Senin, 23 Juli 2018

Bapak Dading Kalbuadi Pimpinan Operasi Flamboyan

Bapak Dading Kalbuadi Pimpinan Operasi Flamboyan

 Kolonel Dading Kalbuadi dari Grup-2 Parako/Kopassandha bermarkas di Tuguran Magelang yang akhirnya ditunjuk oleh Mayjen Benny Moerdani sebagai pimpinan Operasi Flamboyan

Kampanye militer terbuka belum dapat dilaksanakan sebagai akibat belum adanya dukungan politik luar negeri. Hal itu menyebabkan Presiden Suharto tidak berani mengambil resiko, sehingga mengatakan “Tunggu dulu. Akibat kurangnya pengertian akan mengganggu arus bantuan dari IGGI.” Kebijaksanaan presiden itu dapat ditafsirkan bahwa ABRI tidak boleh masuk ke Timor Portugis.
Tetapi Mayjen Benny Moerdani memberanikan diri mengambil kebijaksanaan lain dengan berkata, “Sebagai pelaksana yang baik kalau dilarang, ABRI harus tetap melakukan kegiatan di Timor Portugis. Kalau nanti yang melarang mengatakan boleh, sedangkan kita belum siap, kita dianggap sebagai pelaksana yang jelek.” Langkah selanjutnya Ketua G-1?intelijen Hankam mengambil prakarsa segera melakukan peningkatan operasi non-phisik berupa operasi penggalangan oleh Kokamko (Komando Kampanye Komodo) menjadi operasi phisik yaitu berupa operasi sandiyudha terbatas (limited combat intelijen). Salah satu dasar pertimbangan yang diambil ialah disebabkan Kokamko tidak memiliki pasukan yang dapat digunakan untuk melakukan operasi phisik. Untuk mendukung pelaksanaan operasi intelijen tempur terbatas, maka Mayjen Benny Moerdani mendesak kepada Mayjen Sarwono, Asisten Keuangan, agar biaya operasi dapat dikeluarkan selambat-lambatnya pada tanggal 27 Agustus 1975.
Pada dasawarsa 1970-an, Benny adalah tokoh kunci intelijen, khususnya untuk operasi yang memerlukan pengerahan pasukan. Saat memerlukan orang yang tepat guna memimpin infiltrasi ke wilayah Timtim, Benny teringat pada sahabat lamanya, yakni Dading Kalbuadi.
Dalam suatu rapat di G-1/Intelijen Hankam, Tebet, Mayjen Benny Moerdani memanggil Kolonel Inf Dading Kalbuadi (44 tahun), Komandan Grup-2 Parako/Kopassandha, di Magelang, ikut hadir Pada tahun tersebut Grup-2 Parako/Kopassandha bermarkas di Tuguran Magelang yang saat ini menjadi Sekolah Calon Bintara Kodam IV Diponegoro. Rapat sengaja mengambil tempat di kantor G-1/Intelijen Hankam di Tebet, karena rapat-rapat di Hankam Jl. Medan Merdeka Barat, sudah diketahui oleh Australia. 
Dalam rapat itu Mayjen Benny Moerdani menunjuk Kolonel Dading Kalbuadi memimpin operasi intelijen tempur dengan nama sandi Operasi Flamboyan. Kolonel Dading adalah figur yang menarik. Tidak seperti perwira tinggi pada umumnya, yang cenderung bergaya hidup hedonis setelah masuk jajaran elite, sementara Dading Kalbuadi tetap hidup bersahaja. Dia tidak meninggalkan kegemaran lamanya, yaitu menikmati nasi bungkus. Kegemarannya menikmati nasi bungkus, merupakan refleksi perjalanan hidup Dading yang akrab dengan operasi tempur, dan selalu ingin  dekat dengan anak buahnya.
Dading Kalbuadi sudah terlibat pertempuran sejak usia belia, pada periode Perang Kemerdekaan (1946-1949), saat Dading masih duduk di bangku SMP Purwokerto. Dia tergabung dalam Pasukan Pelajar IMAM (Indonesia Merdeka atau Mati), yang umumnya beranggotakan pelajar di Kota Purwokerto, ibukota eks Karesidenan Banyumas. Satuan ini didirikan seputar bulan Oktober 1945, jadi hampir bersamaan dengan berdirinya TNI.
Satuan ini terbilang unik, karena Pasukan Pelajar IMAM secara komando terpisah dari Tentara Pelajar (TP) Jateng yang berpusat di Solo, di bawah pimpinan Mayor Achmadi. Hal ini bagian dari semangat tradisi banyumasan, sebagai daerah “pinggiran” yang tidak selalu tunduk pada Solo dan Yogya, sebagai pusat kultur Mataraman. Aspirasi ini rupanya juga merembes di kalangan generasi mudanya, sehingga mereka membentuk pasukan pelajar secara mandiri, lepas dari bayang-bayang satuan TP.
Sementara di Purwokerto sendiri ada juga satuan TP yang berafiliasi ke TP Solo, yaitu Kompi 340 TP Purwokerto, yang didirikan menjelang Clash I (Juli 1947) . Satuan ini lebih populer dengan sebutan Kompi Encung, karena komandannya bernama Letnan Encung Abdullah Sajadi. Encung sendiri sebelumnya adalah anggota dari Pasukan T Ronggolawe, yang bermarkas di Salatiga. Anggota Pasukan T Ronggolawe juga terdiri dari pelajar yang diasuh langsung oleh sesepuh TNI AD Kolonel GPH Djatikusumo. Salah seorang anggota Pasukan T (Tjadangan) Ronggolawe yang kemudian menjadi tokoh nasional adalah Sudharmono, SH (Wapres RI 1988-1993).
Dading dan LB. Moerdani sempat jumpa di Magelang, karena Dading menyelesaikan SMA-nya di SMA Peralihan (SMA peralihan khusus pelajar pejuang). Lokasi SMA Peralihan berada di Gedung Susteran yang ada di daerah Poncol Magelang.
Pasca Perang Kemerdekaan, Dading Kalbuadi tetap melanjutkan karir sebagai tentara. Dading dan LB. Moerdani bertemu kembali saat sama-sama masuk di P3AD (Pusat Pendidikan Perwira Angkatan Darat) di Bandung tahun 1951. Kebersamaan mereka terus berlanjut, sebab selepas dari P3AD dengan bergabung dalam Korps Baret Merah (RPKAD). 
Selama bergabung dalam RPKAD (nama terdahulu Kopassus), tidak ada operasi tempur yang tidak diikuti Dading. Mulai palagan menumpas DI/TII di Jawa Barat, operasi PRRI/Permesta di Sumbar, hingga Operasi Seroja di Timor Leste. Saat terlibat dalam operasi menumpas gerakan separatis PRRI di Muaralabuh (Sumbar) tahun 1958, Dading hampir saja tewas, akibat lehernya terkena pecahan mortir.
