Rabu, 14 September 2016

Sprut SDM1

Sprut SDM1 

2S25 Sprut-SD (Russian: 2С25 «Спрут-СД»; 2S25 "Kraken-SD") arteleri penghancur tank dan tank ringan yang dikembangkan dan diproduksi oleh Volgograd tractor factory untuk memenuhi kebutuhan dari VDV ("Vozdushno-desantnye voyska Rossii", Russian: Воздушно-десантные войска России, ВДВ; Air-landing Forces) di pertengahan tahun 2001. 2S25 Sprut-SD dirancang khusus untuk melawan tank, bunker yang dilapisi material keras dan kekuatan pasukan musuh dengan cara lintas udara dan pendaratan amphibi sebaik unit kekuatan.
Angkatan Bersenjata Rusia akan menggunakan fasilitas senjata artileri penghancur tank 2S25 Sprut-SD yang telah dimodernisasi. Kendaraan canggih ini bisa terjun dari udara menggunakan parasut dan melindungi pasukan lintas udara Rusia. Sebelumnya tank 2S25 Sprut-SD menggunakan sasis dari BMD 3 dan ditenagai dengan sebuah mesin diesel 2V-06-2S yang menghasilkan 510 tenaga kuda. Tank ini memiliki suspensi hydropneumatic dengan ground clearance disesuaikan. Kendaraan tempur Sprut SD ini merupakan kendaraan yang berkemampuan amphibi penuh dengan ditenagai 2 buah waterjet. Kendaraan tempur ini di laut bisa bertahan terhadap gelombang laut level 3. Dan saat berenang masih bisa menembakkan senjata utamanya. Dan tank ini bisa diterjunkan dari pesawat dengan crew berada di dalam kendaraan tempur ini. Kendaraan Sprut SD ini merupakan kendaraan tempur pengganti dari PT 76 yang sudah semakin menua dan tertinggal teknologinya.
Untuk perlindungan Sprut SD ini sangat minim sekali, bagian depan hanya mampu menahan tembakan dari senjata kaliber 12,7 mm sedangkan keseluruhan bodinya hanya mampu menahan tembakan dari senapan ringan dan pecahan peluru arteleri. Namun demikian proteksi ini bisa ditingkatkan dengan menambahkan “add-on armor” serta beragai macam sistem countermeasures. Kendaraan ini juga dilindungi dengan perlindungan Nubika serta automatic fire extinguishing systems.
Self-propelled gun (meriam gerak otomatis) tersebut dipersenjatai dengan meriam smoothbore kaliber 125 mm dengan stabiliser penuh dan mampu menaklukkan rintangan di air. Kendaraan berbobot 18 ton ini juga bisa mendarat dari pesawat militer Il-76 menggunakan parasut majemuk tanpa persiapan khusus. Sejak 2009, pasukan lintas udara Rusia memiliki 25 hingga 50 tank penghancur yang dibagi ke dalam empat kelompok tempur penghancur tank.
Sprut (Gurita) modifikasi baru ini akan berbeda dari Sprut yang sudah dimiliki Angkatan Bersenjata Rusia karena dibuat khusus untuk kendaraan tempur BMD-4M yang saat ini dimiliki pasukan lintas udara Rusia. BMD-4M sendiri merupakan pengganti dari BMD-1, BMD-2 dan BMD-3 yang sudah menua. Untuk kode yang diberikan untuk tank Sprut yang sudah dipermodern ini adalah Sprut-SDM1. 

 Sprut SDM1 di tahun 2015 dalam suatu pameran di dekat Moskow

Sprut-SDM1 ini menggunakan teknologi dari BDM 4M dan T90 MS. Menurut Direktur Eksekutif Pabrik Traktor Volgograd Aleksander Klyuzhev, komponen mesin tenaga penggerak, sistem penggerak, dan transmisi Sprut-SD kelak akan diseragamkan dengan BMD-4M. Mesin yang digunakan tidak lagi menggunakan mesin diesel 2V-06-2S akan tetapi diganti dengan mesin UTD-29 yang menghasilkan tenaga 500 tenaga kuda. Dan mesin UTD-29 ini merupakan mesin yang sama yang terpasang di BMP 3 dan BMD 4M. Mesin UTD-29 lebih modern dibandingkan dengan mesin lama 2V-06-2S.
Kendaraan tersebut juga memiliki sistem pengontrol tembakan yang baru serta sistem pengintaian digital yang mampu membidik sasaran secara akurat baik dalam keadaan terang maupun gelap pada kondisi cuaca apapun yang diambil dari teknologi T90 MS. Sprut yang sudah dimiliki tentara Rusia dilengkapi meriam smoothbore 2a75 125 mm, yang bisa menembak dengan APFSDS (Armour-piercing fin-stabilized discarding-sabot), HE-Frag, HEAT dan ATGM (penembus perisai, peluru kumulatif konvensional, proyektil eksplosif tinggi, serta rudal antitank Reflex) yang dapat melumpuhkan sasaran saat ditembakan menggunakan pembidik sinar laser yang jaraknya bisa mencapai 5 km. Rudal itu tak hanya mampu mengenai musuh berupa tank saja, tetapi juga objek-objek berpelindung baja dan helikopter di ketinggian rendah, serta fasilitas pertahanan lain dalam radius lebih dari lima kilometer. Meriam modifikasi 2A75 dibuat khusus untuk Sprut. Meriam itu merupakan miniatur meriam tank 2A46 yang ada pada tank-tank Rusia T-72, T-80, dan T-90. Untuk amunisi baik amunisi konvensional maupun amunisi berupa rudal bisa membawa sebanyak 40 buah dan 22 buah diantaranya berada di auto loader dan 18 buah di rak tambahan. Kecepatan menembak senjata utama kaliber 125 mm ini sebanyak 7 tembakan per menit. Selain itu pula Sprut-SDM1 dilengkapi dengan RCWS (remotely controlled weapon station) dengan senjata kaliber 7,62 mm. Untuk crewnya sebanyak 3 orang terdiri dari komandan, penembak dan pengemudi.

