Selasa, 09 Januari 2018

Penyerahan 1 Pesawat MPA dan 5 Buah Helikopter Dari PT DI ke Pihak TNI

 Penyerahan 1 Pesawat MPA dan 5 Buah Helikopter Dari PT DI ke Pihak TNI

Tentara Nasional Indonesia menerima enam unit pesawat baru dari PT Dirgantara Indonesia (PTDI) yang diserahkan oleh Direktur Utama PTDI Elfien Goentoro 

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menyerahkan sebanyak enam unit pesanan Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Penyerahan enam pesawat tersebut dilakukan di Selasa (9/1/2018) di Hanggar Fixed Wing PTDI Jl  Pajajaran, Kota Bandung.
Enam pesawat yang diserahterimakan tersebut selanjutnya akan digunakan oleh TNI AD dan AL.  Enam pesawat yang diserahterimakan tersebut yaitu tiga unit Heli Serang TNI AD, satu unit Pesawat Udara CN 235 MPA TNI AL, dan dua unit Heli AKS TNI AL.
Penyerahan pesawat tersebut dilakukan Dirut PT DI, Elfien Goentoro kepada KepalanBadan  Sarana Pertahanan (Kabaranahan), Kemenhan, Laksamana Muda TNI Agus Setiaji.

 Penyerahan pesawat dari PT DI ke TNI (Foto: Ist)

Penyerahan pesawat produksi anak bangsa tersebut juga disaksikan Menhan, Ryamizard Ryacudu, Panglima TNI, Marsekal TNI hadi Tjahjanto, KSAD Jenderal TNI Moelyono, KSAL Laksamana Ade TNI Ade Supandi, dan jajaran Komisaris dan Direksi PTDI.
Setelah diserahterimakan, pesawat tersebut kemudian secara dimbolis diterima jajaran TNI AD dan TNI AL. Untuk TNI AD pesawat yang diserahkan sebanyak tiga unit yaitu Helikopter Serang  ASS555AP Fennec, sedangkan TNI AL sebanyak dua unit  Helikopter  AS565 MBe Panther Anti Kapal Selam dan satu unit Pesawat CN235-220 Maritime Patrol Aircraf.

 Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu (tengah) bersama Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto (kanan) dan Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Elfien Goentoro (kiri) melakukan prosesi penyiraman helikopter ASS555AP Fennec saat acara serah terima Alutsista di Hanggar Fixed Wing PTDI di Bandung, Jawa Barat, Selasa (9/1/2018). (ANTARA /Raisan Al Farisi)

Menurut Elfien, pesawat CN235-220 MPA dapat digunakan untuk berbagai misi. Antara lain patroli perbatasan dan Zona Ekonomi Eksklusif, pengawasan pencurian ikan dan pencemaran laut, pengawasan imigrasi dan perdagangan manusia, penyelundupan narkoba dan barang ilegal, serta pencarian dan penyelamatan korban bencana.
Pesawat ini, kata dia, memiliki beberapa keungulan yakni maximum take  off weight (MTOW/ 16.000 kg), bisa lepas landas jarak pendek dengan kondisi landasan yang belum beraspal dan berumput, mampu terbang selama 10 hingga 11 jam dengan sistem avionik full glass cickoit yang lebih modern, autopilot, memiliki winglet dibujjng sayap agar lebih stabil dan irit bahan bakar.


CN235-200 MPA untuk TNI AL.
 Foto: Dony Indra Ramadhan

Keunggulan lainnya, kata Elfien, CN235-200 ini mengakomodasi dua console, dilengkapi dengan 360 derajat search radar yang dapat mendeteksi target yang kecil sampai 200 NM (nautical mile) dan automatic indentifivation system (AIS), sistem pelacakan otomatis untuk mengidentifikasi dan menemukan kapal lain untuk memperoleh gambaran perintah operasi lawan dan mengetahui posisi objek yang mencurigakan.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto (kiri) mencoba sistem navigasi pesawat CN235 saat acara serah terima Alutsista di Hanggar Fixed Wing PTDI di Bandung, Jawa Barat, Selasa (9/1). (ANTARA FOTO/Raisan)

Sedangkan Heli AKS jenis Panther tipe AS565 MBe merupakan yang pertama di Indonesia. Sekalipun heli ini merupakan hasil kolaborasi antara PTDI dengan Airbus Helicooters, Prancis, namun untuk fase integrasi AKS mulai dari desain hingga pemasangan merupakan karya PTDI. Heli ini pun, kata dia, mampu mendeteksi keberadan kapal selam yang dilengkapi dipping sonar  L-3 Ocean System DS-100 Helicooter Long-Range Active Sonar.


 Helikmopter AKS AS565 MBe.
 Foto: Dony Indra Ramadhan


"PT DI akan melakukan pemasangan torpedo dan sonar varian terbaru yabg disesuaikan dengan kebutuhan TNI AL," ujar dia.
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dalam sambutannya mengatakan bahwa masuknya helikopter AKS, pesawat udara CN235 MPA dan helikopter serang dalam jajaran TNI sesuai dengan rencana strategi (renstra) dan Minimum Essential Force (MEF) TNI.
"Proses pengadaan dilakukan dengan prinsip-prinsip akuntabilitas dan transparans," catat  Menhan dalam keterangan tertulisnya.
Selain itu, ia mengemukakan, bertujuan mewujudkan kemandirian industri pertahanan Republik Indonesia yang mampu memperkuat keterpaduan operasional antara sistem senjata antarmatra.
Sementara itu, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto mengatakan pesawat yang diterima TNI saat ini merupakan bentuk keseriusan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dalam rangka memenuhi kebutuhan Alutsista TNI pada Renstra kedua 2014--2019.
Ada beberapa pesawat yang sudah masuk dalam pemesanan Kemenhan RI kepada PT DI, diantaranya adalah sembilan pesawat Cassa NC-212i, tujuh hingga sembilan unit helikopter Caracal, enam helikopter serang dan empat pesawat AKS, ujarnya.