Selain itu ia adalah seorang lulusan Sekolah Pasukan Khusus di Fort Benning, Georgia, Amerika Serikat. Dengan demikian antara keduanya terdapat rasa saling percaya dan jalinan yang erat antara satu dengan yang lain. Tak berlebihan kiranya bila disebut Dading sebagai alter ego dari Benny.
Dalam melancarkan operasi intelijen tempur terbatas ke Timor Timur, pasukan sandiyudha sebagai sukarelawan tidak dapat mengharapkan dukungan resmi dari pemerintah, sehingga kedudukan mereka amat rawan. Disebabkan sukarelawan beroperasi secara rahasia, maka mereka tidak dapat mengandalkan dukungan perbekalan dan amunisi dari garis belakang secara terus menerus. Pasukan sukarelawan yang melaksanakan tugas itu membutuhkan klasifikasi tertentu. Sehubungan dengan tugas berat itu, Mayjen Benny Moerdani berkata, “Ini mungkin one way ticket.” Kolonel Dading menjawab, “Wis Ben, ora opo-opo (Sudahlah Ben, tidak mengapa), saya kerjakan.” Tak lama kemudian Kolonel Dading menambahkan, “tapi tolong, titip keluarga saya, kalau nanti saya tidak kembali.” Mayjen Benny Moerdani menjawab, “Jangan khawatir, aku nanti pegang semuanya kalau kamu sampai nggak ada….”
Dalam operasi penyusupan ini, Dading banyak dibantu yuniornya di Baret Merah, seperti Yunus Yosfiah (Akmil 1965), Sofian Efendi (Akmil 1965), Sutiyoso (Akmil 1968), dan seterusnya.
Sejak bulan September 1975 Detasemen Tempur-2 Grup-1 Parako/Kopassandha di bawah pimpinan Mayor Inf Muhidin berkekuatan dua kompi atau sekitar 250 orang, yaitu Kompi-A di bawah pimpinan Lettu Inf Marpaung dan Kompi-B dibawah pimpinan Lettu Inf Kirbiantoro telah tiba di daerah perbatasan Timor Timur. Penugasan Detasemen-2 di daerah perbatasan dipimpin oleh Mayor Inf Kuntara, sebagai Wadan Grup-1. Pasukan pemukul Operasi Flamboyan terdiri dari tiga tim, yaitu Tim Susi, Tim Tuti dan Tim Umi masing-masing di bawah pimpinan Kapten Inf Yunus Yusfiah, Mayor Inf Tarub, dan Mayor Inf Sofyan Effendi.
Mayjen TNI Yogie S.M., Danjen Kopassandha memberi nama sandi Nanggala dalam setiap penugasan operasi intelijen tempur yang dilakukan oleh Kopassandha. Misalnya Kopassandha Grup-4 yang diselundupkan dari kapal selam kelas Whiskey ALRI di dekat Jayapura dalam perjuangan pembebasan Irian Barat pada tahun 1962 dinamakan Nanggala 1, sedangkan Kopassandha Grup-4 yang bertugas di Timor Timur atau Tim Susi diberi nama sandi Nanggala 2. Kekuatan Tim Susi terdiri dari Karsayudha yang membawahi empat Prayudha. Komandan Tim Tuti Nanggala 3 dan Tim Umi Nanggala 4 yang baru dibentuk, masing-masing dijabat oleh Mayor Inf Tarub dan Mayor Inf Sofyan Effendi. Disebabkan kurangnya anggota Kopassandha, maka Tim Tuti dan Tim Umi masing-masing terdiri dari dua Prayudha Kopassandha dan dua peleton Para Komando (Parako). Baik Detasemen-1 dan Detasemen-2 pada Grup-1 bernama sandi Nanggala 5.
Pada tanggal 27 Agustus 1975 Tim Umi di bawah pimpinan Mayor Inf Sofyan Effendi diberangkatkan ke Atambua dengan pesawat menuju ke Kupang, kemudian mereka meneruskan perjalanan ke Motaain lewat laut dengan menggunakan kapal Bea & Cukai. Seluruh anggota mengenakan pakaian preman agar tidak menarik perhatian. Kapten Inf Sutiyoso dan anak buahnya menyamar sebagai mahasiswa yang sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN). Senjata dan amunisi dimasukkan ke dalam karung yang dibubuhi dengan tulisan yang berbunyi alat pertanian. Tim Susi di bawah pimpinan Kapten Inf Yunus Yusfiah telah tiba di Kupang pada tanggal 19 April 1975. Mereka juga mengenakan pakaian preman. Kegiatan yang dilakukan ialah menyusup masuk ke Timor Portugis dalam kelompok-kelompok kecil untuk membentuk basis-basis gerilya dan melakukan penyerangan. Tim Susi masuk ke Maliana di Concelho Bobonaro sampai ke Atsabe dan Tim Umi di bawah Mayor Inf Sofyan Effendi masuk ke Concelho Covalima, kemudian menyerang Tilomar dan Kapten Sutiyoso menyerang Suai.
Disebabkan penyusupan hanya masuk ke sasaran di dekat perbatasan, kemudian pimpinan Operasi Flamboyan merencanakan penyusupan yang jauh di daerah pedalaman, yaitu ke suatu pegunungan di selatan Viquque. Tugas itu dipercayakan kepada Kapten Sutiyoso. Suatu pagi ketika perahu bermotor yang ditumpangi bersama anak buahnya sedang menyusur di daerah lepas pantai Viqueque, tiba-tiba muncul helikopter Bolkow Pelita Air Service terbang rendah mendekatinya. Perwira yang duduk di sebelah kanan penerbang memberikan isyarat dengan menunjukkan tiga jari, menempelkan ketiga jari pada pundaknya, kemudian ia menunjuk ke pantai. Kapten Sutiyoso mengerti bahwa isyarat itu berarti seorang perwira yang berpangkat kapten diperintahkan naik ke darat. Perahu bermotor segera merapat ke pantai. Setibanya di darat Kapten Sutiyoso diberitahu bahwa perintah penyusupan ke daerah Viqueque dibatalkan. Beberapa waktu setelah pembatalan penyusupan ke Viqueque, Kapten Sutiyoso mengatakan bahwa ia mungkin tidak dapat kembali setelah melakukan penyerangan Viqueque yang terletak jauh dari basis. Tetapi sebagai seorang prajurit, ia siap melaksanakan tugas itu sebaik-baiknya.