Nampak adanya RCWS dengan senapan mesin kaliber 7,62 mm 
serta adanya perlengkapan panoramic sight yang baru.

Perwakilan Kementerian Pertahanan Rusia menjelaskan, Sprut bukan sekedar meriam di atas sasis BMD yang bertugas menghancurkan tank. “Kendaraan ini merupakan tank ringan yang bisa dimobilisasi lewat udara dan bisa membantu pasukan lintas udara pada waktu dan tempat yang telah ditentukan.”
Tank penghancur ini bisa memberi tembakan perlindungan bagi pasukan lintas udara yang telah mendarat. Tank 2S25 juga bisa digunakan di berbagai medan, baik di gunung ataupun jalan sempit. “Pada medan sulit seperti itu, yang dibutuhkan bukan ketebalan perisai, melainkan kemampuan manuver dan bobot yang ringan,” kata perwakilan Kementerian Pertahanan Rusia.
Tank biasa membutuhkan persiapan khusus untuk dapat berakselerasi melewati halang rintang di air. seperti menaruh cerobong khusus untuk sirkulasi udara agar tank tersebut kedap air. Namun menurut perwakilan Kementerian Pertahanan Rusia, Sprut dapat menambah kecepatan saat melewati rintangan di air tanpa persiapan khusus.
Sprut tidak hanya berguna bagi pasukan lintas udara, tapi juga bisa melengkapi persenjataan pasukan marinir Angkatan Laut Rusia. Hingga awal era 1990-an, pasukan tersebut dipersenjatai oleh tank amfibi PT-76. Kini, pasukan marinir memiliki tank T-72. Namun, untuk bisa mendaratkan tank tersebut, kapal harus masuk ke kawasan pesisir pantai. Pada saat bersamaan, batalion marinir perintis harus berenang dan membutuhkan perlindungan dari tank-tank pendukung. “Sprut amfibi bisa menjadi solusi atas persoalan tersebut,” cerita ahli militer independen, salah satu penulis buku Novaya Armiya Rossii, Dmitry Boltenkov.
Seperti halnmya di Russia dimana PT 76 sudah semakin menua meskipun berbagai perbaikan dan modifikasi telah dijalankan selama ini. Perbaikan struktur hingga mesin sudah menjadi agenda rutin selama ini, sehingga tetap dapat digunakan dalam peran tempur. Namun jelas semakin tua umurnya maka semakin ketinggalan teknologinya, dan bila terus digunakan maka memerlukan biaya besar untuk terus-terusan mengupdate sistem dan persenjataannya.
Tidak salah bila Tank 2S25 Sprut-SD masuk untuk menggantikan PT-76 karena memiliki peran yang sama sebagai Amphibi Light Tank. Tank ini dirancang untuk pasukan Udara dan Infantri Angkatan Laut yang memiliki peran sebagai tank perusak serta memiliki daya tembak sebanding dengan MBT.
Penambahan Alutsista terutama TNI Angkatan Laut sudah barang tentu menjadi menu wajib untuk memperkuat stigma Poros Maritim.



Rabu, 07 September 2016

Kendaraan Tempur Yang Bisa Diterjunkan Bersama Awaknya

 Kendaraan Tempur Yang Bisa Diterjunkan 
Bersama Awaknya

BMD (Boyevaya Mashina Desanta) 4M

Kendaraan tempur infanteri generasi keempat BMD-4M yang diproduksi oleh Kurganmashzavod JSC. BMD 4M ini dikembangkan oleh Volgograd Tractor Plant dan Tula KBP Instrument Design Bureau dan merupakan varian modernisasi dari BMD 4. BMD 4M memiliki dimensi panjang 6 meter, lebar 3,15 meter, dan tinggi 2,7 meter dengan berat 13,5 ton. Kendaraan tempur BMD 4 M ini dilengkapi persenjataan meriam semi automatis kaliber 100 mm 2A70 / peluncur rudal dengan berat 332 kg. 