Sumber: republika.co.id

Minggu, 07 Januari 2018

Kedatangan AH 64 E Apache Guardaian TNI AD

 Kedatangan AH 64 E Apache Guardaian TNI AD

 Salah satu pilot yang akan mengawaki helikopter serang AH 64 E Guardian TNI AD

Acara di Amerika Serikat daslam rangka persiapan pengiriman helikopter serang AH 64 E Guardian ke Indonesia

Helikopter AH-64 Apache milik TNI AD sudah tiba dari AS pada Selasa (19/12) kemarin dengan diangkut menggunakan pesawat Angkatan Udara AS.
"Hari ini tiba di Semarang. Infonya ada 3 Unit," kata Kapuskom Publik Kemhan, Brigjen Totok Sugiharto. Brigjen Totok menyatakan helikopter tersebut merupakan pemesanan sebelumnya sejumlah 8 unit. 

 AH 64 E Guardian saat masih di dalam pesawat
C-17 Globe Master sesaat sebelum diturunkan



Proses penurunan helikopter serang AH 64 E Guardian


Proses penurunan helikopter serang AH 64 E Guardian selanjutnya

Dari sumber lain menyebutkan bahwa "Tiga unit pertama dikirim dengan pesawat C-17 Globe Master tiba di Pangkalan Udara Utama TNI AD (Lanumad) Ahmad Yani tanggal 18 Desember 2017," ujar Wakil Komandan Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Puspenerbad) Brigjen Eko. Eko juga menuturkan, tiga heli tersebut termasuk dalam program pembelian delapan unit melalui program Foreign Military Sales (FMS) untuk menjamin kesiapan alutsista secara maksimal. Pengiriman helikopter dilaksanakan dalam dua gelombang. Pengiriman tiga unit pertama dikirim dengan pesawat C-17 Globe Master. Kemudian, lima unit berikutnya dikirim dengan kapal laut dan diperkirakan tiba di Semarang pada Maret 2018.
Menurut Totok, helikopter itu akan digunakan Penerbangan TNI AD (Penerbad). Saat ini helikopter itu juga akan ditempatkan di Penerbad Ahmad Yani, Semarang.
"Heli nanti akan ditempatkan Penerbad Semarang," tutur dia.
Selanjutnya, helikopter yang sudah tiba di Semarang akan disiapkan untuk mendukung kesiapan operasional TNI AD. 





Komandan Puspenerbad Mayjend TNI Besar Harto Karyawan meninjau helikopter serang AH 64 E Guardian di Skuadron 11/Serbu di Lanud A Yani Semarang

"Pada fase awal, helikopter akan diuji kelaikudaraannya, setelah dinyatakan lulus kemudian akan dipakai untuk pelatihan penerbang dan semua awak pesawat," ucap Eko.
Pengumuman pembelian delapan helikopter Apache dilakukan pada tahun 2012 oleh Menteri Luar Negeri AS saat itu, Hillary Clinton, setelah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa di Washington pada 20 September 2012. Kontrak pengadaan mencapai 295,8 juta dollar AS. . Wamenhan saat itu Sjafrie Sjamsuddin mengatakan nantinya heli Apache itu juga sudah bisa digunakan untuk latihan perang operasi Garuda TNI AD.

Jumat, 09 Juni 2017

Penampakan Helikopter AH 64 Apache

Penampakan Helikopter AH 64 Apache

Penampakan AH64E Apache Block III Guardian TNI AD

Mabes TNI AD memesan delapan unit helikopter serang AH64E Apache Block III Guardian ke pabrikan Boeing, Amerika Serikat (AS). Kontrak pengadaan itu disebut bernilai 1,4 miliar dolar AS, termasuk penjualan empat Kontrol radar Longbow APG-78, dan paket persenjataan termasuk 120 rudal udara ke darat Hellfire Lockheed martin AGM-114, ditambah paket pelatihan awak dan support.. Helikopter tersebut ditargetkan datang bertahap mulai tahun ini hingga 2018.

AH-64E Guardian yang nantinya akan dipakai oleh Skuadron 11 Puspenerbal TNI AD sedang menjalani uji terbang

Helikopter serang yang akan memperkuat Skuadron 11 di Semarang ini pada tahun 2017 akan datang 3 buah dan dilanjutkan tahun 2018 sebanyak 5 buah. Jadi total yang akan diterima Puspenerbad TNI AD ada sebanyak 8 buah helikopter AH-64E Guardian. Selain itu juga Puspenerbad TNI AD akan menerima satu set simulator helikopter AH-64E Guardian ini.
Helikopter AH-64E Guardian memang telah ditingkatkan kemampuannya, termasuk : improved digital connectivity, Joint Tactical Information Distribution System, mesin T700-GE-701D yang lebih powerfull with upgraded face gear transmission to accommodate more power.

