Selasa, 30 Maret 2010

HISTORY OF INDONESIAN AIR FORCE PART I : THE AIRCRAF

HISTORY OF INDONESIAN AIR FORCE
DISUSUN KEMBALI OLEH :
AGUNG SURONO, S.Si


TNI AU lahir dengan dibentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada Tanggal 23 Agustus 1945, guna memperkuat Armada Udara yang saat itu berkekurangan pesawat terbang dan fasilitas-fasilitas lainnya. pada tanggal 5 Oktober 1945 berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) jawatan penerbangan di bawah Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma.
Modal awal TNI AU adalah pesawat-pesawat hasil rampasan dari tentara Jepang seperti jenis Churen, Nishikoren, serta Hayabusha. Pesawat-pesawat inilah yang merupakan cikal bakal berdirinya TNI AU. Indonesia mewarisi cukup banyak pesawat Jepang pada masa awal kemerdekaan, karena kesulitan suku cadang maka hanya sekitar 70 pesawat yang bisa terbang dengan berbagai macam typenya seperti Ki-43 Hayabusha "Oscar", A6M "Zero" sampai Ki-61 "Tony", pesawat yang disebut-sebut sebagai Messerschmit atau Mustang Jepang. Juga terdapat pesawat Angkut (L2D3, DC 3 dakota versi Jepang), pesawat tempur ringan Ki-55 Cukiu "Ida", Guntei Ki -51 juga K5Y Yokosuka yang akrab dipanggil Churen (Cureng)/ Chukan Rensuki alias Latih dasar yang akrab dikalangan pejuang-pejuang kita.
Pada tanggal 23 Januari 1946 TKR ditingkatkan lagi menjadi TRI, sebagai kelanjutan dari perkembangan tunas Angkatan Udara. Pada tanggal 9 April 1946, TRI jawatan penerbangan dihapuskan dan diganti menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia, yang kini diperingati sebagai hari lahirnya TNI AU yang diresmikan bersamaan dengan berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI).

 
Aset pertama Angkatan Udara adalah pesawat-pesawat peninggalan Jepang, yang lambangnya diganti dengan merah-putih di bagian sayap dan buritan. Di foto atas tampak dua tentara Inggris melakukan inspeksi. Di foto bawah tampak flying boat dari jenis Kawanishi H6K berada di hangar; sayapnya masih berbendera merah-putih, sementara bagian buritannya sudah ditambahi warna biru oleh pihak Belanda (tidak begitu kelihatan di foto hitam-putih). 

 
Foto Bapak Suryadarma bersama personil TKR Oedara dan para teknisi.Disamping Pak Surya yang tegap sepertinya Bapak Suharnoko Harbani dan disampingnya lagi sepetinya Bapak Sutardjo Sigit.Dibelakangnya ada pesawat Jepang milik TKR Oedara dan pesawat angkut milik KNILM.
 Yokosuka K5Y Shinsitei yang biasa kita sebut dengan Cureng
 Pesawat Yokosuka K5Y Shinsitei yang biasa kita sebut dengan Cureng sedang diperbaiki di PU maguwo Yogyakarta.


 Penerbangan pesawat Cureng di atas aloon-aloon utara Yogyakarta 
tanggal 10 November 1945 
Laksda Adi Sutjipto dan Opsir Udara Sardjono (kiri)
 
 Para Penerbang TNI AU di awal berdirinya TNI AU.

 

Beberapa pesawat Cureng di PU Maguwo Yogyakarta
 

 Sebuah pesawat Yokosuka K5Y Shinsitei yang biasa kita sebut dengan Cureng dengan identitas merah putih berbentuk bulat dan nomor register 62 serta TJ di ekor pesawat.
 Sebuah pesawat Yokosuka K5Y Shinsitei yang biasa kita sebut dengan Cureng sedang terbang formasi pada bulan Maret 1947.


Ketika Clash I (Agresi Militer Belanda I), pangkalan-pangkalan AURI tersebut pada tanggal 21 Juli 1947 diserang oleh pesawat tempur Belanda P-40 Kitty Hawk dan P-51 Mustang AU, yang menghancurkan pesawat-pesawat tersebut.
Di Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta, AURI ternyata mampu menyembunyikan dan menyelamatkan 4 pesawat (2 Churen, 1Guntei dan 1 Hayabusha). Pesawat-pesawat itulah yang kemudian digunakan Cadet-cadet AURI untuk menyerang Belanda di Semarang, Salatiga dan Ambaraawa (2 Churen dan 1 Guntei pada tanggal 29 Juli 1947). Pesawat Hayabusha tidak bisa dipakai untuk penyerangan karena alat Sinchronize antara senapan mesin dan baling-balingnya rusak, sehingga apabila dipaksakan dan terjadi dog fight justru baling-balingnya bisa terkena pelurunya sendiri.
Tiga kadet penerbang TNI AU masing-masing Kadet Mulyono, Kadet Suharnoko Harbani dan Kadet Sutarjo Sigit dengan menggunakan dua pesawat Cureng dan satu Guntei berhasil melakukan pengeboman terhadap kubu-kubu pertahanan Belanda di tiga tempat, masing-masing di kota Semarang, Salatiga, dan Ambarawa.



Pesawat Yokosuka K5Y Shinsitei yang biasa kita sebut dengan Cureng berperan penting dalam penyebaran pamflet dalam rangka menumpas pemberontakan PKI Muso di Madiun. 

Cerita soal perebutan kilang minyak di Cepu, Jawa Tengah dari PKI Muso. 27 September 1948, laskar rakyat yang mengikuti PKI Muso menyerang markas TNI di Cepu. Mereka juga menguasai kilang minyak.
Menteri Pertahanan Mohammad Hatta memberi perintah langsung. TNI harus segera merebut Cepu dari tangan PKI dan Laskar Minyak. Indonesia sangat membutuhkan minyak dari sana untuk kelanjutan perjuangan.
Brigade I/Siliwangi kebagian tugas itu. Serangan akan dilakukan dari tiga penjuru. Dari kiri Satuan Tugas Kosasih, tengah Batalyon Kemal Idris dan kanan Batalyon Daeng.
Jalannya pertempuran ini dikisahkan Letjen (Purn) Himawan Soetanto dalam buku Perintah Presiden Soekarno: Rebut Kembali Madiun, terbitan Pustaka Sinar Harapan. Saat itu Himawan masih berpangkat letnan.
Tapi bukan perkara mudah merebut Cepu. Gerombolan PKI yang melarikan diri dari Madiun bertahan di Purwodadi, Blora, Kudus dan Pati. Mereka cukup kuat dan telah memiliki posisi bertahan yang strategis. Jarak Purwodadi-Cepu kira-kira 90 km.
Gubernur Militer Jenderal Gatot Soebroto meminta Panglima Besar Soedirman agar memerintahkan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) terus menembaki jalan menuju Purwodadi. Tapi kepala staf AURI (kini TNI AU) Marsekal Soeryadarma mengatakan hal itu tak mungkin.
Saat itu AURI hanya punya beberapa pesawat tua buatan Jepang. Amunisi juga terbatas. Satu hal yang penting, tak ada radio komunikasi antara pasukan Siliwangi di bawah dengan pilot AURI di udara. Jika tak ada komunikasi, bisa fatal. Pesawat malah berpotensi menembaki pasukan sendiri.
Maka keputusannya, AURI akan mengerahkan satu pesawat untuk mengebom Purwodadi. Maksudnya hanya untuk memberi pukulan psikologis saja untuk PKI dan gerombolan.
Dari Maguwo, terbanglah sebuah pesawat Cureng. Pesawat tua peninggalan Jepang ini biasanya digunakan sebagai pesawat latih. Namun karena keterbatasan, akhirnya digunakan sebagai bomber. Cureng adalah pesawat bersayap ganda. Mampu terbang tiga jam nonstop dan membawa dua bom seberat 50 kg yang dilepaskan manual oleh pilotnya.
Kadet Udara I Aryono menerbangkan pesawat ini, sementara Kapten Mardanus menjadi observer udara. Inilah pengalaman terbang pertama untuk Mardanus yang sehari-hari menjadi kepala bagian personalia Markas Besar Angkatan Perang itu.
Cuaca cerah saat Kadet Aryono lepas landas. Dalam waktu setengah jam, pesawat itu mencapai Purwodadi. Dulu Aryono mengenali daerah ini, sehingga tak sulit menentukan sasaran.
Aryono membidik Komplek Gedung Kabupaten. Dia terbang rendah. Tree top level atau nyaris setinggi pohon. Dua bom dijatuhkan dan mengenai sasaran. Ledakan keras terdengar.
Setelah melaksanakan misi tersebut, pesawat Cureng pulang ke home base di Maguwo. Kasau Marsekal Suryadarma telah menunggu. Dia memberikan selamat atas keberhasilan pengeboman. Tapi Marsekal Suryadarma kemudian menegur kadet Aryono.
Suryadarma menilai keputusan Aryono untuk terbang rendah sangat membahayakan. Pesawat gampang sekali jadi sasaran tembak dari darat. Kerugian tak ternilai jika pesawat yang sangat dibutuhkan AURI itu bisa ditembak jatuh pemberontak. Mau beli pesawat lagi uang dari mana? Lagipula Indonesia masih diblokade oleh Belanda, tak mudah beli persenjataan dari luar negeri.
Dari hasil laporan intelijen kemudian diketahui, pengemboman ternyata efektif untuk membuat PKI kocar-kacir. Saat bom dijatuhkan, ternyata PKI baru akan mengeksekusi tahanan. Mereka pun bubar saat bom jatuh dan eksekusi batal dilaksanakan.
Kerjasama antarangkatan (darat dan udara) dalam pengemboman di Purwodadi ini merupakan salah satu yang pertama dilakukan TNI.
Mungkin karena takut ada pengeboman lagi, PKI berangsur-angsur menarik diri dari Purwodadi. Mayor Kosasih berhasil merebut Purwodadi tanggal 5 Oktober 1948.
Pasukan Siliwangi terus bergerak ke arah Utara dan akhirnya bisa membebaskan Kilang Minyak di Cepu tanggal 8 Oktober lewat pertempuran sengit.

Beberapa buah pesawat saat pameran kedirgantaraan di PU Maguwo pada tahun 1948.
Beberapa buah pesawat saat pameran kedirgantaraan di PU Maguwo pada tahun 1948.

Yokosuka K 5 Y 1 ( Churen / Cureng )


Sebuah pesawat Ki 43 Hayabusha sedang diperbaiki oleh para teknisi AURI.

Pesawat Hayabusha saat tinggal landas di PU Maguwo Yogyakarta

Nakajima Ki 43 Oscar ( Hayabusha )


Pesawat Diponegoro I (Ki-49 Donryu Army Type 100)


 Bangkai pesawat Diponegoro I (Ki-49 Donryu Army Type 100)
Ki-49 "Donryu" Army Type 100

P.Diponegoro I adalah juga pesawat peninggalan Jepang type Ki-49 Donryu Army Type 100. Dari foto yang penulis terima dari Bapak Hoesein memperlihatkan saat Panglima Besar Soedirman pada awal tahun 1946 melakukan inspeksi ke Pangkalan Bugis Malang, dengan latar belakang terlihat jelas pesawat Ki-49. Berarti AURI selain memiliki light bomber juga sudah memiliki heavy bomber (Pembom Berat). Ki-49 yang dibuat oleh pabrik Nakajima, karena sangat berbahayanya dan mempunyai daya rusak yang hebat dijuluki sekutu sebagai Storm Dragon, diberi sandi nama "Helen". Orang Jepang menamai Ki-49 "Hyakushiki Juubaku".
Perlu diketahui bahwa kedua pesawat tersebut ternyata bukan merupakan kekuatan Angkatan Udara Kekaisaran Jepang, tetapi pesawat dari kekuatan Angkatan Darat Kekaisaran Jepang (Imperial Japanese Army Aircraft). Dengan demikian maka dapat diyakini bahwa memang terdapat pembom di Pangkalan Maospati Madiun dan Pangkalan Bugis Malang.
Kemungkinan besar pesawat pembom tersebut ditempatkan di Pangkalan Udara Maospati Madiun, yang sebelumnya difungsikan Jepang baik sebagai pangkalan pesawat tempur juga sebagai home base pembom. Alasannya karena landasan Maospati jauh lebih panjang dibandingkan landasan di pangkalan Maguwo. Komandan Pangkalan saat itu dijabat Prof.Dr.Abdulrachman Saleh yang juga merangkap juga sebagai Komandan Pangkalan Udara Bugis (Malang).




Pesawat pelempar bom (pembom) Ki-48 "Lily"
Pesawat P Diponegoro II


Panglima Besar Jendral Sudirman diiringi oleh staffnya memeriksa pesawat 
P Diponegoro II

 Panglima Besar Soedirman saat turun dari pesawat pelempar bom (pembom) Ki-48 "Lily" di PU Bugis Malang.
Light Bomber Ki-48 "Lily"



Sebuah pesawat Ki 51 Guntei di PU Bugis Malang

Sebuah pesawat Ki 51 Guntei sedang dipersiapkan untuk terbang.

Mitsubishi Ki-51 ( Mitsubishi Type 98 Guntei )

Pesawat Ki 55 Cukiu di PU Bugis pada awal Perang Kemerdekaan

Tiga buah pesawat Tachikawa Ki 55 Cukiu di PU Kemayoran tanggal 23 April 1946 membawa pimpinan TRI ke persidangan APWI.
 
 
 Pesawat Tachikawa Ki 55 Cukiu dengan kode TK nomor seri 105.
 
 Pesawat Tachikawa Ki 55 Cukiu dengan kode T-08 berdampingan dengan pesawat angkut C-47 Dakota. Pada body bagian belakang Tachikawa Ki 55 Cukiu terlihat bulatan berwarna merah putih. Begitu juga pada vertical elevator terlihat persegi merah putih sebagai lambang bendera Republik Indonesia.

Sebuah pesawat Tachikawa Ki 55 Cukiu ketika mengikuti pameran kedirgantaraan di PU Maguwo pada tahun 1948.
Ki-55 Cukiu "Ida"

Pesawat N1K2-J Nishikoren yang sedang diperbaiki di 
PU Cibeureum Tasikmalaya tahun 1945.


 Pesawat Nishikoren NK 158 di PU Bugis Malang

Pesawat Nishikoren yang diterbangkan oleh Adi Sutjipto dan Tarsono Rudjito (penumpang) saat akan tinggal landas pada tanggal 10 Oktober 1945
N1K2-J atau Mansyu Ki 79 B Nishikoren


Berbagai pesawat peninggalan Jepang yang menjadi kekuatan udara Indonesia 
diperlihatkan ke masyarakat umum di Lanud Maguwo





Mitsubishi_A6M Zero
 
Museum Angkatan Udara Indonesia adalah museum pertama yang mengoleksi pesawat ini. Tentara Jepang pernah menggunakan pesawat ini di Indonesia pada tahun 1942-1945.


Komodor Udara Abdulrahman Saleh
( Bapak Karbol )
 
Komodor Udara Abdulrahman Saleh, yang akrab di panggil Pak Karbol, bukan saja seorang Perwira Tinggi, Pendidik, dan Pahlawan/Perintis TNI Angkatan Udara, tetapi juga perintis/pendiri Radio Republik Indonesia (RRI).
Pak Karbol yang juga di pakai untuk sebutan Taruna/Kadet Akademi Angkatan Udara (AAU), menjadi Karbol AAU, karena keahliannya dibidang komunikasi radio dan sebagai angkasawan radio ikut pula tergabung dalam pembentukan RRI pada tanggal 11 September 1945.
Komodor Udara Dr. Abdulrahman Saleh menjadi pimpinan delegasi angkasawan radio menghadap Presiden Sukarno. Delegasi menyampaikan himbauan kepada Presiden agar menggunakan sarana komunikasi radio sebagai alat komunikasi paling ampuh untuk mencapai rakyat dengan cepat dan luas jangkauannya. Bahkan Komodor Udara Prof. Dr. Abdulrahman Saleh ditunjuk sebagai Pemimpin Umum RRI. 
Laksamana Udara Soerjadi Soerjadarma
 
Lahir di Banyuwangi, Jawa Timur pada 6 Desember 1912
Pada 1 September 1945 ditugaskan membentuk AURI
Pada 9 April 1946 diangkat sebagai KASAU (Pertama)
Pada 27 Pebruari 1948 s/d 1 Oktober 1948 diangkat sebagai APRI
Pada 1 Agustus 1949 diangkat sebagai Kastaf AURIS
Pada 18 Pebruari 1960 diangkat sebagai Menteri / Kastaf AURI
Pada 19 Januari 1962 diangkat sebagai Menteri Penasehat Presiden RI
Pada 1965 diangkat sebagai Menpostel RI 
Fase penting kedua dalam perkembangan TNI AU berlangsung pada tahun 1950an. Pada era ini AURI kernbali menerima lusinan pesawat bekas pakai yang kali ini dari AU Belanda sebagai kon­sekuensi dari hasil keputusan yang diambil dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 2 November 1949. Menurut KMB, AURIS akan melikuidasi AU Belanda (ML, Militaire Luchtvaart) dalam waktu relatif singkat, selambat-lambatnya enam bulan terhitung setelah pengakuan kedaulatan.

Sementara KSAU Suryadarma bertindak cepat dengan mengeluarkan petunjuk khusus pada tanggal 19 Januari 1950. Petunjuk khusus ini meng­atur tentang pengibaran bendera diseluruh pangkalan udara, penyerahan pangkalan udara baik menyangkut personel maupun peralatan dan pesawat yang ada di dalamnya, termasuk juga semua hal yang berkaitan dengan operasi penerbangan.
Sementara KSAU Suryadarma bertindak cepat dengan mengeluarkan petunjuk khusus pada tanggal 19 Januari 1950. Petunjuk khusus ini meng­atur tentang pengibaran bendera diseluruh pangkalan udara, penyerahan pangkalan udara baik menyangkut personel maupun peralatan dan pesawat yang ada di dalamnya, termasuk juga semua hal yang berkaitan dengan operasi penerbangan.
Selain pangkalan, sarana dan prasarana yang diserahkan kepada AURIS meliputi sebuah hangar bengkel pemeliharaan pesawat, dan sejumlah pesawat di antaranya tujuh Piper Cub, delapan Harvard, 36 Dakota, 25 pembom B-25 Mitchel, 12 pesawat angkut Lockheed (L-12?), dan 28 pesawat pemburu P-51 Mustang. Diakhir acara penyerahan, dilakukan penggantian tanda kepangkatan sejumlah anggota yang berasal dari ML dan kemudian memlilih bergabung dengan AURIS. Aihasil seperti ditulis dalam buku Sejarah Angkatan Udara Indonesia 1950-­1959, total 10.000 personel ML dan ratusan pesawat dari berbagai tipe diserahkan kepada AURIS.
Boleh dikata proses serah terima dari ML ke AURIS berjalan lancar. Dalam waktu relatif singkat AURIS berhasil melakukan konsolidasi yang dalam sejarah TNI AU dikenal sebagai Program Kerja Kilat. Program ini intinya adalah bahwa AURIS diberi mandat dalam waktu singkat untuk menyusun organisasi Angkatan Udara dalam bentuk sementara yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Program ini diren­canakan harus sudah selesai pada tahun 1951. Seperti berpacu dengan waktu, AURIS juga sudah memiliki sebuah markas besar yang berlokasi di Jakarta disusul dibakukannya organisasi dengan status langsung berada di bawah menteri pertahanan.
Jauh sebelum itu, KSAU juga sudah mengeluarkan surat keputu­san berupa pembentukan sejumlah skadron udara. Yaitu meliputi skadron intai laut, transport, pem­bom, intai darat, dan skadron pembom sedang. Karena begitu banyaknya pesawat diperoleh dari ML, setiap skadron diperkuat oleh setidaknya 20 pesawat, kecuali skadron intai laut yang berkekua­tan hanya 12 pesawat.
Di periode awal transisi ini, se­mula hanya ada dua skadron udara yaitu Skadron 1 di Lanud Cililitan (sekarang Halim Perdanakusuma), dan Skadron 2 di Andir. Isinya adalah otomatis semua pesawat yang selama ini oleh Belanda memang dipangkalkan di kedua lanud tersebut.
Ketika itu pesawat P-51, B-25, C-47, PBY-5 Catalina masih bemaung di bawah payung Skadron I. Selanjutnya pada 1951 dilakukan penyempurnaan organisasi operasional ini dengan memekarkan jumlah skadron menjadi enam. Meliputi Skadron I dengan kekuatan pesawat B-25, Skadron 2 Pengangkut pesawat C-47, Skadron 3 Pemburu dengan P-51, Skadron 4 Pengintai Darat dengan Auster dan L-4J, Skadron 5 Pengangkut Operasionil dengan C-47, dan dibentuknya sekolah penerbang dengan berbagai tipe pesawat. Organisasi skadron ini terus disempurnakan dari tahun ke tahun seiring semakin tertatanya organisasi AURI.
Pesawat Sakai Bleinheim.
Pesawat Sakai Bleinheim yang pada tanggal 13 November 1946 dikemudikan oleh Suhanda yang berhasil diterbangkan dan 3 kali keliling kota Madiun akan tetapi saat mendarat akhirnya mengalami kecelakaan.
Pada tanggal 17 Februari 1958 bertempat di Markas Besar Angkatan Udara Tanah Abang Bukit, oleh KSAU Laksamana Muda Udara S. Suryadarma disampaikan surat tanda jasa kepada Narimasa Shingkai. Beliau adalah bekas penerbang pesawat transport Jepang dalam perang Dunia II. Setelah Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945 beliau telah menyumbangkan tenaganya buat AURI. Beliau menjadi instruktur pada angkatan pertama Sekolah penerbang AURI di Yogyakarta. Selama di Indonesia beliau menggunakan nama Suhanda.

Glider NWG-1 Zogling adalah pesawat glider pertama yang dibuat oleh Nurtanio dan Wiwekosupomo pada tahun 1946. NWG adalag singkatan dari Nurtanio Wiweko Glider. Sedangkan Zogling adalah nama ari pesawat glider Jerman. 
Gagasan pembuatan glider NWG-1 Zogling ini datang dari Wiweko Supomo untuk menjajagi kemampuan dasar personil dalam merancang dan membuat pesawat terbang, serta untuk mempersiapkan seleksi dan pelatihan awal bagi para kadet penerbang sebelum dikirim ke luar negeri untuk menjalani sekolah penerbang. 
Diawali membuat rancangan di atas kertas oleh Nurtanio yang didampingi oleh Wiweko Soepomo sebagai supervisi. Gambar rancangan tersebut dibuat seteliti mungkin ukuran, bobot, dan bentuk setiap bagian maupun keseluruhan pesawat diperhitungkan sesuai prinsip-prinsip teori pembuatan pesawat terbang.
Setelah rancangan selesai dan diyakini tidak ada yang salah maka dimulai membuat kerangka badan dan sayap pesawat yang dibuat dari kayu, dilapisi kain blacu dan cat. Adapun kayu yang digunakan ditentukan dengan persyaratan sebuah kerangka pesawat aitu berserat lurus, memanjang, dan ringan yaitu kayu jamuju, dan baru dapat diperoleh setelah mereka mencari sampai ke Tretes, daerah pegunungan sebelah barat laut kota malang. Dari kayu yang diperoleh di Tretes dan kain belacu serta cat yang dapat dibeli di Madiun.
Setelah pesawat glider tersebut dibuat dilakukan uji coba menerbangkannya dengan diarik dengan sebuah motor. Setelah uji coba terbang dilakukan hingga beberapa kali dan dinyatakan laik terbang. Pesawat tersebut kemudian diberi nama NWG-1 "Nurtanio Wiweko Glider". Sampai akhir tahun 1946 berhasil dibuat enam buah pesawat glider.
Keenam pesawat Zogling NWG-1 itu selanjutnya digunakan untuk melakukan seleksi dan pelatihan 20 calon kadet penerbang sebelum dikirim ke Sekolah penerbang India. 
Selain itu digunakan pula sebagai propaganda untyuk menarik perhatian dan minat masyarakat luas dan para pemuda khususnya terhadap dunia penerbangan dan angkatan udara.
 Glider NWG-1 Zogling
 
Selain digunakan untuk seleksi dan pelatihan bagi calon kadet penerbang, pesawat Zogling ini juga pernah diikutsertakan dalam pembinaan kedirgantaraan kepada generasi muda pada awal kemerdekaan. Di lapangan Skip Yogyakarta diadakan latihan terbang layang. Nyonya Corrie (wanita keturunan Belanda yang kemudian menjadi istri husein Sastranegara) tercatat sebagai wanita Indonesia pertama yang berhasil menerbangkan glider buatan Nurtanio dan kawan-kawan itu. Dengan pelatihan aeromodeling dan terbang layang kemudian berdiri beberapa perkumpulan olah raga terbang layang di kota lainnya.
 
 Pekerja sedang asyik mengelas


 Membuat sayap pesawat

 Membuat baling-baling pesawat
Mesin pesawat


 
 
 
 
 

RI-X

WEL RI X atau Wiweko Experimental Air Plane.  WEL RI X adalah jenis pesawat olahraga pertama yang diproduksi oleh bangsa Indonesia dengan menggunakan mesin bermotor Harley Davidson pada tahun 1948.
Nama Wiweko berasal dari si pembuat pesawat yakni Kapten Wiweko Supono.  Kapten Wiweko adalah pimpinan Opsir Udara III untuk wilayah Magetan. Pesawat jenis olahraga ini hanya dapat menampung satu orang saja dengan satu tempat duduk tunggal. Pesawat ini memiliki spesifikasi sebagai berikut: panjang sayap 9m, panjang badan 5,5 m dan tinggi 2,4m. Dalam keadaan kosong, berat pesawat ini 263 kg dengan kecepatan jelajah 85 Km/jam.  Untuk pengerjaannya, pesawat ini hanya memakan waktu lima bulan sebelum akhirnya diterbangkan. Kemudian kegiatan ini terhenti karena pecahnya pemberontakan Madiun dan agresi Belanda.
Adanya pesawat WEL RI X merupakan pelopor lahirnya pesawat- pesawat Indonesia lainnya.

Prototype helikopter RI-H
 Helikopter RI-H aalah helikopter buatan Indonesia yang pertama dan dibuat oleh bangsa Indonesia sendiri. Pesawat RI-H dirancang dengan tempat duduk untuk satu orang penerbang (single setter). Sebagai motor tenaga menggunakan sebuah motor sepeda motor BMW dengan isi silinder 500 cc dan apat menghasilkan tenaga 24 daya kuda pada 3000 putaran per menit.
Helikopter RI-H menggunakansebuah motor berdaun dua. Daun-daun rotor itu dibuat dari bahan auminium yang berprofil NICA 23012. Diameter rotor-rotor adalah 6,75 m pada talibusur 20 cm. Masing-masing daun rotor mempunyai sebuah tangkai pada sumbunya, yang berujung sebuah bidang kecil yang menyerupai sayap. Gunanya ialah untuk merubah spud daun-daun rotor. Tenaga Koppel ditentang dengan adanya sebuah rotor ekor yang terpasang pada ujung ekor. Diameter rotor ekor tersebut hanya 85 cm. 
Badan helikopter terdiri dari sebuah struktur yang terbuat dari pipa-pipa dural dengan panjang 5,75 m. Sebuah tangki bensin terpasang di depan dan berisi 9 liter, sedangkan tangki olinya berisi 3 liter. Menurut perhitungan maka kecepatan menjelajah adalah 50 km/jam sedangkan kecepatan naiknya sebesar 1,5 m/detik.
Pembuatan helikopter ini dimulai pada tanggal 12 Januari 1948 oleh Sumarsono dan 12 orang lainnya di lereng Gunung Lawu Madiun tepatnya di desa Jumus. Mula-mula Sumarsono mengguakan alat-alat pabrik untuk membuat helikopternya, akan tetapi tidak lama kemudian ia disuruh memilih antara tetap bekerja atau membuat helikopter. Dengan pasti ia memilih untuk membuat helikopter. Dengan demikian ia dan 12 orang teknisi lainnya membuat helikopter secara partikelir.
Kesukaran-kesukaran yang dihadapi tidak hanya masalah teknik saja, melainkan juga masalah kehidupan sehari-hari. Sumarsono sempat menjual cincin kawin istrinya untuk terwujudnya sebuah helikopter.
Ketika terjadi peristiwa Madiun pada tanggal 16 Oktober 1948 helikopter RI-H baru 25 % selesai. Kemudian pembuatan diteruskan hingga menjelang bulan Desember 1948 dinyatakan selesai. Pada tanggal 24 Desember 1948 akan dilaksanakan percobaan terbang (test flight) yang pertama. Akan tetapi karena Agresi belanda ke II yang dilancarkan pada tanggal 19 Desember 1948 tidak hanya menggagalkan percobaan terbang tersebut, tetapi ikut menghancurkan helikopter tersebut sebelum diterbangkan.


