Senin, 19 Februari 2018

Kontrak Pengadaan Pesawat Su 35 Bagi TNI AU

Kontrak Pengadaan Pesawat Su 35 Bagi TNI AU



Setelah menjadi penantian panjang dan selalu menjadi pembicaraan hangat di kalangan penggemar dunia kemiliteran, akhirnya Indonesia telah menandatangani kontrak pembelian 11 unit pesawat tempur Sukhoi SU-35 dengan Rusia. Penandatanganan itu dilakukan pada Rabu (14/2) lalu di Jakarta.
"Sudah tanggal 14 Februari kemarin," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen Totok Sugiarto lewat pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Jumat (16/2).
Kontrak tersebut ditandatangani oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kabaranahan) Kemhan Laksamana Muda TNI Agus Setiadji dengan Yuri, delegasi dari Rostec.
Seperti diketahui, pembelian pesawat Sukhoi Su-35 ini bertujuan untuk menggantikan F-5 Tiger yang sudah tidak layak terbang. "Sebanyak 11 pesawat Sukhoi Su-35 full combat," tegas mantan Kapendam V/Brawijaya ini.
Alasan memilih Sukhoi Su-35 untuk memperkuat pertahanan Indonesia, pernah diungkap Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu, Agustus tahun lalu.
Menurut dia, pesawat tempur jenis terbaru ini memiliki kemampuan mengunci target. "Dari jauh, dia (Sukhoi SU-35) sudah bisa tahu ada berapa target dan menyiapkan peluru ya untuk menembak," kata Ryamizard di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat,
Totok memastikan pembelian 11 unit Sukhoi tersebut sudah lengkap dengan persenjataan sesuai dengan kebutuhan TNI AU. "Full combat," ujarnya.

 Spesifikasi pesawat Su 35 S yang dibeli oleh TNI AU

Keunggulan pesawat Su 35 S

Totok menyampaikan usai penandatanganan kontrak tersebut, kini Indonesia tinggal menunggu proses pembuatan Sukhoi saja untuk kemudian dikirim ke Indonesia.
Nantinya pengiriman Sukhoi ke Indonesia akan dilakukan dalam tiga tahap.
Tahap pertama, akan dikirim dua unit pada Agustus 2019, dengan catatan kontrak efektif per Agustus 2018.
Tahap kedua, enam unit akan dikirim 18 bulan setelah kontrak efektif. Dan, tiga unit sisanya akan dikirim setelah 23 bulan dari kontrak.
Total pengadaan 11 unit Sukhoi SU-35 lengkap dengan senjata dan persenjataannya mencapai US$1,14 miliar dengan sistem imbal beli.  
Kontrak itu dicapai setelah Indonesia mengatakan bulan Agustus bahwa Indonesia akan berusaha mempertukarkan minyak sawit, kopi dan teh dengan pesawat tempur Rusia, dengan mengatakan pihaknya ingin memanfaatkan sanksi internasional terhadap Moskow.
Uni Eropa dan Amerika telah mengenakan sanksi terhadap Rusia atas tuduhan mencampuri pemilihan presiden Amerika dan pencaplokan Krimea oleh Rusia.
Namun, menteri perdagangan Indonesia mengatakan sanksi itu dapat menguntungkan bagi negaranya karena Rusia terpaksa mencari pasar baru sebagai sumber impor.
Indonesia dan Rusia telah menandatangani memorandum kesepakatan untuk mempertukarkan 11 pesawat tempur Sukhoi buatan Rusia dengan hasil bumi utama Indonesia di Moskow awal Augustus.
Bentuk pembayaran pesawat itu tidak diumumkan hari Sabtu.

Sumber :
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180217011623-20-276773/kemhan-ri-sudah-meneken-kontrak-pembelian-11-sukhoi-su-35

https://nasional.sindonews.com/read/1282400/14/kontrak-pengadaan-diteken-sukhoi-su-35-tiba-di-indonesia-oktober-1518679179

https://www.voaindonesia.com/a/indonesia-tandatangani-kontrak-pembelian-11-pesawat-tempur-rusia/4258862.html
 

