Jumat, 14 Februari 2014

KAPAL SELAM MINI BUATAN PABRIK WATSON YOGYAKARTA

Pada tahun 1937 D.Ginagan pergi ke Belanda untuk memperdalam pendidikan kepelautan, ia masuk Gemeentelijke Zeevaartschool di Den Helder mengambil jurusan pelaut selama 3 tahun. Setelah lulus kemudian memperdalam pengetahuannya pada jurusan mesin di Groningen selama 2 tahun. Setelah selesai pendidikan ini, D.Ginagan tinggal di negeri Belanda sampai 1946. Selama tinggal di negeri Belanda, D. Ginagan bekerja pada perusahaan perkapalan Belanda sebagai Stuurman, Pada tanggal 10 Mei 1940 sebelum Jerman menyerang Belanda, D.Ginagan merencanakan untuk berangkat ke Amerika Serikat dengan kapal Belanda. Namun karena Jerman menyerang Belanda rencana tersebut dibatalkan.
Selama tinggal di negeri Belanda D. Ginagan ikut aktif berjuang untuk kepentingan bangsa Indonesia baik sebelum diproklamirkan kemerdekaan Indonesia manpun sesudahnya. Karena aktifitasnya dalam membela kepentingan Indonesia, pada tahun 1946, D. Ginagan diusir dari negeri Belanda, kemudian ia kembali ke Indonesia pada bulan Desember 1946.
Di era Perang Kemerdekaan (1945-1949), persenjataan ibarat emas. Dibandingkan militer Belanda, alutsista (alat utama system persenjataan) militer Indonesia jelas tak ada apa-apanya. Selain mengandalkan rampasan dari tentara Jepang, Inggris dan Belanda serta pembelian di pasar gelap, militer Indonesia juga berinsiatif memproduksi sendiri system persenjataanya. Menurut keterangan Letjen (purn) Sayidiman, setidaknya ada dua “pabrik senjata” yang tersohor saat itu. Pertama, namanya Watson, sebuah pabrik besi dan rongsokan yang kemudian disulap menjadi pabrik alusista darurat. Kedua yakni “pabrik senjata” Demakijo, sebuah produsen senjata yang tadinya merupakan pabrik gula. Kedua “pabrik senjata” tersebut berada di kawasan Yogyakarta.
Kendati sangat berguna, produk-produk “abal-abal” yang meniru Stendgun, karaben Qirov, ranjau darat, granat gombyok penggunaannya memang jauh dari harapan. Tak jarang senjata-senjata itu macet di tengah pertempuran atau tiba-tiba larasnya menjadi bengkok (karena tak kuat menahan panas mesiu dari peluru yang terus diberondongkan). Bahkan granat gombyok (granat berekor seperti buntut kuda) sering memakan korban putusnya tangan sang pelempar, karena api yang disulut lewat ekornya keburu mencapai detonantor sebelum dilepar ke sasaran musuh dan meledak di tangan. P
royek Watson dan Demakijo tetap dilanjutkan.
Melihat situasi perjuangan yang banyak memerlukan tenaga-tenaga terampil untuk membantu meningkatkan kemampuan tentara kita, setelah sampai di tanah air, D. Ginagan melaporkan ke Kementerian Pertahanan dan sesuai keahliannya ditempatkan di Kementerian Pertahanan bagian Angkatan Laut dengan status sebagai pegawai sipil. Selama menjadi pegawai sipil inilah timbul ide/gagasan untuk membuat kapal selam.
Sebenarnya pemikiran atau gagasan untuk membuat kapal selam sendiri di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1946.
 

Tokoh tersebut adalah warga TNI AL sendiri yang pada waktu itu rnasih berstatus pegawai sipil pada Kementetian Pertahanan Bagian Angkatan Laut yaitu, D. Ginagan. Inspirasi ide tersebut timbul setelah melihat pameran kapal selam yang dikendalikan oleh satu orang (Eenpersoons D/tikboof) di Groningen, Belanda pada tahun 1946. Kapal ini adalah kapal yang dipakai oleh Jerman pada waktu Perang Dunia II, dan pada waktu sedang dikembangkan oleh Jerman. Untuk melaksanakan ide tersebut, D. Ginagan segera mengajukan permohonan kepada Kementerian Pertahanan, rupanya gagasan itu disetujui. Segera setelah ijin disetujui, ia menghubungi Penataran Angkatan Laut (PAL) sekarang PT PAL dan pabrik besi/Perbi di Yogyakarta. Dalam melaksanakan ide tersebut, D. Ginagan banyak dibantu oleh M. Susilo pegawai Perencana Perkapalan terutama dalam pembuatan gambar (design). Pembuatan kapal -selam ini dimulai sekitar bulan Juli 1947 di Perbi Yogyakarta dengan anggaran ± 35.000 (ORI).