 Gambar di atas adalah RI 001 "Seulawah" sewaktu mengikuti operasi militer di Birma. Tampak berkaca mata tanpa baju Wiweko Supono menyaksikan tentara Birma embarkasi. Disamping Wiweko Supono adalah penerbang berkebangsaan Amerika Serikat Chat Brown. 
 Pesawat Dakota RI 001 sedang mengalami overhaul
 
 
  Pesawat Dakota RI-001 yang bertuliskan "Seulawah" di bagian bawah kokpitnya.
RI 001 
C 47 Dakota

Terakhir RI 001 bertempat di Pangkalan Udara Andir Bandung. Di Andir pesawat tersebut digunakan untuk "Joy Flight". Dan setelah tidak digunakan lagi pada awal ahun 1950, pesawat RI-001 diserahkan ke bagian teknik dan diparkir di ujung landasan sebelah barat PU Andir Bandung.



Penyerahan Seulawah menjadi salah satu pendorong semangat pejuang-pejuang Indonesia melawan penjajah. Salah seorang saksi dan pelaku sejarah penyerahan pesawat Seulawah kepada pemerintah RI, Tgk AK Jakobi (77 tahun), menuturkan, sejarah Garuda Indonesia (dulu bernama Garuda Indonesia Airways) tak bisa dilepaskan dari Seulawah RI-001.
Pesawat hadiah masyarakat Aceh ini menjadi cikal bakal berdirinya Garuda Indonesia. Pada 15 Juni 1948, Jakobi menuturkan, Presiden Soekarno (Bung Karno) bersama 17 anggota rombongan tiba di lapangan terbang militer Lhok Nga di Banda Aceh. Bung Karno berada di Aceh selama enam hari (15-20 Juni). Presiden pertama RI ini juga berkunjung ke Sigli dan Bireuen.
"Di tiap kota, Bung Karno disambut dengan rapat raksasa. Ratusan ribu warga Aceh terpesona mendengarkan amanat Bung Karno yang berapi-api membakar semangat juang rakyat Aceh. Kami benar-benar merasakan persatuan dan saling mendukung antarrakyat di seluruh Indonesia," kenang pensiunan TNI berpangkat Mayor kelahiran Blangkejeren, Gayo Lues ini.
Ketika itu, Bung Karno mengatakan Indonesia sedang genting, dalam keadaan antara hidup dan mati. Bung Karno menegaskan, dari Acehlah perjuangan diteruskan merebut setiap jengkal tanah yang diduduki Belanda. Biar negara ini tinggal selebar payung, perjuangan tetap diteruskan sampai penjajah angkat kaki dari bumi Indonesia. Negara sangat memerlukan pesawat terbang untuk menerobos blokade udara Belanda yang sudah mengepung seluruh negeri. "Sudah berbagai tempat di Sumatera disinggahi. Namun, hanya rakyat di Acehlah yang memenuhi anjuran Bung Karno untuk menyumbangkan pesawat terbang," tutur Jakobi.
Dalam pertemuan bersejarah di Aceh Hotel, Gabungan Saudagar Indonesia Aceh (Gasida) yang dipimpin HM Djoeneid Joesoef lalu ada juga
Said Ahmad Al Habsji. Atas nama rakyat Aceh menyatakan siap merespons imbauan Bung Karno. Dana terkumpul sebesar 130.000 straits dollar atau setara 20 kg emas untuk membeli pesawat Seulawah RI-001. Di tengah situasi ekonomi yang menghimpit, Bung Karno begitu gembira menerima sumbangan pesawat Seulawah RI-001 dari rakyat Aceh.  
Pesawat ini adalah cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan niaga pertama, Indonesian Airways. Pesawat ini sangat besar jasanya dalam perjuangan awal pembentukan negara Indonesia. Kehadiran Dakota RI-001 membuka jalur penerbangan Jawa-Sumatera, bahkan sampai ke luar negeri. Pada bulan November 1948, Wakil Presiden Mohammad Hatta mengadakan perjalanan keliling Sumatera dengan rute Maguwo-Jambi-Payakumbuh-Kutaraja-Payakumbuh-Maguwo.

Pesawat Dakota yang diterbangkan oleh Bob Freeberg mendarat darurat di Pantai Selatan dekat Tasikmalaya Jawa Barat.
 


Crew Pesawat RI-002 OPU II Budiarjo dan OMU II Petit Muharto 
setibanya di PU Maguwo

 

 
RI 002 
C 47 Dakota

Sebelum memiliki pesawat RI-002, AURI sudah memiliki beberapa pesawat berukuran kecil seperti pesawat Cureng dan Cukiu. Kedua pesawat lungsuran dari serdadu Jepang, Saudara Tua yang pernah menduduki Indonesia dan bergegas meninggalkan tanah air karena kalah perang dan menyerah tanpa syarat. Pihak AURI kemudian melucuti pesawat-pesawat bermesin tunggal yang dibuat oleh Nippon Hikoki KK tahun 1993 ini. Kelak, pesawat jenis Cureng, hanya memuat dua orang, dimanfaatkan sebagai pesawat latih bagi calon penerbang AURI.
Sejarah perjalanan AU di langit Nusantara, di antaranya terbentuk dari peran pilot asal Amerika Serikat, Bob Freeberg dan pesawat miliknya Douglas C-47, belakangan diberi nama R1-002 (RI-002 diberikan karena RI-001 dicadangkan untuk pesawat kepresidenan yang akan dibeli dengan dana sendiri).
Ada kesimpangsiuran informasi yang hingga kini belum terungkap. Menurut berita, pembelian pesawat RI-002 dibeli dengan mengunakan uang tabungan pribadi Bobby Freeberg. Sebagai catatan, pada masa setelah Perang Pasifik, banyak pesawat bekas pakai (war surplus) yan dijual bebas kepada umum. Pesawat-pesawat war surplus ini bisa dibeli dengan pilot atau tanpa pilotnya. Pihak AURI dikabarkan men-charter pesawat yang dipiloti oleh Bobby untuk menembus blokade udara yang dilakukan oleh militer Belanda.
Berbagai tugas yang pernah diemban Bobby antara lain, mengangkut kadet-kadet calon penerbang AURI untuk mendapatkan pelatihan di Manila, mengangkut barang-barang kargo berupa obat-obatan, menerjunkan pasukan payung AURI ke Kalimantan atau propinsi lainnya, menerbangkan delegasi Indonesia ke Konferensi PBB-ECAFE (Economic Commission for Asia and Far East) di Manila, dan pesawat Dakota RI-002 inilah yang kemudian berjasa mengantar Soekarno keliling Sumatera guna meminta sumbangan rakyat dalam membantu perjuangan RI. Rakyat Aceh kemudian menyumbang 20 Kg emas yang kemudian dibelikan pesawat Dakota RI-001 Seulawah.
Pesawat RI-002 ini berakhir tragis di Sumatra. Berikut ceritanya.
Dini hari, 1 Oktober 1948 pesawat RI-002 lepas landas meninggalkan Pangkalan Udara Maguwo dengan tujuan Bukittinggi. Rute yang ditempuh adalah; Maguwo-Gorda-Tanjung Karang-Bukittinggi. Menurut rencana pesawat akan meneruskan ke luar negeri untuk membeli pesawat baru dengan mengangkut 20 kg emas murni.
Sebagaimana biasa, pesawat RI-002 kerap melakukan black flight. Yaitu penerbangan gelap, seakan-akan main kucing-kucingan guna menghindari pesawat-pesawat pemburu milik Belanda yang banyak berpangkalan di Pulau Sumatera maupun di Jawa.
Ada buku “Laporan Perdjalanan” (Vluchrapport), semacam buku manifest yang mencatat jumlah penumpang, nama penumpang, dan kargo muatannya. Pada manifest RI-002 tertanggal 30 September 1948 tercatat 12 penumpang serta barang kargo seberat 2.500 kg.
Seperti tertulis dalam buku Sejarah Operasi Penerbangan Indonesia periode 1945-1950 yang diterbitkan Dinas Sejarah TNI AU, RI-002 waktu itu diterbangkan pilot Robert Earl Freeberg alias Bob. Sedangkan co-pilot adalah Opsir Udara Bambang Saptoadji, engineer Opsir Muda Udara I Sumadi, dan radio operator Sersan Udara Suryatman.
Selama penerbangan, beberapa kali RI-002 berhubungan dengan stasiun radio udara atau call sign PCI di Sagan, Yogyakarta. Saluran radio ini dikenal dengan Aeradio, yaitu hubungan radio antara pesawat dengan stasiun radio di darat. Waktu itu radio dijaga oleh Sersan Mayor Udara Sumarno.
Komunikasi antara RI-002 dengan stasiun radio dilaporkan berjalan lancar hingga Tanjung Karang. Tetapi kenyataannya, hubungan radio antara pesawat dengan stasiun radio baik di Jawa maupun di Sumatera tidak berjalan baik. Sesuai prosedur, seharusnya komunikasi dilakukan secara periodik dengan jangka waktu satu jam setelah lepas landas. Namun itu tidak terjadi.
Sersan Mayor Sumarno beberapa kali memerintahkan RI-002 agar stand-by dan sewaktu-waktu, tetapi tidak ada jawaban. Sehingga sejak saat itu pesawat angkut sewaan itu dianggap hilang beserta para penumpang. RI-002 selama melaksanakan penerbangan tidak pernah disergap pesawat Belanda, meskipun dalam salah satu penerbangan ke Sumatra pernah kesasar karena cuaca buruk.
Surat kabar di Belanda ramai memberitakan hilangnya pesawat itu karena disergap pesawat Belanda. Namun pemerintah kolonial itu tidak pernah membenarkan atau membantah. Dengan demikian AURI menyatakan RI-002 dinyatakan hilang, dan tidak diketahui sebab musababnya.
Namun setelah 30 tahun menghilang, baru pada 14 April 1978 reruntuhan pesawat beserta kerangka jenazah ditemukan seorang penduduk yang hendak mencari kayu bakar di pegunungan Sumatera Selatan. RI-002 diperkirakan jatuh di Bukit Pungur, Kecamatan Kasui, Kabupaten Lampung, menabrak bukit akibat cuaca buruk.
Hal itu dibuktikan dengan penemuan kepingan bekas sayap pesawat yang telah disusun kembali bertuliskan RI-002. Kerangka jenazah sudah tidak bisa dikenali. Akhirnya, secara simbolik mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tanjung Karang dalam rangka peringatan Hari Bhakti TNI AU pada 29 Juli 1978.
 
Pada 27 September 1947 atas instruksi Wakil Presiden M.Hatta  dibentuk panitia pengumpul emas untuk pembelian kapal terbang di Bukit­tinggi dengan ketua Mr.Abdul Karim(Direktur Bank Negara)­,anggota terdiri dari Suryo, R.S Suryaatmaja dan residen Sumatra Barat Mr. M. Rasyid.
Selama lebih kurang 2 bulan panitia bekerja dengan bantuan tokoh masyarakat terkumpul emas perhiasan amai-amai sebanyak  1"belek” atau 1 kaleng biskuit, lalu emas itu dilebur menjadi emas batangan yang beratnya 14 kg lebih. Emas sebanyak itu memang tidak semuanya digunakan untuk membayar Anson. "Hanya 12 kilogram saja yang digunakan, sisanya untuk membeli mesin cetak untuk mencetak uang," cerita Abu Bakar Loebis kepada Angkasa baru-baru ini. 
Waktu itu mengumpulkan emas sebanyak itu tidak begitu sulit karena semangat amai-amai untuk berjuang mempertahankan kemer­dekaan juga bergelora, lagian amai-amai di tanah minang banyak yang memiliki emas perhiasan karena emas bagi mereka merupakan benda penyimpan kekayaan dan lambang kemuliaan seperti diung­kap pepatah, “bapak kayo, mandeh baameh, mamak disambah urang pulo”.
Setelah emas terkumpul diben­tuk lagi panitia pembelian pesawat diketuai oleh Abu Bakar Lubis. Untuk melakukan pembelian pani­tia berangkat ke Singapura menemui Perwakilan RI di sana yang juga orang awak minang Opsir Udara II Muhammad Sidik Attamimi dan anak “nyiak” H.Agussalim bernama Ferdi Salim yang bertugas sebagai Supply Mission AURI di negara singa itu.

 
 Opsir Udara II Muhammad Sidik Attamimi
Pesawat yang diincar tak lain adalah Avro Anson milik Paul H. Keegan, seorang warga negara Australia (seorang eks penerbang Royal Australian Air Force (RAF) pada Perang Dunia II). Bersama dengan petinggi RI di Singapura dan melalui H.Savega seorang broker dari Birma ditawarkan pesawat Avro Anson. Dan pesawat yang masih beregistrasi Australia, VH-BBY ini, ditawarkan pada pihak RI melalui Opsir Udara II Mohamad Sidik Tamimi (Mohamad Sidik Tamimi sendiri waktu itu sedang ditugaskan Nasution membeli peralatan perhubungan di Singapura). Pemilik bersedia menjualnya dan disepakati bahwa transaksi akan dilakukan di Bukittinggi, namun pemba­yarannya di Songkhla (Thailand) dengan harga 12 kg emas.
Pesawat bermesin Armstrong Siddeley Cheetah IX 320 tenaga kuda ini pun diterbangkan ke lapangan terbang Gadut, Bukittinggi dari Singapura (baca Angkasa, Januari 1995).
Dan pada awal Desember 1947 pesawat Avro Anson yang akan dibeli itu mendarat di lapangan udara Gadut, kedatangannya disambut antusias warga masyarakat. Tapi rupanya Keegan ingin pembayaran dilakukan di Songkla, Thailand.  

Avro Anson RI-003 (VH-BBY) di Lapangan Terbang Gadut, Bukittinggi, Sumatera Barat.
 Pemilik Avro Anson VH-BBY Paul Keegan bersama Savage (orang Burma) di Gadut, BukitTinggi.
 
 Pemilik Avro Anson VH-BBY Paul Keegan
 Avro Anson VH-BBY di Lanud Gadut, BukitTinggi.
Halim Perdana Kusumah, Ibu Iswahjudi, Savage (orang Burma),  Iswahjudi, Ibu Dick Tamimi. Sesaat sebelum berangkat ke Burma dengan Avro Anson RI-003 di Gadut, BukitTinggi.
 
Avro Anson RI-003 / VH-BBY di Lanud Gadut Bukittinggi sesaat sebelum berangkat ke Burma di Gadut, Yang menghadap kamera dari kiri ke kanan Ibu Iswahjudi, Opsir Udara II Muhammad Sidik Attamimi, Ibu Dick Tamimi, Ies Jasin
Halim Perdana Kusumah, Savage (orang Burma), Ibu Iswahjudi, Opsir Udara II Muhammad Sidik Attamimi, Aboe Bakar Loebis (petugas bendahara pengumpulan emas), Ies Jasin di Lanud Gadut Bukittinggi sesaat sebelum berangkat ke Burma

Pada 9 Desem­ber 1947 Avro Anson diterbangkan oleh Opsir Udara I Iswahyudi (Komandan Pangkalan Udara Gadut)  dan Halim Perda­nakusuma (Wakil II Kepala Staf Angkatan Udara merangkap pejabat AU pada Komandemen Sumatera) sebagai navigator. Halim Perdanakusuma ikut serta dalam penerbangan itu selain sebagai navigator juga bertujuan untuk meminta bantuan dari angkatan udara Thailand. Keduanya memang diperintahkan Suryadarma untuk membangun AURI di Sumatera. Penerbangan tersebut menuju ke Songhkla Thailand, Awak lainnya adalah Ies Yasin sebagai operator, Opsir Udara II Mohamad Sidik Tamimi, H.Kegan sendiri, seorang pemuda Burma H. Savage serta staf Wakil Presiden, Aboe Bakar Loebis sebagai penumpang ("30 Tahun Indonesia Merdeka" - Red). termasuk Dick Tamimi dan , tiba di negeri gajah itu sore hari.
Namun sesampainya di Thailand, tim diusir dengan tuduhan penyelundupan. Dick Tamimi beserta para anggota melarikan diri lewat jalan darat dengan rencana jalur Penang-Singapura-Bukittinggi. Sedangkan pesawat dilarikan oleh Halim Perdana Kusuma dan Iswahyudi. Namun baru satu jam mencapai Singapura,17 Desember 1947, tim darat dikejutkan dengan telegram dari pejabat di Malaka yang menyebutkan Avro Anson yang dikemudikan Halim dan Iswahyudi jatuh di Pantai Selat Malaka, dekat Tanjung Hantu,  negara bagian Perak Malaysia. Jenazah Halim diketemukan, sedangkan jenazah Iswahyudi tidak diketemukan hingga sekarang. Penyebab jatuhnya kapal pun masih misterius, apakah kecelakaan atau sabotase.

Anggota tim darat, termasuk Dick Tamimi pun tidak luput dari masalah. Aktivitas penyelundupan mereka membuat mereka dikenai status Persona non Grata dari pemerintah Inggris di Malaysia dan Singapura, yang menurut keterangan Allan Tamimi, putra Dick, berlaku 15 tahun, hingga tahun 1962. Namun akhirnya mereka berhasil kembali ke Bukittinggi.

Avro Anson RI 003

RI 004
Avro 652A Anson 1

Sama dengan RI-003, pesawat bermesin ganda ini pun dibeli dari hasil sumbangan emas masyarakat Sumatera. Adalah Abdul Teuku Hamid Aswar yang turut berperan dalam pembelian ini.
Teuku Abdul Hamid Aswar yang juga dikenal sebagai seorang wartawan, sebenarnya adalah warga Aceh yang pindah ke Sumatera Barat akibat revolusi sosial tahun 1946.
Atas saran Presiden Soekarno, Teuku Abdul Hamid Aswar dan beberapa rekannya membentuk perusahaan untuk menembus blokade ekonomi Belanda pada tahun 1947 dengan nama Central Trading Corporation (CTC). Perusahaan yang berkedudukan di Bukittinggi ini diberi wewenang untuk mengusahakan peralatan yang dibutuhkan TNI.
Emas yang digunakan untuk membeli Avro Anson RI-004 (
ex VH-AGX), sebagian berasal dari perhiasaan istri Teuku Hamid Aswar. "Selain berupa perhiasaan, ada juga emas lembaran seperti pembungkus dalam kotak rokok," cerita Syahrul Aswar, putera Teuku Hamid Aswar kepada Angkasa. 
Walau jenisnya sama dengan RI-003, namun Anson RI-004 bernasib lebih baik. Pada Desember 1947 sampai April 1948, RI-004 ini ada di Bukittinggi. Saat Presiden Soekarno akan mengadakan kunjungan kerja ke Sumatera, pesawat buatan tahun 1935 ini diterbangkan dari Bukittinggi ke Yogyakarta. Sayangnya Anson ini hancur akibat serangan Belanda saat Clash II, di Lanud Maguwo sebelum digunakan.

 
RI 005 
Consolidated PBY-5A Catalina

Catalina RI 005 (ex VH-BDP) semula merupakan pesawat milik RR Cobley, seorang mantan penerbang RAAF (Royal Australia Air Force) dalam Perang Dunia II. Para pejuang menyewa pesawat ini dari Cobley setelah mereka bertemu di Bangkok. "Pada kesempatan inilah Cobley menawarkan untuk menyewakan pesawat pribadinya kepada pemerintah RI guna membantu perjuangan kemerdekaan," dia menjelaskan.
Oleh pemerintah RI, nomor register pesawat itu langsung diganti menjadi RI 005. Untuk pertama kalinya Cobley mendaratkan pesawat amfibi ini di Danau Tulung Agung, Jawa Timur, pada tahun 1947. Pada 1948, Catalina 005 diterbangkan ke Sumatera dan mendarat menggunakan berbagai pangkalan air seperti di Sungai Batanghari.
Tugas yang diemban Catalina RI 005 antara lain adalah untuk menghubungkan komando militer dengan Komandemen Sumatera di Bukit Tinggi serta pemindahan perwira-perwira tinggi dan menengah dari Yogyakarta, termasuk pengiriman barang-barang untuk kebutuhan militer di Yogyakarta.
"Pesawat ini membawa makanan, pakaian, dan perlengkapan militer dan sipil. Selain itu juga sebagai penghubung antara Kota Jambi dan kota lainnya seperti Bukit Tinggi, Prapat, Banda Aceh, Tanjung Karang, Yogyakarta, serta Singapura," ujar Helmi.
Namun, rencana awal pesawat ini digunakan untuk menyerang pangkalan udara Belanda di Talang Sumut, Palembang, tidak terlaksana karena kerusakan mesin. Saat Belanda berhasil menduduki Jambi pada 29 Desember 1948, para pejuang berusaha memindahkan pesawat ini dari Sungai Batanghari menuju Singapura untuk mencegahnya jatuh ke tangan Belanda.
Dengan hanya mengandalkan satu mesin, Cobley beserta mekanik Jon Londa dan seorang penumpang, Prangko, menuju Singapura untuk menyelamatkan diri sekaligus melengkapi suku cadang mesin yang rusak.
"Pada saat itu, sekitar pukul 18.30 WIB, karena salah satu mesinnya rusak, pesawat jadi tidak seimbang dan menabrak kapal tongkang yang sengaja ditenggelamkan melintangi sungai sebagai upaya mencegah masuknya Belanda ke pedalaman Jambi. Akibatnya, sayap pesawat patah dan tenggelam ke sungai," dia mengisahkan.
Dalam kecalakaan ini pilot RR Cobley dan mekanik Jon Londa meinggal. Sedangkan Prangko yang juga Kepala Tata Usaha Markas Pertahanan Surabaya, selamat.
Walaupun hanya bertugas dua tahun, kehadiran Catalina RI 005 dalam sejarah perjuangan kemerdekaan di Jambi dipandang penting.

 
RI 006
Consolidated PBY-5A Catalina

RI-006 (ex PI-C274) pada tanggal 19 Desember 1948 baru saja mendarat dari sehabis menjalankan missi penerbangan ke Sumatera. Pada saat akan mendarat sang pilot tidak mengetahui  kalau Lapangan Udara Maguwo telah diduduki oleh Belanda. Para awak pesawat sangat terkejut ketika saja mereka tiba-tiba saja ditangkap oleh Belanda dan pesawat disita oleh Belanda dan diambili suku cadangnya untuk pesawat Catalina milik Belanda.
Para penumpang pesawat PBY Catalina RI-006 yang ditangkap Belanda di PU Maguwo pada tanggal 19 Desember 1948 saat baru saja pulang dari Tanjungkarang.
Para penumpang pesawat PBY catalina RI-006 yang dipiloti oleh James Fleming (tidak ditahan karena berwarga kenegaraan Amerika), dan co pilotnya Harnoko Harbadi (salah seorang penerbang AURI yang terlibat pengeboman di daerah musuh Ambarawa), lalu flight engineer Billani Valenova, Mayor Arif dan beberapa Staff Kementrian Keuangan RI, diantaranya Bung Basri serta Bintara juru radio yaitu Sersan Udara Harjanto. Semula semua penumpang pesawat RI-006 disuruh keluar pesawat dan digiring ke tengah lapangan untuk ditembak mati. Secara kebetulan datang beberapa perwira Belanda yang berkendaraan dan dengan cepat menuju ke arah para tawanan berada. Salah satunya memerintahkan agar jangan menembak. Kemudian mereka segera diangkat ke gedung menara yang sebagian telah hancur, untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Akhirnya dengan pengawalan Belanda mereka diangkut ke Melaten, Candi Selatan Semarang.
 

Di Melaten, Candi Selatan Semarang di sana dikumpulkan para tahanan perang yang ditangkap oleh Tentara Belanda diantaranya :
Letkol Daan Yahya
Mayor Daeng
Kapten Soedarto Staff KTN (Komisi Tiga Negara yang mengawasi gencatan senjata selama perjanjian Renville) yang bertugas sebagai pengantar anggota KTN.
Serma Soemitro
Sersan Soewarso dari Kementrian Pertahanan RI
Vandrig Cadet Surabaya
Cadet Seno,
Nah ketiga nama terakhir yaitu Cadet Seno, Vandrig Cadet Surabaya, Serma Soemitro yang sama yang lainnya disuruh mengaku sebagai pelajar atau siswa SLTA karena mereka masih sangat muda-muda. Ternyata pengakuan siswa mereka oleh Belanda dipercaya dan dilepas dari tawanan. 

Mulai tanggal 9 April 1954, AURI menggunakan lambang segilima.



Kadet AURI di TALOA, duduk di paling kanan Ignatius Dewanto, duduk tengah Sri Bimo Ariotedjo, berdiri no 2 dari kanan (mungkin) Wisnu Djajengminardo.
Satu batch dengan Pak Ign.Dewanto lulus sebagai Fighter adalah Hapid Prawiranegara, Iskandar, Aried Riyadi, Dono Indarto, Sogiarto dan Soemitro. Kalau Pak.Omar Dani, bersama Leo Wattimena dan A.Andoko lulus sebagai Instructor training.

Ignatius Dewanto, pangkat terakhir Komodor Udara (setara Brigjen).
Ignatius Dewanto adalah kadet Taloa yang juga fisry class pilot menurut instruktur di Taloa.
Boeing E 75 Stearman 
 
Pesawat J3CL-4J Piper Cub

Pesawat L-4J Grasshoper

Auster MkII


 
Vultee BT 13 Valiant

Bapak Marsda TNI (Purn) Sudjatio Adi di depan pesawat AT 16 Harvards
-----------------------------------------------
Foto thn 1956 sewaktu Marsda TNI (Purn) Sudjatio Adi menjadi Taruna Penerbang TNI-AU di Lanud Kalijati, berpangkat Kopral taruna; jadi sewaktu Marsda TNI (Purn) Sudjatio Adi berumur 21 thn. Tahun 1964 Marsda TNI (Purn) Sudjatio Adi sudah tidak menerbangkan pesawat TU-16 lagi Marsda TNI (Purn) Sudjatio Adi menjadi Dan Skad Pendidikan di Jogya. Pada tahun 1965 Marsda TNI (Purn) Sudjatio Adi merangkap menjadi Dan Men Karbol. Pada tahun 1966 Marsda TNI (Purn) Sudjatio Adi dipindahkan ke Malang jadi Dan Wing.


NA / AT 16 Harvards











 Atraksi Pesawat P-51 Mustang pada HUT TNI Angkatan Udara 9 April 1951.

Pesawat P 51 K Mustang AURI dengan no register F 305 dengan livery yang tidak seperti biasanya dan ini mungkin yang digunakan untuk Indonesia Display Team. Pesawat ini merupaan salah satu pesawat P 51 hibah dari NEIAF dengan no register P-51-K-15-NT-44-12754. nampak peluncur roket yang terpasang di sayap mirip dengan desainnya Swiss hanya saja ini tidak sama dengan Mustang yang digunakan oleh Angkatan Udara Swiss.
(via Benno Goethals).




Daya gempur AURI nyaris sempurna karena ditopang oleh 40 pesawat pemburu P-51 Mustang. Dengan pesawat inilah AURI kemudian menggelar sejumlah operasi kamdagri.


Terlihat Presiden Soekarno didampingi KSAU Suryadarma melakukan pemeriksaan penerimaan P-51K Mustang di Lanud Cililitan pada tahun 1950.

 Presiden Sukarno menginspeksi pesawat P 51 K Mustang milik AURI
Nampak pula putra dan putrinya Presiden Sukarno


Para penerbang Mustang Skuadron 3 berfoto bersama di Halim tahun 1958. Duduk dari kiri Rusman, Ashadi Tjahyadi, Hapid Prawiranegara, Roesmin Noerjadin (komandan), Ign Dewanto, Soejoedi (penvira teknik). Berdiri dari Soewondo, Hashary, Loely Wardiman, Goenadi, Dono Indarto, dan Moesidjan. 

 
 Foto insert adalah Kolonel (pur) Gootschalk, penerbang Mustang ML yang memperkuat AURI dan membidani lahirnya Skuadron 3.

Sebuah Mustang tengah disiapkan oleh kru darat sebelum melaksanakan penerbangan.


Jejeran Mustang dalam persiapan terbang di Lanud Cililitan.

 
Foto yang memperlihatkan sejumlah Mustang ketika disiapkan dalam operasi menumpas pemberontakan PRRI di Sumatera. Foto diambil di Lanud Pekanbaru. Kehadiran Mustang cukup membuat kelompok PRRI jeri dan menghentikan perlawanannya. Tak lama kemudian, Mustang dikirim ke Ambon untuk menumpas gerakan Permesta.
 





 
North America P 51 K Mustang

 
 


Cavalier P 51 D Mustang II



 
 Kapten (Pnb) Sri Muljono Herlambang, di depan B-25 versi Strafer saat persiapan "Operasi Merdeka".
 
 
 
 Sri Muljono Herlambang, kanan berdiri bersama Soetopo dan Suyitno Sukirno ketika menjadi siswa penerbang B-25.Ketiga dari kanan (berdiri), Capt.Nino, bekas penerbang B-25 Belanda yang kemudian hari menjadi Instruktur B-25. Foto ini ada di depan pesawat B 25 versi Recce


Pesawat B-26 TNI AU beroperasi di Timtim tanpa tanda pengenal - Dispen AU.
 
 
 
North America B25 Mitchell

 
Sebuah pembom medium B-26 Invader dengan tambahan nose art bertema "shark teeth" di Lanud Abdulrahman Saleh, Malang. Era 1950-an ditandai dengan melimpahnya jenis pesawat yang diperoleh AURI sebagai hibah dari ML Belanda pasca KMB. Dengan pesawat-pesawat inilah AURI melakukan lompatan teknologi. Di era ini pula AURI mulai mengenal era jet dengan datangnya DH-115 Vampire dari Inggris.