 Kolonel Dading Kalbuadi saat berada di medan Operasi Flamboyan

Pasukan Celana Jeans (The Blue Jeans Soldiers)
Para pelaku limited combat intelligence tidak berstatus sebagai anggota militer, tetapi mereka berstatus sebagai sukarelawan. Dengan demikian anggota pasukan sandiyudha yang bertugas kebanyakan hanya mengenakan kaos oblong dan celana blue jeans. Hal itulah yang menyebabkan mereka dijuluki the blue jeans soldiers, sedangkan para pejuang integrasi dari keempat partai dijuluki Partisan seperti panggilan para pejuang Prancis pada masa pendudukan Jerman dalam Perang Dunia II. Tenaga Bantuan Opearasi (TBO) disebut Haiho, yaitu nama pasukan pribumi pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Dalam struktur organisasi Bala Tentara dai Nippon ketika menduduki Indonesia, sebenarnya Tenaga Bantuan Operasi disebut To Bang.
Para awak pesawat militer dan awak pesawat sipil yang mendukung operasi flamboyan juga berstatus sebagai sukarelawan. Penerbang militer yang menerbangkan pesawat sipil dengan registrasi PK seperti Pelita Air Service atau Dirgantara
Para awak pesawat militer dan awak pesawat sipil yang mendukung operasi flamboyan juga berstatus sebagai sukarelawan. Penerbang militer yang menerbangkan pesawat sipil dengan registrasi PK seperti Pelita Air Service atau Dirgantara Air Service, biasanya mengenakan baju putih dan celana biru tua seperti lazimnya awak pesawat komersial. Tetapi di samping kursi penerbang dan mekanik terdapat senapan serbu G-3 atau AK-47. Awak pesawat TNI AU mengenakan overall tanpa tanda pangkat maupun atribut kesatuan militer. Bahkan kadang-kadang mereka hanya mengenakan pakaian preman. Dua pesawat pembom serbu B-26 Invader dan dua AC-47 Gunship yang digunakan untuk operasi itu, dihilangkan identitasnya di Lanud Penfui. Lambang segi lima, huruf yang berbunyi TNI AU dan call sign pesawat dihapus dengan jalan menyemprot cat berwarna putih. Pasukan Marinir mengenakan pakaian dinas lapangan secare terbalik agar nama, pangkat, dan atribut militer tidak tampak.
Karsayudha Kopassandha dapat disejajarkan dengan The B-Team dalam Organisasi US Special Forces. Jika The B-Team berkekuatan 68 orang, yaitu terdiri dari 20 orang staf markas dan empat A-Team masing-masing sebanyak 12 orang, maka Karsayudha Kopassandha berkekuatan 72 orang, yaitu 20 orang staf markas dan empat Prayudha masing berkekuatan sebanyak 13 orang. Baik Komandan Karsayudha maupun The B-Team dipimpin oleh seorang perwira menengah berpangkat Mayor.
Prayudha Kopassandha dapat disejajarkan dengan The A-Team dalam organisasi US Special Forces. Susunan Prayudha terdiri dari seorang Komandan berpangkat Kapten, seorang Wakil Komandan, seorang Bintara Operasi, dua orang Prajurit PHB, dua orang Prajurit Kesehatan, dua orang Prajurit Intelijen/Territorial, dua orang prajurit Persenjataan, seorang Prajurit Logistik, dan seorang Prajurit Zeni untuk demolisi. Seluruhnya berjumlah 13 orang.
Prestasi Dading dalam memimpin Operasi Flamboyan, kemudian dilanjutkan dengan Operasi Seroja (operasi militer terbuka). 

 Pada hari kedua Operasi Seroja pada tanggal 8 Desember 1978 ketika belum seluruh Dilli dikuasai oleh TNI, Assisten Hankam Mayjen Benny Moerdani dengan pesawat kecil sudah mendarat di lapangan terbang Comoro untuk memberikan dukungan semangat pada anak buahnya, di belakang Mayjen Benny Moerdani, nampak Kolonel Dading Kalbuadi (membawa senapan AK 47).

