Kamis, 14 Juli 2011

KISAH-KISAH KAPAL SELAM TNI AL : 50 TAHUN HIU KENCANA

KISAH-KISAH KAPAL SELAM TNI AL :  
50 TAHUN HIU KENCANA

Semua kisah ini merupakan kisah asli yang dituturkan para saksi sebagaimana ditulis dalam buku 50 tahun Pengabdian Hiu Kencana 1959-2009.
Mungkin banyak diantara kita sebagai bangsa Indonesia yang tidak banyak mengetahui bahwa Angkatan Laut Indonesia mempunyai Kapal Selam, wajar karena sangat minim diberitakan.
‘Tabah Sampai Akhir’ atau “ Wira Ananta Rudhiro “ adalah moto kapal selam (KS) kita, moto yang dikenal sejak ALRI mengoperasikannya tahun 1959. Pengoperasian KS ini adalah keputusan politik yang jitu, sebagai negara maritim KS adalah sesuatu yang mutlak diperlukan.
Menurut Abdul Haris Nasution dalam bukunya Sedjarah Perdjuangan Nasional di Bidang Bersendjata menyebut pembelian kapal-kapal selam tersebut berdasarkan persetujuan Indonesia-Uni Soviet pada 1958. Pembeliannya pun melalui kredit jangka panjang tanpa syarat politik dan ideologi.
Untuk itu sejak Agustus 1958 Indonesia mengirim 110 personelnya ke Eropa Timur, Komandan RI Pati Unus Mayor Raden Panji Poernomo dan Koesno menjadi perwira tertinggi di antara mereka. "Tapi saya tak tahu akan dikirim ke mana," kata ayah dua anak itu. Menjelang keberangkatan, mereka baru tahu lokasi pendidikan berada di Polandia. "Kami diminta tutup mulut rapat-rapat."  Instruksi merahasiakan tempat pendidikan juga sangat dijaga Mayor Poernomo. Bahkan kepada istrinya, Aminarti, Poernomo tak menceritakan detailnya. "Bapak hanya bilang, ia akan pergi dalam rangka tugas negara mengikuti pendidikan dan latihan untuk beberapa lama," ujar Aminarti kepada detikX di rumahnya, daerah Rawamangun, Jakarta Timur, beberapa hari lalu. "Bapak juga minta tak usah omong-omong kalau pergi pendidikan."
Pada 5 Agustus 1958, 112 orang calon kru kapal selam diberangkatkan dari Dermaga Ujung, Surabaya, dengan menumpang kapal berbendera Denmark, MV Heinrich Jessen. Rupanya, kata Handogo, rombongan dari Indonesia tak hanya calon kru kapal selam. Bersama mereka diberangkatkan juga ratusan calon awak kapal perusak yang baru dibeli dari Uni Soviet.
Kapal yang disewa khusus itu ternyata tak langsung menuju Polandia. Perjalanan mereka dengan MV Heinrich Jessen berakhir di Pelabuhan Rijeka, Yugoslavia. "Kami lalu diangkut naik kereta api," ujar mantan Panglima Daerah Angkatan Laut IV itu. Kereta api yang mereka naiki mengambil jalur negara Eropa Timur melalui Hungaria dan Cekoslovakia sampai di Stasiun Gdynia di Teluk Gdansk, Polandia. "Sepanjang perjalanan, kami dilarang membuka tirai jendela."
Letnan Muda Laut Julius Tiranda di Polandia.

Para calon kru kapal selam ini ditempatkan di asrama di Desa Oxyvia. Di sana sudah menunggu instruktur dari Angkatan Laut Uni Soviet. Dalam kondisi normal, pendidikan tersebut bisa berlangsung sampai 2 tahun. Namun rupanya ada permintaan khusus dari Jakarta untuk mempersingkat. "Presiden Sukarno menunggu kekuatan kapal selam agar segera bisa bergabung," ujar Handogo.
Latihan spartan pun harus dilalui Handogo dan rekan-rekannya. Kelas-kelas teori digeber hingga larut malam. Kendala bahasa disiasati dengan merekrut penerjemah ke dalam bahasa Inggris. "Bagi perwira, tidak jadi masalah. Nah, bagi anak buah kami, harus ada yang jelaskan lagi dalam bahasa Indonesia," katanya.
Selama 9 bulan mereka dilatih oleh personel Rusia agar menjadi awak kapal selam yang andal di Gdanks, sedang praktik berlayar dilakukan di Laut Baltik.

 Kru kapal selam Uni Sovyet dan Indonesia di Laut Baltik
(Buku Sahabat Lama, era Baru, 60 Tahun Pasang Surut Hubungan Indonesia- Rusia)

Ujian akhir digelar setelah 9 bulan latihan. Tim pengujinya perwira-perwira senior Angkatan Laut Uni Soviet, yang diketuai seorang laksamana. Menurut putra Poernomo, Raditya Poernomo, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Madya R. Soebijakto menyaksikan langsung ujian tersebut. Sejumlah penugasan diberikan, seperti menyeimbangkan kapal dan demonstrasi membawa kapal ke permukaan air. "Tugas terakhirnya crash dive atau menyelam cepat," ujar Raditya, mengutip kisah yang pernah dituturkan almarhum ayahnya.
Dalam posisi kapal selam mengapung, Poernomo, yang ditunjuk menjadi komandan, meneriakkan "menyelam cepat" sambil menutup pintu masuk dan melompat ke bawah. Saat itu pula para penguji menekan stopwatch. Para awak segera mengerjakan tugas masing-masing, sampai kapal mencapai kedalaman periskop atau 14 meter. Saat posisi kapal sudah horizontal, para penguji kembali menekan stopwatch.
Raditya menuturkan, laksamana dari kesatuan Tentara Merah itu berteriak "horosho", yang artinya baik, sambil menjabat tangan Poernomo dan Laksdya Soebijakto. Batas waktu crash dive yang diizinkan 45 detik, sementara kru Indonesia berhasil menorehkan waktu 42 detik. "Saat itu Pak Soebijakto bilang ke Bapak, ‘Saya iri kepada Anda.’ Mayor Poernomo, jadilah komandan kapal selam yang baik," ujar Raditya menirukan.