 B-26 Invader saat akan melakukan persiapan Operasi Seroja di Timor Timur


 
B 26 Invander



de Havilland DHC-2 Beaver



de Havilland Otter/DHC-3 

Kenangan lama de Havilland Otter/DHC-3 milik TNI AU.
Pada jaman Orde Lama TNI AU memiliki 6 buah de Havilland Otter/DHC-3 yang ditempatkan di Skuadron 4 keenam buah de Havilland Otter/DHC-3 yaitu dengan no register :
T-200 DHC-3 Amphi. 263 ex ELL-200 d/d 1958 (as ELL-200?) SkU.4,
T-201 DHC-3 266 ex ELL-201 d/d 1958 (as ELL-201?) SkU.4,
T-202 DHC-3 Amphi. 300 d/d 1959 SkU.4,
T-203 DHC-3 Amphi. 303 d/d 1959 SkU.4,
T-204 DHC-3 306 d/d 1960 SkU.4,
T-205 DHC-3 309 d/d 1960 SkU.4,
T-206 DHC-3 315 d/d 1960 SkU.4,
Dari keenam pesawat tersebut 4 buah diantaranya kemudian dihibahkan ke Merpati Nusantara bersama dengan 2 buah Dakota. Adapun keempat DHC 3 yang dihibahkan ke Merpati adalah sebagai berikut :
T-202 DHC-3 Amphi jadi PK-NUF Merpati.
T-204 DHC-3 306 jadi PK-PHA Merpati.
T-205 DHC-3 309 jadi PK-PHB Merpati.
T-206 DHC-3 315 jadi PK-PHC Merpati.

C-7 Skyvan



 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 
Grumman HU 16 C Albatros




Berbekal delapan Catalina dari Belanda di bentuklah Skadron 5. Pada saat itu dari jumlah tersebut, paling tidak ada enam Catalina yang laik terbang. Selama digunakan AURI, dua Catalina hancur semasa operasi pemberantasan Permesta. Satu di Liang dan lainya di Balikpapan saat akan ganti ban.Akibat ulah Allan Pope.


Foto di atas adalah saat PBY-5 Catalina AURI membawa Presiden Soekarno dan rombongan, kembali dari kunjungan ke daerah Mandai, Sulawesi. Pesawat tidak disiapkan untuk Air Force 1,kondisinya ya seadanya.Semua penumpang pejabat.Ada Presiden, Kolonel Nasution, beberapa dubes, dan wartawan.Mungkin krn sangat letih, dengan cueknya Bung Karno rebahan di atas Velbed.Sementara para dubes, ada yg duduk di Lantai.Pak Nas, kebagian berdiri.Begitu byk rombongan presiden,hingga dlm mendukung misi ini diterbangkan dua PBY-5 Catalina. Serunya ketika menempuh jalur ke Pare-pare.Sudahlah pesawat Over Load hingga lepas landasnya berat, diperjalanan, pesawat "kepresidenan"ini di hujani tembakan dari bawah oleh pasukan Kahar Muzakar."Soekarno tdk pernah tahu kejadian ini",aku Pak Nurprapto (pilot Catalina AURI),Nurprapto hanya berupaya keluar dari track, dan bertahan pada 5000 kaki.

 
 

PBY 5 Catalina

 
Grumman G-21A Goose

Pada tahun 1950 AURI menerima 2 buah pesawat Grumman G-21A Goose. Kedua buah pesawat itu setelah bergabung di AURI diberi no registrasi PB 518 (ex PK-AKA) dan PB 521 (ex PK-AKB) yang tergabung di dalam Skuadron 5.  Pada tahun 1971 pesawat PB 518 diserahkan ke maskapai penerbangan Merpati.  Sedangkan yang PB 521 sekarang masih tersimpan di Museum Suryadarma Kalijati Subang Jabar.


 
Lockheed L 12 (C 40)


 SAL Twin Pioneer

 Indonesia mendapatkan hibah dari Tentara Udara Diraja Malaysia sebanyak 3 buah SAL Twin Pioneer c/ns 581, 584 and 588. Untuk no seri di TNI AU tidak pernah dilaporkan. Terakhir nampak di Lapangan Udara Rumpin Tangerang.

Setelah peristiwa penembakan pesawat VT-CLA oleh pesawat P 40 Belanda membuat marah Pemerintah India.
 Pesawat VT CLA yang ditembak jatuh oleh P 40 Kitty Hawk Belanda
yang kemudian jatuh di daerah Ngoto

Negara tersebut kemudian melancarkan protes keras terhadap Belanda melalui Dewan Keamanan PBB dan meminta ganti rugi atas pesawat Dakota VT-CLA yang hancur berkeping-keping. Atas tekanan dunia internasional maka akhirnya pemerintah Belanda menyetujui ganti rugi yang dituntut oleh Pemerintah India tersebut. Walaupun pemerintah Belanda melaksanakan pembayaran ganti rugi pada tahun 1951, 2 tahun setelah Belanda mengakui kedaulaan Republik Indonesia. Belanda menyerahkan pesawat jenis C-47 Dakota kepada Pemerintah India sebagai pesawat pengganti VT-CLA.
Lalu oleh pemerintah India kemudian menyerahkan pesawat tersebut kepada pemerintah Indonesia di New Dalhi India. Penerimaan pesawat pengganti itu dilakukan oleh Komodor Udara Wiweko Soepomo sebagai Komandan Komando Teknik Udara Angkatan Udara Republik Indonesia.
 
Pesawat Dakota dengan registrasi T 482 sebagai pengganti pesawat VT-CLA dari Pemerintah Belanda.




Senapan Mesin Berat 12,7 mm dipasang pada C-47 untuk membuat sebuah gunship.Kelak akan bermanfaat pada Operasi Seroja di Timtim.


 



C 47 Dakota




Pesawat Ilyusin Il-14 yang didatangkan dari Chekoslovakia pada bulan Juni 1958 ditempatkan di Skuadron 2 dan Skuadron 17 Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta
Dalam foto nampak pesawat Ilyusin Il-14 no T-401 kalau tidak salah nama panggilannya pesawat untuk kepresidenan ini adalah "Dolok Martimbang".

 
 Pesawat Ilyusin Il 14 yang digunakan membawa jenasah Usman dan Harun kembali ke Ibu Pertiwi Indonesia.

Ilyusin IL-14 Avia

 
 
 An12

Saat itu di era 1960-an paling tidak AURI mengoperasikan enam pesawat angkut berat Antonov An-12 dan kesemuanya tergabung kedalam skadron 32 Lintas Udara di Lanuma Husein Sastranegara, Bandung. 
 
 
 
 
 
 
 
 
NU-200 Si-Kumbang
 
 
 
NU-58 Si-Belalang 90

 
Si-Kunang 25

 
Nurtanio sedang menerangkan tentang pesawat Si- Kunang Nu 25

Si-Kunang 25 di Museum Satria Mandala Jakarta

Tahun 1950, TNI AU mengirimkan 60 orang calon penerbang ke California Amerika Serikat, mengikuti pendidikan terbang pada Trans Ocean Airlines Oakland Airport (TALOA). Saat itu TNI AU memiliki pesawat dari Uni Sovyet dan Eropa Timur, berupa MiG-17, pembom TUPOLEV TU-2, dan pemburu LAVOCKHIN LA-11. Pesawat-pesawat ini mengambil peran dalam Operasi Trikora dan Dwikora.
TNI AU mengalami popularitas nasional tinggi dibawah dipimpin oleh KASAU Kedua Marsekal Madya TNI Omar Dhani awal 1960-an.



Lavockhin La 11


LA 11 datang tahun 1958, dan hanya sebentar berdinas di AURI, karena dalam waktu 2-3tahun, digantikan pesawat buatan dari pabrikan MIG.




 Tu 2 milik AURI dahulu. Tu-2 No seri 7 (ex 2250) 


Awak pesawat TU 2 bergambar sejenak di samping pesawat sebelum mengikuti penerbangan cross country di atas dataran China, para awaknya antara lain SMU Asari As, LMUS Buang Ariadi, SMU Daud Syah 


Sebuah pesawat TU 2 sedang adalam persiapan penerbangan ke Indonesia
TU 2
Tu-2 TNI AU hibah dari RRC. TU 2 datangnya sama seperti LA 11 tahun 1958, sebelum era TU 16 dan Mig / Mil / IL. TU2 AURI, hanya bertahan sebentar dinasnya (<1tahun) , karena mesinnya tidak cocok dengan iklim tropis, ada beberapa rumors mengenai nasib TU 2 :
(1). dikembalikan ke USSR,
(2). dihibahkan ke salah satu negara aliansi USSR




 
PZL-Mielec TS-8 Bies



Beech T-34A Mentor


 Peluru kendali SA 2 milik TNI AU di tahun 1960an.

 Peluru kendali SA 2 milik TNI AU di tahun 1977 dan latar belakangnya C 130 Hercules milik TNI AU.


 
 Peluru kendali SA 2 milik TNI AU 
di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala
  


 

 
Satuan Radar mobil yang mendukung operasional TNI AU
 

Pos-pos radar yang mendukung operasional TNI AU
 Pantauan di pos komando

Sebelum tahun berganti ke 1960, AURI menapakkan kakinya teramat tinggi dengan mengoper­asikan pesawat jet DH-115 Vam­pire buatan de Haviland Inggris. Pesawat ini mulai memperkuat AURI pada Februari 1956. Pada tanggal 20 Maret 1957 diresmikan menjadi kekuatan utama pancar gas di bawah Skadron 11 (jet latih tempur).
 

Kesatuan Pancar Gas atau skadron jet pertama di AURI.Ini pesawat DH-115 Vampire setelah selesai di rakit.



 
DeHAviland D115 Vampire


Bukan secara kebetulan kalau Skadron Udara 11 yang diresmikan 1 Juni 1957 mempu­nyai makna khusus bagi Angkatan Udara Republik Indonesia. Pada masa itu kekuatan AURI berdasar Skep Kasau Nomor 28A/11/KS/1951 tertanggal 23 April baru terdiri dari lima skadron dengan sistem penomoran angka Romawi. Kedatangan delapan unit jet DH (De Haviland)-115 Vam­pire dari Inggris merupakan awal dari kelahiran skadron ini. Pesawat ini terlebih dulu ditempatkan di kesatuan khusus, yakni Kesatuan Pancar Gas.
Akan tetapi kesatuan yang diresmikan 20 Februari 1956 ini tidak berumur panjang. Setahun berikutnya, pada 20 Maret 1957, KSAU memantapkannya menjadi Skadron XI menyusul kedatan­gan pesawat tempur MiG. KPG DH-115 pun dilebur ke dalam skadron ini. Angka sebelas tak lain Bari umur AURI ketika skadron jet tempur pertama ini dibentuk. Untuk itulah makna angka ini menjadi penting, terlebih karena sejak kelahiran Skadron 11, TNI AU mulai menata sistem penomo­ran skadron udaranya. Sebagai) mandan skadron pertama Lettu Udara Leo Watimena.
Selain perwira TNI AU seperti Leo Wattimena, sejumlah kadet penerbang ALRI yang tengah mengikuti pendidikan terbang di Inggris juga sempat mengecap terbang di Vampire seperti Lmd REBO Tjokrodiredjo dan AHK Hamami. Ketika Skadron 11 mulai operasional, kedua penerbang ini sempat diperbantukan ke AURI untuk mengawaki skadron seka­ligus untuk memelihara kemam­puan kedua penerbang. 













Kapten Penerbang Rahadi Sukandar.
Lanuma Iswahyudi 1973.

Sumber : Foto Pribadi Rahadi Sukandar.

 


 
L 24/29 Doulphin





 
 




Letnan Udara I Gunadi salah seorang penerbang jet kita dengan tersenyum bangga siap memasuki kokpit MiG 15 UTI



MIG 15 UTI Fagot





 


Foto Daniel Alexander Maukar (kiri),instruktur Mesir dan salah satu rekan penerbang saat belajar menerbangkan MiG di Mesir.

 
 


 
 Bapak PGO.Noordraven dan Bp.Kardono, meninjau sebuah 
pesawat MiG 17 PF saat di Kemayoran

 
 
 Sebuah pesawat MiG 17 dimasukkan ke dalam pesawat C 130 Hercules


 
 Pesawat Buru Sergab MiG-17 di tempat persembunyiannya,saat mendukung Operasi Udara AURI. Dijaga dan diawasi dengan ketat oleh personel PGT.Foto diambil saat MiG-17 sedang di isi bahan bakar oleh personel AURI.
 
 Yang berdiri tinggi kemungkinan Letnan Udara I.Willeam Oscar Kundimang
dan selain itu salah satunya ada Alexnader David Maukar
 
 Letnan Udara I Gunadi di depan pesawat MiG 17

Gugurnya Letnan Udara I Gunadi.
Siang itu tanggal 29 Juni 1962 di Lanud Letfuan, semua penerhang dan kru sudah siap di kokpit masing-masing untuk melakukan penerbangan operasi. Tiba-tiba di ujung landasan terlihat asap hitam mengepul ke udara, sedangkan tadi baru saja terlihat sebuah MiG­17 lepas landas dengan misi mengintai kapal perang Belanda di Teluk Kaimana. Pengintaian ini sehari sebelumnya telah dilakukan juga oleh pesawat B-25 Mitchell yang dikawal P-51 Mustang, namun tidak berhasil karena diganggu oleh pesawat Neptune Belanda.
Asap yang mengepul itu ternyata berasal dari sebuah MiG-17 yang jatuh setelah lepas landas. Afterburner pesawat rupanya tidak bekerja dengan balk, padahal landasan Letfuan relatif pendek sementara pesawat membawa beban amunisi cukup berat. Karena itu menjadi prosedur standar bagi pesawat yang membawa beban maksimal untuk lepas landas menggunakan afterburner.
Sampai di ujung landasan pesawat sebenarnya sudah airborne namun tidak bisa naik, sedangkan di depannya ada sebuah bukit kecil. Mungkin karena beban yang dibawa terlalu berat ditambah afterburner tidak berfungsi dengan balk, mengakibatkan pesawat kehilangan daya untuk bisa menambah ketinggian. Beberapa saat kemudian MiG-17 yang diterbangkan oleh Kapten Gunadi itu menabrak bukit sehingga menyebabkan Gunadi gugur di tempat. Kejadian itu disaksikan langsung oleh Panglima Mandala Mayjen Soeharto yang kebetulan sedang berada di Letfuan. Sementara wingman Letnan Udara II Slamet Heriyanto bertiasil airborne, sewaktu di udara meminta petunjuk kepada Letnan Udara I Oetomo yang akan slap menerbangkn UH-1 Albatros untuk membantu SAR. Mungkin ia gugup melihat leader-nya gugur, Oetomo diperintahkan untuk terbang terus sampai bahan bakarnya cukup untuk mendarat. Slamet melaksanakan instruksi dari Oetomo dan mendarat kembali di Latin dengan selamat. 





MIG 17 Fresco




 
 Foto Letnan Udara I.Willeam Oscar Kundimang saat akan terbang dgn MiG-19 Farmer AURI. Beliau adalah perwira yg bersama Komodor Udara Ign.Dewanto, yang mendamaikan baku tembak antara Kompi Yon-454/Raiders Jawa Tengah dgn Kompi Yon-1 RPKAD di sekitar Pondok Gede. Terakhir berpangkat Letkol, dan merasa karir beliau di AU tdk cemerlang pasca G30S/PKI, beliau menekuni pekerjaan di swasta dan sukses.
 

 

  MIG 19 Farmer

MiG­19 relatif masih baru, namun mempunyai akhir pengabdian yang memilukan. MiG-19 dijual ke Pakistan, bahkan beberapa penerbang dan teknisi juga dikirim ke Pakistan dalam Operasi Pakis untuk membantu Pakistan yang terlibat konflik dengan India. Bantuan MiG-19 ini ditukar dengan empat unit pesawat Lockheed Constelation yang ternyata performanya buruk. Pesawat ini hanya dipakai beberapa tahun saja sebelum akhirnya di-ground­ed.






 
 
 Scramble...... Go...go...!!!
Hal yang biasa pada saat itu, dimana para penerbang Wing 300 buru sergap melaksanakan sikap selalu siaga untuk bertempur dan bereaksi cepat....Semua Fighter, Full Armament and Ready to Combat.
 
 
 Pada tanggal 29 Agustus 1962, Mayor Udara Roesman berhasil menerbangkan MiG-21 F-2154 menembus kecepatan suara diatas 2 Mach (2500 Km/jam) pada ketinggian 70.000 kaki, di atas wilayah udara Madiun.Ini merupakan rekor baru bagi penerbang Indonesia saat itu.

 
Foto Bapak Marsma TNI (Pur) Rudi Taran bersama MiG-21 bernomor 2160 yang kerap beliau pakai. Foto ini, saat beliau berpangkat Letnan Udara II.


Tapi bagi Rudi, pengalamannya saat Operasi Dwikora dan masa-masa kejayaan pesawat Mig, adalah saat yang indah dalam karirnya sebagai penerbang tempur. Dalam Operasi Dwikora, Mig-21F di stand by kan di Medan. Marsma TNI (Pur) Rudi Taran menuturkan pengalamannya saat mengikuti Operasi tersebut, “…Kenangan menarik adalah ketika ditugasi menguji Hanud Malaysia di Butterworth-Pangkalan Pembom Tempur milik Inggris. Seorang diri, tahun 1964, yakni ketika hubungan Indonesia-Malaysia tegang. Dari Medan saya take off setengah enam sore dan heading saya arahkan lurus ke Butterworth. Persenjataan penuh. Selain canon, saya juga dibekali rudal K-13. Ternyata kesiapan pesawat mereka memang hebat. Setelah kira-kira 10 menit, tower memberi tahu 4 pesawat naik dari Butterworth. Boleh jadi Hawker Hunter. Saya sudah kenal perilakunya karena sering papasan di atas Selat Malaka, termasuk dengan pembom Vulcan. Arah tidak saya ubah, begitu pula mereka. Kami siap duel. Tetapi, begitu sampai perbatasan, namanya juga menguji, saya pun berbelok ke utara lalu menyusur Selat Malaka. Kami pun berpisah. Sebenarnya kita diperkenankan menembak, asalkan saja yakin pesawat-pesawat itu jatuh di wilayah kita.”

 
 Kapten Udara.Jahman.  Komandan Skadron Udara 14 ke tiga, yaitu dari tahun 1964-1966,yang membawahi MiG-21F Fishbed.

Ini pakaian G- Suit pertama yang menarik perhatian Barat, saat itu Prancis saat itu juga memakai G- Suit spt ini kpd para penerbang Mirage nya. Dan harus dibutuhkan dua orang utk membantu memakaikan pakaian terbang




 


 MIG 21 Fishbed

 


KSAU Suryadarma (kiri) sedang inspeksi Pembom Ilyushin IL-28 bersama penerbang Leo Watimena (paling kanan). Kalo yang kurus kecil disamping Pak Suryadarma sepertinya Pak Nurtanio, karena beliau memang sangat dekat dan bersahabat dgn Pak Leo.

 




Monumen Ilyusin Il-28 di Lanud Juanda Surabaya 
dan ini satu-satunya Ilyusin Il-28 yang masih tersisa
Ilyusin Il-28


Tu-16 dengan nomar registrasi 16001, yang berarti pesawat pertama yang tiba di Tanah Air. Karena kemampuan terbangnya yang jauh, tak jarang ketika itu Tu-16 terbang hingga memasuki wilayah udara Australia atau Malaysia. Sayang karena urusan politik, nasib Tu-16 berakhir muram. Kekurangan suku cadang jadi penyebab utama untuk kemudian pesawat ini harus gounded. 

Tu 16 dan MiG 19 saat melintas Jakarta dalam rangka HUT TNI.
Terlihat rudal Kennel yang ditakuti, tergantung di sayap Tu-16.

 
Pilot, Co-Pilot & Crew Tupolev TU-16 AURI 1625.

 

 
 
 
TU 16 Badger 
  
Tu-16, Pembom Strategis Yang Menakutkan. Meski sekarang sering dilecehkan, setidaknya TNI AU pernah merasakan menjadi yang terkuat tidak cuma di Asia Tenggara tapi bisa jadi di Asia. Sebagai perband­ingan, ketika itu China, India, dan Australia belum punya pembom strategis atau jet tempur Mach 2. Hanya AS yang mengoperasikan pembom B-58 Hustler, Inggris dengan V bombernya, dan tentu Rusia sendiri. Khusus untuk Tu-16, selain Indonesia juga dioperasikan oleh Mesir.
Untuk saat itu, keberadaan Tu­16 memang cukup menakutkan. Dengan jangkauan terbang hingga 7.200 km, kecepatan mencapai 1.050 km per jam, dan ketinggian terbang hingga 12.800 km, wajar saja AURI sangat disegani. Apalagi muatan born yang bisa dibawa mencapai 9.000 kg. Ketika itu Tu­16 dibeli untuk menutupi kemam­puan B-25 yang sangat terbatas, disamping tentu embargo suku cadang dari AS. Saat itu AURI mengoperasikan Tu-16 di bawah kendali Wing Operasi 003. Wing ini membawahi Skadron 31 dengan kekuatan 14 Tu-16 Badger A sebagai skadron pembom strategis, dan Skadron 42 dengan 12 Tu-16 Badger B KS sebagai skadron peluru kendali udara ke darat.
“Tu-16 masih dalam pengem­bangan dan belum siap untuk dijual,” ucap Dubes Rusia untuk Indonesia Zhukov kepada Bung Karno (BK) suatu siang di pengujung tahun 1950-an. Ini menandakan, pihak Rusia masih bimbang untuk meluluskan permintaan Indonesia membeli Tu-16. Tapi apa daya Rusia, AURI ngotot. BK terus menguber Zhukov tiap kali bersua. Mungkin bosan dikuntit terus, Zhukov melaporkan keinginan BK kepada Menlu Rusia Mikoyan. Usut punya usut, kenapa BK begitu semangat? Ternyata, Letkol Salatun-lah pang­kal masalahnya. “Saya ditugasi Pak Surya (Suryadarma) menagih janji Bung Karno setiap ada kesempatan.”
Ketika ide pembelian Tu-16 dikemukakan Salatun yang saat itu Sekretaris Dewan Penerbangan/ Sekretaris Gabungan Kepala­kepala Staf kepada Suryadarma pada tahun 1957, tidak seorang­pun tahu. Maklum, TNI tengah sibuk menghadapi PRRI/Permesta. Namun dari pemberontakan itu pula, semua tersentak. AURI tidak punya pembom strategis. B-25 yang dikerahkan menghadapi AUREV (AU Permesta) malah merepotkan. Karena daya jelajah­nya terbatas, pangkalannya harus digeser, peralatan pendukungnya harus diboyong. Waktu dan tenaga tersita. Sungguh tidak efektif. Celaka lagi, AS mengembargo suku cadangnya Alhasil, gagasan memilild Tu-16 semakin terbuka.
Salatun yang menemukan proyek Tu-16 dari majalah penerbangan asing tahun 1957, menyampaikannya kepada Surya­darma. “Dengan Tu-16, awak kita bisa terbang setelah sarapan pagi menuju sasaran terjauh sekalipun dan kembali sebelum makan siang,” jelasnya kepada KSAU. “Bagaimana pangkalan­nya,” tanya Pak Surya. “Kita akan pakai Kemayoran yang mampu menampung pesawat jet,” jawab Salatun. Seiring disetujuinya rencana pembelian Tu-16, landas pacu Lanud Iswahyudi, Madiun, turut diperpanjang.
Proses pembeliannya memang tidak mulus. Sejak dikemukakan, barn terealisasi 1 Juli 1961, ketika Tu-16 pertama mendarat di Kemayoran. Saat lobi pembe­liannya tersekat dalam ketidak­pastian, China pernah dilirik agar membantu menjinakkan “beruang merah”. Caranya, China diminta menalangi dulu pembeliannya. Usaha ini sia-sia, karena neraca perdagangan China-Rusia lagi terpuruk. Sebaliknya malah China menawarkan Tu-4M Bull. Misi Salatun ke China sebenarnya mencari tambahan B-25 Mitchell dan P-51 Mustang. Pemilihan Tu-16 memperkuat AURI bukanlah semata alat diplomasi. Penyebab lain adalah embargo senjata. Padahal di saat bersamaan, AURI sangat membutuhkan suku cadang B-25 dan P-51 untuk menghantam AUREV.
Tahun 1960, Salatun berang­kat ke Moskwa bersama delegasi pembelian senjata dipimpin Jen­deral AH Nasution. Sampai tiba di Moskwa, delegasi belum tahu, apa­kah Tu-16 sudah termasuk dalam daftar persenjataan yang disetujui Soviet. Perintah BK hanya cari senjata. Apa yang terjadi. Tu-16 termasuk dalam daftar persen­jataan yang ditawarkan Uni Soviet. Betapa kagetnya delegasi.
“Karena Tu-16 kami berikan kepada Indonesia, maka pesawat ini akan kami berikan juga kepada negara sahabat lain,” ujar Menlu Mikoyan. Mulai detik itu, Indo­nesia menjadi negara ke empat di dunia yang mengoperasikan pem­bom strategic selain Amerika, Ing­gris, dan Rusia sendiri. Hebatnya lagi, AURI pernah mengusulkan untuk mengecat bagian bawah Tu­16 dengan Anti Radiation Paint yaitu cat khusus antiradiasi bagi pesawat pembom berkemampuan nuklir. “Gertak musuh saja, AURI kan tak punya born nuklir,” tutur Salatun. Usul ditolak.
Segera AURI mempersiapkan awaknya. Puluhan kadet dikirim ke Chekoslovakia dan Rusia. Mereka dikenal dengan angkatan Cakra I, II, III, Ciptoning I dan Ciptoning II. Mulai 1 Juli 1961, ke­24 Tu-16 mulai datang bergiliran diterbangkan awak Indonesia maupun Rusia. Pesawat pertama M-1601 yang mendarat di Kemay­oran diterbangkan oleh Komodor Udara Cok Suroso Hurip. Peris­tiwa ini mendapat perhatian luas terutama dan kalangan intel AS.
Kesempatan pertama intel-intel AS melihat Tu-16 dan dekat ini, memberikan kesempatan kepada mereka memperkirakan kapasitas tangki dan daya jelajahnya. Pengintaian terus dilakukan AS sampai saat Tu-16 dipindahkan ke Madiun. Pesawat intai canggih saat itu U-2 Dragon Lady pun dilibatkan. Wajar, di samping sebagai negara pertama yang mengoperasikan Tu16 di luar Rusia, kala itu beraneka ragam pesawat Blok Timur lainnya berjejer di Madiun.
Persiapan Trikora
Saat Trikora dikumandangkan, angkatan perang Indonesia sedang berada pada “puncaknya”. Lusinan persenjataan Blok Timur dimiliki. Mendadak AURI berkembang jadi kekuatan terbesar di belahan Selatan. Dalam mendukung Trikora, AURI menyiapkan satu flight Tu-16 di Morotai yang hanya memerlukan 1,5 jam penerbangan dari Madiun. “Kita siaga 24 jam di sana,” ujar Kolonel (Pur) Sudjijantono, salah satu penerbang Tu-16. “Sesekali terbang untuk memanaskan mesin. Tapi belum pernah membom atau kontak senjata dengan pesawat Belanda,” ceritanya. Saat itu, dikalangan pilot Tu-16 punya semacam target favorit, yaitu kapal induk Belanda Karel Doorman.
Selain memiliki 12 Tu-16 versi bomber (Badger A) yang masuk dalam Skadron 41, AURI juga memiliki 12 Tu-16 KS-1 (Badger B) yang masuk dalam Skadron 42 Wing 003 Lanud Iswahyudi. Versi ini mampu membawa sepasang rudal antikapal permukaan KS-1 (AS-1 Kennel). Rudal inilah yang ditakuti Belanda. Hantaman enam Kennel mampu menenggelam­kan Karel Doorman: Sayangnya, hingga Irian Barat diselesaikan melalui PBB atas inisiatif pemerin­tah Kennedy, Karel Doorman tidak pernah ditemukan.
Lain lagi kisah Idrus Abas (saat itu Sersan Udara I), operator radio sekaligus penembak ekor (tail gunner) Tu-16. Mei 1962, saat perundingan RI-Belanda ber­langsung di PBB, merupakan saat paling mendebarkan. Awak Tu-16 disiagakan di Morotai. Dengan bekal radio transistor, mereka memonitor hasil perundingan. Mereka diperintahkan, “Kalau perundingan gagal, langsung born Biak,” ceritanya mengenang. “Kita tidak tahu, apakah bisa kembali atau tidak setelah mengebom,” tambah Sjahroemsjah yang waktu itu berpangkat Sersan Udara I, rekan Idrus yang bertugas sebagai operator radio/tail gunner. Istilah­nya, one way ticket operation.
Awak Tu-16 di Morotai ini tidak akan pernah melupakan jerih payah ground crew. “Paling susah kalau isi bahan bakar. Bayangkan untuk sebuah Tu-16 dibutuhkan sampai 70 drum bahan bakar. Kadang ngangkutnya tidak pakai pesawat, jadi langsung diturunkan dari kapal laut. Itupun dari tengah laut. Makanya, sering mereka mendorong dari tengah laut,” ujar Idrus. Derita awak darat itu belum berakhir, lantaran untuk memasukkan ke tangki pesawat yang berkapasitas kurang lebih 45.000 liter itu, masih menggunakan cara manual. Di suling satu per satu dari drum hingga empat hari empat malam. Hanya sebulan Tu-16 di Morotai, sebe­lum akhirnya ditarik kembali ke Madiun usai Trikora.
Kennel memang tidak pernah ditembakkan. Tapi ujicoba pernah dilakukan sekitar tahun 1964-1965. Kennel ditembakkan ke sebuah pulau karang di tengah laut, persisnya antara Bali dan Ujung Pandang. “Nama pulaunya Arakan,” aku Hendro Subroto, mantan wartawan TVRI. Dalam ujicoba, Hendro mengikuti dari sebuah C-130 Hercules bersama KSAU Omar Dhani. Usai peluncuran, Hercules mendarat di Denpasar. Dari Denpasar, dengan menumpang helikopter Mi-6, KSAU dan rombongan terbang ke Arakan melihat perkenaan. “Tepat di tengah, plat bajanya bolong,” jelas Hendro.

