal 5/JSe Surabaya.&lt;br /&gt;8. Pembentukan baru Den Rudal 6/JSe Bontang.&lt;br /&gt;9. Kompi D BS Kupang menjadi Den Rudal 2/JSe Kupang.&lt;br /&gt;10.Menghidupkan kembali Kompi C BS untuk Pam Bandara Internasional Soekarno Hatta Tangerang Banten&lt;br /&gt;11.Menghidupkan kembali Kompi F BS untuk Pam Bandara Internasional Ngurah Rai Bali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-KYZaiFW2f9Y/TiQkh_zVTjI/AAAAAAAACY0/4VuVAAiCCto/s1600/PICT0675.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://2.bp.blogspot.com/-KYZaiFW2f9Y/TiQkh_zVTjI/AAAAAAAACY0/4VuVAAiCCto/s400/PICT0675.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Paskhas menggunakan senapan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;SAR-21&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Paskhas kini mengupayakan untuk mengganti senjata perorangan SS – 1 yang kabarnya akan digantikan SiG-552 ataupun SS-2. Terutama untuk menyiapkan Batalyon-batalyon tempur 461 sampai dengan 469 sebagai Pasukan Pemukul Para Komando Pprc paskhas maka dalam tiap regu di tiap batalyon para komando paskhas akan dilengkapi dengan senjata SS2-V1 WITH PINDAD 40mm GRENADE LAUNCHER dan Squad Automatic Weapon senapan mesin ringan seperti FN Minimi(Senjata Otomatis Regu). Sedangkan di dalam kompi bantuan akan dilengkapi dengan SMB (Senapan Mesin Berat) DShk-38 dirancang sebagai senjata pemukul untuk sasaran darat dan udara jarak pendek. SMB ini biasa digunakan oleh unit kavaleri dan infantri. Pada unit kavaleri, DShK sudah menjadi standar ditempatkan pada turret beragam MBT (Main Battle Tank), bahkan tank ringan, panser dan rantis pick up.dalam infantri, wajar bila DShK dioperasikan dengan case khusus beroda dua, mirip dengan model meriam/kanon. Dengan demikian SMB ini mudah digerakkan, dibawa atau dipindahkan dengan bantuan pengait pada jip atau truk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komandan&lt;br /&gt;Komandan Korpaskhas (Dankorpaskhas) saat ini adalah Marsekal Pertama TNI Amarullah, menggantikan Marsekal Pertama TNI Harry Budiono yang menjadi staf ahli KSAU. Sebelumnya, Amarullah menjabat sebagai Wakil Komandan Paspampres. Kepala Staf TNI AU mendukung agar Komandan Korpaskhas dipertimbangkan untuk dijabat Marsekal Muda (perwira berbintang dua).[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Operasi Militer&lt;br /&gt;Penumpasan RMS, DI/TII dan PRRI/PERMESTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika terjadi beberapa pemberontakan di bumi Pertiwi ini, PPP ditugaskan pula untuk menumpas pemberontakan DI/TII di wilayah Jawa Barat. Personil PPP melakukan pengejaran di wilayah Tangkuban Perahu, Pegunungan Galunggung, Pegunungan Guntur dan Pegunungan Tampomas. Selain itu PPP juga ikut melaksanakan penumpasan DI/TII di Sulawesi Selatan dengan melakukan operasi yang dipimpin langsung oleh Letkol (U) RHA Wiriadinata. Saat penumpasan RMS tahun 1952, PPP mengerahkan 1 kompi pasukannya di Kendari dan Pulau Buru, Maluku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada peristiwa PRRI di Sumatera, dua kompi PGT pimpinan LU I Sugiri Sukani dan LU I Rachman bersama 1 kompi RPKAD melakukan penerjunan untuk pertama kali pada 12 Maret 1958 saat Operasi Tegas di Pangkalan Udara Simpang Tiga, Pekanbaru. Empat hari berselang pada operasi Sapta Marga 16 Maret 1958, pasukan yang sama dari PGT bersama RPKAD kembali melakukan penerjunan di Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika operasi 17 Agustus di Sumatera Barat, PGT mendapat tugas untuk merebut Lanud Tabing di Padang. Untuk mengawali operasi ini, delapan personil PGT dipimpin Letkol (U) RHA Wiriadinata ditugaskan melakukan operasi khusus. Tim kecil PGT ini mendapat tugas menentukan titik penerjunan yang paling aman bagi pasukan TNI. Pendaratan open sea ini, terbilang berbahaya. Ombak besar menyulitkan pendaratan. Akibatnya, saat regu PGT mendarat dengan motor-tempel kecil di pantai, perahunya pecah. Sampai di pantai, mereka bergerak cepat, menyusup, menentukan koordinat, dan membuat kode-kode rahasia pada DZ. Tentu tidak gampang menentukan lokasi DZ, mengingat pasukan PRRI tersebar di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 17 April 1958 tepat pukul 06.40 satu batalyon PGT dan satu kompi RPKAD diterjunkan dan langsung mendapat perlawanan dari pasukan PRRI, akibatnya satu personil PGT gugur. Selain itu Lanud Tabing juga sudah dipenuhi oleh ranjau paku dan bambu-bambu runcing yang sudah dipersiapkan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 20 Mei 1958, satu kompi PGT dipimpin Kapten (U) R Suprantijo kembali diterjunkan di Morotai saat operasi Merdeka untuk menumpas Permesta di Sulawesi Utara dan Maluku. Beberapa waktu kemudian satu kompi PGT dipimpin LU I Heru Achjar berhasil merebut bandara Mapanget di Manado. Begitu gencarnya pertempuran di darat maupun dari udara, hingga sempat memancing pesawat Lockheed U-2 Dragon Lady milik AU Amerika (USAF). Pesawat ini pernah dimanfaatkan mengintai pulau Natuna yang disiapkan untuk menggempur Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Operasi Trikora&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PGT AURI dalam operasi Trikora mengambil porsi terbesar jumlah pasukan yang diinfiltrasi ke Irian Barat dengan total 532 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah personil dari TNI, Polri dan relawan yang diinfiltrasikan selama Trikora adalah 1.154 personil dengan jumlah korban jiwa 216 gugur/hilang dan 296 tertangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 25 April 1962, saat operasi Banteng Ketaton sebanyak 40 orang pasukan PGT dibawah pimpinan Sersan Mayor (U) J. Picaulima diterjunkan untuk pertama kali di Irian Barat yaitu di daerah Fak-Fak begitu juga penerjunan yang dilakukan 39 personil PGT di Kaimana tanggal 26 April 1962 berhasil dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 11 Mei 1962, pasukan PGT dibawah pimpinan Letan Satu (U) Manuhua melaksanakan penerjunan di Sorong saat Operasi Serigala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kisah heroik dan bersejarah adalah peristiwa pengibaran Sang Saka Merah Putih untuk pertama kali dipancangkan di bumi Cendrawasih, Irian Barat, yang dilakukan oleh anggota PGT atas inisiatif Sersan (U) M.F. Mengko. Pada tanggal 19 Mei 1962, sebanyak 81 anggota PGT bertolak dari Pangkalan Udara Pattimura, Ambon, dengan pesawat Hercules yang dipiloti Mayor (U) T.Z Abidin menuju sasaran daerah penerjunan sekitar Kampung Wersar, Distrik Teminabuan. Pada dini hari mereka diterjunkan tepat diatas markas tentara Belanda. Pertempuran jarak dekat yang serba kacau segera terjadi. Tentara Belanda yang tengah tidur kaget karena ada pasukan PGT yang diterjunkan tepat dimarkasnya, sedangkan prajurit PGT juga tidak menyangka akan diterjunkan dimarkas tentara Belanda karena sebelumnya mereka dibriefing akan diterjunkan di perkebunan teh. Kisah heroik ini mengakibatkan tewasnya 53 anggota PGT AURI termasuk komandan tim Letnan Dua (U) Suhadi. Untuk mengenang peristiwa bersejarah tersebut di daerah Teminabuan, Sorong kini telah didirikan sebuah monumen yang diberi nama Tugu Merah Putih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Lwlu2hfpZ9M/Tgrbn8W8D7I/AAAAAAAACLM/fFwhqmcpxlU/s1600/247090_10150217431049222_763314221_6905749_3319882_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-Lwlu2hfpZ9M/Tgrbn8W8D7I/AAAAAAAACLM/fFwhqmcpxlU/s400/247090_10150217431049222_763314221_6905749_3319882_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fbPhotoCaptionText"&gt;Pak Wir (&lt;/span&gt;&lt;span class="fbPhotoCaptionText"&gt;Komandan PGT Wiriadinata)&lt;/span&gt;&lt;span class="fbPhotoCaptionText"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span class="fbPhotoCaptionText"&gt;ikut masuk ke pesawat memberi  dorongan moril.sebagian dari orang yang ada dalam pesawat ini mungkin  gugur dan tidak dapat kembali lagi.Pada Operasi Trikora, 94 anggota PGT  gugur.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperkuat posisi tentara Indonesia di Irian Barat dilaksanakan operasi Jatayu pada 14 Agustus 1962 dengan rincian Kelompok Elang dibawah pimpinan Kapten (U) Radik Sudarsono diterjunkan di Sorong dan Kelompok Alap-alap di daerah Merauke dipimpin Letnan (U) Benyamin Matitaputty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hal yang amat mengagumkan adalah kemampuan untuk bertahan hidup (survival)dari prajurit PGT. Meskipun dengan kondisi alam Irian Barat yang ganas dimana berhutan lebat dengan ketinggian pohon mencapai diatas 50 meter, langkanya binatang maupun tumbuhan yang dapat dimakan, ancaman penyakit malaria, kekurangan logistik dan obat-obatan ditambah serangan gencar dari pesawat tempur maupun tentara Belanda, namun mereka masih mampu bergerilya di dalam hutan sampai menjelang terjadinya gencatan senjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerjunan dilaksanakan dini hari menjelang subuh. Prajurit PGT dikepekatan malam yang amat dingin diterjunkan diatas hutan-hutan belantara di dekat kota-kota kecil Irian Barat. Para prajurit PGT cukup tangguh untuk berjuang melawan hutan belantara yang pepohonannya amat tinggi, sehingga sebelum mencapai tanah mereka harus bergelut dengan tali dan pisau komando agar bisa turun karena rata-rata tersangkut dipepohonan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara total dilakukan 9 kali penerjunan yang dilakukan PGT selama operasi Trikora di daerah Kaimana, Fak-Fak, Sorong (Sausapor, Klamono dan Teminabuan) serta Merauke dengan mengakibatkan gugurnya 94 orang prajurit dan 73 orang terluka [10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Operasi Dwikora&lt;br /&gt;Seperti halnya saat Trikora, pada saat operasi Dwikora PGT AURI juga menjadi pasukan yang pertama kali diterjunkan ke wilayah Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Trikora maupun saat penumpasan PRRI/PERMESTA, kali ini PGT bertindak sebagai pelaku tunggal penerjunan (solo performer) tanpa didampingi kesatuan lain dari TNI-AD. Selain melalui udara, personil PGT juga melakukan infiltrasi lewat jalur darat dan laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 31 Januari 1964, PGT melakukan penyebaran pamflet dengan pesawat Hercules C-130 di daerah perbatasan (Sabah, Tawau dan sekitar Pulau Sebatik)[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak bulan April 1964, dua kompi PGT dibawah pimpinan LMU I Sutikno dan LMU I Sukimin dipersiapkan dalam rangka infiltrasi melalui laut. Pasukan ini kemudian diberangkatkan ke Tanjung Balai, Karimun dengan kapal motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pertama kalinya pada tanggal 16 Agustus 1964, satu peleton dipimpin SMU Sadikin berhasil menyusup lewat laut ke Pontian Kecil, Johor Baru. Keesokan harinya bertepatan dengan hari kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1964 kembali satu peleton PGT pimpinan SMU Suparmin disusupkan ke wilayah Malaysia lewat jalur laut. Sebelumnya pada dini hari sebanyak 17 personil PGT berhasil melakukan penerjunan di selatan Johor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penerjunan pada tanggal 1-2 September 1964 diterjunkan 3 peleton pasukan terdiri dari 1 peleton dari kompi LU I Suroso,Jakarta dan 2 peleton dari kompi LMU Sutikno,Bandung. Ironisnya, salah satu pesawat C-130 Hercules yang diterbangkan Mayor (U) Djalaloedin Tantu bersama 7 awak pesawat jatuh ke selat Malaka. Sebuah sumber menyatakan bahwa kecelakaan pesawat Hercules yang melakukan terbang malam tersebut akibat terbang terlalu rendah untuk menghindari deteksi radar lawan. Mayor (U) Sugiri Sukani, Komandan Resimen PGT dan LU I Suroso ada di dalam pesawat malang tersebut. Unsur yang ikut tewas dalam peristiwa tersebut adalah 47 orang personil PGT ( 40 orang dari Jakarta dan 7 orang dari Bandung) dan 10 orang Cina Melayu, diantaranya adalah dua gadis. Sedangkan 2 Hercules lainnya berhasil menerjunkan pasukan PGT di daerah sasaran. Sasaran penerjunan ini adalah daerah Taiping, Labis dan Ipoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dalam waktu dua hari, hampir semua personil PGT dapat ditangkap akibat pengkhianatan dari penunjuk jalan yang berasal dari etnis Melayu dan Cina. Mereka baru dibebaskan dari penjara Malaysia setelah 11 Maret 1966 dan dipulangkan ke Indonesia. Setiba di Jakarta, akibat efek dari peristiwa G-30S/PKI mereka kembali ditahan di Cijantung di asrama RPKAD dan diberi julukan ”Tentara Merah”. KU I Sukardi yang tertangkap dan divonis hukuman gantung oleh pemerintah Malaysia akhirnya dibebaskan pasca gencatan senjata RI – Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir seluruh personil PGT yang diinfiltrasikan ke Malaysia tertangkap akibat banyaknya operasi yang secara sengaja ”dibocorkan” oleh oknum-oknum di Indonesia. Sedangkan 4 personil PGT yang kembali dengan selamat dan tidak tertangkap mendapatkan anugerah Bintang Sakti dari Presiden RI bersama-sama dengan anggota yang gugur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah personil PGT yang gugur/hilang selama operasi Dwikora berjumlah 83 orang sedangkan yang tertangkap/terluka berjumlah 117 orang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-yQjPrq9wYmc/TgriHQ9wbsI/AAAAAAAACLw/evAwbWJkIPs/s1600/PGT.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="298" src="http://1.bp.blogspot.com/-yQjPrq9wYmc/TgriHQ9wbsI/AAAAAAAACLw/evAwbWJkIPs/s400/PGT.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fbPhotoCaptionText"&gt;Pasukan PGT tahun 1967 saat upacara Peresmian gedung SUKANI.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-LcpFLrTgZ7E/TgriPgeUf4I/AAAAAAAACL4/R7h0PPCOfnQ/s1600/Komandan+PGT+Wiriadinata%252C+tahun+1967.Peresmian+Gedung+SUKANI..jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://2.bp.blogspot.com/-LcpFLrTgZ7E/TgriPgeUf4I/AAAAAAAACL4/R7h0PPCOfnQ/s640/Komandan+PGT+Wiriadinata%252C+tahun+1967.Peresmian+Gedung+SUKANI..jpg" width="480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fbPhotoCaptionText"&gt;Komandan PGT Wiriadinata, tahun 1967.Peresmian Gedung SUKANI.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-lQm9QNEHO8g/TgriLsag-ZI/AAAAAAAACL0/pJkqJx1ypR4/s1600/captured.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="298" src="http://2.bp.blogspot.com/-lQm9QNEHO8g/TgriLsag-ZI/AAAAAAAACL0/pJkqJx1ypR4/s400/captured.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fbPhotoCaptionText"&gt;Komandan PGT Wiriadinata,  1967,Peresmian gedung SUKANI.Sedang menyematkan tanda jasa bagi keluarga  PGT yang gugur dalam Konfrontasi dengan Malaysia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;Operasi Seroja&lt;br /&gt;Dalam Operasi Seroja, Kopasgat tidak berfungsi sebagai pasukan pemukul seperti yang dilakukan Pasukan Gerak Tjepat (PGT) dalam penumpasan pemberontakan PRRI/Permesta, perjuangan Trikora dan Dwikora. Kopasgat yang terdiri dari Pengendali Tempur (Dalpur), Pengendali Pangkalan (Dallan) dan Satuan Tempur (Satpur) bertugas membentuk pangkalan udara operasi dan pengamanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelaran pertama Kopasgat terjadi tanggal 7 Desember 1975 saat 126 personil Detasemen-B Kopasgat yang dipimpin Kapten (Psk) Silaen diterjunkan dengan cara air landed di lapangan terbang Dili, selang dua hari pada 9 Desember 1974 delapan Hercules C-130 menerjunkan pasukan dari Yonif Linud-328 Kostrad, Grup-1 Kopassus, Yonif 401/Banteng Raiders dan 156 personil Kopasgat pada pukul 07.25 WIT. Tugas Kopasgat adalah membebaskan lapangan terbang Baucau, atau lebih populer dengan Villa Salazar dalam bahasa Portugis. Detasemen-A Kopasgat dipimpin Kapten (Psk) Afendi. Operasi ini sekaligus membuktikan kemampuan Kopasgat melaksanakan Operasi Pembentukan dan Pengoperasian Pangkalan Udara Depan (OP3UD). Jumlah personil Kopasgat yang luka-luka saat penerjunan di Baucau adalah 19 orang terdiri dari 2 orang Satpur dan 17 orang Dallan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum operasi Seroja dimulai, Kopasgat bersama satuan elit lainnya di TNI sudah terlebih dahulu masuk ke wilayah Timor-Timur untuk membentuk kantong-kantong gerilya serta mendukung para pejuang pro integrasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama operasi Seroja, kehadiran Kopasgat amat disegani baik oleh rakyat maupun gerilyawan Fretilin karena sikapnya yang simpatik dan mampu merebut hati rakyat. Markas Kopasgat seringkali dijadikan tempat perlindungan oleh rakyat untuk menghindari konflik bersenjata yang terjadi. Warna baret jingga dan loreng komando khas Kopasgat kala itu amat populer di Timor-Timur. Hal ini berimplikasi pula pada sedikitnya jumlah personil Kopasgat yang gugur selama operasi Seroja bila dibandingkan dengan satuan lainnya di TNI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah personil TNI yang gugur di Timor-Timur antara tahun 1974-1999 adalah 2.292 orang sedangkan dari pihak pejuang pro integrasi mencapai jumlah 1.527 