Kamis, 08 Februari 2018

Arisgator Untuk TNI AD

 Arisgator Untuk TNI AD

Arisgator adalah modifikasi yang ditawarkan sebuah perusahaan Italia bernama ARIS (Applicazioni Rielaborazioni Impianti Speciali). Ide dasarnya adalah modifikasi dan pembenahan M113 pada sektor daya apung dan propulsi sehingga M113 dapat bersalin rupa menjadi kendaraan pendarat amfibi. Untuk mewujudkan hal tersebut, ada sejumlah kit modifikasi yang disiapkan, yaitu moncong tambahan pada M113 berbentuk haluan kapal yang berisi gabus dan karet khusus yang ringan dan dapat meningkatkan daya apung, plus panel pembelah ombak yang dapat dibentangkan saat mengarung air. Panel tambahan serupa yang ditempelkan di bagian belakang kendaraan yang sekaligus menjadi rumah bagi sistem waterjet. Kotak penambah daya apung serupa dapat dipergoki di sisi kiri-kanan Arisgator.
Pada bagian atas, exhaust atau knalpot dipanjangkan dengan menggunakan snorkel pada sisi kanan atap. Grille untuk lubang masuk udara mesin juga diberi penutup yang lebih tinggi dari kendaraan agar tidak kemasukan air pada saat mengarungi permukaan sungai dan laut. Untuk sistem propulsi di dalam air, 2 buah propeller hidrostatik dipasang di bagian belakang bawah dengan ukuran yang besar, yang mampu mendorong kendaraan dengan kecepatan 5 knot di permukaan air. Sistem propeller ini dapat digerakkan secara independen untuk membuat Arisgator berbelok saat bermanuver di permukaan air. Kemampuan amfibi yang prima tersebut membuat Arisgator dapat digunakan untuk melakukan operasi pendaratan amfibi, dilepaskan dari kapal LPD untuk kemudian berenang, mencapai permukaan, dan bertempur. Modifikasi Arisgator sendiri tidak mempengaruhi kemampuan manuvernya di darat jika dibandingkan dengan M113.
Untuk urusan persenjataan juga sama, Arisgator hanya menyediakan sistem kubah dan dudukan dengan dinding penahan cipratan ombak, plus dudukan untuk senapan mesin M2HB atau pelontar granat 40mm Mk19 Mod 0. Palka di sisi atas kendaraan juga masih dipertahankan untuk akses alternatif keluar masuk pasukan. Secara keseluruhan, M113 yang bersalin rupa menjadi Arisgator boleh dibilang mirip dengan kendaraan pendarat amfibi LVTP-7, namun berukuran lebih mini. Sosoknya jelas bertambah panjang dibandingkan M113 yang berbentuk bak kotak sabun, dan kemampuan amfibinya jadi cocok untuk operasi pendaratan amfibi ataupun operasi di alur sungai dan muara. Di Italia, Arisgator diberi nama resmi VAL dan digunakan oleh Batalyon San Marco dari Resimen Pendarat AL Italia.
Dilihat dari perkembangannya, tidak banyak kendaraan berkemampuan amfibi yang dapat dioperasikan di laut terbuka dalam operasi pendaratan pantai. Salah satu diantaranya adalah Arisgator buatan Italia tersebut yang merupakan pengembangan lebih lanjut dari M113 yang banyak dimiliki oleh angkatan darat dan marinir Italia.
Dalam ulasannya Jane’s (16/Okt/09) menyebutkan bahwa perusahaan Italia ARIS (Applicazioni Rielaborazioni Impianti Speciali) telah mengembangkan perangkat khusus untuk meningkatkan kemampuan amfibi kendaraan lapis baja pengangkut personil (APC) M113. Prototipe pertama dari kendaraan ini, yang disebut Arisgator selesai pada tahun 1997.
Arisgator akhirnya dapat sepenuhnya memenuhi syarat oleh Departemen Pertahanan Italia dan RINA (Otoritas Sertifikasi Angkatan Laut Italia) untuk operasi di laut dan pada pertengahan 2006 Arisgator sudah dipakai oleh Batalyon San Marco dari Resimen Pendarat Angkatan Laut Italia.

Pengembangan
M113 APC (buatan BAE Systems standar/US Combat Systems) seri standar sudah  berkemampuan amfibi. Propellernya mampu mendorong kendaraan di air dengan kecepatan maksimum 5,8 km/jam, cukup untuk operasi di air dengan arus yang tenang. M113 tidak dirancang untuk beroperasi di sungai yang arusnya deras ataupun diluncurkan dari kapal pendarat di lepas pantai. Untuk meningkatkan kemampuan amfibi dari M113, perangkat khusus telah dikembangkan oleh ARIS yang memungkinkan kendaraan untuk beroperasi dengan aman pada operasi pendaratan dari kapal ke pantai serta di sungai.
Perangkat tersebut beratnya antara 1.350-1.700 kg termasuk haluan, atap, dan buritan, yang semuanya terbuat dari light alloy seperti pada bodi M113 aslinya. Kubah komandan di atap dan lubang palka persegi untuk pasukan di belakang tetap dipertahankan, demikian juga terhadap pintu belakang. Perubahan yang dilakukan juga membuat M113 kedap air keseluruhannya.

Kemampuan

Arisgator aman digunakan di laut terbuka, bahkan dalam kondisi yang cukup berat. Yang tidak kalah pentingnya kendaraan ini juga mempunyai kemampuan di darat yang sama dengan kendaraan aslinya yaitu M113. Kemampuan bermanuver sangat mudah dalam pengendaraan, juga dapat berputar di sekitar sumbu vertikal, menunjukkan profil yang rendah di atas air, dapat  dengan mudah diluncurkan, balik kembali dan disimpan oleh kapal LPD. Kendaraan dapat beroperasi dalam misi khusus yang berdiri sendiri atau pendukung kendaraan amfibi lainnya.
Untuk penggunaan di darat, Arisgator mampu dipacu hingga 60km/h dan menempuh jarak > 500km. Fungsi lainnya tidak jauh berbeda dengan M113 sehingga Arisgator tidak hanya berfungsi sebagai kendaraan pendarat saja namun dapat melakukan penetrasi jauh dari pantai. Sesuai dengan kendaraan aslinya, berbagai macam aksesoris khusus baik dalam bidang persenjataan dan perlindungan serta semua peralatan di dalam kendaraan yang ada di pasaran dapat dipasang pada Arisgator. Kendaraan standar mempunyai turret untuk 12,7 HMG atau 40 mm AGL dengan remote control, ballistic computer, dan peralatan sensor lainnya (video-camera, night vision system, laser range-finder, dll.) Proteksi kendaraan mampu menahan tembakan 7,62 mm AP (armour piercing) pada jarak lurus 30 m.