Diuber Javelin
Lebih tepat, di masa Dwikoralah awak Tu-16 merasakan ketangguhan Tu-16. Apa pasalnya? Ternyata, berkali-kali pesawat ini dikejar pesawat tempur Inggris. Rupanya, Inggris menyadap percakapan AURI di Lanud Polonia Medan dari Butterworth, Penang.
“Jadi mereka tahu kalau kita akan meluncur,” ujar Marsekal Muda (Pur) Syah Alam Damanik, penerbang Tu-16 yang sering mondar-mandir di selat Malaka.
Damanik menuturkan pengalamannya di kejar Javelin pada tahun 1964. Damanik terbang dengan ko-pilot Sartomo, navigator Gani dan Ketut dalam misi kampanye Dwikora.
Pesawat diarahkan ke Kuala Lumpur, atas saran Gani. Tidak lama kemudian, dua mil dari pantai, Penang (Butterworth) sudah terlihat. Mendadak, salah seorang awak melaporkan bahwa dua pesawat Inggris take off dari Penang. Damanik tahu apa yang harus dilakukan. Dia berbelok menghindar. “Celaka, begitu belok, nggak tahunya mereka sudah di kanan-kiri sayap. Cepat sekali mereka sampai,” pikir Damanik. Javelin-Javelin itu rupanya berusaha menggiring Tu-16 untuk mendarat ke wilayah Singapura atau Malaysia (forced down). Dalam situasi tegang itu, “Saya perintahkan semua awak siaga. Pokoknya, begitu melihat ada semburan api dari sayap mereka (menembak-Red), kalian langsung balas,” perintahnya. Perhitungan Damanik, paling tidak sama-sama jatuh. Anggota Wara (wanita AURI) yang ikut dalam misi, ketakutan. Wajah mereka pucat pasi.
Dalam keadaan serba tak menentu, Damanik berpikir cepat. Pesawat ditukikkannya untuk menghindari kejaran Javelin. Mendadak sekali. “Tapi, Javelin-Javelin masih saja nempel. Bahkan sampai pesawat saya bergetar cukup keras, karena kecepatannya melebihi batas (di atas Mach 1).” Dalam kondisi high speed itu, sekali lagi Damanik menunjukkan kehebatannya. Ketinggian pesawat ditambahnya secara mendadak. Pilot Javelin yang tidak menduga manuver itu, kebablasan. Sambil bersembunyi di balik awan yang menggumpal, Damanik membuat heading ke Medan.
Segenap awak bersorak kegirangan. Tapi kasihan yang di ekor (tail gunner). Mereka berteriak ternyata bukan kegirangan, tapi karena kena tekanan G yang cukup besar saat pesawat menanjak. Akibat manuver yang begitu ketat saat kejar-kejaran, perangkat radar Tu-16 jadi ngadat. “Mungkin saya terlalu kasar naiknya. Tapi nggak apa-apa, daripada dipaksa mendarat oleh Inggris,” ujar Damanik mengenang peristiwa itu.
Lain lagi cerita Sudjijantono. “Saya ditugaskan menerbangkan Tu-16 ke Medan lewat selat Malaka di Medan selalu disiagakan dua Tu-16 selama Dwikora. Satu pesawat terbang ke selatan dari Madiun melalui pulau Christmas (kepunyaan Inggris), pulau Cocos, kepulauan Andaman Nikobar, terus ke Medan,” katanya. Pesawat berikutnya lewat jalur utara melalui selat Makasar, Mindanao, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Laut Cina selatan, selat Malaka, sebelum akhirnya mendarat di Medan. Ada juga yang nakal, menerobos tanah genting Kra.
Walau terkesan “gila-gilaan”, misi ini tetap sesuai perintah. BK memerintahkan untuk tidak menembak sembarangan. Dalam misi berbau pengintaian ini, beberapa sempat ketahuan Javelin. Tapi Inggris hanya bertindak seperti “polisi”, untuk mengingatkan Tu-16 agar jangan keluar perbatasan.
Misi ala stealth
Masih dalam Dwikora. Pertengahan 1963, AURI mengerahkan tiga Tu-16 versi bomber (Badger A) untuk menyebarkan pamflet di daerah musuh. Satu pesawat ke Serawak, satunya ke Sandakan dan Kinibalu, Kalimantan. Keduanya wilayah Malaysia. Pesawat ketiga ke Australia. Khusus ke Australia, Tu-16 yang dipiloti Komodor Udara (terakhir Marsda Purn) Suwondo bukan menyebarkan pamflet. Tapi membawa peralatan militer berupa perasut, alat komunikasi dan makanan kaleng. Skenarionya, barang-barang itu akan didrop di Alice Springs, Australia (persis di tengah benua), untuk menunjukkan bahwa AURI mampu mencapai jantung benua kangguru itu. “Semacam psi-war buat Australia,” ujar Salatun.
Padahal Alice Springs ditongkrongi over the horizon radar system. “Untuk memantau seluruh kawasan Asia Pasifik,” ujar Marsma (Pur) Zainal Sudarmadji, pilot Tu-16 angkatan Ciptoning II.
Walau begitu, misi tetap dijalankan. Pesawat diberangkatkan dari Madiun sekitar jam satu malam. “Pak Wondo (pilot pesawat-Red) tak banyak komentar. Beliau hanya minta, kita kumpul di Wing 003 pukul 11 malam dengan hanya berbekal air putih,” ujar Sjahroemsjah, gunner Tu-16 yang baru tahu setelah berkumpul bahwa mereka akan diterbangkan ke Australia.
Briefing berjalan singkat. Pukul 01.00 WIB, pesawat meninggalkan Madiun. Pesawat terbang rendah guna menghindari radar. Sampai berhasil menembus Australia dan menjatuhkan bawaan, tidak terjadi apa-apa. Pesawat pencegat F-86 Sabre pun tak terlihat aktivitasnya, rudal anti pesawat Bloodhound Australia yang ditakuti juga “tertidur”. Karena Suwondo berputar agak jauh, ketika tiba di Madiun matahari sudah agak tinggi. “Sekitar pukul delapan pagi,” kata Sjahroemsjah.
Penyusupan ke Sandakan, dipercayakan ke Sudjijantono bersama Letnan Kolonel Sardjono (almarhum). Mereka berangkat dari Iswahyudi (Madiun) jam 12 malam. Pesawat membumbung hingga 11.000 m. Menjelang adzan subuh, mereka tiba di Sandakan. Lampu-lampu rumah penduduk masih menyala. Pesawat terus turun sampai ketinggian 400 m. Persis di atas target (TOT), ruang bom (bomb bay) dibuka. Seperti berebutan, pamflet berhamburan keluar disedot angin yang berhembus kencang.
Usai satu sortie, pesawat berputar, kembali ke lokasi semula. “Ternyata sudah gelap, tidak satupun lampu rumah yang menyala,” kata Sudjijantono. Rupanya, aku Sudjijantono, Inggris mengajari penduduk cara mengantisipasi serangan udara. Akhirnya, setelah semua pamflet diserakkan, mereka kembali ke Iswahyudi dan mendarat dengan selamat pukul 08.30 pagi. Artinya, kurang lebih sepuluh jam penerbangan. Semua Tu-16 kembali dengan selamat.
Dapat dibayangkan, pada dekade 60-an AURI sudah sanggup melakukan operasi-operasi penyusupan udara tanpa terdeteksi radar lawan. Kalaulah sepadan, bak operasi NATO ke Yugoslavia dengan pesawat silumannya.
Sebenarnya RI tidak sendirian saat itu. India memberikan dukungan penuh. Hal ini terungkap ketika Zainal Sudarmadji bertemu dengan seorang pejabat tinggi India. “Bila Indonesia jadi menyerang semenanjung Malaya, AU India akan menyediakan air space-nya antara ketinggian 15.000 -30.000 kaki untuk tempat berputar armada Tu-16 AURI sebelum melakukan pemboman. Bahkan AU India akan menjaga sekitar indara point di kepulauan Andaman Nicobar, agar bebas dari gangguan elektronik Inggris (SEATO),” tuturnya saat itu kepada Zainal.
Nasib Sang Bomber
Sungguh ironis nasib akhir Tu-16 AURI. Pengadaan dan penghapusannya lebih banyak ditentukan oleh satu perkara: politik! “AURI harus menghapus seluruh armada Tu-16 sebagai syarat mendapatkan F-86 Sabre dan T-33 T -Bird dari Amerika,” ujar Bagio Utomo, mantan ang­gota Skatek 042 yang mengurusi perbaikan Tu-16. Bagio menutur­kan kesedihannya ketika terlibat dalam tim “penjagalan” Tu-16 pada tahun 1970.
Tidak dapat dipungkiri, Tu-16 paling maju pada zamannya. Selain dilengkapi peralatan elektronik canggih, badannya terbilang kukuh. “Badannya tidak mempan dibelah dengan kampak paling besar sekalipun. Harus pakai las yang besar. Bahkan, untuk membongkar sambungan antara sayap dan mesinnya, las pun tak sanggup. Karena campuran magnesiumnya lebih banyak ketimbang aluminium,” ujar Bagio.
Namun Tu-16 bukan tanpa cacat. Konyol sekali, beberapa bagian pesawat bisa tidak cocok dengan spare pengganti. Bahkan dengan spare yang diambil secara kanibal sekalipun. “Kami ter­paksa memakai sistem kerajinan tangan, agar sama dan pas den­gan kedudukannya. Seperti blister (kubah kaca), mesti diamplas dulu,” kenang Bagio lagi. Pen­gadaan suku cadang juga sedikit rumit, karena penempatannya yang tersebar di Ujung Pandang dan Kemayoran. Sebenarnya, persediaan suku cadang Tu-16 yang dipasok dari Rusia cukup memadai. Tapi urusan politik membelitnya sangat kuat. Tak heran kemudian, usai pengabdi­annya selama Trikora-Dwikora dan di sela-sela nasibnya yang tak menentu pasca G30S/PKI, AURI pernah bermaksud menjual armada Tu-16 ke Mesir.
Namun pasca G30S, kondisi pesawat-pesawat Rusia memang tragis. Seingat Suwandi Sudjono, pilot Tu-16, dalam setahun paling hanya 12 kali mereka menerbang­kan Tu-16. Karena itu kanibal­isasi tak terelakkan agar sejumlah pesawat tetap bisa terbang. Akhirnya pada Oktober 1970 dilakukan test flight Tu-16 nomor M-1625 setelah dikanibal habis­-habisan. Tidak mudah karena adanya ketidakOckan suku cadang. Namun mereka masih berbesar hati karena menurut Subagyo yang mantan Komandan Wing Logistik 040, mesinnya masih banyak. Setidaknya ada 20 mesin baru, tapi hanya mesin, tanpa suku cadang yang lainnya.
Maka hari itu, Komandan Wing 003 merangkap Komandan Skadron 41 Letkol Pnb Suwandi membawa krunya yaitu Kapten Pnb Rahmat Somadinata (kopi­lot), dan Kapten Nav Beny Su­byanto menerbangkan M-1625. Pada hari itu, M-1625 adalah satu-satunya Tu-16 yang tersisa dan dalam kondisi siap terbang. Sungguh tragis!
Begitulah nasib Tu-16. Tragis. Farewell flight, penerbangan per­pisahannya, dirayakan oleh para awak Tu-16 pada Oktober 1970 menjelang HUT ABRI. Dijejali 10 orang, Tu-16 bernomor M-1625 diterbangkan dari Madiun ke Jakarta. “Sempat kesasar waktu kita cari Monas,” ujar Zainal Sudarmadji. Saat mendarat lagi di Madiun, bannya meletus karena awaknya sengaja mengerem secara mendadak.
Patut diakui, keberadaan pem­born strategic mampu memberi­kan efek psikologis bagi lawan­lawan Indonesia saat itu. Bahkan, sampai pertengahan 1980-an, Tu-16 AURI masih dianggap an­caman oleh AS. “Wong nama saya masih tercatat sebagai pilot Tu-16 di ruang operasi Subic Bay,” ujar Sudjijantono, angkatan Cakra 1.
Sekian tahun hidup dalam kedigdayaan, sampailah AURI (juga ALRI) pada masa yang teramat pahit. Pasokan suku cadang terhenti, nasib pesawat tak jelas. Ditulis oleh Harold Crouch (Politik dan Militer di Indonesia, 1978), AL dan AU yang bergantung pada teknologi yang lebih maju dari AD tidak dapat memelihara lagi dengan baik peralatannya.
Pada awal 1970, KSAU Marsdya Suwoto Sukendar men­gatakan, hanya 15-20% pesawat AURI yang dapat diterbangkan, kapal ALRI hanya 40% karena ketiadaan suku cadang dari Uni Soviet. Tahun 1970, kemudian dikenang sebagai tahun pemu­snahan persenjataan Blok Timur.
 
Blue Print dari AS-1 Kennel
 AS-1 Kennel di sayap pembom Tu-16 TNI AU

Kennel (Rudal Bongsor Yang Membuat Pusing Belanda & Sekutunya)
Jauh sebelum era Exocet, Harpoon, C-802 dan Yakhont, TNI di tahun 60-an sudah mempunyai rudal lintas cakrawala, alias over the horizon. Rudal yang dimaksud adalah AS-1 Kennel. Rudal ini terbilang fenomenal saat itu dan kenangannya masih cukup menarik untuk disimak hingga saat ini, pasalnya ukuran rudal jelajah ini super bongsor dan sampai kini cuma Indonesia, negara di kawasan Asia Tenggara yang punya riwayat mengoperasikan rudal yang masuk kategori heavy missile tersebut. Walau teknologi dan platformnya ketinggalan jauh dengan rudal Tomahawk milik AS, tapi saat operasi Trikora dikobarkan Ir. Soekarno, daya deteren Kennel nyatanya mampu membuat pusing pihak Belanda, Amerika Serikat dan NATO.
AS-1 Kennel (dalam kode aslinya dari Uni Soviet disebut KS-1 Komet) merupakan rudal antikapal permukaan yang diproduksi Uni Soviet pada 1953 dengan basis konstruksi pesawat MIG-15 dan MIG-17. Rudal yang disiapkan untuk dibopong bomber strategis Tupolev Tu-16 Badger B ini dibuat setelah desakan AL Uni Soviet kala itu untuk memiliki rudal jelajah antikapal. Tu-16 mampu membawa sekaligus dua rudal seberat lebih dari 3 ton ini di kedua sayapnya. AS-1 yang berkecepatan sub sonic ditenagai mesin turbojet yang mampu membuatnya mampu menjangkau sasaran sejauh 100 km.
Dengan bobot sekitar 3 ton, AS-1 dibekali hulu ledak seberat 600 Kg High Explosive. Tak ayal dengan daya hantam yang menakutkan membuat kala konflik Indonesia vs Belanda, rudal ini menjadi salah satu alutsista TNI yang sangat diperhitungkan oleh militer Belanda. Bahkan beberapa analis menyatakan, kapal induk kebanggaan Belanda yang kala itu ikut mangkal diperairan Irian (HNLMS Karel Doorman) dapat dihancurkan dengan dua hantaman rudal Kennel.
AS-1 dirancang oleh A. Ya Bereznyak dari Mikoyan’s di kota Dhubna, Uni Soviet. Cara kerja rudal ini adalah setelah operator memprogram autopilotnya untuk diluncurkan dan menanjak dan menggunakan radar semiaktif untuk sistem terminal flight. Rudal ini diperkirakan mulai operasional pada sekitar tahun 1961. Sayang tidak ada informasi yang pasti tentang jumlah Kennel yang dibeli oleh Indonesia. Tapi bila sekedar ingin melihat sosok rudal ber-air intake ini bisa dijumpai di Museum Dirgantara Yogyakarta.
AS-1 Kennel sendiri umurnya tak terlalu panjang, Uni Soviet hanya mengoperasikan rudal ini dalam rentang 1955 sampai 1961. Seiring hangat-hangatnya lomba senjata dalam Perang Dingin, pihak Uni Soviet lalu mengembangkan rudal lain dalam platform Kennel, yakni masing-masing SSC-2a Salish dan SSC-2b Samlet. Jika Salish diluncurkan dari kendaraan semitrailer yang menarik truk traktor peluncur KrAz-214, maka Samlet adalah rudal pantai yang diluncurkan dari truk ZIL-157V. Secara umum AS-1 yang selintas nyaris sebesar MIG-15 memiliki panjang 8,2 meter (MIG : 10,11 m), rentang sayap 4,9 meter dan kecepatan 0,9 mach. Sejauh ini yang diketahui mengoperasikan selain Uni Soviet (Rusia) adalah Indonesia dan Mesir.
Spesifikasi AS-1 Kennel
    Kode soviet : KS-1 Komet
    Propulsi : turbojet
    Pemandu : terminal active radar terminal homing
    Hulu ledak : 600 kg HE
    Penggerak : RD-500K turbojet
    Jangkauan : 140 km
    Berat lontar : 3000 kg
    Panjang : 8,29 meter
    Diameter : 1,20 meter
    Pabrik : Mikoyan
    Platform : Tu-16 Badger 

Presiden Pertama RI, Soekarno, mempunyai tiga pesawat Bizjet C-140 Jetstar (hadiah dari Presiden AS Kennedy) unuk menopang lawatan ke luar negeri maupun dalam negeri. Ketiga pesawat Jetstar ini bergabung dalam Skuadron 17 TNI AU. Tiga pesawat buatan Lockheed itu beregiatrasi T-9446 dengan rama “Saptamarga” T-1645 “ Pancasila”, dan T-17845 “Irian”. Diantara ketiga pesawat tadi, “Irian” menjadi pesawat Kepresidenan favorit Soekarno untuk kunjungan – kunjungan negara regional.
Yang di foto adalah T-17845 “Irian” pesawat favoritnya Pak Karno



 
 
 
C 140 Jetstar  
Pesawat Kepresidenan RI semasa Soekarno hadiah dari JF Kennedy

 

Lockheed L-049 Constellation

Bantuan MiG-19 ini ditukar dengan empat unit pesawat Lockheed Constelation yang ternyata performanya buruk. Pesawat ini hanya dipakai beberapa tahun saja sebelum akhirnya di-ground­ed.




Tampak heli Hiller 360 asal AS yang di terbangkan Yum Soemarsono sedang membawa Ibu Fatmawati dari halaman Istana Merdeka,Jakarta.



Hiller 360


Mil Mi 1

Pada tahun 1960-an adalah era titik kulminasi bagi AURI, sebagai masa keemasan.Saat itu, beberapa Skadron Udara baru bermunculan seiring datangnya ratusan pesawat dari Uni Sovyet, antara lain adalah datangnya 41 unit Helikopter Mi-4 ini.
Helikopter ini menjadi kekuatan udara AURI dan berada dalam naungan Skadron Udara 6 Lanud Semplak, Bogor.AURI diperkuat 41 heli Mil Mi-4 dalam tugas-tugas militer yang diembannya.
Serah terima helikopter Mil Mi 4 dari Uni Sovyet tanggal 11 Juni 1960


Para penerbang Helikopter Mi-4 sedang menerima arahan dari Pimpinan AURI (Bapak Srimuljono Herlambang ) dalam suatu kunjungan kerja, di depan Heli Mil Mi-4 di Lanud Semplak, Bogor.


Mayor Jendreral TNI Soeharto sewaktu menjabat Wapang Kolaga sedang memeriksa kesiapan sukarelawan/wati di daerah perbatasan Irian Barat.Beliau di antar oleh Helikopter Mil MI-4 AURI H-217.

Helikopter Mil MI-4 yang menjadi kekuatan AURI tahun 1963-an punya pengalaman operasi di pedalaman Kalbar.
Helikopter Mil Mi 4 itu banyak jasanya, walau buatan Rusia itu kurang nyaman ruang cockpitnya dan olinya menetes dimana mana


Sepertinyafoto ini diambil saat sedang pembuatan patok-patok perbatasan di Kalimantan, selain juga setelah itu pergi ke Irian jaya membuat patok-patok perbatasan disana, bayangkan saja dengan. helikopter seperti itu terbang operasi demi negara dengan dukungan terbatas di tengah hutan lebat, resiko besar juga.


Tampak Brigjend Pangabean di tengah-tengah awak pesawat MI-4 dan personel AD, di perbatasan Kalbar.

Paling kiri M Jusuf, sebelahnya Solichin GP





Mil Mi 4 jatuh di perairan dangkal dengan ekor dan baling2 patah ... Untungnya semua crew selamat.


 
Mil Mi 4

Menurut kesaksian para pilot yang pernah mengoperasikan helikopter Mil Mi-6 Hook ini, banyak kelemahan teknis yang tidak sesuai dengan yang ditawarkan Uni Soviet seperti kecepatan jelajah yang hanya menjapai 170-175 km/jam, tidak sampai 200 km/jam. Jarak terbangnya yang pendek karena bahan bakarnya hanya cukup untuk 2 jam terbang sehingga kalau pergi ke suatu tempat harus dapat mendarat karena tidak mungkin kembali. Terbang jelajah yang pernah diperoleh maksimum adalah 2 jam 54 menit yakni dari Lanud Husein Sastranegara, Bandung hingga Tanjung Perak di Surabaya, itupun dengan muatan yang tidak terlalu penuh.
Sebetulnya, armada Mi-6 AURI adalah rombongan perlengkapan militer dari Uni Soviet yang dibeli AURI yang terlambat datang, karena tiba justru setelah Operasi Trikora selesai. Sebetulnya juga Mi-6 bukanlah pilihan utama.AURI lebih menginginkan heli dari AS, seperti Sikorsky S-61 Sea King dan terutama Sikorsky S-64 Tarhe, yg termasuk jenis flying-crane helicopter. Alasannya selain tidak punya uang, juga karena alasan politik.

 
 
 

  
 
 



Alutsista dari blok timur hampir semua dijagal, trus potongan2nya dibawa ke amrik sebagai syarat pembelian pembelian pesawat T-33 thunderbird. Mi-6 sekarang kita cuman bisa liat fotonya doank, nyaris tanpa sisa utk heli satu ini
 
Mil Mi 6

Menurut data Dispenau, kesembilan Mi 6 (beberapa publikasi asing menyebut enam ),nomor registrasinya mulai dari H-270 hingga H-278, semuanya terkena scraping dan tidak ada satupun dari heli itu yang kini tersisa utuh dan dipajang di museum/monumen. Alasan dari Heli yang hanya di operasikan singkat ini, dari tahun 1965 hingga 1968 di scrapping, adalah kurangnya suku cadang dan menurut data yang terakhir terbang adalah Heli Mi-6 H-277. Padahal menurut para penerbangnya, kondisi.helikopter itu masih bagus-seperti airframe, terutama karena lapisan logamnya banyak mengandung plumbum (timah hitam ) yang tahan karat- sehingga apabila dipaksakan sebenarnya masih dpt terbang.



 

 

Sikorsky UH-34D Seahorse

 
Sikorsky S 61 V 5



Bell 204




 PZL 104 Wilga ( Gelatik )


PZL 104 Wilga atau Gelatik (anama lokalnya) mualai dipakai TNI AU tahun 1964. 22 buah langsung dikirim langsung dari Polandia dan 17 buah diproduksi secara local di Bandung. Pengiriman terakhir bulan Oktober 1979. Saat ini ada beberapa yang masih digunakan oleh FASI untuk penarik pesawat terbang layang (glider).


LT 200

IN-202 modifikasi dari Pazmany PL-2, dibuat oleh perintis dari IPTN yaitu Lipnur (Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio)


Pilatus PC 6 Turbo Porter

Cessna A188B Agwagon C



Christen A-1 Husky


Starlite



Sejumlah T-33 yang masih dengan warna asli putih dan baru saja dikirim dari Pangkalan Udara Subic, Filipina. Sebanyak 19 unit T-33 diterbangkan dari Subic menuju Lanud Iswahyudi oleh pilot-pilot USAF.
 


Suasana apel kesiagaan para pilot dan awak darat T-33 di Lanud Iswahyudi. Khusus pesawat untuk latihan, T-33 tetap menggunakan warna putih.



Khusus untuk T-33 yang telah dipersenjatai di cat warna hijau dengan logo ikan hiu di nose-nya.
 


Sejumlah T-33 yang dioperasikan dalam misi tempur sedang dipersiapkan di Lanud, Baucau , Timor Leste.