 
 RPP diatas Kapal Selam di laut Baltik. Foto : Dispen ALRI

 Anggota ALRI sedang berlatih mengoperasionalkan kapal selam kelas Whiskey

Seusai pendidikan, semua kru kapal selam pulang ke Indonesia, kecuali Mayor Poernomo dan Mayor Koesno, yang ditunjuk sebagai komandan dua kapal selam yang dibeli dari Uni Soviet. Selesai pendidikan mereka diangkut dengan kereta api Trans Siberia selama 9 hari menuju Vladivostok.
Mayor Poernomo dan Mayor Koesno, yang ditunjuk sebagai komandan dua kapal selam yang dibeli dari Uni Soviet didampingi dua kepala kamar mesin, Poernomo dan Koesno terbang ke Moskow. Dari Moskow, mereka melanjutkan perjalanan kembali ke Pangkalan Vladivostok, markas Armada Pasifik Uni Soviet. Di sinilah dua KS kelas Whiskey menunggu untuk dilayarkan ke Indonesia lewat Samudera Pasifik. Sampai di pangkalan, mereka langsung masuk ke kapal selam masing-masing untuk berangkat ke Indonesia dibantu sejumlah pelaut Uni Soviet. Dalam pengiriman ke Indonesia, kedua kapal selam tetap berbendera Rusia, sebagian besar ABK adalah orang Indonesia.
Dua kapal selam kelas Whiskey pertama yang dimiliki Indonesia itu tiba di Indonesia pada tanggal 7 September 1959 sore, dua KS Panjang 76 meter bersenjata 12 torpedo merapat di dermaga Surabaya. Setelah berlatih lagi selama satu minggu di bawah instruktur Rusia, kedua KS resmi masuk jajaran kekuatan ALRI. Dan pada tanggal 12 September 1959 dilakukan serah-terima kepada pemerintah Indonesia yang diwakili Kolonel Laut Raden Eddy Martadinata selaku Kepala Staf Angkatan Laut dan kedua kapal selam tersebut diberi nama RI Tjakra/S-01 dan RI Nanggala/S-02. Mayor Poernomo ditunjuk menjadi Komandan Divisi Kapal Selam merangkap Komandan RI Tjakra. Sedangkan Mayor Koesno menjadi Komandan RI Nanggala. Hari bersejarah itulah yang kini setiap tahun diperingati sebagai hari lahir Korps Hiu Kencana.

KSAL Kolonel Laut R.E. Martadinata mewakili Pemerintah Indonesia saat upacara penyerahan dua kapal selam pertama kelas Whiskey dari Uni Soviet kepada Indonesia, 12 September 1959. (REM)

 Upacara penyerahan dua kapal selam ALRI, yakni RI Tjakra dan RI Nanggala, dari pemerintah Uni Soviet kepada pemerintah Indonesia, 12 September 1959, di Surabaya.
Foto: dok. Dispen ALRI

Komandan RI Tjakra dan Komandan RI Nanggala dalam upacara penyerahan dua kapal selam kepada KSAL R.E. Martadinata di Komando Armada Surabaya, 1959.
Foto: dok. Dispen ALRI

Sejak saat itu Indonesia mempunyai KS yang berarti genaplah kemampuan angkatan laut, yaitu mampu beroperasi di atas air, di bawah air, di darat, dan di udara sesuai dengan konsepsi angkatan laut masa depan.

 Komandan RI Tjakra – 40, Mayor Laut R.P.Poernomo sedang patroli dan observasi di periskop RI Tjakra 401 dalam rangka memperingati hari Angkatan Perang RI, Oktober 1959 di Teluk Jakarta. (Detik)


 RI Nanggala (S 02) pada tahun 1959

Pada Desember 1960, Jenderal Nasution, yang menjabat Menteri Keamanan Nasional/KSAD, menuju Moskow untuk melakukan pembelian peralatan militer, termasuk penambahan kapal selam, kapal perusak, tank, dan persenjataan lainnya. 
Bukan hanya dua KS yang dipesan Indonesia. Sebanyak 10 KS baru dari kelas yang sama juga didatangkan dari Rusia.
Untuk gelombang berikutnya, para ABK berlatih di Vladivostok, tempat di mana terdapat pangkalan kapal selam terbesar milik Rusia di Pasifik. Gelombang kedua sebanyak 4 KS datang pada Desember 1961 dan diberi nama RI Nagabanda, RI Trisula, RI Nagarangsang, dan RI Tjandrasa.
Sejalan dengan kampanye Trikora, satu tahun setelah itu tepatnya pada Desember 1962 datang lagi enam KS batu yang dipersenjatai torpedo jenis SEAT-50. Torpedo fire and forget ini merupakan torpedo terbaik pada zamannya dan hanya Rusia serta Indonesia yang memiliki torpedo jenis ini. Keenam KS tersebut diberi nama RI Widjajadanu, RI Hendradjala, RI Bramasta, RI Pasopati, RI Tjundamani, dan RI Alugoro. Semua nama itu mengambil nama senjata dari dunia pewayangan.

Tampak dalam gambar, upacara penyambutan di atas Kapal Selam, Komodor Laut, Manambai menyematkan Tanda Kehormatan HIU KENCANA ke dada Bung Karno, yg jg disaksikan oleh Mayjen TNI. Soeharto.

Manambai saat disambut oleh Presiden RI/Panglima Tertinggi Angkatan Perang RI, Bung Karno, dan Panglima Komando Mandala, Mayjen. TNI. Soeharto, saat Kapal Selam RI, hasil kerjasama RI-Uni Sovyet, tiba di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Tahun 1962. Manambai, saat itu berpangkat Komodor Laut (Bintang Satu) membawa Kapal Selam dari Polandia ke Indonesia, yg kemudian diberi nama KRI Nanggala 401.  


Komodor Laut Manambai di depan periskop kapal selam Whiskey class 

Manambai tercatat sebagai putra Indonesia pertama yg memperoleh sertifikasi kualifikasi Kapal Selam dan Pelatihan Persenjataan Bawah Laut. KRI Nanggala 401 adalah salah satu kekuatan armada laut RI dalam Operasi Mandala merebut kembali Irian Barat ke pangkuan NKRI. 

Kapal selam dengan torpedo kendali
Intelejen armada VII US mungkin telah mengetahui pergerakan kapal selam kita saat perjalannan pulang dari wladiwostok, US memang perlu khawtair karena kapal2 selam ini membawa hadiah dari USSR berupa torpedo SAET-50 yang merupakan homing torpedo, kelas whiskey ini memiliki6 peluncur torpedo atau petor, 4 di haluan 2 di buritan. 4 petor di depan diisi topedo konvensional biasa sedangkan 2 petor buritan diisi SAET – 50. hal ini dilakukan jika sasaran telah di salvo oleh torpedo konvensional biasa maka kapal akan cikar penuh sambil “menyengatkan “ SAET-50 nya, dengan demikian fire and forget dapat dilakukan.
Saya adalah perwira ALRI yang mengetahui adanya hadiah SAET-50 di perut kapal induk kapal selam kita yang baru datang dari USSR ,RI Thamrin , berderet-deret tersusun rapi di rak2, Saat komandan kontingen USSR mengajak berkeliling di RI Thamrin, dia menjelaskan denagn senyum sambil menunjukkan SAET-50 itu saya sedikit kagum bercampur bingung, baru pertama kalinya saya melihatnya , tampak lebih langsing dari torpedo konvensional.
“itu adalah torpedo kendali listrik berjenis SAET-50,dan ini pertama untuk kalian ”! katanya
“ sayang tidak jadi kita kirimkan kepada avionezt !
Avioneszt adalah sebutan mereka pada kapal induk Belanda , Karel Doorman. samar2 saya lihat pada pelumas yang melumuri torpedo itu ada goresan tangan usil dalam tulisan rusia yang menuliskan avionest pada torpedo itu.
Saya segera melaporkan itu pada komandan saya dan diteruskan pada panglima langsung.