Merujuk sejarahnya, prototipe perdana Arisgator dirampungkan pada tahun 1997 dan dua tahun kemuduan Kementerian Pertahanan Italia resmi mengorder Arisgator. Sebagai basis modifikasi diambil dari stok M113 milik AD Italia. Diantara satuan yang mengoperasikan Arisgator adalah Batalyon Marinir San Marco Italia yang resmi menggunakan ranpur ini pada pertengahan 2006. Setelah masuk kedinasan militer Italia, ranpur ini diberi nama resmi VAL (Light Amphibious Vehicle). Meski sudah berwujud sangar, namun untuk urusan bekal senjata masih terasa garing, seperti M113 Arisgator Italia sebatas dibekali kubah semi terbuka untuk (Senapan Mesin Berat) Browning M2HB 12,7 mm atau pelontar granat AGL 40 mm.

Arisgator Untuk TNI AD
TNI AD telah mengakuisisi M113 Arisgator untuk melengkapi satuan Infateri Mekanis. Ranpur M-113 dari Italia, yang kemudian diperbarui di Belgia, tampaknya akan menjadi tulang punggung Infantri Mekanis TNI AD di masa depan. Karena itulah kebutuhan atas ranpur ini pun terus bertambah. Selain itu, seperti terlihat dalam Latancab TNI AD 2017, M-113 membuktikan mampu bergerak cepat mengimbangi Leopard di segala medan. Kabin yang cukup lapang dan olah gerak inilah yang membuat banyak prajurit infantri jatuh cinta. Sehingga tidak heran jika sejumlah ranpur yang dioperasikan Yonif Mekanis TNI AD tersebut dibeli melalui dana APBN.

Arisgator saat kedatangan batch pertama dengan diangkut pesawat cargo Singapore Airline

Arisgator saat akan mengikuti HUT TNI ke 72

 
 Arisgator saat mengikuti defile HUT TNI ke 72

 
 Arisgator saat mengikuti demonstrasi perang di laut saat HUT TNI ke 72
 
Arisgator saat kedatangan batch kedua

Senin, 22 Januari 2018

AV TM 300 Matador Rudal Jelajah Incaran TNI AD

AV TM 300 Matador Rudal Jelajah Incaran TNI AD

Saat perayaan Hari Ulang Tahun Korps Artileri Medan (Armed) ke-72 yang dirayakan di Pusdik Armed Komando Pendidikan dan Latihan TNI AD di Cimahi (4/12), tampak sebuah Mock Up model rudal yang kelihatan sangar bertuliskan Avibras Matador. 

Tampak sebuah Mock Up model rudal yang kelihatan sangar bertuliskan Avibras Matador, iantara etalase alutsista Armed yang ditampilkan pada Senin (4/12/2017).
 
Diantara etalase alutsista Armed yang ditampilkan pada Senin (4/12/2017), ada satu yang menarik perhatian, yakni terlihat sosok rudal jelajah AV-TM 300 dengan warna putih. Disebut menarik perhatian lantaran ukurannya yang terbilang paling bongsor diantara deretan amunisi ASTROS (Artillery Saturation Rocket System) MK6. 

Lain dari sosoknya yang paling besar, (AVibras-Tactical Missile) 300 meski dalam wujud dummy jelas membetot perhatian, apalagi tertera bendera Merah Putih di moncong rudal jelajah yang diberi label “Matador” ini. Sontak menjadi pertanyaan, apakah nantinya AV-TM 300 juga akan diakuisisi oleh TNI AD, jika benar tentu akan merubah doktrin peperangan Armed, lantaran AV-TM 300 digadang mampu menjangkau sasaran di balik cakrawala sejauh 300 km.
Harapan itu rupanya bukan pepesan kosong, Brigjen TNI Dwi Jati Utomo selaku Danpussenarmed menyebutkan bahwa di masa depan alutsista Armed akan dilengkapi dengan radar anti artileri, pesawat tanpa awak (UAV/Unmanned Aerial Vehicle), GPS, alat pengukur jarak otomatis (LRF/Laser Range Finder) dan sistem penemu sasaran untuk mempercepat pencarian koordinat kedudukan sasaran (INS/Inertial Navigation System).
Diharapkan dengan kemunculan teknologi di alutsista Armed dapat mewujudkan precision attack (serangan presisi), joint attack (serangan gabungan) and the missile’s role in suppressing enemy strike capabilities (peran rudal dalam menekan kemampuan serangan musuh). Dari kutipan Danpussenarmed di situs jabar.tribunnews.com menyiratkan bahwa kelak AV-TM 300 akan digunakan oleh baterai ASTROS TNI AD.
Sejauh ini TNI AD telah memiliki empat jenis roket untuk ASTROS II MK6, yakni roket SS-30, SS-40, SS-60, dan SS-80. 
Inilah salah satu rudal idaman yang diincar oleh Korps Armed TNI AD. Rudal AV-TM (Avibras-Tactical Missile) 300 Matador, rudal jelajah taktis buatan Brasil yang dapat diluncurkan dari platform peluncur roket MLRS ASTROS yang dibeli dari Brasil.
Rudal ini adalah versi hemat dari rudal sekelas Tomahawk yang harganya mencapai 500ribu Dollar Amerika. Sedangkan Avibras Matador hanya dibandrol antara 8.000-10.000 dollar amerika saja. Perbedaan paling mencolok adala soal jangkauan, jika Tomahawk bisa menjangkau sasaran sejauh 1.500KM, Avibras Matador hanya 300KM saja. Namun dengan harga yang kurang dari 10%-nya, itu sudah cukup untuk menggentarkan lawan bukan?
Avibras, Perusahaan senjata Brasil, mulai mendesain rudal jelajah Matador AV/TM-300 sejak tahun 1999 dan mulai tampil di depan publik pada 2001.
Serangkaian modifikasi terus dilakukan, termasuk perubahan desain yang kini menggunakan sayap model tarik (retractable wings) dan penggunaan material dari bahan komposit. Rudal jelajah ini menggunakan roket dengan bahan bakar padat untuk melayani penerbangan dengan kecepatan subsonic. Varian dasar mesin rudal menggunakan turbojet TJ1000 yang dikembangkan Avibras berdasarkan lisensi dari Polaris.
Resminya AV-TM 300 dirancang Avibras untuk sistem ASTROS 2020. Rudal ini dilengapi central computer yang dikombinasikan dengan ring laser gyroscope yang terkoneksi dengan active GPS navigation, hasilnya rudal ini dapat secara terus-menerus melakukan koreksi pada informasi kedudukan sasaran.
Rudal ini dipandu dengan sistem navigasi GPS yang dikoreksi laser untuk mencapai sasaran. Avibras mengklaim bahwa rudal ini memiliki margin ketepatan 30 meter, atau maksimal meleset 30 meter dari koordinat awal yang telah ditentukan.
Berat hulu ledak yang dibawa 200KG dengan tipe HE (High Explosive) seberat 200kg. Mekanisme peluncuran juga tidak ribet, satu kendaraan truk AV-LMU ASTROS bisa menggotong dua AV/MT-300 tanpa persiapan yang ribet. Rudal AV/TM-300 dapat digunakan untuk menghantam perkubuan lawan yang memiliki perkuatan, atau menghancurkan infrastruktur seperti jalan, landas pacu bandara, atau jembatan untuk menghambat akses lawan.