 
T 33 A T-Bird

T-33A (Awalnya Bukan Pesawat Tempur)
Introduction
Kedatangan pesawat T-33A ke Indonesia bersamaan dengan kedatangan pesawat F-86 Avon Sabre dari Australia di tahun 1973. Dengan demikian fasilitas yang dibangun di Madiun berupa renovasi sarana bantuan penerbangan juga dipakai buat pesawat T-33A yaitu overlay landasan, pembangunan pergudangan dan pembangunan fasilitas pengisian bahan bakar. Konsep awalnya pesawat T-33A direncanakan untuk mengganti pesawat L-29 Dolphin, sehingga waktu datang pesawat ini berwarna abu-abu dengan cincin kuning sertafinflash yang juga kuning layaknya pesawat yang dioperasikan oleh Kodikau.
Awalnya masuk Skadik 017 (Advance Training) dengan home base di Lanuma Iswahyudi, Madiun dengan registrasi A-3301. Satu tahun berikut tepatnya tanggal 3 Mei 1974 pesawat diserahkan ke Kohanudnas dengan demikian registrasi menjadi J-3301 lalu menjadi TS-3301 setelah semua registrasi pesawat militer di Indonesia. Pesawat yang datang dalam kegiatan bersandi Peace Modern Project ini adalah program dari Amerika guna membantu mempertahankan kualitas pilot tempur Indonesia yang menurun kemampuannya setelah dikandangkannya pesawat Blok Timur pada tahun 1966. Untuk itu terpilih enam pilot dan dua perwira teknik yang belajar ke Amerika (Lachland AFB dan Cloves AFB) guna menangani pesawat T-33A T-Birds. Sedang teknisi dipercayakan kepada Kapten TPT Utih dan Lettu TPT Subagyo Sutomo.
Mereka para teknisi mendapat pelatihan yang cukup lengkap, setelah sekolah bahasa di Lackland AFB bersama para pilot langsung dikirim ke Chanute AFB, Ilinois untuk belajar Aircraft Maintenance Officer Course (AMOC) selama enam bulan. Program selanjutnya dua perwira TNI AU tersebut melanjutkan sekolah di Shepard AFB, Kansas, dalam program yang disebut Technician Instructional Course dan berakhir di Cannon MB, New Mexico, selama dua bulan lalu On the Job Training (OJT) di pesawat T-33A yang berada di pangkalan Cannon AFB juga. Sedangkan ke 12 teknisi Bintara dan Tamtama setelah belajar bahasa Inggris teknik di Lack-land langsung bergabung dengan dua perwira di Cannon AFB untuk melaksanakan OJT. Sedangkan pesawatnya sendiri diambilkan dari military-stock Amerika di Subic, Filipina. Kemampuan lebih inilah yang nanti dimanfaatkan oleh TNI AU guna melaksanakan program yang disebut Modification A/C Structure Program Reinforcement tahun 1975 yaitu penggantian wing rod spar dilaksanakan di Depolog-30, Malang.
Terbang dari Filipina
Secara bergelombang pesawat diterbangkan dari Subic langsung ke Madiun oleh para pilot AU AS dalam empat gelombang pengiriman. Gelombang pertama tiba di Madiun pada tanggal 17 Apri1 (lima pesawat), gelombang kedua tiba tanggal 1 Juni (lima pesawat), gelombang ketiga tanggal 15 Juni (lima pesawat) dan gelombang terakhir pada tanggal 22 Juni (empat pesawat) semua terjadi pada tahun 1973. Setelah lengkap 19 unit pesawat T-33 tiba di Madiun, pada tanggal 23 Agustus 1973 diadakan penyerahan dari pemerintah Amerika kepada pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Jenderal TNI Pangabean yang kala itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan merangkap sebagai Panglima ABRI.
Selanjutnya dimasukkan ke dalam Skadik 017 dan menempati hanggar eks Skadron-42 (hangar F-16 saat ini) dengan komandan Mayor Pnb Isbandi Gondosuwignjo sehingga berhak memakai call sign Thunder-01 meskipun beliau aslinya adalah Thunder-08. Sehari setelah dilantik sebagai Komandan Skadik 017 hari berikutnya tanggal 4 Mei 1974 pesawat T-33A masuk alam jajaran Kohanudnas dan dinamakan Satuan Buru Sergap T-33A berdampingan dengan Satuan Buru Sergap F-86 di bawah satuan organik Kohanudnas yaitu Komando Satuan Buru Sergap disingkat Kosatsergap. Mayor Pnb Isbandi tetap menjadi komandan Satsergap T-33.
Modifikasi Swadaya
Meskipun bernama Peace Modern Project, ternyata pesawat T-33A adalah pesawat yang betul-betul payah kondisinya. Selain tidak bersenjata, pesawat ini masih menggunakan radio UHF (model militer Amerika) serta adanya batasan manuver yang hanya plus 3G, betul-betul pesawat latih jet yang tidak bisa dibuat manuver sama sekali. Berkat kajian dari Kolog (Komando Logistik, kini Koharmatau) maka oleh Depolog-30, Malang, diadakan penguatan pada wing rod spar sehingga pesawat dapat melakukan full maneuver hingga plus 7g serta radio yang diubah menjadi VHF, standar komunikasi pesawat di Indonesia. Kegiatan peningkatan kemampuan ini dilakukan para teknisi yang sekolah di Amerika, dibantu tujuh personel AU AS yang bertindak sebagai Technician Representative atau lebih dikenal dengan sebutan Techrep.
Dengan kemampuan ini maka para pilot T-33 mulai melakukan latihan air-to-air maneuver sebagai dasar manuver pesawat Kohanudnas dan mengantar pesawat ini dilibatkan pada Latma (Latihan Bersama) bersandi Elang Malindo 1 yang diadakan di Butterworth, Malaysia. Meskipun pesawat F-86 dari satuan Satsergap F-86 juga ikut Latma Elang Malindo 1 namun pesawat ini hanya sampai Medan. Dengan demikian pesawat T-33 adalah pesawat ternpur pertama milik TNI AU yang terbang dan berlatih hingga ke luar negeri. Beberapa tahun yang lalu juga ada saat pesawat latih jet L-29 terbang navigasi hingga Butterworth, mengingat ada siswa Malaysia ikut menjadi siswa sekolah terbang di Indonesia.
Selepas Elang Malindo 1, T-Birds juga dilibatkan dalam latihan bersandi Tutukal pada akhir 1975 disusul operasi bersandi Cakar Garuda medio 1976. Untuk mendukung operasi ini beberapa pesawat T-33A dimodifikasi oleh tim Dislitbangau dan dilengkapi dengan gun-sight tipe KB-13 (eks Ilyusin-28) serta dua laras senjata kaliber 12,7 mm dan dua buah bomb rack eks B-25. Dengan demikian pesawat T-33A menjadi pesawat tempur bersenjata tipe TA-33A. Untuk membedakan antara pesawat yang bersenjata (TA-33A) dengan pesawat tanpa senjata (T-33A) maka diadakan perubahan warna pesawat. Untuk TA-33A diberi warna hijau abu-abu dengan gigi hiu di bagian depan sedangkan T-33A tetap berwarna abu-abu. Kegiatan mempersenjatai diri ini dilakukan tanpa bantuan pihak asing dan eloknya peralatan bidik (gun-sight) mempergunakan produk Timur yaitu gun sight bekas pesawat Ilyusin-28.
Setelah diadakan modifikasi persenjataan pesawat TA-33A mampu membawa amunisi sebanyak 250 x 2 butir peluru 12,7 mm dan dua tabung rocket launcher jenis LAU (Launcher Airborne Rocket) – 68 yang dapat diisi tujuh rocket jenis FFAR 2,75 inci (Folding Fin Airborne Rocket) atau bom hingga berat 50 kg setiap sayapnya. Selanjutnya pesawat T-Birds dilibatkan lagi pada Latma Elang Malindo 2 dengan Malaysia yang diadakan di Madiun pada tahun 1977.
Dalam latihan bersama ini T-Birds adu kekuatan dengan pesawat latih Malaysia jenis CL-41G Tebuan dan diadakan exchange crew antara dua negara. Bermakna selama latihan antara pilot TNI AU dengan pilot TUDM berada dalam satu kokpit. Bulan Oktober 1979 Satsergap T-33 dilebur menjadi Skadron T-33, sedangkan Satsergap F-86 menjadi Skuadron F-86. Keduanya berada di bawah Wing Tempur 300 Kohanudnas. Setahun berikutnya nama itu diubah lagi menjadi Skadron Operasional T-33. Pesawat T-Birds dinyatakan non operasional pasca jatuhnya pesawat registrasi TS-33xx di kota Blitar pada 20 Juni 1980 bertepatan dengan diadakannya latma Elang Indopura 1 di Madiun. Selama dioperasikan TNI AU selama tujuh tahun (1973 – 1980) telah gugur enam pilot dalam tiga kecelakaan yang terpisah.
Salah satu kecelakaan yang menyebabkan dua penerbang T-33 gugur adalah kecelakaan yang terjadi pada tanggal 18 Februari 1976. Saat itu pesawat T-33 dengan nomor regristasi J-3327 jatuh di kaki Gunung Lawu yang mengakibatkan gugurnya dua penerbang Mayor PNB Sukirwan dan Lettu PNB Sutadi. Sedangkan pilot T-33 yang meninggal karena sakit adalah Letty PNB Kukky.




 
 Foto F-86 Sabre bawah adalah profil F-86 yang akan diterbangkan menuju Lanud lswahyudi. Bendera Merah Putih dan logo TNI AU sudah terpasang dan pesawat pun dalam kondisi slap tinggal landas.
 Pada 9 April 1973, Indonesia mendapat hibah pesawat tempur F-86 Sabre dari Australia. Pesawat-pesawat ini kemudian melahirkan penerbang-penerbang tangguh TNI AU. Dalam Coto di bawah ini, berdiri dari kiri ke kanan: Suyamto, Anggoro, Iowan Saleh, Tri Soeharto, FX Suyitno, Boediardjo. Sementara berjongkok, dari kiri ke kanan: Sulaiman Supriyatna, Sutejo, Holky Bk, Donan Sunanto dan Sudahlan.
Foto ketika Panglima ABRI M Panggabean bersama pejabat Australia melaksanakan inspeksi terhadap F-86 yang sudah terkirim ke Indonesia.

Empat pilot F-86 Sabre sedang mempersiapkan diri untuk melaksanakan latihan terbang di Lanud Iswahyudi.
 


 Sejumlah F-86 saat sedang latihan terbang.

Formasi lima F-86 yang sedang terbang di alas Bandara Polonia Medan dan melintas di atas Boeing 707 Garuda. Sejumlah F-86 sedang melaksanakan terbang cross countrydan salah satu yang disinggahi adalah Bandara Polonia Medan.

Lettu Pnb F.Djoko Puorwoko....Dialah penerbang termuda Tim Aerobatik Spirit'78.Debut pertamanya dipertunjukkan dalam HUT ABRI tahun 1978 di Senayan, Jakarta.
 
Setelah memperkuat jajaran TNI AU, F-86 mulai diperkenalkan kepada perwira-perwira muda yang saat itu masih menjalami pendidikan di Akademi Militer, Magelang. Dua penerbang yang berada disamping F-86 adalah Ida Bagus Sanubari (merapat di pesawat) dan F Djoko Poerwoko. 

Mayor Pnb Budiharjo Surono " Bison " bersama para teknisi Skadron Udara 14 
di depan Avon Sabre F-86 F-8602.

Jejak karier Mayor Pnb Budiharjo Surono " Bison ".
Tim Aerobatik F-86 Sabre beranggotakan Mayor.Pnb. FX “Dragon”Suyitno, Kapten.Pnb. Lambert “Taurus” F.Silloy, Mayor.Pnb.Budihardjo “Bison”Surono, Kapten.Pnb.Suprihadi “Vampire”, Kapten.Pnb Teuku “Orca”Syahrial,
Kapten.Pnb Zekky”Jackal” Ambadar, Kapten.Pnb Peter”Condor” Wattimena, Lettu.Pnb F.Djoko”Beaver” Poerwoko dan Lettu.Pnb Djoko “Beetle”Soeyanto.
Pada acara HUT ABRI 1980 yang dilaksanakan di jalan Tol Jagorawi. Saat itu Tim ini dipimpin oleh Mayor.Pnb Budiharjo.
Gugur di atas langit Ponorogo pada tahun 1980. Ketika itu sedang melakukan high speed run test di atas ketinggian 3.500 meter dengan pesawat F-86 Sabre. Karena pesawat tersebut sudah tua dan diterbangkan di atas kecepatan suara, maka sayap pesawat tidak mampu menahan tekanan angin yang mengakibatkan sayapnya lepas. Selanjutnya pesawat menghujam ke bawah membentuk spiral dive dan meledak. Mayor Budi masih sempat eject, namun karena dilakukan dalam kecepatan yang sangat tinggi, beliau gugur sebelum menyentuh tanah. Baju terbang yang dipakainya lengket dengan tubuhnya karena impak kecepatan yang sangat tinggi.




CAC F 86 Avon Sabre

F-86 Sabre (Salah Satu Pioner Pesawat Modern)
Introduction
Di dunia ini hanya ada 112 unit pesawat F-86 Avon Sabre, 23 di antaranya berada di Indonesia pasca dihibahkannya jenis pesawat ini kepada TNI AU pada awal tahun 1973. Ke-23 pesawat datang dalam program yang disebut Garuda Bangkit yaitu mendatangkan 18 unit pesawat F-86 Avon Sabre yang datang pada tahun 1973 dalam dua gelombang pengiriman dan lima unit F-86 da­tang pada tahun 1976 dari TUDM (Tentara Udara Diraja Malaysia) yang tadinya dioperasikan oleh Skuadron Udara-11 bermarkas di Butterworth.
MIG Killer
F-86 Sabre adalah pesawat legendaris, terkenal sejak Perang Korea dan mendapat sebutan MiG-Killer karena berhasil merontokkan 792 pesawat MiG-­15 dalam 900 kali pertempuran udara dan “hanya” kehilangan 78 unit. Bila ini benar maka kill ratio pesawat F-86 terhadap MiG-15 adalah 10 : 1, angka yang fantas­tic. Meskipun dokumen Rusia menyebut bahwa mereka berhasil merontokkan 650 Sabre di udara dan diakui Amerika “hanya” 224 pesawat, terpenting bahwa pesa­wat F-86 Sabre memang dirancang sebagai pesawat tempur untuk keunggulan di udara.
Dengan berakhirnya Perang Dunia II hampir tidak ada perlombaan senjata, semua pihak masih menyesal dengan perbuatan masing-masing selama perang. Sementara itu dunia penerbangan makin maju sebagai dampak pengalaman selama perang, sehingga nantinya tercipta sebuah pesawat tempur yang kecil, lincah, tidak boros bahan bakar, dioperasikan seorang pilot dan mampu menyergap musuh dengan kecepatan tinggi. Pihak Barat dalam hal ini Amerika men­elurkan pesawat yang disebut F-86 Sabre dan pihak Timur dalam hal ini Rusia menghasilkan pesawat yang disebut MiG-15. Sepasang `anak kembar” inilah yang nanti akan bertemu dalam duel udara di atas Korea.
Edgar Schmued berhasil merancang pesawat yang diper­syaratkan oleh AU AS, maka lahirlah pesawat F-86 Sabre yang terbang perdana pada tanggal 1 Oktober 1947. Pesawat lincah yang ditenagai dengan mesin jet trial dan hanya diawaki seorang Pilot ini mampu melesat terbang mendekati kecepatan suara dengan struktur yang telah dirancang untuk penerbangan supersonik Untuk itulah ekor pesawat telah mengadopsi rancang bangun mutakhir serta adanya horizontal stabilizer yang mempunyai satu kesatuan – bertolak belakang dengan stabilizer pesawat terdahulu. Dengan penemuan baru ini masalah kontrol dapat teratasi dan pesawat dapat terbang melebihi kecepatan suara, karena pilot saat menggerakkan stick control semua bagian stabilizer akan bergerak. Namun teknologi permesinan be­lum mampu mengatasi, sehingga pesawat F-86 hanya dapat terbang supersonik dengan cara terbang dive pada sudut antara 70 hingga 90 derajat mengarah ke bawah.
Tiga prototipe telah dibuat untuk uji terbang statis dan dina­mis, sayang pesawat pertama jatuh terbakar setelah terbang 241 kali. Sedang prototipe kedua dan ketiga terus diuji coba hingga tahun 1953 agar mendapat pesawat yang diinginkan para pilot yaitu sebuah pesawat tempur kecil, lincah dan bertenaga. Setelah dilaksanakan serangkaian uji terbang akhirnya tercipta pesawat yang diberi reg­istrasi F-86 dengan enam senjata kaliber 12,7 mm (Browning M3 .50 inci) masing-masing dengan 300 butir peluru. Meskipun masih dilengkapi dengan alat bidik manual (manual ranging comput­ing gun sight) jenis Mark-18, pesawat yang mmpu terbang pada ketinggian 35.000 kaki ini merupa­kan pesawat terhebat di zamannya. Tidak heran banyak angkatan udara ingin memiliki pesawat ini. Bahkan beberapa negara ingin memproduksinya. Antara lain adalah pabrikan Commonwealth Aircraft Corporations di Fisher­man’s Bend, Melbourne, Aus­tralia, mendapat lisensi yang nanti hasil produksinya diberi label F-86 Avon Sabre (diproduksi 112 unit). Sedang Kanada dengan label CL‑13 Sabre (diproduksi 1.813 unit) dan Amerika tetap memakai label North American F-86 Sabre.
Efek Perang Korea
Dampak Perang Korea, permintaan pesawat F-86 dari luar negeri melesat tajam. Negara pertama yang berhasil mendapatkannya adalah Taiwan. Sebanyak 160 unit F-86F-1-NA dikirim ke Taiwan periode 1954 hingga 1956. Belakangan pada tahun 1958 dikirim lagi 320 unit F-86 dan tujuh unit tipe RF-86F dari surplus AU AS dan 135 unit lagi yang kesemuanya di upgrade menjadi F-86F-40. Tahun 1954 Kongres Amerika menyetujui pengiriman pesawat jenis ini ke Jepang guna membangun pasukan bela diri Jepang yang kemampuannya dikebiri akibat kalah perang. Awalnya terkirim68 unit T-33 dan 54 unit F-86 Sabre, belakangan dikirim lagi 135 unit dimana sebagian dirakit oleh Mitsubishi. Kemampuan merakit inilah nantinya menjadikan Mit­subishi mampu membuat sendiri 300 unit F-86F di bawah penga­wasan Amerika. Hingga tahun 1957 tulang punggung kekuatan udara Nihun Koku Jeitei ditopang oleh F-86F Sabre.
Saking lakunya pesawat ini, be­berapa negara termasuk Indonesia hanya mendapat pesawat bekas pakai. Indonesia mendapat dari Australia dan Malaysia padahal Malaysia sendiri mendapat pesa­wat bekas dari Australia. Negara penerima pesawat F-86 bekas pakai lainnya adalah Venezuela yang mendapat bekas dari Argentina dan juga Jerman; Saudi Arabia dan Portugal dari Norwegia; Bangla­desh dari Pakistan; dan Tunisia dari Amerika. Selain tampil sebagai pesawat andal dalam medan perang, pesawat yang lincah ini juga dipakai sebagai pesawat andalan tim aerobatik angkatan udara di antaranya Thunderbirds (USAF), Golden Eagle (Canada), Black Panther, Red Diamonds, Black Diamonds, 78 Wing Sabre Team, 3 Squadron Team dan Markerman (Australia), Blue Impuls (Jepang) dan tentunya TNI AU dengan tim aerobatik yang dinamakan Spirit-78. Kesemua tim aerobatik memanfaatkan kelincahan F-86 dan kemampuan manuver pada ketinggian rendah yang dapat disajikan secara spektakuler. Kemampuan untuk terbang invertel selama 12 detik juga merupakan salah satu sajian semua tim aerobatik yang mengu­nakan pesawat ini.
Kekuatan udara Indonesia
Pesawat F-86 Avon Sabre yang dioperasikan TNI AU sejak tahun 1973 akhirnya dikandangkan pasca tragedi jatuhnya pesawat TS-8620 dengan menewaskan pi­lotnya yaitu Mayor Pnb Budiardjo Soerono. Peristiwa tanggal 30 Oktober 1980 ini menutup lembar sejarah keperkasaan sang Sabre yang sempat menjadi perangkat tim aerobatik Spirit-78 di masa jayanya. Kemampuan sang Sabre masih dapat ditampilkan para pilot muda pimpinan Mayor Budiardjo saat mengikuti hari ABRI tanggal 5 Oktober 1980 di Jagorawi dengan menampilkan manuver yang spektakuler, lebih spektakuler lagi karena semua anggota tim adalah para pilot siswa konversi yang belum menyelesaikan pendidikan. Berkat leader yang baik para siswa mampu mengikuti manuver yang sulit sambil fly pass, antara lain dengan melakukan trill in roll, wing over dan clover leaf in box. Meskipun hanya dengan empat pe­sawat, “penampilan terakhir” F-86 di hadapan publik ini memancing decak kagum.
Kini kita masih dapat melihat sisa-sisa pesawat F-86 Avon Sabre yang dulunya dioperasikan di Skadron Udara 14 menggantikan keberadaan pesawat MiG-21 yang dikandangkan tahun 1966. Sejumlah pesawat F-86 registrasi TNI AU kini masih dapat dilihat di museum di Indonesia dan juga yang dijadikan monumen. Sedang sisanya semua diborong ke Amerika oleh perusahaan Aero Trader yang memenangkan tender pembelian pesawat F-86 (bekas) pada tahun 1989. Pesawat-pesawat tersebut saat ini tersimpan di Ocotillo, Wells. Meskipun cuma dioperasikan selama tujuh tahun (1973 -1980) pesawat ini telah mengubah cara pandang pilot tempur Indonesia dalam mengelola serta merawat sebuah skadron udara.
Diawali dengan pengiriman sejumlah teknisi ke Australia pada tanggal 30 Mei 1972 maka operasi bersandi Garuda Bangkit secara resmi diberlakukan. Operasi ini dipimpin oleh Pangkohanudnas (Marsekal Muda TNI Iskandar) guna menerima satu skadron plus pesawat bekas pakai yaitu F-86 Avon Sabre. Selanjutnya gelom­bang kedua diberangkatkan dan terakhir 12 pilot menutup pengir­iman personel TNI AU ke Aus­tralia. Mereka belajar di William­stown RAAF Base, Sydney, tempat dimana skadron Sabre berada.
Sayang dua pilot dikembalikan dan tidak dapat menyelesaikan pendidikan. Hal ini disebabkan karena pilot yang dikirim adalah mantan pilot MiG yang telah tu­juh tahun tidak terbang di pesawat tempur, meskipun sebelumnya telah diterbangkan lagi dengan pesawat L-29 di Indonesia untuk mengembalikan feeling sebagai pilot tempur. Lagi pula pesawat F-86 memang tidak ada yang bertempat duduk ganda sehingga harus langsung terbang solo. Na­mun begitu sesuai dengan silabus pendidikan RAAF para pilot harus terbang dulu di pesawat jet dual control type Aermachi milik RAAF yang dipakai sebagai pesawat OCU. Pola yang sama nantinya diterapkan buat pendidikan pilot Sabre di Indonesia, mereka harus terbang dan selesai mengikuti pelatihan dengan pesawat T-33 yang dipakai sebagai pesawat pre-Sabre transition.
Para teknisi TNI AU kembali ke Indonesia dalam dua gelombang. Gelombang pertama terdiri dari 64 teknisi dan gelombang kedua terdiri dari 49 teknisi diangkut dengan pesawat C-130 milik RAAF. Pendaratan para teknisi di Lanuma Iswahyudi akhir Desember 1972 sebagai persiapan kedatangan pesawat dan persiapan gelar skadron tempur. Untuk itu Lanuma Iswahyudi dipersiapkan dan dilengkapi dengan peralatan layaknya pangkalan operasional dengan dibangunnya fasilitas pengisian bahan bakar, renovasi tower beserta alat komunikasi, overlay landasan, dipasangnya barrier barricade, dibangun labo­ratorium minyak dan dibangun fasilitas perumahan bagi para teknisi Australia termasuk pem­bangunan mess yang kini dikenal dengan sebutan Wisma Cumulus di Sarangan.
Dalam keterbatasan pras­arana ke-10 pilot Indonesia dapat terbang dengan pesawat F-86 Sabre dan menyelesaikan pendidikan tepat waktu. Akhirnya pada awal tahun 1973 dibagi dalam dua gelombang diadakan feri pesawat dengan rute Wil­liamstown – Darwin – Denpasar – Iswahyudi. Untuk rute Denpasar ke Iswahyudi, beberapa pilot TNI AU menerbangkan pesawatnya sendiri. Terjadi kecelakaan ketika pesawat yang diterbangkan Lettu Pnb Budiardjo keluar landasan saat proses lepas landas. Pesawat registrasi F-8606 ini rusak cukup parah dan dikirim kembali ke Australia. Belakangan pesawat yang aslinya berregistrasi A94-952 (serial number CAC-199) dikirim ke Warbird Aviation Museum sebagai alat peraga pelatihan teknisi avionik. Nantinya pihak RAAF mengganti pesawat yang kecelakaan ini dengan pesawat registrasi A94-370 yang oleh TNI AU diberi registrasi F-8617 dan datang pada bulan November 1973.
Titik Balik
Kedatangan pesawat F-86 di Indonesia seolah merupakan titik awal kebangkitan skadron tempur, selain kemampuan kombatan sebagai pilot tempur diperkenalkan pula cara mengoperasikan, mendidik pilot dan teknisi serta penyusunan silabus dan persiapan briefing bagi siapapun yang akan memulai tugas di skadron udara. Saat itu para instruktur dari RAAF mengajarkan pengelolaan skadron mulai dari pelaksanaan morning briefing yang diikuti semua personel yang terlibat kegiatan, adanya weekly forum dan bold face check bagi pilot dan teknisi yang secara rutin dilakukan. Metode ini hingga kini tetap diberlakukan dan diadopsi oleh semua skadron di TNI AU.
Pembuatan Standard Operating Procedure, pembagian Training Area, kesiapan SAR termasuk ket­ersediaan pesawat heli saat training dan pembuatan Air Weapon Range juga limbah dari sentuhan personel RAAF yang bertugas mendamp­ingi para perwira TNI AU selama satu tahun dalam mempersiapkan sebuah skadron udara. Dengan kelengkapan fasilitas latihan untuk skadron udara maka Lanuma Iswahyudi ditetapkan sebagai pangkalan model – atau model pangkalan buat TNI AU yang akan membangun dan mengembangkan sebuah pangkalan udara. Nanti­nya semua pangkalan yang ada akan meniru Lanuma Iswahyudi. Termasuk pangkalan yang dikem­bangkan kemudian yaitu Medan, Pekanbaru, Makassar dan Kupang.
Sayang kemampuan pemukul F-86 yang dioperasikan di Skadron Udara-14 tidak dapat dipergu­nakan dalam operasi Seroja yang digelar di Timor Timur pada Desember 1975. Berapa jam sebelum F-86 berangkat ke Bacau keluar perintah untuk membat­alkan operasi udara yang telah dipersiapkan lama, dan akhirnya Operasi Cakar Garuda dibebankan pada Skuadron Udara dengan pesawat T-33. Meskipun operasi Cakar Garuda terlambat beberapa bulan menunggu proses untuk mempersenjatai pesawat T-33, na­mun operasi udara dapat berjalan dengan baik sambil menunggu kedatangan peawat OV-10F yang baru datang pada akhir tahun 1976.
Memang pesawat F-86 tidak terlibat operasi bersenjata yang di­gelar TNI, namun kehadiran pesa­wat Sabre telah mengangkat nama TNI AU saat tampil dalam demo udara di Senayan tanggal 5 Okto­ber 1978. Dengan hanya persiapan selama dua bulan Skadron Udara -14 berhasil menampilkan sebuah tim aerobatik dengan 12 manuver yang spektakuler. Penampilan yang dilengkapi dengan smoke trail apa adanya dengan mengisi salah satu tangki pesawat dengan oh jenis 0M-11 sehingga asap berwarna putih dapat tersajikan. Padahal untuk mengoperasikan asap ini salah satu switch di pesa­wat yaitu landing gears light switch telah diubah fungsinya untuk menyalakan lampu landing gears dan mematikan asap putih. Apresiasi buat tim Dislitbangau yang telah menciptakan alat ini meskipun satu pesawat yaitu F-8606 men­jadi rusak flaps akibat korosi saat dicobakan asap berwarna dengan menambahkan konsentrat pada bahan bakar pesawat.
Masuk museum
Selama tujuh tahun dioper­asikan, 38 pilot tempur TNI AU telah menerbangkan pesawat ini dan menyandang predikat pilot kombatan. Pilot kombatan yang hebat karena untuk terbang den­gan pesawat ini sang siswa harus terbang solo sejak awal – karena memang pesawat ini tidak ada jenis dual control. Dari 38 pilot tempur hanya satu yang meninggal di pesawat (Mayor Pnb Budiardjo Soerono) sementara tiga pilot telah menggunakan kursi lontar dan selamat. Keempat pesawat yang mengalami kecelakaan dalam waktu terpisah tersebut semua hancur. Sisa pesawat Sabre kini masih dapat dilihat satu di Museum Dirgantara Mandala, satu di Wingdiktekal Lanud Husein Sastranegara sebagai alat peraga dan delapan menjadi monumen di berbagai kota. Dua dikembalikan ke Australia dan sisanya seban­yak tujuh unit dibeli oleh sebuah perusahaan Amerika bernama Aero Trader pada tahun 1989 dan dionggokkan di Actolio Wells sebagai besi tua.
Seusai Masa Bakti
Selama menjadi alutsista di jajaran TNI AU, F-86 Sabre selain menjadi pesawat yang menghantar para pilot untuk menjadi penerbang pesawat tempur moderen juga berhasil menciptakan sejarah penerbangan tersendi­ri. Tapi setelah puma tugas, sejumlah F-86 TNT AU itu pun di grounded. Sebagian dipajang di sejurnlah tempat sebagai museum dan sebagian lagi dibeli oleh perusahaan Aero Trader dari AS. Tak semua F-86 yang dipajang sebagai museum terawat baik demikian juga yang dibawa ke AS. Sebagai saksi sejarah penerbangan TNI AU, F-86 yang difungsikan sebagai museum seharusnya dirawat dengan sebaik-baiknya.

  
Hovercraft Experimental TNI AU 

 
 
 
 
 


 Piter Arnold Lumintang salah satu pilot yang ikut Operasi Alpha ke Israel

 Putra Kawanua ini “terlahir sebagai pilot”, pantas trofi sekolah penerbang TNI AU angkatan ke-18/1973 berhasil diraih. Roy (begitu teman dan atasannya memanggil) selanjutnya diarahkan untuk bergabung dengan Skadron-14 yang kala itu baru mendapatkan pesawat F-86 Avon Sabre dari Australia. Sebelum terbang di F-86 is harus menyelesaikan transisi di pesawat T-33. Dia berhasil lulus dengan balk serta menyandang call sign Thunder-17. orang pertama lulus pada Transisi-II/T-33. Lulusan Akabri Udara 1971 ini di antara teman – temannya terkenal banyak pacar karena memang cakap. supel dan pandai berdansa.Tidak heran saat graduation night lebih dari satu cewek yang mengaku sebagai pacarnya. Di antaranya penyiar TVRI terkenal kala itu (1973/74).
Selepas bertugas di Wing-300 dan mempunyai kualifikasi pilot operasional F-86, Roy lebih dikenal dengan nick name Rascal, cocok dengan perawakan yang kecil dan lincah, walau pendiam. Roy sempat menjadi instruktur di Sekolah Penerbang /Wingdik untuk beberapa
tahun. Saat diadakan seleksi pilot tempur untuk mengawaki pesawat A-4 Skyhawk, Roy termasuk satu dari 10 pilot yang lulus dan dikirim ke Israel. Di Israel Roy juga diarahkan untuk menjadi salah satu pilot uji pesawat A-4 dan merupakan pilot andalan TNI AU selama bertugas di Skadron-11. Saat menjabat sebagai Komandan Skadron-11, Roy dikenal sebagai Komandan yang pendiam sehingga anak buahnya memberi panggilan sang Pendiam .
Berbekal jam terbang A-4 Skyhawksebanyak 2.000 jam dengan total jam 5.000 jam serta penugasan di lingkungan TNI AU, Roy lobos dengan mulus saat diadakan seleksi untuk menjadi atase udara dan ditugaskan sebagai Atase Udara RI di Perancis (Paris), selama 4 tahun. Roy adalah salah satu pilot A-4 yang berani mengaku bahwa dia memang terlibat dalam operasi Alpha dan dididik di Israel. Dia diwawancara oleh TV Swasta beberapa tahun yang lalu. Sebagai pilot didikan Israel, Roy juga menerapkan pola pendidikan yang efisien kepada anak buahnya dengan moto “performance as a weapon”.