Meriam jenis 2A70 kaliber 100 mm

Meriam jenis 2A70 didampingi dengan persenjataan automatis kaliber 30 mm 2A72 yang terpasang di turret. Senapan kaliber 30 mm 2A72 bisa menembakan amunisi dari jenis GSh-6-30 dengan muzzle velocity 960m/s dengan kecepatan tembak 300 peluru per menit. Sedangkan meriam utama bisa menembakan amunisi dari jenis 3UOF17 atau 3UOF19 dengan kecepatan tembak 10 tembakan per menit dengan muzzle velocity antara 250m/s sampai 355m/s. Selain 2 jenis amunisi tersebut meriam kaliber 100 mm bisa juga untuk menembakkan Arkan Tandem 9M117M1 dan Konkurs anti-tank guided missile (ATGM) systems. Selain persenjataan tersebut masih dilengkapi dengan persenjataan sekunder berupa senapan automatis kaliber 7.62 mm PKT.  Lalu bagian turret di bagian depan masing-masing sisi dilengkapi dengan pelempar granat asap. Semua bagian kendaraan ini dilapisi lapisan anti peluru. Semua bagian chasis dan turretnyanya dari bahan aluminium yang melindungi awak kendaraan dan pasukan infanteri dari tembakan senjata ringan. Untuk mesinnya BMD 4M menggunakan mesin diesel type UTD-29 yang menghasilkan tenaga sebesar 500 hp. BMD 4M memiliki kecepatan 69,4 km/jam di jalan raya dan 10 km/jam saat berenang dan jarak jelajah sejauh 500 km di jalan raya. BMD 4M memiliki ground clearance antara 130 mm hingga 530 mm.

BTR 4M nampak bersama awaknya

Oleh sebab itu,
pada tahun 2014 Militer Rusia telah menerima paket alutsista berupa sejumlah prototipe kendaraan serbu angkut udara BMD-4M. BMD 4M juga telah melalui uji coba pendaratan. Dengan menggunakan sistem parasut terbaru, yaitu sistem Bakhcha-U, pendaratan kendaraan tempur ini terbilang halus. Perhatikan urutan foto di bawah ini saat uji coba tanggal 17 Juli 2014 di daerah Ryazan.

 BMD 4M saat mau diuji coba diterjunkan dari pesawat angkut jenis Ilyusin Il 76

 Saat BMD 4M keluar dari badan pesawat Ilyusin Il 76

Nampak parasut terbaru Bakhcha-U mulai mengembang

Parasut terbaru Bakhcha-U mengembang penuh

BMD 4M nampak mendarat dengan sukses

Dalam uji coba sistem parasut terbaru Bakhcha-U, pada bulan November lalu, kendaraan tempur BMD-4M “dilemparkan” dari pesawat angkut kelas berat IL-76 sebanyak sebelas kali. Parasut yang digunakan adalah Bakhcha-U dengan sebelas kubah raksasa sebesar 350 meter persegi yang hampir berukuran sebesar rumah. Solusi teknologi yang digunakan dalam parasut raksasa ini dapat mengurangi kelebihan beban awak di dalam kendaraan pada saat pendaratan. Ketika BMD mendarat, parasut akan otomatis terlepas, dan kendaraan akan dapat segera mulai berlaga di medan perang. Selama pengujian sistem pendaratan parasut Bakhcha-U yang berlangsung pada akhir tahun lalu, pasukan militer memastikan bahwa BMD-4M dapat mendarat menggunakan parasut dengan pasukan di dalamnya dan tidak membahayakan nyawa pasukan serta kendaraan dapat mendarat di lokasi yang diinginkan dengan tepat. Uji coba sistem parasut Bakhcha-U belum selesai dan akan berlangsung hingga akhir 2016. Demikian hal ini disampaikan oleh seorang pekerja di perusahaan Holding Technodynamics, tempat sistem ini dikembangkan. Pada 2017, sistem ini akan mulai dipasok ke pasukan militer. Dan selanjutnya pada 2017, pasukan penerjun payung Rusia diperkirakan akan mulai menerima kendaraan tempur infanteri terbaru yang dapat terjun dari pesawat dan langsung menuju medan perang dengan membawa para awak kendaraan di dalamnya.
Bagi pasukan penerjun payung yang bertugas untuk mengoperasikan kendaraan tepat di garis musuh tanpa dukungan tank atau artileri, BMD-4M jelas merupakan penyelamat sesungguhnya. BMD-4 modern memiliki cadangan daya yang besar (500 kilometer tanpa mengisi bahan bakar), kecepatan tinggi (70 kilometer/jam), dan pelindung lapis baja serta daya tembak yang telah ditingkatkan. Berkat kualitas yang dimiliki kendaraan ini, kelompok “infanteri bersayap” dalam waktu singkat dapat mengalahkan musuh di wilayah kekuasaan mereka tanpa mengalami cedera.
Kemampuan lainnya adalah pendaratan kendaraan lapis baja dari pesawat langsung di medan perang dan aman bagi awak kendaraan yang berada di dalamnya. Kendaraan dan awaknya sebaiknya tidak dipisahkan karena setelah pendaratan, para pasukan akan menghabiskan waktu yang berharga untuk mencapai BMD dan membawanya ke mode siap perang. Hilangnya waktu dalam peperangan akan mengakibatkan risiko hilangnya nyawa. Itulah sebabnya pasukan tetap berada di dalam BMD pada saat pendaratan.
Untuk dapat membuat kendaraan tempur lapis baja “jatuh dari langit” tanpa kehilangan kualitasnya serta aman bagi para personil di dalamnya sangat sulit, mengingat bebannya yang mencapai 13,5 ton dikarenakan adanya peningkatan kualitas senjata yang lebih modern dan peningkatan amunisi. Pendahulunya, yaitu BMD-3, memiliki massa lima ton lebih ringan.
Rusia adalah satu-satunya negara yang melakukan pendaratan kendaraan tempur bersamaan dengan awaknya. Prancis pernah mencoba membuat sistem serupa, tapi proyek tersebut menewaskan beberapa personil selama proses uji coba. Negara-negara Eropa lainnya kemudian memutuskan untuk tidak mendaratkan kendaraan perang dengan awak di dalamnya.
Seperti pendahulunya, BMD-3, BMD-4M tidak hanya mampu berjalan di daratan dan terbang. Kendaraan perang ini juga mampu berenang. Ia mampu berenang dengan kecepatan 10 kilometer/jam dan dapat mengatasi hambatan meski tanpa persiapan. Fleksibilitas tinggi yang dimiliki kendaraan tempur ini adalah salah satu persyaratan yang harus dimiliki setiap kendaraan lapis baja dan kendaraan infanteri militer Rusia. 