AV/TM-300 yang dikembangkan oleh Avibras
Avibras sendiri terakhir mengembangkan AV/TM-300 dengan mesin motor roket baru yang disertifikasi pada tahun 2016 dan seharusnya tahun ini memasuki jajaran dinas aktif. Motor roket turbojet yang terpasang pada AV/TM-300 mampu melesatkan rudal ini sampai kecepatan Mach 0,85.
Masalahnya, sampai sekarang rudal ini belum siap diproduksi. Militer Brazil yang meneken kontrak pembelian sejak 2012 dengan nilai 100 juta dollar AS juga belum menerima rudal ini, meskipun sempat dijadwalkan akan terima pada Juni 2016.

Selasa, 09 Januari 2018

Penyerahan 1 Pesawat MPA dan 5 Buah Helikopter Dari PT DI ke Pihak TNI

 Penyerahan 1 Pesawat MPA dan 5 Buah Helikopter Dari PT DI ke Pihak TNI

Tentara Nasional Indonesia menerima enam unit pesawat baru dari PT Dirgantara Indonesia (PTDI) yang diserahkan oleh Direktur Utama PTDI Elfien Goentoro 

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menyerahkan sebanyak enam unit pesanan Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Penyerahan enam pesawat tersebut dilakukan di Selasa (9/1/2018) di Hanggar Fixed Wing PTDI Jl  Pajajaran, Kota Bandung.
Enam pesawat yang diserahterimakan tersebut selanjutnya akan digunakan oleh TNI AD dan AL.  Enam pesawat yang diserahterimakan tersebut yaitu tiga unit Heli Serang TNI AD, satu unit Pesawat Udara CN 235 MPA TNI AL, dan dua unit Heli AKS TNI AL.
Penyerahan pesawat tersebut dilakukan Dirut PT DI, Elfien Goentoro kepada KepalanBadan  Sarana Pertahanan (Kabaranahan), Kemenhan, Laksamana Muda TNI Agus Setiaji.

 Penyerahan pesawat dari PT DI ke TNI (Foto: Ist)

Penyerahan pesawat produksi anak bangsa tersebut juga disaksikan Menhan, Ryamizard Ryacudu, Panglima TNI, Marsekal TNI hadi Tjahjanto, KSAD Jenderal TNI Moelyono, KSAL Laksamana Ade TNI Ade Supandi, dan jajaran Komisaris dan Direksi PTDI.
Setelah diserahterimakan, pesawat tersebut kemudian secara dimbolis diterima jajaran TNI AD dan TNI AL. Untuk TNI AD pesawat yang diserahkan sebanyak tiga unit yaitu Helikopter Serang  ASS555AP Fennec, sedangkan TNI AL sebanyak dua unit  Helikopter  AS565 MBe Panther Anti Kapal Selam dan satu unit Pesawat CN235-220 Maritime Patrol Aircraf.

 Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu (tengah) bersama Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto (kanan) dan Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Elfien Goentoro (kiri) melakukan prosesi penyiraman helikopter ASS555AP Fennec saat acara serah terima Alutsista di Hanggar Fixed Wing PTDI di Bandung, Jawa Barat, Selasa (9/1/2018). (ANTARA /Raisan Al Farisi)

Menurut Elfien, pesawat CN235-220 MPA dapat digunakan untuk berbagai misi. Antara lain patroli perbatasan dan Zona Ekonomi Eksklusif, pengawasan pencurian ikan dan pencemaran laut, pengawasan imigrasi dan perdagangan manusia, penyelundupan narkoba dan barang ilegal, serta pencarian dan penyelamatan korban bencana.
Pesawat ini, kata dia, memiliki beberapa keungulan yakni maximum take  off weight (MTOW/ 16.000 kg), bisa lepas landas jarak pendek dengan kondisi landasan yang belum beraspal dan berumput, mampu terbang selama 10 hingga 11 jam dengan sistem avionik full glass cickoit yang lebih modern, autopilot, memiliki winglet dibujjng sayap agar lebih stabil dan irit bahan bakar.