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Operasi Trisula dan Penumpasan PGRS/Paraku&lt;br /&gt;Kopasgat turut serta dalam operasi Trisula Kodam V Brawijaya tahun 1967 di daerah Blitar Jawa Timur guna penumpasan sisa-sisa gerakan PKI didaerah tersebut. Dalam mendukung operasi ini Kopasgat mengerahkan satu kompi pasukannya dari Resimen III dibawah pimpinan LU II Wim Mustamu. Pada tahun 1967-1969 timbul pergolakan di Kalimantan Barat yang dikenal dengan nama Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) berasal dari warga keturunan Tionghoa simpatisan komunis diwilayah Kalimantan. Untuk menghadapi PGRS/Paraku, pemerintah memutuskan untuk menggelar operasi Saber Kilat. Kopasgat sendiri melakukan tugasnya secara berkala dan diadakan pergantian pasukan pada periode tertentu sampai dengan operasi selesai tahun 1969. Perwira Kopasgat yang bertugas dalam operasi ini antara lain Kolonel (U) Z. Rachiman, Letkol (U) Sudjito, LU I Samadikun, LU I Mashud, LU I Sudadyo, LU I Nasroel dan LU II Siswoto Soemali dan LU II Joenoes. Dalam operasi ini gugur 2 orang personil Kopasgat asal Resimen I dan 4 orang lainnya gugur saat peristiwa Lanud Singkawang II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Operasi Sipil&lt;br /&gt;Selain mengabdikan dirinya dalam tugas-tugas operasi militer, prajurit paskhas juga ikut berpartisipasi dalam misi kemanusiaan seperti operasi Tinombala dan Tampomas penanggulangan bencana alam, Tentara Masuk Desa dan karya bakti TNI lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi Perdamaian&lt;br /&gt;Keterlibatan Paskhas dalam misi perdamaian di luar negeri di bawah bendera PBB seperti tergabung dalam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kontingen Garuda di Vietnam,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kontingen Garuda XIV dibawah Unprofor di Yugoslavia,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kontingen Garuda XIV A-B di Bosnia,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kontingen Garuda XVII dibawah OKI di Filipina,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kontingen Garuda XXIII di Libanon dan penugasan militer di luar negeri lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identitas Korps Baret Jingga&lt;br /&gt;Di era Kopasgat mulai dipergunakan baret berwarna jingga dengan emblem berbentuk segilima. Dirasa kurang pas, emblem itu diganti dengan bentuk persegi seperti yang saat ini dipakai Paskhas. Motto yang tertulis pada emblem berbunyi Karmaye Vadikaraste Mafalesu Kadatjana yang artinya “bekerja tanpa menghitung untung dan rugi”. Sementara badge yang dipasang di lengan kiri merupakan gambar lama yang digunakan PGT. Badge itu berupa perisai berwarna merah menyala dengan gambar parasut mengembang menerjunkan dua jenis senjata ringan dan berat. Dari gambar itu dapat diartikan bahwa Kopasgat adalah pasukan Linud yang gagah berani. Kedua lambang, emblem dan badge serta baret berwarna jingga saat ini masih digunakan sebagai ciri pasukan elit TNI-AU. Selain itu dilengan kanan ditambahkan pula badge dengan tulisan Para Komando sebagai ciri khas Pasukan Para Komando Udara[15] Badge ini juga dipakai dilengan kanan pakaian dinas setiap para KSAU sebagai wujud penghormatan kepada satuan elit dilingkup TNI-AU ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ^ http://indonesiaeliteforces.tripod.com/id9.html&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ^ Budhy Santoso. "Baret Jingga. Pasukan Payung Pertama di Indonesia". Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1999&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ^ Bhagavad Gita, bab 2 : "Kenyataan abadi daripada kelestarian jiwa", ayat 47&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ^ http://www.angkasa-online.com/10/01/khusus/khusus1.htm&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ^ Sutrisno. “Marsekal TNI Suryadi Suryadarma” Departemen Pendidikan dan Kebudayaaan, Jakarta, 1985.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ^ Sesuai keputusan MEN/PANGAU No.54 Tahun 1967, tanggal 12 Oktober 1967.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ^ Himawan Susanto. “Yogyakarta 19 Desember 1948. Jenderal Sudirman vs Jenderal Spoor”.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ^ “Awal Kedirgantaraan di Indonesia. Perjuangan AURI 1945-1950” Yayasan Obor, 2008&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ^ http://www.tni-au.mil.id/organisasi.asp&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ^ Poengky Poernomo Djati. "Perjuangan AURI dalam Trikora". Direktorat Sejarah Ditwatpersau, Jakarta , 1996&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ^ Poengky Poernomo Djati. ”Peranan AURI Dalam Pelaksanaan Konfrontasi Dengan Malaysia Tahun 1963.” Sub Direktorat Sejarah Ditwatpersau, Jakarta, 1992&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ^ I Ketut Subandi. "Triwarsa Kopasgat.Sejarah Komando Pasukan Gerak Tjepat TNI Angkatan Udara". Dinas Sejarah TNI-AU, Jakarta, 1977&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ^ Hendro Subroto. "Operasi Udara di Timor-Timur". Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2005&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ^ http://www.sejarahtni.mil.id/index.php?cid=1756&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ^ Istilah ini dipopulerkan oleh Marsdya (Purn) Budhy Santoso untuk membedakan dengan satuan Para Komando yang ada di angkatan lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/yRy_5itRrZM" width="425"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/JDtFAJLYwqY" width="425"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;http://id.wikipedia.org/wiki/Korps_Pasukan_Khas&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3142861121075504619-9209724676550313597?l=weaponstechnology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/feeds/9209724676550313597/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/06/kopaskhas-tni-au.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/9209724676550313597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/9209724676550313597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/06/kopaskhas-tni-au.html' title='HISTORY OF INDONESIAN AIR FORCE PART III : KOPASKHAS TNI AU'/><author><name>WEAPONS TECHNOLOGY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06988874767614887444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://3.bp.blogspot.com/_LpXMzejbcjI/S6DRcp3u0AI/AAAAAAAAAAM/lttrJgF_BMM/S220/PAK+FA+T+50+7.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-RlPQgZLynCQ/Tg8NsHCuWmI/AAAAAAAACNg/Z-eETR5UKJU/s72-c/155587_476522849221_763314221_5407408_528916_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3142861121075504619.post-1627398622984331874</id><published>2011-06-17T18:50:00.000-07:00</published><updated>2011-06-17T20:31:36.777-07:00</updated><title type='text'>PERANAN TORPEDO DAN PELURU KENDALI DI DALAM TEKNOLOGI ANTI AKSES ANGKATAN LAUT</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;PERANAN TORPEDO DAN PELURU KENDALI DI DALAM TEKNOLOGI ANTI AKSES ANGKATAN LAUT&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Untuk merespon konsep strategi dan operasi angkatan laut yang berfokus pada peperangan kawasan littoral, kini beberapa negara berkembang menembangkan strategi anti akses.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Strategi anti akses adalah strategi yang bertujuan menghambat manuver kekuatan angkatan laut lawan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Untuk dapat melaksanakan strategi anti akses ini sedikitnya terdapat dua persyaratan dari aspek teknologi yang harus dipenuhi oleh angkatan laut.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pertama, sistem sensor.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Rudal anti kapal maupun rudal jelajah hanya dapat bekerja dengan baik apabila didukung oleh sistem sensor yang memadai dan dapat diandalkan. Bentuk sistem sensor itu bisa berupa radar pengamatan, radar kendali penembakan, dapat juga berupa sistem pandu berbasis satelit. Sistem pandu berbasis satelit sangat penting untuk sasaran-sasaran yang diluar daya jangkau radar kendali penembakan, meskipun sebenarnya bisa saja semuanya dipercayakan pada pemandu yang ada di rudal tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kedua, peperangan elektronika.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dalam aplikasi strategi anti akses, kemampuan ini mutlak dibutuhkan karena merupakan bagian yang tidak bisa terpisahkan dari strategi anti akses. Apabila radar pengamatan dan perangkat sensor lainnya telah dibungkam oleh lawan, rudal anti akses tidak akan dapat digunakan sebagaimana fungsi asasinya. Oleh sebab itu, setiap angkatan laut yang serius mengembangkan stratei anti akses harus mengadopsi teknologi yang erkaitan dengan peperangan elektronika semisal ECM (Electronic Counter Measures), ECCM (Electronic Counter Counter Measures), dan ESM (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Electronic Support Measures&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tanpa didukung dua teknologi terkait, implementasi strategi anti akses tidak akan terlaksana. Dan dewasa ini masalah yang dihadapi oleh angkatan laut negara berkembang secara teoritis potensial adalah menyangkut kedua hal tersebut. Ketersediaan perangkat sensor dan kemampuan peperangan elektronika bersifat fundamental. Tanpa hal tersebut, kepemilikan rudal berkemampuan anti akses menjadi seolah tidak berarti banyak dari sudut pandangan strategis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sebenarnya kedua jenis perangkat tersebut banyak tersedia di pasaran internasional. Namun kendala yang dihadapi oleh angkatan laut negara berkembang adalah ketersediaan dana dan penerapan kendali ekspor yang ketat oleh negara-negara produsen, khususnya negara-negara Barat. Adapun produk buatan Rusia dan China dari segi harga maupun keandalan bisa bersaing dengan keluaran negara-negara Barat. Namun pengadaan satu sistem rudal beserta sistem sensor dan perangkat peperangan elektronika masih dipandang terlalu mahal daripada hanya membeli rudal beserta sistem kendali penembakannya saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Gambaran Strategi Anti Akses di Indonesia &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Potensi Indonesia untuk menggelar strategi anti akses sudah lama diperhitungkan oleh beberapa penggunaan perairan negeri ini. Oleh sebab itu secara tidak langsung mereka mencoba mengendalikan sistem senjata angkatan laut yang dijual ke Indonesia, khususnya rudal anti kapal maupun rudal jelajah. Begitu pula dengan perangkat sistem sensor, khususnya yang berkemampuan di atas 40 mil laut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Walaupun implementasi teknologi anti akses tidak murah akan tetapi Indonesia bisa mewujudkannya dengan tetap berbasis pada cost effectiveness. Idealnya adalah memadukan jaringan radar pengamatan maritim berkemampuan hight frequency dapat difungsikan sebagai over horizon radar (OTHR), sehingga bisa memperpanjang kemampuan deteksi untuk mendukung rudal anti kapal. Penggunaan radar non &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;hight frequency bisa saja ditempuh, akan tetapi jangkauan efektifnya hanya akan berkisar pada 40 mil laut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Untuk pasokan jaringan radar pengamatan maritim, sesungguhnya ada peluang menjalin kerjasama dengan pihak tertentu di dalam negeri yang tengah mengembangkan radar. Radar yang mereka kembangkan selama ini perlu ditingkatkan kemampuannya sehingga memenuhi spesifikasi militer. Sedangkan rudal anti kapal berbasis di daratan cukup banyak tersedia di pasaran internasional termasuk salah satunya adalah rudal versi kapal perang yang kini dioperasikan oleh TNI AL.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Membangun jaringan radar pengamatan maritim beserta rudal anti kapal berbasis di daratan hanya salah satu pendekatan dalam pengembangan strategi anti akses. Pendekatan lainnya yaitu membangun kemampuan serupa yang berbasis ruang angkasa. Untuk hal yang terakhir bukan hal mustahil, mengingat para ahli Indonesia telah mampu membuat satelit. Yang dibutuhkan adalah kemampuan politik pemerintah dalam membenahi pertahanan, sebab adanya kemauan politik akan mengurangi hambatan seperti masalah anggaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Strategi anti akses merupakan perpaduan antara sistem senjata di laut, daratan dan udara. Walaupun Indonesia mempunyai keterbatasan dalam membangun kekuatan pertahanannya, namun bukan berarti tidak ada peluang yan tersedia. Ekploitasi kondisi geografis wilayah Indonesia melalui teknologi anti akses merupakan satu diantara peluan itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dari aspek teknologi, eksploitasi dengan menggunakan teknologi yan "biasa-biasa saja" yang sebagian berbasis industri pertahanan nasional sudah cukup untuk membuat pengguna perairan Indonesia berpikir keras. Sedangkan dari aspek strategis, kemampuan Indonesia menggelar strategi anti akses akan meningkatkan kemampuan penendalian laut dan daya tawar di tingkat kawasan dalam hubungan antar bangsa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Untuk mengembangkan strategi anti akses, salah satu senjata pamungkas adalah torpedo. Kita punya kemampuan untuk kembangkan torpedo, sudah dilaksanakan oleh PT. DI melalui lisensi torpedo SUT. Cuma masalahnya sebagian besar komponen torpedo itu masih diimpor dari Eropa sebagai pemberi lisensi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Itu tantangan nyata bagi kita. Memang ada keinginan untuk kembangkan torpedo sendiri. Keinginan demikian patut untuk dihargai, namun dibutuhkan waktu yang lama agar kita bisa menguasai teknologi torpedo secara mandiri. Karena ilmu-ilmu tentang pengembangan torpedo harus kita curi dan sangat keliru kalau harapkan orang lain akan sumbangkan ilmu itu kepada kita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pertanyaannya, apakah ada program pemerintah dan industri terkait untuk kembangkan torpedo secara mandiri? Kalau ada bagus. Tetapi tetap saja ada masa transisi ketika teknologi torpedo dicoba untuk dikuasai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dalam masa transisi itu, AL tetap butuh torpedo untuk kepentingan operasional. Itu kebutuhan yang tidak bisa ditunda-tunda menunggu program torpedo nasional selesai. Artinya, kita tetap membutuhkan pasokan torpedo dari luar selama jangka waktu itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Masalahnya adalah tidak ada jaminan bahwa pasokan torpedo akan lancar sesuai kebutuhan kita. Masalah politik dapat mengalahkan soal uang. Meskipun kita punya uang, kalau penjual tidak mau jual kepada kita karena alasan politik, kita tidak bisa apa-apa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Ingat, RI Matjan Tutul mandul hadapi kapal destroyer Belanda karena nggak punya torpedo. Kapalnya dijual oleh Jerman Barat ke Indonesia, tapi torpedonya tidak. Beberapa tahun lalu pun kita diembargo oleh Barat, akibatnya pengadaan senjata strategis kita dan suku cadangnya terhambat. Bukan nggak mungkin kasus serupa RI Matjan Tutul akan terjadi lagi di masa depan, dalam arti kapal diberikan tapi tanpa senjata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Yang perlu kita antisipasi seandainya kita sepakat untuk mengembangkan strategi anti akses adalah upaya invisible hands hambat pengadaan torpedo untuk kita. Kecuali torpedo yang kita beli dari Rusia misalnya, itu pun tidak ada jaminan 100 persen. Pesan yang ingin disampaikan di sini adalah kita harus mengembangkan strategi ini secara diam-diam dan tidak agresif.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Ini juga nggak gampang, karena negara-negara maju punya data berapa rata-rata Indonesia beli torpedo dalam jangka waktu tertentu. Dengan data itu, mereka bisa memperhitungkan berapa kira-kira torpedo yang tersedia di arsenal kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-2NlTbKsboI4/TfwCcNgMLFI/AAAAAAAACGg/iVDnuLQKCa4/s1600/TANDA+TANGAN032.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="228" src="http://1.bp.blogspot.com/-2NlTbKsboI4/TfwCcNgMLFI/AAAAAAAACGg/iVDnuLQKCa4/s400/TANDA+TANGAN032.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Strategi anti akses merupakan operasi gabungan dan melibatkan banyak sistem persenjataan &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kemajuan teknologi yang terkait dengan sistem senjata serta peredaran produk teknologi itu di pasaran internasional melahirkan kekhawatiran tersendiri bagi negara-negara maju. Mereka khawatir sistem senjata hasil kemajuan teknologi itu akan makan tuan, seperti kasus Exocet MM-39 Angkatan Udara Argentina yang melumpuhkan kapal perang Inggris HMS Sheffield (D-80). Sebab sistem senjata itu memberikan kemampuan kepada negara-negara berkembang untuk mengembangkan kemampuan anti akses.