Selasa, 29 September 2015

Puspenerbad TNI AD

Puspenerbad TNI AD

 Cessna L-19

Wira Amur on Duty pesawat Cessna L-19 milik Penerbad dalam masa operasinya.Sepasang pesawat Cessna L-19 pernah dikerahkan untuk menumpas gerakan separatis pimpinan Kahar Muzakar di tahun 1964.Selain mengintai pesawat ringan ini juga ditugasi memberikan bantuan tembakan bagi pasukan darat.Misi ini bukan seperti BTU pada umumnya,misi ini cukup dilakukan dgn menembakkan senapan serbu AK-47 maupun Stengun dari dlm pesawat.....Lewat pesawat ini juga,seorang Taruna Akmil tingkat akhir yaitu Sintong Panjaitan yang kala itu sdg menjalani praktek lapangan dlm operasi Kilat pernah melakukan aksi lain daripada yang lain.Ia menjatuhkan peluru mortir kaliber 60 mm untuk memborbardir posisi lawan dari pesawat jenis ini....Sayangnya usahanya itu tidak membuahkan hasil lantaran peluru mortirnya gagal meledak....Ini sedikit cerita dari pesawat Cessna L-19 milik Penerbad

 De Havilland Canada DHC-2 Beaver Mk1

Mil Mi 35 TNI AD

Mil Mi 35 TNI AD

Mil Mi 35 P saat datang di Indonesia

Untuk kebutuhan pasar ekspor, pihak pabrikan, Mil Helicopter kemuduan merilis versi Mi-35P, versi inilah yang dioperasikan sejumlah 5 unit oleh Puspenerbad TNI AD. Dalam operasionalnya, Mi-35P dibutuhkan tiga orang kru, terdiri dari pilot, kopilot yang merangkap sebagai operator persenjataan, dan teknisi (flight engineer). Formasi tempat duduk pilot berada diatas posisi duduk kopilot, tak beda dengan konfigurasi tempat duduk di AH-64 Apache atau AH-1 Cobra. Posisi kopilot di depan membuat dirinya lebih leluasa melihat sasaran dan mengakurasi tembakannya. Kokpit helikopter dibuat kedap udara agar tahan dalam kondisi NBC. 