Data kapal selam yang tidak berperiskop ini adalah sebagai berikut: panjang 7 m, lebar 1 m dan DWT 5 ton. Kapal selam tersebut dilengkapi dengan sebuah torpedo kapal terbang yang banyak terdapat di lapangan terbang Maguwo Yogyakarta, peninggalan Jepang dengan panjang 5 meter. Alat penggerak kapal tersebut sebuah mesin mobil Fiat berkekuatan 4 PK, sedangkan sebagian badan kapal digunakan untuk tangki bensin.
Kapal selam ini adalah kapal selam mini yang dikemudikan oleh satu orang dan mampu meluncurkan torpedo dengan jarak tembak lebih kurang 1 - 1½ mil yang direncanakan untuk menerobos blokade laut Belanda yang pada waktu itu telah menutup sebagian besar perairan Indonesia. Setelah kapal tersebut selesai dibuat, lalu diadakan uji coba di Kalibayem, Yogyakarta yang dihadiri oleh masyarakat Yogyakarta dan pejabat-pejabat penting pemenntah seperti, Menteri Pertahanan dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Presiden Sokarno sendiri sempat rneninjau kapal selam tersebut sebelum diadakan uji coba di Kalibayem
(tepatnya sekarang di lokasi yang ada perumahan Bayem Permai). Dalam percobaan tersebut yang berjalan selama 1 jam kapal dikendalikan sendiri oleh D. Ginagan dan dapat berlayar namun belum bisa menyelam, karena belum ada baterainya. Tetapi ketika torpedonya diijicoba untuk ditembakan, tiba-tiba handel pengikatnya tak mau lepas dan torpedo tetap terikat di tempatnya semula. Akibatnya sungguh fatal: kapal selam mini yang hanya diawaki oleh satu manusia saja itu malah ikut terseret oleh dorongan torpedonya.
Menurut Drs Moehkardi dalam Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Pisik 1945-1949, kehadiran kapal selam mini ini diperlukan untuk menghancurkan kapal-kapal perusak Angkatan Laut Kerajaan Belanda yang bertugas memblokade pergerakan di laut-laut sekitar Pulau Jawa.


Jalannya uji coba kapal selam mini di Kalibayem
  
Keberhasilan uji coba ini membawa dampak yang sangat positif bagi perjuangan bangsa Indonesia, terutama dalam menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air dan rela berkorban demi untuk tetap tegaknya kemerdekaan Indonesia. Reaksi yang timbul dari pemenntah Belanda terhadap uji coba kapal selam ini sangat meremehkan sekali. Hal tersebut dapat diketahui dari siaran radio Belanda yang bernada penghinaan. "Wah, orang Indonesia di Kali membuat kapal selam dari drum".
Sebetulnya ungkapan dari pihak Belanda terhadap keberhasilan uji coba ini merupakan bukti kekhawatiran pihak Belanda akan kemampuan bangsa Indonesia dalam mempersenjatai tentaranya. Bahkan dampaknya perjuangan melawan Belanda semakin berkobar di seluruh wilayah Indonesia.
Pada waktu agresi Belanda II kapal selam ini masih dalam tarap perbaikan, kemudian D. Ginagan mendapat tugas mendampingi KSAL ke Aceh. Ketika kembali dari Aceh dalam rangka persiapan pembentukan Staf Angkatan Laut RI di Aceh, kapal selam mini tersebut telah ditarik kembali ke pabrik besi Perbi. Namun karena pada waktu itu situasi perjuangan semakin mernanas akibat agresi Belanda II dan semuanya sibuk berjuang menjadikan perbaikan terhadap kapal selam ini terhenti.

Pada Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta, selain serangan Blitzkrieg atas lapangan udara Maguwo dan penguasaan Ibukota RI Yogyakarta secara tiba-tiba, ternyata tentara Belanda dibuat terkaget-kaget kemudian dengan ditemukannya Proyek Kapal Selam Mini ALRI di daerah Sentolo yang kemudian segera di bawa ke Semarang untuk dilakukan observasi/penelitian lebih lanjut.

 
Proyek Kapal Selam Mini ALRI yang ditemukan tentara Belanda di Pabrik Watson Yogyakarta

 
 Proyek Kapal Selam Mini ALRI di daerah Sentolo yang kemudian segera di bawa ke Semarang untuk dilakukan observasi/penelitian lebih lanjut oleh pihak tentara Belanda











4 komentar:

  1. apakah proyek ini kemudian tetap dilakukan pak? karena setahu saya di Indonesia saat ini hanya ada perusahaan pembuat kapal laut dan belum ada satu pun diantara yang membuat kapal selam seperti ini.

    BalasHapus
  2. Semua kapal selam mini telah diambil Belanda saat Agresi Militer Belanda ke II

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  4. kenapa itu ga di coba di bikin lagi kita sekarang sudah punya ilmunya untuk membuat yg lebih canggih sekelas akula class https://goo.gl/pys7SK

    BalasHapus