CN235-200 MPA untuk TNI AL.
 Foto: Dony Indra Ramadhan

Keunggulan lainnya, kata Elfien, CN235-200 ini mengakomodasi dua console, dilengkapi dengan 360 derajat search radar yang dapat mendeteksi target yang kecil sampai 200 NM (nautical mile) dan automatic indentifivation system (AIS), sistem pelacakan otomatis untuk mengidentifikasi dan menemukan kapal lain untuk memperoleh gambaran perintah operasi lawan dan mengetahui posisi objek yang mencurigakan.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto (kiri) mencoba sistem navigasi pesawat CN235 saat acara serah terima Alutsista di Hanggar Fixed Wing PTDI di Bandung, Jawa Barat, Selasa (9/1). (ANTARA FOTO/Raisan)

Sedangkan Heli AKS jenis Panther tipe AS565 MBe merupakan yang pertama di Indonesia. Sekalipun heli ini merupakan hasil kolaborasi antara PTDI dengan Airbus Helicooters, Prancis, namun untuk fase integrasi AKS mulai dari desain hingga pemasangan merupakan karya PTDI. Heli ini pun, kata dia, mampu mendeteksi keberadan kapal selam yang dilengkapi dipping sonar  L-3 Ocean System DS-100 Helicooter Long-Range Active Sonar.


 Helikmopter AKS AS565 MBe.
 Foto: Dony Indra Ramadhan


"PT DI akan melakukan pemasangan torpedo dan sonar varian terbaru yabg disesuaikan dengan kebutuhan TNI AL," ujar dia.
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dalam sambutannya mengatakan bahwa masuknya helikopter AKS, pesawat udara CN235 MPA dan helikopter serang dalam jajaran TNI sesuai dengan rencana strategi (renstra) dan Minimum Essential Force (MEF) TNI.
"Proses pengadaan dilakukan dengan prinsip-prinsip akuntabilitas dan transparans," catat  Menhan dalam keterangan tertulisnya.
Selain itu, ia mengemukakan, bertujuan mewujudkan kemandirian industri pertahanan Republik Indonesia yang mampu memperkuat keterpaduan operasional antara sistem senjata antarmatra.
Sementara itu, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto mengatakan pesawat yang diterima TNI saat ini merupakan bentuk keseriusan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dalam rangka memenuhi kebutuhan Alutsista TNI pada Renstra kedua 2014--2019.
Ada beberapa pesawat yang sudah masuk dalam pemesanan Kemenhan RI kepada PT DI, diantaranya adalah sembilan pesawat Cassa NC-212i, tujuh hingga sembilan unit helikopter Caracal, enam helikopter serang dan empat pesawat AKS, ujarnya.

Sumber: republika.co.id

Minggu, 07 Januari 2018

Kedatangan AH 64 E Apache Guardaian TNI AD

 Kedatangan AH 64 E Apache Guardaian TNI AD

 Salah satu pilot yang akan mengawaki helikopter serang AH 64 E Guardian TNI AD

Acara di Amerika Serikat daslam rangka persiapan pengiriman helikopter serang AH 64 E Guardian ke Indonesia

Helikopter AH-64 Apache milik TNI AD sudah tiba dari AS pada Selasa (19/12) kemarin dengan diangkut menggunakan pesawat Angkatan Udara AS.
"Hari ini tiba di Semarang. Infonya ada 3 Unit," kata Kapuskom Publik Kemhan, Brigjen Totok Sugiharto. Brigjen Totok menyatakan helikopter tersebut merupakan pemesanan sebelumnya sejumlah 8 unit. 

 AH 64 E Guardian saat masih di dalam pesawat
C-17 Globe Master sesaat sebelum diturunkan



Proses penurunan helikopter serang AH 64 E Guardian


Proses penurunan helikopter serang AH 64 E Guardian selanjutnya

Dari sumber lain menyebutkan bahwa "Tiga unit pertama dikirim dengan pesawat C-17 Globe Master tiba di Pangkalan Udara Utama TNI AD (Lanumad) Ahmad Yani tanggal 18 Desember 2017," ujar Wakil Komandan Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Puspenerbad) Brigjen Eko. Eko juga menuturkan, tiga heli tersebut termasuk dalam program pembelian delapan unit melalui program Foreign Military Sales (FMS) untuk menjamin kesiapan alutsista secara maksimal. Pengiriman helikopter dilaksanakan dalam dua gelombang. Pengiriman tiga unit pertama dikirim dengan pesawat C-17 Globe Master. Kemudian, lima unit berikutnya dikirim dengan kapal laut dan diperkirakan tiba di Semarang pada Maret 2018.
Menurut Totok, helikopter itu akan digunakan Penerbangan TNI AD (Penerbad). Saat ini helikopter itu juga akan ditempatkan di Penerbad Ahmad Yani, Semarang.
"Heli nanti akan ditempatkan Penerbad Semarang," tutur dia.
Selanjutnya, helikopter yang sudah tiba di Semarang akan disiapkan untuk mendukung kesiapan operasional TNI AD. 





Komandan Puspenerbad Mayjend TNI Besar Harto Karyawan meninjau helikopter serang AH 64 E Guardian di Skuadron 11/Serbu di Lanud A Yani Semarang

"Pada fase awal, helikopter akan diuji kelaikudaraannya, setelah dinyatakan lulus kemudian akan dipakai untuk pelatihan penerbang dan semua awak pesawat," ucap Eko.
Pengumuman pembelian delapan helikopter Apache dilakukan pada tahun 2012 oleh Menteri Luar Negeri AS saat itu, Hillary Clinton, setelah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa di Washington pada 20 September 2012. Kontrak pengadaan mencapai 295,8 juta dollar AS. . Wamenhan saat itu Sjafrie Sjamsuddin mengatakan nantinya heli Apache itu juga sudah bisa digunakan untuk latihan perang operasi Garuda TNI AD.