 Kokpit helikopter yang dibuat kedap udara agar tahan dalam kondisi NBC

Sementara untuk teknisi, duduk di dalam ruang kargo. Mi-35P merupakan helikopter bermesin ganda yang ditujukan untuk memberikan dukungan bagi tentara darat dari jarak dekat, menghancurkan kendaraan lapis baja serta sebagai alat transportasi pasukan atau barang; artinya helikopter ini merupakan alat tempur pasukan infantri yang terbang.
Mi-35P diberi lapisan proteksi layaknya ranpur lapis baja. Mi-35P dibekali pelindung lapisan baja untuk menahan terjangan proyektil. Keseluruhan bodi helikopter dirancang untuk mampu menahan tembakan proyektil kaliber 12,7 mm, termasuk pada lima bilah rotornya. oleh karena itu oleh pilot Soviet yang berbahasa Rusia, Mi-35P dijuluki letayushiy tank atau tank terbang. Konon tubuh dan kanopi kacanya mampu menahan tembakan dari jarak cukup dekat. Nama lainnya adalah buaya karena kemiripan bentuk.
Rotor utama Mi-35P terbuat dari bahan campuran titanium dan fiber glass sehingga mampu menghasilkan tenaga putaran dan balance yang lebih maksimal terhadap lima bilah rotornya. Jumlah bilah rotornya bagian atas helikopter itu berjumlah lima dengan panjang 17,3 meter. Kemudian rotor pada bagian ekor terbuat dari bahan alumunium pilihan dan mampu berperan sebagai stabilizer dengan sangat baik. Bilah rotor bagian  ekor berjumlah tiga dengan panjang 3,9 meter. Khusus untuk kompartemen pilot dan kopilot dirancang mampu menahan serbuan proyektil dari kaliber 37 mm dengan material kevlar. Panjang sayap adalah 6,5 meter. Dari sisi proteksi, heli ini menjadi wahana yang sangat pas untuk membawa VVIP melintasi wilayah yang rawan.
Untuk mengantisipasi serangan-serangan dari rudal panggul, ini dibuktikan dengan hadirnya perangkat Radar warning receiver, IR (infra red) jammer, flares, dan optional heat diffusers pada Mi-24/Mi-35 generasi terkini.

 Dudukan untuk perangkat flare
Mil Mi 35 mulai dimiliki TNI Angkatan Darat sejak Oktober 2010. Terdapat lima unit Mi-35P yang bermarkas di Skuadron 31/Serbu Pusat Penerbangan TNI-AD. Pembelian helikopter tersebut merupakan realisasi perjanjian pemerintah RI dan Rusia pada September 2007 menggunakan fasilitas kredit pembelian luar negeri dari pemerintahan Rusia sebesar 56,1 juta dolar AS atau setara dengan 64,5 miliar rupiah. Harga itu termasuk pencakupan persenjataan dan amunisi serta pelatihan bagi para calon awak pesawat.
Bagi para pemerhati alutsista Indonesia, hadirnya Mi-35P pada tahun 2010 juga menandai era baru kesenjataan helikopter militer. Pasalnya, lewat Mi-35P mulai diperkenalkan penggunaan rudal, dalam hal ini rudal anti tank AT-9 Spiral-2. Sebelum-sebelumnya, jenis heli kombatan TNI AD paling banter hanya dipersenjatai kombinasi kanon, SMB (senapan mesin berat), dan roket FFAR. Selain diperkenalkannya rudal untuk heli TNI AD. 

 Senjata mesin fleksibel berkaliber 12,7 mm dan nampak juga FN MAG dengan peluru kaliber 7,62 mm x 51 mm yang bisa ditembakkan dari jendela samping yang dapat dibuka.

Di Indonesia, helikopter tempur Mil Mi-35 P itu dimodifikasi dengan menambahkan senjata mesin fleksibel berkaliber 12,7 mm dan senjata laras ganda dengan kaliber 30mm. Mi-35P juga menjadi helikopter pertama di lingkungan TNI yang dibekali kanon internal (fixed weapon), yaitu jenis GSh-30K kaliber 30 mm. Kanon dua laras ini disematkan pada sisi kanan kokpit. Bekal amunisi untuk kanon ini adalah 750 peluru.

 Nampak di bagian depan terpasang kanon internal (fixed weapon), yaitu jenis GSh-30K kaliber 30 mm

 Sosok rudal AT 9 Spiral 2 dan roket S 8 kaliber 80 mm


Dalam beberapa kesempatan, Puspenerbad TNI AD selain memamerkan sosok rudal AT-9, juga ditampilkan roket S-8 kaliber 80mm, dan pelontar chaff/flare. Ada cukup banyak varian senjata yang dapat dibawa, pada intinya Mi-35P dibekali 4 hardpoints senjata dalam 2 sayap. Berikut adalah opsi-opsi paket senjata yang dapat dipasang di Mi-35P.


 
 Nampak sayap dengan panjang 6,5 meter  dengan 4 hardpoints senjata dalam 2 sayap
Kabin barang dan kokpit terhubung dengan ukuran panjang 2,83 meter, lebar 1,46 meter dan tinggi 1,2 meter sehingga mampu mengangkut delapan tentara yang dapat menembakkan senjata mereka dari jendela samping yang dapat dibuka.
Helikopter itu dapat terbang hingga kecepatan 335 kilometer per jam dengan jumlah kebutuhan bahan bakar 360 liter avtur per jam. Bobot di darat helikopter tersebut tanpa muatan adalah 8,5 ton dan mampu mebawa delapan tentara ditambah senjata eksternal berbobot 1,5 ton. 