Pada hari kedua Operasi Seroja ketika belum seluruh Dilli dikuasai oleh TNI, Assisten Hankam Mayjen Benny Moerdani dengan pesawat kecil sudah mendarat di lapangan terbang Comoro untuk memberikan dukungan semangat pada anak buahnya. Nampak di foto Mayjen Benny Moerdani bersama Kolonel Dading Kalbuadi dan Kol. Rodofl Kasenda sedang menginspeksi pasukan gabungan yang sedang bertarung di Dilli.

Sehari setelah Batugede jatuh ke tangan TNI, Mayjen Benny Moerdani (memakai seragam safari), mengadakan inspeksi didampingi oleh Kolonel Dading Kalbuadi (menggunakan kaos putih dan topi cowboy).

Kolonel Dading Kalbuadi (menggunakan kaos putih dan topi cowboy).

Dading baru ditarik dari palagan Timor Leste, setelah salah satu tim yang dia pimpin berhasil melumpuhkan  Presiden Timor Leste “Merdeka” Nicolao Lobato. Dading selanjutnya diangkat sebagai Pangdam Udayana di Bali (1978-1983).

Senin, 19 Februari 2018

Kontrak Pengadaan Pesawat Su 35 Bagi TNI AU

Kontrak Pengadaan Pesawat Su 35 Bagi TNI AU



Setelah menjadi penantian panjang dan selalu menjadi pembicaraan hangat di kalangan penggemar dunia kemiliteran, akhirnya Indonesia telah menandatangani kontrak pembelian 11 unit pesawat tempur Sukhoi SU-35 dengan Rusia. Penandatanganan itu dilakukan pada Rabu (14/2) lalu di Jakarta.
"Sudah tanggal 14 Februari kemarin," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen Totok Sugiarto lewat pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Jumat (16/2).
Kontrak tersebut ditandatangani oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kabaranahan) Kemhan Laksamana Muda TNI Agus Setiadji dengan Yuri, delegasi dari Rostec.
Seperti diketahui, pembelian pesawat Sukhoi Su-35 ini bertujuan untuk menggantikan F-5 Tiger yang sudah tidak layak terbang. "Sebanyak 11 pesawat Sukhoi Su-35 full combat," tegas mantan Kapendam V/Brawijaya ini.
Alasan memilih Sukhoi Su-35 untuk memperkuat pertahanan Indonesia, pernah diungkap Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu, Agustus tahun lalu.
Menurut dia, pesawat tempur jenis terbaru ini memiliki kemampuan mengunci target. "Dari jauh, dia (Sukhoi SU-35) sudah bisa tahu ada berapa target dan menyiapkan peluru ya untuk menembak," kata Ryamizard di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat,
Totok memastikan pembelian 11 unit Sukhoi tersebut sudah lengkap dengan persenjataan sesuai dengan kebutuhan TNI AU. "Full combat," ujarnya.

 Spesifikasi pesawat Su 35 S yang dibeli oleh TNI AU

Keunggulan pesawat Su 35 S

Totok menyampaikan usai penandatanganan kontrak tersebut, kini Indonesia tinggal menunggu proses pembuatan Sukhoi saja untuk kemudian dikirim ke Indonesia.
Nantinya pengiriman Sukhoi ke Indonesia akan dilakukan dalam tiga tahap.
Tahap pertama, akan dikirim dua unit pada Agustus 2019, dengan catatan kontrak efektif per Agustus 2018.
Tahap kedua, enam unit akan dikirim 18 bulan setelah kontrak efektif. Dan, tiga unit sisanya akan dikirim setelah 23 bulan dari kontrak.
Total pengadaan 11 unit Sukhoi SU-35 lengkap dengan senjata dan persenjataannya mencapai US$1,14 miliar dengan sistem imbal beli.  
Kontrak itu dicapai setelah Indonesia mengatakan bulan Agustus bahwa Indonesia akan berusaha mempertukarkan minyak sawit, kopi dan teh dengan pesawat tempur Rusia, dengan mengatakan pihaknya ingin memanfaatkan sanksi internasional terhadap Moskow.
Uni Eropa dan Amerika telah mengenakan sanksi terhadap Rusia atas tuduhan mencampuri pemilihan presiden Amerika dan pencaplokan Krimea oleh Rusia.
Namun, menteri perdagangan Indonesia mengatakan sanksi itu dapat menguntungkan bagi negaranya karena Rusia terpaksa mencari pasar baru sebagai sumber impor.
Indonesia dan Rusia telah menandatangani memorandum kesepakatan untuk mempertukarkan 11 pesawat tempur Sukhoi buatan Rusia dengan hasil bumi utama Indonesia di Moskow awal Augustus.
Bentuk pembayaran pesawat itu tidak diumumkan hari Sabtu.

Sumber :
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180217011623-20-276773/kemhan-ri-sudah-meneken-kontrak-pembelian-11-sukhoi-su-35

https://nasional.sindonews.com/read/1282400/14/kontrak-pengadaan-diteken-sukhoi-su-35-tiba-di-indonesia-oktober-1518679179

https://www.voaindonesia.com/a/indonesia-tandatangani-kontrak-pembelian-11-pesawat-tempur-rusia/4258862.html
 