 
KRI Ratulangi, merupakan kapal tender kapal selam, yang bertugas memasok segala kebutuhan kapal selam dan awaknya saat beroperasi (1962)

 
RI Tjakra S-01
RI Nanggala S-02
 RI Nanggala S 02 dalam suatu pelayaran
Loading torpedo SAET-50 RI Nanggala S 02 pada tahun 1960

DIKIRA KAPAL SELAM NEGARA ATJEH
Ngok...ngok...ngok bunyi alarm menggema di seluruh ruangan KS Nanggala S-02 (402). "Alarm tempur...alarm tempur...alarm tempur", terdengar perintah dari komando sentral. ABK segera berlari dengan sigap menuju pos tempur masing-masing.
Komandan yang sedari tadi berada diperiskop melihat sekeliling permukaan lalu berkata "Kita sekarang menuju ke Pelabuhan...".
"Radar berapa jarak dengan pantai?", juru radar menjawab "Jarak terdekat 25 kabel". Lalu komandan berkata "Motor kiri dan kanan maju pelan". Sedetik kemudian Juru Sonar berkata "Keadaan sekeliling kapal dan cakrawala aman". Dan perwira Navigasi melaporkan "Dalam air 20 m di bawah lunas".
Dan KRI Nanggala berlayar dengan megahnya di bawah air siap menghadapi segala kemungkinan.
"Jarak pantai 12 kabel, cakrawala dan udara aman" lapor Juru Radar. " SIAP UNTUK TIMBUL !" tiba-tiba terdengar perintah . "Hembus grup tengah", maka terbukalah katup Main Ballast tank grup tengah dengan mengeluarkan suara yang memekakkan telinga.
Setelah timbul, Perwira I dengan tangkas membuka pintu kedap atas di Conning Tower dan segera masuklah udara segar memenuhi seluruh ruangan kapal. KRI Nanggala menuju ketempat berlabuh dan membuang sauh sejauh 400m dari pantai. Melihat ada KS yang timbul tiba-tiba dari tengah laut membuat penduduk yang tadinya ramai di tepi pantai berhamburan lari dan pantai kosong melompong.
Melihat hal tersebut komandan KS memerintahkan menurunkan perahu karet dan mengirim beberapa anggota ke pantai tanpa senjata. Sementara di KS meriam dan senjata lain disiapkan untuk menghadapi segala kemungkinan.
Setelah tim mendarat di pantai, dan melihat para ABK tidak membawa senjata maka penduduk satu persatu mulai memberanikan diri mendekat....dan ALANGKAH BAHAGIANYA MEREKA MENGETAHUI BAHWA YANG DATANG ADALAH PUTRA-PUTRA INDONESIA ANGGOTA ALRI. Bukan seperti sangkaan mereka semula: musuh yang akan melakukan agresi.
Kecemasan Komandan KS sirna melihat sambutan penduduk dan para pemukanya menyambut dengan buah-buahan dan makanan. Dari para tetua di daerah itu mendapat cerita bahwa seorang tokoh proklamator negara Atjeh telah pergi ke luar negri dan berjanji akan pulang dengan membawa kapal selam dan senjata.
Komandan KS memperkenankan masyarakat melihat dari dekat KRI Nanggala keesokan harinya.
Dalam perpisahannya masyarakat berkata "kapan lagi bapak akan datang?, kalau pergi jangan lama-lama", komandan KS menjawab sambil tersenyum "Saudara-saudara jangan takut dan gentar terhadap musuh, kami selalu berada di perairan ini menjaga saudara-saudara. Mungkin saudara-saudara tidak melihat kami tapi kami bisa mengawasi saudara-saudara semua".
Sepuluh menit kemudian KS KRI NANGGALA menghilang dibawah laut..akibat aktivitas KS ALRI diperairan Sumatra maka aktivitas para penyeludup senjata untuk PRRI dan pemberontak Daud Beureuh terhenti.
Catatan Mayor(P) LM Abdul Kadir NRP 480/P dalam Jurnal KS RI NANGGALA 1960

 Kunjungan perwira Operasi mandala ke kapal selam
Jendral AH Nasution meninjau kesiapan kapal selam buatan Rusia RI Nanggala S-02 yang akan diterjunkan dalam Operasi Trikora merebut Irian Barat (1962)

Langsung bertugas
Kedatangan 12 KS ini langsung diterjunkan dalam recana operasi Jayawijaya, bagian dari gema Trikora. Dalam operasi yang dramatik tiga KS melakukan infiltrasi di pantai utara Irian Barat, tetapi ketahuan kekuatan laut Belanda. Hanya RI Tjandrasa yang dinakhodai Mayor Laut Mas Mardiono berhasil mendaratkan 15 anggota RPKAD di Tanah Merah, 30 kilometer utara pelabuhan udara Sentani pada 21 Agustus 1962.
Atas keberhasilan ini semua ABK RI Tjandrasa mendapat Bintang Sakti berdasarkan Keppres No.14/1963. Baru kali ini Indonesia menganugerahkan Bintang Sakti bagi seluruh anggota, biasanya bintang tertinggi ini dianugerahkan kepada perorangan atas jasa luar biasa di luar tuntutan tugas.