 Saat pesawat A 4 dari Israel tiba di Indonesia, dan saat diangkut kain terpal yang dipakai untuk menutupi Skyhawk ini menurut kabar bekas pakainya F-5 Tiger yang hampir berbarengan tibanya di Indonesia. Ini semua hasil dan kerja kerasnya semua unsur Intelijen ABRI saat itu, khususnya pula berkat lobi KSAU Bapak Ashadi Tjahyadi sehingga Skyhawk bisa di kapal kan sampai ke Indonesia, kalau tidak salah sebelum sampai ke Tanjung Priuk, Kapal bermuatan Skyhawk ini diarahkan dengan tujuan dari Israel ke Singapura.


Pertama kali pesawat A 4 Sky Hawk dilihat oleh masyarakat umum.






 






 
 


Douglas A-4E Skyhawk (A4D-5)

Operasi Alpha "Ketika TNI-AU Melakukan Pembelian 32 Pesawat A4 Skyhawk Dari Israel"
 

“Mengecewakan! Rencana terbang yang susah payah kususun rapi langsung dibatalkan pagi-pagi. Aku mendapat perintah untuk menghadap komandan skadron. Yang terpikir, aku tidak lulus latihan terbang di Israel dan pulang ke Indonesia sebagai pilot pesakitan. Semua bayangan buruk musnah sudah. Aku ternyata menerima perintah baru untuk terbang dalam format sama, tetapi berbeda rute. Sebuah peta disodorkan lengkap dengan titik-titik rute. Ada sebuah garis merah yang wajib diterobos masuk dan dalam waktu dua belas menit harus kembali ke luar. Yang membuatku gugup, garis merah itu adalah garis perbatasan antara Israel dan Suriah”.
Cerita diatas adalah sepenggal kisah dari seorang pilot yang tergabung dalam operasi alpha, operasi alpha adalah operasi klandestin terbesar yang dilakukan oleh TNI AU, dimana TNI AU melatih pilot dan melakukan pembelian 32 pesawat A-4 Skyhawk dari Israel. Berikut adalah kutipan tentang operasi alpha yang diambil dari buku otobiografi Djoko F Poerwoko “Menari di Angkasa”.
Operasi Alpha
Memasuki tahun 1979, isu tentang bakal dilakukannya pergantian kekuatan pesawat-pesawat tempur TNI AU sudah mulai bergulir. Hal ini sebenarnya wajar saja, mengingat kondisi pesawat tempur F-86 dan T-33 memang sudah tua. Sehingga, kemudian pemerintah harus mencari negara produsen yang bisa menjual pesawatnya dengan segera. Amerika Serikat ternyata bisa memberikan 16 pesawat F-5 E/F Tiger II. Tetapi ini masih belum cukup untuk mengisi kekosongan skadron-skadron tempur Indonesia.
Dari penggalian intelijen, Mabes ABRI ternyata kemudian mendapatkan berita, bahwa Israel bermaksud akan melepaskan armada A-4 yang mereka miliki. Indonesia dan Israel memang tidak memiliki hubungan diplomatik. Tetapi pada sisi lain, pembelian armada pesawat tersebut akhirnya terus diupayakan secara klandestin, oleh karena pasti akan menjadi polemik dalam masyarakat apabila tersiar di media massa.
Menuju Arizona
Usai tugas menerbangkan F-86 Sabre aku sempat terbang lagi dengan T-33. Namun pada kenyataannya, kondisi kedua pesawat tempur tersebut sudah sangat jauh menurun. Kami semua akhirnya bersyukur, setelah dibuka dua proyek besar untuk mendatangkan kekuatan baru melalui Operasi Komodo yakni pesawat F-5 E/F Tiger II serta Operasi alpha untuk menghadirkan pesawat A-4 Skyhawk.
Kerahasiaan tingkat tinggi sudah terlihat dari tata cara pemberangkatan personel. Saat kami semua sudah siap untuk berangkat, tidak seorang pun tahu, kemana mereka harus pergi. Operasi Alpha dimulai dengan memberangkatkan para teknisi Skadron Udara 11. Setelah tujuh gelombang teknisi, maka berangkatlah rombongan terakhir yang terdiri dari sepuluh penerbang untuk belajar mengoperasikan pesawat.
Sebagai tim terakhir, kami mendapat pembekalan secara langsung di Mabes TNI AU. Awalnya hanya mengetahui bahwa para penerbang akan berangkat ke Amerika Serikat untuk belajar terbang disana. Informasi lain-lain masih sangat kabur.
Setelah mengurus segala macam surat-surat dan beragam kelengkapan berbau “Amerika”, akhirnya kami berangkat menuju Singapura, dengan menggunakan flight garuda dari Bandara Halim Perdanakusuma.
Kami mendarat pada senja hari di Bandara Paya Lebar, Singapura, langsung diantar menuju hotel Shangrila. Dihotel tersebut ternyata telah menunggu beberapa petugas intel dari Mabes ABRI, berikut sejumlah orang yang masih asing dan sama sekali tidak saling dikenalkan. Kami akhirnya mulai menemukan jawaban bahwa arah sebenarnya tujuan kami bukan ke Amerika Serikat melainkan ke Israel. Sebuah negara yang belum terbayangkan keadaannya dan mungkin paling dibenci oleh masyarakat Indonesia.
Saat itu salah satu perwira BIA (Badan Intelojen ABRI, BAIS sekarang) yang telah menunggu segera mengambil semua paspor yang kami miliki dan mereka ganti dengan Surat Perintah Laksana Paspor (SPLP). Keterkejutanku semakin bertambah dengan kehadiran Mayjen Benny Moerdani, waktu itu kepala BIA, mengajak rombongan kami makan malam. Dalam kesempatan tersebut beliau dengan wajah dingin dan kalimat lugas, tanpa basa-basi langsung saja mengatakan, ” Misi ini adalah misi rahasia, maka yang merasa ragu-ragu, silahkan kembali sekarang juga. Kalau misi ini gagal, negara tidak akan pernah mengakui kewarganegaraan kalian. Namun, kami tetap akan mengusahakan kalian semua bisa kembali dengan jalan lain. Misi ini hanya akan dianggap berhasil apabila sang merpati telah hinggap…”
Mendengar ucapan beliau, perasaanku langsung bergetar. Wah, ini sudah menyangkut operasi rahasia beneran mirip James Bond. Bahkan sekalanya lebih besar. Bagaimana mungkin membawa satu armada pesawat tempur masuk ke Indonesia tanpa diketahui orang? Rasa terkejut semakin besar, oleh karena kami bersepuluh kemudian langsung berganti identitas yang mesti kuhapal diluar kepala saat itu juga.
Setelah acara makan malam, kami harus segera bergegas menuju Bandara Paya lebar dan terbang menuju Frankfurt dengan menggunakan Boeing 747 Lufthansa. Mulai sekarang, kami tidak boleh bertegur sapa, duduk saling terpisah, namun masih dalam batas jarak pandang.
Begitu mendarat di Bandara Frankfurt, kami harus berganti pesawat lagi untuk menuju Bandara Ben Gurion di Tel Aviv, Israel. Semakin aneh perjalanan, baru berdiri bengong karena masih jet lag, tiba-tiba seseorang langsung menyodorkan boarding pass untuk penerbangan ke Tel Aviv pada penerbangan berikutnya. Sampai di Bandara Ben Gurion, sesudah terbang sekitar empat jam, aku pun turun bersama para penumpang lain dan teman-temanku. Saling pandang dan cuma melirik saja, harus kemana jalan, mengikuti arus penumpang lain menuju pintu keluar.
Tetapi tanpa terduga, kami malah mendapat perlakuan tidak menyenangkan, sebagai bagian dari operasi intelijen. Kami langsung ditangkap dan digiring petugas keamanan bandara. hanya pasrah, oleh karena memang tidak tahu skenario apalagi yang harus dijalankan, yang ada hanya manu dengan hati berdebar.
Tamat riwayatku kini. Kubayangkan, betapa hebatnya agen rahasi Mossad yang dapat dengan cepat mengendus penumpang gelap tanpa paspor, berusaha menyelundup masuk ke negaranya.Meski dengan sopan si Mossad memperlakukan kita, tetap saja kami berpikir buruk. Kami semua akan langsung dideportasi atau dihukum mati minimal dipenjara seumur hidup. Sebab tidak ada bukti, siapa memberi perintah datang ke Israel. Sampai diruang bawah tanah, persaan kami tenang setelah melihat para perwira BIA yang dilibatkan dalam Operasi Alpha. Kemudian baru aku tahu, kami memang sengaja diskenariokan untuk ditangkap dan justru bisa lewat jalur khusus, guna menghindari public show apabila harus ke luar lewat jalur umum.
Kami langsung menerima brifing singkat mengenai berbagai hal yang harus diperhatikan selama berada di Israel. Yang tidak enak adalah kegiatan sesudahnya yaitu sweeping segala macam barang bawaan yang berlabel made in Indonesia. Kami juga diajarkan untuk menghapal sejumlah kalimat bahasa Ibrani, Ani tayas mis Singapore yang artinya aku penerbang dari Singapura. Ada sapaan boken tof berarti selamat pagi dan shallom sebagai sapaan saat bertemu dengan kawan.
Eliat, pangkalan udara rahasia
Semalam tidur dihotel, kami kemudian diangkut dalam satu mobil van menuju arah selatan menyusuri Laut Mati. Setelah dua hari perjalanan, kami sampai dikota Eliat. Perjalanan dilanjutkan kembali ditengah padang pasir, setelah melewati beberapa pos jaga, akhirnya van masuk ke sebuah pangkalan tempur besar diwilayah barat kota Eliat. Di Israel, pangkalan tidak pernah memiliki nama pasti. Nama pangkalan hanya berupa angka dan bisa berubah. Bisa saja nama pangkalan itu adalah base number nine di hari tertentu, namun esoknya bisa diganti dengan angka lain. Sesuai kesepakatan bersama, kami menyebut tempat ini dengan Arizona, oleh karena dalam skenario awal kami memang disebutkan akan berlatih terbang di Amerika.
Total waktu rencana pelatihan selama empat bulan. Selama itu para penerbang melaksanan kegiatan pelatihan, dari ground school hingga bina terbang, agar mampu mengendalikan pesawat A-4 Skyhawk. Latihan terbang diawali dengan general flying sebanyak dua jam, ditemani instruktur israel. Setelah itu, kami semua sudah boleh terbang solo. latihan kemudian dilanjutkan dengan pelajaran yang lebih tinggi tingkat kesulitannya. kali ini kami harus mampu mengoperasikan pesawat A-4 sebagai alat perang.
Selama di Eliat, walau terjadi berbagai macam masalah, namun tidak sampai mengganggu kelancaran latihan. Masalah utama tentunya bahasa, sebab tidak semua penerbang Israeli Air Force (IAF) bisa berbahasa Inggris, sedangkan kami tidak diajari berbahasa Ibrani secara detail. Masalah lain adalah telalu ketatnya pengawasan yang diberlakukan kepada para penerbang. Bahkan kami semua selalu dikawani satu flight pesawat tempur selama berlatih.
Pelajaran terbang yang efektif. Misalnya terbang formasi tidak perlu jam khusus tetapi digabung latihan lain seperti saat terbang navigasi atau air to air. sehingga dengan jam yang hanya diberikan sebanyak 20 jam/20 sorti, kami semua dapat mengoperasikan A-4 sebagai alutsista. Dalam siklus ini pula, aku pernah menembus sistem radar Suriah dengan instruktur ku.
Latihan terbang kami berakhir tanggal 20 Mei 1980 dengan dihadiri oleh beberapa pejabat militer Indonesia yang semuanya hadir dengan berpakaian sipil. Kami mendapat brevet penerbang tempur A-4 Skyhawk dari IAF. Rasanya bangga, oleh karena kami dididik penerbang paling jago didunia. Namun kegembiraaan selesai pendidikan segera berubah sedih, oleh karena brevet dan ijasah langsung dibakar didepan mata kami oleh para perwira BIA yang bertindak sebagai perwira penghubung. kami dikumpulkan di depan mess dan barang-barang kami disita dan segera dibakar. Termasuk brevet, peta navigasi, catatan pelajaran selama dipangkalan ini. Mereka hanya berpesan, tidak ada bekas atau bukti kalau kalian pernah kesini. Maka hapalkan saja dikepala, semua pelajaran yang pernah diperoleh.
Wing day di Amerika
Selesai pendidikan di Israel, kami tidak langsung pulang ke Indonesia, namun diterbangkan dulu ke New York. semalam di New York, kemudian diajak ke Buffalo Hill di dekat air terjun Niagara. Ternyata kami sengaja dikirim kesana untuk bisa melupakan kenangan tentang Israel. kami diberi uang saku yang cukup banyak menurut hitungan seorang Letnan Satu.Aku juga dibelikan kamera merek Olympus F-1 lengkap dengan filmnya dan diwajibkan mengambil foto-foto dan mengirim surat atau kartu pos ke Indonesia, untuk menguatkan alibi bahwa kami semua benar-benar menjalani pendidikan terbang di AS.Akhirnya selama ada objek yang menunjukkan tanda medan atau bau AS, pasti langsung dipakai sebagai background foto. Tidak terkecuali pintu gerbang hotel, nama toko bahkan sampai tong sampah bila ada tulisan United State of America pasti dijadikan sasaran foto.
Aku dibawa lagi ke New York, para penerbang kemudian diberikan program tur keliling AS selama dua minggu, mencoba tidur di sepuluh hotel yang berbeda dan mencoba semua sarana transportasi dari pesawat terbang hingga kapal.
Di Yuma, Arizona, kami telah diskenariokan masuk latihan di pangkalan US Marine Corps (USMC), Yuma Air Station. Tiga hari dipangkalan tersebut, kami dibekali dengan pengetahuan penerbangan A-4 USMC, area latihan dan mengenal instrukturnya. Kami juga wajib berfoto, seakan-akan baru diwisuda sebagai penerbang A-4, skaligus menerima ijasah versi USMC. Ini sebagai penguat kamuflase intelijen, bahwa kami memang dididik di AS. Salah satu foto wajib adalah berfoto di depan pesawat-pesawat A-4 Skyhawk USMC.
Sebelum pulang ke tanah air, aku juga mendapat perintah untuk menghapalkan hasil-hasil pertandingan bulu tangkis All England. Tambahannya, aku juga diharapkan menghapal beberapa peristiwa penting yang terjadi di dunia, selama aku diisolasi di Israel. Pelajaran mengenai situasi dunia luar tersebut terus diberikan, meskipun kami sudah berada di perut pesawat Branif Airways dengan tujuan Singapura.
Sang Merpati Hinggap
Tanggal 4 Mei 1980, persis sehari sebelum pesawat C-5 Galaxy USAF mendarat di Lanud Iswahyudi, Madiun, mengangkut F-5 E/F Tiger II, paket A-4 Skyhawk gelombang pertama, terdiri dua pesawat single seater dan dua double seater tiba di Tanjung Priok. Pesawat-pesawat tersebut diangkut dengan kapal laut langsung dari Israel, dibalut memakai plastik pembungkus, cocoon berlabel F-5. Dengan demikian, seakan-akan satu paket proyek kiriman pesawat terbang namun diangkut dengan media transportasi berbeda.
Nantinya, ketika sudah kembali lagi di Madiun, kepada atasan pun kukatakan bahwa pelatihan A-4 di Amerika. Sebagai bukti kuperlihatkan setumpuk fotoku selama berada di Amerika. Ingin melihat foto New York, aku punya. Mau melihat foto Akademe AU di Colorado, aku punya. Karena percaya, atasanku di Wing-300 malah sempat berkata, “Saya kira tadinya kamu belajar A-4 di Israel, enggak tahunya malah di Amerika. Kalau begitu isu tersebut enggak benar ya?”
Last but not least, gelombang demi gelombang pesawat A-4 akhirnya datang ke Indonesia setiap lima minggu, lalu semuanya lengkap sekitar bulan September 1980.
Berprestasi Tapi Harus Menutup Diri
Saat F-5 datang ke Indonesia, ternyata masih belum dilengkapi dengan persenjataan. Sedangkan A-4 justru sudah dipersenjatai dan langsung bisa digunakan dalam tugas-tugas operasional. Sehingga apa saja kegiatan TNI AU baik operasi maupun latihan selalu identik dengan F-5, walau kadang-kadang yang melakukannya adalah pesawat A-4.
A-4 tetaplah A-4 dan samasekali bukan F-5. Kondisi serba rahasia bagi armada A-4 bertahan sampai perayaan HUT ABRI tanggal 5 Oktober 1980, dimana fly pass pesawat tempur ikut mewarnai acara tersebut. Pesawat A-4 tampil bersama-sama F-5 dimana untuk pertama kalinya pesawat A-4 dipublikasikan dalam event besar. Setelah ini, sedikit demi demi sedikit mulailah keberadaan A-4 dibuka secara jelas. Tidak ada lag tabir yang sengaja dipakai untuk menutupi keberadaan pesawat A-4 di mata rakyat Indonesia.
Mencari detail tentang operasi Alpha susahnya minta ampun, karena tidak ada penerbang yang berangkat ke Israel selain Djoko Poerwoko yang mau menceritakan pengalamannya. Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk beliau yang mau menceritakan pengalamannya didalam 3 buku, walaupun mencari buku tersebut juga susahnya bukan main. Buku “My Home My Base” hanya untuk kalangan internal TNI AU, Buku “Fit Via Vi” yang merupakan otobiografi dari beliau juga merupakan cetakan untuk kalangan terbatas. Buku “Menari di Angkasa” adalah buku “Fit Via Vi” yang dicetak untuk umum, walaupun begitu tetep aja susah nyarinya (saya merasa beruntung memilikinya). Bahkan dibuku otobiografinya benny Moerdani ga dibahas sama sekali. Terimakasih juga untuk Metro tv yang beberapa bulan lalu juga menayangkan tentang operasi alpha dalam acara special operation (di liputan tersebut ada wawancara dengan Djoko Poerwoko dan satu orang pilot lagi, tapi lupa namanya).
Kontroversi tentang pengungkapan pembelian A-4 dari Israel ke publik juga diungkap oleh beliau dibukunya, beliau menulis:
“Saat buku “My Home My Base” diluncurkan, ada polemik yang menyisakan kenangan, yaitu cerita tentang keterlibatan ke Israel untuk mengambil A-4 Skyhawk. Banyak orang mempertanyakan, mengapa aku mengumbar rahasia negara. Dengan singkat hanya kujawab, “Siap, saya sudah minta ijin Kasau dan beliau mengijinkan, karena kita sebagai prajurit tidak boleh selamanya membohongi rakyat. Maka mereka yang bertanya punt idak lagi berkomentar. Memang, didalam buku “My Home My Base” kutulis sedikit tentang perjalanan ke Israel untuk berlatih terbang A-4. Bukan untuk mencari sensasi, aku sudah menimbangnya masak-masak unung dan ruginya. Namun sebelumnya. tentu saja aku minta ijin KASAU sebagai salah satu senior A-4 dan pemimpin tertinggi Angkatan Udara. Beliau (pak Hanafie) ternyata mengizinkan, sehingga tulisan itu go ahead.”
Sebagai informasi tambahan, hingga saat ini bahkan setelah A-4 digrounded pada tahun 2004, Mabes TNI AU tidak pernah mengakui operasi alpha pernah terjadi.
Sumber : Poerwoko, Djoko F. Menari di Angkasa. Kata hasta pustaka. Jakarta. 2007


 
Cessna T 41 D



Cessna 180

Cessna 185



Cessna T207 Turbo Stationair

AS 202 Bravo
 





 
 Pesawar SF 260 TNI AU yang diserahkan ke STTA 
di Yogyakarta untuk praktek 

 

 
SF 260 MS / WS 






 Grob G120TP

Perusahaan Grob Aircraft telah mendapatkan pembeli untuk pesawat jenis G120TP-nya. Angkatan udara Indonesia berencana akan menambahkan pesawat G120TP tersebut kedalam armadanya, yang nantinya akan difungsikan sebagai pesawat latih dasar menggantikan AS 202 Bravo.
Grob Aircraft mengatakan, "G120TP turboprop telah dipilih setelah menghadapi persaingan ketat dari Finmeccanica [Alenia Aermacchi] SF-260TP dan Pasifik Aerospace CT-4".
Pengiriman akan dimulai pada tahun 2012, dan perusahaan ini juga akan menyediakan sistem pelatihan darat berbasis komputer, perlengkapan untuk briefing misi dan pembekalan, simulasi kokpit dan paket penuh untuk dukungan pemeliharaan.
Kesepakatan ini, kemungkinan untuk sekitar 18 pesawat.




 
T 34 C Turbo Mentor



 


KT 1 B Wong Bee

Ada 12 pesawat KAI KT 1 B. Pesawat latih dasar yang diterima TNI AU antara bulan Juni 2003 dan bulan Agustus 2007. 5 diantaranya dirakit di PT DI Bandung. Dan pada tanggal 24 Juni 2010 satu peasawat KT 1 B jatuh di Bandara Ngurah Rai Bali.



Foto mantan KSAU, Marsekal TNI Purn Herman Prayitno saat berpangkat Lettu Pnb saat berpose disamping OV-10F Bronco pada tahun 1979 di Lanud Abdulrahman Saleh, Malang. Dalam penugasannya, beliau sering terbang bersama seniornya yaitu Kapt Pnb Suminhar Sihotang begitupula saat Bronco yang diawakinya berdua tertembak oleh Fretilin.












 
 


 
 
 


North American Rockwell OV-10F Bronco

OV-10 Bronco (Kuda Liar Pelibas GPK Andalan TNI AU)
Introduction
OV-10 Bronco adalah pesawat militer ringan berbaling-baling bermesin ganda buatan North American Rockwell sebagai pesawat serang ringan dan pesawat angkut ringan. Pesawat ini dikembangkan pada tahun 1960-an sebagai pesawat khusus untuk pertempuran COIN (COunter-INsurgency) atau anti-gerilya. Walaupun memiliki sayap tetap, kemampuannya mirip dengan kemampuan helikopter serbu berat yang cepat, mampu terbang jarak jauh, murah dan sangat dapat diandalkan.
OV-10 Bronco mampu terbang pada kecepatan sekitar 560 km/jam, memuat bahan peledak eksternal seberat 3 ton, dan mampu terbang tanpa henti selama 3 jam atau lebih. Pesawat ini berharga karena kemampuannya dalam mengemban berbagai misi, memuat berbagai macam senjata dan kargo, area pandang pilot yang luas, kemampuan terbang dan mendarat di landasan yang pendek, biaya operasi yang murah dan kemudahan dalam perawatan. Dalam banyak kejadian, pesawat ini mampu terbang baik hanya dengan menggunakan satu mesin.
Ditangan TNI AU
Ulah GPK (Gerakan Pengacau Keamanan) kerap harus dihadapi dengan tindakan tegas, salah satunya dengan opsi militer. Nah, dari sekian banyak cara untuk mematahkan aksi GPK, boleh jadi harus mencontoh kehebatan pesawat tempur OV-10F Bronco, sebagai pesawat dengan turbo propeller (baling-baling), Bronco sangat pas untuk misi anti gerilya dengan kecepatan yang tak terlampau tinggi, pas untuk ”menghabisi” secara akurat titik-titik konsentrasi pasukan gerilya GPK.
Bronco tergolong pesawat yang punya reputasi tempur tinggi, tak cuma di kancah perang Vietnam, di Indonesia sendiri pesawat yang dijuluki ”Kampret” ini punya reputasi yang memukau dalam banyak medan tempur. Kiprah terbesarnya tak lain saat memberikan BTU (bantuan tembakan udara) saat operasi Seroja melawan pasukan Fretilin di Timor-Timur, kemudian Bronco juga terlibat aktif dalam mendukung operasi penumpasan GPK Aceh Merdeka. Dan masih banyak operasi lain yang melibatkan Kuda liar ini.
Bronco dihadirkan oleh TNI-AU sebagai pengganti P-51 Mustang si ”Cocor Merah” yang masuk dalam usia pensiun di era tahun 70-an. Bronco dipandang sesuai untuk melakukan operasi pertempuran di dalam negeri, khsusunya untuk meredam pemberontakan yang marak muncul di Tanah Air. Hal ini disebabkan persenjatan Bronco memang dirancang untuk anti personel. Yakni berupa empat pucuk senjata kaliber 12,7 mm di tiap-tiap sponson-nya (merupakan modifikasi, bersi awalnya Bronco menggunakan senjata M60 kaliber 7,6 mm), kemudian lima buah station dibawah fuselage bomb untuk segala fungsi dan berat, mulai dari bom 100 Kg sampai 250 Kg jenis ZAB, MK-28, OFAB dan bisa disiapkan dengan peluncur roket FFAR.
Untuk melindung pilot dan navigator dari terjangan peluru lawan, canopy depan dan lantai dasar Bronco dibalut lapisan anti peluru. Bronco juga punya kemampuan untuk menerjunkan pasukan. Dari semua negara pengguna Bronco, termasuk US Air Force dan US Navy, baru Indonesia yang pernah melaksanakan dropping pasukan. Salah satunya pernah diadakan ”combat free fall” dengan jumlah empat orang dari ”pantat” Bronco. Untuk misi jarak jauh, kompartmen di bagian ”pantat” bisa disulap sebagai tanki bahan bakar, seperti digunakan saat penerbangan ferry Bronco dari AS menuju Indonesia.
Jumlah Bronco yang dimiliki TNI-AU total ada 16 unit. Pada awal kehadirannya Bronco masuk dalam skadron 3, kemudian berpindah menjadi warga skadron 1 pembom. Seiring waktu berjalan dan pengabdian, jumlah Bronco terus berkurang hingga hanya layak disebut sebagai ”unit” dan nasibnya terselamatkan dengan pembentukan skadron udara 21. Ada kabar sebelumnya bahwa Thailand akan menjual 20 Bronco kepada Indonesia, tapi hingga kini belum ada realisasi lebih lanjut.
Dengan usia terbang yang lebih dari 30 tahun, membuat terbang Bronco lumayan berisiko, terakhir sebuah Bronco jatuh pada bulan Juli 2007 di area persawahan di kota Malang, dua awaknya dilaporkan tewas. TNI-AU pun tengah menunggu untuk mendapatkan pengganti Bronco, kandidat yang diajukan adalah EMB-314 Super Tucano dari Brazil dan KO-1 dari Korea Selatan.
Dengan kecepatan terbang yang rendah, Bronco pas untuk aksi COIN (Counter Insurgency), tapi bisa jadi buah simalakama bila menghadapi senjata penangkis serangan udara. Dengan kecepatan terbang yang rendah Bronco bisa jadi santapan empuk meriam dan rudal anti pesawat. Hal inilah yang menjadi kendala Bronco saat beraksi dalam perang Vietnam.
Sampai perang Teluk di tahun 1992, Bronco tetap eksis digunakan oleh US Marine sebagai pesawat intai. Berbeda dengan Bronco milik TNI-AU, Bronco milik US Marine dilengkapi alat pengintai canggih, kamera terintegrasi, radar, FLIR (Forward Looking Infrared) dan lebih hebat lagi Bronco US Marine bisa menggotong rudal udara ke udara Sidewinder. Sayang Bronco TNI-AU tak sempat di upgrade untuk persenjataan lebih canggih. Selain Indonesia, Bronco juga dipakai oleh Jerman, Thailand, Venezuela dan AS tentunya.
Spesifikasi OV-10F Bronco
    Produsen : North American, Rockwell Internationa
    Kru : 2
    Lebar sayap : 12,9 meter
    Tinggi : 4,62 meter
    Berat kosong : 3,127 Kg
    Berat Max Take off : 6,522 Kg
    Mesin : 2 x Garret T76 G-410/412 turboprop, 715 hp (533 kW) each
    Kecepatan Max : 452 Km / jam
    Jarak Tempuh : 358 Km
Pengguna
    Amerika Serikat
    Jerman Barat
    Thailand
    Venezuela 
    Indonesia 


Pada penampilan pertamanya, Tim "Spirit 85" muncul pada peringatan HUT ABRI 5 Oktober 1985 dengan manuver steep turn left, barrel roll left, loop/lezy eight, combination break, bom burst, full configuration, wing over split two, carousel cross dan straight over ( fly pass ).
Kekhasan Tim Spirit'85 adalah penggunaan 4 dan 6 pesawat latih jet Hawk Mk-53 yang presisi untuk melakukan aerobatik; selain para penerbang yang mengawaki berkualifikasi instruktur yang mengantongi jam terbang rata-rata 3000 jam sehingga kemampuan beraerobatik sangat tinggi.

 

Para pilot Jupiter Aerobatic Team TNI AU dengan pesawat HS Hawk Mk 53
Para penerbang yang tercatat sebagai anggota JAT di peralihan milenium adalah Letkol (Pnb) Barhim Toka, Letkol (Pnb) Tri Budi Satriyo, Mayor (Pnb) Anang Nurhadi Susilo, Mayor (Pnb) Donny Ermawan, Kapten (Pnb) Andis Solihin, dan Lettu (Pnb) Budi Ramelan.