Jumat, 09 Juni 2017

Penampakan Helikopter AH 64 Apache

Penampakan Helikopter AH 64 Apache

Penampakan AH64E Apache Block III Guardian TNI AD

Mabes TNI AD memesan delapan unit helikopter serang AH64E Apache Block III Guardian ke pabrikan Boeing, Amerika Serikat (AS). Kontrak pengadaan itu disebut bernilai 1,4 miliar dolar AS, termasuk penjualan empat Kontrol radar Longbow APG-78, dan paket persenjataan termasuk 120 rudal udara ke darat Hellfire Lockheed martin AGM-114, ditambah paket pelatihan awak dan support.. Helikopter tersebut ditargetkan datang bertahap mulai tahun ini hingga 2018.

AH-64E Guardian yang nantinya akan dipakai oleh Skuadron 11 Puspenerbal TNI AD sedang menjalani uji terbang

Helikopter serang yang akan memperkuat Skuadron 11 di Semarang ini pada tahun 2017 akan datang 3 buah dan dilanjutkan tahun 2018 sebanyak 5 buah. Jadi total yang akan diterima Puspenerbad TNI AD ada sebanyak 8 buah helikopter AH-64E Guardian. Selain itu juga Puspenerbad TNI AD akan menerima satu set simulator helikopter AH-64E Guardian ini.
Helikopter AH-64E Guardian memang telah ditingkatkan kemampuannya, termasuk : improved digital connectivity, Joint Tactical Information Distribution System, mesin T700-GE-701D yang lebih powerfull with upgraded face gear transmission to accommodate more power.

AH64E Apache Block III Guardian

Baling baling komposite yang baru meningkatkan kecepatan jelajah, climb rate, dan kemampuan membawa beban. AH-64E dilengkapi new self-diagnostic abilities dan Link-16 data-links. Radar Longbow yang telah diupdate membuatnya bisa digunakan untuk naval strikes. Helikopter ini juga bisa mengusung radar AESA. Helikopter AH-64 E cocok untuk maritime operations.
Helikopter ini memiliki extended-range fuel tanks yang menyebabkan meningkatnya jarak tempuh dan endurance. AH-64E mmeiliki L-3 Communications MUM-TX datalink yang berkomunikasi melalui frekuensi C, D, L, dan Ku band, untuk transmit dan menerima data atau video dari semua UAV yang diterbangkan. 

Kabar terakhir dari helikopter AH 64 milik TNI AD adalah telah selesai menjalani instalasi Radar Longbow, salah satu fitur andalan yang dimiliki oleh helikopter serang ini. 



 AH-64 Apache yang diakusisi oleh TNI AD rupanya telah selesai menjalani instalasi Radar Longbow, salah satu fitur andalan yang dimiliki oleh helikopter serang ini.
Kepastian ini diperoleh dari foto yang dirilis oleh salah satu warganet, Ways Shiva.

Delapan unit AH-64 Apache yang di akusisi oleh TNI AD tidak seluruhnya menggunakan Radar Longbow, mengingat harga radar ini yang tidak murah. TNI AD sendiri tidak memberikan rincian berapa Radar Longbow yang akan diinstal pada helikopter serang tersebut.
Radar Longbow adalah sistem radar yang dipasang di atas baling-baling utama helikopter Apache yang terdiri dari perangkat AN/ APG-78 Fire Control Radar (Radar Kendali Tembak) dan AN/ APR-48 Radar Frequency Interferometer (Radar Identifikasi Frekuensi).
Kedua perangkat tersebut akan memberikan masukan bagi sistem M-TADS dalam memberikan informasi tentang sasaran dan pasukan lawan.
Selain itu, perangkat ini dilengkapi dengan pendeteksi infra merah dari sumber luar untuk menghindari ancaman tembakan ruadal darat ke udara dan udara ke udara.
Kemampuan deteksi radar ini dapat mencapai 10 km pada kondisi yang cerah. Radar akan mendeteksi pesawat terbang, helikopter, senjata Arhanud, rudal darat ke udara, tank, AFV, truk dan kendaraan lainnya.
Menurut jadwal, helikopter serang ini seharusnya tiba pada awal tahun. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian kapan alutsista canggih ini akan dikirim ke Indonesia.