AH64E Apache Block III Guardian

Baling baling komposite yang baru meningkatkan kecepatan jelajah, climb rate, dan kemampuan membawa beban. AH-64E dilengkapi new self-diagnostic abilities dan Link-16 data-links. Radar Longbow yang telah diupdate membuatnya bisa digunakan untuk naval strikes. Helikopter ini juga bisa mengusung radar AESA. Helikopter AH-64 E cocok untuk maritime operations.
Helikopter ini memiliki extended-range fuel tanks yang menyebabkan meningkatnya jarak tempuh dan endurance. AH-64E mmeiliki L-3 Communications MUM-TX datalink yang berkomunikasi melalui frekuensi C, D, L, dan Ku band, untuk transmit dan menerima data atau video dari semua UAV yang diterbangkan. 

Kabar terakhir dari helikopter AH 64 milik TNI AD adalah telah selesai menjalani instalasi Radar Longbow, salah satu fitur andalan yang dimiliki oleh helikopter serang ini. 



 AH-64 Apache yang diakusisi oleh TNI AD rupanya telah selesai menjalani instalasi Radar Longbow, salah satu fitur andalan yang dimiliki oleh helikopter serang ini.
Kepastian ini diperoleh dari foto yang dirilis oleh salah satu warganet, Ways Shiva.

Delapan unit AH-64 Apache yang di akusisi oleh TNI AD tidak seluruhnya menggunakan Radar Longbow, mengingat harga radar ini yang tidak murah. TNI AD sendiri tidak memberikan rincian berapa Radar Longbow yang akan diinstal pada helikopter serang tersebut.
Radar Longbow adalah sistem radar yang dipasang di atas baling-baling utama helikopter Apache yang terdiri dari perangkat AN/ APG-78 Fire Control Radar (Radar Kendali Tembak) dan AN/ APR-48 Radar Frequency Interferometer (Radar Identifikasi Frekuensi).
Kedua perangkat tersebut akan memberikan masukan bagi sistem M-TADS dalam memberikan informasi tentang sasaran dan pasukan lawan.
Selain itu, perangkat ini dilengkapi dengan pendeteksi infra merah dari sumber luar untuk menghindari ancaman tembakan ruadal darat ke udara dan udara ke udara.
Kemampuan deteksi radar ini dapat mencapai 10 km pada kondisi yang cerah. Radar akan mendeteksi pesawat terbang, helikopter, senjata Arhanud, rudal darat ke udara, tank, AFV, truk dan kendaraan lainnya.
Menurut jadwal, helikopter serang ini seharusnya tiba pada awal tahun. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian kapan alutsista canggih ini akan dikirim ke Indonesia.