BAe Hawk Mk 53

Saat baru datang dan bergabung di Skadik 103 Lanud Adi Sucipto Yogyakarta ada sekitar 20 pesawat HS Hawk Mk 53.
LL-5301 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312190/126
LL-5302 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312191/152
LL-5303 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312192/155
LL-5304 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312193/161
LL-5305 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312194/166
LL-5306 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312195/171
LL-5307 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312196/175
LL-5308 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312197/179
LL-5309 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312256/222
LL-5310 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312257/223
LL-5311 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312258/226
LL-5312 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312259/227
LL-5313 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312260/228
LL-5314 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312268/244
LL-5315 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312269/245
LL-5316 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312270/246
LL-5317 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312271/249
LL-5318 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312277/253
LL-5319 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312278/254
LL-5320 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312279/255

Lalu ada yang mengalami kecelakaan sebanyak 6 pesawat yaitu
17-06-1981 LL-5307 Hawk T.53 Indonesian Air Force.
17-06-1981 LL-5308 Hawk T.53 Indonesian Air Force.
17-09-1981 LL-5302 Hawk T.53 Indonesian Air Force.
22-10-1981 LL-5304 Hawk T.53 Indonesian Air Force.
10-08-1983 LL-5303 Hawk T.53 Indonesian Air Force.
20-06-1989 LL-5318 Hawk T.53 Indonesian Air Force.

Lalu adanya embargo dari Inggris dan kurangnya ketersediaan suku cadang menyebabkan adanya pengurangan jumlah pesawat sehingga ketika masuk Skuadron 15 tinggal 7 pesawat HS Hawk Mk 53, yaitu :
TT-5301 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53
TT-5305 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53
TT-5309 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53
TT-5310 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53
TT-5311 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53
TT-5314 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53
TT-5316 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53

Sedangkan HS Hawk Mk 53 yang no registrasinya tersebut di bawah ini :
LL-5306 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312195/171
LL-5312 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312259/227
LL-5313 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312260/228
LL-5315 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312269/245
LL-5317 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312271/249
LL-5319 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312278/254
LL-5320 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53 312279/255
Dikabarkan dijual balik ke pihak Bae Inggris.

 
Lalu pada tahun 2002 ada 2 pesawat HS Hawk Mk 53 mengalami kecelakaan di Lanud Iswahyudi Madiun yaitu:
28-03-2002 TT-5310 Hawk T.53 Indonesian Air Force.
28-03-2002 TT-5311 Hawk T.53 Indonesian Air Force.
Dua pesawat latih tempur Hawk MK- 53 TNI-AU TT 5310 dan TT 5311 jatuh di Madiun, tanggal 28 Maret 2002 sekitar pukul 08.45 WIB, saat melaksanakan latihan aerobatik, dan empat awak pesawat itu -pilot serta kopilot- tewas.

 
Dan kini dari 5 buah yang tersisa yaitu :
TT-5301 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53
TT-5305 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53
TT-5309 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53
TT-5314 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53
TT-5316 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53

Dan dari 5 buah pesawat HS Hawk Mk 53 milik TNI AU hanya ada 2 buah pesawat yang masih bisa terbang salah satunya adalah:
TT-5314 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53
TT-5316 HAWKER SIDDLEY (BAE) HS-1182 HAWK T Mk.53

Pesawat HS Hawk Mk 53 akan segera digantikan oleh T 50 Golden Eagle di tahun 2013 ini.
 

 


 
 
 

T 50i Golden Eagle 


 
 
 

BAe Hawk Mk 109







 
 
BAe Hawk Mk 209


Pesawat Hawk merupakan pesawat tempur taktis utama yang ditempatkan di Skuadron Udara 1 dan 12 yang diterima TNI AU sebanyak 40 buah pada bulan Mei 1996. Hawk Mk 200 menggantikan pesawat OV 10 Bronco. Ada 10 pesawat yang telah ajatuh dan saat ini ada 7 buah pesawat Hawk Mk 109 dan 26 Hawk Mk 209 yang masih beroperasi. Dan berikut beberapa data tentang jatuhnya pesawat Hawk Mk 109 dan Hawk Mk 209:
Pada tgl 21November 2006, type pesawat Hawk Mk209, no register TT-0207 dari Skadron Udara 12, menagalami kecelakaan di Pelabuhan Udara Sultan Sarif Kasim II peasawat tergelincir keluar landasan setelah mendarat. pilot yang bernama Mayor Pnb Dadang melompat dengan kursi lontar Martin-Baker Mk.10 dengan selamat (sumber dari : http://www.ejection-history.org.uk/Aircraft_by_Type/HAWK/HAWK.htm).

Pada tanggal 30 Oktober 2007 jam 08.49 WIB dengan penerbang Kapten Hermawan M. Qisha menggunakan pesawat Hawk Mk 209 no register TT 0203. Komandan Lanud Pekanbaru Kolonel Gandhara Olivenca didampingi Kepala Penerangan dan Perpustakaan (Kapentak) Mayor (Sus) Dede Nasruddin kepada wartawan mengatakan belum bisa memastikan penyebab kecelakaan. "Kami belum bisa menjelaskan penyebab kecelakaan. Saat ini kami masih melakukan penyelidikan. Tapi, yang pasti pesawat tergelincir di ujung landasan pacu, dengan pilot dalam keadaan selamat," terang Danlanud. Dia menjelaskan, ketika itu tiga pesawat tempur hendak terbang. Namun, karena pesawat mengalami masalah, pilot Kapten H.M. Qisha memutuskan membatalkan penerbangan yang kemudian membuat ’burung besi’ itu terguling. Untungnya, aparat TNI-AU di lanud sigap. Mereka bertindak cepat untuk menyelamatkan pilot M. Qisha yang hampir kehabisan oksigen. "Pilot diselamatkan tanpa kurang sesuatu apa pun," tuturnya. Bagaimana kondisi pesawat? Yang agak ’menolong’ tidak terjadi ledakan atau kobaran api. Walaupun terbalik, bodi pesawat tidak rusak parah. Danlanud juga mengaku baru saja menggelar rapat dengan Komandan Panglima Operasional I Wilayah Barat Marsekal Muda Edi Wiyatmoko. Dia mengatakan, pesawat yang tergelincir itu merupakan produksi 1995 dengan produsen negara Inggris. Kerusakan pesawat sementara ditaksir 40 persen. Yang membuat prihatin, kejadian itu yang kedua dalam dua tahun terakhir. Pesawatnya sama dan tempatnya sama. Kejadian pertama pada medio November 2006. Saat itu juga tak ada korban jiwa.(sumber : http://202.158.39.213/content.asp?contentid=3176 atau http://www.tni-au.mil.id/ dan http://www.depdagri.go.id/news/2007/10/31/tergelincir-hawk-tni-au-terbalik dan http://www.radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&op=printarticle&artid=18439)
Agung "sharky" Sasongko Jati jatuh menggunakan Hawk Mk.109 di Pekanbaru.
 

Sesuai kontrak pengadaan 16 pesawat F-5E/F maka juga dikirim beberapa penerbang TNI AU ke USAF untuk melaksanakan pendidikan konversi di F-5. Mereka yang ditunjuk dan diberangkatkan oleh TNI AU ke William Air Force Base, Markas F-5E/F USAF, adalah Mayor Holki Basah Kartadibrat (Komandan Skadron Udara 14), Mayor Budihardio Surono. dan Kapten Lambert Silooy. Akan tetapi, karena Lambert Siloov sakit, akhirnya digantikan oleh Kapten Zeky Ambadar. Holki dan Budihardjo tiba duluan di AS pada Desember 1979, sedangkan Zeky Ambadar tiba pada Januari 1980. 
Setelah lulus menjalani berbagai tes, ketiga penerbang TNI AU kemudian berlatih terbang di William AFB, Arizona menggunakan T-38. Tepatnya lagi di Skadron 425th yang dilengkapi 25 F-5E, 2 F-5F, dan 9 F-5B. Di situ penerbang TNI AU dididik bareng dengan penerbang dan negara lain yang menggunakan F-5 sekaligus tempat lahirnya pilot pertama F-5.

Mayor Pnb Budiharjo Surono " Bison " di pesawat F 5 E/F Tiger II.
Mayor Pnb Budiharjo Surono " Bison " ke luar negeri untuk mengambil F 5........"di tahun 1979 sehingga di tahun 1979 Tim Aerobatik F-86 Sabre (dimana beliau adalah salah satu personilnya) tidak mengikuti acara HUT ABRI pada tanggal 5 Oktober 1979 disebabkan oleh banyak penerbang Sabre ini yang dikirim ke luar negeri dalam rangka mengambil pesawat F-5 Dan A-4 Skyhawk"

Tidak hanya pendidikan konversi saja, pendidikan juga meliputi penguasaan pertempuran udara dan penyerangan terhadap sasaran di daratan. Total mereka menjalani pendidikan selama 39,2 jam yang selesai dalam tempo 85 hari termasuk Basic Fighter Manuever (BFM), Air Combat Maneuver (ACM), dan Air Combat Tactic (ACT). Setelah itu pendidikan dilanjutkan ke tahap pendidikan instruktur sehingga diharapkan mereka bisa menularkan ilmunya kepada para penerbang lain di dalam negeri masing-masing.
Pendidikan langsung penerbang F-5 di sarangnya merupakan nilai yang amat berharga. Para penerbang dari masing-masing negara dididik terbang dalam kokpit F-5 untuk merasakan langsung bentuk pertempuran udara secara rill. Dapat dibayangkan, bagaimana beban mereka hares bisa menerima semua pelajaran yang diberikan dan mengaplikasikannya kelak termasuk mentransfer ilmunya kepada para penerbang muda. Namun ternyata, lebih dari itu kebanggaan besar didapat Indonesia karena Eagle 03 yakni Kapten Pnb Zeky Ambadar berhasil menjadi lulusan terbaik dan menerima Top Gun Award, sekaligus mengalahkan penerbang-penerbang F-5 dari negara lain.

Mayor Holki BK (tengah) bersama dengan Mayor Budihardjo Surono (kiri) dan Kapten Zeky Ambadar (kanan) saat berfoto di William Air Force Base. Arizona. Mereka adalah tiga orang penerbang TNI AU pertama yang dikirim ke Amerika untuk mengikuti pendidikan Konversi I pesawat F-5E/F.
Selain mengirimkan penerbangnya, TNI AU juga mengirimkan tenaga teknik yang tidak kalah pentingnya dalam alih teknologi penggunaan pesawat baru ini. Mereka yang dikirim adalah teknisi senior Skadron Udara 14 yang bergabung dengan personel dari satuan lain yang terlibat dalam proyek pembelian F-5E/F Tiger II. Yakni personel dari Depo Senjata (sekarang Depohar 60) dan dari Skadron Avionik 021 (sekarang Depohar 20). Rombongan teknisi Skadron Udara 14 dipimpin Kepala Dinas Pemeliharaan Skadron Udara 14 Kaptek Tek Sutjondro. Sedangkan personel Depo Senjata dipimpin Kapten Tek Miran dan personel Skadron Avionik 021 dipimpin Kapten Lek Wahono.
Pengiriman teknisi jauh lebih awal dari pengiriman penerbang, yakni pada September 1979 dari Bandara Halim Perdanakusuma via Narita Tokyo. Di William AFB para teknisi mendapat pendidikan di FTO 528 yang berada di bawah naungan William AFB. Mereka dididik selama tujuh bulan. Pendidikan berakhir pada Januari 1980 dan setelah itu para teknisi kembali lagi ke Tanah Air.

 

Luar biasa kemampuan para teknisi dalam merakit pesawat F-5 walau masih dibimbing oleh teknisi dari pihak Northrop. Hanya seminggu setelah proses kedatangan F-5 di Madiun, proses perakitan bisa dirampungkan. Setelah itu F-5F nomor TL-0514 (angka ini menunjukkan pesawat F-5, dan Skadron Udara 14 – kode TL saat ini telah berubah menjadi TS) berhasil melakukan penerbangan. Itulah penerbangan pertama yang dilakukan F-5 di negeri bernama Indonesia. Setelah berhasil mengudara, pilot uji dari AS melakukan penerbangan sonic boom tanda bahwa F-5 telah lulus uji terbang.
Tuntas semua perakitan, tiga penerbang F-5 TNI AU yang dikirim ke AS pun mulai melakukan pendidikan konversi kepada penerbang di dalam negeri dibantu instruktur dari AS. Konversi Angkatan Kedua diisi dengan siswa Kapten Pnb Lambert F Silooy yang batal dikirim ke AS karena waktu itu sakit, serta Kapten Pnb Suprihadi. 

KSAU Marsekal Ashadi Tjahjadi usai terbang menggunakan F-5F dengan pilot Letkol Holki BK. Tampak dalam foto ia tengah berbincang -bincang dengan Kapten Lambert Silooy dan Kapten Zeky Ambadar.

Berikutnya konversi penerbang F-5 dilaksanakan hingga Angkatan ke VIII. Angkatan I sendiri adalah untuk ketiga penerbang pertama yang dikirim ke AS. Para penerbang yang telah lulus, selanjutnya berhak mendapatkan Eagle Number dimulai Eagle 01, 02, 03 dan seterusnya. Sementara Eagle 00 digunakan temporer untuk jabatan komandan skadron yang sedang menjabat.
Dalam waktu satu tahun, pendidikan konversi berhasil menelurkan empat angkatan terdiri dari 12 mantan penerbang F-86 yakni Lambert Silooy, Suprihadi, Rudi Taran, Djoko Suyanto, Toto Riyanto, Ida Bagus Sanubari, M Basri Sidehabi, Tanwir Umar, Eris Herryanto, Drajad Rahardjo, Suryadarma, Imam Sufaat, dan Sumarwoto.

Penerbang F 5 berdiri dari kiri ke kanan : Kapten Zeki Ambadar, Kapten Djoko Suyanto, Kapten Toto Riyanto, Mayor Holki BK, Letkol Rudy Taran, Kapten Ida Bagus Sanubari, Kapten Suprihadi.
Jongkok dari kiri ke kanan : Lettu Eris Herriyanto, Lettu Dradjad Rahardjo, Mayor Budihardjo Surono (beliau juga penerbang dan instruktur F 5 E/F Tiger II juga), Lettu Basri Sidehabi, Lettu Surya Darma

Siswa konversi F-5 berusia 44 tahun. Dialah siswa tertua. Rudi Taran. dalam sejarah pendidikan konversi di pesawat F-5 TNI AU. Pria kelahiran Piru. 6 Juni 1937 ini saat memulai belajar terbang di F-5 sudah berpangkat kolonel. Walau Skadron Udara 14 sebenamya tidak kekurangan penerbang. Rudi Taran yang kala itu menjabat sebagai Komandan Wing 300 Kohanudnas terpanggil untuk belajar terbang di F-5 demi merasakan perjuangan para anak buahnya. Mantan penerbang MiG21F dan pelaku operasi “Ganyang Malaysia” ini akhirnya berhasil terbang solo dan menyandang Eagle 08 dengan nick name “Tarantula”. Rudi Taran yang terakhir berpangkat Marsekal Muda (Marsda) juga merupakan keturunan Tionghoa pertama yang berhasil menjadi penerbang jet tempur Indonesia.

Pesawat F-5E/F TNI AU menggantikan peran MiG-21 Fishbed dan F-86 Avon Sabre. Bisa jadi karena terinspirasi oleh kehebatan MiG-21 Fishbed yang menjadi simbol penempur Blok Timur dekade 60-an, KSAU Marsekal TNI Imam Sufaat juga memilih kata “Fishbed” untuk nick name-nya sebagai fighter. Jadilah Imam “Fishbed” Sufaat.
Kiprahnya di pesawat F-5 memang terbilang singkat yakni hanya lima tahun saja. Lulusan Konversi V pesawat F-5E/F bersama Eris “Mustang” Herryanto, Basri “Locust” Sidehabi, Sumarwoto “Wivern”, Tanwir “Pigeon” Umar. Drajad “Scarlet” Rahardjo, dan Suryadarma “Zebra” ini mengaku memiliki banyak kenangan bersama F-5 dan para penerbangnya.
Dimulai dari masa Konversi V yang menjadi siswa konversi terbanyak (tujuh orang) dari lima angkatan di TNI AU, Is bersama Eris Herryanto kemudian ditangani langsung oleh Komandan Skadron Letkol Pnb Holki BK. Amatlah stres baginya apalagi selalu dibandingkan dengan Eris yang punya pengalaman lebih di pesawat F-86. Namun, walaupun semua terasa berat, Is jalani dengan balk hingga akhirnya dinyakatan lulus konversi dengan kategori “Mission Capable Pilot”.
 



 



 
F 5 E/F Tiger II dengan rocket pod

 
 
 F 5 E/F Tiger II dengan bom Mk 82




F 5 E/F Tiger II dengan AIM 9 Sidewinder

Northrop F-5F Tiger II
Sebanyak 12 pesawat F 5 E Tiger dan 5 buah pesawat F 5 F yang menggantikan CA27 Sabre dan ditempatkan di Skuadron Udara 14. 11 pesawat masih beroperasi dan dalam waktu dekat akan segera diganti.

Program pengadaan F-16 di Indonesia berada dibawah Proyek Bima Sena. Indonesia akuisisi 12 F-16A/B Block 15 OCU Standard dengan harga per pesawat 32 juta dollar AS. Sebagai persiapan, TNI AU mengirim empat penerbang ke Luke AFB guna menjalani program latihan terbang. Mereka terdiri dari Letkol Pnb Wartoyo, Mayor Pnb Basri Sidehabi, Mayor Pnb Rodi Suprasodjo dan Mayor Pnb Eris Heryanto. Keempat perwira mengikuti pendidikan selama enam bulan.
Long Road to Home
Tidak habis pikir kalau saya harus ikut ferry pesawat ini ke Iswahjudi, mengingat waktu keberangkatan dari Indonesia ke Amerika memakan waktu lama. Perjalanan dengan airline sungguh menyenangkan dan dilayani oleh pramugari yang ramah.
Bandingkan dengan perjalanan pulang di dalam kokpit pesawat yang sempit, terikat di kursi lontar sepanjang perjalanan, memelototi instrumen pesawat, setiap kali harus menyocokkan rute dan kalkulasi bahan bakar untuk diisi di udara. Bila pengisian bahan bakar gagal karena berbagai sebab, harus memutuskan terbang ke alternated agar selamat atau terpaksa kampul-kampul di Samudera Pasifik sampai pertolongan datang.
Tidak, aku harus tetap ikut. Selain kebanggaan juga akan menambah pengalaman membawa sendiri pesawat baru ke Tanah Air. Pesawat yang aku pelajari bersama tiga rekan ini harus sampai di negeriku dengan aman.
Tanpa ragu, tuas tenaga kudorong penuh sambil kulirik instrumen mesin. Setelah semua oke, kudorong lagi tuas agar tenaga masuk dalam after burner range. Tersentak aku dibuatnya. Mau tahu fuel consumption saat itu, 20.000 lbs/jam. Berarti pesawat akan melahap 20.000 lbs bahan bakar, setara dengan 10 ton/jam. Aku berpikir sesaat. Andai kata bahan bakar ini aku pakai untuk mobil bututku di Madiun, tentu dapat dipakai selama satu setengah tahun atau pulang ke Solo dari Madiun sebanyak 500 kali. Gila pikirku!
Kegilaan itu bukan seberapa bila dilihat rencana penerbangan dari Forth Word AFB, Dallas ke Lanud Iswahjudi. Jarak sejauh itu akan ditempuh dalam tiga etape. Sangat sulit karena aku belum pernah melakukannya.
Etape pertama dari Fort Word menuju Hickam AFB di Hawai selama delapan jam terbang. Aku rasa etape perama ini masih aman. Kami terbang di atas daratan yang penuh sarana navigasi. Aku pikir pertolongan pasti cepat datang andaikata terjadi sesuatu, apalagi pesawat masih pakai registrasi USAF.
“You are a rich pilot, Rodi.” Terdengan dari intercom pilot AU AS yang ikut ferry bercerita bahwa untuk kegiatan ini mereka mendapat ratusan ribu dollar. Cerita yang hanya aku telan saja, mereka tidak tahu bahwa untuk tugas yang berbahaya ini aku cuma mendapat Rp 500.000 saja sebagai uang lelah.
Pada jam ke dua setelah bertolak, pengisian bahan bakar dimulai dari pesawat KC-135 sebanyak enam kali. Setiap kali diisi 1.500 hingga 3.300 lbs. Pokoknya sisa bahan bakar di pesawat harus dapat mencapai alternate base. Mendarat di Hawai sudah cukup sore. Kami beristirahat selama tiga malam sebelum melanjutkan penerbangan jauh ke Guam. Di Hawai aku sempat menghadiri upacara penyerangan Jepang atas Pearl Harbour yang terjadi 7 Desember 1941. Anehnya dalam acara ini banyak turis Jepang hadir, mungkin mereka terlibat dalam penyerangan ini.
Etape kedua merupakan yang terberat dilihat dari jarak dan medan. Kami akan terbang sembilan jam, tujuh kali pengisian bahan bakar dan tanpa melewati secuil pun daratan. Alternated-nya adalah Pulau Midway, nama yang hanya kukenal dalam sejarah Perang Pasifik.

Kelengkapan emergency over sea meskipun tidak terlihat, aku yakin bahwa satu dingy one man, survival kit berisi desert or sea or jungle food cukup untuk satu minggu. Termasuk alat komunikasi pada frekwensi 121,5 Mz dan 243 Mz serta berbagai kelengkapan yang terbungkus dalam water proof pack. Aku akan terbang pada kecepatan 480 knots dan ketinggian 25.000 kaki untuk menyamakan dengan KC-10 sebagai pesawat tanker yang selalu menyertai.
Setelah istirahat di Guam dua malam, etape terakhir menuju Lanud Iswahjudi dapat dikatakan etape tersenang. Senang karena mau pulang, senang karena sebagian lewat daratan dan senang karena aku duduk di kursi depan, pilot in command.
“Falcon Flight, steady,” suara di heat set yang membawa ketenangan hati. Kata-kata itu bermakna aku harus tetap terbang untuk mendapat tambahan bahan bakar terakhir sebanyak 2.000 lbs tepat di atas Balikpapan. Pelaksanaan refueling untuk pesawat F-16 memakai refueller boom, agak beda dengan sistem A-4 Skyhawk yang memakai probe and drogue. Selama ferry pesawat memperlukan bahan bakar sekitar 3.000 lbs/jam pada kecepatan Mach 0.85. Lain halnya waktu memakai after burner, bahan bakar akan melonjak menjadi 20.000 lbs/jam.
“Selamat datang pak, sampai Madiun cuaca baik kok,” tersentak aku mendengarkan dari suara controller sewaktu masuk ruang udara Indonesia. Bahasa yang sangat kukenal meskipun tidak dalam format calling procedure. Sungguh membuat hati tenteram.
Sapaan tersebut bermakna aku sudah terbang di atas wilayah kedaulatan Indonesia yang kelak harus aku jaga. Sejujurnya aku ingin cepat sampai di Madiun dan mendarat dengan aman untuk kemudian menemui keluarga. Ternyata pesawat harus pass beberapa kali di atas landasan supaya para penggede dan tamu bisa melihat pesawat F-16 Fighting Falcon yang baru datang dari Paman Sam itu.

Program Model Block Qty. Serials Delivered
Peace Bima-Sena F-16A Block 15OCU 8 TS-1605/TS-1612 1989-1990
F-16B Block 15OCU 4 TS-1601/TS-1604 1989-1990 

Kemampuan tangguh
Sejujurnya pesawat F-16 ditempel ketat oleh Mirage 2000 sebelum dipilih TNI AU. Kemampuan lebih dan pengalaman tempur yang dimiliki F-16, menjadi dasar pemilihan. Sebut saja kemampuan tinggal landas dan mendarat pada landasan pendek, pernah dicoba dengan selamat dan aman. Saat itu satu flight F-16 mendarat di Lanud Adi Sutjipto, Yogyakarta dan Lanud Abdul Rahman Saleh, Malang dalam latihan rutin tahun 2001.
Dengan ditenagai mesin Pratt & Whitney F100-PW.229 berdaya 24.000 lbs, pesawat ini mampu melesat pada kecepatan 2.173 km/jam (Mach 2). Selain itu, F-16 mampu menanjak dan berbelok sangat tajam pada rate of turn 19 derajat/detik dengan beban 9G serta mendarat dengan landing roll hanya sejauh 600 m pada kecepatan 155 knot. F-16 milik TNI AU secara khusus dilengkapi drag chute. Sungguh pesawat tempur sangat andal, dengan side control berbasis fly by wire.
Untuk kelanjutan pengabdiannya, TNI AU telah mendadani F-16 dengan program yang disebut Falcon Up. Intinya agar bisa lebih lama lagi dioperasikan, minimal tambah 10 tahun. Program yang dapat diselesaikan selama dua tahun untuk sepuluh pesawat ini, menjadi prestasi tersendiri tatkala pelaksananya Skatek 042 Lanud Iswahjudi. Dengan enam tenaga asing yang bertindak sebagai supervisi, proyek selesai tepat waktu. Untuk test pilot ditangani penerbang kita. Biasanya program Falcon Up dipercayakan kepada Lockheed Martin. Namun dengan kemandirian yang prima, ternyata aturan itu tidak berlaku di Indonesia.
Upaya mempercantik pesawat juga pernah dilakukan. Utamanya mengubah warna dari Triple Spot Grey (1989) menjadi Falcon Colors (1996). Era milennium diubah lagi menjadi Millennium Color Scheme (2000), termasuk menambah pernik nose number dan tail flash.
Tidak selamanya pengabdian itu berjalan mulus. Selama 24 tahun itu juga ada pengorbanan. Dua pesawat telah jatuh sewaktu latihan rutin. Pertama di Tulungagung dan kedua di Halim. Kejadian terakhir menewaskan Kapten Pnb Dwi Sasongko.
 
 

Tipe Nomor Seri Kedatangan Keterangan
F-16B TS-1601 5 Desember 1989 -
F-16B TS-1602 5 Desember 1989 -
F-16B TS-1603 5 Mei 1990 -
F-16B TS-1604 5 Mei 1990 Spin dan jatuh di Tulungagung 15 Juni 1992, penerbang eject dan selamat
F-16A TS-1605 5 Desember 1989 -
F-16A TS-1606 2 Januari 1990 -
F-16A TS-1607 5 Mei 1990 Jatuh di ujung runway 24 Lanud Halim 10 Maret 1997, penerbang gugur
F-16A TS-1608 3 Mei 1990 -
F-16A TS-1609 18 September 1990 -
F-16A TS-1610 18 September 1990 -
F-16A TS-1611 18 September 1990 -
F-16A TS-1612 18 September 1990 -
 



Dan saat ini masih ada 10 pesawat F 16 A /B yang masih beroperasi dan membutuhkan untuk di up grade agar lebih efektif. 




"Blue" color scheme


"camouflage" color scheme

 "Triple Spot Grey" color scheme (1989)

 

 "Falcon" color scheme (1996)

Antara tahun 1996 dan 1999 pesawat F 16 ini digunakan untuk Blue Eagle Aerobatic Team (Team Aerobatik Elang Biru).

 
 Team awal Elang Biru dan tiga pelatih yang didatangkan dari US Air Force mereka adalah; Peter Abner McCaffry, Matthew " Birdman " Byrd (Dua guru lainnya, Mayor Peter McCaffrey asal Fort Collins, Colorado, AS, dan Kapten Matthew E.Byrd asal San Fransisco, California, AS.Keduanya aktif sbg instruktrur Thunderbird di Luke Arizona, sejak 1992-1995.Mereka mantan penerbang A-10 Thunderbolt dan F-117 Nighthawk) dan Steve " Boss" Trent (Inspektur Jenderal PACAF, mantan Komandan Team Thunderbird tahun 1988-1990, mantan penerbang F-4 Phantom yang belasan tahun berpengalaman di medan perang Vietnam.Ia juga mantan komandan "Wolfoack", Wing tempur di Lanud Kunsan, Korea Selatan). Guru yang sengaja diundang dari ' Padepokan' Luke Arizona, sebenarnya hanya dua. Tapi yang turun gunung tiga. Yang satunya? Datang atas biaya PACAF, AU AS di Pasifik yang berkantor di Hawaii.Kolonel Steve' Boss 'Trent langsung menurunkan ilmu Leader nya kepada Letkol Pnb Rodi ' Cobra ' Suprasodjo.

 
 Dari kiri: Kapt.Pnb.M.Syaugi, Kapt.Pnb.Tatang Harliansyah,Letkol.Pnb.Rodi Suprasodjo, Mayor.Pnb.Bambang Samoedro,Kapt.Pnb.Anang Nurhadi, dan Mayor.Pnb.Agus Supriatna plus Kapt.Pnb.Fachry Adamy (Safety Observer) dan Kapt.Pnb.Arief Mustofa (Narator).
 