Rudal AT 9 Spiral 2 dan roket S 8 kaliber 80 mm 
 
Mil Mi 35 P TNI AD sedang melakukan manuver tempur

Spesifikasi Mil Mi-35P
Produksi : Mil Helicopter
Awak : 3 (pilot, perwira persenjataan, teknisi)
Kapasitas : 8 prajurit atau 4 tandu
Panjang : 17,5 meter
Diameter baling-baling : 17,3 meter
Rentang Sayap : 6,5 meter
Rotor : lima blade main rotor dan tiga blade tail rotor
Tinggi : 6,5 meter
Berat kosong : 8.500 kg
Berat maksimum lepas landas : 12.000 kg
Mesin : 2× Isotov TV3-117 turbin, 1.600 kW (2.200 hp) masing-masing

Performa
Kecepatan maksimum : 335 km per jam
Kecepatan menanjak : 12,5 meter per detik
Ketinggian terbang maksimum : 4.500 meter
Lama terbang (endurance) : 4 jam
Jarak jangkau : 500 km
Jarak jangkau tempur : 160 km
Kapasitas bahan bakar internal : 1.840 liter avtur
Kapasitas bahan bakar tambahan : 500 liter per hardpoints
Jarak jangkau dengan bahan bakar tambahan : 1.000 km

Persenjataan
– 30 mm Yakushev-Borzov multi-barrel machine gun
– 1500 kg bom
– 4× Peluru kendali anti tank
– 4× 57 mm S-5 rocket pod atau 4× 80 mm S-8 rocket pod
– 2× 23 mm meriam dua laras (machinegun-pod)
– 4× tangki bahan bakar eksternal

Senin, 14 September 2015

Koleksi Senjata IJAAF dan IJNAF di Museum TNI Satria Mandala Jakarta

Koleksi Senjata IJAAF dan IJNAF di Museum TNI Satria Mandala Jakarta

Admin saat di Museum Pusat TNI Satria Mandala setelah mendokumentasi senjata-senjata yang pernah dipakai oleh IJAAF dan IJANAF di masa Perang Dunia ke 2

Saat tanggal 11 Agustus 2015 berkunjung ke Museum Pusat TNI Satria Mandala di Jakarta. Dan karena ini merupakan kesempatan yang sangat berharga bisa mengunjungi langsung museum yang menyimpan senjata-senjata buatan Jepang di masa Perang Dunia ke 2 yang pernah terpasang di pesawat-pesawat yang digunakan oleh IJAAF dan IJANAF dan oleh karena koleksinya tersebut sehingga dikunjungi oleh Team Arawasi-Wildeagles dari Jepang yang mereka mempelajari tentang sejarah penerbangan Jepang yang waktu itu mereka didampingi oleh Mas Sinang Ariwibowo dari toko model "Peter & Partner", Pak Alex Sidharta dan Pak Iwan Winarta. 
Paa kesempatan ini admin berusaha mendokumentasikan sendiri koleksi senjata yang pernah terpasang di pesawat-pesawat yang digunakan oleh IJAAF dan IJANAF yang mana di era tahun 1942 - 1945 pernah ada di Indonesia dan senjata-senjata tersebut akhirnya digunakan oleh pejuang-pejuang kita untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari usaha Belanda untuk menjajah kembali Indonesia. 
Dan kini semua senjata tersebut tersimpan di Museum Pusat TNI Satria Mandala. 
Dan inilah hasil perburuan saya mendokumentasi senjata-senjata tersebut.  

Army Type 89 twin flexible yang terpasang di semua pesawat pembom model lama milik IJAAF seperti pembom "Lily" dan "Sally"

Type 89 7.7mm dual flexible machine gun
Berat : 11.8
Muzzle velocity : 746m/s
Rare of fire : 750-900 rounds/min
Feeding : drum magazines
Installed
Type 89 hevy bomber,
Type 93 hevy bomber,
Type 93 right bomber,
Type 97 hevy bomber,
Type 88 right bomber,
Type 98 right bomber,
Type 99 right bomber model 1 (Early),
Type 88 com Recon,Type 92 com Recon.
Base model : Army Type 3 heavy machine gun
Ammunition : 7.7 x 58SR (10.5 g) 


 7.7mm Type 89 dual flexible machine gun

 Army Type 89 twin flexible yang terpasang di pesawat Kawasaki Type 88 Reconnaissance/Bomber KDA-2
Type 89 7.7mm dual flexible machine gun
Army Type 100  /Type 1 twin flexible 7.7 mm
Type 1 7.7mm dual flexible machine gun
Installed: 

Type 99 right bomber: (middle)

 Di bagian paling kiri adalah senjata dari jenis Army Type 98 flexible (copy dari senjata buatan Jerman dari  jenis MG 15) dan yang paling kanan adalah senjata dari jenis Navy Type 92 flexible (Copy dari senjata dari jenis  Lewis).


Army Type 98 flexible (copy dari senjata buatan Jerman dari  jenis MG 15) yang terpasang pada pesawat bomber Jepang "Lily" (untuk gunner di bagian depan), "Nick", "Peggy" dan lain-lain.