Senin, 08 Mei 2017

 Modernisasi Pesawat Sukhoi TNI AU


Ada yang menarik di Angkasa Yudha yang digelar di Natuna awal Oktober 2016. Dalam latihan ini dilibatkan puluhan pesawat militer Indonesia termasuk pesawat tempur Sukhoi Su-27SKM/Su-30MK2. Dalam latihan ini juga, berbagai senjata andalan pesawat tempur Indonesia juga dibawa dalam latihan. Yang sangat menarik perhatian adalah rudal R-27 Alamo yang juga dibawa dalam latihan ini. Menarik karena ini merupakan penampakan perdana rudal R-27 Alamo milik Indonesia ini.
Sebelumnya memang sudah beredar desas desus bahwa militer Indonesia sudah membeli rudal R-27 Alamo dari Ukraina untuk menambah persenjataan pesawat tempur Sukhoi Indonesia. Namun rudal ini belum pernah diperlihatkan ke public atau terlihat dibawah oleh pesawat tempur Indonesia. Sebelumnya pesawat tempur Sukhoi Indonesia biasanya hanya membawa senjata berupa rudal R-73 Archer, Short-range air-to-air missile dan rudal R-77 Adder Medium-Range Active-Radar Homing Air-to-Air Missile untuk pertempuran udara.
Dalam foto foto yang di rilis beberapa media termasuk komunitas ARC, terlihat jelas adanya rudal R-27 Alamo Medium-range, air-to-air tactical missile yang dibawa dalam latihan Angkasa Yudha 2016 lalu. Seperti yang terlihat dalam foto dibawah ini, terlihat pesawat tempur Su-30MK2 tail number TS-3010 yang disampingnya berjejer senjata andalannya yaitu KH-31, KH-29, R-27 Alamo, R-77 Adder, R-73 Archer dan peluncur roket S-13.
Kehadiran rudal varian R-27 Alamo ini akan menambah jumlah tipe rudal persenjataan pesawat tempur Sukhoi Su-27 SKM/Su-30MK2 milik TNI AU ini. Apalagi kita ketahui bersama bahwa rudal R-27 Alamo ini juga merupakan salah satu rudal untuk peperangan udara jarak jauh (Beyond Visual Range) atau yang sering disebut rudal BVR. Rudal R-27 Alamo ini akan mendampingi rudal R-77 Adder untuk urusan perang BVR sebagai senjata pesawat tempur Sukhoi Indonesia. Sedangkan untuk perang udara jarak dekat (within visual range) masih akan mengandalkan rudal R-73 Archer.
Namun hingga kini belum diketahui berapa banyak jumlah rudal R-27 Alamo yang dibeli untuk memperkuat alutsista TNI. Besar kemungkinan jumlahnya tidak banyak dan hanya berjumlah beberapa unit saja. Rudal canggih ini disebut-sebut dibeli Indonesia bukan dari Rusia, melainkan dari Ukraina. Tetapi tidak tertutup kemungkinan dimasa mendatang akan ditambah. Belum diketahui secara pasti varian mana yang di miliki Indonesia ini. Sebagaimana kita ketahui bahwa rudal R-27 Alamo ini memiliki beberapa varian yaitu R-27R (semi active radar homing), R-27T (infrared homing), R-27ER (varian R-27R yang ditingkatkan kemampuannya) dan R-27ET (varian R-27T yang ditingkatkan kemampuannya).
Rudal R-27 Alamo sendiri merupakan rudal untuk peperangan udara jarak jauh yang sudah lama menjadi andalan negara negara block timur seperti Rusia. Dalam beberapa peperangan, rudal ini sudah beberapa kali ditembakkan ke arah musuh. Salah satunya adalah ketika perang Ethophia dengan Eritria pada tahun 1999. Ketika itu pesawat tempur Su-27 Etophia menambak jatuh satu unit pesawat tempur Mig-29 Eritria dengan rudal R-27 Alamo.
Namun banyak pihak juga meragukan kualitas rudal R-27 Alamo ini, terutama varian lama. Salah satunya adalah sejarah operasional yang tidak terlalu menggembirakan. Sebut saja dalam perang Etophia dengan Eritria diatas. Ketika itu 4 unit pesawat Su-27 Ethophia berperang dalam jarak jauh dengan 4 unit Mig-29 Eritria. Masing masing langsung melepaskan rudal R-27 ke arah lawan. Namun kebanyak rudal tersebut meleset, dan hanya satu yang hampir mengenai target, yaitu rudal R-27 yang ditembakkan Su-27 Etophia ke Mig-29 Eritria. Sebenarnya rudal ini tidak mengenai target, namun meledak didekat target sehingga pesawat target Mig-29 Eritria rusak berat dan jatuh saat akan mendarat.
Dengan dilengkapinya pesawat Sukhoi Su 27/30 milik TNI AU dengan rudal R-27 Alamo serta rudal R-77 Adder Medium-Range Active-Radar Homing Air-to-Air Missile maka hal ini membuktikan bahwa di lingkungan TNI AU baru armada jet tempur Sukhoi Su-27/Su-30 Flanker Skadron Udara 11 yang dibekali senjata berupa rudal berkemampuan BVR (Beyond Visual Range). Seperti telah diwartakan sebelumnya, duo jet tempur asal Rusia ini telah dipersenjatai paket rudal udara ke udara jarak menengah dan jauh, seperti R-77 yang merupakan rival AIM-120 AMRAAM (Advanced Medium Range Air to Air Missile) dan rudal Vympel R-27.