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sehingga wajar bila kini penjualan sistem senjata kepada Angkatan Laut negara-negara berkembang yang dapat digunakan untuk kepentingan anti akses sangat dikontrol. Hanya negara-negara berkembang yang digolongkan sebagai sekutu dan teman yang dapat memperoleh sistem senjata itu. Sistem senjata yang dimaksud di sini bukan semata rudal saja, tetapi mencakup pula pendukungnya seperti surveillance radar, fire control radar dan combat system management.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Indonesia yang di masa lalu relatif mudah mengakses sistem senjata yang mempunyai kemampuan anti akses kini tidak lagi menikmati kemudahan itu dari negara-negara Barat. Akibatnya, daya tangkal pada kapal perang yang memperkuat Angkatan Laut negeri ini mengalami penurunan dalam 10 tahun terakhir. Sebab sebagian besar sistem senjata yang ada di kapal perang itu kini telah kadaluarsa. Menurunnya kemampuan penangkalan diikuti oleh meningkatnya ancaman dan tantangan di laut yang muncul dari negara-negara di sekeliling Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Untuk menghadapi situasi demikian, Indonesia berpaling pada sistem senjata buatan Rusia dan Cina. Misalnya pengadaan rudal P-800 Onix alias Yakhont dari Rusia dan rudal C-802 dan C-705 asal Negeri Tirai Bambu. Pembelian dari dua negeri yang menjadi pesaing Paman Sam itu diharapkan mampu mendongkrak kembali kemampuan penangkalan Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-R3ZWM9iLt40/TfwCIfftMrI/AAAAAAAACGc/jqHKsYFxS30/s1600/TANDA+TANGAN033.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="226" src="http://4.bp.blogspot.com/-R3ZWM9iLt40/TfwCIfftMrI/AAAAAAAACGc/jqHKsYFxS30/s400/TANDA+TANGAN033.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Strategi anti akses membutuhkan perpaduan peluru kendali berbasis di darat dan di kapal perang semisal C 705, C 802 atau P-800 Onix alias Yakhont.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Eksistensi rudal buatan Rusia dan Cina dalam arsenal Angkatan Laut negeri ini harus dieksploitasi secara optimal. Misalnya menghadirkan kapal perang yang menggendong rudal Yakhont di perairan sekitar Selat Malaka dan Selat Singapura secara rutin. Bisa pula menghadirkan kapal perang yang bersenjatakan C-802 di perairan Selat Lombok, Selat Ombai dan Laut Sulawesi secara rutin pula. Hal itu penting untuk unjuk kekuatan, sebab negara-negara di sekitar Indonesia hanya paham dengan bahasa kekuatan, bukan bahasa diplomasi yang bertumpu pada soft power.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Hingga awal 1990-an, selalu ada pemandangan indah di sekitar Selat Singapura apabila kapal perang Indonesia jenis kombatan melintas di sana. Sebagian kapal perang Negeri The Red Dot akan keluar dari pangkalannya dalam kondisi peran tempur mengawasi gerak-gerik kapal kombatan Indonesia. Hal itu menunjukkan bahwa kapal perang negeri ini sebenarnya mempunyai kemampuan penangkalan yang diperhitungkan oleh pihak lain apabila sistem senjatanya memadai dan tidak ketinggalan teknologi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pemandangan indah tersebut sangat besar peluangnya untuk diulangi kembali kini dan tahun-tahun ke depan. Syaratnya cuma satu, yaitu kita mampu mengeksploitasi kapal perang yang mengusung sistem senjata yang mematikan asal Rusia dan Cina. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Sumber :&lt;br /&gt;Allhans, 2010, Teknologi Anti Akses Angkatan Laut, Defender Edisi 53 tahun 2010, Jakarta, hal : 60 - 63. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;http://damnthetorpedo.blogspot.com/2008/06/torpedo-dan-strategi-anti-akses.html&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;http://damnthetorpedo.blogspot.com/2010/01/eksploitasi-rudal-yakhont.html&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3142861121075504619-1627398622984331874?l=weaponstechnology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/feeds/1627398622984331874/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/06/peranan-torpedo-dan-peluru-kendali-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/1627398622984331874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/1627398622984331874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/06/peranan-torpedo-dan-peluru-kendali-di.html' title='PERANAN TORPEDO DAN PELURU KENDALI DI DALAM TEKNOLOGI ANTI AKSES ANGKATAN LAUT'/><author><name>WEAPONS TECHNOLOGY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06988874767614887444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://3.bp.blogspot.com/_LpXMzejbcjI/S6DRcp3u0AI/AAAAAAAAAAM/lttrJgF_BMM/S220/PAK+FA+T+50+7.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-2NlTbKsboI4/TfwCcNgMLFI/AAAAAAAACGg/iVDnuLQKCa4/s72-c/TANDA+TANGAN032.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3142861121075504619.post-2044317519821008739</id><published>2011-06-17T17:57:00.000-07:00</published><updated>2011-06-17T17:57:20.249-07:00</updated><title type='text'>C4ISR</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;C4ISR (Command, Control, Communication, Computer, Information, Surveillance and Reconnaissance)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-r-uvfh7lSvs/Tfv22keLONI/AAAAAAAACGY/tTTxqcRnyG0/s1600/C4ISR.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://4.bp.blogspot.com/-r-uvfh7lSvs/Tfv22keLONI/AAAAAAAACGY/tTTxqcRnyG0/s640/C4ISR.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;The primary operational and functional purpose of the Tampa Bay Maritime Domain Awareness System (MDAS) program is to develop a tactical Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance (C4ISR) system supported by integrated sensor and information processes that produce actionable intelligence to fulfill User Defined Operational Picture (UDOP) requirements. The C4ISR system, supporting sensors, information processes, integration, and fusion protocols will be researched, developed, tested, and evaluated in the Tampa Bay MDAS Test Bed.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;The National Strategy for Maritime Security states that "the safety and economic security of the United States depends upon the secure use of the world’s ocean" and that "a key national security requirement is the effective understanding of all activities, events, and trends within any relevant domain–air, land, sea, space, and cyberspace–that could threaten the safety, security, economy, or environment of the United States and its people." In accordance with this national strategy, the U.S. Navy and the U.S. Coast Guard (USCG) have accepted Maritime Domain Awareness (MDA) as an effective means for understanding the global maritime elements that could impact the security, safety, economy, or environment of the United States.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;The National Plan to Achieve Maritime Domain Awareness states that "the primary method for information sharing, situational awareness, and collaborative planning will be the national maritime common operating picture (COP). The COP is a near real-time, dynamically tailorable, network–centric virtual information grid shared by all U.S. Federal, state and local agencies with maritime interests and responsibilities. COP data will be accessible to all users, except when limited by security, policy, or regulations."&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;The spiraling level of information, however, often exacerbates the challenge of effective dissemination in an easily understood and accessible format, and in particular, the effective determination of the COP. Effective, pre–determined dissemination is essential for the operations and security of the Global Maritime Community of Interest (GMCOI). The added ability to provide role–based non–classified information to the GMCOI provides continuing observations and orientations in the dynamic maritime domain. An indiscriminate COP, however, is not the optimum solution for situational awareness within specific operational or role–based environments. To move along the SOA continuum from data to knowledge, cohesion and data fusion must be introduced. This entails embracing SOA and a User–Defined Operating Picture (UDOP) to provide a system that allows the user to inject knowledge to enhance decision.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;The core SOA capabilities the MDAS must provide are: collaboration; distributed services security; Universal Description, Discovery, and Integration (UDDI); data fusion as identified by the Joint Directors of Laboratories (JDL) Levels 1-3; data mediation; service mediation; and persistent, automated system management. The core MDAS noted must provide the GMCOI with the ability to cooperate in a virtual work space to understand, represent, and devise a solution to a common problem. Even when globally distributed, as the GMCOI is, it must be possible to interact and cooperate, both vertically and horizontally, as if collocated. This is the goal of net-centric operations that MDAS must support. In this context, collaboration is a GMCOI information exchange to produce operational consensus. The basic tenets involve discovery, connection, and content modification until the desired product is achieved through and from disparate affected entities.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;MDAS will employ a variety of software applications to provide a common operational picture of security and force protection operations throughout Tampa Bay and is initially is intended to provide stakeholders the oversight capability of operations underway in real time. Provided this picture, stakeholders can make better decisions about priorities and the assignment of security or counter-threat assets. The MDAS will employ a configuration with "push," "pull," and "current ops" views of all activities. The MDAS will consist of a series of tools that provide a graphic and imagery-based common tactical picture with supporting data, collaboration capabilities, log and alerting functions, and a means to access and display updated information from web-based status boards and databases. Users will access MDAS through an Internet address that triggers the UDOP presentation. The UDOP will serve as the interactive event log and also as the pathway to the other associated software applications, user tutorials, and user event checklists. The MDAS should be fundamentally designed to collect and disseminate information from all echelons within the purview of Tampa Bay stakeholders. The MDAS will provide functional capabilities for action at the stakeholder level. The capabilities will be in the form of information consumer, information collector, analyzer, and information disseminator. Many of these functions will overlap and the degree will be determined by the user role.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;From :&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;http://www.tncmps.com/C4ISR.html&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3142861121075504619-2044317519821008739?l=weaponstechnology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/feeds/2044317519821008739/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/06/c4isr.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/2044317519821008739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/2044317519821008739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/06/c4isr.html' title='C4ISR'/><author><name>WEAPONS TECHNOLOGY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06988874767614887444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://3.bp.blogspot.com/_LpXMzejbcjI/S6DRcp3u0AI/AAAAAAAAAAM/lttrJgF_BMM/S220/PAK+FA+T+50+7.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-r-uvfh7lSvs/Tfv22keLONI/AAAAAAAACGY/tTTxqcRnyG0/s72-c/C4ISR.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3142861121075504619.post-5211026084816796518</id><published>2011-06-17T06:51:00.000-07:00</published><updated>2011-07-01T16:53:30.503-07:00</updated><title type='text'>PESAWAT-PESAWAT BUATAN ANAK NEGERI INDONESIA</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-41RSCIwq7rw/TfuA7a6S4zI/AAAAAAAACF4/DNGShWNabj0/s1600/KFX+4.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;PESAWAT-PESAWAT BUATAN ANAK NEGERI INDONESIA&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Bung Karno dalam pidato di Hari Penerbangan Nasional 9 April 1962 mengatakan : &lt;b&gt;"…, tanah air kita adalah tanah air kepulauan, tanah air yang terdiri dari beribu-ribu pulau yang dipisahkan satu dari yang lain oleh samudra-samudra dan lautan-lautan. … tanah air kita ini adalah ditakdirkan oleh Allah SWT terletak antara dua benua dan dua samudra. Maka bangsa yang hidup di atas tanah air yang demikian itu hanyalah bisa menjadi satu bangsa yang kuat jikalau ia jaya bukan saja di lapangan komunikasi darat, tetapi juga di lapangan komunikasi laut dan di dalam abad 20 ini dan seterusnya di lapangan komunikasi udara."&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;PK.KKH&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pada tahun 1938 atas permintaan LW. Walraven dan MV. Patist - perancang PK.KKH - dibuat lagi pesawat lebih kecil di bengkel Jl. Kebon Kawung, Bandung. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Sp4cVNhODZk/TftdZi3oTAI/AAAAAAAACBQ/PWWe5ix5Gvc/s1600/wiwekoWEL.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-1lTonxAfzdE/TftdYWnkeEI/AAAAAAAACBM/0FdbBrdpK3Q/s1600/pkkkh.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="248" src="http://1.bp.blogspot.com/-1lTonxAfzdE/TftdYWnkeEI/AAAAAAAACBM/0FdbBrdpK3Q/s400/pkkkh.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pesawat PK.KKH yang dibuat tahun 1937 di Bandung , di mana putera-putera Indonesia terlibat dalam proses pembuatannya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;WEL-X/RI-X&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Selain itu juga pada tahun 1948 berhasil dibuat pesawat terbang bermotor dengan mempergunakan mesin motor Harley Davidson diberi tanda WEL-X hasil rancangan Wiweko Soepono dan kemudian dikenal dengan register RI-X. Era ini ditandai dengan munculnya berbagai club aeromodeling, yang menghasilkan perintis teknologi dirgantara, yaitu Nurtanio Pringgoadisurjo. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Sp4cVNhODZk/TftdZi3oTAI/AAAAAAAACBQ/PWWe5ix5Gvc/s1600/wiwekoWEL.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="252" src="http://1.bp.blogspot.com/-Sp4cVNhODZk/TftdZi3oTAI/AAAAAAAACBQ/PWWe5ix5Gvc/s400/wiwekoWEL.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Rancangan Wi-weko Soepono diberi tanda WEL-X yang dibuat pada tahun 1948, dengan menggunakan mesin Harley Davidson Kemudian kegiatan ini terhenti karena pecahnya pemberontakan Madiun dan agresi Belanda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-RXR6xILRj-w/TftdvPQYfAI/AAAAAAAACBw/iYes9yCPuRI/s1600/replikari-x.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="157" src="http://4.bp.blogspot.com/-RXR6xILRj-w/TftdvPQYfAI/AAAAAAAACBw/iYes9yCPuRI/s400/replikari-x.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Replika RI-X&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;SIKUMBANG NU-200&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;pada 1 Agustus 1954 berhasil diterbangkan prototip "Si Kumbang", sebuah pesawat serba logam bertempat duduk tunggal yang dibuat sesuai dengan kondisi negara pada waktu itu. Pesawat ini dibuat tiga buah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-HnoF7zJOrmo/TftiEOFUWII/AAAAAAAACCc/duDbUlkFVR0/s1600/indonesianurtanionu200sca8.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="284" src="http://2.bp.blogspot.com/-HnoF7zJOrmo/TftiEOFUWII/AAAAAAAACCc/duDbUlkFVR0/s400/indonesianurtanionu200sca8.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-nNYlhRrx7lU/TftiM7WM63I/AAAAAAAACC8/l_bVdSweGGk/s1600/sikumbang+1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="265" src="http://1.bp.blogspot.com/-nNYlhRrx7lU/TftiM7WM63I/AAAAAAAACC8/l_bVdSweGGk/s400/sikumbang+1.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-9iDl4_XUvI8/TftiLbOISgI/AAAAAAAACC0/7tF88WngqoQ/s1600/6815.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="242" src="http://4.bp.blogspot.com/-9iDl4_XUvI8/TftiLbOISgI/AAAAAAAACC0/7tF88WngqoQ/s400/6815.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-WDvfBpHAS30/TftiMLGH8YI/AAAAAAAACC4/65tXiyQNyIg/s1600/kumbang+2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="http://3.bp.blogspot.com/-WDvfBpHAS30/TftiMLGH8YI/AAAAAAAACC4/65tXiyQNyIg/s400/kumbang+2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-YzmU_eSQmkU/Tfth-0cZEkI/AAAAAAAACCY/E38jCYDtipA/s1600/Flight+Nov+1954.