Kamis, 08 Februari 2018

Arisgator Untuk TNI AD

 Arisgator Untuk TNI AD

Arisgator adalah modifikasi yang ditawarkan sebuah perusahaan Italia bernama ARIS (Applicazioni Rielaborazioni Impianti Speciali). Ide dasarnya adalah modifikasi dan pembenahan M113 pada sektor daya apung dan propulsi sehingga M113 dapat bersalin rupa menjadi kendaraan pendarat amfibi. Untuk mewujudkan hal tersebut, ada sejumlah kit modifikasi yang disiapkan, yaitu moncong tambahan pada M113 berbentuk haluan kapal yang berisi gabus dan karet khusus yang ringan dan dapat meningkatkan daya apung, plus panel pembelah ombak yang dapat dibentangkan saat mengarung air. Panel tambahan serupa yang ditempelkan di bagian belakang kendaraan yang sekaligus menjadi rumah bagi sistem waterjet. Kotak penambah daya apung serupa dapat dipergoki di sisi kiri-kanan Arisgator.
Pada bagian atas, exhaust atau knalpot dipanjangkan dengan menggunakan snorkel pada sisi kanan atap. Grille untuk lubang masuk udara mesin juga diberi penutup yang lebih tinggi dari kendaraan agar tidak kemasukan air pada saat mengarungi permukaan sungai dan laut. Untuk sistem propulsi di dalam air, 2 buah propeller hidrostatik dipasang di bagian belakang bawah dengan ukuran yang besar, yang mampu mendorong kendaraan dengan kecepatan 5 knot di permukaan air. Sistem propeller ini dapat digerakkan secara independen untuk membuat Arisgator berbelok saat bermanuver di permukaan air. Kemampuan amfibi yang prima tersebut membuat Arisgator dapat digunakan untuk melakukan operasi pendaratan amfibi, dilepaskan dari kapal LPD untuk kemudian berenang, mencapai permukaan, dan bertempur. Modifikasi Arisgator sendiri tidak mempengaruhi kemampuan manuvernya di darat jika dibandingkan dengan M113.
Untuk urusan persenjataan juga sama, Arisgator hanya menyediakan sistem kubah dan dudukan dengan dinding penahan cipratan ombak, plus dudukan untuk senapan mesin M2HB atau pelontar granat 40mm Mk19 Mod 0. Palka di sisi atas kendaraan juga masih dipertahankan untuk akses alternatif keluar masuk pasukan. Secara keseluruhan, M113 yang bersalin rupa menjadi Arisgator boleh dibilang mirip dengan kendaraan pendarat amfibi LVTP-7, namun berukuran lebih mini. Sosoknya jelas bertambah panjang dibandingkan M113 yang berbentuk bak kotak sabun, dan kemampuan amfibinya jadi cocok untuk operasi pendaratan amfibi ataupun operasi di alur sungai dan muara. Di Italia, Arisgator diberi nama resmi VAL dan digunakan oleh Batalyon San Marco dari Resimen Pendarat AL Italia.
Dilihat dari perkembangannya, tidak banyak kendaraan berkemampuan amfibi yang dapat dioperasikan di laut terbuka dalam operasi pendaratan pantai. Salah satu diantaranya adalah Arisgator buatan Italia tersebut yang merupakan pengembangan lebih lanjut dari M113 yang banyak dimiliki oleh angkatan darat dan marinir Italia.
Dalam ulasannya Jane’s (16/Okt/09) menyebutkan bahwa perusahaan Italia ARIS (Applicazioni Rielaborazioni Impianti Speciali) telah mengembangkan perangkat khusus untuk meningkatkan kemampuan amfibi kendaraan lapis baja pengangkut personil (APC) M113. Prototipe pertama dari kendaraan ini, yang disebut Arisgator selesai pada tahun 1997.
Arisgator akhirnya dapat sepenuhnya memenuhi syarat oleh Departemen Pertahanan Italia dan RINA (Otoritas Sertifikasi Angkatan Laut Italia) untuk operasi di laut dan pada pertengahan 2006 Arisgator sudah dipakai oleh Batalyon San Marco dari Resimen Pendarat Angkatan Laut Italia.

Pengembangan
M113 APC (buatan BAE Systems standar/US Combat Systems) seri standar sudah  berkemampuan amfibi. Propellernya mampu mendorong kendaraan di air dengan kecepatan maksimum 5,8 km/jam, cukup untuk operasi di air dengan arus yang tenang. M113 tidak dirancang untuk beroperasi di sungai yang arusnya deras ataupun diluncurkan dari kapal pendarat di lepas pantai. Untuk meningkatkan kemampuan amfibi dari M113, perangkat khusus telah dikembangkan oleh ARIS yang memungkinkan kendaraan untuk beroperasi dengan aman pada operasi pendaratan dari kapal ke pantai serta di sungai.
Perangkat tersebut beratnya antara 1.350-1.700 kg termasuk haluan, atap, dan buritan, yang semuanya terbuat dari light alloy seperti pada bodi M113 aslinya. Kubah komandan di atap dan lubang palka persegi untuk pasukan di belakang tetap dipertahankan, demikian juga terhadap pintu belakang. Perubahan yang dilakukan juga membuat M113 kedap air keseluruhannya.

Kemampuan

Arisgator aman digunakan di laut terbuka, bahkan dalam kondisi yang cukup berat. Yang tidak kalah pentingnya kendaraan ini juga mempunyai kemampuan di darat yang sama dengan kendaraan aslinya yaitu M113. Kemampuan bermanuver sangat mudah dalam pengendaraan, juga dapat berputar di sekitar sumbu vertikal, menunjukkan profil yang rendah di atas air, dapat  dengan mudah diluncurkan, balik kembali dan disimpan oleh kapal LPD. Kendaraan dapat beroperasi dalam misi khusus yang berdiri sendiri atau pendukung kendaraan amfibi lainnya.
Untuk penggunaan di darat, Arisgator mampu dipacu hingga 60km/h dan menempuh jarak > 500km. Fungsi lainnya tidak jauh berbeda dengan M113 sehingga Arisgator tidak hanya berfungsi sebagai kendaraan pendarat saja namun dapat melakukan penetrasi jauh dari pantai. Sesuai dengan kendaraan aslinya, berbagai macam aksesoris khusus baik dalam bidang persenjataan dan perlindungan serta semua peralatan di dalam kendaraan yang ada di pasaran dapat dipasang pada Arisgator. Kendaraan standar mempunyai turret untuk 12,7 HMG atau 40 mm AGL dengan remote control, ballistic computer, dan peralatan sensor lainnya (video-camera, night vision system, laser range-finder, dll.) Proteksi kendaraan mampu menahan tembakan 7,62 mm AP (armour piercing) pada jarak lurus 30 m.