KRI Nanggala (1962)
foto: The Netherlands Institute of Military History
 Kapal Selam RI menuju Operasi Trikora Pembebasan Irian Barat 1962

Awal tahun 1962 kapal selam RI Nagabanda dan beberapa kapal selam lainnya diberangkatkan dari Surabaya menuju titik rendezvous di teluk Halmahera. Komandan Satuan Kapal Selam Letkol R.P. Poernomo menyebutkan dalam briefing, tujuan operasi adalah Tanah Merah,Hollandia(Jayapura).
Berangkat dari Halmahera,kapal menyusuri laut jauh di bagian utara Irian. Setelah berada di Tanjung Tanah Merah mereka berlayar malam hari saja sambil mengisi baterai.Pukul lima pagi mereka menyelam lagi sampai matahari terbenam.
Pada malam keempat,di sekitar Biak,pengisian baterai kembali dilakukan namun ada sedikit masalah teknis sehingga terlambat.Pukul 00.15 tiba-tiba datang perintah segera menyelam cepat sampai kedalaman 15 m. Sambil terengah-engah Mayor Tjipto Wignjoprajitno,Komandan RI Nagabanda,berteriak, "GODVERT!(kurang ajar), mereka terbang diatas kita. Kalau mereka menjatuhkan bomnya, Habislah kita!" Rupanya malam itu sebuah pesawat Neptune Belanda mendekati RI Nagabanda dari arah belakang dan baru diketahui awak kapal saat pesawat ada diatas mereka.
RI Nagabanda terus meyelam sampai kedalaman 50m. Saat itulah terdengar bunyi ping....ping....ping.... Rupanya Belanda telah menjatuhkan sonar Sonobouy. RI Nagabanda kembali menyelam hingga 70m.tak berapa lama bom laut dijatuhkan oleh Belanda. Bum...bum.... terdengar ledakan. Selama tiga jam awak RI Nagabanda bertahan di bawah sambil terus menyelam zig-zag.
Bom laut terus dimuntahkan. RI Nagabanda menjadi kritis. Keadaan lebih parah setelah terjadi kerusakan pada kemudi horizontal.kapal tidak dapat diarahkan dan cenderung terus menyelam.
Komandan akhirnya mengambil keputusan untuk mematikan mesin listrik penggerak kapal agar kapal tidak meyelam terlalu dalam. Setelah itu mereka mencari "landasan cair". "Landasan Cair" adalah lapisan air laut dengan berat jenis lebih tinggi dari lapisan disekelilingnya. Disanalah mereka berdiam diri sambil mematikan seluruh peralatan yang menimbulkan bunyi,bahkan gerak-gerik awak pun diatur.
Mereka bertahan dalam udara pengap,panas dan kurang oksigen selama 36 jam sebelum akhirnya yakin kawanan Belanda sudah menjauh. Pukul 24.00 mereka naik ke permukaan laut dengan cara memompa air laut keluar. Dari situ mereka berlayar menuju Halmahera. Di Halmahera baru diketahui, kerusakan pada kemudi horizontal diakibatkan daun kemudi kanan dan kiri lepas akibat ledakan bom laut. RI Nagabanda kemudian melanjutkan perjalanan ke Surabaya untuk melaksanakan perbaikan.

 KRI 404

 KRI 406 Alugoro sedang menembakkan rudal SS-N-3c Shaddock

Merujuk ke sejarah, KRI Alugoro 406 menjadi bagian terakhir dari paket pengiriman Whiskey Class dari Uni Soviet. Dalam gelombang akhir tersebut, KRI Alugoro 406 didatangkan bersama dengan KRI Wijayadanu 409, KRI Hendrajala 405, KRI Bramastra 412, KRI Pasopati 410, dan KRI Cundamani 411 Sementara dalam buku “Kapal Selam Indonesia” yang ditulis Indroyono Soesilo dan Budiman, diperlihatkan foto hitam putih saat KRI Alugoro 406 melepaskan rudal anti kapal ke udara. Namun berbeda dengan Harpoon dan Exocet, rudal anti kapal jenis SS-N-3c Shaddock dilepaskan dari atas deck kapal, dan hanya bisa dilakukan saat kapal selam berada di permukaan. Sayangnya dalam buku tersebut tidak dijelaskan lokasi dan waktu persis uji tembak dilakukan. Namun besar kemungkinan, rangkaian uji coba rudal terkait dengan psy war Indonesia kepada pemerintah Belanda.
Seperti apakah sosok rudal SS-N-3c Shaddock? Dengan bobot 5,4 ton bisa dipastikan dimensi rudal ini lebih menyerupai jet tempur ringan. Rudal ini sanggup menerjang sasaran sejauh 400 – 750 km dengan kecepatan Mach 0.9 (High Subsonic). Untuk urusan hulu ledak, Belanda dan Amerika Serikat layak dibuat cenat cenut, rudal yang diciptakan dalam suasana Perang Dingin ini mampu membawa hulu ledak nuklir 350 kiloton, sedangkan bila dimuati hulu ledak high explosive konvesional bisa sampai 1 ton. Dari rancangannya, rudal ini memang disasar untuk menembus lapisan pertahanan pantai di wilayah AS, mengkaramkan kapal penjelajah dan kapal induk.
Lantas yang menarik adalah sistem pemandu yang dipakai adalah terminal active radar homing yang dipadukan dengan inertial guidance via datalink. Selain dilepaskan dari kapal selam, varian rudal ini juga dirancang untuk dilepaskan dari kapal permukaan. SS-N-3c mengadopsi sayap lipat, alhasil rudal gambot ini dapat dimasukkan ke dalam silinder khusus dengan diameter yang relatif kecil, dan disematkan pada deck kapal selam. Whiskey Class dikenal sebagai salah satu platform pengusung rudal ini. Ada tua tiga tipe Whiskey Class untuk membawa SS-N-3c Shaddock, yaitu Whiskey Single Cylinder, Whiskey Twin Cylinder dan Whiskey Long Bin. Khusus untuk Long Bin ada perubahan fundamental pada conning tower, besar kemungkinan KRI Alugoro 406 mengadopsi Whiskey Single Cylinder.

409 KRI Wijajadanu

 KRI Pasopati 410

 KRI 408 dan KRI 412

KS TNI AL di suatu lokasi terpencil

 
Membelah lautan

DARI AUSTRALIA, MALAYSIA SAMPAI PAKISTAN.

BUANG SAMPAH DI AUSTRALIA
Kisah ini terjadi pada tahun 1963-1964, saat saya telah lulus sekolah komandan kapal selam dan menunggu penempatan. waktu itu masih gencar-gencarnya konfrontasi dengan malaysia, akhirnya saya diangkat menjadi komandan KRI Nagabanda, . beberapa kapal selam waktu itu ditugaskan melakukan pengintaian di laut cina selatan, sedangkan RI Nagabanda ditugaskan ke indonesia bagian timur. Semua kapal yang berlayar dibawah kendali Panglima Komando Armada Siaga, Panglimanya waktu itu Komodor R.P Poernomo.
Diwaktu itu sdah mulai ada ketegangan dengan malaysia yang akan demerdekakan inggris. Malaysia dan Singapura termasuk serumpun dalam persemakmuran inggris begitu juga dengan australia, bukan tidak mungkin apabila ter jadi konfrontasi hampir dipastikan australia akan ikut campur, oleh karena itu diputuskanlah melakukan pengintaian di perairan australia.
Kapal meninggalkan surabaya menuju kupang. Sampai di Timor kapal lego jangkar di muka pelabuhan satu hari, menambah logistik makanan segar, lalu angkat jangkar dan berlayar ke arah selatan. Berlayar pada siang hari menggunakan snorkelling sambil isi baterei, sedang malam hari berlayar diatas air. garis haluan dibuat sedemikian rupa sehingga jarak ke pantai australia tidak kurang 50 mil.
Setelah kira-kira berada di sebelah barat kota perth, udara di dalam kapal terasa dingin tidak seperti biasanya yang panas. Karena dari surabaya tidak dilengkapi dengan pakaian dingin maka saya putuskan untuk putar haluan ke utara, kembali ke kupang.
Pada saat kapal akan menuju ke kupang , ada usulan dari perwira administrasi , letnan ali kamal, : " komandan untuk menandai bahwa RI Nagabanda sudah berada di perairan barat australia , sebaiknya kita buang sampah di sini"
sya setujui usul tersebut, maka saya perintahkan untuk mengmpulkan kaleng2 bekas makanan khususnya yang made in indonesia serta sampah yang lain dan kami buang ke laut.
Dalam melaksanakan tugas ini, RI Nagabanda berhasil masuk perairan barat australia tanpa diketahui oleh kapal-kapal australia.