Meski belum menyandang predikat battle proven untuk duel di udara, Sukhoi Su-27/Su-30 dengan sokongan radar search and tracking Fazotron N011 Zhuck-27 (kode NATO: Beetle), plus kombinasi kemampuan rudal R-77 dan R-27 mampu memberikan efek deteren bagi lawan yang ingin menjajal kekuatan udara nasional. R-77 mampu melesat dengan kecepatan Mach 4.5 dan jarak jangkau 90 km. Sementara R-27 dengan kecepatan yan relatif sama punya jarak tembak di rentang 80 km sampai 130 km. Radar Phazotron N-001 Zhuk salah satu tugasnya berperan untuk melakukan searching and designating aerial targets untuk rudal udara jarak pendek dan menengah.
Bila ingin radar silent dan mengantisipasi kemungkinan radar di jamming, pilot bisa memakai jasa OEPS-27, yakni penjejak berbasis elektro optik. Teknologi OEPS-27 dirancang untuk mencari dan melacak target berikut emisi infra merah, atau berdasarkan panas yang dihasilkan target. Hebatnya lagi OEPS-27 dalam membidik target dilengkapi dengan sistem pengukur jarak dengan basis built in laser.
Bagi yang belum tahu, OEPS-27 mudah dikenali pada jet tempur Sukhoi Su-27/Su-30. Letak perangkat ini berada di bagian hidung, namun agak mendekat kokpit, dan bentuknya cukup unik dengan desain bola kaca. Perangkat ini terdiri dari dua bagian. Pertama disebut sebagai pengukur jarak bersistem laser (laser range finder) dengan kemampuan pengenalan target hingga delapan kilometer. Kemudian masih dalam bola kaca juga ada IRST (infra red search and track system), dimana sistem ini dapat menjangkau jarak hingga 50 kilometer. Soal cakupan (coverage), untuk sudut azimuth mulai dari -60 sampai +60 derajat, sementara sudut ketinggian mulai dari -60 sampai 15 derajat.
Sebelum prosesi menghancurkan sasaran di udara, sudah barang tentu pilot Sukhoi Su-27/Su-30 wajib mengetahui status sasaran, harus dipastikan itu adalah lawan dan bukan pesawat kawan. Bila mengandalkan darto (radar moto – bahasa Jawa mata) dari sang pilot, identitas sasaran bisa langsung diketahui, tapi lain halnya bila sasaran berada dalam status beyond visual range. Radar Fazotron N011 Zhuck-27 yang ada di hidung Sukhoi memang bisa mencium dan melacak target sekecil 3 meter persegi yang berada 100 km di depan pesawat, 40 km di belakang pesawat dan mampu mengunci 10 sasaran sekaligus. Namun untuk mengenali identitas sasaran, perangkat IFF (Identification Friend or Foe) yang justru berperan penting.
Di Sukhoi Su-27/Su-30 TNI AU sudah ada bekal IFF, tapi sebagai alutsista besutan Rusia, IFF di Sukhoi tidak bisa mengidentifikasi pesawat tempur buatan AS dan Eropa Barat sebagai kawan. Tentu ini cukup berbahaya saat eksekusi tembakan rudal jarak jauh, bila salah informasi bisa-bisa yang kena hantam rudal adalah pesawat tempur kawan (friendy fire), seperti diketahui TNI AU juga mengoperasikan jet tempur andalan seperti F-16 Fighting Falcon, Hawk 109/209 dan T-50i Golden Eagle.
Nah, agar penerbang Sukhoi dapat memperoleh informasi tentang identitas sasaran yang dicurigai, maka fungsi identifikasi IFF diserahkan pada satuan radar (Satrad) yang dilengkapi kemampuan ground control intercept (GCI). Artinya identitas sasaran akan dikomunikasikan lewat radio dari operator radar GCI ke pilot Sukhoi yang sedang mengudara. Untuk saat ini, praktis ada 20 radar GCI Kohanudnas (Komando Pertahanan Udara Nasional) yang akan mendukung peran identifikasi pada Sukhoi, kedepan akan diambah 12 unit radar militer, sehingga keseluruhan akan berjumlah 32 radar hanud. Selain mengandalkan dukungan identifikasi dari ground radar, bila kelak TNI AU mengoperasikan pesawat intai AEW&C (Active Early Warning and Control) maka jangkauan identifikasi jet tempur Sukhoi bakal bertambah luas dan dinamis.
Selain dengan melengkapi dengan persenjataan berupa rudal jarak pendek dan rudal jarak menengah, untuk menambah kedigdayaan pesawat Sukhoi Su 27/30 yang kita miliki maka pada tahun 2017 ini kembali tiga pesawat tempur Su-27SKM dan satu Su-30MK2 Indonesia juga menjalani peremajaan dan upgrade serupa yang kali ini ke negara Belarusia.
Su-27SKM atau berarti Su-27 – Seriyniy Kommercheskiy Modernizirovanniy (Varian Ekspor Modern), dan upgrade yang dijalani, menjadikan Su-27SKM berkemampuan menjadi standar Su-27SKM2.
Su-27SKM2 atau NATO memberinya kode Flanker B Modern 2 sebenarnya sudah memiliki kemampuan yang mumpuni sebagai air superiority dan air-to-ground.
Selain sudah dilengkapi sistem air refuelling, glass cockpit dengan tiga layar besar HUD (Multifunction Liquid-crystal Displays) , sistem navigasi yang terintegrasi dengan satelit GLONASS dan NAVSTAR, dan penggunaan radar warning system untuk kemampuan memburu pesawat peringatan dini musuh (Airborne Early Warning). Su-27SKM juga mendapatkan tambahan hardpoint dibawah sayap yang mampu membawa beban senjata seberat 8000 kg dan perangkat ECM (Electronic Countermeasures ).
Namun yang mengagetkan, ternyata upgrade varian Su-27SKM2 menjadikannya mendekati standar kemampuan Su-35! Ternyata salah satu perangkat canggih yang dicangkokkan ke sistem avionic Su-27SKM2 adalah radar Irbis-E, radar yang sama dengan yang dimiliki Su-35.
Radar NIIP Irbis-E memlki jangkauan sejauh 350 km pada target udara yang memiliki RCS sebesar 3 m2, dan target permukaan dengan janggkauan sejauh 200 km. Irbis-E adalah salah satu radar terkuat di dunia, dan menjadi jantung utama kelebihan dari Su-35. Su-27SKM2 juga kemungkinan akan menggunakan mesin AL-31F, atau mesin generasi pertama yang digunakan pesawat tempur Su-35.
Dengan upgrade menjadi Su-27SKM2, kini menjadikan Su-27 Flanker B Modern milik Angkatan Udara Indonesia menjadi setara dengan pesawat tempur generasi 4++ seperti Su-27SM2 dan Su-35 Rusia.