Merujuk sejarahnya, prototipe perdana Arisgator dirampungkan pada tahun 1997 dan dua tahun kemuduan Kementerian Pertahanan Italia resmi mengorder Arisgator. Sebagai basis modifikasi diambil dari stok M113 milik AD Italia. Diantara satuan yang mengoperasikan Arisgator adalah Batalyon Marinir San Marco Italia yang resmi menggunakan ranpur ini pada pertengahan 2006. Setelah masuk kedinasan militer Italia, ranpur ini diberi nama resmi VAL (Light Amphibious Vehicle). Meski sudah berwujud sangar, namun untuk urusan bekal senjata masih terasa garing, seperti M113 Arisgator Italia sebatas dibekali kubah semi terbuka untuk (Senapan Mesin Berat) Browning M2HB 12,7 mm atau pelontar granat AGL 40 mm.

Arisgator Untuk TNI AD
TNI AD telah mengakuisisi M113 Arisgator untuk melengkapi satuan Infateri Mekanis. Ranpur M-113 dari Italia, yang kemudian diperbarui di Belgia, tampaknya akan menjadi tulang punggung Infantri Mekanis TNI AD di masa depan. Karena itulah kebutuhan atas ranpur ini pun terus bertambah. Selain itu, seperti terlihat dalam Latancab TNI AD 2017, M-113 membuktikan mampu bergerak cepat mengimbangi Leopard di segala medan. Kabin yang cukup lapang dan olah gerak inilah yang membuat banyak prajurit infantri jatuh cinta. Sehingga tidak heran jika sejumlah ranpur yang dioperasikan Yonif Mekanis TNI AD tersebut dibeli melalui dana APBN.

Arisgator saat kedatangan batch pertama dengan diangkut pesawat cargo Singapore Airline

Arisgator saat akan mengikuti HUT TNI ke 72

 
 Arisgator saat mengikuti defile HUT TNI ke 72

 
 Arisgator saat mengikuti demonstrasi perang di laut saat HUT TNI ke 72
 
Arisgator saat kedatangan batch kedua

Senin, 22 Januari 2018

AV TM 300 Matador Rudal Jelajah Incaran TNI AD

AV TM 300 Matador Rudal Jelajah Incaran TNI AD

Saat perayaan Hari Ulang Tahun Korps Artileri Medan (Armed) ke-72 yang dirayakan di Pusdik Armed Komando Pendidikan dan Latihan TNI AD di Cimahi (4/12), tampak sebuah Mock Up model rudal yang kelihatan sangar bertuliskan Avibras Matador. 

Tampak sebuah Mock Up model rudal yang kelihatan sangar bertuliskan Avibras Matador, iantara etalase alutsista Armed yang ditampilkan pada Senin (4/12/2017).
 
Diantara etalase alutsista Armed yang ditampilkan pada Senin (4/12/2017), ada satu yang menarik perhatian, yakni terlihat sosok rudal jelajah AV-TM 300 dengan warna putih. Disebut menarik perhatian lantaran ukurannya yang terbilang paling bongsor diantara deretan amunisi ASTROS (Artillery Saturation Rocket System) MK6. 

Lain dari sosoknya yang paling besar, (AVibras-Tactical Missile) 300 meski dalam wujud dummy jelas membetot perhatian, apalagi tertera bendera Merah Putih di moncong rudal jelajah yang diberi label “Matador” ini. Sontak menjadi pertanyaan, apakah nantinya AV-TM 300 juga akan diakuisisi oleh TNI AD, jika benar tentu akan merubah doktrin peperangan Armed, lantaran AV-TM 300 digadang mampu menjangkau sasaran di balik cakrawala sejauh 300 km.
Harapan itu rupanya bukan pepesan kosong, Brigjen TNI Dwi Jati Utomo selaku Danpussenarmed menyebutkan bahwa di masa depan alutsista Armed akan dilengkapi dengan radar anti artileri, pesawat tanpa awak (UAV/Unmanned Aerial Vehicle), GPS, alat pengukur jarak otomatis (LRF/Laser Range Finder) dan sistem penemu sasaran untuk mempercepat pencarian koordinat kedudukan sasaran (INS/Inertial Navigation System).
Diharapkan dengan kemunculan teknologi di alutsista Armed dapat mewujudkan precision attack (serangan presisi), joint attack (serangan gabungan) and the missile’s role in suppressing enemy strike capabilities (peran rudal dalam menekan kemampuan serangan musuh). Dari kutipan Danpussenarmed di situs jabar.tribunnews.com menyiratkan bahwa kelak AV-TM 300 akan digunakan oleh baterai ASTROS TNI AD.
Sejauh ini TNI AD telah memiliki empat jenis roket untuk ASTROS II MK6, yakni roket SS-30, SS-40, SS-60, dan SS-80. 
Inilah salah satu rudal idaman yang diincar oleh Korps Armed TNI AD. Rudal AV-TM (Avibras-Tactical Missile) 300 Matador, rudal jelajah taktis buatan Brasil yang dapat diluncurkan dari platform peluncur roket MLRS ASTROS yang dibeli dari Brasil.
Rudal ini adalah versi hemat dari rudal sekelas Tomahawk yang harganya mencapai 500ribu Dollar Amerika. Sedangkan Avibras Matador hanya dibandrol antara 8.000-10.000 dollar amerika saja. Perbedaan paling mencolok adala soal jangkauan, jika Tomahawk bisa menjangkau sasaran sejauh 1.500KM, Avibras Matador hanya 300KM saja. Namun dengan harga yang kurang dari 10%-nya, itu sudah cukup untuk menggentarkan lawan bukan?
Avibras, Perusahaan senjata Brasil, mulai mendesain rudal jelajah Matador AV/TM-300 sejak tahun 1999 dan mulai tampil di depan publik pada 2001.
Serangkaian modifikasi terus dilakukan, termasuk perubahan desain yang kini menggunakan sayap model tarik (retractable wings) dan penggunaan material dari bahan komposit. Rudal jelajah ini menggunakan roket dengan bahan bakar padat untuk melayani penerbangan dengan kecepatan subsonic. Varian dasar mesin rudal menggunakan turbojet TJ1000 yang dikembangkan Avibras berdasarkan lisensi dari Polaris.
Resminya AV-TM 300 dirancang Avibras untuk sistem ASTROS 2020. Rudal ini dilengapi central computer yang dikombinasikan dengan ring laser gyroscope yang terkoneksi dengan active GPS navigation, hasilnya rudal ini dapat secara terus-menerus melakukan koreksi pada informasi kedudukan sasaran.
Rudal ini dipandu dengan sistem navigasi GPS yang dikoreksi laser untuk mencapai sasaran. Avibras mengklaim bahwa rudal ini memiliki margin ketepatan 30 meter, atau maksimal meleset 30 meter dari koordinat awal yang telah ditentukan.
Berat hulu ledak yang dibawa 200KG dengan tipe HE (High Explosive) seberat 200kg. Mekanisme peluncuran juga tidak ribet, satu kendaraan truk AV-LMU ASTROS bisa menggotong dua AV/MT-300 tanpa persiapan yang ribet. Rudal AV/TM-300 dapat digunakan untuk menghantam perkubuan lawan yang memiliki perkuatan, atau menghancurkan infrastruktur seperti jalan, landas pacu bandara, atau jembatan untuk menghambat akses lawan.