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="307" src="http://2.bp.blogspot.com/-YzmU_eSQmkU/Tfth-0cZEkI/AAAAAAAACCY/E38jCYDtipA/s400/Flight+Nov+1954.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-VNu0P_I6Aag/Tfth21RNG-I/AAAAAAAACCM/2L_ul5zy_8c/s1600/lipnur_nu-200.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="307" src="http://4.bp.blogspot.com/-VNu0P_I6Aag/Tfth21RNG-I/AAAAAAAACCM/2L_ul5zy_8c/s400/lipnur_nu-200.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Ij2K5uwuF_g/TftiE4Ln7UI/AAAAAAAACCg/XMLItUm544k/s1600/prune2406p.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="146" src="http://4.bp.blogspot.com/-Ij2K5uwuF_g/TftiE4Ln7UI/AAAAAAAACCg/XMLItUm544k/s400/prune2406p.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ARYH6tQ4Ijc/TftiF8BfbrI/AAAAAAAACCk/TKmDF5nUBvo/s1600/Sikumbang+02.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="184" src="http://3.bp.blogspot.com/-ARYH6tQ4Ijc/TftiF8BfbrI/AAAAAAAACCk/TKmDF5nUBvo/s400/Sikumbang+02.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;"Si Kumbang"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;BELALANG 89&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pada 24 April 1957, Seksi Percobaan ditingkatkan menjadi Sub Depot Penyelidikan, Percobaan &amp;amp; Pembuatan berdasar Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Udara No. 68.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Setahun kemudian, 1958 berhasil diterbangkan prototip pesawat latih dasar "Belalang 89" yang ketika diproduksi menjadi Belalang 90. Pesawat yang diproduksi sebanyak lima unit ini dipergunakan untuk mendidik calon penerbang di Akademi Angkatan Udara dan Pusat Penerbangan Angkatan Darat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-6SZnLJGru4M/TftiHGNJRII/AAAAAAAACCo/i836RiYSwRI/s1600/belalang.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="270" src="http://1.bp.blogspot.com/-6SZnLJGru4M/TftiHGNJRII/AAAAAAAACCo/i836RiYSwRI/s400/belalang.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;"Belalang 89"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;KUNANG NU-25&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Di tahun yang sama berhasil diterbangkan pesawat oleh raga "Kunang 25". Filosofinya untuk menanamkan semangat kedirgantaraan sehingga diharapkan dapat mendorong generasi baru yang berminat terhadap pembuatan pesawat terbang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-dPYmRqIVQQU/Tftd1pMIQOI/AAAAAAAACB4/baUbW13QE54/s1600/Nurtaniodansikunangrs.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="231" src="http://4.bp.blogspot.com/-dPYmRqIVQQU/Tftd1pMIQOI/AAAAAAAACB4/baUbW13QE54/s400/Nurtaniodansikunangrs.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-p4eqkcL_ZkA/TftdabwtZ2I/AAAAAAAACBU/iMUGx192QdQ/s1600/kunang1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="270" src="http://3.bp.blogspot.com/-p4eqkcL_ZkA/TftdabwtZ2I/AAAAAAAACBU/iMUGx192QdQ/s400/kunang1.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;"Kunang 25".&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;UPAYA PENDIRIAN INDUSTRI PESAWAT TERBANG &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sesuai dengan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai dan untuk memungkinkan berkembang lebih pesat, dengan Keputusan Menteri/Kepala Staf Angkatan Udara No. 488, 1 Agustus 1960 dibentuk Lembaga Persiapan Industri Penerbangan/LAPIP. Lembaga yang diresmikan pada 16 Desember 1961 ini bertugas menyiapkan pembangunan industri penerbangan yang mampu memberikan dukungan bagi penerbangan di Indonesia. Mendukung tugas tersebut, pada tahun 1961 LAPIP mewakili pemerintah Indonesia dan CEKOP mewakili pemerintah Polandia mengadakan kontrak kerjasama untuk membangun pabrik pesawat terbang di Indonesia. Kontrak meliputi pembangunan pabrik , pelatihan karyawan serta produksi di bawah lisensi pesawat PZL-104 Wilga, lebih dikenal Gelatik. Pesawat yang diproduksi 44 unit ini kemudian digunakan untuk dukungan pertanian, angkut ringan dan aero club.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, tahun 1965 melalui SK Presiden RI - Presiden Soekarno, didirikan Komando Pelaksana Proyek Industri Pesawat Terbang (KOPELAPIP) - yang intinya LAPIP - ; serta PN. Industri Pesawat Terbang Berdikari. Pada bulan Maret 1966, Nurtanio gugur ketika menjalankan pengujian terbang, sehingga untuk menghormati jasa beliau maka LAPIP menjadi LIPNUR/Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio. Dalam perkembangan selanjutnya LIPNUR memproduksi pesawat terbang latih dasar LT-200, serta membangun bengkel after-sales-service, maintenance, repair &amp;amp; overhaul.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pada tahun 1962, berdasar SK Presiden RI - Presiden Soekarno, didirikan jurusan Teknik Penerbangan ITB sebagai bagian dari Bagian Mesin. Pelopor pendidikan tinggi Teknik Penerbangan adalah Oetarjo Diran dan Liem Keng Kie. Kedua tokoh ini adalah bagian dari program pengiriman siswa ke luar negeri (Eropa dan Amerika) oleh Pemerintah RI yang berlangsung sejak tahun 1951. Usaha-usaha mendirikan industri pesawat terbang memang sudah disiapkan sejak 1951, ketika sekelompok mahasiswa Indonesia dikirim ke Belanda untuk belajar konstruksi pesawat terbang dan kedirgantaraan di TH Delft atas perintah khusus Presiden RI pertama. Pengiriman ini berlangsung hingga tahun 1954. Dilanjutkan tahun 1954 - 1958 dikirim pula kelompok mahasiswa ke Jerman, dan antara tahun 1958 - 1962 ke Cekoslowakia dan Rusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Perjalanan ini bertaut dengan didirikannya Lembaga Persiapan Industri Pesawat Terbang (LAPIP) pada 1960, pendirian bIdang Studi Teknik Penerbangan di ITB pada 1962, dibentuknya DEPANRI (Dewan Penerbangan dan Antariksa Republik Indonesia) pada 1963. Kemudian ditindaklanjuti dengan diadakannya proyek KOPELAPIP (Komando Pelaksana Persiapan Industri Pesawat Tebang) pada Maret 1965. Bekerjasama dengan Fokker, KOPELAPIP tak lain merupakan proyek pesawat terbang komersial. Sementara itu upaya-upaya lain untuk merintis industri pesawat terbang telah dilakukan pula oleh putera Indonesia - B.J. Habibie - di luar negeri sejak tahun 1960an sampai 1970an. Sebelum ia dipanggil pulang ke Indonesia untuk mendapat tugas yang lebih luas. Di tahun 1961, atas gagasan BJ. Habibie diselenggarakan Seminar Pembangunan I se Eropa di Praha, salah satu adalah dibentuk kelompok Penerbangan yang di ketuai BJ. Habibie.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;GELATIK PZL-104 &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-6ycgMJYYZcc/TftdbZ5N_dI/AAAAAAAACBY/m3pYPn5p3NI/s1600/gelatik2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="206" src="http://2.bp.blogspot.com/-6ycgMJYYZcc/TftdbZ5N_dI/AAAAAAAACBY/m3pYPn5p3NI/s400/gelatik2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-pM9SljIHXdQ/Tftdb6XAgHI/AAAAAAAACBc/zbzox4NsDO4/s1600/Snplate+Gelatik+PLZ-104.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-pM9SljIHXdQ/Tftdb6XAgHI/AAAAAAAACBc/zbzox4NsDO4/s400/Snplate+Gelatik+PLZ-104.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-uXgMdcPPBGY/Tftdj58mGvI/AAAAAAAACBk/A9U43oLOgr4/s1600/Wilgacu+Gelatik.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-uXgMdcPPBGY/Tftdj58mGvI/AAAAAAAACBk/A9U43oLOgr4/s400/Wilgacu+Gelatik.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-RkAZw8f27eI/Tft3DT8JLuI/AAAAAAAACFU/n70_d3iQAL8/s1600/100_6678-1.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="270" src="http://4.bp.blogspot.com/-RkAZw8f27eI/Tft3DT8JLuI/AAAAAAAACFU/n70_d3iQAL8/s400/100_6678-1.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-x4OSHcSsYFg/Tft3Bp82XYI/AAAAAAAACFQ/vnNHLlW53h0/s1600/100_6683-1.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="155" src="http://2.bp.blogspot.com/-x4OSHcSsYFg/Tft3Bp82XYI/AAAAAAAACFQ/vnNHLlW53h0/s400/100_6683-1.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;PZL-Okecie PZL-104 Gelatik-C&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-UWqXPCcHfuk/TftdeP5yszI/AAAAAAAACBg/vKDnyMACRXc/s1600/Gelatik3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://2.bp.blogspot.com/-UWqXPCcHfuk/TftdeP5yszI/AAAAAAAACBg/vKDnyMACRXc/s400/Gelatik3.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-uKeZFky2kOc/Tftd6ILxHFI/AAAAAAAACCI/BDSc8kI4soA/s1600/Nurtanio.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://3.bp.blogspot.com/-uKeZFky2kOc/Tftd6ILxHFI/AAAAAAAACCI/BDSc8kI4soA/s640/Nurtanio.jpg" width="412" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Nurtanio Pringgoadisuryo (lahir di Kandangan, Kalimantan Selatan, 3 Desember 1923 – meninggal 21 Maret 1966 pada umur 42 tahun adalah sebagai perintis industri penerbangan Indonesia. Bersama Wiweko Soepono, Nurtanio membuat pesawat layang Zogling NWG (Nurtanio-Wiweko-Glider) pada tahun 1947. Ia membuat pesawat pertama all metal dan fighter Indonesia yang dinamai Sikumbang, disusul dengan Kunang-kunang (mesin VW) dan Belalang, dan Gelatik (aslinya Wilga) serta mempersiapkan produksi F-27.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pada tahun 1965 Berdiri KOPELAPIP (Komando Pelaksana Industri Pesawat Terbang) dan PN. Industri Pesawat Terbang Berdikari melalui Dekrit Presiden. Setelah pada tahun 1966 Nurtanio meninggal Pemerintah menggabungkan KOPELAPIP dan PN. Industri Pesawat Terbang Berdikari menjadi LIPNUR kependekan dari Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio untuk menghormati kepeloporan almarhum Nurtanio.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-nM1s9XEiSvs/Tftd5Iv7LxI/AAAAAAAACCE/G5vRGCcezjU/s1600/520px-Bacharuddin_Jusuf_Habibie_official_portrait.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://1.bp.blogspot.com/-nM1s9XEiSvs/Tftd5Iv7LxI/AAAAAAAACCE/G5vRGCcezjU/s640/520px-Bacharuddin_Jusuf_Habibie_official_portrait.jpg" width="554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kemudian setelah itu datanglah BJ Habibie yang mengubah LIPNUR menjadi IPTN yang dikemudian hari sempat tercatat sebagai industri pesawat terbang termaju di negara berkembang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-BObX4nzFiwM/Tftd2MPYr2I/AAAAAAAACB8/8iTAbxOtZF8/s1600/Logo_iptn.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="241" src="http://1.bp.blogspot.com/-BObX4nzFiwM/Tftd2MPYr2I/AAAAAAAACB8/8iTAbxOtZF8/s400/Logo_iptn.jpeg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;IPTN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Industri pesawat terbang yang pertama dan satu-satunya di Indonesia dan di wilayah Asia Tenggara. Perusahaan ini dimiliki oleh Pemerintah Indonesia. DI didirikan pada 26 April 1976 dengan nama PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio dan BJ Habibie sebagai Presiden Direktur. Industri Pesawat Terbang Nurtanio kemudian berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada 11 Oktober 1985. Seteleah direstrukturisasi, IPTN kemudian berubah nama menjadi Dirgantara Indonesia pada 24 Agustus 2000.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-nbi5xn3NDP4/TftvQxTo2vI/AAAAAAAACEQ/U7z537Pgtfw/s1600/avc212_04.png" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="157" src="http://1.bp.blogspot.com/-nbi5xn3NDP4/TftvQxTo2vI/AAAAAAAACEQ/U7z537Pgtfw/s400/avc212_04.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-LAWVtbtStSg/TftvPwWbU5I/AAAAAAAACEM/5TAEYclXQc0/s1600/avc212_05.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="280" src="http://3.bp.blogspot.com/-LAWVtbtStSg/TftvPwWbU5I/AAAAAAAACEM/5TAEYclXQc0/s400/avc212_05.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-53AHpGPIiKk/TftvMZRneyI/AAAAAAAACD8/umFLb3aBEPg/s1600/NC212-U616.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="265" src="http://2.bp.blogspot.com/-53AHpGPIiKk/TftvMZRneyI/AAAAAAAACD8/umFLb3aBEPg/s400/NC212-U616.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-MXj3NzMqFrI/TftvJYmwE-I/AAAAAAAACD4/AZoP1dKywY4/s1600/NC212-P851.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://1.bp.blogspot.com/-MXj3NzMqFrI/TftvJYmwE-I/AAAAAAAACD4/AZoP1dKywY4/s400/NC212-P851.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-_i0Mlu6xCMk/TftvII7bThI/AAAAAAAACD0/bXgoQjWejc8/s1600/cn212fy7.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="305" src="http://1.bp.blogspot.com/-_i0Mlu6xCMk/TftvII7bThI/AAAAAAAACD0/bXgoQjWejc8/s400/cn212fy7.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-LeuG65e49Vo/Tft3HiEeTHI/AAAAAAAACFY/_R5hlKq4aZI/s1600/C212-Panamanian-Air-Force.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="270" src="http://2.bp.blogspot.com/-LeuG65e49Vo/Tft3HiEeTHI/AAAAAAAACFY/_R5hlKq4aZI/s400/C212-Panamanian-Air-Force.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-sg0GTluSelE/Tft3Kbv1r5I/AAAAAAAACFc/MjUpSKEktxc/s1600/avc212_12.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="287" src="http://2.bp.blogspot.com/-sg0GTluSelE/Tft3Kbv1r5I/AAAAAAAACFc/MjUpSKEktxc/s400/avc212_12.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;NC-212 series 200/400&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;NC-212-100 - Diproduksi di bawah lisensi di Indonesia sejak 1976, PT. Dirgantara Indonesia memproduksi 28 NC-212-100 sebelum beralih ke NC-212-200.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-XFzV-t1gyEA/Tfth7Y96W2I/AAAAAAAACCU/sXPL75wDFpw/s1600/MBB%252520Bolkow%252520BO105C.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="230" src="http://1.bp.blogspot.com/-XFzV-t1gyEA/Tfth7Y96W2I/AAAAAAAACCU/sXPL75wDFpw/s400/MBB%252520Bolkow%252520BO105C.jpg" width="400" /&gt;&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-idl4TZTyuBw/Tft22Sx6fXI/AAAAAAAACFA/OQGfubHzFzg/s1600/bo105al2py5.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="305" src="http://4.bp.blogspot.com/-idl4TZTyuBw/Tft22Sx6fXI/AAAAAAAACFA/OQGfubHzFzg/s400/bo105al2py5.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;NBO 105&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-q_F6fb-HcWY/Tfth5WOBD_I/AAAAAAAACCQ/Aqfw7a1SsEo/s1600/Kawasaki-117.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="258" src="http://4.bp.blogspot.com/-q_F6fb-HcWY/Tfth5WOBD_I/AAAAAAAACCQ/Aqfw7a1SsEo/s400/Kawasaki-117.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;NBK 117&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-pWcju_SBmiY/Tft2zGmlz2I/AAAAAAAACE4/sJbWxCS_Cp0/s1600/bell412alhs3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="383" src="http://3.bp.blogspot.com/-pWcju_SBmiY/Tft2zGmlz2I/AAAAAAAACE4/sJbWxCS_Cp0/s400/bell412alhs3.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-8BVxSheaswE/Tft251OjkjI/AAAAAAAACFI/wrxBA3c1VkY/s1600/NBell412-HU415.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="255" src="http://4.bp.blogspot.com/-8BVxSheaswE/Tft251OjkjI/AAAAAAAACFI/wrxBA3c1VkY/s400/NBell412-HU415.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;NBell 412&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-LoDZsfEtKw8/Tft9t9dGsiI/AAAAAAAACFs/xSifn3Q-NDM/s1600/AEROSPATIALE%252C_WESTLAND_PUMA_.png" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://3.bp.blogspot.com/-LoDZsfEtKw8/Tft9t9dGsiI/AAAAAAAACFs/xSifn3Q-NDM/s400/AEROSPATIALE%252C_WESTLAND_PUMA_.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;NAS 330 Puma&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Qj3TTYx6AdU/Tft20Y5gOyI/AAAAAAAACE8/GoRLH25LPe8/s1600/nas332aldo4.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="270" src="http://2.bp.blogspot.com/-Qj3TTYx6AdU/Tft20Y5gOyI/AAAAAAAACE8/GoRLH25LPe8/s400/nas332aldo4.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-s8VhomHZDIQ/Tft2xowiB7I/AAAAAAAACE0/l3QC2vH4XDI/s1600/NAS332-HU442-02.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="238" src="http://3.bp.blogspot.com/-s8VhomHZDIQ/Tft2xowiB7I/AAAAAAAACE0/l3QC2vH4XDI/s400/NAS332-HU442-02.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;NAS 332 Super Puma&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-lpRnt-QcPaE/TftvO62KoTI/AAAAAAAACEI/SD0Tt2Gz60c/s1600/avc212_06.png" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="195" src="http://2.bp.blogspot.com/-lpRnt-QcPaE/TftvO62KoTI/AAAAAAAACEI/SD0Tt2Gz60c/s400/avc212_06.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Y9w0-r8L5gA/Tft2wfRHOiI/AAAAAAAACEw/DBFbLpI6HfU/s1600/421px-EADS_CASA_CN-235.svg.png" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://1.bp.blogspot.com/-Y9w0-r8L5gA/Tft2wfRHOiI/AAAAAAAACEw/DBFbLpI6HfU/s640/421px-EADS_CASA_CN-235.svg.png" width="448" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-yTNY0IzhZyM/TftiJvEv8CI/AAAAAAAACCs/eg28-o89ZCY/s1600/CASA_Nurtanio-CN-235.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="265" src="http://2.bp.blogspot.com/-yTNY0IzhZyM/TftiJvEv8CI/AAAAAAAACCs/eg28-o89ZCY/s400/CASA_Nurtanio-CN-235.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Y9w0-r8L5gA/Tft2wfRHOiI/AAAAAAAACEw/DBFbLpI6HfU/s1600/421px-EADS_CASA_CN-235.svg.png" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-gB8QPT0E5us/Tft2u5u58ZI/AAAAAAAACEs/Cv5L9rsxNAk/s1600/800px-CT7_T700_P1220751.