403 dalam 2 jam menjadi 410.
Tahun 1964 dalam rangka tugas pada masa Konfrontasi dengan Malaysia, RI Nagabanda 403 mendapat tugas untuk mengambil foto-foto pantai Trengganu untuk persiapan pendaratan pasukan di semenanjung Malaysia.
Untuk operasi ini ikut seorang agen dari BPI (badan pusat Intelejen) untuk turut menganalisa keadaan..singkat cerita KS dapat mencapai pantai Trengganu hingga jarak 2 mil dari pantai dan mulai mengambil gambar pantai Trengganu. Pada jarak itu KS sudah dapat dilihat dengan jelas oleh nelayan di sana.
Pada saat pemotretan juru sonar mendengar suara baling-baling yang kemungkinan adalah fregat Inggris, untuk itu maka KS segera bergerak meninggakan perairan Malaysia dan karena kemungkinan besar KS sudah terlihat oleh nelayan Malaysia maka KS berlayar ke kepulauan Riau dan di antara pulau-pulau itu KS RI Nagabanda 403 lego jangkar dan anak buah kapal diperintahkan menghapus no lambung 403 dan mengubahnya menjadi 410. Dalam waktu kurang dari 2 jam RI Nagabanda dengan no palsu 410 sudah berlayar kembali dan benar ada pesawat RAF jenis Skeleton terbang di atas kapal sambil memberikan lampu isyarat menanyakan identitas kapal tapi tidak dijawab malah awak kapal menyiapkan 12,7mm untuk menembak tapi dilarang oleh pusat karena belum ada deklarasi perang dengan Inggris.
Dari itu sebenarnya berita KS Nagabanda 403 sudah masuk Malaysia sudah diketahui Inggris dari laporan nelayan tapi setelah dicari malah mereka mendapati KS 410, mereka nggak bisa menindak karena yang mereka cari 403..
Akhirnya kapal tiba dengan selamat di Tanjung Uban Riau...