 

 
  Millennium Color Scheme (2000)
 


General Dynamic F 16 A/B Fighting Falcon Block 15
8 buah pesawat F 16 A dan 4 F 16 B menggantikan OV 10 Bronco dan ditempatkan di Skudron Udara 3 pada tahun 1989 . Pesawat ini merupakan salah satu pesawat modern milik TNI AU yang masih beroperasi. Sejumlah insiden minor juga mewarnai perjalanan pesawat seharga 32 juta dollar AS. Mengacu jenisnya (jet tempur), mestinya F-16 masuk Skadron Udara 16 (baru). Aturan dalam sistem penomoran skadron di TNI AU, kavling angka 11 hingga 19 diberikan kepada jet tempur (kecuali angka keramat 17 untuk Skadron VIP). Faktor sejarah dan kebanggaan memaksa F-16 dijadikan Skadron Udara 3 dengan menggeser OV-10 menjadi flight OV-10 sebelum menjadi Skadron Udara 1. Di Skadron Udara 1 pun, OV-10 tidak bertahan lama sebelum terpaksa menjadi Unit OV-10. Baru nanti tahun 2002, OV-10 menetap di Skadron Udara 21 sesuai kavling peruntukannya sebagai pembom. Skadron ini dulu dihuni pembom taktis Ilyusin 28.
Memang F-16 diperlakukan sangat istimewa. Selain menghuni Skadron Udara 3, kehadirannya juga menggeser hangar yang dihuni A-4 Skyhawk. Sebelum kedatangan sang Falcon, Skyhawk asal Skadron Udara 11 terpaksa hengkang ke Makassar dalam operasi Boyong-2 (1988). Operasi Boyong-1 adalah pemindahan Skadron Udara 12 (A-4) ke Pekanbaru tahun 1984.
Roda memang terus berputar. Tidak selamanya sesuatu berada di atas begitu pula sebaliknya. Akhir 1990-an embargo militer melanda Indonesia. Kesiapan pesawat kian menurun akibat dukungan logistiknya yang terhenti tiba-tiba. Ironisnya, tuntutan tugas terhadap F-16 yang bersarang di Skadron Udara 3, Lanud Iswahjudi malah meningkat. Meskipun dengan tertatih-tatih, tugas negara yang mulia tetap dipikul dengan penuh kebanggaan.
Terbukti pada Juni 2000, di atas Pulau Gundul, Kepulauan Karimunjawa, untuk pertama kalinya F-16 Indonesia berhasil menembakkan dua rudal udara ke darat AGM-65 Maverick tepat mengenai sasaran. Peristiwa ini menjawab keraguan sebagian masyarakat Indonesia terhadap kemampuan dan persenjataan TNI AU saat itu. Jawaban berikutnya dipertegas dengan berhasilnya penembakkan rudal udara ke udara AIM-9P4 Sidewinder di atas training area Lanud Iswahjudi, Oktober 2006.


F 16 Fighying Falcon dengan persenjataan yang bisa dibawanya



F 16 Fighying Falcon dengan bom Mk 82


 
AGM-65 Maverick


F 16 Fighying Falcon dengan 
AIM 9 Sidewinder dan AGM-65 Maverick

Dalam melaksanakan Operasi Pertahanan Udara Indonesia, F-16 selalu hadir untuk mencegah campur tangan pihak asing yang menggunakan wahana udara Indonesia. Identifikasi pesawat tempur asing di atas Pulau Bawean, bukti bahwa Indonesia negara berdaulat yang tidak bisa diperlakukan seenaknya. Tidak hanya berhenti di situ, F-16 juga sering terdadak untuk mencegat pesawat asing yang “melenceng” keluar jalur dan mendekati wilayah kedaulatan Indonesia. Baik disengaja atau tidak, pesawat asing apapun yang melanggar wilayah kedaulatan udara Indonesia telah menjadi tugas F-16 untuk menyergap dan mengusirnya. Masih beberapa kasus pencegatan lagi dilakukan F-16. Karena bukan konsumsi publik, peristiwa ini hanya terekam dalam dokumentasi skadron dengan klasifikasi rahasia.
Krisis perbatasan pun tidak lepas dari peran F-16. Operasi Penghadiran di Blok Ambalat menunjukkan bahwa Indonesia sangat serius mempertahankan setiap jengkal wilayah dan kedaulatannya.
Di pengujung 2006 lalu, tidak terasa F-16 telah cukup lama menjaga ruang udara Indonesia. Rentang waktu 24 tahun bukan hitungan masa yang singkat, tetapi cukup menjadi bukti loyalitasnya kepada negara. Peran-peran yang telah dilakukan F-16 menjadi cerita tersendiri tidak hanya bagi para pilot yang pernah mengawakinya, tapi juga masyarakat Indonesia secara keseluruhan.
Sumber : Muhammad Amrullah Satria
Membahas tentang sepak terjang F-16 Fighting Falcon TNI AU dengan berbagai keunggulan yang dimilikinya rasanya tidak akan pernah ada habisnya. Seakan terkesima melihat bentuknya yang kokoh dan gagah F-16 yang kita miliki ternyata sudah mempunyai segudang pengalaman dan cerita yang menarik.
Sejak kedatangannya di bumi Indonesia, 12 unit F-16 Block A/B 15 OCU buatan Lockheed Martin yang didatangkan secara bertahap tahun 1989, angkatan udara kita seperti mendapat suntikan segar. Secara perlahan daya pukul yang awalnya dipegang oleh A-4 Skyhawk buatan Douglas Aircraft Corporation pelan-pelan digantikan oleh 12 unit jet-jet tempur multi-role terbaru milik TNI AU tersebut. Tahun 1994 F-16 kita dalam Latihan Bersama (Latma) Australia – Indonesia dengan sandi Elang Ausindo di Medan sempat melakukan “Dog fight” melawan F/A 18 Hornet milik Australia baik 1 VS 1 maupun 2 VS 2. Ditangan penerbang kita Mayor Pnb Dede “Viper” F-16 yang kita miliki ternyata mampu menunjukkan keunggulannya dengan berhasil “menembak jatuh” hornet milik Australia satu-persatu secara bergantian. Jadi pilihan TNI AU terhadap F-16 sebagai alutsista pemukul utamanya adalah pilihan yang tepat.
Setelah kedatangan perdananya, TNI AU kemudian menempatkannya di Lanud Iswahjudi Madiun untuk dijadikan sebagai “sarang” F-16 Fighting Falcon. Pesawat tempur buatan Lockheed Martin ini selain mudah dioperasionalkan, dari segi maintenance juga tergolong mudah dan tidak terlalu ruwet untuk di pelajari sehingga tidak menyulitkan para teknisi kita. Sisi lain dari nilai plus pesawat ini yaitu pengalamannya di berbagai belahan dunia dalam mendukung air superiority sehingga F-16 Series mampu menyandang gelar “Battle Proven”.
Tapi tahun 1992 F-16 Block A/B yang kita miliki sempat mengalami penyusutan dari 10 unit menjadi 6 unit yang masih layak operasi akibat embargo yang diterapkan pihak barat atas tragedi Santa Cruz di Timor Timur. Dalam embargo tersebut pihak barat menghentikan pengiriman suku cadang dan berbagai peralatan militer ke Indonesia sehingga mengakibatkan merosotnya kemampuan tempur armada yang dimiliki oleh militer Indonesia. Setelah melihat kemajuan yang dilakukan pihak Jakarta dalam menyelesaikan berbagai kasus Hak Asasi Manusia (HAM), tahun 2005 AS secara bertahap membuka kembali “kran” embargo tersebut untuk mendukung militer Indonesia dalam memodernisasi alutsistanya.


 F 16 52 ID 

SU 27 Flangker & SU 30 MK Super Flangker
Pesawat tempur utama milik TNI AU yang berfungsi sebagai pesawat tempur sergap adalah SU 27/30 Flanker dan TNI AU adalah pengguna SU 27 SK. Antara bulan September 2003 sampai dengan September 2010 ada 10 buah pesawat Flanker yang diterima oleh TNI AU dan ditempatakan di Skuadron Udara 11 serta menggantikan pesawat A 4 E Sky Hawk.

 
 

 

SU 27 Flangker

SU 30 MK Super Flangker

 Persenjataan pada pesawat Sukhoi TNI AU
 
 Bom OFAB



 Bom P 100 

Latihan pemboman oleh pesawat Sukhoi TNI AU

 
Rocket pod




Vympel R-73 (kodeNATO: AA-11 ‘Archer’)


 
 
 
 
 Waktu kedatangan peluru kendali pesawat Sukhoi TNI AU
 
 
 
 
 
 
 
Saat kedatangan peluru kendali untuk pesawat Sukhoi TNI AU
 


Rudal Kh 31 Krypton milik TNI AU


 
Kokpit EMB-314 EFIS, HUD, HOTAS dan FLIR capable.  
 
 EMB-314 kokpit bagian tempat duduk depan
 EMB-314 kokpit bagian tempat duduk belakang


 
 
 
EMB-314 Super Tucano
 
Super Tucano Sqd. 21 rencana ditempatkan di base Tarakan dan Malang, hanggar di Malang dan di Tarakan sudah dibangun..perkiraan Super Tucano tiba akhir 2011 hingga 2012

 
Cessna 402A



 



CN 212 Aviocar



Fokker 27 400 M

Setelah 35 tahun beroperasi terdapat 6 buah pesawat F 27 400 M yang masih beroperasi dari 8 yang diterima oleh TNI AU pada tahun 1976.




CN 235 MPA Tetuko




 





NC 295







Sebuah C 130 H MP yang diterima pada tahun 1981 telah jatuh tahun 1985 di Medan.

 

 
 
 
 
 
 
 
 C 130 Hercules






Foker F 28






Boeing 737-2X9 Adv Surveiller


Tampilannya tak beda jauh dengan pesawat komersial biasa, akan tetapi kemampuannya sangat luar biasa. Pesawat Boeing-737 milik TNI Angkatan Udara ini mampu mengamati seluruh gerak-gerik di atas perairan Indonesia yang luasnya mencapai 8,5 juta kilometer persegi.
Sesuai dengan tugasnya, tiga pesawat Boeing-737 Maritime Patrol yang berbasis di Skadron Udara 5 Pangkalan Udara (Lanud) Hasanuddin, Makassar, ini setiap hari melakukan pengamatan udara dan maritim (air and maritime surveillance) di seluruh wilayah perairan Indonesia. Secara bergantian ketiganya mengamati secara sistematik ruang udara, permukaan daratan, maupun perairan, lokasi, atau tempat, sekelompok manusia atau obyek-obyek lain, baik secara visual, aural, fotografis, elektronis, maupun dengan cara lain.
“Tugas kami hanya mendeteksi. Hasil deteksi yang diperoleh disampaikan ke komando atas, yang akan menentukan tindakan selanjutnya. Bila perlu hasil deteksi itu dikoordinasikan dengan TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Darat, Kepolisian RI, atau instansi terkait,” ungkap Kapten (Pnb) Sumanto, Komandan Flight Operasi Skadron 5.
Peran pengamatan udara itu penting bagi Indonesia untuk dapat dimanfaatkan mencegah pengambilan ikan secara ilegal oleh nelayan asing, dan untuk menggagalkan penyelundupan kayu, serta minyak yang sampai sekarang masih marak di perairan Indonesia.
Skuadron 5 yang berpangkalan di Lanud hasanuddin, Makassar, menerima tiga Boeing B737-200 2X9 Surveiller untuk menggantikan Grumman UF-1 Albatross. Pesawat berjulukan Camar Emas ini diberi registrasi AI-7301, AI-7302, dan AI-7303. Pengiriman pesawat yang dipesan April 1981 ini dilakukan secara maraton mulai dari 20 Mei 1982, 30 Juni 1983, dan 3 Oktober 1983. dengan kekuatan tiga pesawat, berarti tiap pesawat harus melakukan pengintaian sepertiga wilayah Indonesia.
Dari segi performa, Camar Emas tidak kalah garang dengan pesawat pengintai yang telah terkenal seperti E-8-J-STARS (Joint Surveillance and Target Attack Radar System), E-3 Sentry AWACS, Bariev A-50 Mainstay AWACS, DC-8-72F SARIGUE NG, P-3C Orion atau radar terbang masa datang Australia B737-700 Wedgetail versi New Generation B737 yang dikonversi untuk kepentingan intelijen. Tidak percaya? Intip saja alat pengendus yang diusung.
Dihidungnya ada radar double agent AN/APS-504 (V)5. selain berfungsi konvensional, radar ini bisa diset mendeteksi sasaran di permukaan atau di udara. Jarak pindainya luar biasa, 256 Nm (Nano Meter). Navigasi dan komunikasinya juga kompak. Saat ini B737 dilengkapi sistem navigasi INS LTN-72R terintegrasi dengan GPS. Karena memainkan peran penting dalam air intelligence, komunikasi tidak saja masuk kategori wajib, tapi juga harus mempunyai tingkat aksesbilitas tinggi. Untuk B737, saluran telepon bisa terhubung langsung dengan komando pusat. Tampilan instrumen yang menawan (pilot color high resolution display), makin mempercanggih suasa kokpit.

Tugas pokok Skadron 5 adalah, melakukan pengintaian udara strategis dan pengawasan maupun pengamanan terhadap semua objek bergerak di permukaan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) dan jalur lalu lintas damai. Informasi yang dihasilkan B737 sangat penting dalam masa perang dan damai. Kegiatan eksploitasi informasi dalam hubungannya dengan air power terdiri dari tiga hal. Yaitu informasi, reconnaissance, dan surveillace. Hubungan ketiga faktor ini dengan intelijen sangat erat.
Maritime Patrol ini dilengkapi peralatan Motorola AN/APS-135 SLAMMR (Side Looking Airborne Multi Mission Radar), suatu alat sensor dengan daya deteksi yang sangat kuat pada suatu daerah yang sangat luas. Dengan SLAMMR, Boing-737 ini mampu mendeteksi wilayah perairan seluas 85.000 mil persegi per jam. Di tambah lagi peralatan navigasi Internal Navigation System dan Omega Navigation System serta peralatan komunikasi modern.
Tiga pesawat Boeing-737 itu berbasis di Skadron Udara 5 Lanud Hasanuddin, Makassar, sejak 1 Juni 1982. Tahun 1993, ketiganya menjalani up-grade di tempat kelahirannya di Seattle, Amerika Serikat. Sehingga mengalami peningkatan kemampuan pada SLAMMR Real Time, Infra Red, Search Radar, serta sistem navigasi dan komunikasi yang diintegrasikan dengan DPDS (Data Processing Display System).

Dengan kemampuan yang dimiliki itu, Boeing-737 Maritime Patrol melakukan tugas pengawasan dan pengintaian di perairan Nusantara, Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), serta alur laut kepulauan Indonesia (ALKI). Di samping itu, mengawasi daerah musuh tanpa harus terbang di atas wilayahnya.
Dengan jumlah pesawat yang masih terbatas untuk memantau wilayah kita yang sangat luas, Skadron Udara 5 dituntut mampu mengoptimalkan alat utama sistem senjata (alutsista) yang ada. “Dalam kondisi seperti ini kita tidak kenal menyerah. Berbekal basis pengetahuan yang dimiliki, kami mencoba mengombinasikan dengan pengalaman yang dihadapi dalam pemeliharaan di lapangan. Pengalaman itu kemudian menjadi pengetahuan yang baru bagi kami, untuk memperpanjang usia pakai peralatan,” kata Kepala Dinas Pemeliharaan Skadron Udara 5, Kapten (Tek) Ifan BM.
Tanggal 14 September 1993, pesawat Boeing 737 AI-7301 kembali dari AS setelah mengalami peningkatan kemampuan dengan modifikasi. Adapun kemampuan yang ditingkatkan adalah Slammr Real Time, Infra Red Detection System (IRDS), Search Radar, sistem navigasi dan komunikasi yang terintegrasi dengan DPDS (Data Proccessing Display System). Sedangkan untuk pesawat AI-7303 modifikasi dilakukan di IPTN (sekarang PT DI) Bandung. Terakhir kita melihat kiprah pesawat ini saat turut mencari lokasi jatuhnya pesawat Adam Air di laut Sulawesi.
Dalam melaksanakan tugasnya, Maritime Patrol didukung 64 kru, yang terdiri dari dua orang instruktur/kapten pilot, 12 co-pilot, 16 juru mesin udara (engineering), lima juru muat udara (load master), 10 operator console, 14 observer, tiga juru foto udara, dan dua flight surgeon. 

Spesifikasi Boeing 737-200 2X9 Surveiller
Ukuran
Lebar sayap = 28,35 m (93 ft 01 in)
Tinggi = 11,23 m (36 ft 84 in)
Panjang keseluruhan = 30,53 m (100 ft 16in)
Lebar kabin (lantai tingkat) = 3,3 m (10 ft 8 in)
Panjang Kabin = 28,2 m (92 ft 8 in)
Desain
Berat Maksimum Take off= 53.297 kg (117 £ 498)
Berat Maksimum Landing = 47.627 kg (104 £ 998)
Berat Maksimum Bahan Bakar Kosong = 43.090 kg (94 £ 996)
Berat Kosong Operasi = 29.400 kg (64 £ 815)
Kemampuan
Daya Jelajah = ​​760 km/h (410 kts)
Ketinggian = 10.668 m (35.000 ft)
Kapasitas = 107 Penumpang
Kapasitas Volume Bahan Bakar = 15 635 kg




Boeing 737-400


Boeing Business Jet 2 (BBJ2)



Boeing 707



Capt Penerbang Rahadi S dengan Bell 47 di Lanud Atang Senjaya, Semplak Bogor 1978.  

Bell-47G-3B1
 
Sebanyak 12 helikopter Bell 47 G-3B1 diterima TNI AU adari Angkatan Darat Australia pada bulan Juli 1978. Dan semua helicopter ini masih dipergunakan untuk pelatihan pilot helicopter di Skuadron Udara 7. Hanya ada satu helicopter yang jatuh pada tahun 2008 dan 11 helikopter lainnya masih terus beroperasi sampai dengan sekarang.

Bell-47 J Walet



Hughes 500 MD



Salah satu jenis roket yang berhasil dimanfaatkan lagi oleh TNI AU adalah roket "Sura" buatan pabrik Hispano-Suizza yang semula terpasang di pesawat anti kapal selam TNI AL jenis Gannet saat ini dipasangkan pada helikopter BO 105 TNI AU.


NBO 105 

10 buah helicopter NBO 105 yang digunakan oleh BASARNAS untuk tugas-tugas SAR yang dibagi menjadi 3 lokasi. 3 buah helikopter ditempatkan di Skuadron Udara 7 di Lanud Aatang Sanjaya (TNI AU) dan 3 diantaranya sudah tidak beroperasi lagi. 2 buah helikopter di Lanudal Juanda (TNI AL) dan satu buah helikopter di Tanjung Pinang (TNI AL). Helikopter HR 1520 ajatuh setelah menghantam air pada tanggal 18 November 2009. 





EC 120 Colibri

Tingon pada bulan Oktober 1975 - Dok. Djumaryo
  
Bell 206 Jet Ranger


S 58 Twin Pack



 
Helikopter AS 330 Puma dilengkapi senapan mesin CM 151 kaliber 20 mm melakukan uji tembak di lapangan tembak Lapangan Udara Astra Ksetra Lampung disaksikan oleh KASAU Marsekal TNI Ashadi Tjahjadi  
 

AS 330 Puma



AS 332 Super Puma


DAFTAR PANGKALAN UDARA TNI AU
Koopsau I
Tipe A :

    Lanud Halim Perdanakusuma (HLP}, Jakarta
    Lanud Atang Sendjaja (ATS), Bogor

Tipe B :

    Lanud Sultan Iskandar Muda (SIM), Banda Aceh
    Lanud Medan (MDN), Medan
    Lanud Pekanbaru (PBR), Pekanbaru
    Lanud Husein Sastranegara (HSN), Bandung
    Lanud Suryadarma (SDM), Subang
    Lanud Supadio (SPO), Pontianak

Tipe C :

    Lanud Maimun Saleh (MUS), Sabang
    Lanud Tanjung Pinang (TPI), Tanjung Pinang
    Lanud Hang Nadim, Batam
    Lanud Ranai (RNI), Natuna
    Lanud Padang (PDA), Padang
    Lanud Palembang (PLG), Palembang
    Lanud Tanjung Pandan (TDN), Belitung
    Lanud Wiriadinata (TSM), Tasikmalaya

Tipe D :

    Lanud Astra Kestra (ATK), Lampung
    Lanud Sugiri Sukani (SKI), Cirebon
    Lanud Wirasaba (WSA), Purwokerto
    Lanud Singkawang II (SWII), Singkawang

Rencana Pembangunan :

    Lanud Piobang (PBG) , Payakumbuh
    Lanud Gadut (GDT) , Bukittinggi

Koopsau II
Tipe A :

    Lanud Hasanuddin (HND), Makassar
    Lanud Iswahyudi (IWJ), Madiun
    Lanud Abdul Rachman Saleh (ABD), Malang

Tipe B :

    Lanud Surabaya (SBY), Surabaya
    Lanud Pattimura (PTM), Ambon
    Lanud Jayapura (JAP), Jayapura

Tipe C :

    Lanud Iskandar (IKR), Pangkalan Bun
    Lanud Syamsuddin Noor (SAM), Banjarmasin
    Lanud Balikpapan (BPP), Balikpapan
    Lanud Ngurah Rai (RAI), Denpasar
    Lanud Rembiga (RBA), Mataram
    Lanud Eltari (ELI), Kupang
    Lanud Wolter Monginsidi (WMI), Kendari
    Lanud Sam Ratulangi (SRI), Manado
    Lanud Manuhua (MNA), Biak
    Lanud Timika (TMK), Timika
    Lanud Merauke (MRE), Merauke
    Lanud Tarakan (TAK), Tarakan (Dalam tahap pembangunan)

Tipe D :

    Lanud Morotai (MRT), Halmahera Utara
    Lanud Dumatubun (DMN), Tual

Kodikau

    Lanud Adi Sutjipto (ADI), Jogjakarta
    Lanud Adisumarmo (SMO), Solo
    Lanud Sulaiman, Bandung

LOKASI LANDASAN UDARA TNI AU YANG OPERASIONAL :


Ujung Pandang/Hasanuddin (WAAA)
Rwy: 13/31
Pos: 05°03'44"S 119°33'14"E
Elev: 47 ft

Jogyakarta/Adisucipto (WARJ)
Rwy: 09/27
Pos: 07°47'23"S 110°25'52"E
Elev: 421 ft

Bogor/Atang Senjaya Java (WIAJ)
Rwy: 02/20 (grass)
Pos: 06°32'23"S 106°45'19"E
Elev: 558 ft

Madiun/Iswahjudi (WIAR)
Rwy: 17L/35R, 17R/35L
Pos: 07°36'36"S 111°26'02"E
Elev: 361 ft

Malang/Abdulrachman Saleh (WIAS)
Rwy: 17/35, 17L/35R
Pos: 07°55'36"S 112°42'50"E
Elev: 1726 ft

Pekanbaru/Sultan Syarif Kasim II (WIBB)
Rwy: 18/36
Pos: 00°27'45"N 101°26'36"E
Elev: 138ft

Jakarta/Halim Perdanakusuma (WIIH)
Rwy: 06/24
Pos: 06°15'55"S 106°53'27"E
Elev: 85 ft

Kalijati/Suryadarma (WIIK)
Rwy: 09/27 (grass)
Pos: 06°31'56"S 107°39'37"E
Elev: 361 ft

Jakarta/Pondok Cabe (WIIP)
Rwy: 18/36
Pos: 06°20'14"S 106°45'51"E
Elev: 200 ft

Pontianak/Supadio (WIOO)
Rwy: 15/33
Pos: 00°08'53"S 109°24'10"E
Elev: 10 ft



LAMBANG SKUADRON UDARA TNI AU YANG PERNAH ADA :



 
 


 
 

LANDASAN UDARA DENGAN SKUADRON UDARA TNI AU YANG BERPANGKALAN DI LANUD TERSEBUT :


Ujung Pandang/Hasanuddin (WAAA)
Rwy: 13/31
Pos: 05°03'44"S 119°33'14"E
Elev: 47 ft
Skadron Udara 5
B737-2X9
CN235-220-MPA
Skadron Udara 11
Su-27SK
Su-27SKM
Su-30MK
Su-30MK2

Jogyakarta/Adisucipto (WARJ)

Rwy: 09/27
Pos: 07°47'23"S 110°25'52"E
Elev: 421 ft
Skadron Pendidikan 101
AS202/18A-3
Skadron Pendidikan 102
T-34C
KT-1B
Jupiter Aerobatic Team
KT-1B

Bogor/Atang Senjaya Java (WIAJ)

Rwy: 02/20 (grass)
Pos: 06°32'23"S 106°45'19"E
Elev: 558 ft
Skadron Udara 6
NAS332(TT)
Skadron Udara 8
SA330J
NSA330L
NSA330SM
BASARNAS
NBo105CB

Madiun/Iswahjudi (WIAR)

Rwy: 17L/35R, 17R/35L
Pos: 07°36'36"S 111°26'02"E
Elev: 361 ft
Skadron Udara 3 "Sarang Naga" ("Dragon's Nest)
F-16A
F-16B
Skadron Udara 14
F-5E
F-5F
Skadron Udara 15
Hawk Mk53
T 50 I Golden Eagle

Malang/Abdulrachman Saleh (WIAS)

Rwy: 17/35, 17L/35R Pos: 07°55'36"S 112°42'50"E Elev: 1726 ft
Skadron Udara 4
NC212M-100
NC212M-200
Skadron Udara 32
C-130B
KC-130B
C-130H
Skadron Udara 21
EMB-314

Pekanbaru/Sultan Syarif Kasim II (WIBB)

Rwy: 18/36
Pos: 00°27'45"N 101°26'36"E
Elev: 138ft
Skadron Udara 12 "Panther Hitam" ("Black Panthers")
Hawk Mk109
Hawk Mk209
Skadron Udara 16
F 16 52 ID





Jakarta/Halim Perdanakusuma (WIIH)

Rwy: 06/24
Pos: 06°15'55"S 106°53'27"E
Elev: 85 ft
Skadron Udara 2
CN235-100M
NC 295
F27-400M
SF260MS
SF260WS
Skadron Udara 17 "Kereta Kencana" ("Golden Chariots")
B737-2Q8
F27-400M
F28-1000
F28-3000
L100-30
C-130H-30
NAS332L1
AS332L2
Skadron Udara 31
L100-30
C-130H-30

Kalijati/Suryadarma (WIIK)

Rwy: 09/27 (grass)
Pos: 06°31'56"S 107°39'37"E
Elev: 361 ft
Skadron Udara 7
Bell 47G-3B-1
EC120B

Skadron Udara 2 det.
SF260MS
SF260WS
SATUD TANI
PC-6B
Cessna 185

Jakarta/Pondok Cabe (WIIP)

Rwy: 18/36
Pos: 06°20'14"S 106°45'51"E
Elev: 200 ft
FASI
AS202/18A-3
L-4J
Aviat Husky A-1
PZL-104
An-2
Gliders

Pontianak/Supadio (WIOO)

Rwy: 15/33
Pos: 00°08'53"S 109°24'10"E
Elev: 10 ft
Skadron Udara 1 "Elang Khatulistiwa" ("Equatorial Eagles")
Hawk Mk109
Hawk Mk209


PANGLIMA TNI AU YANG PERNAH MENJABAT SEBAGAI KASAU :
 Laksamana Udara Soerjadi Soerjadarma 
9/04/1946 - 19/01/1962

  Laksamana Madya Omar Dani 
19/01/1962 - 24/11/1965

Laksamana Muda Sri Mulyono Herlambang 
27/11/1965 - 31/03/1966 

 Laksamana Udara Roesmin Noerjadin 
31/03/1966 - 10/11/1969

 Marsekal TNI Soewoto Sukendar 
10/11/1969 - 28/03/1973

 Marsekal TNI Saleh Basarah 
28/03/1973 - 4/06/1977

 Marsekal TNI Ashadi Tjahyadi 
4/06/1977 - 26/11/1982

 Marsekal TNI Soekardi 
26/11/1982 - 11/04/1986

  Marsekal TNI Oetomo 
11/04/1986 - 1/03/1990

 Marsekal TNI Siboen Dipoatmodjo 
1/03/1990 - 23/03/1993

 Marsekal TNI Rilo Pambudi 
23/03/1993 - 15/03/1996

 Marsekal TNI Sutria Tubagus 
15/03/1996 - 3/07/1998

 Marsekal TNI Hanafie Asnan 
3/07/1998 - 25/04/2002

 Marsekal TNI Chappy Hakim 
25/04/2002 - 23/02/2005

 Marsekal TNI Djoko Suyanto 
23/02/2005 - 15/02/2006

 Marsekal TNI Herman Prayitno 
15/02/2006 - 28/12/2007

 Marsekal TNI Subandrio 
28/12/2007 - 16/11/2009

 Marsekal TNI Imam Sufaat 
7/11/2009 - 17/12/2012

 Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia
17/12/2012 - sekarang
Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Tentara_Nasional_Indonesia_Angkatan_Udara 
http://jurnalmiliter.blogspot.com/2011/04/fighter-bomber-era-1950.html
http://jurnalmiliter.blogspot.com/2011/04/operasi-alpha-ketika-tni-au-melakukan.html 
http://jurnalmiliter.blogspot.com/2011/05/boeing-737-surveillance-jet-pengintai_17.html 
http://jurnalmiliter.blogspot.com/2011/05/f-86-sabre-salah-satu-pioner-pesawat.html 
http://jurnalmiliter.blogspot.com/2011/05/kennel-rudal-bongsor-yang-membuat.html 
http://jurnalmiliter.blogspot.com/2011/05/ov-10-bronco-kuda-liar-pelibas-gpk.html 
http://jurnalmiliter.blogspot.com/2011/05/t-33a-awalnya-bukan-pesawat-tempur.html 
http://sejarahperang.wordpress.com/2011/05/16/piter-arnold-lumintang/ 
http://tni-au.mil.id/pustaka/f-5ef-tiger-ii-harimau-mengaum-di-udara-nusantara
http://www.indoflyer.net/forum/tm.asp?m=383899&mpage=2&#553020