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-gB8QPT0E5us/Tft2u5u58ZI/AAAAAAAACEs/Cv5L9rsxNAk/s400/800px-CT7_T700_P1220751.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-u12wa4YUamM/Tft3TfYNolI/AAAAAAAACFk/yENlAYxxW1o/s1600/avc212_08.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="232" src="http://4.bp.blogspot.com/-u12wa4YUamM/Tft3TfYNolI/AAAAAAAACFk/yENlAYxxW1o/s400/avc212_08.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-f35d31TdMcw/Tft3U5DAr6I/AAAAAAAACFo/mM43X9NNGn4/s1600/avc212_07.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="222" src="http://1.bp.blogspot.com/-f35d31TdMcw/Tft3U5DAr6I/AAAAAAAACFo/mM43X9NNGn4/s400/avc212_07.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Gee6h3YW2M4/TftvXuwkNWI/AAAAAAAACEg/49ddrbwcKCk/s1600/800px-Casa_cn235_002.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="267" src="http://1.bp.blogspot.com/-Gee6h3YW2M4/TftvXuwkNWI/AAAAAAAACEg/49ddrbwcKCk/s400/800px-Casa_cn235_002.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-1XkBWnMSYGA/Tft2lmBOCHI/AAAAAAAACEo/b9Q-lHfnOvI/s1600/CN+235+AEW.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="253" src="http://2.bp.blogspot.com/-1XkBWnMSYGA/Tft2lmBOCHI/AAAAAAAACEo/b9Q-lHfnOvI/s400/CN+235+AEW.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-hZZ1PQZWXZw/TftvYy9I3nI/AAAAAAAACEk/QUHf49QBHTQ/s1600/217px-CN235world.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://3.bp.blogspot.com/-hZZ1PQZWXZw/TftvYy9I3nI/AAAAAAAACEk/QUHf49QBHTQ/s640/217px-CN235world.jpg" width="230" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-kQeXXlfUSME/TftuYThvBDI/AAAAAAAACDM/tqtrGkMmnrw/s1600/224px-CN235spanish.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://2.bp.blogspot.com/-kQeXXlfUSME/TftuYThvBDI/AAAAAAAACDM/tqtrGkMmnrw/s640/224px-CN235spanish.jpg" width="238" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;CN-235&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;CN-235 adalah pesawat angkut jarak sedang dengan dua mesin turbo-prop. Pesawat ini dikembangkan bersama-sama antara CASA di Spanyol and IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia) sebagai pesawat terbang regional dan angkut militer. Versi militer CN-235 termasuk patroli maritim, surveillance dan angkut pasukan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Desain dan Pengembangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;CN-235 diluncurkan sebagai kerjasama antara CASA dan IPTN. Kedua perusahaan ini membentuk perusahaan Airtech company untuk menjalankan program pembuatan CN-235. Desain dan produksi dibagi rata antara kedua perusahaan. Kerjasama hanya dilakukan pada versi 10 dan 100/110. Versi-versi berikutnya dikembangankan secara terpisah oleh masing-masing perusahaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Desain awal CN-235 dimulai pada Januari 1980, purnarupa pesawat terbang perdana pada 11 November 1983. Sertifikasi Spanyol dan Indonesia didapat pada tanggal 20 Juni 1986. Pesawat produksi terbang pertama pada 19 August 1986. FAA type approval didapat pada tanggal 3 Desemebr 1986 sebelum akhirnya terbang pertama untuk pembeli pesawat pada tanggal 1 Maret 1988.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pada tahun 1995, CASA meluncurkan CN-235 yang diperpanjang, C-295&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Penjaga Pantai Amerika Serikat / U.S. Coast Guard membeli CN-235 (diberi kode HC-144A) di bawah program pesawat maritim jarak sedang (MRSMPA).[1] Pesawat HC-144A pertama dikirim EADS CASA ke Lockheed Martin untuk dipasang alat-alat untuk misi maritim pada bulan December 2006.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-AW-cWiZo6i4/Tft3RBj33qI/AAAAAAAACFg/VMm7D9lOfPU/s1600/avc212_09.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="312" src="http://1.bp.blogspot.com/-AW-cWiZo6i4/Tft3RBj33qI/AAAAAAAACFg/VMm7D9lOfPU/s400/avc212_09.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;HC-144 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;U.S. Coast Guard&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pada bulan Agustus 2006, 3 CASA CN-235-10 masih terbang, dua dengan Safair dan satu Tiko Air, kedua-duanya di Afrika.[3] Asian Spirit juga mengoperasikan CN-235-220 di Filipina (informasi bulan June/July 2007).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Irish Air Corps mengoperasikan dua buah 2 CN-235 untuk patroli maritim. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;CASA -CN-235-300&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;PT.Dirgantara Indonesia :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* CN-235-10 :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Versi produksi awal (diproduksi 15 buah oleh masing-masing perusahaan), menggunakan mesin GE CT7-7A&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* CN-235-110 :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Secara umum sama dg seri 10 tetapi menggunakan mesin GE CT7-9C dalam nasel komposit baru ,mempunyai sistem kelistrikan, peringatan dan lingkungan yang lebih maju dibanding seri 100 milik CASA.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* CN-235-220 :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Versi Pengembangan. Pembentukan kembali struktur untuk bobot operasi yang lebih tinggi , pengambangan aerodinamik pada tepi depan sayap sayap dan kemudi belok, pengurangan panjang landasan yang dibutuhkan dan penambahan jarak tempuh dengan beban maksimum (MTOW=Maximum Take Off Weight)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-1trUNT1U3Z4/Tftdr01bxJI/AAAAAAAACBo/XMcJA2mjXfA/s1600/20091211cn-235-220+indosmarin.com-mpa2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="265" src="http://2.bp.blogspot.com/-1trUNT1U3Z4/Tftdr01bxJI/AAAAAAAACBo/XMcJA2mjXfA/s400/20091211cn-235-220+indosmarin.com-mpa2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-d4cwKP4JaGk/TftdtoeiCSI/AAAAAAAACBs/Gfh10EwtlBA/s1600/Cockpit_CN_235_mpa.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-d4cwKP4JaGk/TftdtoeiCSI/AAAAAAAACBs/Gfh10EwtlBA/s400/Cockpit_CN_235_mpa.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-PxbnHHFx4ts/TftvVehMqFI/AAAAAAAACEc/4I-CfpsSqNg/s1600/AIR_CN-235MP_Cockpit_lg.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://2.bp.blogspot.com/-PxbnHHFx4ts/TftvVehMqFI/AAAAAAAACEc/4I-CfpsSqNg/s400/AIR_CN-235MP_Cockpit_lg.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* CN-235 MPA :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Versi Patroli Maritim, dilengkapi dengan sistem navigasi, komunikasi dan misi ( mulai mendekati fase operasional dan hadir dalam singapore airshow 2008 ).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* CN235-330 Phoenix :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Modifikasi dari seri 220, ditawarkan IPTN ( dengan avionik Honeywell baru, EW system ARL-2002 dan 16.800 kg MTOW ) kepada Royal Australian Air Force untuk Project Air 5190 tactical airlift requirement, tapi dibatalkan karena masalah keuangan pada tahun 1998&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;EADS CASA :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* CN-235-10 :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Versi produksi awal (diproduksi 15 buah oleh masing-masing perusahaan), menggunakan mesin GE CT7-7A&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* CN-235-100 :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Secara umum sama dengan seri 10 tetapi menggunakan mesin GE CT7-9C dalam nasel komposit baru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* CN-235-200 :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Versi Pengembangan dengan pembentukan kembali struktur pesawat untuk bobot operasi yang lebih tinggi , pengambangan aerodinamik pada tepi depan sayap dan kemudi belok, pengurangan panjang landasan yang dibutuhkan serta penambahan jarak tempuh dengan beban maksimum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* CN-235-300 :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Modifikasi CASA pada seri 200,dengan avionik Honeywell. Kelebihan lain termasuk pengembangan sistem tekanan dan fasilitas instalasi opsional roda depan ganda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* CN-235 ASW/ASuW/MPA :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Versi Maritim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* C-295 :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Versi dengan badan lebih panjang, beban 50% lebih banyak dan mesin baru PW127G.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-nUL3AHBXZnI/TftvNeCRz5I/AAAAAAAACEA/DEiOmUHLFPY/s1600/avc212_11.png" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="297" src="http://1.bp.blogspot.com/-nUL3AHBXZnI/TftvNeCRz5I/AAAAAAAACEA/DEiOmUHLFPY/s400/avc212_11.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/--u33PgJ6_CE/TftvODOG6nI/AAAAAAAACEE/vFFsPPQQYJ0/s1600/avc212_10.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://2.bp.blogspot.com/--u33PgJ6_CE/TftvODOG6nI/AAAAAAAACEE/vFFsPPQQYJ0/s640/avc212_10.png" width="504" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-O8WWS5pIuLQ/TftvSeAYFKI/AAAAAAAACEU/_ydJKitbspo/s1600/avc212_01.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://3.bp.blogspot.com/-O8WWS5pIuLQ/TftvSeAYFKI/AAAAAAAACEU/_ydJKitbspo/s400/avc212_01.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-CUNdc4XESmM/Tft91ieDbKI/AAAAAAAACFw/slmORworTOQ/s1600/C+295+AEW+2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-CUNdc4XESmM/Tft91ieDbKI/AAAAAAAACFw/slmORworTOQ/s400/C+295+AEW+2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-xZaH3f-7j2M/Tft97fen78I/AAAAAAAACF0/g_1sevJu0Uo/s1600/C+295+AEW+1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="238" src="http://1.bp.blogspot.com/-xZaH3f-7j2M/Tft97fen78I/AAAAAAAACF0/g_1sevJu0Uo/s400/C+295+AEW+1.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;C-295&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;CASA CN-235 Angkatan Udara Spanyol&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Spesifikasi (CN-235-100/110)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Karakteristik Umum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Casa Cn 235&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Casa CN 235&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Kru: 2(dua) pilots&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Kapasitas: sampai 45 penumpang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Panjang: 21.40 m (70 ft 3 in)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Bentang sayap: 25.81 m (84 ft 8 in)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Tinggi: 8.18 m (26 ft 10 in)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Area sayap: 59.1 m² (636 ft²)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Berat Kosong: 9,800 kg (21,605 lb)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Berat Isi: 15,500 kg (16,500 kg Military load) ( lb)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Maksimum takeoff: 15,100 kg (33,290 lb)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Tenaga Penggerak: 2× General Electric CT79C turboprops, 1,395 kW (1,850 bhp) each&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kemampuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Kecepatan Maksimum: 509 km/j (317 mpj)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Jarak: 796 km (496 mil)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Ketinggian Maks: m ( ft)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Daya Menanjak: 542 m/min (1,780 ft/min)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Beban Sayap Maks: kg/m² ( lb/ft²)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Power/berat: kW/kg ( hp/lb)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;CASA CN-235M-100 Angkatan Udara Maroko&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Operator Militer&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Botswana Air Force&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Tentera Udara Diraja Brunei (1)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Chilean Air Force&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Colombian Air Force&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Ecuadorian Air Force&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* French Air Force&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Gabonese Air Force&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Irish Air Corps (2 x CN235MP)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Tentera Udara Diraja Malaysia (8 x CN235-220)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Moroccan Air Force&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Pakistan Air Force (4 x CN235-220)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Panama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Papua New Guinea&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Royal Saudi Air Force&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* South African Air Force&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* South Korean Air Force (20)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Thai Air Force (10 dipesan dari IPTN/DI)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* TNI AU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Turkish Air Force&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* UAE Navy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Bendera Amerika Serikat Amerika Serikat: U.S. Coast Guard sebagai HC-144A untuk program Medium Range Surveillance Maritime Patrol Aircraft (MRSMPA)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Militer&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Afrika Selatan: Angkatan Udara Afrika Selatan (1)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Amerika Serikat: Penjaga Pantai Amerika Serikat (8 HC-144)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Arab Emirat: Angkatan Laut Persatuan Emirat Arab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Arab Saudi: Angkatan Udara Arab Saudi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Botswana: Angkatan Udara Botswana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Brunei: Angkatan Udara Brunei (1)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Chile: Angkatan Darat Chile (4 CN-235-100) satu jatuh di Antartika&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Ekuador: Angkatan Udara Ekuador&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Gabon: Angkatan Udara Gabon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Indonesia: Angkatan Udara Indonesia (mengoperasikan CN235-100M, CN235-220M, CN235MPA)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Irlandia: Korp Udara Irlandia (2 CN235MP)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Kolumbia: Angkatan Udara Kolumbia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Korea Selatan: Angkatan Udara Korea Selatan (20)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Malaysia: Angkatan Udara Malaysia (8 CN235-220)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Maroko: Angkatan Udara Maroko (7)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Pakistan: Angkatan Udara Pakistan (4 CN235-220)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Panama: Angkatan Udara Panama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Papua New Guinea: Angkatan Udara Papua New Guinea&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Perancis: Angkatan Udara Perancis (19 CN235-100, 18 ditingkatkan menjadi CN235-200).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Spanyol: Angkatan Udara Spanyol (20)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Turki: Angkatan Udara Turki (50 CN235-100M); Angkatan Laut Turki (6 CN-235 ASW/ASuW MPA); Penjaga Pantai Turki (3 CN-235 MPA)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Venezuela: Angkatan Laut Venezuela (2 dipesan kemudian dibatalkan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Yordania: Angkatan Udara Yordania (2)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pemerintah dan paramiliter&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;* Thailand: Polisi Thailand (1 CN235-300)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;N 250&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pesawat N-250 adalah pesawat regional komuter turboprop rancangan asli IPTN (Sekarang PT Dirgantara Indonesia,PT DI, Indonesian Aerospace), Indonesia. Menggunakan kode N yang berarti Nusantara menunjukkan bahwa desain, produksi dan perhitungannya dikerjakan di Indonesia atau bahkan Nurtanio, yang merupakan pendiri dan perintis industri penerbangan di Indonesia. berbeda dengan pesawat sebelumnya seperti CN-235 dimana kode CN menunjukkan CASA-Nusantara atau CASA-Nurtanio, yang berarti pesawat itu dikerjakan secara patungan antara perusahaan CASA Spanyol dengan IPTN. Pesawat ini diberi nama gatotkoco (Gatotkaca).