Tugas Rahasia ke Pakistan
Menjelang HUT Angkatan Perang RI Tanggal 5 Oktober1965, sebagian kapal besar kapal-kapal perang RI berkumpul di Tanjung Priok, termasuk beberapa kapal selam, Kapten (P) Basuki mendapat tugas sebagai komandan divisi kapal selam. Semula HUT akan dilaksanakan dengan meriah.  Namun karena ada peristiwa G 30 S, dan beberapa hari lewat berita soal pembunuhan para jenderal Angkatan Darat mengguncang tanah air. Upacara peringatan Angkatan Bersenjata pada 5 Oktober 1965 yang semula akan diselenggarakan besar-besaran dibatalkan. Kapal-kapal perang Angkatan Laut, termasuk armada kapal selam yang sudah merapat di Pangkalan Tanjung Priok Jakarta, dipulangkan kembali ke “rumahnya” di Surabaya.
Begitu kapal merapat di dermaga kapal selam Ujung, Kapten (P) Basuki bersama Kapten RM Handogo mendapat perintah segera ke Jakarta untuk menghadap Komodor L. Manambai Abdulkadir. Kapten RM Handogo bersama Kapten Basuki, dia bergegas berangkat ke Jakarta menggunakan pesawat Garuda. Sebuah fasilitas yang sangat istimewa saat itu. Sesampai di Jakarta dijemput langsung oleh Komodor L.M Abdulkadir beliau membawa sendiri toyota hardtop dan membawa mereka ke gedung Gita Bahari, Mereka berdua dipertemukan dengan dua orang yang belum mereka kenal.
Pada pertemuan di gedung Gita Bahari itu Kapten (P) Basuki dan Kapten Handogo mendapat tugas sebagai pimpinan RI Nagarangsang dan RI Bramasta untuk membawa kapal tersebut ke Karachi yang waktu itu masih ibukota Pakistan. "Kami diinstruksikan membawa kedua kapal itu menuju Karachi, Pakistan," ujar Handogo. Perintah Pak Kadir waktu itu :
-Tugas ini Rahasia
-Tarik haluan ke Karachi, hindari jalur pelayaran kapal-kapal niaga
-Anak buah tidak boleh tahu tujuan kapal selanjutnya dalam surat menyurat dari rumah menggunakan alamat konjen kasel sedangkan dari kapal harus dikumpulkan pada komandan kapal.
Komodor Abdulkadir juga mewanti-wanti dua perwira itu agar betul-betul merahasiakan penugasan tersebut. Bahkan awak kapal sekali pun tak boleh diberitahukan tempat yang akan dituju. "Semua surat dari kapal juga harus dikumpulkan oleh komandannya," kata Handogo. "Rute perjalanan pun harus menghindari jalur pelayaran kapal dagang."
Sementara Kapten (P) Basuki dan Kapten Handogo di Jakarta di Surabaya kedua kapal sudah di siap tempur dan legkap dengan personilnya, Sesampai di Surabaya ternyata saya diunjuk sebagai komandan RI Nagarangsang sedangkan RI Bramastha di komandani Kapten Pelaut Yasin Sudirjo, Kapten pelaut Handogo ternyata ditunjuk sebagai Ka Staf Gugus Tugas X.
Gugus Tugas X dibentuk sebagi gugus tugas latihan bersama dengan Angkatan Laut Pakistan di bawah pimpinan Letnan Kolonel (P) Tedy Asikin Natanegara.
Ternyata gugus tugas X yang dibentuk sebagai tugas latihan tersebut, tugas utamanya adalah untuk membantu negara Pakistan yang sedang di serang India serta meredam perang yang waktu itu sedang berlangsung.
Saat itu, Pakistan dan India baru menjalani gencatan senjata setelah terlibat pertempuran berdarah selama hampir 20 hari. Baik India maupun Pakistan habis-habisan mengerahkan prajurit dan mesin perangnya dalam pertempuran di laut, di darat, juga di udara. Ditaksir, hampir 7000 prajurit India dan Pakistan tewas dalam baku tembak. Setelah Perserikatan Bangsa-bangsa, Amerika Serikat dan Uni Soviet, turun tangan, baru kedua negara menarik mundur tentara dan mesin perangnya pada 23 September 1965.
Pelayaran Jakarta Karachi
Setelah RI Nagarangsang dan RI Bramastha siap tempur diberangkatkanlah dari Surabaya menuju Jakarta. Sebelum bertolak ke Karachi ada dua perwira angkatan laut Pakistan yang ikut, Mayor Yastur Malik untuk RI Nagarangsang sedangkan kapten M.Sultan untuk RI Bramasta (kelak Mayor Yastur Malik diangkat sebagai KSAL Pakistan dan Kapten M.Sultan menjadi KSAL Bangladesh Navy).
Operasi Gugus Tugas X dimulai pada 17 Oktober 1965. Kesatuan Angkatan Laut Republik Indonesia yang diutus selain kapal selam yakni dua kapal cepat roket, empat kapal cepat torpedo, dan lima tank amfibi yang ditempatkan di Chittagong, Pakistan Timur yang kemudian menjadi Bangladesh. "Ikut juga satu batalyon pasukan marinir," ujar Handogo yang menduduki jabatan terakhir sebagai Deputi Operasi Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana M. Romly itu. 
Tanggal 17 oktober 1965 kapal bertolak menuju Karachi. Lepas selat sunda kapal dikemudikan ke arah 270 derajat menyusur barat Sumatera. Garis haluan menerobos kepulauan Maldiv Lepas dari kepulauan Maldiv garis haluan ditarik ke pantai Persia untuk menjauhi India kurang lebih 300 mil, kemudian setelah jerak dari pantai Iran 50 mil haluan kapal ditarik menuju Karachi.
Rupanya perjalanan ke Karachi tidak semulus yang direncanakan. Laksamana Muda (Purn) Soentoro yang saat itu bertugas di RI Nagarangsang sebagai Perwira Navigasi menuturkan dalam perjalanan 19 hari perjalanan kapal yang diawakinya mengalami berbagai kerusakan.
Kerusakan paling signifikan, ujar Soentoro, terjadi pada kompresor yang digunakan untuk mengisi udara tekanan tinggi. Udara tekanan tinggi ini sangat penting untuk proses muncul ke permukaan dari posisi menyelam. "Perbaikan kompresor itu tidak berhasil, bahkan kompresor yang satu lagi ikut rusak," ujar Soentoro, dikutip dari buku 50 Tahun Pengabdian Hiu Kencana 1959-2009.
Kerusakan itu membuat RI Nagarangsang tak bisa menyelam. Padahal pelabuhan tujuan masih sangat jauh. "Kami hanya berdoa mesin diesel tidak ikut mati," tulis Soentoro. Perjalanan akhirnya tetap dilanjutkan dengan kondisi terbatas. 
“ Sekali menyelam, maju terus - tiada jalan untuk timbul sebelum menang. Tabah Sampai Akhir “Bagian pidato Presiden Soekarno di atas kapal selam RI Tjandrasa pada 6 Oktober 1966 di dermaga Tanjung Priok, Jakarta. 
"Untungnya kami bertemu dengan Angkatan Laut Pakistan walau meleset puluhan mil dari titik yang sudah ditentukan."
Pertengahan bulan November 1965 kapal merapat di Pakistan Navy Naval Base, suasana perang tidak terlalu terasa karena sedang terjadi gencatan senjata.
Sesampai di Pangkalan Angkatan Laut Pakistan, RI Nagarangsang segera mendapat perbaikan. karena mengalami beberapa kerusakan antara lain radio DK maka diputuskan kapal melakukan perbaikan besar dulu dan menunggu kiriman dari Indonesia. Kegiatan yang lain-lain sebelum latihan dengan AL Pakistan, sambil menunggu kapal selesai diperbaiki kami memanfaatkan waktu untuk melakukan kunjungan-kunjungan kehormatan, tak dapat dipungkiri sepanjang jalan banyak poster-poster presiden Soekarno yang dijual dan banyak yang menyanjung bantuan kami.
Latihan perang-perangan dengan AL Pakistan dilaksanakan beberapa kali setelah kapal roket cepat ALRI datang, kami menggunakan prosedur Royal Navy sebagaimana AL India dan AL Pakistan gunakan. Lokasi latihan di lepas patai Pakistan yang berbatasan dengan India, latihan melibatkan 2 kapal selam dan dua kapal roket cepat ALRI dari ALRI sedangkan AL Pakistan menggunakan satu kapal selam serta dua destroyer.
Saat latihan dengan AL Pakistan mereka sama sekali tidak bisa mendeteksi keberadaan kami, pengalaman yang sama dikemudian hari saya dapatkan ketika berlatih dengan AL Australia saat mengomandani RI Pasopati.
Sebagian kelasi kami bahkan berkelakar kalo kapal Rusia tahan sonar, tapi masa iya? mungin ada lapisan air laut yang dinamakan layer yang membuat pantulan sonar memantul kembali. Tapi bagaimana pun itu membuat kami bangga, di samping itu dalam tugas ini juru sonar kami mendapat pengalaman baru yaitu mengenali suara baling-baling kapal Inggris.
Situasi perang India-Pakistan mereda saat kapal perang dan prajurit ALRI berada di kawasan tersebut. Bahkan akhirnya kedua negara yang bertikai itu meneken perjanjian damai di Tashkent, Uni Soviet (sekarang Uzbekistan), pada 10 Januari 1966. "Kemungkinan besar karena pengaruh kehadiran kami bisa mencegah pertikaian lebih besar," ujar Handogo.
Operasi Gugus Tugas X resmi berakhir pada Maret 1966. Sebelum meninggalkan Karachi para perwira diundang khusus Presiden Pakistan Ayub Khan ke Istana Presiden. Sambil menjabat tangan satu persatu Ayub Khan mengucapkan penghargaannya kepada semua anggota Gugus Tugas X. "Kalau tidak ada prajurit Indonesia mungkin Pakistan sudah tidak ada," ujar Handogo menirukan ucapan Presiden Ayub Khan.

 Kebijaksanaan Presiden Soekarno untuk melaksanakan perbantuan kepada Pakistan saat konfrontasi dengan India dengan mengirimkan Gugus Tugas X. Nampak RI Nagarangsang dan RI Bramastra meninggalkan Pelabuhan Karatji.