AV/TM-300 yang dikembangkan oleh Avibras
Avibras sendiri terakhir mengembangkan AV/TM-300 dengan mesin motor roket baru yang disertifikasi pada tahun 2016 dan seharusnya tahun ini memasuki jajaran dinas aktif. Motor roket turbojet yang terpasang pada AV/TM-300 mampu melesatkan rudal ini sampai kecepatan Mach 0,85.
Masalahnya, sampai sekarang rudal ini belum siap diproduksi. Militer Brazil yang meneken kontrak pembelian sejak 2012 dengan nilai 100 juta dollar AS juga belum menerima rudal ini, meskipun sempat dijadwalkan akan terima pada Juni 2016.

Selasa, 09 Januari 2018

Penyerahan 1 Pesawat MPA dan 5 Buah Helikopter Dari PT DI ke Pihak TNI

 Penyerahan 1 Pesawat MPA dan 5 Buah Helikopter Dari PT DI ke Pihak TNI

Tentara Nasional Indonesia menerima enam unit pesawat baru dari PT Dirgantara Indonesia (PTDI) yang diserahkan oleh Direktur Utama PTDI Elfien Goentoro 

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menyerahkan sebanyak enam unit pesanan Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Penyerahan enam pesawat tersebut dilakukan di Selasa (9/1/2018) di Hanggar Fixed Wing PTDI Jl  Pajajaran, Kota Bandung.
Enam pesawat yang diserahterimakan tersebut selanjutnya akan digunakan oleh TNI AD dan AL.  Enam pesawat yang diserahterimakan tersebut yaitu tiga unit Heli Serang TNI AD, satu unit Pesawat Udara CN 235 MPA TNI AL, dan dua unit Heli AKS TNI AL.
Penyerahan pesawat tersebut dilakukan Dirut PT DI, Elfien Goentoro kepada KepalanBadan  Sarana Pertahanan (Kabaranahan), Kemenhan, Laksamana Muda TNI Agus Setiaji.

 Penyerahan pesawat dari PT DI ke TNI (Foto: Ist)

Penyerahan pesawat produksi anak bangsa tersebut juga disaksikan Menhan, Ryamizard Ryacudu, Panglima TNI, Marsekal TNI hadi Tjahjanto, KSAD Jenderal TNI Moelyono, KSAL Laksamana Ade TNI Ade Supandi, dan jajaran Komisaris dan Direksi PTDI.
Setelah diserahterimakan, pesawat tersebut kemudian secara dimbolis diterima jajaran TNI AD dan TNI AL. Untuk TNI AD pesawat yang diserahkan sebanyak tiga unit yaitu Helikopter Serang  ASS555AP Fennec, sedangkan TNI AL sebanyak dua unit  Helikopter  AS565 MBe Panther Anti Kapal Selam dan satu unit Pesawat CN235-220 Maritime Patrol Aircraf.

 Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu (tengah) bersama Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto (kanan) dan Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Elfien Goentoro (kiri) melakukan prosesi penyiraman helikopter ASS555AP Fennec saat acara serah terima Alutsista di Hanggar Fixed Wing PTDI di Bandung, Jawa Barat, Selasa (9/1/2018). (ANTARA /Raisan Al Farisi)

Menurut Elfien, pesawat CN235-220 MPA dapat digunakan untuk berbagai misi. Antara lain patroli perbatasan dan Zona Ekonomi Eksklusif, pengawasan pencurian ikan dan pencemaran laut, pengawasan imigrasi dan perdagangan manusia, penyelundupan narkoba dan barang ilegal, serta pencarian dan penyelamatan korban bencana.
Pesawat ini, kata dia, memiliki beberapa keungulan yakni maximum take  off weight (MTOW/ 16.000 kg), bisa lepas landas jarak pendek dengan kondisi landasan yang belum beraspal dan berumput, mampu terbang selama 10 hingga 11 jam dengan sistem avionik full glass cickoit yang lebih modern, autopilot, memiliki winglet dibujjng sayap agar lebih stabil dan irit bahan bakar.