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesawat ini merupakan primadona IPTN dalam usaha merebut pasar di kelas 50-70 penumpang dengan keunggulan yang dimiliki di kelasnya (saat diluncurkan pada tahun 1995). Menjadi bintang pameran pada saat Indonesian Air Show 1996 di Cengkareng. Namun akhirnya pesawat ini dihentikan produksinya setelah krisis ekonomi 1997. Rencananya program N-250 akan dibangun kembali oleh B.J. Habibie setelah mendapatkan persetujuan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan perubahan di Indonesia yang dianggap demokratis. Namun untuk mengurangi biaya produksi dan meningkatkan daya saing harga di pasar internasional, beberapa performa yang dimilikinya dikurangi seperti penurunan kapasitas mesin,dan direncanakan dihilangkannya Sistem fly-by wire.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertimbangan B.J. Habibie untuk memproduksi pesawat itu (sekalipun sekarang dia bukan direktur IPTN) adalah diantaranya karena salah satu pesawat saingannya Fokker F-50 sudah tidak diproduksi lagi sejak keluaran perdananya 1985, karena perusahaan industrinya, Fokker Aviation di Belanda dinyatakan gulung tikar pada tahun 1996.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-vgTrrNIP3G8/Tftu25A26zI/AAAAAAAACDU/BvwcFQu9FGU/s1600/scan720.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="252" src="http://4.bp.blogspot.com/-vgTrrNIP3G8/Tftu25A26zI/AAAAAAAACDU/BvwcFQu9FGU/s400/scan720.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-_85jYocRj5M/TftvA24SUEI/AAAAAAAACDo/LeQB9piEnCA/s1600/0067230.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="273" src="http://2.bp.blogspot.com/-_85jYocRj5M/TftvA24SUEI/AAAAAAAACDo/LeQB9piEnCA/s400/0067230.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-7PvdeR70kxo/TftvDOGP-uI/AAAAAAAACDs/P97X1Vt0dS8/s1600/n250_01.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="303" src="http://4.bp.blogspot.com/-7PvdeR70kxo/TftvDOGP-uI/AAAAAAAACDs/P97X1Vt0dS8/s400/n250_01.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-JAQssP3GYT8/Tftu6KYyzuI/AAAAAAAACDc/lOCozdfXIAY/s1600/n250_10.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="283" src="http://2.bp.blogspot.com/-JAQssP3GYT8/Tftu6KYyzuI/AAAAAAAACDc/lOCozdfXIAY/s400/n250_10.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-cQPYOO53Ka0/TftvE_ycuwI/AAAAAAAACDw/UfS2fL2JaM0/s1600/n250_05.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="228" src="http://2.bp.blogspot.com/-cQPYOO53Ka0/TftvE_ycuwI/AAAAAAAACDw/UfS2fL2JaM0/s400/n250_05.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Zh6-bjvVKdk/Tftu7aps2LI/AAAAAAAACDg/3JRvyYcoYQQ/s1600/n250-2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-Zh6-bjvVKdk/Tftu7aps2LI/AAAAAAAACDg/3JRvyYcoYQQ/s400/n250-2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-3dmbtxsLlbU/Tftu4xHYXlI/AAAAAAAACDY/isU-O6eJwWs/s1600/77CF25DBA41A4167970E8D10C9906014.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="280" src="http://2.bp.blogspot.com/-3dmbtxsLlbU/Tftu4xHYXlI/AAAAAAAACDY/isU-O6eJwWs/s400/77CF25DBA41A4167970E8D10C9906014.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;N-250&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;N 2130&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Pesawat N-2130 adalah pesawat jet komuter berkapasitas 80-130 penumpang rancangan asli IPTN (Sekarang PT Dirgantara Indonesia,PT DI, Indonesian Aerospace), Indonesia. Menggunakan kode N yang berarti Nusantara menunjukkan bahwa desain, produksi dan perhitungannya dikerjakan di Indonesia atau bahkan Nurtanio, yang merupakan pendiri dan perintis industri penerbangan di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Tcg4QZm6J6I/TftmySMEtaI/AAAAAAAACDA/TlBmmZ9TtpI/s1600/2130-3v.gif" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://2.bp.blogspot.com/-Tcg4QZm6J6I/TftmySMEtaI/AAAAAAAACDA/TlBmmZ9TtpI/s640/2130-3v.gif" width="438" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-00gnz3uHEHY/Tftm3RUKUHI/AAAAAAAACDI/e3fx6bycvhU/s1600/N-2130.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="250" src="http://4.bp.blogspot.com/-00gnz3uHEHY/Tftm3RUKUHI/AAAAAAAACDI/e3fx6bycvhU/s400/N-2130.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pada 10 November 1995, bertepatan dengan terbang perdana N-250, Presiden Soeharto mengumumkan proyek N-2130. Soeharto mengajak rakyat Indonesia untuk menjadikan proyek N-2130 sebagai proyek nasional. N-2130 yang diperkirakan akan menelan dana dua milyar dollar AS itu, tandasnya, akan dibuat secara gotong-royong melalui penjualan dua juta lembar saham dengan harga pecahan 1.000 dollar AS. Untuk itu dibentuklah perusahaan PT Dua Satu Tiga Puluh (PT DSTP) untuk melaksanakan proyek besar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat badai krisis moneter 1997 menerpa Indonesia, PT DSTP limbung. Setahun kemudian akibat adanya ketidakstabilan politik dan penyimpangan pendanaan, mayoritas pemegang saham melalui RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) 15 Desember 1998 meminta PT DSTP untuk melikuidasi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk preliminary design pesawat ini, IPTN telah mengeluarkan tenaga, pikiran, dan uang yang tak kecil. Dana yang telah dikeluarkan lebih dari 70 juta dollar AS yang sesuai keputusan RUPSLB, dana bagi ini selanjutnya dianggap sunk-cost.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh kekayaan perseroan selanjutnya diaudit dimana hasil disampaikan kepada Bapepam tanggal 22 April 1999 dan diumumkan lewat media massa. Pembayaran hasil likuidasi kepada para pemegang sahamnya sendiri kemudian dilakukan bertahap mulai 9 Agustus hingga 15 Oktober 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spesifikasi Pesawat&lt;br /&gt;Pada saat konsep desain, N-2130 dipertimbangkan untuk 80, 100 atau 130 penumpang. Pesawat ini dilengkapi dengan teknologi canggih advanced fly-by-wire system.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-mES_XVkWGAU/Tftm2zFjjxI/AAAAAAAACDE/prk1YTTU1MY/s1600/DATA+N+2130.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="346" src="http://2.bp.blogspot.com/-mES_XVkWGAU/Tftm2zFjjxI/AAAAAAAACDE/prk1YTTU1MY/s400/DATA+N+2130.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-2_mpG5Y1qW8/Tftd2zfBI1I/AAAAAAAACCA/b65kBT8939I/s1600/Logo_DI_kecil.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-2_mpG5Y1qW8/Tftd2zfBI1I/AAAAAAAACCA/b65kBT8939I/s400/Logo_DI_kecil.jpg" width="379" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dirgantara Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dirgantara  Indonesia tidak hanya memproduksi berbagai pesawat tetapi juga  helikopter, senjata, menyediakan pelatihan dan jasa pemeliharaan  (maintenance service) untuk mesin-mesin pesawat. Dirgantara Indonesia  juga menjadi sub-kontraktor untuk industri-industri pesawat terbang  besar di dunia seperti Boeing, Airbus, General Dynamic, Fokker dan lain  sebagainya. Dirgantara Indonesia pernah mempunyai karyawan sampai 16  ribu orang. Karena krisis ekonomi banyak karyawan yang dikeluarkan dan  karyawannya kemudian menjadi berjumlah sekitar 4000 orang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pada  awal hingga pertengahan tahun 2000-an Dirgantara Indonesia mulai  menunjukkan kebangkitannya kembali, banyak pesanan dari luar negeri  seperti Thailand, Malaysia, Brunei, Korea, Filipina dan  lain-lain.[rujukan?] Meskipun begitu, karena dinilai tidak mampu  membayar utang berupa kompensasi dan manfaat pensiun dan jaminan hari  tua kepada mantan karyawannya, DI dinyatakan pailit oleh Pengadilan  Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 4 September 2007. Namun  pada tanggal 24 Oktober 2007 keputusan pailit tersebut dibatalkan. .  Meskipun kepailitan dibatalkan, PT DI masih saja menghadapi masalah  keuangan, yang memengaruhi pembayaran gaji karyawan, sehingga sering  terlambat dibayar. Bahkan, tunjangan kesehatan karyawan pun dihentikan  akibat perusahaan menunggak pembayaran kepada Rumah Sakit Hasan Sadikin,  Bandung, sebesar 3 milyar rupiah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;N 219&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-bYn6PbCRq3E/TftuaEF6vjI/AAAAAAAACDQ/w-RHISJTqU4/s1600/378px-Skema.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://3.bp.blogspot.com/-bYn6PbCRq3E/TftuaEF6vjI/AAAAAAAACDQ/w-RHISJTqU4/s640/378px-Skema.jpg" width="402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-foeo7GKrY3Q/Tft23kYVVTI/AAAAAAAACFE/EuNVAd4_5qQ/s1600/cutaway+N219+%2528Custom%2529.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="258" src="http://1.bp.blogspot.com/-foeo7GKrY3Q/Tft23kYVVTI/AAAAAAAACFE/EuNVAd4_5qQ/s400/cutaway+N219+%2528Custom%2529.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-PRCwc30m7PM/Tftu_NiZGZI/AAAAAAAACDk/_H9Sv2zBCAo/s1600/IAe+N219-thumb-560x303-75053.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="216" src="http://3.bp.blogspot.com/-PRCwc30m7PM/Tftu_NiZGZI/AAAAAAAACDk/_H9Sv2zBCAo/s400/IAe+N219-thumb-560x303-75053.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;N 219&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;N 219 ini pengembangan  lebih lanjut dari pesawat C 212 Aviocar. Pesawat N 219 ini airframenya  semuanya mengunakan logam. Dan menurut PT DI pesawat ini mempunyai  volume terbesar di kelasnya, dengan pintu fleksibel untuk menyesuaikan  berbagai macam missi penerbangan yang diembannya. Uji terowongan angin  telah dilaksanakan pada Maret 2010. Dan pesawat pertama dikirim ke  konsumen pertama pada tahun 2013-2014.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/zLUipOZwxX8" width="425"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;KFX/F 33&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;F-33 (sebelumnya KF-X) adalah sebuah program Korea Selatan dan Indonesia untuk mengembangkan pesawat tempur multi-fungsi canggih untuk Angkatan Udara Republik Korea (ROKAF) dan Tentara Nasional Indonesia - Angkatan Udara (TNI-AU)[1], program ini dipelopori oleh Korea Selatan dengan Indonesia sebagai mitra utama. Negara-negara lain seperti Turki telah menunjukkan minat dalam kerjasama pengembangan dan produksi pesawat. Ini adalah program pengembangan pesawat tempur kedua Korea Selatan setelah KAI FA-50.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-41RSCIwq7rw/TfuA7a6S4zI/AAAAAAAACF4/DNGShWNabj0/s1600/KFX+4.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://4.bp.blogspot.com/-41RSCIwq7rw/TfuA7a6S4zI/AAAAAAAACF4/DNGShWNabj0/s640/KFX+4.jpg" width="314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-crgKP4QHaqM/TfuBNSixUMI/AAAAAAAACGA/OpUkOVH4hcg/s1600/KFX+1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="265" src="http://1.bp.blogspot.com/-crgKP4QHaqM/TfuBNSixUMI/AAAAAAAACGA/OpUkOVH4hcg/s400/KFX+1.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-QkyGQO3PMQs/TfuBZ5YwS2I/AAAAAAAACGQ/hOL4NJuMg20/s1600/KF-X+yonhap.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="182" src="http://2.bp.blogspot.com/-QkyGQO3PMQs/TfuBZ5YwS2I/AAAAAAAACGQ/hOL4NJuMg20/s400/KF-X+yonhap.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-tEsCpDPtrYU/TfuBZLMe6hI/AAAAAAAACGM/mWiwhJpRkX8/s1600/KFX+111.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="393" src="http://4.bp.blogspot.com/-tEsCpDPtrYU/TfuBZLMe6hI/AAAAAAAACGM/mWiwhJpRkX8/s400/KFX+111.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;KFX / F 33&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Proyek ini pertama kali diumumkan oleh Presiden Korea Selatan Kim Dae-Jung pada upacara wisuda di Akademi Angkatan Udara pada Maret 2001. Meskipun persyaratan operasional awal untuk program KF-X seperti yang dinyatakan oleh ADD (Badan Pengembangan Pertahanan) adalah untuk mengembangkan pesawat ber kursi-tunggal, ber mesin jet kembar dan dengan kemampuan siluman (stealth) yang lebih baik dibanding Dassault Rafale atau Eurofighter Typhoon, tapi masih kurang stealth dibanding Lockheed Martin F-35 Lightning II, fokus dari program tersebut telah bergeser untuk memproduksi pesawat tempur dengan kemampuan lebih tinggi dari pesawat tempur kelas KF-16 pada tahun 2020.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;http://forum.detik.com/sejarah-pesawat-buatan-indonesia-t139292.html&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;http://id.wikipedia.org/wiki/Dirgantara_Indonesia&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;http://id.wikipedia.org/wiki/F-33&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;http://id.wikipedia.org/wiki/N-250&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;http://id.wikipedia.org/wiki/N-2130 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3142861121075504619-5211026084816796518?l=weaponstechnology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/feeds/5211026084816796518/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/06/pesawat-pesawat-buatan-anak-negeri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/5211026084816796518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/5211026084816796518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/06/pesawat-pesawat-buatan-anak-negeri.html' title='PESAWAT-PESAWAT BUATAN ANAK NEGERI INDONESIA'/><author><name>WEAPONS TECHNOLOGY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06988874767614887444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://3.bp.blogspot.com/_LpXMzejbcjI/S6DRcp3u0AI/AAAAAAAAAAM/lttrJgF_BMM/S220/PAK+FA+T+50+7.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-1lTonxAfzdE/TftdYWnkeEI/AAAAAAAACBM/0FdbBrdpK3Q/s72-c/pkkkh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3142861121075504619.post-3610912974691616568</id><published>2011-06-16T07:52:00.000-07:00</published><updated>2011-06-17T06:22:16.130-07:00</updated><title type='text'>PESAWAT SIKUMBANG</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;PESAWAT SIKUMBANG&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-oPhc-DsccSM/TfoRF_AOK5I/AAAAAAAAB_I/jWn4ExAoz4w/s1600/6815.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="242" src="http://4.bp.blogspot.com/-oPhc-DsccSM/TfoRF_AOK5I/AAAAAAAAB_I/jWn4ExAoz4w/s400/6815.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tipe &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pesawat serang anti gerilya (COIN)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Produsen &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; LIPNUR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Perancang &amp;nbsp; Nurtanio&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Status &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Eksperimental&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pengguna &amp;nbsp;&amp;nbsp; Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Data Teknis (NU-200)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Data Umum&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Awak: satu, pilot&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Mesin: 1 × de Havilland Gipsy Six, 150 kW (200 hp)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Performa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kecepatan maksimum: 260 km/h (160 mph)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Jarak: 960 km (600 miles)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-AiOL4ZNQVtY/TfoRJdNxJ8I/AAAAAAAAB_Y/CkXtFLuHJfI/s1600/indonesianurtanionu200sca8.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="284" src="http://4.bp.blogspot.com/-AiOL4ZNQVtY/TfoRJdNxJ8I/AAAAAAAAB_Y/CkXtFLuHJfI/s400/indonesianurtanionu200sca8.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Proses pembuatan N 200 Sikumbang di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;LIPNUR&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-mh-bE1slbRQ/TfoRKOyYvjI/AAAAAAAAB_c/urB7XlKY8cs/s1600/prune2406p.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="146" src="http://3.bp.blogspot.com/-mh-bE1slbRQ/TfoRKOyYvjI/AAAAAAAAB_c/urB7XlKY8cs/s400/prune2406p.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sikumbang adalah pesawat serang produksi LIPNUR cikal bakal IPTN (Sekarang PT Dirgantara Indonesia). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Hanya sepuluh  tahun setelah Indonesia merdeka, Indonesia telah berhasil berdikari dan  mandiri dengan membuat pesawat tempur untuk kepentingan angkatan udara  Indonesia TNI-AU.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pesawat Sikumbang (dengan kode dari pembuat: X-01) adalah pesawat low-wing monoplane yang dibuat di Indonesia pada tahun 1954 sebagai COIN dan pesawat anti gerilya .&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pesawat ini mempunyai fixed tricycle undercarriage. Pilot duduk di dalam bubble canopy.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pesawat pertama mendapat nomor NU-200 di tahun 1954.