Rabu, 14 September 2016

Sprut SDM1

Sprut SDM1 

2S25 Sprut-SD (Russian: 2С25 «Спрут-СД»; 2S25 "Kraken-SD") arteleri penghancur tank dan tank ringan yang dikembangkan dan diproduksi oleh Volgograd tractor factory untuk memenuhi kebutuhan dari VDV ("Vozdushno-desantnye voyska Rossii", Russian: Воздушно-десантные войска России, ВДВ; Air-landing Forces) di pertengahan tahun 2001. 2S25 Sprut-SD dirancang khusus untuk melawan tank, bunker yang dilapisi material keras dan kekuatan pasukan musuh dengan cara lintas udara dan pendaratan amphibi sebaik unit kekuatan.
Angkatan Bersenjata Rusia akan menggunakan fasilitas senjata artileri penghancur tank 2S25 Sprut-SD yang telah dimodernisasi. Kendaraan canggih ini bisa terjun dari udara menggunakan parasut dan melindungi pasukan lintas udara Rusia. Sebelumnya tank 2S25 Sprut-SD menggunakan sasis dari BMD 3 dan ditenagai dengan sebuah mesin diesel 2V-06-2S yang menghasilkan 510 tenaga kuda. Tank ini memiliki suspensi hydropneumatic dengan ground clearance disesuaikan. Kendaraan tempur Sprut SD ini merupakan kendaraan yang berkemampuan amphibi penuh dengan ditenagai 2 buah waterjet. Kendaraan tempur ini di laut bisa bertahan terhadap gelombang laut level 3. Dan saat berenang masih bisa menembakkan senjata utamanya. Dan tank ini bisa diterjunkan dari pesawat dengan crew berada di dalam kendaraan tempur ini. Kendaraan Sprut SD ini merupakan kendaraan tempur pengganti dari PT 76 yang sudah semakin menua dan tertinggal teknologinya.
Untuk perlindungan Sprut SD ini sangat minim sekali, bagian depan hanya mampu menahan tembakan dari senjata kaliber 12,7 mm sedangkan keseluruhan bodinya hanya mampu menahan tembakan dari senapan ringan dan pecahan peluru arteleri. Namun demikian proteksi ini bisa ditingkatkan dengan menambahkan “add-on armor” serta beragai macam sistem countermeasures. Kendaraan ini juga dilindungi dengan perlindungan Nubika serta automatic fire extinguishing systems.
Self-propelled gun (meriam gerak otomatis) tersebut dipersenjatai dengan meriam smoothbore kaliber 125 mm dengan stabiliser penuh dan mampu menaklukkan rintangan di air. Kendaraan berbobot 18 ton ini juga bisa mendarat dari pesawat militer Il-76 menggunakan parasut majemuk tanpa persiapan khusus. Sejak 2009, pasukan lintas udara Rusia memiliki 25 hingga 50 tank penghancur yang dibagi ke dalam empat kelompok tempur penghancur tank.
Sprut (Gurita) modifikasi baru ini akan berbeda dari Sprut yang sudah dimiliki Angkatan Bersenjata Rusia karena dibuat khusus untuk kendaraan tempur BMD-4M yang saat ini dimiliki pasukan lintas udara Rusia. BMD-4M sendiri merupakan pengganti dari BMD-1, BMD-2 dan BMD-3 yang sudah menua. Untuk kode yang diberikan untuk tank Sprut yang sudah dipermodern ini adalah Sprut-SDM1. 

 Sprut SDM1 di tahun 2015 dalam suatu pameran di dekat Moskow

Sprut-SDM1 ini menggunakan teknologi dari BDM 4M dan T90 MS. Menurut Direktur Eksekutif Pabrik Traktor Volgograd Aleksander Klyuzhev, komponen mesin tenaga penggerak, sistem penggerak, dan transmisi Sprut-SD kelak akan diseragamkan dengan BMD-4M. Mesin yang digunakan tidak lagi menggunakan mesin diesel 2V-06-2S akan tetapi diganti dengan mesin UTD-29 yang menghasilkan tenaga 500 tenaga kuda. Dan mesin UTD-29 ini merupakan mesin yang sama yang terpasang di BMP 3 dan BMD 4M. Mesin UTD-29 lebih modern dibandingkan dengan mesin lama 2V-06-2S.
Kendaraan tersebut juga memiliki sistem pengontrol tembakan yang baru serta sistem pengintaian digital yang mampu membidik sasaran secara akurat baik dalam keadaan terang maupun gelap pada kondisi cuaca apapun yang diambil dari teknologi T90 MS. Sprut yang sudah dimiliki tentara Rusia dilengkapi meriam smoothbore 2a75 125 mm, yang bisa menembak dengan APFSDS (Armour-piercing fin-stabilized discarding-sabot), HE-Frag, HEAT dan ATGM (penembus perisai, peluru kumulatif konvensional, proyektil eksplosif tinggi, serta rudal antitank Reflex) yang dapat melumpuhkan sasaran saat ditembakan menggunakan pembidik sinar laser yang jaraknya bisa mencapai 5 km. Rudal itu tak hanya mampu mengenai musuh berupa tank saja, tetapi juga objek-objek berpelindung baja dan helikopter di ketinggian rendah, serta fasilitas pertahanan lain dalam radius lebih dari lima kilometer. Meriam modifikasi 2A75 dibuat khusus untuk Sprut. Meriam itu merupakan miniatur meriam tank 2A46 yang ada pada tank-tank Rusia T-72, T-80, dan T-90. Untuk amunisi baik amunisi konvensional maupun amunisi berupa rudal bisa membawa sebanyak 40 buah dan 22 buah diantaranya berada di auto loader dan 18 buah di rak tambahan. Kecepatan menembak senjata utama kaliber 125 mm ini sebanyak 7 tembakan per menit. Selain itu pula Sprut-SDM1 dilengkapi dengan RCWS (remotely controlled weapon station) dengan senjata kaliber 7,62 mm. Untuk crewnya sebanyak 3 orang terdiri dari komandan, penembak dan pengemudi.