Kapal selam milik TNI AL sedang melakukan latihan perang di sekitar tahun 1971an

Tahun 1974 GUSPURLA (Gugus tempur laut) TNI AL mendapat perintah dari Mabes ABRI untuk operasi pengamanan Selat Malaka bekerja sama dengan TLDM (Tentera Laut Diraja Malaysia), dalam Gugus Tempur tersebut terdapat KS KRI Pasopati dengan komandan Kapten (P) Soentoro dengan Komandan Guspurla Laksamana Pertama Mardiono.
Pada saat pembicaraan Rencana Operasi dengan perwira TLDM di Belawan Medan mereka sudah tidak suka ada unsur Kapal Selam yang ikut dalam operasi itu "untuk apa...!?"kata mereka. Mungkin mereka khawatir KS kita bisa dengan mudah menyelinap kedaerah mereka karena dalam rencana operasi tsb setiap armada tempur masing-masing negara berpatroli di wilayahnya masing masing setelah itu baru berkumpul disuatu titik kumpul dan berkonvoi masuk ke Penang, Malaysia pada etape I dan Sabang, Indonesia pada etape II.
Dengan penolakan secara tidak etis tsb komandan KS KRI Pasopati merasa panas, tetapi diredakan oleh Dan Guspurla demi persahabatan kedua negara, tapi diam-diam Komandan KS ingin memberi pelajaran kepada TLDM.
Pada etape I setelah selesai berpatroli maka semua kapal perang berkumpul di titik kumpul dan berkonvoi menuju Penang...dan menjelang pintu masuk pelabuhan Penang tiba-tiba KS KRI Pasopati sudah muncul dulu disana dan membuat panik rombongan konvoi yang dipimpin oleh TLDM. Hal tersebut membuat kesal Panglima TLDM Kolonel Laut Sidiq dan berkata KS tidak usah ikut campur urusan patroli dan agar keluar dari formasi dan area patroli.

 KS KRI Pasopati mendekati kapal TLDM


Pada etape II KS KRI Pasopati kelakukan free hunting (tidak mengikuti) pola patroli tetapi bebas menentukan sasaran sendiri dan setelah selesai seluruh kapal berpatroli masuk ke pelabuhan Sabang. Di sini awak KS KRI Pasopati ingin memberikan kejutan dan sekedar pamer kepada TLDM. Dengan ketelitian yang tinggi KS masuk alur pelabuhan dengan cara menyelam padahal kedalam alur pelabuhan hanya 20m, dari periskop terlihat awak Kapal TLDM jenis LST yang menjadi kapal komando tidak menyadari disekati oleh KS secara diam diam dan...setelah tinggal jarak beberapa meter dari lambung kapal mereka...Muncullah dengan tiba-tiba KRI Pasopati dan membunyikan gauk (sirine) tanda kedatangan mereka..maka gemparlah pelabuhan Sabang terutama awak kapal TLDM yang kapalnya sudah ditempel sama KS Pasopati.
Malamnya Dan Guspurla datang kepada Dan KRI Pasopati dan menyalaminya sambil tersenyum dan berkata "Jangan Sembrono lagi ya...", dijawab "Siap Laksamana"....

Bikin marah komandan fregat RAN
Tahun 1975 diadakan latihan anti kapal selam antara TNI AL dengan RAN (Royal Australian Navy) sehubungan dengan muhibah fregat RAN ke Surabaya.
Area latihan dilakukan di selat Madura sebelah utara P. Bali dengan area latihan sebesar 10 Mil persegi, sebagai sasaran adalah KRI Pasopati dan yang mengejar adalah fregat TNI AL dan RAN.
Dalam latihan kedua fregat tidak dapat mendeteksi KS kita, jadi mereka membom laut (dengan bom latihan) secara membabi buta, padahal di bawah laut awak KS kita tertawa-tawa karena mereka tepat berada dibawah lunas fregat RAN. LO dari TNI AL yang ditempatkan di fregat RAN Letkol Laut (P) Saeran melihat komandan fregat RAN marah dan complain bahwa KS kita sebenarnya tidak ada disitu tapi sudah pulang ke pangkalan karena alat deteksi kapal RAN yang sudah canggih pada jaman itu tidak bisa menemukan KS kita di area yang cukup sempit itu. Tapi kemudian dijawab dengan perintah KS agar timbul kepermukaan dan dengan sekejap KRI Pasopati sudah muncul dekat fregat RAN... Ketika balik kepangkalan dan berlayar dipermukaan masih terdengar "ping" dari sonar fregat RAN rupanya masih penasaran mereka...kenapa KRI Pasopati bisa menghindari Sonar mereka.

 Kapal selam Pasopati, salah satu kapal selam milik TNI-AL ikut muncul bersama beberapa kapal perang lainnya pada Hari Armada, Jumat 5 Desember 1975 di Surabaya.
Kompas/Purnama Kusumaningrat

Ini cerita waktu Operasi Seroja, integrasi Timtim antara 26 Feb 1976 s/d 26 Mar 1976.
Pada saat itu KS KRI Pasopati sedang menyelam di pantai utara dekat kota Baucau, tiba-tiba ada laporan dari Juru Sonar ada suara baling-baling mendekat ke KS kita, untuk itu komandan kapal memerintahkan KS naik ke kedalaman periskop dan mengintip cakrawala, ternyata cakrawala bersih tanpa ada satu kapalpun disana.
"Juru sonar, berapa baringan dan kecepatan?" tanya komandan. "Baringan 040 kecepatan 10 knots ndan" jawab juru sonar. Komandan mengecek lagi arah itu tidak terdapat kapal disitu. Komandan mengambil kesimpulan itu adalah KS asing yang mendekat. Untuk itu secara diam-diam peran tempur disiapkan di KS kita dan haluan kapal diubah menyongsong arah KS asing itu.
"Siapkan torpedo untuk ditembakkan" perintah komandan, tetapi tiba-tiba Juru sonar berkata "Baringan 000, suara menjauh, kecepatan 30 knots!"
Ternyata KS itu menjauh tidak mau berkonfrontasi dengan KS kita diperairan Timtim...dari hasil analisa kemungkinan KS itu adalah KS USN milik Armada VII karena kecepatannya cukup tinggi 30 knots dan diketahui hanya mereka yang KSnya bisa secepat itu pada masa itu...