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-GP3oM8VDEcQ/TfoRIFDcKEI/AAAAAAAAB_Q/dFj6dVX7X0w/s1600/sikumbang+1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="265" src="http://3.bp.blogspot.com/-GP3oM8VDEcQ/TfoRIFDcKEI/AAAAAAAAB_Q/dFj6dVX7X0w/s400/sikumbang+1.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-f_cmHdRYCvY/TfoRGtlVZyI/AAAAAAAAB_M/Lf60vBKWiVQ/s1600/kumbang+2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="http://2.bp.blogspot.com/-f_cmHdRYCvY/TfoRGtlVZyI/AAAAAAAAB_M/Lf60vBKWiVQ/s400/kumbang+2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-_PwbqpW9-ak/TfoROEsbt-I/AAAAAAAAB_s/8VwwR480ra0/s1600/NU-200.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-_PwbqpW9-ak/TfoROEsbt-I/AAAAAAAAB_s/8VwwR480ra0/s1600/NU-200.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="208" src="http://3.bp.blogspot.com/-_PwbqpW9-ak/TfoROEsbt-I/AAAAAAAAB_s/8VwwR480ra0/s400/NU-200.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-9bq83ZUHrZk/TfoRImHTGpI/AAAAAAAAB_U/xmtI6g-Lz_Q/s1600/Flight+Nov+1954.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="307" src="http://2.bp.blogspot.com/-9bq83ZUHrZk/TfoRImHTGpI/AAAAAAAAB_U/xmtI6g-Lz_Q/s400/Flight+Nov+1954.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;Penerbangan di bulan November 1954&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-kqh8ZTifuJk/TfoUI8S2LYI/AAAAAAAAB_w/g_BlNfI_GxI/s1600/lipnur_nu-200.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="307" src="http://4.bp.blogspot.com/-kqh8ZTifuJk/TfoUI8S2LYI/AAAAAAAAB_w/g_BlNfI_GxI/s400/lipnur_nu-200.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Ini adalah  Nurtanio (LIPNUR) NU-200 Sikumbang difoto tahun 1955. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dan sebuah lagi NU-225 di tahun 1957. Pesawat kedua dipensiunkan pada tahun 1967.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-6vyM0Lsz3Gg/TfoRK-ZpQwI/AAAAAAAAB_g/T0sqXJ23z0M/s1600/Sikumbang+02.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="184" src="http://1.bp.blogspot.com/-6vyM0Lsz3Gg/TfoRK-ZpQwI/AAAAAAAAB_g/T0sqXJ23z0M/s400/Sikumbang+02.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;NU-225 di tahun 1957&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-osp0yGD-0yI/TfoRMjo5IwI/AAAAAAAAB_k/s_57mAeTl8Y/s1600/NU-200+Sikumbang+prototype.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="263" src="http://1.bp.blogspot.com/-osp0yGD-0yI/TfoRMjo5IwI/AAAAAAAAB_k/s_57mAeTl8Y/s400/NU-200+Sikumbang+prototype.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;NU-200 setelah pensiun dan dijadikan monumen di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Lanud Husein Sastranegara Bandung&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Nurtanio dan si Kumbang dalam Kenangan!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pagi itu, 28 Oktober 2010, hari sumpah pemuda, saya berangkat dari Jakarta menuju Bandung. Sesampai di Bandung saya langsung menuju ke PTDI.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dengan diantar oleh Avi, putra almarhum Nurtanio kami menuju hanggar tua tempat Nurtanio dulu bekerja membuat pesawat terbang eksperimen.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Diantara sekian banyak pesawat yang&amp;nbsp; diproduksi, pernah digunakan oleh beberapa sekolah penerbang (sekbang) sebagai pesawat latih.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sekbang&amp;nbsp; AU di Jogyakarta, Sekbang di Curug dan juga&amp;nbsp; Angkatan Darat di Semarang, sempat menggunakan pesawat hasil Nurtanio ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Salah satu pesawat buatan Nurtanio yang cukup terkenal adalah “si Kumbang” yang ternyata sampai kini masih ada dan utuh.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pesawat&amp;nbsp; dirawat dan dibangun kembali oleh beberapa eks anak buah almarhum Nurtanio yang setia sejak awal pembuatan “si Kumbang”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Di Pagi hari yang cerah itu saya sempat bertemu dengan&amp;nbsp; (lihat gambar) Dr. Tedjo Narsoyo Reksuatmodjo, ST, MPd ( Dosen Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia) pangkat terakhir Letkol (mengenakan pici) dan Pak Darwis R (yang pakai Topi) serta beberapa orang yang pernah membantu almarhum Nurtanio bekerja di hanggar tua itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Mereka berasal dari angkatan pertama CASSA yang dikirim ke Spanyol untuk produksi pesawat C-212 di bulan Oktober 1975.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dari waktu yang dialokasikan 6 bulan, mereka bisa menyelesaikannya hanya dalam waktu tidak lebih dari 4 bulan dan dari&amp;nbsp;&amp;nbsp; 10 “The Best Direct Labour of The Year” pada waktu itu 3 orang berasal dari Indonesia , yaitu Saudara Wagimun, Undang dan Toyo.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Satu prestasi yang sangat membanggakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dalam Hanggar tua yang nyaris tidak terpelihara itu, masih ada tersimpan salah satu “mesin jahit” tua merek “singer” yang digunakan&amp;nbsp; untuk menjahit “fabric” sebagai bagian dari struktur kerangka pesawat terbang buatan Nurtanio.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Beberapa “test flight” yang dilaksanakan bagi pesawat-pesawat produksi Nurtanio dilakukan oleh Test Pilot asing antara lain Capt. Powers.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Menyaksikan bersama salah seorang putra Nurtanio dan para eks teknisi yang pernah bekerja membangun pesawat “si Kumbang” didalam Hanggar tua pagi hari itu, saya “merinding” terharu membayangkan bagaimana dengan peralatan yang seadanya, mereka semua bekerja untuk menghasilkan pesawat terbang buatan sendiri.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dengan bertopang dalam tubuh tua yang sudah renta,mereka bercerita kepada saya dengan wajah yang sangat bercahaya penuh semangat dan harapan membeberkan kebanggaannya saat bekerja di “pabrik” pesawat terbang pertama dibumi pertiwi ini.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mereka pula yang beberapa tahun belakangan ini membangun kembali “si Kumbang” dari sosok yang sudah setengah berkarat untuk diperbaiki seadanya , kemudian di cat untuk dapat dilihat sebagai sebuah pesawat yang utuh dan siap terbang.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saat saya tanyakan, apakah pesawat ini bisa terbang, mereka sama menjawab sulit untuk mengembalikan kondisi pesawat tua ini untuk bisa terbang.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tetapi mereka dengan penuh semangat menyampaikan kepada saya bahwa mereka sedang berusaha keras agar bisa, paling tidak untuk menghidupkan kembali “engine” pesawat “si Kumbang” ini.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sungguh saya sangat mengagumi “semangat” yang tiada mengenal lelah apalagi menyerah dari para prajurit ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Saya tahu betul, semangat mereka itu dipicu oleh janji dari pihak PTDI, yang katanya akan membangunkan “museum” Nurtanio di hanggar tua itu dimana “si Kumbang” konon akan diperagakan disana.&amp;nbsp; Para Prajurit Purnawirawan ini menjadi sangat bersemangat kembali, karena ternyata akhirnya ada juga pihak yang sedikit menghargai pekerjaan mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tidak mudah sebenarnya mengajak para prajurit yang tanpa pamrih itu untuk bekerja kembali membangun si Kumbang yang sudah tergeletak bagai layaknya barang rongsokan milik para pemulung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Mereka, sebagaimana seluruh keluarga besar Angkatan Udara, sulit untuk dapat menerima dan merasa sangat “dikhianati” saat nama Nurtanio dihilangkan begitu saja secara semena-mena dan sewenang-wenang oleh orang yang sangat berkuasa pada saat itu.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mereka merasa “rumah” nya sendiri (pangkalan udara Husein Sastranegara) sudah di obrak abrik oleh orang lain, kemudian saat IPTN baru sedikit berkembang, satu per satu mereka pun dibuang keluar.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Demikian pula gedung-gedung fasilitas pangkalan dan perawatan pesawat Angkatan Udara satu persatu digusur dan dirubuhkan untuk kemudian dibangun gedung-gedung yang “mewah” dan “megah” serta menyingkirkan nama besar yang sangat dihormati Angkatan Udara sebagai Pahlawannya,&amp;nbsp; Bapak Nurtanio.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Beruntung dari semua produk Nurtanio, ada satu “si Kumbang” yang masih memungkinkan untuk dibangun kembali setelah beberapa waktu sempat menjadi semacam “monumen” di Lanud Husein Sastranegara Bandung.&amp;nbsp; Pesawat inilah yang saya saksikan dipagi hari itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kami semua dengan menahan kesedihan dan kepedihan hati,namun tetap berselimut kebanggaan yang meluap-luap, didalam hanggar tua tidak terawat (namun masih terasa bernyawa dengan spirit dan semangat kuat membangun kekuatan udara), menyaksikan kembali “si Kumbang” yang baru saja di cat kembali seadanya, seolah menyaksikan kelahiran kembali Nurtanio !&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Saya melihat wajah berbinar-binar dari prajurit eks anak buah Nurtanio, terasa masih menyimpan semangat yang tinggi, jauh dari sekedar harapan untuk dihargai orang lain, apalagi oleh PTDI atau pemerintah.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saya tidak tega untuk berpisah begitu saja dengan mereka, para patriot udara, tanpa mengabadikannya dengan berfoto bersama didalam Hanggar yang sangat bersejarah namun terbengkalai tidak karuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Saya menangis dalam hati menyaksikan ini semua, dan diluar Hanggar diseberang landasan, masih terlihat kemegahan gedung-gedung PTDI walaupun sudah tidak terlihat lagi produksi pesawat terbangnya.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tidak lagi terlihat sang Tetuko (Sing Tuku ora teko, Sing teko ora tuku).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Benar-benar “menyedihkan”, Angkatan Udara sudah jadi korban babak belur, namun pabrik pesawat kebanggaan bangsa tidak juga terwujud.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Quo Vadis PTDI, sebuah proyek penuh ambisi yang dibangun dengan kesombongan dan keangkuhan tiada tara kemudian berakhir dengan porak poranda. Semoga tidak terulang kembali.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mudah-mudahan Tuhan YME mengampuni semua orang-orang yang berdosa dimuka bumi ini. Amin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Inilah beberapa gambar yang sempat diabadikan dipagi hari yang cerah di Kota Bandung, 28 Oktober 2010.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Gambar yang berisi ribuan kata-kata , termasuk didalamnya berisi semangat militan dari para prajurit Udara kebanggaan Bangsa ! Swa Buana Paksa !&amp;nbsp; Bung Karno pernah berkata bahwa :” Bangsa Yang Besar adalah Bangsa yang menghargai para Pahlawannya !” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-o4coVZvKhsc/TftR5WaGT_I/AAAAAAAACBI/0NZwvrwhRFA/s1600/p1030687.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-o4coVZvKhsc/TftR5WaGT_I/AAAAAAAACBI/0NZwvrwhRFA/s400/p1030687.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kondisi pesawat "Si Kumbang" NU-200 RI01 saat ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-4g0zZjTK9Mg/TftR02eEE-I/AAAAAAAACBE/YNWbGKSUvfg/s1600/p1030689.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-4g0zZjTK9Mg/TftR02eEE-I/AAAAAAAACBE/YNWbGKSUvfg/s400/p1030689.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Mesin Jahit Tua yang digunakan untuk Menjahit Kebutuhan Pesawat&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-UO7__P1JE0E/TftRxGkb_RI/AAAAAAAACBA/ryoLILalAzQ/s1600/p1030719.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-UO7__P1JE0E/TftRxGkb_RI/AAAAAAAACBA/ryoLILalAzQ/s400/p1030719.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Hangar Yang Digunakan Oleh Nurtanio&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-rPfIIVbrNmY/TftRtNG6M4I/AAAAAAAACA8/J73Auj3x16A/s1600/p1030700.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-rPfIIVbrNmY/TftRtNG6M4I/AAAAAAAACA8/J73Auj3x16A/s400/p1030700.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Gedung Belakang Hangar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Z0vNn1u6tHc/TftRo9JUe5I/AAAAAAAACA4/f4bQuL8KUpk/s1600/p1030701.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-Z0vNn1u6tHc/TftRo9JUe5I/AAAAAAAACA4/f4bQuL8KUpk/s400/p1030701.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;Gedung Belakang Hangar Nurtanio&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-o4A5JCGUqbk/TftRkmVV0WI/AAAAAAAACA0/oiB3h69jrsk/s1600/p1030712.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-o4A5JCGUqbk/TftRkmVV0WI/AAAAAAAACA0/oiB3h69jrsk/s400/p1030712.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;Dengan Sesepuh "Nurtanio" dan Si Kumbang&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dr. Tedjo Narsoyo Reksuatmodjo,  ST, MPd ( Dosen Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia) pangkat  terakhir Letkol (mengenakan pici) dan Pak Darwis R (yang pakai Topi)  serta beberapa orang yang pernah membantu almarhum Nurtanio&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-GVSQHviYESc/TftRgrq0gNI/AAAAAAAACAw/PLDEENEr2cg/s1600/p1030706.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-GVSQHviYESc/TftRgrq0gNI/AAAAAAAACAw/PLDEENEr2cg/s400/p1030706.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;Foto Bersama Dengan Sesepuh "Nurtanio"&lt;/div&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Selain Si kumbang masih ada lagi satu pesawat buatan LIPNUR yang dinamakan Belalang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pada tahun 1958 berhasil diterbangkan prototip pesawat latih dasar "Belalang 89" yang ketika diproduksi menjadi Belalang 90. Pesawat yang diproduksi sebanyak lima unit ini dipergunakan untuk mendidik calon penerbang di Akademi Angkatan Udara dan Pusat Penerbangan Angkatan Darat. Di tahun yang sama berhasil diterbangkan pesawat oleh raga "Kunang 25". Filosofinya untuk menanamkan semangat kedirgantaraan sehingga diharapkan dapat mendorong generasi baru yang berminat terhadap pembuatan pesawat terbang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-wZlEEVv0MsM/TfoRNYd0S9I/AAAAAAAAB_o/OtWkK3M3ok8/s1600/belalang.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="270" src="http://4.bp.blogspot.com/-wZlEEVv0MsM/TfoRNYd0S9I/AAAAAAAAB_o/OtWkK3M3ok8/s400/belalang.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sekarang ini pesawat yang mirip dengan gambar tersebut dibeli dari Korea. Sayangnya produksi pesawat ini tidak pernah dilanjutkan dan bahkan pemerintah sibuk dengan program-program lisensi yang sangat membuat harga pesawat menjadi mahal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tahun 2009, Indonesia dikejutkan dengan keberhasilan anak-anak SMK memproduksi pesawat Jabiru yang membuat titik kebangkitan penerbangan di masa era reformasi ini menjadi terlihat kembali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesawat_Sikumbang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;http://sejarah.kompasiana.com/2010/10/30/nurtanio-dan-si-kumbang-dalam-kenangan/ &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;http://www.aviastar.org/air/indonesia/lipnur_nu-200.php&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3142861121075504619-3610912974691616568?l=weaponstechnology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/feeds/3610912974691616568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/06/pesawat-sikumbang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/3610912974691616568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3142861121075504619/posts/default/3610912974691616568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/06/pesawat-sikumbang.html' title='PESAWAT SIKUMBANG'/><author><name>WEAPONS TECHNOLOGY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06988874767614887444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://3.bp.blogspot.com/_LpXMzejbcjI/S6DRcp3u0AI/AAAAAAAAAAM/lttrJgF_BMM/S220/PAK+FA+T+50+7.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-oPhc-DsccSM/TfoRF_AOK5I/AAAAAAAAB_I/jWn4ExAoz4w/s72-c/6815.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3142861121075504619.post-7823760680966093780</id><published>2011-06-15T07:57:00.000-07:00</published><updated>2011-06-15T08:19:57.083-07:00</updated><title type='text'>YAKOVLEV YAK 141 NATO CODE : FREESTYLE</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;YAKOVLEV YAK 141 NATO CODE : FREESTYLE&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-2mngJcvvxoE/TfjC_8_fhzI/AAAAAAAAB-Y/6P0tOim3rbM/s1600/Yak-141_3D.