Type 98 7.92mm flexible machine gun
Muzzle velocity : 790m/s
fire speed 1000 to 1500
Installed:
Type 2 twin engined fighter,
Type 99 tactical Recon (latter),
Type 99 right bomber Model 1(latter)

 Navy Type 92 flexible (Copy dari senjata dari jenis  Lewis)

 
Bagian yang bagian tengah adalah Model 97 (1937) 7.7-mm tank machine gun dan paling kanan adalah senjata dari jenis Army Te-4

 Model 97 (1937) 7.7-mm tank machine gun

 Army Te-4 sebagai salah satu senjata utama untuk pesawat yang digunakan oleh IJAAF dan terpasang di pesawat-pesawat dari jenis "Sonia", Ki-36 "Ida", "Lily", "Sally", "Helen" dan lain-lain.

Te-4 Single flexible machine gun
Caliber : 7.7mm
Weight : 9.27kg
Length : 105.9cm
Muzzle velocity : 810m/s
Rare of fire : 670 rounds/min
Feeding : drum magazines
Installed :
Type 97 com Recon,
Type 97 hevy bomber
ype 99 right bomber model 1 (Early),
Type 99 tactical Recon(Early)
Type 100 com Recon model 1& 2,
Type 100 hevy bomber 


 Army Te 4 yang terpasang di pesawat Tachikawa Ki-54 "Hickory"

Foto koleksi                    : Agung Surono 
Lokasi pengambilan foto   : Museum Pusat TNI Satria Mandala Jakarta Indonesia
Tanggal pengambilan foto : 11 Agustus 2015
Sumber data                   : 
Arawasi-Wildeagles 
Aircraft-Weapons-Army                  http://www.dragonsoffire.com
Japanese Army Aircraft Weapons   http://gunsight.jp/b/english/data/ja-gun-e-02.htm

Sukhoi Su 30 KI Impian TNI AU Yang Gagal Karena Krisis Moneter

Sukhoi Su 30 KI Impian TNI AU Yang Gagal 
Karena Krisis Moneter

Bermula pada tahun 1997, AU Pakistan yang membeli F-16 dari Amerika sebanyak beberapa pesawat yang jumlahnya kurang tahu pasti. Namun, ketika 9 F-16 dari total pemesanan Pakistan ini sudah selesai dan tinggal pengiriman, Amerika memberlakukan embargo terhadap Pakistan terkait dengan isu Nuklir Pakistan . Hal ini membuat pembelian F-16 Pakistan tersebut dibatalkan dan pesawat yang terlanjur sudah selesai tersebut rencananya akan di jual ke negara lain.
Indonesia yang ketika itu ingin meningkatkan kemampuan Angkatan Udaranya, menaruh minat besar akan pesawat baru yang tidak jadi dijual ke Pakistan tersebut. Pesawat ini di
maksudkan untuk melengkapi 12 F-16 yang dimiliki Indonesia ketika itu.
Amerika dan Indonesia telah setuju untuk mengalihkannya ke Indonesia dan kontraknya sudah di tanda tangani pada Maret 1996. Namun setahun kemudian, kontrak ini dibatalkan oleh Presiden Indonesia kala itu yaitu Soeharto karena beliau merasa gerah dengan tudingan Amerika terhadap Indonesia mengenai permasalahan HAM di Indonesia. 
Akhirnya Indonesia pun melakukan langkah ‘membelot’ ke Rusia dengan melakukan pemesanan 12 Sukhoi KI (SU-30KI). Sukhoi KI ini merupakan satu-satunya Su-30 yang berkursi tunggal. Ketertarikan Indonesia terhadap pesawat Sukhoi ini dikarenakan Indonesia sudah melihat kehebatan pesawat ini ketika Sukhoi tampil di ajang Indonesia Air Show pada Juni 1996. Langkah membeli Sukhoi ini bisa dikatakan sebuah perlawanan Indonesia terhadap hegemoni Amerika yang terus menekan Indonesia melalui isu-isu HAM dan sejenisnya. Indonesia sangat berharap pembelian Sukhoi ini akan menaikkan martabat Indonesia di mata dunia. Namun, pembelian Sukhoi ini tidak bisa lepas dari tekanan Amerika dan sekutunya yang tidak ingin Indonesia berhasil memiliki Sukhoi. Hal ini bisa dipahami, karena pembelian Sukhoi akan mendekatkan Indonesia ke Rusia seperti ketika jaman pemerintahan Presiden Soekarno yang membuat Indonesia begitu di takuti oleh Amerika dan sekutunya.