CN235-200 MPA untuk TNI AL.
 Foto: Dony Indra Ramadhan

Keunggulan lainnya, kata Elfien, CN235-200 ini mengakomodasi dua console, dilengkapi dengan 360 derajat search radar yang dapat mendeteksi target yang kecil sampai 200 NM (nautical mile) dan automatic indentifivation system (AIS), sistem pelacakan otomatis untuk mengidentifikasi dan menemukan kapal lain untuk memperoleh gambaran perintah operasi lawan dan mengetahui posisi objek yang mencurigakan.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto (kiri) mencoba sistem navigasi pesawat CN235 saat acara serah terima Alutsista di Hanggar Fixed Wing PTDI di Bandung, Jawa Barat, Selasa (9/1). (ANTARA FOTO/Raisan)

Sedangkan Heli AKS jenis Panther tipe AS565 MBe merupakan yang pertama di Indonesia. Sekalipun heli ini merupakan hasil kolaborasi antara PTDI dengan Airbus Helicooters, Prancis, namun untuk fase integrasi AKS mulai dari desain hingga pemasangan merupakan karya PTDI. Heli ini pun, kata dia, mampu mendeteksi keberadan kapal selam yang dilengkapi dipping sonar  L-3 Ocean System DS-100 Helicooter Long-Range Active Sonar.


 Helikmopter AKS AS565 MBe.
 Foto: Dony Indra Ramadhan


"PT DI akan melakukan pemasangan torpedo dan sonar varian terbaru yabg disesuaikan dengan kebutuhan TNI AL," ujar dia.
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dalam sambutannya mengatakan bahwa masuknya helikopter AKS, pesawat udara CN235 MPA dan helikopter serang dalam jajaran TNI sesuai dengan rencana strategi (renstra) dan Minimum Essential Force (MEF) TNI.
"Proses pengadaan dilakukan dengan prinsip-prinsip akuntabilitas dan transparans," catat  Menhan dalam keterangan tertulisnya.
Selain itu, ia mengemukakan, bertujuan mewujudkan kemandirian industri pertahanan Republik Indonesia yang mampu memperkuat keterpaduan operasional antara sistem senjata antarmatra.
Sementara itu, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto mengatakan pesawat yang diterima TNI saat ini merupakan bentuk keseriusan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dalam rangka memenuhi kebutuhan Alutsista TNI pada Renstra kedua 2014--2019.
Ada beberapa pesawat yang sudah masuk dalam pemesanan Kemenhan RI kepada PT DI, diantaranya adalah sembilan pesawat Cassa NC-212i, tujuh hingga sembilan unit helikopter Caracal, enam helikopter serang dan empat pesawat AKS, ujarnya.

Sumber: republika.co.id

Minggu, 07 Januari 2018

Kedatangan AH 64 E Apache Guardaian TNI AD

 Kedatangan AH 64 E Apache Guardaian TNI AD

 Salah satu pilot yang akan mengawaki helikopter serang AH 64 E Guardian TNI AD

Acara di Amerika Serikat daslam rangka persiapan pengiriman helikopter serang AH 64 E Guardian ke Indonesia

Helikopter AH-64 Apache milik TNI AD sudah tiba dari AS pada Selasa (19/12) kemarin dengan diangkut menggunakan pesawat Angkatan Udara AS.
"Hari ini tiba di Semarang. Infonya ada 3 Unit," kata Kapuskom Publik Kemhan, Brigjen Totok Sugiharto. Brigjen Totok menyatakan helikopter tersebut merupakan pemesanan sebelumnya sejumlah 8 unit. 

 AH 64 E Guardian saat masih di dalam pesawat
C-17 Globe Master sesaat sebelum diturunkan



Proses penurunan helikopter serang AH 64 E Guardian


Proses penurunan helikopter serang AH 64 E Guardian selanjutnya

Dari sumber lain menyebutkan bahwa "Tiga unit pertama dikirim dengan pesawat C-17 Globe Master tiba di Pangkalan Udara Utama TNI AD (Lanumad) Ahmad Yani tanggal 18 Desember 2017," ujar Wakil Komandan Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Puspenerbad) Brigjen Eko. Eko juga menuturkan, tiga heli tersebut termasuk dalam program pembelian delapan unit melalui program Foreign Military Sales (FMS) untuk menjamin kesiapan alutsista secara maksimal. Pengiriman helikopter dilaksanakan dalam dua gelombang. Pengiriman tiga unit pertama dikirim dengan pesawat C-17 Globe Master. Kemudian, lima unit berikutnya dikirim dengan kapal laut dan diperkirakan tiba di Semarang pada Maret 2018.
Menurut Totok, helikopter itu akan digunakan Penerbangan TNI AD (Penerbad). Saat ini helikopter itu juga akan ditempatkan di Penerbad Ahmad Yani, Semarang.
"Heli nanti akan ditempatkan Penerbad Semarang," tutur dia.
Selanjutnya, helikopter yang sudah tiba di Semarang akan disiapkan untuk mendukung kesiapan operasional TNI AD. 





Komandan Puspenerbad Mayjend TNI Besar Harto Karyawan meninjau helikopter serang AH 64 E Guardian di Skuadron 11/Serbu di Lanud A Yani Semarang

"Pada fase awal, helikopter akan diuji kelaikudaraannya, setelah dinyatakan lulus kemudian akan dipakai untuk pelatihan penerbang dan semua awak pesawat," ucap Eko.
Pengumuman pembelian delapan helikopter Apache dilakukan pada tahun 2012 oleh Menteri Luar Negeri AS saat itu, Hillary Clinton, setelah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa di Washington pada 20 September 2012. Kontrak pengadaan mencapai 295,8 juta dollar AS. . Wamenhan saat itu Sjafrie Sjamsuddin mengatakan nantinya heli Apache itu juga sudah bisa digunakan untuk latihan perang operasi Garuda TNI AD.