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="226" src="http://1.bp.blogspot.com/-2mngJcvvxoE/TfjC_8_fhzI/AAAAAAAAB-Y/6P0tOim3rbM/s400/Yak-141_3D.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-jCrEsACXh1c/TfjC_am2vII/AAAAAAAAB-U/NEmnUSN8wYQ/s1600/800px-Yakovlev_Yak-141_3D_model.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="231" src="http://1.bp.blogspot.com/-jCrEsACXh1c/TfjC_am2vII/AAAAAAAAB-U/NEmnUSN8wYQ/s400/800px-Yakovlev_Yak-141_3D_model.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ThikXLPAfuo/TfjLFmW0JBI/AAAAAAAAB-s/LnCXlUTN40o/s1600/1327589.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="278" src="http://3.bp.blogspot.com/-ThikXLPAfuo/TfjLFmW0JBI/AAAAAAAAB-s/LnCXlUTN40o/s400/1327589.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-NFuU-9dhQPw/TfjK_g6ZoSI/AAAAAAAAB-o/96yZ4xq-kx0/s1600/yk141-1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://3.bp.blogspot.com/-NFuU-9dhQPw/TfjK_g6ZoSI/AAAAAAAAB-o/96yZ4xq-kx0/s400/yk141-1.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-e9wsT8TaL4U/TfjKx1dwukI/AAAAAAAAB-k/dbPyP36KUV0/s1600/141_0.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-e9wsT8TaL4U/TfjKx1dwukI/AAAAAAAAB-k/dbPyP36KUV0/s400/141_0.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-oC4n4UvhxwA/TfjLGYqpMCI/AAAAAAAAB-w/g2EGc3x7U_A/s1600/yak141_3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="275" src="http://4.bp.blogspot.com/-oC4n4UvhxwA/TfjLGYqpMCI/AAAAAAAAB-w/g2EGc3x7U_A/s400/yak141_3.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Yiws3SIaS3M/TfjKxQAQSXI/AAAAAAAAB-g/eiLYCdMYixU/s1600/yakovlev-yak-141-2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-Yiws3SIaS3M/TfjKxQAQSXI/AAAAAAAAB-g/eiLYCdMYixU/s400/yakovlev-yak-141-2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ky0KTxfpdgI/TfjLMV-zQCI/AAAAAAAAB-0/JRSsfWjUlvA/s1600/Yak41M_over_Baku.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="220" src="http://3.bp.blogspot.com/-ky0KTxfpdgI/TfjLMV-zQCI/AAAAAAAAB-0/JRSsfWjUlvA/s400/Yak41M_over_Baku.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-kCl6PtBZkkA/TfjNIAWbIjI/AAAAAAAAB-8/7kXiDQ1IG8E/s1600/Yak-141_on_airshow.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="280" src="http://1.bp.blogspot.com/-kCl6PtBZkkA/TfjNIAWbIjI/AAAAAAAAB-8/7kXiDQ1IG8E/s400/Yak-141_on_airshow.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-I-wxBGTgIZg/TfjNLDokSeI/AAAAAAAAB_A/dm-1niAVvKw/s1600/Yak-141.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="280" src="http://2.bp.blogspot.com/-I-wxBGTgIZg/TfjNLDokSeI/AAAAAAAAB_A/dm-1niAVvKw/s400/Yak-141.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-WRfeWCpUbQw/TfjNBpXeIcI/AAAAAAAAB-4/E_1DyQNHv7A/s1600/Yak-141_flight.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://3.bp.blogspot.com/-WRfeWCpUbQw/TfjNBpXeIcI/AAAAAAAAB-4/E_1DyQNHv7A/s400/Yak-141_flight.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-1A5LVoLC5Hw/TfjDbYVEfDI/AAAAAAAAB-c/W8_TJh3wvMA/s1600/800px-Yakovlev_Yak-141_Museum_of_technique.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-1A5LVoLC5Hw/TfjDbYVEfDI/AAAAAAAAB-c/W8_TJh3wvMA/s400/800px-Yakovlev_Yak-141_Museum_of_technique.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;The Yakovlev Yak-141 (NATO reporting name Freestyle), also known as the Yak-41, is a supersonic VTOL fighter aircraft from the Soviet Union. It did not enter production.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Design and development&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Yakovlev always believed the Yak-38 to be an interim aircraft, developed to gain experience designing and developing military VTOL aircraft. Even before the Yak-38's introduction, the Soviet Navy desired a more comprehensive aircraft, with greater capabilities than the Yak-38 offered. The result was a design contract offered to Yakovlev in 1975 without any competition. The requirement was for an aircraft with only one mission: air defense of the fleet. Unlike the Yak-38, this aircraft was to have sustained supersonic speed. Maneuverability, radar and weapons loads were expected to be similar to those of current front-line fighters. For the Soviet Navy this aircraft was to be their next generation VTOL fighter. For Yakovlev the aircraft was viewed as a way of returning to designing Soviet fighter aircraft.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Because of the importance and complexity of the project, Alexander Sergeyevich Yakovlev assigned a large portion of his OKB to the development of the new VTOL fighter, with no fewer than ten chief engineers working simultaneously on what was called "Product 48" (the military had designated it Yak-41). Over fifty designs were studied. One key problem was designing an aircraft with both vectoring thrust and an afterburner, which was essential for sustained supersonic speeds. A twin-engine design was considered, but abandoned as the loss of an engine on landing would result in an immediate roll to the side. Eventually it was decided that the best arrangement was a single vectoring nozzle located just behind the center of gravity, as well as dedicated vertical thrust jets positioned just behind the cockpit. A considerable amount of time was spent in the development of a flat, rectangular nozzle similar to that later employed on the American F-22 Raptor. Such a nozzle proved well-suited for the changes in configuration needed for both thrust vectoring and supersonic flight, and allowed for a thin, shallow tail. Ultimately, a circular nozzle was used, located between twin booms supporting the twin-finned tail.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Parts that were to be subjected to excessive heat from the engines during landing were manufactured of titanium, and no less than 26% of the overall aircraft was to be manufactured of graphite or composite material. Because of heat build-up, hovering was restricted to no more than 2½ minutes.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;All three engines were controlled through an interlinked digital system, which was capable of controlling both engine start-up as well as modulating the thrust of all three engines during landing and hovering flight. Twin tandem reaction control jets were positioned at the wingtips, while a swiveling yaw jet was positioned under the nose.[1]&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;The cockpit was pressurized and air-conditioned. The small canopy was bulletproof in front. It hinged to the right, but because of a long dorsal spine it had no rear vision. The ejection seat was automatically armed as soon as the engine duct was rotated past 30 degrees with an airspeed of less than 300 km/h (186 mph). The instrumentation in the prototypes was simple and similar to that planned for the earlier Yak-36M. The production version was to have been fitted with an extensive avionics and weapons suite including doppler radar, laser-TV ranging and aiming, as well as a heads-up multifunction display (HUD) which worked in connection with a helmet-mounted missile aiming system as found on the Mikoyan MiG-29. This system allows the pilot to lock onto an enemy aircraft by turning his head as far as 80 degrees from front.[1]&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;The undercarriage was tricycle, and equipped with the latest multi-disc, anti-skid brakes. The steerable nose wheel retracted to the rear, while the main gear retracted forward.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;The top mounted wing was similar to that used on the Yakovlev Yak-36, though the outer panel swept back, and could be folded up for shipboard storage. The main engine was served by four side-mounted ducts as well as a row of large louvers along the upper surface to allow air to enter the engine during full power hovering. This engine was the R-79V-300, a two-shaft augmented turbofan with a bypass ratio of 1. Maximum thrust was 14,000 kg (30,864 lb). The rear nozzle could rotate from 0 degrees to 95 degrees for VTOL landing and hovering. The two lift engines were the RD-41 design, a simple single-shaft engine made mostly of titanium. Each had a thrust of 4,100 kg (9,040 lb). The engines were installed behind the cockpit at an angle of 85 degrees. Like the Yak-38, the engines received their air through eight spring-operated dorsal flaps, and the exhaust exited through a belly opening covered by two ventral doors.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Testing&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Yakovlev obtained funding for four prototypes. The first (48-0, with no callsign) was a bare airframe for static and fatigue testing. The second (48-1, callsign "48") was a non-flying powerplant testbed. The third and fourth (48-2 and 48-3, callsigns "75" and "77") were for flight testing. While 48-1 remained unpainted, 48-2 and 48-3 were painted in overall grey, with a black radome and fin cap antennas.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;The first conventional flight, using 48-2, took place at Zhukovskii on 9 March 1987, with chief test pilot Sinitsyn at the controls. He made the first hovering flight on 29 December 1989 flying 48-3, and used the same aircraft to make the first complete transition from vertical to high-speed flight and vertical landing on 13 June 1990. From April 1991, various kinds of rolling take-off and run-on landings were performed on normal runways and also "ski-jump" ramps at the lift jet center at Saky. Throughout testing the aircraft was found to demonstrate excellent combat maneuvers. Chief test pilot Sinitsyn went on to set twelve new world class records, but as the Yak-41 designation was classified, the records were submitted under the fictitious name "Yak-141".[1] As a result, the previously unknown aircraft came to be known in the west as the "Yak-141". In 1992, Yakovlev repainted both flying aircraft in olive/grey camouflage, with the Russian tricolor insignia, and painted a white "141" on both aircraft in place of their previous callsigns, "75" and 77".&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;On 26 September 1991, Sinitsyn made the first vertical landing on the Soviet aircraft carrier Admiral Gorshkov (ex-Baku) in 48-2. An hour later, Vladimir A. Yakimov landed 48-3 on the same deck. The pilots would go on to make eight flights from the ship until Yakimov made a hard landing on 5 October. The undercarriage ruptured a fuel tank, causing a serious fire. After almost 30 seconds, Yakimov ejected successfully, and was rescued from the sea. The aircraft was later repaired and placed on display (see "Survivors").[1] That same month the Soviet Navy announced that no further funds were available to continue the program. The factory at Smolensk had anticipated this and had not constructed the tooling for production.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Lockheed-Martin&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Following the announcement by the CIS that it could no longer fund development of the Yak-41M, Yakovlev immediately entered into discussions with several foreign partners who could help fund the program (a tactic they were also pursuing for development of the Yak-130 trainer, which was eventually developed in partnership with Aermacchi of Italy). Lockheed-Martin, which was in the process of developing the X-35 for the U.S. Joint Strike Fighter program, quickly stepped forward, and with their assistance 48-2 was displayed at the Farnborough Airshow in September 1992. Yakovlev announced that they had reached an agreement with Lockheed-Martin for funds of $385 to $400 million for three new prototypes and an additional static test aircraft to test improvements in design and avionics. Planned modifications for the proposed Yak-41M included an increase in STOL weight to 21,500 kg (47,400 lb). One of the prototypes would have been a dual-control trainer. Though no longer flyable, both 48-2 and 48-3 were exhibited at the 1993 Moscow airshow. The partnership began in late 1991, though it was not publicly revealed by Yakovlev until 6 September 1992, and was not revealed by Lockheed-Martin until June 1994.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Yak-41 or Yak-141&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;The design was initially designated the Yak-41M by the Soviet military. Once testing commenced, and the two prototypes began accumulating numerous world class records, it became necessary to invent a designation for use in the west, as the name Yak-41M was classified. The designation Yak-141 was selected, and it was by this name that the aircraft became known to western allies, though officially the aircraft's designation remained Yak-41M within the Soviet military. In 1991 Lockheed-Martin entered into partnership with Yakovlev to further develop an aircraft they had always known as the Yak-141. Largely as a result of this agreement, by 1992 Yakovlev changed the aircraft's designation to Yak-141 for the two flyable prototypes. Series production in Russia could have resulted in additional modification to the designation.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Variants&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Yak-41&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; The two flying protoypes and ground test article&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Yak-41M&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Proposed production aircraft with large LERX's (leading-edge root extensions) and other improvements, particularly in the avionic suite.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Yak-43 (a.k.a. Izdeliye 201)&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; A proposed development of the Yak-41M 'Freehand' equipped with Kuznetsov NK-321 engines.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Yak-141&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Designation originally applied to a single Yak-41 for disinformation and propaganda purposes when registering records with the FAI (Fédération Aéronautique Internationale)[2][3] and later for promotional purposes by Yakovlev&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Operators&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Soviet Union&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Soviet Navy - Soviet Naval Aviation&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Survivors&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Yak-41M (s/n 48-2, callsign "75") is on display at the Central Air Force Museum at Monino. The aircraft is displayed in its 1992 livery with olive/grey camouflage markings and "141" painted in white in place of the former callsign.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Yak-41M (s/n 48-3, callsign "77") is on display at the Yakovlev OKB Museum. The aircraft is displayed in its 1992 livery with olive/grey camouflage markings and "141" painted in white in place of the former callsign.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Specifications (Yak-41)&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Data from Yakovlev data, Gunston, Winchester&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;General characteristics&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Crew: One: pilot&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Length: 18.36 m (60 ft 2¼ in)&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Wingspan: 10.105 m (33 ft 1½ in)&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Height: 5.00 m (16 ft 5 in)&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Wing area: 31.7 m² (341 ft²)&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Empty weight: 11,650 kg (25,683 lb)&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Max takeoff weight: 19,500 kg (42,989 lb)&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Powerplant: 1 × MNPK Soyuz R-79V-300 lift/cruise turbofan&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dry thrust: 108 kN (24,300 lbf)&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Thrust with afterburner: 152 kN (34,170 lbf&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Lift engines: 2x RKBM RD-41 turbojets 41.7 kN (9,300 lbf) thrust each)&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Performance&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Maximum speed: 1,800 km/h (1,118 mph, Mach 1.4+)&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Range: 2,100 km (1,305 mi)&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ferry range: 3,000 km (1,865 mi)&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Service ceiling: 15,500 m (50,853 ft)&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Rate of climb: 15,000 m/min (49,213 ft/min)&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Armament&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;n