Senin, 08 Mei 2017

 Modernisasi Pesawat Sukhoi TNI AU


Ada yang menarik di Angkasa Yudha yang digelar di Natuna awal Oktober 2016. Dalam latihan ini dilibatkan puluhan pesawat militer Indonesia termasuk pesawat tempur Sukhoi Su-27SKM/Su-30MK2. Dalam latihan ini juga, berbagai senjata andalan pesawat tempur Indonesia juga dibawa dalam latihan. Yang sangat menarik perhatian adalah rudal R-27 Alamo yang juga dibawa dalam latihan ini. Menarik karena ini merupakan penampakan perdana rudal R-27 Alamo milik Indonesia ini.
Sebelumnya memang sudah beredar desas desus bahwa militer Indonesia sudah membeli rudal R-27 Alamo dari Ukraina untuk menambah persenjataan pesawat tempur Sukhoi Indonesia. Namun rudal ini belum pernah diperlihatkan ke public atau terlihat dibawah oleh pesawat tempur Indonesia. Sebelumnya pesawat tempur Sukhoi Indonesia biasanya hanya membawa senjata berupa rudal R-73 Archer, Short-range air-to-air missile dan rudal R-77 Adder Medium-Range Active-Radar Homing Air-to-Air Missile untuk pertempuran udara.
Dalam foto foto yang di rilis beberapa media termasuk komunitas ARC, terlihat jelas adanya rudal R-27 Alamo Medium-range, air-to-air tactical missile yang dibawa dalam latihan Angkasa Yudha 2016 lalu. Seperti yang terlihat dalam foto dibawah ini, terlihat pesawat tempur Su-30MK2 tail number TS-3010 yang disampingnya berjejer senjata andalannya yaitu KH-31, KH-29, R-27 Alamo, R-77 Adder, R-73 Archer dan peluncur roket S-13.
Kehadiran rudal varian R-27 Alamo ini akan menambah jumlah tipe rudal persenjataan pesawat tempur Sukhoi Su-27 SKM/Su-30MK2 milik TNI AU ini. Apalagi kita ketahui bersama bahwa rudal R-27 Alamo ini juga merupakan salah satu rudal untuk peperangan udara jarak jauh (Beyond Visual Range) atau yang sering disebut rudal BVR. Rudal R-27 Alamo ini akan mendampingi rudal R-77 Adder untuk urusan perang BVR sebagai senjata pesawat tempur Sukhoi Indonesia. Sedangkan untuk perang udara jarak dekat (within visual range) masih akan mengandalkan rudal R-73 Archer.
Namun hingga kini belum diketahui berapa banyak jumlah rudal R-27 Alamo yang dibeli untuk memperkuat alutsista TNI. Besar kemungkinan jumlahnya tidak banyak dan hanya berjumlah beberapa unit saja. Rudal canggih ini disebut-sebut dibeli Indonesia bukan dari Rusia, melainkan dari Ukraina. Tetapi tidak tertutup kemungkinan dimasa mendatang akan ditambah. Belum diketahui secara pasti varian mana yang di miliki Indonesia ini. Sebagaimana kita ketahui bahwa rudal R-27 Alamo ini memiliki beberapa varian yaitu R-27R (semi active radar homing), R-27T (infrared homing), R-27ER (varian R-27R yang ditingkatkan kemampuannya) dan R-27ET (varian R-27T yang ditingkatkan kemampuannya).
Rudal R-27 Alamo sendiri merupakan rudal untuk peperangan udara jarak jauh yang sudah lama menjadi andalan negara negara block timur seperti Rusia. Dalam beberapa peperangan, rudal ini sudah beberapa kali ditembakkan ke arah musuh. Salah satunya adalah ketika perang Ethophia dengan Eritria pada tahun 1999. Ketika itu pesawat tempur Su-27 Etophia menambak jatuh satu unit pesawat tempur Mig-29 Eritria dengan rudal R-27 Alamo.
Namun banyak pihak juga meragukan kualitas rudal R-27 Alamo ini, terutama varian lama. Salah satunya adalah sejarah operasional yang tidak terlalu menggembirakan. Sebut saja dalam perang Etophia dengan Eritria diatas. Ketika itu 4 unit pesawat Su-27 Ethophia berperang dalam jarak jauh dengan 4 unit Mig-29 Eritria. Masing masing langsung melepaskan rudal R-27 ke arah lawan. Namun kebanyak rudal tersebut meleset, dan hanya satu yang hampir mengenai target, yaitu rudal R-27 yang ditembakkan Su-27 Etophia ke Mig-29 Eritria. Sebenarnya rudal ini tidak mengenai target, namun meledak didekat target sehingga pesawat target Mig-29 Eritria rusak berat dan jatuh saat akan mendarat.
Dengan dilengkapinya pesawat Sukhoi Su 27/30 milik TNI AU dengan rudal R-27 Alamo serta rudal R-77 Adder Medium-Range Active-Radar Homing Air-to-Air Missile maka hal ini membuktikan bahwa di lingkungan TNI AU baru armada jet tempur Sukhoi Su-27/Su-30 Flanker Skadron Udara 11 yang dibekali senjata berupa rudal berkemampuan BVR (Beyond Visual Range). Seperti telah diwartakan sebelumnya, duo jet tempur asal Rusia ini telah dipersenjatai paket rudal udara ke udara jarak menengah dan jauh, seperti R-77 yang merupakan rival AIM-120 AMRAAM (Advanced Medium Range Air to Air Missile) dan rudal Vympel R-27.