Pernah bertemu di pasifik?
Pada tahun 1978 saya diangkat menjadi Athan RI untuk Iran yang berkedudukan di Teheran, alkisah pada suatu resepsi kemiliteran saya dan isteri hadir sebaai undangan , dan begitu pula dengan athan dari Negara lainnya, saya mengenakan dinner jacket lengkap beserta tanda jasa dan tak lupa brevet hiu kencana yang saya banggakan.
Tampak asyik berkumpul para athan dari USSR, USA, Jepang, dan belanda. Sayapun bergabung dengan mereka. rupanya mathan USA matanya jeli menangkap kilatan brevet hiu kencana yang saya pakai, tampak dia mencolek athan belanda yang aku lupa namanya sebut saja si jan(yan),
“yan, kau pernah bertemu santo di pasifik kan?”
sudah menjadi kebiasaan orang barat bila sudah merasa dekat akan menyapa dengan nama panggilannya saja tanpa embel2 apapun, spontan saya menjawab
“ya , si yan pernah mengirim roti saat itu tapi rotinya gak sampai”
Saya mengetahui itu karena saya mengetahui bahwa si yan adalah komandan kapal fregat belanda yang menjatuhkan bom laut pada kami(RI Nagabanda) tapi tidak tepat sasaran, sedangkan kami harus terus menerus menyelam selama 36 jam, bahkan salah satu kelasi kami berkelakar pada saya,
“tenang saja pak , komandan kapal diatas(fregat belanda) itu teman komandan kita saat di belanda”
Ya, memang komandan kpal kami adalah alumnus AAL nya belanda, tapi beda angkatan dengan komandan kapal fregat itu. Tidak dapat dipungkiri kehadiran kapal selam RI waktu itu terasa sebagai efek deterrence yang sanagat hebat, apalagi 6 kapal selam yang baru dilengkapi torpedo SUT (homing torpedo) yang tercanggih di jamannya sudah di siagakan di lapis kedua atau lingkar dalam yang sewkatu2 dapat di perintahkan bergerak.

Dulu ada armada vii as yg mau lwt selat sunda tp tanpa permisi, pas kehadirannya sdh diketahui oleh gugus tempur selam di wilayah itu sekitar selat sunda...lalu diberi peringatan radio...tetap sombong acuh saja...lalu stlh ada perintah dri pejabat berwenang yg tertinggi dlm hal ini..dg perintah...
"lakukanlah segala sesuatu yg menurut kalian adlh benar demi menjaga kehormatan nkri, semuanya terserah kalian!"...lalu stlh beberapa saat kontak tdk ditanggapi...ks ri melakukan jibaku (dg maksud utk medekati mau mengawal biar tdk macam2 tetapi ternyata terjadi kepanikan di kapal induk armada vii as)..pergerakan ks yg semakin medekat kapal induk dan mematikan sinyal radio...sangat menggentarkan mereka..krn pikirnya kapal induk akan ditubrukan secara frontal oleh ks ri tsb...pd detik2 kritis kapal induk armada vii & rombongan pengawalan berbalik arah putar haluan tdk jd lwt selat sunda tp ambil arah ke australia...akhirnya semua crew ks ri berteriak hore kita menang..jalesveveva jaya mahe...jayalah negeriku indonesia dilaut!!!
Memang benar ini adalah sekelumit pengalaman mendebarkan manuver nekad abiez crew hiu kencana ks ri dg berbaliknya armada vii maka kemenangan politis ada pd negara kita ri tercinta, stlh itu klo tdk salah komandan crew mendapat anugrah bintang sakti!!!  

Sumber :
KISAH AWAK KAPAL SELAM INDONESIA Perjalanan Rahasia ke Polandia Reporter/Redaktur: Pasti Liberti Editor: Sapto Pradityo Desainer: Luthfy Syahban https://x.detik.com/detail/intermeso/20170825/Perjalanan-Rahasia-ke-Polandia/index.php
 Merebut Papua dari Kolonial Belanda  Roy Prasetya - August 27, 2017 https://www.militer.or.id/4503/merebut-papua-dari-kolonial-belanda/

19 komentar:

  1. WAOOWWW!!! kapal induk armada ke 7 USA aja kalang kabutt!! GILA!! Cerita yang luar biasa!! Membangkitkan nasionalisme!! Semoga ke depan Indonesia BISA memiliki Pemimpin dan Alutsista yang bukan hanya membuat jera negeri jiran, tapi juga sekaligus PAMAN SAM!! MERDEKA!!

    BalasHapus
  2. infonya bagus banget
    minta ijin copas
    thx

    BalasHapus
  3. Jales veva jaya mahe......!!!! Semoga semangat itu terus tumbuh... aamiin....
    Ijin copy..

    BalasHapus
  4. mantaffff, semoga dengan senyapnya kabar kapal selam indonesia sekarang, masih ada rahasia yang memang masih bisa dibanggakan. kalo ada info kekuatan bawahlaut indo yg sekarang bagi2 gan.

    BalasHapus
  5. yh itu dulu . memang benar ! tapi bagai mana dgn sekarang apakah tni al msh sehebat dulu dgn peralatan tempur baru dan canggih pd jaman nya ,,?

    BalasHapus
  6. Ijin share gan ... hebat banget....

    BalasHapus
  7. itu pengalaman hebat....TNI yang sekarang masih berani gak ???

    BalasHapus
  8. bagus banget cerita sejarahnya.. terima kasih atas informasinya

    BalasHapus
  9. Saya bangga karena ayah saya salah satu awak kapal selam dan semoga Angkatan Laut kita berkibar dengan kapal yang modern perkuat ketahanan laut dan bukan ketahanan kantong dan rumah pribadi yang besar.

    BalasHapus
  10. Kapal Selam Hiu Kencana legenda Indonesia

    BalasHapus
  11. Indonesia pernah punya kapal selam hebat, kunjungan balasan ya ke blog saya www.goocap.com

    BalasHapus
  12. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  13. Di laut kita jaya....selogan itu tidak akan pernah mati demi jayanya tanah pertiwi Nusantara....God Bless my Indonesia

    BalasHapus
  14. Semoga bukan cuma sekedar sejarah, tapi muda2han TNI saat ini bisa lebih baik.

    BalasHapus
  15. Semoga bukan cuma sekedar sejarah, tapi muda2han TNI saat ini bisa lebih baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
  16. Berjayalah Indonesiaku.. terimakasih tni,sudah menjaga negeri yg saya cintai ini.. semoga tni makin jaya,makin kuat,agar kedaulatan RI tetap terjaga..

    BalasHapus
  17. Dulu Pakistan dan India adalah dua negara sahabat. Bagaimana RI bisa bersikap terhadap India dan mendukung Pakistan, namun tetap mendorong gencatan senjata demi perdamaian kawasan.

    Apakah yang BK lakukan sekiranya Genosida Rohingnya oleh Myanmar terjadi didepan hidungnya, saat memimpin Indonesia??

    BalasHapus
  18. Info yg sangat menarik untuk dibaca.
    Salut atas angkatan laut Indonesia.
    Terimakasih infonya.

    BalasHapus