Nampak adanya RCWS dengan senapan mesin kaliber 7,62 mm 
serta adanya perlengkapan panoramic sight yang baru.

Perwakilan Kementerian Pertahanan Rusia menjelaskan, Sprut bukan sekedar meriam di atas sasis BMD yang bertugas menghancurkan tank. “Kendaraan ini merupakan tank ringan yang bisa dimobilisasi lewat udara dan bisa membantu pasukan lintas udara pada waktu dan tempat yang telah ditentukan.”
Tank penghancur ini bisa memberi tembakan perlindungan bagi pasukan lintas udara yang telah mendarat. Tank 2S25 juga bisa digunakan di berbagai medan, baik di gunung ataupun jalan sempit. “Pada medan sulit seperti itu, yang dibutuhkan bukan ketebalan perisai, melainkan kemampuan manuver dan bobot yang ringan,” kata perwakilan Kementerian Pertahanan Rusia.
Tank biasa membutuhkan persiapan khusus untuk dapat berakselerasi melewati halang rintang di air. seperti menaruh cerobong khusus untuk sirkulasi udara agar tank tersebut kedap air. Namun menurut perwakilan Kementerian Pertahanan Rusia, Sprut dapat menambah kecepatan saat melewati rintangan di air tanpa persiapan khusus.
Sprut tidak hanya berguna bagi pasukan lintas udara, tapi juga bisa melengkapi persenjataan pasukan marinir Angkatan Laut Rusia. Hingga awal era 1990-an, pasukan tersebut dipersenjatai oleh tank amfibi PT-76. Kini, pasukan marinir memiliki tank T-72. Namun, untuk bisa mendaratkan tank tersebut, kapal harus masuk ke kawasan pesisir pantai. Pada saat bersamaan, batalion marinir perintis harus berenang dan membutuhkan perlindungan dari tank-tank pendukung. “Sprut amfibi bisa menjadi solusi atas persoalan tersebut,” cerita ahli militer independen, salah satu penulis buku Novaya Armiya Rossii, Dmitry Boltenkov.
Seperti halnmya di Russia dimana PT 76 sudah semakin menua meskipun berbagai perbaikan dan modifikasi telah dijalankan selama ini. Perbaikan struktur hingga mesin sudah menjadi agenda rutin selama ini, sehingga tetap dapat digunakan dalam peran tempur. Namun jelas semakin tua umurnya maka semakin ketinggalan teknologinya, dan bila terus digunakan maka memerlukan biaya besar untuk terus-terusan mengupdate sistem dan persenjataannya.
Tidak salah bila Tank 2S25 Sprut-SD masuk untuk menggantikan PT-76 karena memiliki peran yang sama sebagai Amphibi Light Tank. Tank ini dirancang untuk pasukan Udara dan Infantri Angkatan Laut yang memiliki peran sebagai tank perusak serta memiliki daya tembak sebanding dengan MBT.
Penambahan Alutsista terutama TNI Angkatan Laut sudah barang tentu menjadi menu wajib untuk memperkuat stigma Poros Maritim.



Rabu, 07 September 2016

Kendaraan Tempur Yang Bisa Diterjunkan Bersama Awaknya

 Kendaraan Tempur Yang Bisa Diterjunkan 
Bersama Awaknya

BMD (Boyevaya Mashina Desanta) 4M

Kendaraan tempur infanteri generasi keempat BMD-4M yang diproduksi oleh Kurganmashzavod JSC. BMD 4M ini dikembangkan oleh Volgograd Tractor Plant dan Tula KBP Instrument Design Bureau dan merupakan varian modernisasi dari BMD 4. BMD 4M memiliki dimensi panjang 6 meter, lebar 3,15 meter, dan tinggi 2,7 meter dengan berat 13,5 ton. Kendaraan tempur BMD 4 M ini dilengkapi persenjataan meriam semi automatis kaliber 100 mm 2A70 / peluncur rudal dengan berat 332 kg. 


Meriam jenis 2A70 kaliber 100 mm

Meriam jenis 2A70 didampingi dengan persenjataan automatis kaliber 30 mm 2A72 yang terpasang di turret. Senapan kaliber 30 mm 2A72 bisa menembakan amunisi dari jenis GSh-6-30 dengan muzzle velocity 960m/s dengan kecepatan tembak 300 peluru per menit. Sedangkan meriam utama bisa menembakan amunisi dari jenis 3UOF17 atau 3UOF19 dengan kecepatan tembak 10 tembakan per menit dengan muzzle velocity antara 250m/s sampai 355m/s. Selain 2 jenis amunisi tersebut meriam kaliber 100 mm bisa juga untuk menembakkan Arkan Tandem 9M117M1 dan Konkurs anti-tank guided missile (ATGM) systems. Selain persenjataan tersebut masih dilengkapi dengan persenjataan sekunder berupa senapan automatis kaliber 7.62 mm PKT.  Lalu bagian turret di bagian depan masing-masing sisi dilengkapi dengan pelempar granat asap. Semua bagian kendaraan ini dilapisi lapisan anti peluru. Semua bagian chasis dan turretnyanya dari bahan aluminium yang melindungi awak kendaraan dan pasukan infanteri dari tembakan senjata ringan. Untuk mesinnya BMD 4M menggunakan mesin diesel type UTD-29 yang menghasilkan tenaga sebesar 500 hp. BMD 4M memiliki kecepatan 69,4 km/jam di jalan raya dan 10 km/jam saat berenang dan jarak jelajah sejauh 500 km di jalan raya. BMD 4M memiliki ground clearance antara 130 mm hingga 530 mm.