Sukhoi Su 30 KI yang pernah akan diakuisisi oleh TNI AU

Su-30 KI Komyercheskyi Indonyesiyskiy yang artinya komerisal untuk Indonesia. Pesawat tempur canggih yang dirancang oleh biro desain Sukhoi khusus dipersembahkan bagi Indonesia. Bahkan pesawat ini menjadi basis bagi pengembangan pesawat Su-35, namun sayang nasib pesawat ini begitu tragis. Krisis moneter yang menghantam Indonesia pada tahun 1998, membuat pesawat Su-30 KI terkatung-katung tidak jelas.
Biro desain KnAAPO mengadakan program upgrade pesawat tempur single seater Su-27SK, pada tahun 1995. Upgrade meliputi jarak dan kefektifan tempur yang ditingkatkan, dan menjadikanya sebagai penempur multi role. Fase pertama ini menghasilkan satu spesies baru yaitu Su-30 KI
Su-30 KI merupakan penempur dengan awak tunggal, beragam kesaktian ada dalam tubuh pesawat ini. Salah satunya adalah IFR probe, satnav receiver, ILS/VOR navigasi dan sistem pendaratan yang ditingkatkan, RVV-AE missile. Tidak cukup sampai disitu, pada tahap kedua peningkatan ditambahkan kembali sistem avionik yang ditingkatkan, komputer, radar phased array dan senjata.
Pada tanggal 28 Juni 1998 menjadi debut pertama Su-30 KI, dalam atraksi udara MAKS '99 international aerospace show. Dalam penampilanya Su-30 KI dicat dengan warna abu-abu-hitam dan biru. Penampilan Su-30 KI dalam ajang airshow tersebut sangat mengagumkan, bahkan diakui oleh sejumlah negara.
Su-30 KI memiliki performa luar biasa, lantaran ditenagai mesin Saturn Lyul'ka AL-31F afterburning turbofans membuat pesawat ini sanggup melaju hingga kecepatan mach 2. Su-30 KI sanggup terbang dengan ketinggian mencapai 17 Km, dengan jarak tempuh mencapai 3.000 Km. Su-30 KI dilengkapi dengan senjata meriam GSh-301 30mm, rudal R-60, R-73, R-27, RVV-AE (R-77) AAMs, dan tabung ECM Pods. 
Entah ada kaitan langsung atau tidak, krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada 1998 memaksa Indonesia membatalkan pembelian Sukhoi dari Rusia ini. Gagalnya pembelian ini membuat kekuatan Angakatan Udara Indonesia mengalami stagnasi dan semakin parah ketika tahun 1999 sampai dengan 2005, Amerika dan sekutunya memberlakukan Embargo Militer terhadap Indonesia.

Mirage 2000 Pesawat Impian TNI AU Yang Gagal Terwujud

Mirage 2000 Pesawat Impian TNI AU Yang Gagal Terwujud

Di sekitar tahun 1984 TNI AU ketika saat itu Mirage 2000 belum diproduksi secara massal,baru ada dua unit lansiran Avions Marcel Dassault tipe tempat duduk ganda dengan kode B-01 dan tempat duduk single dgn kode A-01, TNI AU berminat untuk mengakuisisi pesawat Mirage 2000. Selain Perancis baru Indonesia dan Taiwan yang berminat untuk mengakuisisi pesawat Mirage 2000 ini.

Para perwira Armee de`l Air / Angkatan Udara Prancis bertemu dengan Bpk.F.Djoko " Beaver" Poerwoko ( Alm ) langsung di Lanud Iswahjudi,Madiun saat masih diperkuat armada F-86 Sabre.

Dua tahun sebelum demo di Kemayoran, TNI AU mengirim lima perwira menengah terbaiknya ke Prancis.Dua di antaranya penerbang uji mereka adalah Letkol Pnb Holki BK ( F-5 ), Mayor Pnb F.Djoko Poerwoko ( A-4 ), Letkol Tek Nyoman Djawi, Letkol Tek Purnomo dan Letkol Lek Sridiarto. Selama dua minggu pada bulan Juni 1984,tim melaksanakan uji terbang di salah satu pangkalan di Prancis selatan ( dekat St.Tropies ).

 Nampak salah satu pilot TNI AU bersiap-siap menerbangkan pesawat Mirage 2000 B-01

Mayor Pnb F.Djoko Poerwoko berfoto bersama dengan kru Mirage 2000 B-01 yang tengah diuji untuk dipilih TNI AU


Dua tahun setelah pengiriman pilot uji TNI AU ke Perancis dilanjutkan dengan penampilan pesawat Mirage 2000 di acara Indonesia Air Show pada tahun 1986 di Kemayoran Jakarta.

Dasault-Mirage-2000 di acara Indonesia Air Show 1986 ex- Bandara Kemayoran seusai selesai demo di hari pertama pameran


Dalam pameran IAS'86 ini Presiden Soeharto berkesempatan duduk dalam kokpit sambil mengacungkan jempol nya.
Saat itu sebetulnya TNI AU sudah akan order 12 unit Mirage 2000. Hanya saja dengan adanya faktor politis ikut mempengaruhi keputusan saat itu maka proses akuisisi pesawat Mirage 2000 ini tidak berjalan mulus. 
Akhirnnya TNI AU lebih memilih 12 buah pesawat F 16 Fighting Falcon A/B block 15 OCU. Dengan sebelumnya ada kehadiran team aerobatik Thunderbirds ke Halim Perdanakusuma pada tahun 87 serta adanya ToT offset untuk pengaaan ke 12 pesawat
F 16 Fighting Falcon A/B block 15 OCU ini. 
Selain Indonesia peminat yang lain yaitu Taiwan  juga tidak jadi mengakuisisi,namun produk Mirage meraih pembeli di negara Timur Tengah.