Meski belum menyandang predikat battle proven untuk duel di udara, Sukhoi Su-27/Su-30 dengan sokongan radar search and tracking Fazotron N011 Zhuck-27 (kode NATO: Beetle), plus kombinasi kemampuan rudal R-77 dan R-27 mampu memberikan efek deteren bagi lawan yang ingin menjajal kekuatan udara nasional. R-77 mampu melesat dengan kecepatan Mach 4.5 dan jarak jangkau 90 km. Sementara R-27 dengan kecepatan yan relatif sama punya jarak tembak di rentang 80 km sampai 130 km. Radar Phazotron N-001 Zhuk salah satu tugasnya berperan untuk melakukan searching and designating aerial targets untuk rudal udara jarak pendek dan menengah.
Bila ingin radar silent dan mengantisipasi kemungkinan radar di jamming, pilot bisa memakai jasa OEPS-27, yakni penjejak berbasis elektro optik. Teknologi OEPS-27 dirancang untuk mencari dan melacak target berikut emisi infra merah, atau berdasarkan panas yang dihasilkan target. Hebatnya lagi OEPS-27 dalam membidik target dilengkapi dengan sistem pengukur jarak dengan basis built in laser.
Bagi yang belum tahu, OEPS-27 mudah dikenali pada jet tempur Sukhoi Su-27/Su-30. Letak perangkat ini berada di bagian hidung, namun agak mendekat kokpit, dan bentuknya cukup unik dengan desain bola kaca. Perangkat ini terdiri dari dua bagian. Pertama disebut sebagai pengukur jarak bersistem laser (laser range finder) dengan kemampuan pengenalan target hingga delapan kilometer. Kemudian masih dalam bola kaca juga ada IRST (infra red search and track system), dimana sistem ini dapat menjangkau jarak hingga 50 kilometer. Soal cakupan (coverage), untuk sudut azimuth mulai dari -60 sampai +60 derajat, sementara sudut ketinggian mulai dari -60 sampai 15 derajat.
Sebelum prosesi menghancurkan sasaran di udara, sudah barang tentu pilot Sukhoi Su-27/Su-30 wajib mengetahui status sasaran, harus dipastikan itu adalah lawan dan bukan pesawat kawan. Bila mengandalkan darto (radar moto – bahasa Jawa mata) dari sang pilot, identitas sasaran bisa langsung diketahui, tapi lain halnya bila sasaran berada dalam status beyond visual range. Radar Fazotron N011 Zhuck-27 yang ada di hidung Sukhoi memang bisa mencium dan melacak target sekecil 3 meter persegi yang berada 100 km di depan pesawat, 40 km di belakang pesawat dan mampu mengunci 10 sasaran sekaligus. Namun untuk mengenali identitas sasaran, perangkat IFF (Identification Friend or Foe) yang justru berperan penting.
Di Sukhoi Su-27/Su-30 TNI AU sudah ada bekal IFF, tapi sebagai alutsista besutan Rusia, IFF di Sukhoi tidak bisa mengidentifikasi pesawat tempur buatan AS dan Eropa Barat sebagai kawan. Tentu ini cukup berbahaya saat eksekusi tembakan rudal jarak jauh, bila salah informasi bisa-bisa yang kena hantam rudal adalah pesawat tempur kawan (friendy fire), seperti diketahui TNI AU juga mengoperasikan jet tempur andalan seperti F-16 Fighting Falcon, Hawk 109/209 dan T-50i Golden Eagle.
Nah, agar penerbang Sukhoi dapat memperoleh informasi tentang identitas sasaran yang dicurigai, maka fungsi identifikasi IFF diserahkan pada satuan radar (Satrad) yang dilengkapi kemampuan ground control intercept (GCI). Artinya identitas sasaran akan dikomunikasikan lewat radio dari operator radar GCI ke pilot Sukhoi yang sedang mengudara. Untuk saat ini, praktis ada 20 radar GCI Kohanudnas (Komando Pertahanan Udara Nasional) yang akan mendukung peran identifikasi pada Sukhoi, kedepan akan diambah 12 unit radar militer, sehingga keseluruhan akan berjumlah 32 radar hanud. Selain mengandalkan dukungan identifikasi dari ground radar, bila kelak TNI AU mengoperasikan pesawat intai AEW&C (Active Early Warning and Control) maka jangkauan identifikasi jet tempur Sukhoi bakal bertambah luas dan dinamis.
Selain dengan melengkapi dengan persenjataan berupa rudal jarak pendek dan rudal jarak menengah, untuk menambah kedigdayaan pesawat Sukhoi Su 27/30 yang kita miliki maka pada tahun 2017 ini kembali tiga pesawat tempur Su-27SKM dan satu Su-30MK2 Indonesia juga menjalani peremajaan dan upgrade serupa yang kali ini ke negara Belarusia.
Su-27SKM atau berarti Su-27 – Seriyniy Kommercheskiy Modernizirovanniy (Varian Ekspor Modern), dan upgrade yang dijalani, menjadikan Su-27SKM berkemampuan menjadi standar Su-27SKM2.
Su-27SKM2 atau NATO memberinya kode Flanker B Modern 2 sebenarnya sudah memiliki kemampuan yang mumpuni sebagai air superiority dan air-to-ground.
Selain sudah dilengkapi sistem air refuelling, glass cockpit dengan tiga layar besar HUD (Multifunction Liquid-crystal Displays) , sistem navigasi yang terintegrasi dengan satelit GLONASS dan NAVSTAR, dan penggunaan radar warning system untuk kemampuan memburu pesawat peringatan dini musuh (Airborne Early Warning). Su-27SKM juga mendapatkan tambahan hardpoint dibawah sayap yang mampu membawa beban senjata seberat 8000 kg dan perangkat ECM (Electronic Countermeasures ).
Namun yang mengagetkan, ternyata upgrade varian Su-27SKM2 menjadikannya mendekati standar kemampuan Su-35! Ternyata salah satu perangkat canggih yang dicangkokkan ke sistem avionic Su-27SKM2 adalah radar Irbis-E, radar yang sama dengan yang dimiliki Su-35.
Radar NIIP Irbis-E memlki jangkauan sejauh 350 km pada target udara yang memiliki RCS sebesar 3 m2, dan target permukaan dengan janggkauan sejauh 200 km. Irbis-E adalah salah satu radar terkuat di dunia, dan menjadi jantung utama kelebihan dari Su-35. Su-27SKM2 juga kemungkinan akan menggunakan mesin AL-31F, atau mesin generasi pertama yang digunakan pesawat tempur Su-35.
Dengan upgrade menjadi Su-27SKM2, kini menjadikan Su-27 Flanker B Modern milik Angkatan Udara Indonesia menjadi setara dengan pesawat tempur generasi 4++ seperti Su-27SM2 dan Su-35 Rusia.