BTR 4M nampak bersama awaknya

Oleh sebab itu,
pada tahun 2014 Militer Rusia telah menerima paket alutsista berupa sejumlah prototipe kendaraan serbu angkut udara BMD-4M. BMD 4M juga telah melalui uji coba pendaratan. Dengan menggunakan sistem parasut terbaru, yaitu sistem Bakhcha-U, pendaratan kendaraan tempur ini terbilang halus. Perhatikan urutan foto di bawah ini saat uji coba tanggal 17 Juli 2014 di daerah Ryazan.

 BMD 4M saat mau diuji coba diterjunkan dari pesawat angkut jenis Ilyusin Il 76

 Saat BMD 4M keluar dari badan pesawat Ilyusin Il 76

Nampak parasut terbaru Bakhcha-U mulai mengembang

Parasut terbaru Bakhcha-U mengembang penuh

BMD 4M nampak mendarat dengan sukses

Dalam uji coba sistem parasut terbaru Bakhcha-U, pada bulan November lalu, kendaraan tempur BMD-4M “dilemparkan” dari pesawat angkut kelas berat IL-76 sebanyak sebelas kali. Parasut yang digunakan adalah Bakhcha-U dengan sebelas kubah raksasa sebesar 350 meter persegi yang hampir berukuran sebesar rumah. Solusi teknologi yang digunakan dalam parasut raksasa ini dapat mengurangi kelebihan beban awak di dalam kendaraan pada saat pendaratan. Ketika BMD mendarat, parasut akan otomatis terlepas, dan kendaraan akan dapat segera mulai berlaga di medan perang. Selama pengujian sistem pendaratan parasut Bakhcha-U yang berlangsung pada akhir tahun lalu, pasukan militer memastikan bahwa BMD-4M dapat mendarat menggunakan parasut dengan pasukan di dalamnya dan tidak membahayakan nyawa pasukan serta kendaraan dapat mendarat di lokasi yang diinginkan dengan tepat. Uji coba sistem parasut Bakhcha-U belum selesai dan akan berlangsung hingga akhir 2016. Demikian hal ini disampaikan oleh seorang pekerja di perusahaan Holding Technodynamics, tempat sistem ini dikembangkan. Pada 2017, sistem ini akan mulai dipasok ke pasukan militer. Dan selanjutnya pada 2017, pasukan penerjun payung Rusia diperkirakan akan mulai menerima kendaraan tempur infanteri terbaru yang dapat terjun dari pesawat dan langsung menuju medan perang dengan membawa para awak kendaraan di dalamnya.
Bagi pasukan penerjun payung yang bertugas untuk mengoperasikan kendaraan tepat di garis musuh tanpa dukungan tank atau artileri, BMD-4M jelas merupakan penyelamat sesungguhnya. BMD-4 modern memiliki cadangan daya yang besar (500 kilometer tanpa mengisi bahan bakar), kecepatan tinggi (70 kilometer/jam), dan pelindung lapis baja serta daya tembak yang telah ditingkatkan. Berkat kualitas yang dimiliki kendaraan ini, kelompok “infanteri bersayap” dalam waktu singkat dapat mengalahkan musuh di wilayah kekuasaan mereka tanpa mengalami cedera.
Kemampuan lainnya adalah pendaratan kendaraan lapis baja dari pesawat langsung di medan perang dan aman bagi awak kendaraan yang berada di dalamnya. Kendaraan dan awaknya sebaiknya tidak dipisahkan karena setelah pendaratan, para pasukan akan menghabiskan waktu yang berharga untuk mencapai BMD dan membawanya ke mode siap perang. Hilangnya waktu dalam peperangan akan mengakibatkan risiko hilangnya nyawa. Itulah sebabnya pasukan tetap berada di dalam BMD pada saat pendaratan.
Untuk dapat membuat kendaraan tempur lapis baja “jatuh dari langit” tanpa kehilangan kualitasnya serta aman bagi para personil di dalamnya sangat sulit, mengingat bebannya yang mencapai 13,5 ton dikarenakan adanya peningkatan kualitas senjata yang lebih modern dan peningkatan amunisi. Pendahulunya, yaitu BMD-3, memiliki massa lima ton lebih ringan.
Rusia adalah satu-satunya negara yang melakukan pendaratan kendaraan tempur bersamaan dengan awaknya. Prancis pernah mencoba membuat sistem serupa, tapi proyek tersebut menewaskan beberapa personil selama proses uji coba. Negara-negara Eropa lainnya kemudian memutuskan untuk tidak mendaratkan kendaraan perang dengan awak di dalamnya.
Seperti pendahulunya, BMD-3, BMD-4M tidak hanya mampu berjalan di daratan dan terbang. Kendaraan perang ini juga mampu berenang. Ia mampu berenang dengan kecepatan 10 kilometer/jam dan dapat mengatasi hambatan meski tanpa persiapan. Fleksibilitas tinggi yang dimiliki kendaraan tempur ini adalah salah satu persyaratan yang harus dimiliki setiap kendaraan lapis baja dan kendaraan infanteri militer Rusia.